Jumat, 28 Juli 2017

Cerpen




Secangkir Kopi,Cinta & Penantian
Oleh : Prayoga Dwi Wibowo

"Hey, Cintanya semakin mendingin di meja penantian. mari kita hidupkan kembali sambil menikmati secangkir kopi - Prayoga Dwi Wibowo"
 
Disini, dimeja perjamuan, aku menunggumu. Menunggumu disudut penantian untuk mengkalimatkan rindu yang ingin aku bisikkan tepat ditelingamu. Tiba-tiba kamu memenuhui ruangku dengan rindu yang bernyanyi. Tanpa praduga kamu ikut meramaikan sepiku setelah senja terlelap payah. Sementara masih belum kubaca dengan tuntas isi pikiran dan hatimu. Ah,kamu selalu saja hadir dengan sejuta tanda tanya yang tidak bisa aku jawab.
Aku merindukanmu dengan terluka. Aku merindukanmu sekaligus dengan sekuat tenaga meniadakan hadirmu. Begitulah rindu mengusik kesepian. Aku akan selalu ingat tentang aku dan kamu menjadi “kita” walaupun hanya sekejap saja.
Setiap hari, setiap saat aku berkunjung ketempat sini. Aku selalu memesan pesanan yang sama. Memilih tempat duduk yang sama, aku suka tempat duduk yang berada dilantai dua yang menghadap kearah Danau yang tidak jauh dari kafe ini. Aku suka dekorasi kafe ini sengaja dibuat dengan artistic yang begitu memukau. Tidak lupa dengan alunan musik mendayu-dayu yang berada dilantai dasar yang sengaja diadakan untuk penghujung setia kafe ini saat musim cinta tiba.
Aku selalu membawa laptop ataupun novel-novel favorit menemaniku saat aku berkunjung ke kafe ini. Bukan terlihat ngenes ataupun apa, kenapa saat aku berkunjung ke kafe ini nyaris aku tidak pernah mengajak pasangan untuk diajak ngobrol. Hanya saja, kalian tidak akan pernah tahu. Ada bagian yang terasa sesak untuk dibahas. Aku tidak akan menceritakannya. Tidak akan pernah aku bahas kembali. Tidak akan pernah membaginya.
Disini, di antara gelapnya malam dan penantian, aku menulis lagi tentangmu, tentang kita yang dahulu ingkar pada semesta. Bukan. Bukan maksud, mengusikmu kembali. Bukan maksud, menganggu setia ketentraman hidupmu. Hanya tidak mudah bagiku untuk melupakanmu seutuhnya dan pergi menjauh dari kehidupanmu.
Saat aku tengah  sibuk memenjarakanmu dalam cerita yang aku buat. Aku dikejutkan dengan kehadiran pelayan kafe ini yang menyapaku begitu hangat. Sama halnya pada saat kamu menyapaku setiap paginya.
“permisi kakak, maaf menggangu waktu kakak sebentar. Kakak mau pesan apa yah ?” tanya pelayan itu dengan hangat. Pelayan itu membawa menu kafe ini dengan celemek yang mengikat ditubuhnya. Jangan lupa dengan penutup kepala yang terlihat seperti koki berdiri gagah diatas kepalanya.
Aku menghentikan aktivitasku sejenak, “saya pesan secangkir kopi hangat dengan taburan whipped cream diatasnya, gulanya seperempat sendok, saya engga suka gulanya terlalu banyak, cukup whipped creamnya aja kalau boleh ditambahkan” ucapku sambil menyebutkan pesanan favoritku yang sudah aku hafal di luar kepala.
Pelayan yang sedari tadi berdiri di hadapanku, sibuk mencatat pesanan dibuku menu. “apa ada lagi yang ingin dipesan?” tanya pelayan itu kembali.
Aku menggelengkan kepala. “cukup itu aja..” kataku menutup pesanan.
Pelayan itu pergi ke barista mengantarkan pesananku. Aku kembali dengan rutinitasku - menulis novel yang akan diterbitkan dalam waktu dekat ini. Sejurus kemudian, aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku. Hanya sekedar memastikan saja, apakah ada pesan yang masuk atau tidak. Benda mungil itu, aku masukkan kembali kedalam saku celanaku.
Tidak butuh waktu lama, pelayan itu membawakan pesananku.”ini kak, pesanannya sudah tiba” ucapnya dengan ramah sambil meletakkan secangkir kopi pesananku diatas meja.
Aku tersenyum simpul. “terima kasih” jawabku
Pelayan itu kembali pergi ke barista mengambil pesanan pengunjung lain. Tidak ada tanda-tanda keanehan yang di kerjakan oleh pelayan itu. Bahkan, aku tidak memikirkan hal itu. Malam semakin larut, jam terus berdetak menghitung detik-detik. Satu persatu pengunjung kafe ini pergi meninggalkan kafe ini. Hanya tinggal beberapa orang saja, yang masih betah berlama-lama berada di kafe ini. menikmati wifi gratis ataupun menikmati secangkir kopi khas dari kafe ini dengan aroma kopi yang menggoda.
Secangkir kopi pesananku sudah menyisahkan dua teguk saja. Aku menyesapnya kembali hingga tidak tersisa sedikitpun. Aku merapihkan laptopku – berkemas untuk pergi meninggalkan kafe ini. Saat aku hendak membuka knop pintu kafe, salah seorang pelayan kafe tersenyum ramah melihat kepergianku. Aku membalasnya dengan senyuman ciri khasku. Walaupun agak sedikit, umm.. terpaksa. Mungkin.
***
Langit menghitam. Kemerlap bintang-bintang sudah bertaburan di angkasa. Tidak ada kehadiran bulan menemani bintang diatas sana. Angin malam begitu terasa ditubuh. Bahkan aku ingin secepat mungkin tiba di kafe favoritku menikmati secangkir kopi hangat yang menjadi minuman favoritku. Malam ini aku akan kehadiran tamu special yaitu editor dari penerbit yang menerima novel yang aku buat untuk dipublikasikan.
 Aku masih memilih tempat yang sama. hanya saja aku tidak sibuk seperti biasanya dengan berbagai aktivitas menulis. Sesekali aku menyapu sudut-sudut kafe ini. melihat pengunjung yang sudah semakin ramai datang ke kafe ini. Sesekali pula, aku mengamati parkiran dan orang yang berlalu-lalang dari atas sini. Sekaligus, memastikan Mba Gita – editor sudah tiba.
Pelayan kafe ini datang menghampiriku dengan membawa buku menu. “permisi kakak, mau pesan apa ?” tanyanya memberikan buku menunnya.
“sebentar yah, saya lagi tunggu teman saya. Saya pesannya nanti yah” ucapku memberikan jawaban sekaligus kepastian.
Pelayan kafe itu tersenyum ramah, senyuman yang pernah aku kenali tetapi aku tidak senyuman milik siapa yang sama dengannya. “baik kakak, kakak bisa memanggil saya kembali” ucap pelayan kafe itu pergi meninggalkanku.
Aku menatap punggung pelayan kafe itu hingga menghilang saat pengunjung lain lewat.Mba Gita sudah berdiri tepat dihadapanku tanpa menganggu. Aku masih menatap pelayan kafe ini dengan tatapan yang penuh heran.
“hei.. kamu sedang apa ?”  tanya Mba Gita membuyarkan lamunanku.
Aku tersadar, melihat Mba Gita sudah berdiri dihadapanku. “mba sudah dateng toh, kupikir mba terjebak traffic jam” ucapku dengan segaris senyum.
“yah begitu lah, berkerja dikota metropolitan. Kamu baik-baik saja bukan ?” tanya Mba Gita kembali mencemaskan kondisiku saat ini.
Aku menggelengkan kepala.”yah, saya baik-baik kok mba. Tidak perlu dikhawatirkan dengan kondisi saya hehe” jawabku sambil tertawa renyah.
“syukurlah, soalnya tadi aku melihat kamu sedang memandang pelayan kafe ini. apakah ada yang membuatmu tertarik ?” goda Mba Gita sambil mengangkat kedua alisnya.
“ahh..Mba Gita, kalau boleh tau bagaimana perkembangan dengan naskah saya yah mba ?” tanyaku kali ini berusaha mengalihkan pembicaraan.
“eh..iyah untung diingetin. Naskah kamu udah engga perlu direvisi lagi. Saat ini lagi dibuat design sampulnya. Masalah royalti nanti..” ucap Mba Gita sebelum meneruskannya kembali.
“saya tidak pernah mempermasalahkan royalti mba. Yang terpenting, buku yang saya tulis dibacabanyak orang dan bisa menginspirasi”jawabku memetong ucapan Mba Gita.
Mba Gita menghempaskan ke udara.”andai saja, semua penulis sama seperti kamu yah..” kata Mba Gita sambil mengusap tanganku.
“maksud mba apa yah ?” tanyaku sedikit tidak mengerti apa yang dimaksudkan Mba Gita.
“maksud mba, kamu mau pesan apa ? biar mba yang traktir”ucap Mba Gita mengulang kembali maksudnya.
“engga usah mba, biar saja aja yang pesan sendiri dan saya bayarin mba..”
Semua sudah terlambat. Mba Gita sudah beranjak pergi ke Barista memesan makanan dan minuman. Setelah selesai memesan, Mba Gita kembali lagi.
“saya jadi engga enak sama mba gita” kataku sambil memberikan senyuman sebagai ungkapan terimakasih.
Mba Gita hanya membalas senyuman simpul dari wajahnya. “engga apa apa kok” jawab Mba Gita dengan tulus.
Pelayan kafe ini mengantarkan beberapa pesanan yang dipesan oleh Mba Gita. Saat pelayan kafe ini tengah menaruhnya diatas meja. Tiba-tiba..
BRUUGG..
“maksud mba apa? numpahin numpahin pesanannya ke pakaian teman saya?” tanya Mba Gita terlihat geram melihat pelayan kafe ini menumpahkan secangkir kopi pesanannya.
Pelayan kafe ini sibuk membersihkan cairan kopi yang tumpah ke lantai dan membasahi sebagain pakaianku. Pelayan kafe ini hanya tertunduk diam.
“sayaa.. harus berbicara sama atasan..” ucap Mba Gita yang begitu marah. Sayangnya, Mba Gita tidak langsung menemui karena ada panggilan telepon.
“terimakasih..” ucapku sambil membersihkan pakaian yang tersiram kopi dengan dibantu oleh pelayan kafe itu menggunakan tissue.
“seharusnya saya yang meminta maaf ke anda..” ucap permohonan maafnya dengan suara lirih.
“tidak perlu meminta maaf” kataku.
Mba Gita yang selesai berbicara dengan seseorang dari sambungann telpon kembali lagi. Tidak terlihat raut wajah marah yang diperlihatkan Mba Gita kepada pelayan kafe ini yang dengan cerobohnya menumpahkan pesanannya membasahi pakaianku.
“aku ada urusan dadakan. Kita atur ulang jadwalnya lagi yah. See You” ucap Mba Gita merapihkan tasnya berlalu pergi meninggalkan kafe ini dengan terburu-buru.
Aku hanya memadang punggung Mba Gita dengan penuh tanda tanya. Sementara pelayan kafe itu pun kembali lagi ke Barista. Tidak lama, pelayan kafe ini membawakan kembali pesanan yang sama.
“ini kak, pesanannya saya sudah ganti dengan yang baru” kata Pelayan itu dengan nada lembutnya.
“tidak perlu” kataku sambil tersenyum dan beranjak pergi dari Kafe ini.
***
Senja sudah terlelap di kaki cakrawala. Cahaya bintang-bintang sudah menghias dilangit penantian. Dan benar,kita memang masih terjabak di ruang kemungkinan antara pergi dan bertahan,saling melambaikan perpisahaan. Aku memilih untuk bertahan dan melanjutkan cerita yang tersendat di perjalanan. Aku masih melakukan hal yang sama seperti hari-hari biasanya. Menyesap secangkir kopi dengan ditemani cahaya bintang-bintang yang sesekali berkedip mesra.
Tiba-tiba..
Salah seorang pelayan kafe ini membawakan secangkir kopi. Padahal, aku sama sekali belum memesan. Pelayan kafe ini menaruh secangkir kopi itu tepat diatas meja. Aku yang sedari bingung menatapnya dengan heran.
“maaf mba, saya belum memesan apapun. secangkir kopi ini utuk siapa yah ?” tanyaku sambil menunjuk secangkir kopi dengan aroma yang begitu mengganggu indera penciumanku.
“untuk kamu..” kata pelayan itu sambil mengangkat kepalanya menatapku. Aku pun begitu terkejut saat melihat pelayan kafe itu ternyata. Ratna. Perempuan yang pernah mampir dipelabuhan hati saat itu dan Ratna adalah mantan isteriku. Perpisahaan aku dan Ratna bukan persoalan orang ketiga ataupun factor ekonomi. Perpisahaan aku dan Ratna disebabkan karena aku tidak bisa memberikannya keturunan seperti impian ayah Ratna. Hingga akhirnya, aku dan Ratna memutuskan untuk berpisah. Walaupun aku tahu, Ratna begitu berat berpisah denganku.
Aku masih terdiam dan tidak percaya dengan ini semua. “Enji, maukah kamu kembali tinggal bersamaku ?” tanya Ratna begitu mengejutkan.
Aku menarik napas dalam-dalam mengajak diriku berbicara sebentar. “Ratna, kau tahu aku tidak bisa memberikan kebahagian yang seutuhnya. Aku tidak bisa memberikan keturunan seperti yang ayah kamu inginkan.” Jawabku.
“tapi kita bisa melakukan bayi tabung. Enji” ucap Ratna kembali.
Ratna benar. Apa yang dikatakan Ratna memang benar adanya. Seharusnya aku dan Ratna melakukan program bayi tabung yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Aku menatap kembali wajah Ratna dengan penuh harap. Rambut-rambut kecil mengganggu wajahnya dan rasanya aku ingin merapihkannya. Hingga akhirnya, aku memberanikan diri untuk memeluknya.
“kita seharusnya selalu bersama” bisikku lirih ditelinganya sambil memeluk dengan erat.
Seharum kopi, aroma cintaku masih mengecap di meja penantian. Sekarang, biarkan malam yang bercerita. Tentang rindu kita yang berdiam dalam diam. Dan diam-diam masih menginginkan penyatuan. Setidaknya begitulah kenyataan rinduku.
"Puan, apa pekerjaanmu yang sebenarnya ?"
"menantimu"
"dimana ?"
"di depan pintu rumah saat kamu kembali ke rumah. saat kamu merasa lelah, aku lah yang akan memberikan senyuman dari wajahku"
Prayoga Dwi Wibowo
 
-TAMAT-

Sabtu, 13 Mei 2017

Catatan Pribadi

ONE SOUL
“Tanyakan pada dirimu, apa yang kamu bisa berikan untuk Negerimu”
By :PPKN 2016
Pengarah Produksi : Bapak Tjipto Sumadi, M.Si, M.Pd
Ibu Yasnita Yasin, S.Pd, M.Si
Sutradara : Wana Travel
Production : Universitas Negeri Jakarta Pictures
#TERIMAKASIHSUKUBADUY
#WONDERFULINDONESIA

Scene : Pertemuan

Awal keberangkatan dari kampus tercinta (UNJ) itu pukul setengah tujuh pagi. Karena udah kebudayaanya ngaret engga pernah bisa tepat waktu, Bahkan ada salah satu Dosen (Bapak Cip) kami yang sempat marah dengan satu mahasiswa yang belum datang.jujur, Pak Cip salah satu Dosen yang kalau ngajar selalu On Time *Applause*. Panitia dari acara Study Tour, sibuk dengan tugasnya salah satu dari mereka, ada yang menelfon mahasiswa yang belum datang, ada juga yang sedang berbincang dengan pihak travel (Wana) tentang persiapan selama 3 hari. Suasana di Bus semakin riuh terlebih suasana di Bus 2 yang notabennya itu Bus salah satu mahasiswa yang telat. Untungnya, mahasiswa yang telat itu engga diamuk massa Bus 2 lebay banget wkwk.

Well, pukul tujuh lewat 15 menit kami pun berangkat dari Kampus (UNJ) menuju ke Suku Baduy di Banten. Katanya perjalanan untuk sampai kesana membutuhkan waktu 4-6 jam. Tapi, semangat kami untuk melakukan observasi penelitian disana engga pernah padam. Wedew, engga percaya ? kami bernyanyi tanpa henti terutama di Bus 1 & 2. Udah kaya lagu aja wkwk.. kenapa Bus 3 engga nyanyi karena di Bus 3 engga ada mix nya wkwk.

Hingga akhirnya, kami berhenti bernyanyi menyisahkan tenaga untuk disana hehe. Bus membelah jalanan Ibu Kota melewati jalan tol dalam kota. Sebagian diantara kami beristirahat, sebagian lagi ada yang masih sibuk ngegosip haha..

Scene : Perjuangan Part 1

Saat kami tengah beristirahat, tiba-tiba ada kendala dari Bus 3. Ternyata Bus 3 mengalami gangguan mesin ditengah jalan tol. Beruntungnya engga ada apa-apa sama penumpang di Bus 3. Bus 2 dan Mobil ELF putusin buat berhenti di rest area. Perjalanan kami pun sempat terhenti kurang lebih 1 setengah jam lamanya di Rest Area hingga Bus yang lain jemput.

Pukul Dua belas lewat empat puluh, perjalanan dilanjutkan hingga terjadi lagi kendala. Bukan mesin lagi yang jadi kendala, melainkan Bus 1 kejebak dilumpur. Gue dan cowok PPKN lain pun ikut bantu buat keluarin ban Bus 1 keluar dari kubangan lumpur.

Liat muka temen-temen gue lagi susah payah ngeluarin ban Bus 1.

Well, setelah Bus 1,2,3 udah terbebas dari Lumpur yang menguras tenaga. Perjalanan pun dilanjutkan kembali, asal kalian tau. Jalan menuju Baduy benar-benar buat kami nyebut terus. Dan bener aja, cobaan pun datang kembali. Lagi-lagi Bus 1 kena apes terus. Bannya kembali masuk ke dalam lumpur. Kali ini, butuh waktu berjam-berjam ngeluarin bannya bahkan sampe hujan-hujan pun gue, cowok PPKN, dan supir dibantu juga dengan masyarakat Baduy luar pun ikut ngebantu buat ngeluarin ban Bus 1.

Finally, butuh waktu berjam-jam lamanya buat ngeluarin ban mobil Bus 1. Pukul setengah enam sore Bus pun baru bisa dikeluarin dari lumpur. Ada warga Baduy Luar yang menyarankann buat ngubah rute perjalanan kami. Pihak Travel dan Sopir pun mengikuti saran dari warga Baduy Luar.

Oke, perjalanan diputuskan putar balik. Tapi apa ? lagi-lagi semesta menguji ketangguhan kami. Sekarang Bus 3 yang mengalami kendala lagi. Kalau dibilang sih “The Same Problem” lumpur jadi permasalahan kami. Bahkan saat Bus 3 masuk kedalam lumpur waktu udah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kebayangkan gimana cowo-cowo PPKN ngeluarin ban Bus 3 ditengah hutan belantara. Untungnya, hanya butuh waktu lima belas menit lamanya cowo-cowo PPKN berjibaku. Ban Bus 3 pun berhasil dikeluarkan dari kubangan lumpur. Perjalanan pun dilanjutkan.

Mereka yang mengabaikan rasa sakit dan lelah hanya demi satu tujuan”

Pukul sepuluh malam, kami tiba di Terminal Ciboleger. Perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih 1 km dari Terminal Ciboleger menuju homestay. Dengan baju kotor semangat kami masih ada. Disepanjang perjalanan menuju homestay. Banyak sekali perjalanan yang didapat dari lingkungan Suku Baduy.

Gue juga baru tau sih, ternyata di sepanjang jalan menuju Suku Baduy. Engga ada lampu penerangan jalan dan rumah-rumah warga pun engga ada lampu. Dan lebih uniknya lagi Kawan, ternyata disetiap rumah itu terdapat satu tempat pembuangan sampah dengan bentuk unik yang berbentuk kerucut dengan bahan yang terbuat dari rotan. Sayangnya gue engga ada dokumentasi tempat sampah yang unik itu. mungkin kalau teman-teman pergi ke Baduy nanti juga tau hehe…

Pukul setengah sebelas malam gue dan teman teman PPKN baru tiba di homestay. Hingga akhirnya, kami pun beristirahat. Kumpulin tenaga buat observasi sekaligus petualangan pertama. Yeay

Scene : Perjuangan Part 2

Matahari menyapa di antara langit luas di Baduy, kami pun menyiapkan diri buat melakukan observasi pertama. Tapi sayanganya salah satu Dosen kami (Pak Cip) engga bisa ikut dengan alasan lelah buat masuk ke Baduy Dalam. Hanya Bu Yas yang damping dibantu dengan Wana Travel dan juga Kakak Senior PPKN 2015.

Oke, perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih sejauh 14 km. hmm.. benar-benar menguji ketahanan kami. bahkan kalau dibilang itu tidak ada apa-apanya jika dilalui bersama.ehm
Kaki kami terus melangkah menyusuri turunan-naikan jalan setapak di Baduy.

Tibalah saatnya ketangguhan kami diuji dengan melewati berbagai medan yang dibilang ekstrim. Pertama, harus melewati beberapa jembatan yang terbuat dari kayu dan yg lebih menariknya jembatan itu tidak menggunakan paku untuk menahannya hanya digunakan tali. Kebayangkan gimana rasanya kalau kalian melewati. Kedua, medan selanjutnya lebih menakutkan lagi yaitu tanjakan cinta.

Dimana tanjakan ini memiliki kemiringan kurang lebih 15 derajat ditambah dengan suasana hujan dan jalanan penuh lumpur lengkap syudahhh…

So, disinilah rasa solidaritas kami di uji. Apakah kami benar-benar SATU JIWA atau engga.. disepanjang tanjakan cinta KATANYA kita harus memikirkan seseorang yang kita CINTAI. Kalau gue sendiri sih, gue lebih baik mikirin kapan sampai dan kapan hari ganti wkwk.. karena gue ngerasaiin sendiri perjalanannya itu benar-benar menguras tenaga.

Ditanjakan cinta setiap cowo PPKN termasuk gue, ikut ngebantu cewenya lewati tanjakan cinta. Bukan berarti nantinya terjebak dalam Cinta Lokasi wkwk.. tapi.. sudahlah, disepanjang tanjakan itu, gue denger suara motivasi dari cowo PPKN buat cewe PPKN “Udeh,jangan pikirin seberapa jauh tanjakannya. Pikirin aja orang yang lo sayang” ada  yang lebih konyol lagi motivasi dari cowo PPKN “diatas ada KFC,MCD,dll.ayo semangat.. mau minum kan” konyol kan wkwk..

This is Tanjakan CINTA..sebenarnya masih panjang lagi tanjakannya dan itu belom hujan.

Finally, setelah semuanya dilewati tibalah kami di Baduy Dalam dengan suasana kampung yang hening. Dan penduduknya pun menyambut baik kami. termasuk jaro nya (wakil ketua adat). Bahkan di dalam rumah panggung yang terbuat dari bambu itu. jaro nya memberikan beberapa wejengan dalam bahasa sunda. Sementara cowo nya ada diluar jadinya engga bisa ngedengerin beliau kasih nasihat.

Tapi, gue ngamatin model bangunan rumahnya yang nyaris bahan bangunanya tanpa pondasi batu dan terbuat dari kayu. mantap, bahkan talinya terbuat dari tumbuhan luar biasa bener dah..

Hanya setengah jam lamanya kami bersilahturahmi dengan jaro (Wakil Ketua Adat Suku Baduy) habis itu kami pulang ke homestay. Dengan medan yang berat setelah diguyur hujan dan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 6 jam lamanya. Kami nekat menembus hutan belantara dengan bermodalkan senter dan jas hujan.

Perjalanan pulang pun masih sama dengan dibagi beberapa kelompok. Tapi setelah itu, banyak kelompok yang misah. Gue sendiri awalnya dibagian ekor kebagian badan.

Perjalanan terhenti dimedan yang sama. Tanjakan CINTA kembali menguji ketangguhan kami. dengan ditambah lagi lumpur setelah hujan membuat perjalanan kami semakin CINTA sesuai dengan namanya. Gue sendiri bantu beberapa temen cewe PPKN turun dari Tanjakan Cinta. Disana juga ada temen gue yang lebih nekat lagi bantu cewe PPKN yang engga bisa jalan dengan digemblok. Luar biasa emang dah…, motivasi buat cewe PPKN pun masih terdengar, ada juga yang mengatakan “Lo percaya kan sama gue ? kalau gue bisa selamatin nyawa lo lewat tanjakan ini?” bukan benda lagi yang jadi taruhan. Nyawa temen dan juga diri sendiri jadi taruhannya.

Dan setelah lewati tanjakan CINTA ada satu pelajaran yang berarti yang bisa gue petik dari itu “ternyata benar, bukan seberapa jauh kita melangkah bersama. Melainkan seberapa erat genggaman tangan kita untuk melewati rintangan bersama. Dan benar, CINTA lah yang selalu menguatkan itu semua.CINTA lah yang semestinya berkuasa diatas segalanya.CINTA tidak hanya merujuk ke Laki-laki dan Perempuan. Lebih dari itu.Kawan. lebih dari apapun.”

Perjalanan kami pun dilanjutkan hingga malam hari dengan kelompok yang terpisah. Di kelompok gue,sekitar ada 25 orang 4 diantaranya cowo dan sisanya cewe. Kebayangkan gimana rasanya diposisi cowo di kelompok gue. Tengah malam tersesat di Hutan Belantara bahkan butuh waktu berjam-jam lamanya untuk tiba kembali.

Well, gue juga suka dibagian ini. karena disini lah mengajarkan kita caranya “Bertahan,Berjalan dan Saling Menguatkan” . gue yang tergolong kedalam kelompok badan. Disuruh jalan didepan.. gila engga wkwk. Disinilah keberanian gue juga diuji, gue enjoy dengan mulut komat-kamit baca surah pendek ataupun ayat kursi jalan didepan sambil buka jalan. dan hasilnya pun, gue selalu jadi korban kepeleset karena salah nginjek jalan yang licin. Disini juga gue dapet satu pelajaran.

“bahwa engga selamanya, pukulan,jatuh dan hinaan selalu kita tunjukkan di depan orang yang kita sayangi. Termasuk sahabat kita”

Pukul delapan malam kelompok gue baru tiba di Homestay. Perjalanan kami pun belum selesai. Hingga semua tiba kembali di homestay. Kemudian langsung beristirahat tanpa memperdulikan bau badan.

Scene : Perpisahaan

Hari Senin adalah jadwalnya untuk kami bergegas kembali ke Kota dengan berbagai kesibukan Ulangan Tengah Semester yang sedang menunggu. Setelah sarapan di hari terakhir kami berada di Baduy. Perjalanan pulang pun dimulai dengan berjalanan kaki sejauh 4 km lagi atau setara 45 menit lagi (kalau engga ada rintangan). Kebayangkan udah berapa jauh kaki kami melangkah selama 3 hari di Baduy. Dan dihari terakhir ini ada yang gue kagumi.

Mereka adalah saudara kami. Mereka menyambut kami dengan tangan terbuka. Bahkan, mereka adalah asli dari Suku Baduy Dalam yang rela-rela anterin kami malam-malam pergi ke homestay. Kemudian pulang lagi ke Suku Baduy Dalam tanpa alas kaki. Paginya anterin kami lagi ke Suku Baduy Dalam begitupun seterusnya. Dari mereka ada pelajaran berharga yang dapat kami ambil.

Hidup ini sebenarnya simple, jangan terlalu banyak mengeluh. Itu aja”

Tibalah kami di Terminal Ciboleger. Sebelum kami berangkat pulang ke Jakarta. Kami melakukan foto bersama mengabadikan moment yang engga pernah bisa dibeli dengan apapun bahkan engga bisa dicari di toko mainan manapun.

Teman. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan kami dari Kampus menuju ke Baduy. Kau tau ? ada beberapa pelajaran yang tidak dapat kita cari disekolah ataupun di kampus. Tentang filsofi mereka “Panjang jangan Dipotong,Pendek jangan Disambung” dan benar, setiap perjalanan hidup butuh pengorbanan bukan hanya serba instan saja. Agar kita bisa menghargai setetes keringat yang jatuh. Supaya kita berhasil di masa mendatang.

Tentang Lingkungan mereka yang notabennya beragama SLAM WIWITAN yang artinya agama mereka (Suku Baduy) itu keturunan dari Nabi Adam AS dan mereka (Suku Baduy) tidak mengikuti cara beribadah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Cara mereka (Suku Baduy) beribadah yah menjaga alam adalah ibadahnya.

Sementara Tentang kekeluargaan yang dapat diambil. Disepanjang perjalanan petualangan kami terdapat sebuah rumah yang sengaja digunakan untuk menaruh hasil bumi untuk dibagikan ke seluruh masyarakat Baduy tanpa terkecuali. Bahkan dari hasil bumi yang mereka (Suku Baduy) dapatkan diberikan sebagian kepada Pemerintah Daerah atau lebih dikenal dengan Upacara Seba. Luar biasa kawan…

Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Kawan

Terima kasih teman-teman yang sudah berpetualang bersama menjelajah salah satu Suku yang ada di Indonesia. Jujur aja, saat gue diterima di PPKN UNJ. Awalnya gue sempat berpikiran ”apa nanti gue bisa nemuin keluarga kedua setelah sekolah ?” dan pertanyaan itu butuh 2 semester buktiin. Bukan hanya sebagai teman,sahabat,rekan. Melainkan sebagai keluarga besar yaitu PPKN UNJ.

Terima kasih juga, buat Bapak Tjipto dan Ibu Yasnita udah kasih pengalaman dan pembelajaran tentang arti hidup yang sebenarnya. Bahwa, hidup itu bukan dipecahkan melalui teori-teori melainkan dicari permasalahannya tanpa menyakiti siapapun.

Pesan dari kami (Mahasiswa PPKN UNJ) untuk kalian yang suka Traveling.. ubah rencana libur kalian yang bermanfaat dengan mengunjungi beberapa suku yang ada di Indonesia. “Sobat, Lo keren kalau lo mampu taklukin jaya wijaya,rinjani,pangrango dll. Tapi, Lo jauh lebih keren kalau lo mampu belajar memahami dan mengaplikasikan keanekaragaman suku bangsa yang ada di Negeri ini”

Karena kami pun masih ingin mempelajarinya lagi. Dan penutup catatan ini dengarkan semangat kami bergelora. Sebab… “KITA SATU,SETANAH SEBANGSA,SEBAHASA”

WONDERFUL INDONESIA

Minggu, 30 April 2017

Cerpen



Prayoga Dwi Wibowo
DAYLIGHT
“Mampukah Impian Kecil Merubah Perbedaan"
 

 
 
            Sinopsis 

Sebuah cita-cita sederhana yang begitu Rendra inginkan menjadi seorang penulis ternama seperti Tere Liye, Asma Nadia, Andrea Hirata dan masih banyak lagi. Harus sinar begitu saja. Bukan. Bukan Rendra menyerah sebelum berperang. Hanya saja, ada hal yang membuatnya tidak bisa di ceritakan. Terlalu klasik bukan, jika ada orang tua yang selalu membanding-bandingkan ataupun menuntut anaknya mengikuti keinginananya. 

Kesal ?

            Tentu saja ada rasa kesal. Tapi, kita sebagai anak tidak bisa melakukan hal seperti itu. tidak bisa melakukan hal yang membuat hati orang tua kita patah. Atau mungkin,kita tidak berhak berdoa pada Tuhan agar kita tidak dilahirkan dari orang tua yang seperti itu. Sama sekali tidak bisa. Rendra tidak bisa melakukan hal itu.

Saat Orang Tua Rendra menginginkannya menjadi seorang Guru. Sementara Rendra tidak ada niatan untuk menjadi guru. Bukan. Bukan bermaksud merendahkan profesi guru yang begitu mulia. Melainkan,segala sesuatu itu berawal dari niat kita bukan ? jika tetap saja memaksakan, pasti hasilnya pun sia-sia saja.

Setiap hari, setiap malam Rendra meluangkan waktunya. Membuat cerpen yang menjadi hobby barunya. Dibandingkan menuruti kemauan orang tuanya menjadi guru. Bahkan , Rendra secara diam-diam memilih jurusan Sastra Indonesia dibandingkan memilih jurusan PGSD. 

Rendra begitu bersemangat menuangkan ide menulisnya. Bahkan, Aliya sahabat Rendra memberikan semangat untuknya. Kalau Rendra bisa menjadi seorang penulis ternama. Aliya selalu membaca cerpen yang dibuat Rendra begitu menarik dan mungkin mampu membuat orang lain ikut termotivasi dengan berbagai tulisannya.

Sementara itu,Keinginan orang tua Rendra mempunyai prinsip seperti orang dahulu. Tidak pernah bisa dilepaskan. kalau Ayah dan Ibunya menginginkan Rendra menjadi seorang guru. Seperti saudara ayah dan ibunya yang berhasil menjadi guru.

Keinginan orang tua Rendra itulah yang membuat ruang gerak Rendra dalam mencapai cita-cita menjadi seorang penulis terganggu.

Mampukah Impian kecil Rendra terwujud .. ?
Mampukah Rendra membuat orang tuanya tersenyum dengan caranya sendiri .. ?
Mampukah impian kecil , Merubah perbedaan ..

*** 

Langit masih menghitam, Kemerlap Bintang-bintang masih terlihat diatas sana. Matahari masih mengumpat dibalik singgahsananya. Laki-laki itu dengan semangatnya mengayuh pedal sepeda kesayangannya membelah jalanan komplek perumahan yang terlihat lenggang. Biasanya, laki-laki itu selalu diantar oleh ayahnya pergi ke Sekolah. Tapi tidak dengan hari ini,laki-laki itu memilih bersepeda sebagai alternatif kendaraannya untuk tiba di sekolah. Selain ada angkutan umum dan bus sekolah gratis. Hanya saja, laki-laki itu tidak ingin merepotkan siapapun termasuk Orang Tuanya.

Bahkan,laki-laki itu tidak pernah malu menggunakan sepeda untuk sampai di Sekolah. Toh, sepeda juga bermanfaat membuat tubuh menjadi sehat bukan ?. Dibandingkan dengan menggunakan kendaraan bermotor ataupun naik bus sekolah gratis yang sudah disediakan Pemerintah. Secara perhitungan ilmiah, kendaraan bermotor mengeluarkan gas karbon monoksida (CO2) diluar ambang batas/harinya, senyawa  itu juga yang termasuk salah satu diantaranya dapat mengakibatkan penurunan lapisan Ozon yang dapat membahayakan masyarakat Bumi. 

Jarak antara rumah dengan sekolah hanya berkisar 1,5 km. Jadi, laki-laki tidak akan kelelahan mengayuh sepeda sejauh itu. Sepedanya sudah membelah separuh perjalanannya. Sesekali, laki-laki itu menatap bangunan yang menjulang ke langit. Bangunan yang masih separuh jadi itu dengan bantuan alat berat, membuatnya merasa khawatir dengan kondisi lingkungan saat ini. Terutama kondisi lingkungan di Kota ini yang setiap tahunnya turun 30 cm/tahun. Bahkan, banyak pakar ahli yang sudah memprediksikan Kota ini akan tenggelam di tahun 2030. Jika tidak dilakukan upaya konkrit dari pemerintah dan masyarakat.

Perlahan, Langit merubah warnanya. Matahari perlahan naik ke permukaan menyapa ke seluruh penjuru Bumi dengan sinarnya. Kemerlap bintang-bintang masih terlihat disana. Satu-dua saling berkedip mesra menandakan salam perpisahaan. Ayam berkokok dengan merdunya, Burung-burung camar berkicau dengan merdunya menandakan petualangan pertama segera dimulai.

***

Rendra Aditiya Dharmawangsa..

Itulah nama laki-laki itu. Singkat,Padat dan memiliki berbagai banyak arti di dalamnya. Walaupun nama belakangnya berbau keturunan darah biru. Namun, pada dasarnya tidak ada garis keturunan keluarganya yang mendapat gelar Bangsawan. Itu hanya diambil dari nama Ayahnya yang juga terdapat nama “Dharmawangsa”.Kebetulan nama “Dharmawangsa” salah satu nama dari keluarga ayahnya.

Delapan belas tahun yang lalu,lahir seorang anak laki-laki yang dititipkan Tuhan ke Bumi untuk diberikan kasih sayang dan pengajaran. Namun, saat Rendra beranjak dewasa.ia paham akan arti kasih sayang dari kedua orangtuanya yang menginginkan dirinya untuk menjadi seseorang yang  berguna. Sementara Rendra sendiri tidak ada keinginan untuk mewujudkan keinginan kedua Orang tuanya, terutama ibunya tetap saja menginginkan dirinya menjadi guru. Walaupun notabennya Rendra anak semata wayang sama sekali tidak ada kaitannya. Sama sekali tidak ada.

***

Di Sekolah…

Sekolah Menangah Atas Negeri 1 begitu megah dengan bangunanya yang tersusun 4 lantai. Lantai 1 khusus untuk Ruang Kepala Sekolah,ruang Guru, Ruang Tata Usaha,Laboratorium,Ruang Agama dan Toilet di sudut lantai. Lantai 2 digunakan khusus untuk ruang belajar kelas 12, Lantai 3 digunakan khusus untuk ruang belajar kelas 11, dan Lantai 4 digunakan untuk ruang belajar kelas 10. Sementara masjid dan kantin sekolah berada dibelakang. Dan ruang Aula untuk pertemuan berada di bagian samping.

Sekolah Menengah Atas Negeri 1 salah satu sekolah favorit di Kota ini. Dengan menampung siwa-siswi sebanyak 900 orang dari berbagai tahap seleksi yang diadakan. Sementara Rendra sendiri sudah kelas 12. Dan tahun ini,Rendra akan menghadapi berbagai Ujian Kelulusan.  

Sepeda Rendra sudah tiba di halaman parkir sekolah. Sejurus kemudian,ia meletakkan sepedanya dengan rapih dan mengkuncinya dengan gembok yang selalu dibawa setiap saat. Setelah itu, Rendra bergegas pergi masuk ke kelas.

“pagi bang” sapa Rendra hangat kepada salah seorang petugas keamanan sekolah yang diperkirakan umurnya 20 tahun itu.

Petugas itu menjawab dengan mata yang terlihat sayup, mengantuk “pagi, rajin banget udah datang jam segini ?” Tanya Petugas Keamanan itu sambil menutup mulutnya menguap.

Rendra hanya tersenyum simpul. Menandakan itulah jawaban darinya.

“bang, masuk kelas dulu yah” pamit Rendra pada Petugas itu yang masih tidak bisa menahan rasa kantuknya.

“Hm…” Petugas Keamanan itu bergumam panjang. Setelah itu matanya terpejam tidak bisa menahan rasa kantuknya semalaman berjaga.

Rendra menarik tali tasnya dengan tinggi. Menyusuri lorong demi lorong yang terlihat lenggang tidak berpenghuni. Gerbang tangga yang mengarah ke ruangan kelas pun masih terkunci rapih. Sementara jam masih menunjukkan pukul 05:45 pagi itu artinya Rendra harus menunggu kurang lebih 15 menit. Sebelum penjaga Sekolah membukakan gerbang tangga itu, Rendra selalu menghabiskan waktunya untuk membaca ataupun menulis cerita ringan. Tidak jarang buku catatan kecilnya nyaris tidak tersisa sedikitpun yang kosong. Kertas itu selalu penuh dengan catatan pribadinya.

Disitulah Rendra selalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Bukan. Bukan bermaksud Rendra tidak mempercayai teman-temannya untuk dijadikan sandaran bercerita mengenai masalah pribadinya. Hanya saja, tidak selamanya masalah pribadi diumbar-umbar sampai semua orang tahu tentang aib/keburukan kita. Sungguh memalukan dan tidak bisa dibayangkan jika hal itu terjadi pada diri Rendra.

  Tangan Rendra mulai lincah menari-nari diatas kertas putih, buku catatannya. Menuangkan segala ide yang ada dibenaknya. Membebaskan segala imajinasinya berkelana bebas, hingga akhirnya Rendra tidak tersadar akan satu hal…

***

Derap langkah kaki itu terdengar begitu jelas menghampiri tempat duduk - dimana Rendra sedang asyik menulis.Perlahan,derap langkah kaki itu terdengar begitu jelas tepat berada diantara belokan tempat dimana Rendra duduk. Dan ternyata..

Laki-laki paruh baya itu membawa satu bundel kunci saling mengait satu sama lain. Laki-laki itu biasa disebut dengan Bapak Sapto. Penjaga sekolah yang sudah bertugas begitu lama sejak gedung sekolah tidak semegah ini. Jasa Beliau tidak terhitung banyaknya menghabiskan sisa-sisa umurnya menjadi penjaga sekolah ini. Sungguh begitu mulia.

“udah lama yah nunggu”Tanya Bapak Sapto dengan ramahnya, sambil mencari kunci yang pas untuk membukakan gerbang tangga

Rendra tersenyum simpul “engga ko pak,saya juga baru sampai”

Bapak Sapto tidak menjawab, beliau sedang asyik mencari kunci mana yang pas dengan gemboknya. Setelah itu, gerbang tangga kunci itu terbuka dengan lebar. Rendra bergegas ke lantai atas ruang kelasnya meninggalkan laki-laki paruh baya itu masih sibuk merapihkan peralatan kebersihan sekolah. 

            ***

            Ruang Kelas…

            Ruangan yang berukuran 9 x 9 m itu terlihat sepi. Ruangan yang dipenuhi dengan pas foto-foto pahlawan tersusun rapih. Di bagian depan ruang kelas, terdapat majalah dinding kelas sementara dibagian belakang kelas,terdapat  loker yang diperuntukkan siswa-siswi untuk menaruh buku-buku pelajaran. Bangku dan meja tersusun 4 baris dengan rapihnya. Tempat duduk Rendra tepat berada di barisan kedua dari meja Guru.

            Rendra membuka knop pintu ruang kelas, sejurus kemudian menaruh tasnya sambil melemparkannya tepat di bangkunya. Kemudian, Rendra bergegas pergi ke depan ruang kelas, menatap bangunan yang berada di sekeliling bangunan sekolah ini salah satu hobbinya. Sesekali pula, Rendra melihat siswa-siswi sudah tiba di Sekolah. 

            “Rendra…” suara cempreng itu memanggil nama Rendra.

            Rendra mencari sumber suara yang begitu menggangu waktu paginya. Perempuan dengan rambut pendek dan kacamata yang menempel di tulang hidungnya itu muncul dari arah tangga. Siapa lagi kalau bukan sahabat dekat Rendra. Tempat Rendra berbagai cerita setelah catatan pribadinya. Perempuan itu adalah..

            Aliya Kamila Pratiwi..

            “berisik tau” ucap Rendra menyabut kedatangan Aliya dengan nada sinisnya.

            “yee.. masih mending gua panggil, gua sapa pula” ucap Aliya sambil membenarkan kacamatanya sedikit menurun.

            Rendra terdiam masih melakaukan hal yang sama. Menatap langit pagi ini. Aliya berdiri tepat disamping Rendra sedari tadi.

            “ndra,”panggil Aliya kembali.

            Namun Rendra tidak menjawab, ia masih sibuk dengan pikirannya berkeliaran. 

            “woy” ucap Aliya meninggikan intonasinya,sambil menyikut lengannya.

            Rendra tersadar “ehh.. ada apa” jawab Rendra tersentak.

            Aliya terdiam sebentar, “hmmm.. gua mau nanya sesuatu ke lo” ucap Aliya dengan nada serius.

            Rendra menatap Aliya sebentar, sesaat tertawa kecil “lo lucu yah, mau nanya aja bilang-bilang” jawab Rendra

            “yee, emang engga boleh apa “

            “boleh sih,yaudah apa” jawab Rendra menunggu pertanyaan Aliya.

            Aliya terdiam sejenak, Rendra masih menunggu pertanyaan Aliya. “ummp.. lo udah ngerjain PR Bahasa Indonesia belom ?” tanya Aliya sambil memperlihatkan susunan giginya yang terlihat rapih.

            Rendra menoyor kepala Aliya ”yee.. gue kira ada apaan. Engga jelas lo” ucap Rendra

            “aduh, sakit tau” gerutu Aliya kesakitan sambil merapihkan rambutnya.

            “udah belom ?” Tanya Aliya mengulang kembali.

            “udah lah, masa Rendra Aditiya Dharmawangsa belom ngerjainn tugas” ucap Rendra dengan angkuhnya.

            “gaya sekali kamu ini nak.., gue liat yah” ucap Aliya sambil masuk kelas mencari buku Bahasa Indonesia.

            Rendra mengekori Aliya dari belakang “woy, gue belom ngasih ijin juga” gerutu Rendra kesal melihat tingkah laku sahabatnya yang satu ini.

            ***

            Bel terdengar begitu nyaring. Bel itu menandakan jam pelajaran telah berakhir, dan berganti waktu istirahat pertama. Siswa-siswi  berhamburan keluar kelas, bergegas pergi ke kantin sekolah sekedar memberi makan cacing-cacing yang sudah tidak sabar diberi asupan nutrisi. Sebagian lagi, bergegas pergi ke toilet.

            Berbeda dengan Rendra. Rendra selalu menghabiskan waktu istirahatnya pergi ke perpustakaan sekolah yang berada di lantai 3. Disana, Rendra selalu membaca berbagai macam literatur mulai dari buku pelajaran hingga novel. Bahkan, penjaga perpustakaan sekolah hafal dengan kehadiran Rendra ataupun buku yang selalu dibaca Rendra.

            Rendra membuka knop pintu ruang perpustakaan dengan satu tangannya. Tangan yang satu lagi, memegang buku catatan pribadinya yang selalu dibawa kemana-mana.

            “pagi bu” sapa Rendra pada penjaga pepustakaan sekolah yang diperkirakan umurnya kepala empat.

            “pagi rendra, ada buku baru tuh” jawab Ibu Warni sambil menujuk kearah lemari yang berisikan tumpukan buku itu.

            Rendra dengan semangatnya mencari buku yang baru saja ditunjuk Bu Warni itu. 

            “eits.. isi buku tamu dulu” ucap Bu Warni mengingatkan Rendra.

            Rendra berhenti sejenak, menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Sejurus kemudian, Rendra mengisi buku tamu itu lengkap dengan tandatangan dan keterangannya. Sementara, Bu Warni masih asyik menatap layar handphonenya.

            Rendra membaca sekilas benda persegi panjang itu. memahami dari setiap paragraph yang disampaikan oleh penulis buku ini. Ada bagian yang menarik dari isi buku ini. Kemudian, Rendra memilih tempat duduk yang sudah tersedia di perpustakaan. Tangannya mulai menari-nari diatas kertas putih buku catatan pribadinya. 

            “bu, boleh minjam lagi engga ?”Tanya Rendra menghentikan nulisnya

            Bu Warni menghentikan aktifitasnya sejenak. “boleh, asal buku yang kemarin kamu pinjam di kembalikan dulu” jawab Bu Warni mengingatkan kembali.

            Rendra tersenyum simpul mendengar ucapan dari Bu Warni yang selalu mengingatkan peraturan dalam hal meminjam buku di perpustakaan. Sejurus kemudian, Rendra kembali membaca buku itu lalu mencatat bagian-bagian yang terpenting dalam buku itu. Hingga akhirnya, bel masuk berdering kembali menandakan waktu istirahat telah usai. Rendra bergegas masuk kelas, melanjutkan pelajaran selanjutnya yaitu pelajaran menguras tenaga dan pikiran. Sebut saja pelajaran, Matimatian. Ralat. Lebih tepatnya pelajaran Matematika.

            Terkadang dalam pikiran Rendra selalu bertanya-tanya. Siapakah orang yang pertama kali menemukan pelajaran ini. Tidak adakah pelajaran lain selain pelajaran yang membosankan ini. tidak adakah penemuan lain tentang ilmu eksata. Entahlah,

            ***

              Bel kembali terdengar begitu nyaring. Seluruh siswa-sisiwi bersorak gembira mendengar bel sekolah berdering begitu lama. Tidak seperti biasanya, kegiatan belajar mengajar sampai tuntas. Terdengar suara laki-laki paruh baya memberikan pengumuman lewat microfon sekolah. 

            “Assalamualaikum Wr.Wb Siswa-siswi yang bapak banggakan. Mengenai kegiatan belajar mengajar untuk hari ini hanya sampai jam ke lima saja. Dikarenakan Bapak dan Ibu Guru akan mengahadiri rapat dengan dinas membahas mengenai Ujian Nasional siswa-siswi kelas 12” ucap Laki-laki itu dari speaker sekolah.

            Sontak siswa-siswi bersorak gembira bersama mendengar kabar baik itu. Tidak peduli dengan guru yang masih mengajar di dalam kelas. Sejurus kemudian, Rendra merapihkan buku-bukunya diatas meja. Benda persegi itu ia masukkan kedalam tasnya. Rendra menyusuri lorong-lorong ruang kelas yang dipenuhui siswa-siswi. Aliya sahabat baiknya tertinggal jauh dari belakang.

            Rendra tidak mempunyai kegiatan lain selain menghabiskan sisa waktu sekolahnya untuk menulis ataupun mengurungkan diri di dalam rumah.

            “rendra” panggil Aliya dari kejauhan

            Rendra menghentikan langkahnya, menoleh kearah sumber suara “ada apa lagi ?” Tanya Rendra

            “galak amat sih, lo mau pulan kan ?” Tanya Aliya kali ini

            Rendra hanya mengangkat kedua alisnya. 

            “gue bareng lo yah, soalnya kan ini pulang cepet. Gue engga mau nunggu lama di sini” ucap Aliya kembali dengan wajah memohon.

            Rendra menatap Aliya sejenak, menimang-nimang apa yang Aliya katakan.”hmm,, oke deh” jawab Rendra memberikan kepastian.

            Rendra dan Aliya bergegas menuju ke pelantaran parkir sekolah yang berada di ujung sudut sekolah dekat dengan Ruang Aula. Sementara Aliya sendiri menunggu Rendra di depan gerbang sekolah. Kemudian, Rendra menghampiri Aliya yang sedari tadi berdiam diri di depan gerbang sekolah.

            “ayo pulang” ajak Rendra mengerem sepedanya

            Aliya hanya memberikan senyum simpul. Sejurus kemudian, Aliya merapihkan rok sekolahnya agar tidak membahayakan dirinya dan Rendra. Dua orang sahabat itu kemudian pergi meninggalkan sekolah dengan menggunakan sepeda bergoncengan berdua. 

Sepeda Rendra sudah membelah separuh perjalanan menuju rumah. Sementara Aliya masih asyik menatap sekelilingnya. Tak jarang, Rendra selalu mengingatkan Aliya agar menjaga keseimbangan. Tiba di halaman rumah berukuran minimalis dengan cat berwarna cream.

“thanks.Rendra” ucap Aliya setelah turun dari sepeda Rendra sambil memperlihatkan susunan giginya yang tersusun rapih.

Rendra mengangkat kedua alis, setelah itu Rendra bergegas pulang kerumahnya yang tidak jauh dari rumah Aliya, hanya berbeda satu gang saja.

Aliya menatap punggung Rendra hingga menghilang dibalik gang komplek.

            ***

            Ruang Tamu Rumah Rendra…..

            Tidak ada kegiatan lain yang mengisi waktu libur Rendra selain bermain video game dari ponsel pintarnya. Sementara ibunya masih mengerjakan pekerjaan rumah membuatkan sarapan pagi untuk mereka bertiga. Sedangkan, ayahnya sedang membaca Koran mencari topic hangat yang sedang terjadi di Negeri ini.

            “ada berita apa yah, hari ini?” Tanya Rendra melihat ayahnya yang begitu serius membaca Koran

            Ayah Rendra menghentikan aktifitas membacanya “biasa demo buruh” jawab Ayahnya sambil membalik lembaran berikutnya.

            Rendra hanya diam sesaat. Sejurus kemudian, ia melanjutkan kembali bermain video game dari ponsel pintarnya. 

            Ruang Makan..

            Setelah selesai memasak sarapan pagi, Rendra duduk dibangku makan menikmati sarapan paginya. Nasi goreng dengan omelet diatasnya menjadi menu favorit Rendra sarapan pagi. Tiba-tiba ada hal yang membuat suasana paginya tidak bersamangat. Ibunya selalu menuntut Rendra untuk memilih jurusan PGSD setelah lulus nanti.

            “Rendra, kapan Ujian Nasional dimulai ?” Tanya Ibunya sambil menyiapkan makanan untuk Ayah Rendra.

            Rendra yang sedang makan dengan mulut penuh makanan berhenti sejenak “rendra kurang tau,mungkin diawal april nanti” jawab Rendra dengan ragu.

            “hmm..mau ayah masukin ke bimbel engga ?” Tanya Ayahnya menyambar sekaligus mengajukan penawaran.

            Rendra menggeleng, “Rendra bisa belajar sendiri, uangnya ayah simpan aja buat Rendra kuliah” jawab Rendra sambil memasukkan makanannya kembali.

            “loh kamu ini gimana toh, kenapa kamu engga mau bimbel ?” Tanya ibu seakan-akan Rendra seperti tersangka yang sedang diintrogasi.

            “buang-buang uang,Bu. Emang salah yah kalau Rendra nolak” ucap Rendra dengan berbagai argumennya

            “jelas salah lah, kamu ini gimana udah kelas 12 harus belajar intensif” jelas ibunya

            “pokoknya Rendra engga mau. Bimbel buang-buang tenaga aja bu” ucap Rendra pergi dari  ruang makan menuju ke halaman depan rumahnya.

            Ayah dan Ibunya hanya saling menatap tidak mengerti dengan jalan pikiran anak semata wayangnya ini yang tidak ingin diberikan kemudahan. Rendra duduk di halaman rumahnya, menatap langit yang terlihat membiru. Sesekali ia menatap sebuah kolam ikan yang ada berada disudut halaman rumahnya. 

            Sejurus kemudian, Rendra mengambil sepeda kesayangannya yang berada di dalam garasi rumahnya. Rendra mengayuh pedal sepedanya mengelilingi komplek perumahan ini. kemudian, ia menatap anak kecil yang sedang bermain sepak bola di lapangan komplek dengan riangnya. Satu-dua orang warga komplek menyapanya, Rendra hanya membalas dengan senyuman simpul ciri khasnya.

            Tiba disalah satu bangunan tua tidak berpenghuni berada dibelakang komplek, menjadi tempat destinasi Rendra. Bahkan, jika ada waktu luang Rendra dan Aliya selalu berkunjung ke tempat ini.menghabiskan waktu sorenya sambil menikmati sunset dari atas bangunan ini. Kemudian, Rendra menatap perkampungan yang tidak jauh dari tempat ia tinggal. 

            Rendra terdiam untuk waktu yang lama dengan pandangan kosong menatap perkampungan warga. Kemudian, ia berteriak sekuat tenaga menghilangkan rasa kesalnya di tempat ini. teriakan Rendra begitu menggema terdengar diantara sudut-sudut bangunan ini. seakan, Rendra ingin melepaskan sesuatu yang mengikat dirinya. Rendra ingin merasakan kebebasan bukan peraturan yang mengikat dirinya setiap saat. Rendra ingin merasakan kebersamaan bukan merasakan kebencian yang ada didalam dirinya. Dan Rendra akan paham satu hal, 

Langit yang luas adalah langit yang tanpa ada rasa kebencian dalam diri kita – Rendra (Daylight)”
 
            Ada satu pertanyaan yang tidak bisa Rendra pinta pada sang Narator. ”bisakah sang Narator melahirkan Rendra kembali, bahwasannya hidup seperti orang dewasa tidak seperti yang ia pikirkan”

            ***

            Di Sekolah…

            Matahari menyapa malu-malu dibalik kaca jendela kelas, sinarnya menembus begitu saja dengan gagahnya. Rendra masih mendengarkan penjelesan materi pembelajaran yang diterangkan oleh gurunya. Sementara, raganya tidak ada di dalam ruangan kelas. Aliya teman sebangkunya menatapnya dengan aneh, tidak biasanya Rendra tidak berbicara.

            “mungkin Rendra tengah mengidap penyakit sariawan” pikir Aliya dalam hati.

            Bel istirahat terdengar begitu nyaring. Siswa-siswi berhamburan ke ruang kelas pergi ke kantin sekolah untuk mengisi perutnya yang begitu lapar. Di lapangan futsal terdapat 2 tim dari kelas 10 dan 11 sedang bertanding. Seakan seperti ada pertandingan menarik yang sayang untuk dilewatkan. Rendra tengah berdiri didepan ruang kelas menonton pertandingan futsal tersebut. Aliya menghampiri Rendra setelah pergi dari kantin dengan membawa minuman dan makanan.

            “ndra, lo kenapa sih ? dari tadi gua liatin diam terus” Tanya Aliya sambil menyikut tangannya.

            Rendra menatap Aliya dengan tatapan yang menakutkan. sejurus kemudian, pandangannya ia alihkan kembali kearah lapangan futsal. Seakaan Aliya paham kalau itu menandakan Rendra tidak ingin diganggu.

            “yaudah, kalau lo engga mau cerita. Engga apa-apa” Aliya menyeruput kembali minumannya.

            Rendra masih terdiam masih melakukan hal yang sama menonton pertandingan futsal. Sementara Aliya, tengah sibuk menghabiskan minumannya yang barusan ia beli dari kantin.

            “eh..iyah, gue lupa nawarin lo. Yah, minumannya udah habis” ucap Aliya setelah melihat minumannya sudah habis tidak berisi.

            Rendra menatap Aliya kembali kemudian menggelengkan kepala. “nanti pulang sekolah temenin gue ke bangunan kosong deket komplek” ucap Rendra kali ini sambil bergegas masuk ke dalam kelas. 
Menyisahkan berbagai pertanyaan yang ada di dalam benak Aliya.

            “apa yang sebenarnya terjadi?”

            ***

            Rooftop Bangunan Kosong…

            Langit berubah menghitam. Matahari telah payah menyinari Bumi. Kemerlap Bintang-bintang satu-dua sudah terlihat di atas sana tengah menunggu rembulan untuk berkencan. Rendra dan Aliya tengah duduk diatas kursi yang tersedia sedang menikmati suasana sore hari sekaligus, menikmati senja yang terlelap manja di kaki cakrawala.

            Tidak ada topik obrolan yang diangkat. Pandangan mereka berdua tengah memandang bangunan-bangunan menjulang ke langit di kota ini. Sesekali dialihkan kearah perkampungan warga. Sungguh ironis sekali Negeri ini melihat kesenjangan sosial yang terjadi di kota ini. Seakan-akan tidak ada habisnya penderitaan masyarakat.

            “Aliya, gue mau nanya dua hal ke lo” Tanya Rendra memulai percakapan sekaligus mencairkan suasana.

            Aliya menatap Rendra dengan tatapan serius sambil membenarkan posisi duduknya “mau nanya apa emangnya ?”

            “pertama, gue udah buat cerita baru lagi. Coba lo liat dulu” ucap Rendra sambil memberikan beberapa lembar kertas yang penuh dengan tulisan.

            Aliya membaca dengan teliti. Memahami isi dari paragraph yang disampaikan Rendra dalam cerita ini. Sesekali pula, ia tersenyum simpul membaca ada beberapa scane yang teramat lucu. Bahkan, Aliya bisa menebak ending cerita yang dibuat Rendra.

            “gue udah baca” ucap Aliya memberikannya kembali ke Rendra

            “gimana menurut lo ?” Tanya Rendra kali ini

            Aliya mengangkat kedua jari jempolnya “bagus kok, tapi ada bagian yang miss” jawab Aliya sambil memberikan masukkan.

            Rendra memberikannya kembali kepada Aliya, untuk diberikan masukkan bagian mana yang dirasa miss. Aliya membaca kembali mencoba mencari-cari paragraph yang tersembunyi. Rendra masih memperhatikan Aliya yang sedang membaca.

            “nih di bagian ini” tunjuk Aliya setelah selesai membaca kembali.

            Kemudian Rendra langsung mengambil spidol berwarna hijau dari dalam tasnya. Aliya memperhatikan Rendra tengah sibuk menandai bagian yang menurutnya kurang tepat. Sejurus kemudian, Rendra mengeluarkan catatan pribadinya untuk mencari solusi dari bagian yang kurang tepat penggunaannya.

            “Rendra..” panggil Aliya

            Rendra tidak menjawab panggilan Aliya. Ia masih sibuk menulis untuk menggantikan bagian yang kurang tepat itu.

            “Rendra.. satu lagi pertanyaannya apa ?” Tanya Aliya kembali

            Rendra menghentikan aktifitas menulisnya, ia lupa dengan pertanyaan yang satunya lagi. “ehh, sorry gue lupa” ucap Rendra menepuk jidatnya

            Aliya tersenyum simpul melihat tingkah laku sahabatnya itu. Rendra meletakkan catatan dan kertas yang berisikan cerita yang ia tulis di samping tempat duduknya. Posisi duduk Rendra dan  Aliya sekarang saling berhadapan. Rendra menarik napas dalam-dalam ingin menceritakan semuanya yang selama ini ia pendam. Aliya sedari tadi, tengah menuggu pertanyaan Rendra selanjutnya.

            “Al,dalam agama kita dosa engga sih kalau kita berbeda pandangan dengan orang tua kita /” Tanya Rendra dengan ada serius

            Aliya terdiam sejenak, mencari pertanyaan yang tepat. “engga dosa sih, kalau pandangan orang tua kita menurut kita berlawanan dengan agama. Kita berhak untuk tidak mengikutinya’ jawab Aliya dengan tenangnya.

            “emangnya kenapa deh,lagi ada masalah sama mamah ?”Tanya Aliya mencoba mencari tahu duduk permasalahannya.

            Rendra menggeleng seakan-akan ia tidak ingin menceritakan permasalahannya dengan orang tuanya. Kemudian, pandangannya ia alihkan ke bangunan yang ada di kota ini.

            “rendra.. cerita aja sih” ucap Aliya kembali.

            Rendra masih terdiam dengan tatapan yang kosong setelah mendengar jawaban Aliya.
            “lagi ada masalah yah ?” Aliya mencoba mengulang kembali pertanyaanya.

            Hingga akhirnya, Rendra menceritakan semuanya. “ibu pengennya, gue harus jadi guru sedangkan gue sama sekali engga ada niatan buat jadi guru” ucap Rendra dengan sejujur-jujurnya.

            “terus ?”

            “yah, masa gue harus ikutin keinginannya sih. Gue punya pilihan kali” kata Rendra dengan nada kesal
            Aliya menghempaskan napasnya ke udara “Rendra..Rendra.. gue kira permasalahannya kenapa” ucap Aliya sambil membenarkan posisi duduknya kembali.

            Rendra terdiam, menatap kearah Aliya “kalau menurut gue sih, lo engga salah.karena lo berhak menentukkan pilihan sendiri. Dan menurut gue juga, pilihan mamah lo juga bagus. Guru kan salah satu profesi yang mulia juga.bukan ?” ucap Aliya

            Rendra menghela napas panjang “gue kira lo bakalan dukung gue, ternyata sama aja” pikir Rendra setelah mendengar penjelasan Aliya panjang.

            “bukan gitu rendra, intinya  lo harus bisa tentuiin pilihan lo. Dan lo juga harus buktiin ke orang tua lo, kalau cita-cita yang lo tetuiin engga salah” ucap Aliya kembali

            Rendra terdiam sementara, menimang perkataan Aliya kali ini. “thanks” jawab Rendra singkat.

            Aliya hanya tersenyum simpul. Mereka berdua kembali menikmati sunset dari tempat ini. Senja yang payah itu sudah terlelap manja di ufuk barat. Langit menghitam, tak kalah dengan sinar matahari diatas awan. Kemerlap bintang-bintang memancarkan sinarnya. Satu-dua diantara mereka saling menyapa manja. 
Lampu-lampu bangunan menjulang ke langit ikut meramaikan suasana malam ini. Semilir angin malam mamasuki celah rongga baju.

            “udara disini kalau malam, dingin jangan sampai lo sakit” ucap Rendra memberikan switternya kesayangannya membungkus tubuh mungil Aliya.

            Aliya kembali tersenyum melihat sahabatnya yang satu ini begitu peduli. “thanks” ucap Aliya.

            “rendra, gue lupa. Akhir bulan nanti ada lomba menulis cerpen yang diadaiin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan” ucap Aliya mengingat informasi lomba dari internet.

            “serius ?” Tanya Rendra begitu antusias mendengar lomba menulis.

            Aliya menganggukan kepalanya “gue serius”

            “oke deh, nanti gue siapin” ucap Rendra sambil menulis deadline di catatan pribadi. Aliya hanya menatap Rendra dengan senyuman.

            Tidak terasa mereka menghabiskan waktu bersantainya di tempat ini Selama 2 jam lamanya. Rendra dan Aliya bergegas pulang ke rumah, menyusuri anak tangga bangunan ini. sesekali, Aliya mengeluh saat menyusuri anak tangga yang nyaris tidak terlihat oleh mata. Bukan mata Aliya tidak normal, hanya saja bangunan kosong ini cahaya lampu tidak ada dan sudah lama tidak digunakan.

            ***

            Ruang Kelas..

            Tidak ada yang dilakukan Rendra saat jam istirahat dimulai. Selain menghabiskan waktu istirahatnya di dalam perpustakaan sekolah,membaca berbagai banyak literatur bacaan hingga matanya lelah melihat ribuan kalimat. Atau menghabiskan waktu istrihatnya bergelut dengan pembahasan soal Ujian Nasional tahun lalu. Seperti itu, tidak lebih

            “rendra, gimana udah ada penguman belom ?” Tanya Aliya menghampiri Rendra yang masih sibuk dengan berbagai soal Ujian Nasional.

            Rendra menggelengkan kepalanya. Ia masih sibuk dengan soal matematika yang satu ini. Aliya yang sedari tadi duduk disamping Rendra tertawa renyah, melihat sahabatnya yang entah kenapa menyukai soal yang berbau hitung-hitungan.

            Rendra menatap Aliya sekilas “Kenapa ?”

            “Kenapa apanya ?” Tanya Aliya tidak mengerti dengan pertanyaan Rendra.

            “kenapa lo liatin gue kaya gitu” ucap Rendra

            “yee.. geer banget sih lo, aneh aja liat lo yang tiba-tiba suka sama pelajaran matematika. Lagi kesambet yah ?” Tanya Aliya denga tawa renyah.

            “garing lo, salah apa gue ngerjain soal matematika ?” 

            “engga salah ko, malah progress buat lo” ucap Aliya kembali denga tawa yang menggelegar.

            “seneng yah liat temennya selalu dikataiin” ucap Rendra dengan kesal sambil menoyor kepala Aliya.

            Aliya gerutu kesakitan saat kepalanya ditoyor Rendra “sakit tau” gerutu Aliya

            “itu akibatnya kalau remehin gua terus”

            Bel tanda istirahat berakhir terdengar dengan keras. Siswa-siswi kembali ke dalam kelas melanjutkan mata pelajaran selanjutnya. Setidaknya Rendra tidak akan pernah takut jika berhadapan dengan pelajaran matematika.

            Laki-laki paruh baya dengan membawa tas laptop masuk kedalam kelas. Dengan tubuh yang gempal dan rambut tidak lagi putih memberikan kesan tersendiri. Ditambah lagi dengan pesonanya. Ralat. Pesona beliau kalau lagi marah seakaan seantero planet tahu.

Bapak Bertus Siahan.

Mengingat namanya saja sudah membuat kepala pusing. Apa lagi dengan mata pelajaran yang diberikan oleh beliau. Bisa-bisa rambut siswa-siswi berubah berwarna putih sebelum masanya.Siswa-siswi terdiam sejenak, melihat siapa yang datang mengajar mata pelajaran ini. tidak jarang, salah satu diantara kita memasang wajah serius agar tidak kena amarah beliau. Ditambah lagi, akhir-akhir ini gaji pegawai Negeri belum turun. Lengkap sudah penderitaan siswa-siswi.

***

Tidak ada yang bisa dilakukan saat mata pelajaran yang satu ini. Bahkan, untuk pergi ke toilet saja. Tidak diperkenankan oleh Bapak Bertus dengan berbagai alasan. Padahal itu salah satu hak siswa-siswi. Spesies macam apakah ? Megalithikum kah ? Pithecantropus kah ? atau Homo Sapiens ? entahlah,

            Jam begitu lama berganti, bahkan untuk mengganti satu jam saja seperti menunggu satu tahun lamanya. Seakan ada magnet tersendiri darinya agar siswa-siswi menyukai pelajaran yang satu ini. Mata siswa-siswi mengarah ke papan tulis mendengarkan apa yang sedang diterangkan tidak kecuali dengan Rendra yang setiap saat menatap kearah belakang, melihat jam yang begitu lama berganti.

            “rendra.. kamu ngapain liatin jam terus ?” Tanya Bapak Bertus melihat Rendra sedari tadi menatap kearah belakang kelas.

            Teman-teman Rendra menatapnya dengan mengahikimi dirinya. “tidak pak,” jawab Rendra dengan suara kecil dan terbata-bata.

            “coba jelasin apa yang saya jelaskan barusan” perintah Bapak Bertus menyuruh Rendra untuk maju ke depan kelas.

            SKAK MAT.

            Resep kue apa yang tadi dia katakan ? atau mantra apa yang tadi di ucapkan. Rendra melangkahkan kakinya perlahan, menyusuri tempat duduk bangku temannya. Tidak ada yang bisa menolong Rendra. Tidak ada. Kecuali..

            Bel sekolah berbunyi begitu keras, menandakan pelajaran telah usai. Siswa-siswi bergegas merapihkan bukunya yang ada di atas meja. Sesekali diantara mereka saling bersorak gembira. Begitupun dengan Rendra yang selamat dari maut.

            “Alhamdulillah selamat” ucap Rendra dalam hati.

            Rendra menyusuri lorong-lorong ruangan kelas, sesekali ia menarik tali tasnya. Sementara untuk bulan tidak ada pedalaman materi untuk anak kelas 12. Jadi Rendra bisa pulang cepat. Aliya ? sahabat Rendra yang satu ini akhir-akhir ini, tengah sibuk dengan pelatihan menari untuk lomba nanti. Bahkan, bakat Aliya selalu didukung oleh kedua orangtuanya. Sementara Rendra sendiri ? jangankan di dukung Rendra yang ingin berbagi cerita untuk menuangkan ide menulis saja, selalu saja diabaikan.

            Menyesal ? menyerah ? sama sekali tidak. karena hal itu Rendra selalu tetap semangat menggapai cita-citanya menjadi seorang penulis yang terkenal. Rendra selalu percaya akan satu hal.

            “kita tidak pernah tau usaha ke berapa yang akan berhasil. Sama seperti halnya kita tidak akan pernah tau doa keberapa yang akan dijabah oleh Tuhan. Keduanya sama-sama penting, maka tugas kita tetap berusaha dan berdoa. Hingga akhirnya, Semesta memberikan apa yang semestisnya kita dapatkan.”

            “Rendra” panggil Aliya dengan suara cemprengnya.

            Rendra menghentikan langkah kakinya, “ada apa?” Tanya Rendra 

            Aliya mengatur napasnya tersengal setelah turun dari anak tangga. “jangan lupa dating yah, besok lombanya” ucap Aliya memberikan undangan khusus untuk sahabatnya.

            Rendra menatap undangan itu dengan design menarik. “pasti” ucap Rendra sambil memberikan senyuman cirri khas miliknya.

            ***

            Ruang Tamu…

            Rendra tengah duduk di kursi tamu. Sementara ibunya tengah asik menonton tv. Rendra mengeluarkan buku yang kemarin ia pinjam dari perpustakaan sekolah. Tidak lupa dengan buku catatan pribadinya ia keluarkan secara bersamaan. Mata Rendra tengah sibukmembaca tulisan mulutnya komat-kamit membaca paragraph demi paragraph. Sesekali tangannya menulis apa yang ada di kepalanya.

            “rendra” panggil ibunya.         

            Rendra bergegas menghampiri ibunya yang sedang menonton tv. “iyah bu, ada apa ?”Tanya Rendra 

            “kamu jadi kan, ambil jurusan PGSD” Tanya ibunya kembali

            Rendra diam mematung. Sejurus kemudian,ia kembali lagi dengan rutinitas membaca dan menulis 
kembali. Rendra tidak menjawab pertanyaan ibunya kali ini.bukankah pertanyaan itu tidak perlu dijawab ?.

            Rendra kembali asik dengan benda persegi itu. Hingga akhirnya, mata Rendra lelah. Rendra memutuskan untuk pergi keluar rumah menghilangkan rasa jenuh dan stressnya. Mungkin dengan berkeliling komplek atau melihat Aliya berlatih dapat mengurangi rasa jenuh dan lelahnya. Mungkin.

            ***

            Di Aula Sekolah…

            Aliya tengah berlatih menari, gerak tubuhnya begitu gemulai mengikuti alunan musik tradisonal. 
Sesekali ia mengulang di bagian gerak yang menurutnya kurang. Rendra sedari tadi menatap Aliya dengan berdiam diri.

            “gerakannya udah bagus ko” ucap Rendra saat melihat Aliya mengulang kembali gerakan tarinya.

            Aliya terdiam, kemudian, menghampiri Rendra “ko lo ada disini. Rendra ?” Tanya Aliya begitu 
terkejut melihat kehadiran Rendra 

            Rendra tersenyum simpul “engga boleh apa ?”

            Aliya menggeleng sambil melambaikan kedua tangannya “bukan engga boleh, tapi kan aneh aja”

            “aneh kenapa ?” Tanya Rendra kali ini

            “yaudah lah,lupaiin ada apa emangnya ndra ?”

            “mau liat lo latihan aja” jawab Rendra sambil memperlihatkan susunan giginya

            “sure ?” Tanya Aliya mencoba meyakinkan kembali.

            Rendra mengangguk, sejurus kemudian kakinya ia luruskan “gue disini lagi kesel aja sama ibu gue”  ucap Rendra dengan jujur

            Aliya terdiam  “kesel kenapa, ada masalah lagi” Tanya Aliya kembali

            “the same problem” ucap Rendra singkat mengalihkan pandangannya ke setiap sudut Aula Sekolah.

            Aliya menghempaskan napasnya ke udara “terus gimana ?”

            Rendra kembali menggeleng,”udah engga usah dibahas lagi yah, sekarang gue mau liat tarian lo” ucap Rendra mengalihkan topik obrolan

            Aliya tersenyum simpul, sejurus kemudian, Aliya menarik selendang tarinya dengan kuat. Alunan music tradisional mengiringi gerakannya. Rendra yang menonton Aliya menari tersenyum bahagia. Entah apa yang ia rasakan.

            ***

            Theater Studio…

            Penonton lomba sudah hadir mengisi kursi-kursi yang telah disediakan panitia acara. Beberapa diantaranya membawa atribut dukungan untuk mendukung sekolahnya. Begitupun dengan Rendra yang sudah mempersiapkan diri membawa tulisan untuk memberikan semangat ke Aliya. Rendra melihat kembali undangann yang bertuliskan namanya dan tempat duduknya. Tidak ketinggalan dengan kamera yang melingkar di lehernya mengabadikan moment ini untuk Aliya.

            Di dalam ruangan suasana semakin sorak gembira, tidak ada henti-hentinya memberikan dukungan dan doa untuk jagoannya bertanding. Hingga tiba pengumuman pemenang lomba pun dimulai. Suasana berubah menjadi hening, ada beberapa pendukung dari sekolah lain menutup wajahnya entah apa yang ia lakukan. Sementara, Rendra hanya bersikap biasa saja. Toh dalam setiap permainan ataupun lomba selalu ada yang menang dan kalah. Mungkin, wajar saja jika ada pendukung yang bersikap seperti itu ataupun fanatik.

            Pembawa acara lomba Tari Tradisonal membacakan juara lomba Tari Tradisonal tahun ini jatuh ke tangan..

            Aliya Kamila Pratiwi.

            Suara tepukan tangan penonton begitu riuh. Tidak ketinggalan dengan Rendra yang begitu bersemangat saat nama sahabatnya itu terpilih menjadi pemenang juara 1 Lomba Tarian Tradisonal. Aliya naik panggung dengan wajah yang tidak percaya namanya dipangggil. Bapak Wali Kota memberikan ucapan selamatdan memberikan piala yang berukuran besar ke Aliya. Air mata Aliya jatuh begitu saja tidak percaya akan menjuarai Lomba terakhir. 

            Bagaimana bisa dikatakan lomba terahir ? mungkin besok lusa Aliya tidak akan mengikuti lomba lagi karena Ujian Nasional semakin dekat. Bukan hanya piala dan cinderamata saja yang diberikan melainkan,ada hadiah menarik yang mungkin membuat Rendra merasa iri. Juara 1 Lomba Tarian Tradisonal bebas memilih jurusan dan Universitas kesukannya tanpa tahap seleksi. Benar-benar beruntung sekali menjadi pemenang seperti Aliya.

            “ciee yang dapet juara 1”ledek Rendra samba memberikan ucapan selamat

            Pipi Aliya merah mendapat pujian dari Rendra “apaan sih, biasa aja kali” jawab Aliya mengelak.

            “biasa gimana ? hadiahnya yang engga biasa” ucap Rendra meledek Aliya

            “haha.. bilang aja iri kan. Makanya bisa nari dong” jawab Aliya sambil menjulurkan lidahnya.

            “ajarin dong kaka” Rendra tertawa

            Aliya pun ikut tertawa riang “eh,, gimana sama pengumumannya ?” Tanya Aliya mengalihkan topik

            Rendra mengangkat bahunya tidak tahu, “ya mungkin gua kalah” ucap Rendra singkat

            “jangan pesimis dulu dong, pemenang dilarang pesimis haram hukumnya” ucap Aliya memberikan semangat.

            Rendra tersenyum simpul, “Lo tau engga lagu The Script – Superhero” Tanya Aliya kembali.

            Rendra menggelengkan kepala “kenapa emangnya”

            “ jadi gini, didalam lirik lagu itu ada lirik yang bagus, kalau engga salah. all the kicks and all the 
blows, he will never let it show, cause he’s stronger than you know, that’s how a superhero learns to fly. Turn the pain into Power”

            Rendra terdiam memahami kalimat yang diucapin Aliya. Sejurus kemudian, Rendra tersenyum simpul. Suasana menjadi hening saat Aliya memberikan kata-kata motivasi untuk Rendra.
 
            “Turn the pain into power – The Script”

            ***

            Aula Sekolah…

            Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tidak terasa waktu berlalu begitu saja. Bahkan, berbagai ujian sekolah maupun ujian nasional sudah dilalui siswa-siswi kelas 12 yang setengah tahun lamanya mereka bergelut dengan ribuan soal-soal yang menguras tenaga dan pikirannya. Setelah selesai melawati fase-fase sulit, ada sebagian siswa-siswi merayakan masa-masa SMA akan berakhir dengan mencoret-coret bajunya yang sudah tidak asing di dunia pendidikan di Indonesia. Ada juga, yang merayakan dengan sujud syukur walaupun hasilnya belum di umumkan secara resmi.

            Matahari sudah berdiri gagah menyapa semesta dengan riangnya. Siswa-siswi sudah terlihat di halaman sekolah dengan menggunakan pakaian yang tidak seperti biasanya digunakan. Kemeja putih lengan panjang dengan jas hitam yang menutup kemeja putih itu, celana hitam panjang dengan dasi hitam melengkapinya dengan sempurna. Tidak ketinggalan dengan sepatu pantopel membuat siswa laki-laki terlihat beda tidak seperti biasanya. Balutan kebaya modern dengan berbagai model pashimina melingkar dikepalanya yang terlihat senada membuat siswi perempuan pun terlihat cantik. Ditambah dengan polesan make up membuatnya semakin cantik.

            Ruangan berukuran 15 x 15 meter itu dipenuhui orang tua yang memenuhui undangan sekolah untuk pelepasan siswa-siswi kelas 12. Guru-guru sudah berada di tempat duduknya di barisan depan. Osis yang ditunjuk sebagai panitia acara pelepasan siswa-siswi kelas 12 ini, tengah sibuk dengan jobdesk masin-masing. Satu-dua siswa-siswi kelas 12 sibuk dengan ponsel pintarnya mengabadikan moment ini untuk dikenang.

            ”Assalamualaikum Wr.Wb, selamat datang di SMA Negeri 1. untuk orang tua/wali murid diharapkan mengisi buku tamu di Aula Sekolah dan untuk kakak kelas 12 diharapkan masuk ke dalam ruangan aula karena acara akan segera dimulai. Terima kasih” ucap perempuan yang tidak diketahui namanya memberikan pengumuman melalui toa sekolah.

            Suasana di dalam ruangan Aula semakin riuh dengan penampilan adik-adik kelas menampilkan bakatnya masing-masing. Mulai dari hadroh,band,tarian tradisonal, modern dance hingga cheerleaders ikut meramaikan acaranya. Semua hadirin yang ada didalam ruangan bertepuk tangan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada adik adik kelas yang sudah menampilkan bakatnya.

            Tiba saatnya, saat pembawa acara mulai membacakan acara inti yang membuat suasana berubah menjadi hening seketika. Begitupun dengan raut wajah siswa-siswi kelas 12 yang terlihat tegang tidak seperti biasanya. Ada beberapa yang menutup wajahnya tidak ingin melihat hasil dari berbagai ujian yang dijalaninya. Ada beberapa siswa-siswi yang terlihat tenang menghadapi hal semacam ini. Dan hasilnya adalah siswa-siswi SMA Negeri 1 dinyatakan “LULUS”  seratus persen. Suasana berubah menjadi ramai dengan teriakan siswa-siswi. Ada juga yang menangis bahagia mendengar kabar baik ini. guru-guru memberikan penghargaan kepada mereka yang telah melewati berbagai ujian.

            Tidak ketinggalan dengan Rendra dan Aliya yang merayakan moment ini dengan berfoto bersama satu angkatan di lapangan sekolah,Selepas acara pelepasan selesai. Semua sudah tidak sabar menunggu moment ini yang akan diabadikan di Buku Tahunan Siswa untuk menjadi kenang-kenangan masa putih abu-abu. 

            Semua bahagia.. tapi tidak dengan Rendra yang masih menyimpan rasa tidak bahagia di dalam hatinya.

            ***

            Ruang Tamu…

            Sama seperti biasanya, Rendra selalu bermain video game lewat ponsel pintarnya sementara ayah dan ibunya sedang menonton TV bersama. Sangat berbeda jauh, sifat ayah dan ibunya yang memberikan kebebasan pada Rendra dalam hal bermain video game. Sedangkan, untuk menentukan pilihan melanjutkan pendidikannya. Rendra tidak bisa berbuat banyak. Setiap saat, setiap waktu ibunya selalu menginginkan anak semata wayangnya memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Padahal, Rendra tidak berminat mengambil jurusan itu.

            “rendra” panggil Ibunya sambil menatap ke arah anaknya yang sedang asyik bermain video game
            Rendra bergumam panjang, sementara tangannya masih memencet keypad ponsel pintarnya.

            “kapan pengumuman SNMPTN ?” Tanya ibunya dengan salah satu jalur untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri.

            “rendra engga tau” jawab Rendra dengan nada entengnya. Padahal ia sendiri tau kapan pengumuman itu.

            “terus kamu ikutin pilihan yang ibu suruh kan ?”Tanya Ibunya kembali membuat Rendra harus memutar otak untuk memberikan jawaban yang logis.

            Rendra terdiam sejenak menghentikan aktifitasnya bermain video game. “rendra engga milih PGSD, Bu” jawab Rendra 

            Ibunya menghampiri Rendra saat mendengar jawaban dari anaknya itu. “jadi, kamu engga pilih jurusan PGSD ?”

            Rendra menggeleng. “rendra engga berminat jadi Guru. Bu”

            “kenapa emangnya ? kamu engga lihat kehidupan pamanmu yang kehidupannya sudah berkecukupan dan di tanggung oleh Negara “ ucap Ibunya kembali yang tidak kalah memberikan argumen.

            Rendra terdiam. Diam bukan berarti Rendra kalah dalam hal ini. Hanya saja, ia tau kapan ia harus diam dan kapan harus membela diri. “intinya rendra engga akan milih jurusan PGSD” ucap Rendra dengan nada meninggi.

            PLAKK !!!

            Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kirinya. Baru kali ini, Rendra mendapatkan tamparan dari orang yang ia sayangi dari dulu. Rendra memegangi pipi kirinya dengan satu tangannya. Ia paham akan sebuah tamparan ini. Suasana berubah menjadi hening, kemudian Rendra bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan kecewa mendapatkan perlakuan seperti ini. 

            “all the kicks and all the blows, he will never let it show – The Script”

            ***

            Kamar Rendra…

            ­Ruangan berukuran 5x5 meter itu dipenuhui dengan foto-foto Rendra saat masa kecil. Saat dimana ia selalu diberikan kasih sayang, saat dimana Rendra mendapatkan kebebasan menjelajah dunianya dulu. Dan saat itulah yang Rendra rindukan, bukan seperti ini.

            Rendra menatap dirinya di cermin kamarnya, tamparan itu terlihat jelas di pipi kirinya. Sementara, tangan kirinya masih memegangi pipi kirinya. Berharap saja, dapat menghilangkan rasa sakitnya. Walaupun, ia tau rasa sakit dari sebuah tamparan tidak seberapa dengan rasa sakit kekecewannya yang melihat sifat orang tuanya selalu menuruti keinginannya. Bukankah, setiap orang tua selalu mendukung keinginan/bakat anak-anaknya. Bukan untuk mengekang ataupun membatasi ruang geraknya.

            Benci ? menyesal ? sama sekali Rendra tidak memiliki hak itu semua. Hanya saja, ia perlu membuktikan bahwa cita-citanya itu tidak salah. sejurus kemudian, Rendra melihat sebuah benda di atas meja belajarnya. Benda tabung itu, bertuliskan tabungan pribadinya. Sekilas, Rendra mempunyai niat untuk kabur dari rumah. Bukan karena tidak sayang lagi. Melainkan ia perlu menenangkan ataupun membuktikan dirinya, kalau Rendra akan berhasil dengan cita-citanya itu.

            Rendra merapihkan baju,celana dll dimasukkan ke dalam satu koper. Tidak ada yang tau Rendra akan melakukan hal seperti ini saat orang tuanya tengah terlelap. Rendra menunggu suasana rumah sepi, jam masih menujukkan pukul 23:00 itu artinya Rendra masih memiliki waktu kurang lebih 1 jam lagi untuk  kabur dari rumah. Tali pun sudah siap membantu dirinya kabur dari rumah melalui

            Langit masih menghitam, gugusan bintang-bintang dan rembulan masih terlihat disana. Bahkan,bintang dan rembulan seakan terlihat meragu dengan rencana yang disusun Rendra. Rendra masih menatap jam dan mengamati situasi dirumah yang terlihat sepi. Sejurus kemudian,Rendra melancarkan aksinya dengan melemparkan kopernya terlebih dahulu. Kemudian, Rendra turun melalui tali yang mengikat di tiang rumahnya.

            Tidak ada tujuan yang pasti dari Rendra. Yang Rendra inginkan melangkah lebih jauh dan berharap ia mampu menenangkan dan mampu membuktikan semuanya. Hingga kekalahan menyerah dengan semangatnya yang tidak pernah padam. Dan akhirnya,semesta memberikan apa yang semestinya ia dapatkan.

            “Do it for your pride – Prayoga Dwi Wibowo”

            ***

            Hari berganti minggu,minggu berganti bulan,bulan berganti tahun terus seperti itu. bahkan sudah hampir 2 tahun lamanya Rendra tidak pernah kembali lagi ke rumah. Tempat dimana Rendra dibesarkan. Walaupun sejatinya ia tidak pernah merasakan kebahagian di tempat asalnya. Sementara disini, kota dimana membuat Rendra menjadi tenang dan mampu melahirkan ide-ide menulisnya hingga menjadi sebuah buku. Dan membuat Rendra ingin terus berkarya.

            Tidak ada yang tahu Rendra tinggal dikota ini. Hanya Aliya lah yang mengetahui keberadaanya disini. Bahkan, Aliya juga berada dikota ini lantaran ia diterima disalah satu Perguruan Tinggi Ternama di Kota ini. sementara Rendra sendiri hanya mampu melanjutkan pendidikannya di salah satu Perguruan Tinggi Swasta. Untuk melanjutkan hidupnya yang tidak tergantung dari orang tuanya. Rendra menyisahkan waktunya berkerja disalah satu restoran menjadi pelayan café ataupun menjadi penulis.

            “hallo rendra..” panggil perempuan dari seberang sana

            “iyah, ada apa Al” Tanya Rendra yang mengathui suara sahabatnya itu.

            “ada waktu engga ? ada yang ingin ditanyaiin” ucap Aliya dengan nada serius.

            Rendra menimang tawaran Aliya untuk bertemu “hmm.. emangnya lo bisa apa ?” ledek Rendra

            “gue lagi serius,lo bisa engga ?” Tanya Aliya mencoba meyakinkan kembali.

            “segitu pentingkah ?”

            “penting. Ini tentang keberadaan orang tua lo” ucap Aliya dengan nada meninggi saat menyebutkan nama orang tuanya.

            Rendra terdiam saat mendengar nama itu. padahal ia sendiri pernah merasa kecewa dengan sifat ibunya yang selalu melarangnya mengambil jurusan Sastra. Tatapanya masih kosong entah kemana. Sementara Aliya sedari tadi tengah menunggu jawaban Rendra.

            “oke, ketemuan di tempat biasa” ucap Rendra mengakhiri obrolan melalu sambungan telfon.

            ***

            Di Café…        

Akhir akhir ini langit tidak bersahabat. Kadang, musim hujan kadang musim kemarau. Walaupun sudah masuk musimnya. Arah angin membuat daya tahan tubuh semakin diuji. Rendra masih memakai seragam tempatnya bekerja, sementara ia sudah 30 menit lamanya ia tengah menunggu seseorang yang ingin menceritakan keberadan orang tuanya.

            Perempuan dengan rambut pendek, ditambah lagi dengan kacamata yang masih setia menempel di tulang hidunya. Datang menyapa Rendra dari pintu luar. Sejurus kemudian, perempuan itu menghampiri barista café ini.

            “udah jam berapa nyonya ?” Tanya Rendra menekankan kalimat terakhir.

            “maaf, tadi ada kelas pengganti” ucap Aliya merapihkan rambutnya.

            “iyah, emang kenapa sih ?” Tanya Rendra pada inti obrolan

            Aliya merapihkan tempat duduknya, kakinya ia silangkan terlihat anggun. Pandangan mereka saling menatap satu sama lain. Sejurus kemudian, Aliya menaruh tas nya diatas meja barista. Sejurus kemudian, Aliya menatap sekeliling café yang terlihat lenggang.

            “kemarin gue pulang, dan setiap kali gue pulang. Rumah lo selalu kosong. Bahkan gue udah nanya sama satpam komplek. Kata dia, kalau penghuni rumahnya udah lama pergi entah kemana. Tepat setelah lo kabur dari rumah” ucap Aliya dengan panjangnya.

            Rendra terdiam saat mendengar penjelasan Aliya menjelaskan maksudnya. Aliya menarik napas dalam-dalam ingin mengatakan hal lagi.

            “rendra, apa lo engga pernah ada niatan buat pulang kerumah ?” Tanya Aliya dengan memberikan senyuman

            Rendra terdiam

            “apa lo engga pernah kangen sama kedua orang tua lo. Rendra ?” Tanya Aliya kembali dengan maksud yang sama.

            Rendra masih terdiam .

            “apa lo bisa menghilangkan kebencian yang ada di diri lo. Apa lo bisa memaafkan semuanya ? berdamai dengan apa dulu pernah menyesakkan ?” Tanya Aliya yang tidak mampu dijawab oleh Rendra.

            Rendra masih terdiam. “gue udah bisa melakukan semuanya. Tapi, apa kedua orang tua gue juga mampu melakukan hal yang sama” jawab Rendra dengan tenangnya.

            Aliya menarik napas dalam-dalam “orang tua mana sih yang engga bisa maafin anaknya ?, pasti orang tua lo udah maafin lo”

            “terus apa yang sekarang” Tanya Rendra kembali

            “saran gue, mendingan lo cari tau keberadaan orang tua lo. Itu sih kembali lagi sama diri lo juga” ucap Aliya memberikan saran.

            Rendra terdiam dalam waktu yang lama. Menimang saran dari Aliya “yaudah, gue mau.lo bantuiin gue kan cari tau keberadaan orang tua gue ?”

            “rendra..rendra.. lo gimana sih, pertanyaan lo itu engga bermutu.” Jawab Aliya dengan tertawa terbahak

            Rendra menoyor kepala Aliya dengan entengnya. “sialan lo, yaudah besok gue tungguiin disini”

            “aduhh.. sakit tau, oke oke”

            ***

            Matahari sudah berdiri gagah di singgahsananya. Burung-burung camar berkicau dengan merdunya. Cahaya matahari pagi begitu terasa hangatnya di Bumi. Rendra dan Aliya sudah lelah mencari keberadaan orang tua Rendra. Aliya yang mendampinginya selalu memberikan semangat agar Rendra tidak mudah patah mencari tahu keberadaanya.

            Mobil Rendra membelah jalanan yang terlihat lenggang menuju ke rumah lamanya saat Rendra masih bersekolah. Hanya butuh waktu 2 jam, untuk tiba di komplek. Bahkan, Rendra sndiri sudah terlihat lelah menyetir mencari tahu. Tidak ada yang tahu petunjuk ataupun alamat untuk menemukan keberadaan orang tuanya.

            Tiba-tiba..

            Mobil Rendra menabrak seorang penyebrang jalan yang hendak menyebrang. Seperkian detik, Rendra menginjak rem dengan kuatnya. Sementara, tubuh laki-laki penyebrang jalan itu terpental lalu terjatuh di jalan. Rendra dan Aliya yang berada didalam mobil, langsung keluar mobil memberikan pertologan pertama pada laki-laki itu. 

            Betapa terkejutnya Rendra dan Aliya saat melihat, laki-laki itu berjalan menggunakn tongkat dengan kacamata hitam. Laki-laki itu ternyata buta. Namun, Rendra mencoba mengingat kembali saat melihat wajah laki-laki itu dan hasilnyapun nihil. Sejurus kemudian, Rendra membopong tubuh laki-laki itu yang tidak berdaya membawanya ke rumah sakit terdekat.

            Rumah Sakit…

            Laki-laki dengan jas putih itu keluar memberikan keterangan setelah memeriksa keadaan laki-laki yang barusan Rendra tabrak. Rendra da Aliya yang sedari tadi khawatir saat mendapati ternyata laki-laki itu buta.

            “gimana dok ?” Tanya Rendra menanyakan keadaan langsung.

            “kondisinya baik-baik saja, hanya luka ringan. Butuh waktu 1-2 hari untuk pulih. Kalau begitu, saya tinggal dulu” ucap dokter pamit meninggalkan Rendra dan Aliya.

            Rendra dan Aliya masuk kedalam ruangan yang hanya dibatasi sekat berawarna putih itu. laki-laki itu tengah terbaring tidak berdaya diatas ranjang. Sementara, pikiran Rendra masih menerawang mengingat kembali siapa laki-laki itu. Dan ternyata..

            Ayah Rendra….

            “ayah..” ucap Rendra dengan suara lrih setelah berhasil mengingat kembali laki-laki itu.

            Laki-laki itu mendengar suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya. “Rendra” jawab Laki-laki itu membetulkan kacamata hitamnya.

            Rendra langsung memeluk tubuh laki-laki itu begitu erat.”maafin Rendra. Yah” ucap Rendra dengan isakan tangis bahagia.

            “ayah, ibu sekarang tinggal dimana ?” Tanya Rendra merenggakan pelukannya.

            “ibu kalau tidak salah, tengah dirawat dirumah sakit gila. Ndra, tapi ayah engga pernah tau dimana rumah sakitnya.” Ucap Ayahnya.

            Otak Rendra berputar begitu cepat mencari tahu nama Rumah Sakit jiwa berada di kota ini. Aliya yang berada disampingnya ikut membantu mencari tahu juga. Hingga akhirnya,

            “rendra tau, ibu sekarang ada dimana. Aliya ayo ikut gue sekarang” ucap Rendra pergi meninnggalkan ayahnya yang masih tidak berdaya.

            ***

            Rumah Sakit Jiwa…

            Rendra dan Aliya sudah tiba di Rumah Sakit Jiwa di Kota ini. tanpa menunggu lama lagi, Rendra dan Aliya langsung bertanya pada bagian kasir. Sejurus kemudian, seorang perawat Rumah Sakit ini mengantarkan ke salah satu ruangan dimana Ibu Rendra di rawat. Perawat rumah sakit ini menjelaskan peristiwa yang menimpa ibunya Rendra.

            Betapa terkejutnya Rendra saat mendengarkan perawat rumah sakit ini menjelaskan kronologis kecelakaan yang memilukan hati Rendra dan Aliya yang mendengarnya.

            “kronologisnya, ada seorang suami-isteri tengah mencari anaknya yang pergi dari rumah. Namun naas, saat mobil yang dikendarai suaminya itu menabrak pohon besar. Suaminya mengalami kebutaan sementara isterinya mengalami gangguan jiwa akibat benturan keras di kepalanya membuatnya tidak bisa mengingat apapun”

            Hati Rendra menangis sejadi-jadinya saat mendengarkan perawat itu menceritakan semuanya. Ada perasaan bersalah dalam dirinya. Bahkan, perawat itu tidak tahu kalau Rendra lah anak yang kabur yang membuat orang tuanya seperti ini.

            “boleh saya masuk, menemui beliau ? ada yang ingin saya bicarakan empat mata” Tanya Rendra

            Perawat itu dengan senang hati memperbolehkan Rendra untuk berbicara secara langsung.

            Langkah rendra terhenti saat melihat wanita dengan rambut yang tidak terawat duduk membelakanginya. Dengan keberaniannya Rendra berbicara langsung kepadanya.

            “ibu”panggil Rendra dengan suara lirih

            Wanita itu masih diam.

            Rendra memanggil kembali “Ibu”

            Wanita itu menoleh dengan tatapan yang menakutkan. “siapa kamu ?”

            Rendra dengan tenangnya memperkenalkan dirinya “ini Rendra bu, anak ibu”

            “saya tidak kenal dengan kamu, pergi sana” usir wanita itu dengan lantangnya.

            “ibu.. ini Rendra, maafin Rendra”

            “pergi sana” usir Wanita itu dengan nada teriak histeris

            Rendra yang mendapatkan penolakan itu tidak menyerah begitu saja, Rendra mengambil selembar foto dirinya dan kedua orang tuanya saat ia lulus dari SMA.

            “ibu, apa ibu ingat foto ini ?” Tanya Rendra memberikan foto dari dompetnya.

            Wanita itu mengambil foto yang diberikan Rendra. Sejurus kemudian, wanita itu memperhatikan 3 orang yang berada di dalam foto tersebut. Rendra memperhatikan kondisi ibunya yang begitu mengkhawatirkan itu.

            “anakku” panggil wanita itu dengan lirihnya

            Rendra menyeka air matanya yang jatuh begitu saja. “ibu maafin rendra. Bu” ucap Rendra memeluk tubuh ibunya itu yang kotor dan bau

            Ibunya pun membalas pelukan Rendra juga “maafin Ibu juga. Nak, andai saja ibu tidak melarangmu.” Ucap ibunya

            Rendra memotong ucapan ibunya “ibu engga salah, Rendra yang salah” rendra kembali memeluk tubuh ibunya dengan pelukan yang sangat kuat. Sejurus kemudian, Rendra mencium kening ibunya dengan lembut.

            Aliya dan perawat rumah sakit itu melihat moment itu dengan tangis terharu melihat anak dan ibunya kembali bertemu. Bukan hanya anak dan ibunya saja, melainkan keluarga kecil yang dulu hilang kini kembali lagi. 

            Satu bulan kemudian..

            Setelah Rendra bertemu dengan ayah dan ibunya dan membawa kedua orang tuanya kerumah sakit untuk dicek kondisinya hingga pulih. Keluarga kecil itu kembali lengkap setelah menyadari kesalahanya masing-masing. Tidak ada kebencian yang menyelimuti mereka. Yang ada canda dan kebahagian yang kembali lahir setelah sekian tahun lamanya tidak pernah dirasakan.

TAMAT

BIODATA PENULIS
Prayoga Dwi Wibowo, kelahiran Jakarta, 06 November 1997 silam memulai menulis cerita di awal tahun 2011. Penulis yang biasa disapa akrab dengan sebutan Yoga ini, sudah banyak menulis cerita pendek. Adapun cerita-cerita pendek yang pernah penulis bagikan diblogg pribadinya, diantaranya, “Pelangi Tanpa Hujan (2011)”, “Sahabat Jadi Cinta (2012)”, “One Day (2015)” dan yang pernah membawa namanya menjuarai lomba menulis cerpen di sekolah “Daylight (2015)”, dan masih banyaklagi cerpen-cerpen yang ditulis yoga.
Saat ini, penulis sedang melanjutkan pendidikannya disalah satu Perguruan Tinggi Negeri di Universitas Negeri Jakarta. Yoga biasa ditemui diberbagai akun media sosial pribadinya yaitu, FB : Prayoga Dwi Wibowo, IG : prayogadwi97, Line : prayoga0611 dan WA : 089646589675. Salam kenal dan salam literasi J #DREAMWRITINGS