***
PRAYOGA D WIBOWO
SETELAH LUKA
"Bagaimana Jika aku tidak bisa mencintaimu lagi"
PROLOG
Bagaimana jika orang yang paling kau cintai sering menanam luka di hatimu ?
Bagaimana jika orang yang paling kau cintai hanya menganggapmu tidak lebih dari seorang sahabat ?
Apakah kau akan bertahan pada
perasaanmu padanya ? atau mungkin, kau akan paham dengan sendirinya.
Jika kita cinta seseorang, kita juga memastikan pada dirinya apakah ia
bersedia untuk saling mempertahankan atau tidak.
***
Aku pernah mencintai seseorang
dengan sangat amat.. mencintainya. Dan berharap ia akan selalu berada
disampingku, menggenggam tanganku dan memelukku dengan sangat erat.
Hingga akhirnya ia membisikkan sesuatu di telingaku “bersamamu saja, aku
ingin menua hingga senja menutup usia”.
Aku pernah memperjuangkan sesuatu,
yang tidak pernah aku dapatkan sepenuhnya. Mungkin aku berhasil memiliki
raganya, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya entah memikirkan siapa.
Entahlah semua terasa sama saja. Hingga akhirnya, aku dikalahkan oleh
sang waktu bahwa yang aku perjuangkan sepenuh hati tidak pernah
menganggap perjuanganku.tidak pernah menganggapku ada. Mungkin benar
juga, apa yang dikatakan semesta pada hari itu.
Kelak, jika kita dipertemukan
kembali oleh sang Narator dalam cerita apapun yang di tulis-Nya.
Kenanglah kisah kita dengan banyak. Bahwa dulu, kita pernah saling
mengeratkan satu sama lain. pernah saling berbagi rahasia,cinta atupun
luka yang menyesakkan di dada. Tapi tidak mampu untuk menyatukan mimpi.
Kita beda.
Dan jika esok, kita dipertemukan
kembali, jangan pernah memintaku untuk kembali lagi. Jangan pernah
membuat kita sama-sama jatuh cinta kembali, jangan kau tanyakan kenapa
aku tidak mau kembali bersamamu. Puan. Dan Inilah alasanku yang
sebenarnya.
“Bagaimana jika esok, aku tidak bisa mencintaimu lagi ?”
***
I will leave my heart at the door
I won’t say a word
They’ve all been said before you know
So why don’t we just play pretend
Like we’re not scared of what’s coming next
Or scared of having nothing left
***
Di Ruangan Pertunjukkan Fashion Show
Seorang perempuan cantik tengah berjalan di atas Catwalk dengan anggun dan cantiknya. Perempuan itu tengah memperagakan busana terbaru yang dirancang oleh designer ternama.
Senyuman yang mengembang dari wajahnya membuatnya semakin percaya diri
untuk memperagakkan busana. Jangan lupakan dengan polesan make up yang
menutupi seluruh wajahnya yang membuat dirinya susah untuk dikenali.
Dengan postur tubuh yang tinggi dan rambut panjang yang ia biarkan
terurai begitu saja, membuatnya terlihat semakin cantik. Sangat..cantik.
Perempuan itu benar-benar berbakat menjadi seorang Model. Bahkan, bakat modeling-nya sudah terlihat saat masa putih abu-abu dulu. Banyak penghargaan yang sudah ia raih dari berbagai event yang
sering ia ikuti. Dan juga, banyak tawaran yang menggiurkan dari majalah
perempuan yang menawarkkannya berkerja sama dengannya untuk menjadi
salah satu model iklan di majalah tersebut. Hingga akhirnya, perempuan
itu menerima tawaran dari majalah tersebut sampai sekarang. Perempuan
itu bernama…
IRA WULANDARI…
Aku sudah mengenal Ira semenjak, kami
sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Kebetulan. Ralat.
Didunia ini tidak ada yang namanya kebetulan bukan ? bukankah semuanya
sudah di rancang sedemikian rupa oleh Narator ? dan tugas kita hanyalah
memainkan ataupun memperagakan apa yang diminta oleh-Nya. Aku dan Ira
sama-sama ikut bergabung di Theater Semu estrakulikuler
sekolah. Bahkan, aku dan Ira pernah menjalin hubungan selama 3 tahun
lamanya. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar menjalin hubungan saat
masa putih abu-abu. Selama itu pula, aku tidak pernah merasakan Ira
benar-benar mencintaiku.
Aku pernah menanyakan perihal tentang hubunganku dengannya. Dan Ira hanya menjawabnya “Bukankah
cinta, tidak perlu diumbar-umbar dan tidak hanya diucapkan saja. Cinta
cukup dibuktikan dengan suatu komitmen dan memupuk rasa percaya satu
sama lain. bukan ?”.Aku sependapat dengan pernyataan itu. Hanya
saja, aku ingin menggarisbawahi apakah dalam suatu hubungan hanya butuh
“pembuktian dan saling percaya” tanpa mengikutsertakan “kepastian”.
Catat. Dalam suatu hubungan perlu adanya
kepastian dari masing-masing pasangan. Bagaimana jika salah satu
diantara kita, tidak sama-sama saling menguatkan satu sama lain.
Bagaimana jika salah satu diantara kita, menginginkan hubungannya
berakhir disini saja. Bagaimana jika cintamu tidak pernah terbalaskan
olehnya. Bagaimana jika hubunganmu tanpa kepastian ? terombang-ambing
diantara jurang perpisahaan. Hatimu patah, dengan mudahnya kamu
menyalahkan dia dan memberikan label kepada dia “Pemberi Harapan Palsu”.
Bagaimana ?
Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi
pada diriku. Memang, perihal membuktikan rasa sayang itu tanggung jawab
kaum adam. Ada satu statements yang menangguhkan pernyataan
itu. mungkin kamu sedang lupa, tidak apa-apa. Kasih. Perihal membuktikan
rasa sayang bukankah hanya laki-laki saja. Perempuan dan laki-laki
punya porsinya yang sama. kamu jangan seenaknya mengatakan “kan itu tugasnya cowo”. Lalu, bagaimana jika nanti pasanganmu membalikkan ucapanmu “dalam
suatu hubungan itu kita sama-sama saling berjuang. Berjuang dengan cara
mempertahankan hubungan dari orang ketiga ataupun lainnya”. Kamu
terdiam. Dan yang lebih mengenaskannya lagi, kamu ditinggalkan olehnya
begitu saja. Tanpa kamu mau saling belajar, bagaimana cara
memperjuangkan apa yang sedang kita jaga. Ini hubungan bukan sedang
melakukan ujian sekolah.
***
Acara Fashion Show telah selesai.
Tamu undangan satu per satu meninggalkan ruangan termasuk diriku.
Langkah kakiku beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tetapi ada
seseorang yang memanggil namaku dari belakang. “Revin……” panggil salah
seorang perempuan dari belakang.
Aku mencari sumber suara yang memanggilku.
Suara yang sudah tidak asing lagi ditelingku. “ini Revin kah ?” tanya
perempuan itu kembali sambil mengatur napasnya.
Aku hanya memberikan senyuman simpul.
“masih ingat sama aku engga ?” tanyanya
kembali dengan antusiasnya dan berharap aku masih mengingat lukanya.
Ralat. Lebih tepatnya mengingat namanya kembali.
Aku mengangguk “ masih ko, Ira Wulandari bukan ?” jawabku sambil tersenyum simpul
“aku pikir kamu sudah lupa denganku,”
“lupa sih engga, hanya saja.. kamu semakin cantik aja” pujiku
“ah.. kamu bisa aja, kamu juga…” balasnya
Sejurus kemudian, tidak ada obrolan lagi.
Pandangan kita beradu di sudut rindu yang menggebu. Walaupun aku harus
mengingat kembali luka yang dahulu Ira tancapkan tepat di relung hati.
“eh.. Btw, terima kasih yah, udah sempetin dateng ke acara Fashion Show” ucap Ira kembali dengan senyuman yang mengembang.
Aku membalasnya dengan senyuman simpul. “iyah sama-sama”
“kamu dateng sendirian aja ? emangnya engga bawa pasangan ?” tanya Ira dengan maksud yang sudah bisa kubaca.
“aku datang kesini sendirian aja.. kebetulan
aku masih betah sendiri” jawabku dengan memberikan alasan mengapa aku
tidak membawa pasangan kali ini.
Ira hanya bergumam panjang sambil diiringi
senyum sendiri. “Ira, kamu engga apa-apa kan ?” tanyaku melihat
tingkahnya yang tidak seperti biasanya.
Ira menggelengkan kepala “aku engga apa-apa ko, eh, kamu mau kemana ?”
“hmm, mau kemana yah ?” jawabku sambil berpura-pura bingung
“kenapa jadi bingung deh, kalau kamu engga
ada agenda lain dan engga keberatan juga, aku mau ajak kamu minum kopi
di teras café dekat sini” ajaknya dengan penuh harapan agar aku mau
menerima tawarannya sekedar minum kopi.
Aku menatap kedua bola matanya. Disana ada
kesungguhan yang tidak pernah terlihat saat aku dengannya menjalin
hubungan dulu. Ira membalas tatapan mataku. Ada perubahan yang terlihat
darinya saat ini, aku merasakan hal itu. “hmmm.., aku mau menemanimu
minum kopi” jawabku singkat.
Ira begitu bahagia saat aku menerima tawarannya. “terima kasih. Revin” tutupnya
***
Dua gelas kopi sudah terhidang diatas meja
kami. Bau aroma kopinya begitu mengganggu indera penciumanku. Ira
menyesap kopi yang ia pesan tadi hingga menyisahkan separuh. Sementara
aku, masih membiarkan kopiku mendingin. Jujur saja, aku lebih suka
dengan makanan ataupun minuman yang sudah dingin dan tidak terlalu
panas. Bukan tanpa alasan aku menyukai hal itu, apapun makanan dan
minuman kalau disantap masih terlalu panas tidak baik untuk kesehatan.
Sariawan salah satunya.
Walaupun pesanan sudah dipesan, tidak ada
obrolan yang menemani malam kita yang sudah lama tidak bertemu. “hey,
kenapa engga diminum kopinya ?” tanya Ira saat melihat kopi digelasku
masih penuh dan belum kusentuh sedikitpun. Sekaligus mencairkan suasana
yang terlihat semakin mendingin.
Aku tersenyum padanya “nanti saja, masih panas. engga bagus untuk kesehatan juga bukan ?” ucapku.
Ira menggelengkan kepala ”kamu masih saja seperti yang dulu. Revin
“bukannya masih sama saja yah,” piirku
Ira tersenyum simpul “tapi ada yang
membedakannya kali ini, kamu terlihat semakin ganteng dan dewasa. Revin”
jawab Ira sambil memegang tanganku.
Aku tertawa kecil, saat mendengar perkataan Ira barusan. “emang dulu aku engga ganteng dan dewasa apa ?” tanyaku kembali.
Ira tertawa “bukan gitu.. sudah lupakan saja obrolan ini” ucap Ira kembali sebelum menenggak habis sisa kopinya.
Aku hanya tersenyum.
Wajar saja, jika Ira mengajukan pertanyaan
seperti itu. Tidak ada yang salah dari pertanyaannya. Mungkin, dahulu
saat aku dengannya masih menjalin hubungan. Aku tidak pernah bisa
merawat diriku dengan baik. Bagaimana caraku menata rambut dengan rapih.
Ataupun bagaimana caraku menggunakan pakaian yang seharusnya enak
dipandang. Aku mengakuinya. Hingga ahirnya, hubungan kami yang tadinya
baik-baik saja hingga berujung perpisahaan hanya karena masalah itu. Dan
yang lebih mengenaskannya lagi, saat aku memohon untuk Ira tetap
bertahan. Ira menamparku dengan ucapan yang membuatku tersadar saat itu.
“Revin, aku tidak mau saat
kamu bermain ke rumahku nanti. Nanti orang tuaku akan menanyakan hal-hal
yang tidak diingankan tentangmu. Aku engga mau.. Revin. Aku engga mau
punya pacar yang tidak bisa merawat dirinya dengan baik. Jika kamu
mencintai seseorang, cobalah kamu lihat dirimu sendiri. Apakah dirimu
sudah kamu cintai dan rawat sepenuh hati”
Ada baiknya apa yang dikatakan Ira pada saat itu benar juga. Hanya saja, aku ingin mengklarifikasi semuanya. “Bukankah
kehidupan seseorang ditentukan oleh drinya sendiri ? bagaimana jika
kita yang menjalani kehidupan diatur oleh orang lain. bagaimana jika,
aturan yang dibuat oleh orang lain tidak membuat kita merasa nyaman
dengan hal itu. mungkin benar, jadilah diri kita sendiri tanpa harus
mengubah diri kita seperti orang lain adalah satu langkah yang tepat.
Bahkan, banyak pasangan diluaran sana yang mempunyai pasangannya tidak
seperti yang diinginkan olehnya. Semisal, saat mereka awal mula pacaran,
pacarnya bisa merawat dirinya dengan baik. Hingga waktu yang tidak bisa
ditentukan, pacarnya tidak bisa merawat dirinya dengan baik, rambut
yang sudah seperti perempuan. Jenggot yang sudah tidak pernah di cukur.
Bahkan hubungan mereka tetap baik-baik saja. ”
Untuk kesekian kalinya kamu lupa dengan
perkataan yang belum sempat aku klarifikasi dulu. Hingga akhirnya, kamu
patahkan cintaku, kamu hempaskan harapanku untuk selalu bisa bersamamu.
Aku tersingirkan oleh ambisimu untuk menuntutku menjadi seperti yang
kamu inginkan. Nampaknya, cintamu kepadaku pada waktu itu hanya
menginginkan kelebihan yang kita punya. Bukan belajar untuk saling
melengkapi setiap kekurangan yang ada pada diri masing-masing
pasangannya. Kamu keliru. Kasih.
“Revin, besok kamu ada acara engga ?” tanyamu kembali sekaligus mencairkan suasana yang terlihat kaku.
“memangnya kenapa ?”
“hmmm.. aku ingin mengajakmu ke salah satu tempat yang dulu pernah kita kunjungi. Apa kamu bisa ?” tanyanya sambil memoho“aku engga janji, aku bisa datang. Aku usahakan yah” jawabku
“aku tunggu kamu disana, jam 4 sore”
Aku tersenyum kecil. Bukan aku tidak mau
menemanimu kembali bercerita tentang kita yang sempat ingkar kepada
semesta. Hingga akhirnya, di dekatkan kembali olehnya dengan waktu yang
tidak tepat. Mungkin suatu hari nanti kamu akan paham, mengapa aku tidak
bisa menemanimu. Hari ini, esok dan seterusnya. Nanti akan aku
ceritakan..
***
Aku tahu, kamu akan menungguku walaupun pada
akhirnya, aku tidak bisa menepati janjiku. Kasih. Maaf, tapi ada yang
tidak aku bisa jelaskan saat ini. waktu kitalah yang tidak tepat untuk
bertemu kembali. Suatu hari nanti, kamu akan paham dengan sendirinya.
Aku tidak ingin kekalahan yang aku perbuat kembali lagi. Tidak. biarlah
kita seperti ini, sampai saatnya tiba kamu akan mengerti. Bagaimana
kerasnya dulu aku memperjuangkan dan mencintaimu sepenuh hati.
To : Ira Wulandari
“maafin aku engga bisa menemanimu
melihat senja di tempat yang membuat kita jatuh cinta berkali-kali.
Maafin aku. tapi ada hal yang tidak bisa aku jelaskan saat ini.
pada akhirnya kamu, akan paham kenapa aku tidak bisa hadir hari ini.
tapi, jika kamu tidak keberatan. Temuilah Bapak Yunus, di Jalan Achmad
Yani No. 17. mungkin beliau akan menjelaskan yang sebenanrnya. Temuilah
bulan November, tepat di tanggal kelahiranku. Tanggal 7 Agustus nanti.
Maafin aku.. Ira
Dariku: Revindra
07 Juli…
***
I don’t need your honesty
It’s already in your eyes
And I’m sure my eyes, they speak for me
No one knows me like you do
And since you’re the only one that matters
Tell me who do I run to?
***
Di Tokoh Buku…
“itu buku ke tiga yang aku tulis…” ucapku kepada perempuan yang serius membaca buku di salah satu tokoh buku kesukaannya.
Perempuan itu menghentikan membaca buku yang
sedang dibacanya. Raut wajahnya terlihat berbeda-beda saat melihatku.
“Revin…” jawabnya tidak percaya saat melihatku setengah terkejut.
Aku tersenyum. “bagaimana kamu tau, kalau buku yang aku baca itu.. buku yang kamu tulis..”
“cobalah kamu lihat saja cover bukunya, pasti ada nama penulisnya bukan ?”
Perempuan itu langsung membuka cover buku
itu. dalam cover buku itu bertuliskan nama penulisnya “Re”. perempuan
itu semakin tidak mengerti siapa yang sebenarnya menulis buku ini.
“penulisnya bernama Re, sedangkan nama kamu Revindra” ucap perempuan itu
dengan tertawa kecil
Aku menghempaskan napas panjang. “coba buka
dihalaman belakang. Lihatlah siapa nama lengkap penulis buku ini” ucapku
sambil tersenyum
Perempuan itu langsung mencari halaman
terakhir dari buku ini yang bertuliskan identitas/profil dari penulis
buku ini. perempuan itu tertewa kecil “sejak kapan kamu suka menulis
buku. Revindra” tanya perempuan itu kepadaku
“Sejak kamu mematahkan hatiku dulu..” Jawab batinku
“aku sudah lama menyukai sastra. Sejak masih dikampus dulu” jawabku sambil mengambil salah satu buku di lemari.
Perempuan itu mendekat kepadaku. “benarkah ?” tanyanya mencoba menyakinkanku apakah aku menyukai sastra sejak masih di kampus.
Aku meletakkan kembali buku yang baru kubaca
covernya. “lebih tepatnya, aku menyukai dunia kepenulisan sejak kamu
tidak mempercayai aku lagi.” Jawabku dengan sejujurnya.
“apa maksudnya ?” tanya perempuan itu tidak mengerti apa yang aku maksud.
Aku kembali tersenyum kecil. “maksud aku,
coba kamu baca dulu hingga selesai buku itu. mungkin kamu akan paham
kenapa aku suka menulis”
“hmm.. aku semakin tidak mengerti apa maksudmu. Revindra” ucap perempuan itu langsung membawa buku itu ke kasir.
Aku mengekorinya dari belakang sambil
membawa buku juga – yang tidak aku baca lagi. Hari ini pengunjung tokoh
buku ini terlihat ramai sekali, banyak sekali pengunjung yang membeli
buku ataupun sekedar membaca buku. Di depan meja kasir sudah ada satu
barisan pengunjung yang ingin membayar. Aku dengannya berada dibarisan
akhir.
Nurin Amanda. Aku dengannya pernah berada di
kampus yang sama ataupun berada dalam satu komunitas – Komunitas
Pencinta Anak di Kampus ini. Hingga akhirnya, aku dan Nurin bersepakat
untuk menjalin hubungan. Di musim pertama, hubunganku dengannya masih
baik-baik saja sampai musim ke empat pun masih sama. Hingga di musim ke
lima yang “kata orang” adalah musim yang rawan untuk mempertahankan
suatu hubungan. Hingga akhirnya, masalah pun silih berganti, banyak
persoalan yang harus diselesaikan dengan kepala dingin dan duduk berdua
***
“Revin, akhir-akhir ini kamu kemana saja
? tidak pernah ada kabar. Chattan aku pun engga pernah kamu balas ?”
tanya Nurin dengan sangat khawatir.
Aku masih terlihat tenang. “maafin aku,
jika akhir-akhir ini aku sibuk dan engga pernah kasih kabar hingga
membuatmu khawatir. Banyak sekali deadline organisasi yang menuntutku
untuk diselesaikan di tambah lagi aku harus melatih karate di sekolahku
dulu. Maafin aku” ucapku memberikan penjelasan
Raut wajah Nurin berubah seketika “apa
karena banyak deadline organisasi kamu engga bisa membagi waktumu.
Revin.” Tambah Nurin dengan nada meninggi.
Aku menghempaskan napas ke udara “hmm..
aku udah berusaha. Tapi akhir-akhir ini aku jarang sekali buka
handphone. Mungkin kamu bisa melihat kapan terakhir kali aku online di
Whatshap” kataku kembali.
“tapi, apa susahnya sih kasih kabar
sebentar. Telfon ke, chatt ke. Apa susahnya sih. Revin” ucap Nurin tidak
ingin kalah beragumentasi.
Aku terdiam. Aku menunduk. “maafin aku,
aku engga bisa lanjutin lagi hubungan kita..” ucap Nurin dengan satu
keputusan yang membuat relung hatiku patah kembali.
Aku menatap wajahnya, sayangnya Nurin memalingkan wajahnya. “maksud kamu, kita putus ?” tanyaku mencoba meyakinkan kembali.
Nurin menganggukkan kepalanya, “aku engga bisa lanjutin hubungin kita lagi, revin. Maafin aku..” ucap permintaan maafnya.
Aku menghempaskan napas ke udara.”beri aku kesempatan sekali lagi. Nurin” ucap permohonanku untuk ke sekian kali.
“Revin.. aku udah sabar menunggumu.
Jalan kita udah berbeda. Faktanya,kamu masih sibuk dengan duniamu. Masih
mencintai organisasimu. Sementara di hidup kamu tidak ada nama aku
dalam list prioritasmu. Dan solusinya, lebih baik kita hidup
masing-masing. Kita coba koreksi lagi apa yang salah dalam diri kita.
Mungkin, untuk sementara waktu kita sama-sama terluka. Terima kasih,
sudah menabur kebahagian dan kebersamaan walaupun singkat. Kelak, jika
aku memang jodohmu. Semesta tahu bagaimana caranya mempertemukan kita
kembali. Dan jika esok, kita tidak dipertemukan kembali. Mungkin kamu
bukanlah jodohku sederhana itu pula lah sang Narator dalam membuat
ending kisah setiap tokohnya”
***
Setelah membayar buku yang baru saja aku dan
Nurin beli di Tokoh Buku. Tanpa berbicara lagi, Nurin langsung bergegas
pulang ke rumah. Sementara aku, aku ingin mengajaknya mengobrol bersama
menikmati sisa-sisa waktu di penghujung malam. Langkah kaki Nurin
begitu cepat, aku tidak ingin tertinggal olehnya. Kupercepat langkah
kakiku juga.
“Revin.. ngapain kamu ikutin aku ?” tanya Nurin begitu heran saat melihatku masih mengikutinya.
“emangnya engga boleh apa ?” jawabku dengan senyuman cirri khas.
“bukan gitu, aku lagi buru-buru soalnya. Ada janji sama seseorang..”
“dan seseorangnya aku bukan ?” jawabku sambil tertawa.
Nurin menghentikan langkah kakinya. “Revin, aku sedang tidak ingin bercanda. Aku ada janji sama tunanganku untuk Fitting baju pernikahanku nanti” ucap Nurin membuatku begitu terkejut.
Aku terdiam begitu lama, memahami kalimat
yang membuat dadaku terasa sesak. “maafin aku harus pergi dulu. Bye”
ucap perpisahaan Nurin yang meninggalkanku sendirian dengan tatapan yang
tidak percaya.
Aku masih terdiam menatapi punggunya yang
akan menghilang begitu saja. Aku berusaha ikhlas apa yang seharusnya aku
relakan untuk pergi selamanya. Bukannya setiap hati yang patah akan
selalu saja ada bibit bahagia yang bersedia untuk diambil bukan?
Tiba-tiba..
Ada suara jeritan minta tolong dari
persimpangan jalan yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Dengan rasa
penasaran yang menggebu, aku mencoba mencair sumber suara yang meminta
tolong tersebut. Dan betapa terkejutnya saat melihat Nurin yang ingin di
perkosa oleh sekelompok pemuda.
“Woy… mau ngapain perempuan itu ?” ucapku dengan suara keras.
“bukan urusan lo” jawab salah satu pemuda, yang terlihat sempoyangan efek dari minuman alkohol yang di pegangnya.
“tentu ada urusan sama gua, dia calon isteri gua. Lo jauhin engga dia atau engga hidup lo engga bakal lama lagi” kataku kembali.
“wah, nantangin dia sama kita-kita”
Aku langsung menyiapkan kuda-kuda yang
pernah aku pelajari saat mengikuti karate ataupun mengajari karate
kepada anak didikku. Tanpa menunggu lama lagi, pukulan demi pukulan
mendarat bebas di tubuh pemuda itu. Hingga akhirnya, para pemuda itu
kalah telak dengan wajah yang lembab akibat pukulan yang diterima
dariku.
Nurin berlari mendekatiku. Hingga akhirnya,
Nurin memelukku begitu kuat “Terima kasih sudah mau menyelamatkanku.”
Ucapnya dengan suara isakan tangis.
Sebagai laki-laki yang budiman, tidak baik
jika kita memeluk seseorang yang sebentar lagi akan menjadi kepunyaan
orang lain.”kamu engga perlu mengucapkan terima kasih kepadaku.
Seharusnya aku yang bilang maaf kepadamu” ucapku dengan nada menyesal
saat mengatakan yang tidak sepatutnya dikeluarkan.
“Maaf ? untuk apa ?’ tanya Nurin begitu bingung.
“maafkan aku tadi mengatakan kamu adalah calon isteriku” ucapku tertunduk dengan perasaan bersalah.
Nurin tersenyum mendengar pengakuanku.
“hmm.. aku engga keberatan jika kamu mengatakan hal itu. andai saja,
kamu datang lebih dulu darinya. Mungkin yang kamu katakan tadi akan
terwujud dalam waktu dekat. Sayangnya, ada rencana dari Sang Narator
dalam menuliskan kisahku dan bagaimana ending dari perjalanan hidupku.
Maafkan aku.” ucap Nurin yang begitu bijaksana.
“kamu berhak bahagia. Nurin” ucapku sekaligus doaku untuknya.
“kamu pun begitu. Revin”
“maaf, aku harus pergi..”
Nurin masih menatap punggungku yang pergi
meninggalkannya setelah kejadian yang membuat kehormatannya hampir
hilang begitu saja. “Revin…” teriak Nurin
Langkah kakiku berhenti saat mendengar namaku. “iyah ?”
“Kapan aku bisa menemuimu lagi ?” tanya Nurin dengan nada meninggi.
Aku menghempaskan napas ke udara “Bulan
depan, tepat tanggal 7 nanti. di kosanku alamatnya Jalan Achmad Yani
No.17. lebih tepatnya temui bapak Yunus jika tidak tahu” ucapku
mengakhiri pertemuan ini.
Nurin terdiam setelah mendengar alamat
kosanku. Bukan tidak ingin bertemu lagi denganku. Melainkan ada hal yang
membuatnya tidak bisa dijelaskan. Bagaimana mungkin, Nurin akan
menemuiku bulan depan, disaat Nurin dan Calon Suaminya sedang merayakan
hari bahagia. Dimana hubungan antara Nurin dan laki-laki yang saat ini
terikat dalam suatu komitmen akan di sahkan dalam waktu dekat. Dan Nurin
harus memilih apakah ia akan menumui cinta pertamanya yang sudah
menyelamatkan nyawanya tadi atau lebih memilih merayakan hari
bahagianya. Hidup selalu punya pilihan dan kejutan yang tidak terduga.
Bukan ?
07 Juli…
***
If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
***
07 Agustus…
Ira tengah merapihkan dirinya agar terlihat menarik dan cantik. Polesan Make Up menutupi wajahnya hingga berbeda tidak seperti wajah aslinya. Berbeda dari biasanya, Ira sengaja memilih pakaian dengan model White Sleeveless Classic Shirt yang
lagi trend di kalangan anak muda zaman sekarang. Hampir 30 menit
lamanya, Ira membutuhkan untu merapihkan dirinya. Tanpa menunggu lama
lagi, Ira langsung menunju alamat yang satu bulan diberikan oleh
Revindra saat bertemu. Ada raut wajah bahagia yang sempat menghilang
begitu saja.
“Semoga aku tidak telat untuk menemui revin
nanti” Batin Ira sambil mengendari mobil miliknya. Sesekali ia
merapihkan diri di balik kaca dalam mobilnya, sekedar memastikan tidak
ada yang kurang.
Mobil yang Ira kemudikan melaju dengan babas
membelah jalanan di kota ini. hanya membutuhkan 45 menit saja, Ira
mampu menemukan alamat yang diberikan Revin tempo hari. Mobil Ira sudah
terparkir di halaman rumah tua yang terbuat dari kayu dan tanpa di beri
warna dinding rumahnya. Ira keluar dari dalam mobil, untuk kesekian
kalinya Ira merapihkan dirinya di balik kaca mobilnya.
“Permisi…” ucap Ira sambil mengetu rumah tua itu.
Tidak ada balasan dari dalam rumah. Ira
mencobanya sekali lagi. “Permisi…” ucap Ira kembali dengan suara yang
keras. Dan ternyata ada respon dari dalam rumah
“iyah tunggu sebentar” jawab suara laki-laki paruh baya dari dalam rumah.
Laki-laki yang keluar dari dalam rumah tua
itu kira-kira berusia 60 tahun dengan rambut yang sudah memutih.
Laki-laki itu menyambut kedatangan Ira dengan ramah.”Maaf Pak, apa benar
ini rumahnya Bapak Yunus ?” tanya Ira untuk meyakinkan kalau ia tidak
salah datang.
“Yah betul, saya Bapak Yunus. Ada keperluan
apa ya menemui bapak ?’ tanya Bapak Yunus dengan bingung melihat
perempuan cantik datang kerumahnya.
“Begini pak, saya teman dekatnya Revindra
sewaktu SMA dulu.. dan bulan kemarin, Revindra memberikan alamat
rumahnya kepada saya. Kalau boleh tau apakah ada Revindranya di rumah ?”
tanya Ira pada inti pembicaraan.
Bapak Yunus terdiam beberapa sesaat. Seperti
ada yang ingin ia katakan secepatnya mengenai hal ini. “Oh.. nak Revin,
lebih enak kita ngobrolnya sambil duduk aja yah. Maklum bapak sudah tua
hehe” ucapnya dengan diselingi tawa
Ira ikut tertawa renyah. Bapak yunus diam
begitu lama, dibagian mana yang akan ia ceritakan terlebih dahulu
mengenai keberadaan Revindra. Sementara Ira masih menunggu jawaban dari
Bapak Yunus. Dan tiba-tiba saja…
“Assalamualaikum…” ucap salam perempuan yang datang dengan menggunakan gaun pengantin lengkap.
“Wa’alaikumsallam…” jawab Ira dan Bapak Yunus bareng.
Perempuan muda itu, langsung mencium telapak
tangan Bapak Yunus dan Perempuan itu langsung berjabat tangan dengan
Ira. “Permisi pak sebelumnya, perkenalkan nama saya Nurin Amanda. Saya
teman dekatnya Revindra sewaktu kuliah dulu. Maksud dan kedatangan saya
ke sini ialah saya ingin bersilahturahmi dengan Revindra. Kebetulan
bulan lalu, Revindra memberikan alamat kosannya dan menyuruh saya untuk
berkunjung tepat bulan ini” ucap Nurin menjelaskan dengan nada tenang.
“mengapa bisa samaan ?” tanya Bapak Yunus yang begitu bingung dengan kedatangan dua perempuan cantik sekaligus.
Ira dan Nurin hanya terdiam. “hmm.. kalau
begitu, mari ikuti bapak melihat sesuatu” ajak Bapak Yunus dengan jalan
yang terlihat payah. Sementara Ira dan Nurin mengekorinya dari belakang.
Tibalah disalah satu rumah yang sudah rata
dengan tanah dan tersisa bekas-bekas kebakaran dengan diberikan garis
polisi. Hingga membuat Ira dan Nurin berpikir apa yang sebenarnya
terjadi, dan mengapa Bapak Yunus mengajaknya ke tempat ini.
“maksud bapak mengajak saya dan dia ke sini apa yah ?” tanya Ira tidak begitu paham apa maksud dari Bapak Yunus.
“jadi gini ceritanya, sebulan lalu terjadi
peristiwa kebakaran hebat di rumah bapak dulu. Saat peristiwa kebakaran
itu Bapak berada di dalam rumah. Bapak tidak bisa menyelamatkan diri
dari banyaknya api yang membakar rumah bapak. Hingga akhirnya, ada
seorang pemuda yang nekat menolong bapak untuk keluar dari kobaran api.
Bapak kenal dekat sama pemuda itu, pemuda itu sering mengunjungi
pengajian rutin ataupun ikut kegiatan kemasyarakatan disini. Pemuda itu
bernama Revindra. Saat bapak dan nak Revin ingin keluar dari dalam
rumah. Sayang, salah satu balok menimpa kepala nak Revin hingga terjatuh
dan tidak sadarkan diri. Bapak diselamatkan oleh warga yang lain.
Sementara nak Revin masih berada di dalam hingga tubuhnya terpanggang
disana. Bapak merasa bersalah atas kejadian itu…” ucap Bapak Yunus
sambil menjelaskan kronologis kebakaran hari itu.
“bapak yunus engga lagi bercanda kan ?” tanya Nurin setelah mendengar penjelasn Bapak Yunus yang membuatnya tidak percaya.
“iyah, bapak lagi engga bercanda kan ? satu
bulan yang lalu saya bertemu dengan Revin. Bahkan Revin menemani saya
untuk minum kopi hari itu’ timpal Ira yang semakin tidak percaya atas
penjelasan Bapak Yunus.
Bapak Yunus dengan tenangnya menjawab “mari
ikut bapak. Mungkin ini akan menjawab semua keraguan kalian pada bapak”
ajak Bapak Yunus ke salah satu tempat yang tidak jauh dari lokasi
kebakaran.
Bapak Yunus mengajak Ira dan Nurin pergi
ke Tempat Pemakaman Umum. Hingga akhirnya, Bapak Yunus menunjukkan salah
satu kuburan tempat dimana Revindra beristirahat dengan tenang. Ira dan
Nurin semakin tidak percaya, tubuh ke dua perempuan itu tidak bisa
menompang lagi untuk berdiri dengan gagah. Dan yang lebih mengejutkannya
lagi dari nisannya bertuliskan “Wafat : 07 Juli…” dimana saat Ira dan
Nurin bertemu dengan Revindra untuk yang terakhir kalinya. Tepat di hari
ini adalah hari ke tiga puluh dimana Revindra pergi untuk
selama-lamanya. Hingga akhirnya, Ira dan Nurin pingsan tepat di samping
peristirahatan terakhir Revindra.
-TAMAT-
EPILOG
Penyesalan memang bukanlah hal yang baik,
terlebih jika penyesalan itu hadir karena kita melepas orang yang sangat
berarti bagi kita. Kita yang dulu tak menganggapnya ada, Kita yang
selalu menepis rindunya, dan kita yang merasa bahwa dia bukanlah orang
yang terbaik bagi diri kita.
***
Ketika semua orang pergi, perlahan kita
mengerti bahwa sesungguhnya cinta itu ada. Cinta yang pernah kita
tinggalkan. Cinta yang pernah kita lepaskan begitu saja. Dia yang
sungguh-sungguh menjagamu tanpa pernah memintamu imbalan apapun. dia
yang selalu berusaha ada untukmu tanpa pernah meminta ucapan terima
kasih darimu. Atau dia yang selalu mencoba mengusap air matamu meski kau
tak pernah memintanya.
***
Hidup selalu memberi kita pilihan melewati
jalan yang berliku. Jika di suatu waktu nanti kau kembali bertemu dengan
orang yang sangat mencintaimu, jangan pernah malu mengucapkan maaf dan
katakanlah padanya bahwa dialah sesungguhnya orang yang sanggup
menjagamu dari apapun itu. sayangnya, orang yang kamu cintai sepunuh
hati tidak mampu melihat senyum khas darimu lagi. Tidak akan pernah bisa
membalas lagi cintamu. Dia sudah pergi jauh melihat semesta yang
sesungguhnya tanpa mengajak kamu disana.
‘Cause what if I never love again?’
Adele – All I Ask