GADIS DI MUSIM RINDU
OLEH : PRAYOGA DWI WIBOWO
Hai.. ombak : -)
boleh aku bercerita ?
Tentang gadis
berkacamata yang selalu datangg dimusim
rindu ?
Entah, kenapa
gadis itu selalu hadir tanpa kuduga.
Tanpa ku ketahui
apa tujuannya.
Tanpa ku kenal
namanya lebih dahulu.
Walaupun begitu,
aku selalu memerhatikannya,
Disetiap lekuk
tubuhnya,
Disetiap dia
menyunggingkan senyumanya untukku,
Disetiap dia
selalu menyapaku terlebih dahulu,
Aku mengenal
kehadirannya,
Yang aku tahu
tentangnya, dia selalu memakai kacamata.
Sama sepertimu..
Upss. Ralat. Bukan
sepertimu
Melainan seperti
sesorang yang (dulu) singgah dihati.
Musim pertama..
Langit terlihat
teduh,
Mega terlihat
lelah menyinari.
Aku duduk ditepi
danau kala itu, membawa buku diaryku,
Mungkin itu
kebiasaanku,
Bukan aku
terlihat sibuk ? bukan.
Karena aku
mengidap amnesia. Membosankan bukan ?
“hai” gadis itu
menyapaku terlebih dahulu. Sedetik kemudian duduk disampingku tanpa mengenalkan
namanya.
“kau sedang apa
?”
“menunggu senja
terlelap ? atau mungkin tengah menunggu seseorang disini ?”
Aku tak menoleh
sedikitpun, aku biarkan pertanyaan menggantung dibenakku
Hamper 1 jam
kami berdiam diri. Tanpa ada obrolan,
Tanpa ada
cemilan yang menemani.
Kami duduk
bersama..
Namun pikiran
kami berbeda.
Malam telah
berganti~
Bintang terlihat
Nampak dilangit. Telah siap menemani
“sudah malam,
boleh aku hantarkan kamu pulang?” tanyaku
Gadis itu hanya
tersenyum
Manis..
Yah., senyum itu
sangat manis untuk dinikmati
Aku menghantarkannya
pulang dengan sepedaku
Musim kedua..
Langit terlihat
menangis.
Entah kenapa
langit menangis ?
Mungkinkah mega
tak menemaninya ? atau mungkin bintang dan bulan tengah bertengkar ?
Andai aku bisa
mengetahuinya ..
Aku tengah
berteduh dishalter dekat sekolah
Kubiarkan sepedaku
menikmati hujan sore itu.
“hai” gadis itu
menyapaku memperlihatkan senyumannya yang mengembang diwajahnya.
Aku tak langsung
menjawab
Aku tengah asyik
menghitung rinai hujan yang gugur.
“jangan biarkan angin
terlalu lama mendekapmu” ucapku sambil memberikan switter dan memakaikannya
ditubuhnya.
“ayo kita bermain
bersama”ajaknya sambil menarik lenganku
“ehhh.. tunggu”ucapanku
tak digubris olehnya
Akupun menuruti
kemaunnya bermain hujan hujan bersama
Sepanjang jalan
gadis itu berteriak seakan melepas beban yang masih mengganjal direlung.
Tiba-tiba..
“apa aku salah ?
apa aku terlalu berlebihan ? apa aku terlalu bodoh memelukku” bisik gadis itu
sambil mendekapku dengan eratnya
Entah kenapa dia
mengatakan hal itu..
Padahal aku
merindukan pelukan yang telah lama melekat ditubuh
Aku bersemangat
mengayuh sepadaku dengan cepat.
Tanpa memerhatikan
seragam sekolahku,
Hingga akhirnya
aku terbaring tak berdaya~
Hai .. ombak masih mendengar jeritanku ?
Musim ketiga..
Tepat 2 pekan,
aku berbaring ditempat tidur
Sangat membosankan
Setiap hari
harus check up, pagi minum obat,siang minum obat, malam minum obat,
Tidak boleh
terlambat makan, tidak boleh begadang mononton Manchester United bertanding
Ah.. membosankan
betul,
Malam ini aku
menyempatkan waktu untuk bermain gitar.
Tiba tiba saja,
suara yang tidak asing lagi ditelingaku
“hai” sapanya
yang tak ketinggalan dengan senyumannya
“bisa bermain
gitar juga ?” Tanya kembali
Sedetik kemudian
kami bernyanyi bersama menyanyikan lagu popular saat ini
Endah Ft Rhesa –
When you love someone
“nampaknya kau
berbakat menyanyi”pujiku
“kamu terlalu
berlebihan,
Apa kamu sakit ?
apa karena diriku ?
Pertanyaanya tak
langsung aku jawab. Aku berusaha mencari topic lain namun tak kudapatkan.
“hai.. apa kamu
mendengar ku ?
“aku, engga
sakit kok” jawabku dengan terhentaknya
“ok.. I believe
you
Don’t make me
worry !!”
Separuh malam
telah berlalu, hingga akirnya aku terlelap nyenyak dipangkuannya
Mungkin karena
efek obat yang ku minum tadi
Mega menyapaku, tak
ada gadis itu disisiku.
Padahal semalam
aku tidur dipangkuannya.
Kemana dia ?
Kenapa dia pergi
?
Ahh.. terlalu
bodoh diriku!!
Menyakannya
kabarnya, siapa diriku dihidupnya ?
Musim telah
berganti~
Tak ada lagi
hadirnya
Tak ada lagi
senyumnya.
Tak akan pernah
ada.
Yang ada hanya
jejak bayangnya melekat dijalanku.
Terlalu bodoh
diriku.
Aku tak sempat
menyanyakan namanya
Tak sempat
berfoto bersama,
Benar benar
bodoh!!
Tepat musim ini,
kau tak pernah kembali
Kini aku sadar,
kalau kamu selalu hadir dimusim rindu.
Atau mungkin
kamu…
Arghhh..
ekspetasiku terlalu berlebihan terhadapmu
Aku menikmati
kebersamaan darimu
Walaupun sangat
singkat..
“hai .. bagimana
kabarmu ?”
“aku rindu akan
hadirmu,
Akan hadirmu yang hadir di musim rinduku,
kapan kau akan kembali kepadaku ?”
~bersambung~
Bagus,,
BalasHapus