Sabtu, 13 Mei 2017

Catatan Pribadi

ONE SOUL
“Tanyakan pada dirimu, apa yang kamu bisa berikan untuk Negerimu”
By :PPKN 2016
Pengarah Produksi : Bapak Tjipto Sumadi, M.Si, M.Pd
Ibu Yasnita Yasin, S.Pd, M.Si
Sutradara : Wana Travel
Production : Universitas Negeri Jakarta Pictures
#TERIMAKASIHSUKUBADUY
#WONDERFULINDONESIA

Scene : Pertemuan

Awal keberangkatan dari kampus tercinta (UNJ) itu pukul setengah tujuh pagi. Karena udah kebudayaanya ngaret engga pernah bisa tepat waktu, Bahkan ada salah satu Dosen (Bapak Cip) kami yang sempat marah dengan satu mahasiswa yang belum datang.jujur, Pak Cip salah satu Dosen yang kalau ngajar selalu On Time *Applause*. Panitia dari acara Study Tour, sibuk dengan tugasnya salah satu dari mereka, ada yang menelfon mahasiswa yang belum datang, ada juga yang sedang berbincang dengan pihak travel (Wana) tentang persiapan selama 3 hari. Suasana di Bus semakin riuh terlebih suasana di Bus 2 yang notabennya itu Bus salah satu mahasiswa yang telat. Untungnya, mahasiswa yang telat itu engga diamuk massa Bus 2 lebay banget wkwk.

Well, pukul tujuh lewat 15 menit kami pun berangkat dari Kampus (UNJ) menuju ke Suku Baduy di Banten. Katanya perjalanan untuk sampai kesana membutuhkan waktu 4-6 jam. Tapi, semangat kami untuk melakukan observasi penelitian disana engga pernah padam. Wedew, engga percaya ? kami bernyanyi tanpa henti terutama di Bus 1 & 2. Udah kaya lagu aja wkwk.. kenapa Bus 3 engga nyanyi karena di Bus 3 engga ada mix nya wkwk.

Hingga akhirnya, kami berhenti bernyanyi menyisahkan tenaga untuk disana hehe. Bus membelah jalanan Ibu Kota melewati jalan tol dalam kota. Sebagian diantara kami beristirahat, sebagian lagi ada yang masih sibuk ngegosip haha..

Scene : Perjuangan Part 1

Saat kami tengah beristirahat, tiba-tiba ada kendala dari Bus 3. Ternyata Bus 3 mengalami gangguan mesin ditengah jalan tol. Beruntungnya engga ada apa-apa sama penumpang di Bus 3. Bus 2 dan Mobil ELF putusin buat berhenti di rest area. Perjalanan kami pun sempat terhenti kurang lebih 1 setengah jam lamanya di Rest Area hingga Bus yang lain jemput.

Pukul Dua belas lewat empat puluh, perjalanan dilanjutkan hingga terjadi lagi kendala. Bukan mesin lagi yang jadi kendala, melainkan Bus 1 kejebak dilumpur. Gue dan cowok PPKN lain pun ikut bantu buat keluarin ban Bus 1 keluar dari kubangan lumpur.

Liat muka temen-temen gue lagi susah payah ngeluarin ban Bus 1.

Well, setelah Bus 1,2,3 udah terbebas dari Lumpur yang menguras tenaga. Perjalanan pun dilanjutkan kembali, asal kalian tau. Jalan menuju Baduy benar-benar buat kami nyebut terus. Dan bener aja, cobaan pun datang kembali. Lagi-lagi Bus 1 kena apes terus. Bannya kembali masuk ke dalam lumpur. Kali ini, butuh waktu berjam-berjam ngeluarin bannya bahkan sampe hujan-hujan pun gue, cowok PPKN, dan supir dibantu juga dengan masyarakat Baduy luar pun ikut ngebantu buat ngeluarin ban Bus 1.

Finally, butuh waktu berjam-jam lamanya buat ngeluarin ban mobil Bus 1. Pukul setengah enam sore Bus pun baru bisa dikeluarin dari lumpur. Ada warga Baduy Luar yang menyarankann buat ngubah rute perjalanan kami. Pihak Travel dan Sopir pun mengikuti saran dari warga Baduy Luar.

Oke, perjalanan diputuskan putar balik. Tapi apa ? lagi-lagi semesta menguji ketangguhan kami. Sekarang Bus 3 yang mengalami kendala lagi. Kalau dibilang sih “The Same Problem” lumpur jadi permasalahan kami. Bahkan saat Bus 3 masuk kedalam lumpur waktu udah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kebayangkan gimana cowo-cowo PPKN ngeluarin ban Bus 3 ditengah hutan belantara. Untungnya, hanya butuh waktu lima belas menit lamanya cowo-cowo PPKN berjibaku. Ban Bus 3 pun berhasil dikeluarkan dari kubangan lumpur. Perjalanan pun dilanjutkan.

Mereka yang mengabaikan rasa sakit dan lelah hanya demi satu tujuan”

Pukul sepuluh malam, kami tiba di Terminal Ciboleger. Perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih 1 km dari Terminal Ciboleger menuju homestay. Dengan baju kotor semangat kami masih ada. Disepanjang perjalanan menuju homestay. Banyak sekali perjalanan yang didapat dari lingkungan Suku Baduy.

Gue juga baru tau sih, ternyata di sepanjang jalan menuju Suku Baduy. Engga ada lampu penerangan jalan dan rumah-rumah warga pun engga ada lampu. Dan lebih uniknya lagi Kawan, ternyata disetiap rumah itu terdapat satu tempat pembuangan sampah dengan bentuk unik yang berbentuk kerucut dengan bahan yang terbuat dari rotan. Sayangnya gue engga ada dokumentasi tempat sampah yang unik itu. mungkin kalau teman-teman pergi ke Baduy nanti juga tau hehe…

Pukul setengah sebelas malam gue dan teman teman PPKN baru tiba di homestay. Hingga akhirnya, kami pun beristirahat. Kumpulin tenaga buat observasi sekaligus petualangan pertama. Yeay

Scene : Perjuangan Part 2

Matahari menyapa di antara langit luas di Baduy, kami pun menyiapkan diri buat melakukan observasi pertama. Tapi sayanganya salah satu Dosen kami (Pak Cip) engga bisa ikut dengan alasan lelah buat masuk ke Baduy Dalam. Hanya Bu Yas yang damping dibantu dengan Wana Travel dan juga Kakak Senior PPKN 2015.

Oke, perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih sejauh 14 km. hmm.. benar-benar menguji ketahanan kami. bahkan kalau dibilang itu tidak ada apa-apanya jika dilalui bersama.ehm
Kaki kami terus melangkah menyusuri turunan-naikan jalan setapak di Baduy.

Tibalah saatnya ketangguhan kami diuji dengan melewati berbagai medan yang dibilang ekstrim. Pertama, harus melewati beberapa jembatan yang terbuat dari kayu dan yg lebih menariknya jembatan itu tidak menggunakan paku untuk menahannya hanya digunakan tali. Kebayangkan gimana rasanya kalau kalian melewati. Kedua, medan selanjutnya lebih menakutkan lagi yaitu tanjakan cinta.

Dimana tanjakan ini memiliki kemiringan kurang lebih 15 derajat ditambah dengan suasana hujan dan jalanan penuh lumpur lengkap syudahhh…

So, disinilah rasa solidaritas kami di uji. Apakah kami benar-benar SATU JIWA atau engga.. disepanjang tanjakan cinta KATANYA kita harus memikirkan seseorang yang kita CINTAI. Kalau gue sendiri sih, gue lebih baik mikirin kapan sampai dan kapan hari ganti wkwk.. karena gue ngerasaiin sendiri perjalanannya itu benar-benar menguras tenaga.

Ditanjakan cinta setiap cowo PPKN termasuk gue, ikut ngebantu cewenya lewati tanjakan cinta. Bukan berarti nantinya terjebak dalam Cinta Lokasi wkwk.. tapi.. sudahlah, disepanjang tanjakan itu, gue denger suara motivasi dari cowo PPKN buat cewe PPKN “Udeh,jangan pikirin seberapa jauh tanjakannya. Pikirin aja orang yang lo sayang” ada  yang lebih konyol lagi motivasi dari cowo PPKN “diatas ada KFC,MCD,dll.ayo semangat.. mau minum kan” konyol kan wkwk..

This is Tanjakan CINTA..sebenarnya masih panjang lagi tanjakannya dan itu belom hujan.

Finally, setelah semuanya dilewati tibalah kami di Baduy Dalam dengan suasana kampung yang hening. Dan penduduknya pun menyambut baik kami. termasuk jaro nya (wakil ketua adat). Bahkan di dalam rumah panggung yang terbuat dari bambu itu. jaro nya memberikan beberapa wejengan dalam bahasa sunda. Sementara cowo nya ada diluar jadinya engga bisa ngedengerin beliau kasih nasihat.

Tapi, gue ngamatin model bangunan rumahnya yang nyaris bahan bangunanya tanpa pondasi batu dan terbuat dari kayu. mantap, bahkan talinya terbuat dari tumbuhan luar biasa bener dah..

Hanya setengah jam lamanya kami bersilahturahmi dengan jaro (Wakil Ketua Adat Suku Baduy) habis itu kami pulang ke homestay. Dengan medan yang berat setelah diguyur hujan dan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 6 jam lamanya. Kami nekat menembus hutan belantara dengan bermodalkan senter dan jas hujan.

Perjalanan pulang pun masih sama dengan dibagi beberapa kelompok. Tapi setelah itu, banyak kelompok yang misah. Gue sendiri awalnya dibagian ekor kebagian badan.

Perjalanan terhenti dimedan yang sama. Tanjakan CINTA kembali menguji ketangguhan kami. dengan ditambah lagi lumpur setelah hujan membuat perjalanan kami semakin CINTA sesuai dengan namanya. Gue sendiri bantu beberapa temen cewe PPKN turun dari Tanjakan Cinta. Disana juga ada temen gue yang lebih nekat lagi bantu cewe PPKN yang engga bisa jalan dengan digemblok. Luar biasa emang dah…, motivasi buat cewe PPKN pun masih terdengar, ada juga yang mengatakan “Lo percaya kan sama gue ? kalau gue bisa selamatin nyawa lo lewat tanjakan ini?” bukan benda lagi yang jadi taruhan. Nyawa temen dan juga diri sendiri jadi taruhannya.

Dan setelah lewati tanjakan CINTA ada satu pelajaran yang berarti yang bisa gue petik dari itu “ternyata benar, bukan seberapa jauh kita melangkah bersama. Melainkan seberapa erat genggaman tangan kita untuk melewati rintangan bersama. Dan benar, CINTA lah yang selalu menguatkan itu semua.CINTA lah yang semestinya berkuasa diatas segalanya.CINTA tidak hanya merujuk ke Laki-laki dan Perempuan. Lebih dari itu.Kawan. lebih dari apapun.”

Perjalanan kami pun dilanjutkan hingga malam hari dengan kelompok yang terpisah. Di kelompok gue,sekitar ada 25 orang 4 diantaranya cowo dan sisanya cewe. Kebayangkan gimana rasanya diposisi cowo di kelompok gue. Tengah malam tersesat di Hutan Belantara bahkan butuh waktu berjam-jam lamanya untuk tiba kembali.

Well, gue juga suka dibagian ini. karena disini lah mengajarkan kita caranya “Bertahan,Berjalan dan Saling Menguatkan” . gue yang tergolong kedalam kelompok badan. Disuruh jalan didepan.. gila engga wkwk. Disinilah keberanian gue juga diuji, gue enjoy dengan mulut komat-kamit baca surah pendek ataupun ayat kursi jalan didepan sambil buka jalan. dan hasilnya pun, gue selalu jadi korban kepeleset karena salah nginjek jalan yang licin. Disini juga gue dapet satu pelajaran.

“bahwa engga selamanya, pukulan,jatuh dan hinaan selalu kita tunjukkan di depan orang yang kita sayangi. Termasuk sahabat kita”

Pukul delapan malam kelompok gue baru tiba di Homestay. Perjalanan kami pun belum selesai. Hingga semua tiba kembali di homestay. Kemudian langsung beristirahat tanpa memperdulikan bau badan.

Scene : Perpisahaan

Hari Senin adalah jadwalnya untuk kami bergegas kembali ke Kota dengan berbagai kesibukan Ulangan Tengah Semester yang sedang menunggu. Setelah sarapan di hari terakhir kami berada di Baduy. Perjalanan pulang pun dimulai dengan berjalanan kaki sejauh 4 km lagi atau setara 45 menit lagi (kalau engga ada rintangan). Kebayangkan udah berapa jauh kaki kami melangkah selama 3 hari di Baduy. Dan dihari terakhir ini ada yang gue kagumi.

Mereka adalah saudara kami. Mereka menyambut kami dengan tangan terbuka. Bahkan, mereka adalah asli dari Suku Baduy Dalam yang rela-rela anterin kami malam-malam pergi ke homestay. Kemudian pulang lagi ke Suku Baduy Dalam tanpa alas kaki. Paginya anterin kami lagi ke Suku Baduy Dalam begitupun seterusnya. Dari mereka ada pelajaran berharga yang dapat kami ambil.

Hidup ini sebenarnya simple, jangan terlalu banyak mengeluh. Itu aja”

Tibalah kami di Terminal Ciboleger. Sebelum kami berangkat pulang ke Jakarta. Kami melakukan foto bersama mengabadikan moment yang engga pernah bisa dibeli dengan apapun bahkan engga bisa dicari di toko mainan manapun.

Teman. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan kami dari Kampus menuju ke Baduy. Kau tau ? ada beberapa pelajaran yang tidak dapat kita cari disekolah ataupun di kampus. Tentang filsofi mereka “Panjang jangan Dipotong,Pendek jangan Disambung” dan benar, setiap perjalanan hidup butuh pengorbanan bukan hanya serba instan saja. Agar kita bisa menghargai setetes keringat yang jatuh. Supaya kita berhasil di masa mendatang.

Tentang Lingkungan mereka yang notabennya beragama SLAM WIWITAN yang artinya agama mereka (Suku Baduy) itu keturunan dari Nabi Adam AS dan mereka (Suku Baduy) tidak mengikuti cara beribadah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Cara mereka (Suku Baduy) beribadah yah menjaga alam adalah ibadahnya.

Sementara Tentang kekeluargaan yang dapat diambil. Disepanjang perjalanan petualangan kami terdapat sebuah rumah yang sengaja digunakan untuk menaruh hasil bumi untuk dibagikan ke seluruh masyarakat Baduy tanpa terkecuali. Bahkan dari hasil bumi yang mereka (Suku Baduy) dapatkan diberikan sebagian kepada Pemerintah Daerah atau lebih dikenal dengan Upacara Seba. Luar biasa kawan…

Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Kawan

Terima kasih teman-teman yang sudah berpetualang bersama menjelajah salah satu Suku yang ada di Indonesia. Jujur aja, saat gue diterima di PPKN UNJ. Awalnya gue sempat berpikiran ”apa nanti gue bisa nemuin keluarga kedua setelah sekolah ?” dan pertanyaan itu butuh 2 semester buktiin. Bukan hanya sebagai teman,sahabat,rekan. Melainkan sebagai keluarga besar yaitu PPKN UNJ.

Terima kasih juga, buat Bapak Tjipto dan Ibu Yasnita udah kasih pengalaman dan pembelajaran tentang arti hidup yang sebenarnya. Bahwa, hidup itu bukan dipecahkan melalui teori-teori melainkan dicari permasalahannya tanpa menyakiti siapapun.

Pesan dari kami (Mahasiswa PPKN UNJ) untuk kalian yang suka Traveling.. ubah rencana libur kalian yang bermanfaat dengan mengunjungi beberapa suku yang ada di Indonesia. “Sobat, Lo keren kalau lo mampu taklukin jaya wijaya,rinjani,pangrango dll. Tapi, Lo jauh lebih keren kalau lo mampu belajar memahami dan mengaplikasikan keanekaragaman suku bangsa yang ada di Negeri ini”

Karena kami pun masih ingin mempelajarinya lagi. Dan penutup catatan ini dengarkan semangat kami bergelora. Sebab… “KITA SATU,SETANAH SEBANGSA,SEBAHASA”

WONDERFUL INDONESIA