Minggu, 01 Januari 2017

I Do

(1/200)

Bulan, tidak terasa kita sudah melewati masa-masa sulit untuk bertahan atau melupakan selama 200 hari. Sejak kamu putuskan untuk tidak lagi berada di tepat belakangku. Sejak itu pula, kita tidak lagi (satu). Melainkan, kita (dua). Dua orang yang berbeda. Dua orang yang berbeda tujuan saat ini.

200 days ago..

Masih ingatkah dirimu dengan [Kita] dulu ?

Bersembunyi lucu selama empat tahun lamanya. Dibalik ke egoan kita masing-masing.
Ah, ku pikir tidak ada salahnya mengingat moment itu. Tapi, setelah masa-masa sulit itu kita tempuh. Ego sudah bisa berdamai. Dengan lucunya, Semesta menghadirkan rasa kembali. Rasa yang tersandera selama empat tahun lamanya.

Hingga akhirnya,Kita putuskan untuk memperbaiki semuanya. Kupikir ada benarnya juga, "setiap orang punya kesempatan (kedua) untuk memperbaiki semuanya". Aku ikuti teori itu. Kita perbaiki sayap kita yang dulu patah. Kita ukir kisah kita di lembaran baru dengan tinta baru.

Hingga akhirnya, kita mampu terbang jauh bersama. Bahkan, [kita] tidak ingin saling melepaskan lagi.

200 days ago..

Masih ingatkah dirimu dengan impian kita dulu ?

Saat itu kita sama-sama disibukkan dengan impian kita masing-masing. Kamu ingin masuk ke Sekolah Tinggi Akutansi Negara. Sementara, aku ingin melanjutkan pendidikan aku ke salah satu Universitas Negeri di kota ini. Namun, itu bukan menjadi penghalang untuk hubungan kita.

Kita, sama-sama berikan semangat bersama. Bahkan, aku selalu hadir saat kamu berlatih berlari persiapan untuk tes fisik nanti. Kau tau, aku relakan waktu belajarku untuk bersamamu. Hingga waktu pun tiba, aku mengantarkanmu untuk tes masuk STAN. Ah, itu bagian yang membuatku merasa deg-deg kan melihatmu mengerjakan soal-soal.

Sampai waktu pun tiba, kamu terlihat sedih tidak lolos pada tahap ini. Aku berikan kamu semangat kembali. Seperti itukah kita dulu.

200 days ago..

Masih ingatkah dirimu dengan satu hari spesial. Dihari itu?

Aku dan temanmu sudah menyiapkan sebuah moment spesial yang membuat dirimu tersenyum. Bahkan, aku sudah menyiapkan hal itu jauh-jauh hari. Aku selalu menanyakan tentang kesukaanmu kepada temanmu. Mencari moment yang pas tepat di hari spesialmu.

Namun apa yang aku dapatkan ?

Kamu patahkan kembali semangatku dalam hal mencintaimu. Egomu kembali terlihat dalam hal ini.

Hingga akhirnya, kamu memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Padahal, aku sudah menyiapkan sebuah moment ini.

Sebut saja "Moment perpisahaan"
Aku putuskan untuk tidak lagi mengharapakanmu kembali. Setelah luka itu kembali menganga.

200 days ago..

Masih ingatkah dirimu dengan perkataanmu dahulu ?.

"Berdamailah dengan masa lalu. Berdamailah dengan dirimu sendiri" Bahkan, saat kita sudah resmi menjadi (dua) orang yang berbeda pun. Aku sudah berhasil berdamai dengan diriku. Seperti yang kamu katakan dulu.

Telah kupulihkan kembali luka yang kamu berikan. Telah kututup rapat-rapat lubang-lubang yang kamu buat. Hingga akhirnya lupa memastikan satu hal.

"Jika kamu mencintainya, kamu juga harus memastikan pada dirinya. Apakah dia bersedia diperjuangkan"

Setelah luka itu kamu tancapkan dengan mudahnya. Aku ingin mengatakan satu hal ke kamu.

"Sepatutnya kamu syukuri, ada seseorang yang setia menjaga cintanya untukmu, tanpa berkeinginan berpisah lagi - Moammar Emka"

Hingga akhirnya, aku mampu melupakan semua tentangmu. Banyak hal yang tidak pernah kita duga dalam hidupmu ini. Tentang kehancuran dan kebahagian. Bahkan, kita tidak pernah tau dengan sang Narator yang menulis skenario ini.

Kau tau,

Aku berhasil diterima di salah satu Univsersitas Negeri yang aku idamkan.

Terima kasih, Luka.

200 days ago..

"Aku bantu kamu berkemas.
Cepatlah pergi dan tak usah menengok ke belakang lagi.
Aku melepaskanmu dengan alhamdulilah.- Moammar Emka"

Aku telah berada diujung musim yang terluka. Hampir tidak ada keindahan disana selain sisa-sisa cinta yang berdiam di ruang kenangan.

Begitulah akhir cerita kita; aku dan kamu.Bulan

Semoga saja, Semesta tidak membuat pertemuan tak terduga nantinya. Semoga saja.

"Jika bersama adalah pilihan, mengapa kita saling melepaskan genggaman ? Kecuali, kita memang tak ada pilihan - Moammar Emka"

Sialnya, kamu kembali lagi bermain-main di pikiran aku.

Bolehkah aku merindukanmu kembali ? Mengingat moment lucu yang pernah kita lalui sejenak ?.

Bolehkah ?

Ada yang ingin aku tanyakan satu hal ke kamu ?

Bagaimana senja di sana ? Masihkah terlihat keindahan di sana ? Semoga saja masih terlihat sama.

Disini, diantara senja yang menjingga dan keinginan untuk melupakan. Tiba-tiba, kenangan manis bersamamu hadir mengusikku untuk kesekian kalinya.

Disini, senja disini tidak lagi sama dengan senjamu disana. Bahkan, senja disini seperti [ber]senja[ta] melawan kesendirian.

Ah, kenangan. Ada ada saja hadir dengan moment tak terduga.

Tepat, diakhir musim ini. Aku ingin mengatakan satu hal ke kamu. Sebelum aku bukukan dan rapihkan kembali kenangan bersamamu. Kemudian, aku paketkan berpitakan manis dan berdasi untuk dikenang.

Bolehkah,Bulan. ?

"Selamat Tidur Mantan" ucapku mengakhiri tahun ini dengan manis.

Dariku. Bumi