Kamis, 30 Agustus 2018

Journey of 'Kampung Dewantara'

Sejarah saya jadi 'Guru Bimbel' ?

Sudah 7 tahun lamanya, saya menjadi guru bimbel. Berawal dari 'Kepercayaan' dari orang tua anak murid yang kebetulan tetangga samping rumah saya. Orang tua anak murid meminta saya buat ngajarin si 'A' dimana si 'A' udah 2 kali engga naik kelas dan masih duduk di bangku kelas 2 SD. Ketika itu saya masih duduk di bangku kelas 8 SMP, engga punya bakat ngajar.

Dengan modal 'Kepercayaan' yang sudah diberikan kepada saya, saya mengajarkan si 'A' sampai sekarang. Dari situlah datang si 'B', si 'C', si 'D' dll. Ternyata, menjadi guru itu engga mudah. Butuh 'Keberanian dan Kesabaran' yang engga ada habisnya hadapin perilaku anak yang bermacam-macam.

Suka & Duka jadi Guru Bimbel ?

Suka menjadi guru bimbel itu, ketika ada anak murid yang kita ajarkan melanjutkan sekolah negeri. Contohnya, si 'A' yang saya katakan diatas. Awalnya saya tidak yakin si 'A' diterima di sekolah negeri. Sampai pengumuman Ujian Nasional SD pun diumukan, ternyata si 'A' dapat NEM tinggi 22,50. Pas denger kabar itu dari orang tua si 'A' ada perasaan engga percaya sama bangga. Bahkan orang tuanya si 'A' engga ada henti-hentinya nangis bahagia ke saya. Bukan hanya si 'A' saja yang diterima di sekolah negeri.

Ada juga si 'D' yang waktu itu minta saya buat ngajarin. Padahal dia baru bilang ke saya 3 minggu sebelum Ujian Nasional SMP. Shock sih ada, dicampur dengan rasa pesimis. Minggu pertama, saya ajarin si 'D' masih belum yakin bakalan diterima di SMA/SMK Negeri. Minggu kedua, saya ajarin perasaan cemas itu mulai hilang. Bahkan 2 minggu sebelum Ujian Nasional jadwal Les saya padatkan. Mulai dari hari Senin-Minggu, engga jarang juga saya ngajarin si 'D' sampai tengah malam dengan jadwal kuliah dan organisasi saya yang begitu luar biasa padatnya.

Sampai orang tua si 'D' nungguin saya pulang kerumah. cuman mau bilang "Terima Kasih" ke saya. Mengejutkannya lagi, si 'D' diterima di SMK Negeri 53 Jakarta. Benar-benar diluar ekspetasi saya dengan keterbatasan waktu ngajar cuman 3 minggu.

Selain itu juga, bahagia yang lain ketika saya nerima uang gajian pertama haha. Jujur saja, pertama kali saya ngajar itu engga ada tarif berapapun. Waktu itu, orang tua si 'A' ngasih uang ke saya 100 ribu. Mungkin kecil bagi orang dewasa, bagi seumuran saya waktu Kelas 8 SMP itu udah gede banget. Dari situlah, saya ngerasaiin susahnya ngajarin dan nyari duit.

Bukan cuman itu aja, pas Hari Raya kemarin. Saya sudah menyiapkan uang buat beli baju. Dan ternyata orang tua si 'B' bilang ke saya "Engga usah beli baju lebaran, udah dibeliin. Kalau mau tinggal bilang aja ya". Dan benar saja, udah dikirimin ke rumah, padahal saya engga pernah meminta apapun. Bahkan, pas hari raya pun orang tua si 'B' ngasih amplop ke saya dan bilang "Buat pak guru beli buku.." saya cuman bisa terdiam engga tau mau berkata apa lagi. Ditambah lagi orang tua si 'E' yang notabene nya non-muslim memberikan saya THR diluar uang Les per bulannya.

Saya mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT kepada saya.

Dukanya pun ada, ngajarin anak orang pun betul-betul membuat pondasi kesabaran yang berlapis-lapis. Kadang si anak paham dengan apa yang kita ajarin. Besoknya lupa ataupun susah diajarin.

Bahkan, ada anak yang selalu datang dengan PR setiap hari. Walaupun saya tau, itu kewajiban saya membantu dia buat mengerjakan. Uniknya lagi, setelah saya bahas bersama itu PR. Besoknya saya nanya berapa nilainya, si 'D' bilang engga pernah dikoreksi sama gurunya. Saya cuman bisa ngelus-ngelus dada.

Kenapa ? Bayangkan saja, PR yang begitu  banyak dikasih hari ini dan dikumpulkan besoknya. Engga dibahas dan dinilai. Bahkan, saya sering membawa PR si 'D' ke kampus buat saya kerjakan. Tidak jarang juga, teman-teman saya. Saya minta tolong untuk membantu saya menyelesaikan PR. Pernah juga, kebetulan waktu itu ada Ulangan Tengah Semester mata kuliah Hukum Perdata. Saya di telfon cuman minta jawab PR nya yang belom selesai. Hmm -,-

Duka yang lain pun ada sering malahan. Saya pernah engga mendapatkan gaji selama 3-4 bulan lamanya. Pernah juga, pas saya ngajarin si anak dan udah pengambilan rapor saya engga menerima gaji dari si anak. Sementara dia sudah pindah sekolah. Betapa malangnya saya huhu..

Saya selalu berdoa, gaji yang tidak pernah saya dapatkan itu menjadi tabungan saya di akhirat nanti.

Kenapa nama bimbelnya 'Kampung Dewantara'?

Awalnya saya tidak menamai bimbel saya selama 4 tahun. 3 tahun terakhir, saya mendapatkan ide untuk memberikan nama bimbel saya menjadi 'Kampung Dewantara'.

Nama 'Kampung' diambil dari alamat rumah saya. Kebetulan alamat rumah saya itu, di Jalan H Rawin, Kampung Belakang Rt006/03 No.16 Kel. Kamal Kec. Kalideres Jakarta Barat (11810). Walaupun Kampung yang berada di belakang tetapi pemikirannya engga harus terbelakang.

Sementara nama 'Dewantara' sendiri berasal dari nama Pahlawan Nasional sekaligus Bapak Pendidikan Nasional yaitu, Ki Hajar Dewantara. Saya betul-betul terinspirasi dari beliau dengan cita-citanya dan semboyannya. 'Tut Wuri Handayani' yang memiliki arti Dibelakang memeberikan dorongan.

Dengan alamat rumah saya yang berada di Kampung Belakang bisa memberikan dorongan bagi dunia pendidikan. Begitulah lahirnya nama 'Kampung Dewantara'.

Intinya: jangan pernah takut buat mengajar.

Apakah kamu tahu ?

Mengajar juga itu sama halnya dengan kita diet. Engga percaya ? Coba lakukan saja, dengan murid-murid yang beraneka ragam sikap dan perilakunya. Saya adalah contohnya, berat badan saya engga pernah nembus angka 60 Kg. Hehe


Salam Perjuangan.

Prayoga Dwi Wibowo

Kamis, 09 Agustus 2018

Bhineka Tunggal Ika

Akhir-akhir ini #2019GantiPresiden sering banget muncul di berbagai media sosial. Tahukah kita dari #2019GantiPresiden itu melanggar aturan ?. Saya ingin menjawab aturan apa saja yang dilanggar. Sebelumnya, tulisan ini bukan untuk membela siapapun ataupun memojokkan siapapun. Tulisan ini hanya ingin kita (warga negara) paham mengenai hukum.

#2019GantiPresiden ?

Aturan yang pertama yaitu, melanggar Undang-Undang No.39 tahun 1999 pasal 43 ayat 1 yang berbunyi : "Setiap warga negara berhak memilih dan dipilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung,umum,bebas,rahasia,jujur dan adil sesuai dengan peraturan perundang-undangan".

Maknanya sudah jelas bukan, siapapun bisa mengajukan diri sebagai pemimpin. Dalam Konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 J ayat 1 dijelaskan: "Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara".

#2019GantiPresiden  ?

Aturan yang kedua yaitu, dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 7 menjelaskan: "Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan".

Maksudnya, Presiden yang sekarang bisa mengajukan diri dipilih kembali dalam jabatan yang sama. Contohnya : SBY dulu menjabat dari tahun 2004-2009 kemudian SBY mencalonkan diri dan menang tahun 2009-2014. Nah setelah itu SBY engga boleh mencalonkan diri kembali.

Intinya, engga usahlah ada #2019GantiPresiden kita paham ko, pemilu dilakukan selama 5 tahun sekali. Kenapa #2019GantiPresiden muncul tahun ini ? Kenapa engga tahun 2009-2014 pas SBY mencalonkan diri kembali ?. Memang itu bagian dari menyuarakan pendapat. Hanya saja, kita harus menghormati Hak orang lain. Dan yang paling terpenting adalah menjaga 4 pilar kebangsaan jauh lebih penting.

Solusinya sederhana ko, engga usah pakai #2019GantiPresiden juga. Wong, dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 1 ayat 2 dijelaskan: "Kedaulatan berada ditangan rakyat, dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar". Jelas rakayat lah yang berdaulat penuh, ikutin mekanisme Pemilihan Umum dalam memilih pemimpin. Kalau misalnya, kalian engga serek sama calon 'A' pilih calon 'B' di Tempat Pemungutan Suara (TPS) nanti. Bukan berarti tidak memberikan suara (Golput). Jangan sampe golput aja lah. Patuhi aturannya, berbijaksana juga lah menyikapinya.