Detik Terakhir
Oleh : Prayoga Dwi Wibowo
Cerpen 1
Sepasang Kekasih tengah duduk di Angkringan kafe. Tempat pertama kali mereka saling bertemu dan berkenalan. 2 tahun lamanya masa PDKT berjalan, dirasa cukup baginya.
Dengan mengumpulkan keberaniannya, laki-laki itu mengajaknya untuk bertemu ditempat biasa.
Dalam benaknya ada rasa takut yang menyelimutinya.
"Apa nanti Aurel menerimaku ?" Batinnya bertanya.
Sesaat Weiters menghampirinya dengan membawa menu pesanan yang tersedia.
"Permisi kaka, mau pesan apa ?" Tanya Weiters dengan memakai seragam ciri khas kafe ini. Tak ketinggalan dengan celemek yang mengikat ditubuhnya.
"Eh.." sentakku terkejut
"Kaka mau pesan apa ?" Tanyanya kembali menawarkan menu yang tersedia di kafe sini
"Ummp.. Caramel Moccachiato seperti biasa" pintaku pada Weiters sudah berdiri lama didepanku
"Kebetulan di kafe ini, menyediakan menu spesial khusus diberikan bagi pelayan setia kafe ini" tawarnya dengan senyuman sumeringah.
Aku menggelengkan "Terima kasih" kataku membalasnya dengan senyuman simpul.
"Kalau begitu , tunggu beberapa menit lagi. Menu yang kaka pinta saya antarkan" pamitnya sambil berlalu pergi menuju ke barista.
Aku memijit pelipis mataku yang begitu lelah, seharian suntuk bekerja penuh. Mataku masih mencari sosok seseorang yang sudah aku tunggu.
Seseorang yang sudah memenuhui ruang pikirannku selain masa depanku. Seseorang yang nantinya akan menemaniku dalam suka maupun duka.
Sesorang itu ialah...
Kamu..
***
"Hai.."sapa perempuan datang dari arah pintu.
Perempuan itu langsung menghampiri bangku yang aku pesan sedari tadi.
"Hai.."jawabku bediri sambil mempersilahkan duduk
"Sudah lama menungguku ?"tanya Aurel meletakkan tas kerjanya diatas meja.
Aku menggeleng memberikan senyuman simpul "engga kok".
"Kamu mau pesan apa ?" Tawarku
"Engga usah. Biar aku pesan sendiri" jawabnya menolak penawaranku.
"Engga apa-apa, lagi pula aku yang sudah berjanji bertemu denganmu. Bukan ?" Aku mencoba meyakinkannya
"Hmm.. samaiin aja dehh" katanya menyerah. Akhirnya menerima penawaranku.
"Okee.. tunggu yah, aku pesan dulu" pamitku memesankan pesanan untuk Aurel.
***
"Eh.. katanya ada yang mau diomongin ?" Tanya Aurel membuka obrolan yang sedari tadi hening.
"Oiya.. aku lupa" jawabku menepuk jidatku.
"Apa kamu sudah punya kawan dekat ?"
"Maksud kamu ?" Tanyanya kembali, tidak mengerti apa yang aku maksud.
"Hmmp.. maksud aku, apa kamu sudah punya pacar" Tanyaku mengulangnya kembali menekankan kalimat terakhir.
Aurel terdiam. Aku masih mengamatinya, dan menunggu jawaban selanjutnya.
Pandangannya dia alihkan sesaat, kearah bangku pengunjung lain, Aku masih menunggu jawabannya.
"Hei.. " panggilku melambaikan tangannku
"Ehh... iyah" Aurel tersentak
"Kamu belom jawab pertanyaan dariku"
Aurel memijit pelipisnya "Ummp.. aku belom ada kawan dekat ataupun pacar"
"Oh.."
"Memangnya kenapa ?"
"Hmmp.. mungkin ini terlalu cepat, ataupun kamu akan menyebutku egois. Tapi aku ingin jujur ke kamu.." ucapku menggantungkan kalimat terakhir
"To the point aja kali"
"Aku suka kamu.."
Kata itu berhasil aku muntahkan begitu saja, membuat Aurel terdiam sesaat sebelum aku melanjutkannya.
Kata yang sudah lama aku simpan rapi bersamaan mimpiku terselip disana. Kata yang nantinya akan menentukan, apa aku pantas mendapatkan balasannya.
"Mungkin ini terbilang cepat, perlu kamu tau, aku menyukaimu sejak lama. Sejak pertama kali kita masuk di bangku kuliah dulu." Kataku
"Aku suka cara kamu menyapa teman kampus kamu, aku suka cara kamu merapihkan rambutmu tersapu oleh angin, aku suka semua.." tambahku
Aurel terdiam sesaat, matanya masih menatapku mencari kepastian apa, aku benar-benar mencintainya.
Tatapan matanya selalu meneduhkan hatiku. Taatkala aku tengah sibuk mengerjakan skripsi.
"Bukan aku menolak kamu.. aku tengah sibuk dengan pekerjaan maupun dengan skripsi S2 yang nantinya diuji dalam waktu dekat ini" Aurel mencoba menjelaskannya.
"Aku tau hal itu.."
"Hmmp.. apa kamu bakal mengartikan kesibukanku nantinya ?" tanya Aurel dengan nada serius.
"Yah.. aku akan selalu mengerti kesibukan kamu. Akan aku dukung impianmu" jawabku sambil memberikan senyuman simpul.
"Kamu tau kan, aku sedang bekerja diperusahaan milik Negara. Bagaimana jika nantinya aku di mutasi ke luar kota ? Apa kamu bersedia menjalin hubungan jarak jauh ?" Tanyanya kembali
Berbeda. Aurel memang berbeda dari sekian banyak perempuan yang aku kenal dulu.
Aurel adalah tipe perempuan yang dewasa. Pertanyaan itu membuatku harus menguras otakku. Walaupun aku tidak menyukai hubungan jarak jauh.
"Yahh.. aku mau, LDR akan mengajarkan kita untuk saling mengerti, setia, dan menjaga komitmen yang sudah dibangun dari awal. Intinya kita saling percaya sama pasangan kita" jelasku menjawab semua pertanyaannya
"Aku mau.." jawabnya singkat
"Kamu tidak lagi bercanda kan ?"pikirku
"Menurutmu ? Apa raut wajahku tidak meyakinkanmu ?" Jawabnya dengan nada sebal
"Nope, I believe you"
Aku dan Aurel mencicipi pesanan yang sedari tadi mengganggu indera pincumanku sampai di meja kita. Setelah itu, kita banyak membahas dari berita hangat maupun masa depan yang sudah kita inginkan.
Benar-benar diluar ekspetasiku. Jujur, baru kali ini aku menyatakan perasaan ke perempuan dan berhasil.
Sebelumnya, aku sudah berkali-kali mencoba pada perempuan lain. Tapi apa ? Mereka hanya menginginkan materi bukan menginginkan kebahagian dan kebersamaan. Mereka takut membangunya dari awal.
Satu kata yang ingin aku katakan, dan menyudahi malam yang berkepanjangan ini. Malam yang selalu sepi tanpa kemerlap bintang bintang bertaburan disana. Kau tau apa ?
SEMPURNA ..
***
Awalnya, hubungan itu berjalan mulus tanpa ada konflik yang mengganggu kebersamaannya. Perlahan, sejak Aurel benar-benar di mutasi pekerjaannya pindah keluar kota. Membuatku merasakan kegelisahaan.
Bukan. Bukan berarti aku tidak percaya. Melainkan, aku tidak memikirkan tentang hubunganku. Bagaimana dengan kondisi Aurel ? Siapa yang akan merawatnya jika Aurel sakit ?
***
"Lusa, aku berangkat ke luar kota. Melaksanakan dinasku disana. Apa kamu bersedia mengantarkanku ke Bandara ?"tanyanya melepaskan pelukan kemudian menatapku
"Tentu, akan aku luangkan waktuku menemanimu" kataku mengusap setiap helai rambutnya. Walaupun di dadaku terasa sakit melepasnya pergi.
"Terima Kasih" jawabnya merebahkan kepalanya di atas pahaku.
***
Pintu keberangkatan sudah dipenuhui para penumpang yang akan pergi ataupun berlibur bersama keluarga. Aku masih menunggu Aurel yang sedari tadi mengurus tiket.
"Heii.. pesawatnya take off sebentar lagi, sekitar 10 menit lagi" katanya menghampiriku menarik koper yang begitu besar
"Hmmp.. kamu udah pastiin engga ada yang tertinggal ?" Tanyaku
"Udah, semua sudah aku masukkan kedalam koper"
Aku hanya memberikan isyarat dengan mengangkat kedua jempolku. 10 menit mungkin bagiku terasa cepat untuk melihat Aurel yang sebentar lagi akan di mutasi ke luar kota. Tapi, ini bagian dari konsekuensi yang harus aku terima.
"Aku berangkat dulu yah," pamitnya menarik koper kemudian, memberikanku senyuman simpul
"Hati-hati yah, semoga penerbanganmu menyenangkan" kataku melambaikan tangan
"Jangan lupa kabarin aku, kalau kamu udah sampe" teriakku
Aurel memalingkan tubunya, mengedipkan satu matanya mengerti. Aku masih memberikan senyuman yang tiada henti-hentinya aku tarik dari pipiku.
***
Angin terlalu cepat mengganti musim yang benar benar kelabu. Tepat empat tahun kepergianmu dinas keluar kota. Aku begitu rindu akan hadirmu.
Walaupun setiap kali aku ada waktu, atau kamu sedang tidak sibuk. Kita saling bertatap muka lewat Skype sekedar melepas rindu yang menggebu.
Sudah empat musim aku selalu menunggumu disini, ditempat pertama kali kita bertemu. Taatkala, pelayan kafe ini, selalu menanyakan tentangmu yang tidak datang denganku.
Satu hal yang aku ketahui, kamu akan kembali lagi ke kota asalmu. Setelah sekian lama kamu merantau ke tanah orang jauh dari sanak keluarga,teman, ataupun jauh dari aku.
Aku begitu bersamangat menyambut kedatanganmu kembali lagi. Bahkan, aku meluangkan waktu kerja satu hari.
Kau tau apa yang ingin aku katakan dari dulu ?
Aku ingin melamarmu ..
***
Baru kali ini, aku bisa mengalahkan mentari yang selalu saja muncul lebih awal. Ternyata, aku bisa mengalahkannya. Dengan mengendaraii mobil pribadiku dari hasil jerih payahku bekerja. Aku pergi ke Bandara saat kamu pergi.
Sengaja aku tidak memberikanmu kabar mengenai aku menjemputmu. Aku ingin memberikanmu kejutan kecil.
Mentari sudah tepat diatas kepala. Kamu belum terlihat tiba di Bandara ini. Padahal, kamu kan pulang hari ini. Aku menghilangkan gundahku menyetel musik di Play List.
Tiba tiba..
Aku melihatmu menarik koper yang sama saat kamu pergi. Kamu terlihat semakin dewasa dengan polesan make up diwajahmu. Aku membuka headsheat yang menutupi telingaku. Aku mengangkat tubuhku menghampirimu.
Tapi ..
Kamu menyapa seseorang dari arah yang berlawan dengan memaki jas hitam. Satu hal yang tak aku ketahui. Ternyata, kamu menyapa seorang laki-laki yang sudah menunggumu.
Kamu memeluk tubuh laki-laki itu begitu erat. Layaknya seperti sepasang kekasih yang sudah tidak bertemu setelah sekian lama. Aku semakin tidak mengerti maksud ini semua.
Kamu menggandeng tangannya hingga tiba diluar pintu Bandara. Laki-laki yang bersamamu menarik pintu mobilnya memperkenankan kamu masuk.
Dari kejauhan, aku masih mengamatimu dengan laki-laki itu. Hingga akhirnya, kamu tiba di halaman rumahmu.
Satu hal yang aku katakan untuk hari ini.
Aku kecewa denganmu..
***
Aku mengambil handphoneku yang berada diatas meja kantorku. Aku mencari nomor handphone yang sudah diluar kepalaku.
Aurel
From : Aurel
Denger-denger kamu udah pulang yah ?
Hampir setengah jam aku menunggu balasan dari Aurel. Akhirnya, Aurel membalas pesanku
To : Aurel
Iyah , baru 2 hari tiba.
Secepat mungkin aku langsung membalasnya.
From : Aurel
Hari ini, kamu ada acara engga ? Aku mau ngajak kamu dinner. Kita udah lama kan, engga dinner bareng
To : Aurel
Aku engga bisa, walaupun aku udah selesai dinas. Aku mendapat panggilan jadi assisten Dosen.
From : Aurel
Okee.. Next Time yahh
Aurel tidak membalas pesan terakhirku. Seharusnya, Aurel menanyakan keadaanku ataupun bercerita banyak tentang pengalaman kerjanya di luar kota.
Ada bagian aneh yang aku ketahui dari Aurel. Hingga, pikiran kotorku untuk mengikuti Aurel terselip di otakku.
Sudah pukul 8 malam. Aku menunggu Aurel. Apakah Aurel akan keluar malam ini ?.
Perempuan cantik dengan menggunakan gaun malam. Membuatnya semakin cantik dan dewasa. Entah, aku tidak tau Aurel pergi kemana. Sesekali Aurel keluarkan Handphonenya mengecheck.
Tiba-tiba ..
Datang mobil hitam mercedes yang aku temui, saat Aurel diantarkan pulang. Laki-laki itu masih sama, saat aku melihatnya di Bandara.
Hampir satu jam aku membuntuti mobil itu. Hingga akhirnya, berhenti disalah satu tempat club malam terkenal di kota ini. Aku menunggu didalam mobilku. Sempat terlintas, apa aku harus masuk menemuiinya ?.
Aku mengambil handphoneku di dashboard. Aku menghubungi Aurel kurang lebih 20 panggilan. Tapi, tidak satu pun yang diangkat.
Aku mengepalkan tanganku ke stir mobil. Satu panggilan masuk terdengar jelas. Dan panggilan masuk itu bukan dari Aurel. Melainkan, dari pengelola tempat yang sudah aku booking untuk melamar Aurel malam ini.
Tanpa menunggu lama lagi. Mobilku melesat kencang ke tempat yang sudah aku siapkan di dekat pantai.
Satu moment yang nantinya akan menjadi sejarah kisah kita, Hingga akhirnya, harus batal begitu saja.
***
Tempat dengan nuansa yang hangat dekat dengan alam. Kemerlap lampu gedung gedung bertingkat menjulang ke langit terlihat jelas dari tempat ini. Alunan musik melankolis mendayu-dayu begitu enak didengar. Hanya saja, moment ini tidak akan pernah terjadi.
Tidak akan pernah terjadi ..
Aku langsung mengambil handphoneku. Membuat video singkat yang nantinya akan aku kirimkan ke Aurel.
Awan yang semula terang. Seketika, berubah mendung, tetesan air langit membasahi bumi begitu derasnya. Tapi, aku masih melanjutkan pembuatan videonya.
Setelah aku rasa cukup dengan durasinya. Aku langsung bergegas pulang kerumah dengan perasaan kecewa.
Hinga akhirnya ..
***
Aurel melihat panggilan masuk yang terpajang dilayar handphonenya sebanyak 20 kali dari Arda
Esok malamnya, Aurel takut mengira Arda akan marah tidak mengangkat telponnya. Aurel memutuskan untuk pergi kerumah Arda.
Setelah sampai di depan Rumah Arda. Aurel begitu terkejut dengan dipasang tenda dan penuh karangan bunga yang terpajang.
"Apa yang sebenarnya terjadi" batin Aurel
Orang orang yang berkumpul dirumah Arda. Menatap Aurel heran, dan menganggap Aurel tidak baik. Aurel mengabaikan akan hal itu.
Terpajang pula, banner yang bertuliskan "will you married me ?" Tepat, diatas atap rumah Arda. Perasaannya semakin tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.
Satu peti yang terbuka begitu saja, membuat Aurel semakin penasaran untuk melihatnya. Orang orang yang semula mendekat mengerumuni peti itu menjauh. Memberikan ruang untuk Aurel melihatnya.
Dan di dalam peti itu ..
Arda
Arda sudah terbujur kaku dengan pakaian terakhirnya. Tak ketinggalan dengan satu buah cincin di pegang Arda. Aurel mengambil cincin itu menanyakan ke semua orang. Air matanya terus mengalir begitu saja.
Perempuan paruh baya, yang datang dari arah kamar. Menghampiri Aurel yang memandangi jenazah Arda.
"Apa kamu nak Aurel ?" Tanya perempuan paruh baya itu
"Iyah" jawab Aurel menyeka air matanya.
"Sebelum Arda pergi, Arda menitipkan ini untuk nak Aurel lihat" ucap Mamah Arda memberikan handphone milik Arda. Mamah Arda begitu tak kuasa melepaskan Arda begitu saja.
Aurel mengambil handphone milik Arda. Satu video tersimpan di kartu memorinya. Aurel memutar video yang berdurasi 10 menit itu dengan tanda tanya. Tak kuasa melihat video itu, sebelum video itu selesai. Tubuh Aurel tidak bisa menahannya.
Hingga akhirnya, Aurel jatuh pingsan tepat disebelah peti mati Arda..
*Ada waktu yang terbuang begitu saja. Ada pengorbanan yang harus di bayar dengan tetesan air mata. Bukan perkara gampang menjaga hati kecil kekasihnya saat menjalin hubungan jarak jauh.
Bahkan, (dia) selalu membunuh rasa gundahnya yang menggangu separuh malamnya. Kamu tak akan pernah tau. (Dia) sudah menyiapkan dan mengorbankan membuat kejutan kecil saat kamu kembali lagi. Ini semuanya demi kebahagianmu dengannya.
(Dia) tau kamu mengkhianatinya. Bahkan, (Dia) masih mempercayaimu walaupun hati dan impian kecilnya kamu lenyapkan.
Sudah.. sudah.. jangan kamu banjiri peristirahatannya dengan tetesan yang tidak berguna. Lagi pula, impian (Dia) sudah berakhir.
Bukankah kamu sudah bahagia dengan orang baru ?
Jangan lupa Bahagia yah *
**TAMAT**
Cerpen 2
Setelah acara akad nikah selesai dilaksanakan. Ray dan Rinjani pergi ketempat berlangsungnya pesta dengan menggunakan mobil nikah.
Jauh dari sebelum ini, Ray sudah menyiapkan ini semua. Bahkan, demi acara resepsi pernikahannya saja. Ray menggelontorkan banyak uang untuk menyiapkan ini semua.
"Silahkan tuan putri" puji Ray membuka pintu mobil mempersilahkan Rinjani masuk.
Rinjani tersenyum, pipinya memerah mendapat pujian dari suaminya "terima kasih pangeranku"
Mobil itu melesat begitu saja ke arah gedung pesta. Sementara, Ray menyetir mobil itu. Lantaran Ray ingin selalu ada disisi Rinjani.
Sepanjang perjalanan, tangan Rinjani memegangi tangan Ray. Sepertinya, mereka sudah tidak sabar untuk Honeymoon.
Ray selalu mengusap pipi Rinjani dengan memanjakannya. Rinjani tidak segan-segan menciumi tangan Ray menyentuh pipinya.
Sungguh, hal yang membuat pasangan lain irit melihat kebersamaannya.
Konsentrasi Ray terpecah tidak memperhatikan jalan. Ray masih asik memanjakan Rinjani. Dan lupa, kalau dirinya sedang mengemudi.
***
Bali dan Yogyakarta adalah salah satu destinasi Honeymoon yang dipilih Ray dan Rinjani. Sebelumnya ada beberapa pilihan tempat yang sudah terdaftar dalam agendanya. Namun, kedua tempat ini lah yang menjadi pilihan favoritnya. Sebelum, Ray dan Rinjani pergi ke tanah suci, menjalankan ibadah umroh.
Pantai kuta memberikan kenangan tersendiri untuk mereka. Disepanjang hamparan pasir yang luas. Ray dan Rinjani bercerita tentang banyak hal. Maupun impian memliki momongan yang sudah di inginkan.
Suasana yang begitu romantis dan begitu hangat dekat dengan alam. Membuat mereka memadukan kasih.
"Ray" panggil Rinjani yang sedari tadi kepalanya direbahkan di bahu Ray sambil memainkan bunga.
"Hmmp" jawab Ray memberikan senyuman
"Ummp.. kamu mau punya anak berapa ?" Tanya Rinjani mengangkat kepalanya
"Kamu udah engga sabar yah sayang.." tawa Ray renyah
"Aku nanya serius tau" gerutu Rinjani sebal
"Baper amat" Raya mengusap helaian rambut Rinjani.
"Bodo lah"
"Hmmp.. aku mau, punya anak berapa yah.. 5 kali yahh" Ray masih meragu
"Banyak amat.." Rinjani begitu terkejut
"Kenapa emangnya ? Tadi, katanya kamu nanya.. yahh aku jawab lahh"
"Iya deh.. aku pengennya punya anak 2, tapi kembar lucu.. bisa engga yah ?"
"Insya'Allah" Ray tersenyum memeluk tubuh mungil Rinjani
"Kalau anaknya perempuan, kamu yang namaiin yah.. kalau anaknya laki-laki aku yang namaiin yah"
"Iyah sayang.." Ray mengecup kening Rinjani dengan manja
***
Destinasi selanjutnya, setelah menghabiskan waktu berdua di pantai Kuta. Sekarang, Ray dan Rinjani mengunjungi kota pelajar. Tidak lengkap rasanya jika kita berkujung ke kota ini. Tidak membawa apa-apa.
Ray dan Rinjani menghabiskan waktu liburnya dengan berkunjung ke salah satu tempat yang selalu ramai dikunjungi pengunjung. Malioboro. Tentu, sebagian besar orang sudah mengenal Malioboro sebagai tempat cinderamata terbaik di Negeri ini.
"Ray.. lihat ini, bagus engga ?"tanya Rinjani mangalungkan aksesoris kalung di lehernya
Ray menghampiri Rinjani dengan senyuman yang terpancar.
"Bagusss.. aku bantu kamu pake ini yah" jawab Ray membantu Rinjani mengalungkan aksesoris ke lehernya
"Tapi.. Ray. Aku engga berniat untuk membelinya"
"Aku yang beliin. Sayang, kalau engga dibeli. Lagi pula, kalungnya cocok dengan kamu" jawab Ray mengeluarkan uang dari dompetnya
Rinjani tersenyum bahagia melihat Ray yang begitu Romantis memanjakannya.
Sudah 3 minggu lamanya Ray dan Rinjani menghabiskam masa Honeymoon nya kedua tempat. Dan saatnya, mereka harus kembali lagi kekota mereka. Memulai lembaran baru sakaligus membangun bahtera rumah tangga.
***
Ruangan 4 x 4 dengan berdinding batu bata berwarnakan dengan dominasi warna putih.
Ray,menatap Rinjani dari balik pintu. Air matanya tumpah begitu saja, sudah sepatutnya Ray dipersalahkan dalam kecelakaan ini.
Sesekali, Ray menyeka air matanya. Rinjani masih belum sadarkan diri dari kejadian tadi. Sialnya, saat kecelakaan itu terjadi. Rinjani tidak menggunakan seatbelt.
Mengerikan !. Sungguh mengerikan, seharusnya Ray dan Rinjani tertawa bersama diacara moment pernikahannya.
Pintu kamar Rinjani terbuka.
Dokter terkejut saat melihat Ray berada di balik . Padahal, Dokter sudah menyuruh suster jangan membiarkan Ray keluar.
"Tuan Ray, kenapa anda berada disini ?" tanya Dokter mengerutkan dahi bingung.
Ray diam sesaat "biarkan saya melihat kondisi isteri saya" jawab Ray menyeka air matanya.
"Tapi,-"
"Dok, apa anda tuli ? Sudah saya bilang, saya ingin melihat kondisi isteri saya" potong Ray secepat mungkin
Dokter menggeleng-gelengkan "baik, jika itu keinginan tuan. Silahkan, tuan tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan" perintah Dokter sebelum pergi meninggalkan Ray.
Ray menatap pundak Laki-laki paruh baya itu. Setelah itu. Ray kembali melakukan hal yang sama sebelumnya.
***
Musim silih berganti-ganti, musim Hujan - musim Kemarau - musim Hujan - musim Kemarau. Kurang lebih seperti itulah, tidak ada henti hentinya Semesta memberikan kenikmatan yang tidak tertandingi. Burung-burung menyambut musik baru ini dengan bernyanyi begitu merdu.
Sudah satu tahun lamanya, Rinjani dirawat dirumah sakit ini. Bahkan, Ray selalu mendampingi Rinjani di samping tempat tidurnya.
Ray tertidur begitu pulasnya, sementara seorang suster sedang mengecek kondisi Rinjani setiap harinya. Tanpa menganggu waktu tidur Ray dan Rinjani. Suster enggan membangunkannya.
"Sungguh Romantis" gumam Suster dalam hati, sebelum pergi meninggalkan ruangan
Rinjani menggerakkan tubuhnya perlahan-lahan. Otot ototnya terasa kaku tidak bisa ia gerakkan selama satu tahun belakangan. Betapa terkejutnya, melihat Ray tertidur pulas disampingnya.
"Ahhhh.." teriak Rinjani dengan sangat histeris
Ray terbangun dengan terkejut mendengar jeritan Rinjani.
"Kau sudah terbangun, sayang" ucap Ray dengan gembira tidak ketinggalan dengan senyuman mengembang.
Rinjani melepas genggaman tangan Ray "kamu siapa ? Aku tidak mengenalmu. Pergi sana !" usir Rinjani
"Aku suamimu sayang, kita baru saja menikah"
"Suami ? Aku tidak pernah menikah dengan siapapun. Pergi sana!"
"Sayang, apa kamu sudah lupa dengan benda ini ?" ucap Ray berusaha meyakinkan Rinjani dengan memperlihatkan benda mungil di jemarinya.
Rinjani terdiam sesaat, "Pergi sana.. Aku tidak mengenalmu"
"Rinjani, aku ini suamimu. Maafin aku sayang, sudah membuat seperti ini" Ray berusaha memohom meyakinkan Rinjani
"Dokter.. Dokter.. Ada orang asing diruangan ini"teriak Rinjani begitu histeris.
"Hei..hei.. Ini aku sayang. Suamimu, apa kamu sudah lupa dengan pernikahan kita kemarin ?" tanya Ray berusaha meyakinkan Rinjani.
Perdebatan panjang terdengar sampai seluruh ruangan. Dokter dan suster yang merawat Rinjani menghampiri. Apa yang sebenarnya terjadi pada Rinjani.
Seorang laki-laki paruh baya, dengan memakai jas putih dan di temani oleh salah seorang, perempuan cantik dengan memakai pakaian serba putih dapat Mencirikan profesi mereka.
"Dokter.. Ada orang asing dikamarku" ucap Rinjani begitu ketakutan melihat Ray berada disampingnya
Dokter dan suster hanya tersenyum simpul.
"Dokter, kenapa engga usir orang asing ini ?"
"Rinjani, saya tidak bisa mengusir orang asing ini. Dia itu suamimu, kenapa harus di usir ?" ucap Dokter dengan suara lembut menjelaskan.
"Saya tidak menikah dokter,"
"Hmmp, mungkin kamu lupa sama hari bahagia kamu Rinjani"
Rinjani diam sesaat, mencoba mengingat seluruh ruang memorinya yang hilang akibat benturan keras yang menghantamnya.
"Dia bukan suami saya, tolong usir dokter !" perintah Rinjani dengan teriakan
Dokter menatap Ray yang berada dibelakangnya. Ray tau apa yang seharusnya, alan ia lakukan demi kesembuhan isterinya ini.
"Baik, saya akan keluar dari ruangan ini" ucap Ray mengalah sambil membuka knop pintu kamar.
"Dokter, udah usir orang jahat"
Rinjani tersenyum lebar.
"Sekarang, Rinjani sama suster yah"
Rinjani mengangguk setuju. Dokter memberikan isyarat ke suster. Apa yang seharusnya ia lakukan sebagai asisten dokter. Memberikan obat penenang mungkin salah satu cara terbaik.
"Rinjani, sini suster ada sesuatu untuk kamu" ucap suster sambil memberikan benda berukuran kecil itu
Dengan perasaan ragu ragu. Rinjani mencoba mengambil benda berukuran kapsul kecil. Sementara, Dokter pergi keluar ruangan menemui Ray.
***
"Dok, apa yang sebenarnya terjadi pada isteri saya ?" tanya Ray dengan nada cemas
Dokter menarik nafas "hmmp.. Isteri anda mengidap penyakit amnesia total. Short term memori dan Long Term Memori tidak berfungsi dengan normal. Mungkin, akibat benturan keras saat kecelakaan waktu itu"
Ray menatap kosong, tidak percaya apa yang barusan dia dengarkan.
"Apa penyakit ini ada obatnya dok ?" tanya Ray kembali.
Dokter menggeleng. Satu pertanda buruk menghantam rumah tangga Ray & Rinjani.
"Dokter, sedang tidak bercanda bukan ?" Ray mencoba menanyakan kembali
"Saya tidak bercanda, dan ini penyakit yang sampai saat ini, belum ada obatnya"
Ray diam sesaat. Menyenderkan tubuhnya di dinding rumah sakit, sambil mengumpulkan sisa tenaga setelah mendengarkan vonis dokter tentang keadaan isterinya saat ini.
"Maaf, saya permisi" kata dokter meninggalkan Ray sendirian
***
Ray menatap Rinjani dengan linangan air mata. Seperti itukah, rencana Tuhan memberikan cobaan yang menimpa keluarga baru Ray dan Rinjani.
Ray mengusap setiap helai rambut Rinjani. Sebelum Ray pergi keluar, Ray mengecup kening Rinjani.
"Aku cinta kamu" bisik Ray di telinga kanan Rinjani setelah itu, Ray membungkus Rinjani dengan selimut.
***
Ruangan 4 x 4 m2 dengan berdinding batu dan bercatkan warna putih.
Tidak ketinggalan dengan aroma bau obat memenuhi seluruh ruangan ini.
"Dok, apakah isteri saya bisa disembuhkan ?" tanya Ray meminta penjelasan dokter.
" penyakit Isteri anda tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa, diberikan obat penahan rasa sakit" jawab dokter sambil memberikan resep obat.
Ray menghela nafas "kalau begitu, terima kasih dok" ucap Ray pamit
Ray mendorong kursi roda Rinjani pergi meninggalkan rumah sakit. Pikirannya masih diselimuti rasa bersalah dan tidak percaya.
***
Di kantor ...
Sudah satu minggu lamanya Ray sengaja mengambil cuti kantor. Dan sekarang, Ray harus melanjutkan aktifitasnya seperti biasanya.
"Hai, ada pengantin baru nih" sapa Bunga
Ray hanya memberikan senyuman tipis.
"Bagaimana,sama honeymoon nya ?" Bunga mencoba mencari tau
Ray hanya diam sesaat.
Setelah itu, Ray mengabaikan perkataan Bunga "Bunga, aku harus ke mejaku menyelesaikan tugas kantor" kata Ray
Bunga tersenyum tipis, ada yang aneh dari tingkah laku Ray hari ini. Bunga berusaha tidak ingin mencari tau.
Mungkin, Ray lelah setelah acara resepsi pernikahan dan honeymoonya.
Konsentrasi nya terpecah menjadi dua, disatu sisi Ray harus bergelut dengan waktu menyelesaikan pekerjaan kantornya yang sudah menumpuk. Disini lain, Ray harus mengkhawatirkan kondisi kesehatan Rinjani dirumah. Walaupun, Ray sudah mengunci semua pintu agar Rinjani tidak keluar rumah.
Jahat ? Jelas. Tidak seharusnya, Ray melakukan hal itu ke Rinjani. Terlebih, Rinjani adalah isterinya. Calon ibu dari anak anaknya nanti. Ray melakukan ini demi kondisinya Rinjani tidak lebih.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, para penghuni kantor bergegas keluar mencari makan di kantin kantor. Ada sebagian orang yang masih setia menatap layar komputer berlama-lama.
"Ray.." panggil suara perempuan dari ruangan direktur
Langkah Ray terhenti. Mencari sumber suara yang memanggil namanya
"Iyah, ada apa bunga ?"
Bunga mengatur nafasnya setelah berlari kecil dari ruangan direktur "habis istirahat nanti. Disuruh keruangan bos"
"Hmm.. Ada apa yah, bung ?"
Bunga mengangkat bahunya "Gua kurang tau kalau masalah itu yah"
Ada kerutan di dahi Ray.
Tidak biasanya, Ray dipanggil Direktur. Kinerja kerjanya selama bekerja di perusahaan ini menjanjikan setiap tahunnya.
"Oke deh, thanks yah bung"
"Sama sama"
Hari ini, Ray benar benar begelut dengan sang waktu. Ray harus menyelesaikan tugas kantornya. kemudian, Ray harus cepat pulang kerumah memberikan makan dan obat ke Rinjani.
Setelah itu, Ray harus menemui atasannya sehabis makan siang nanti.
Sungguh melelahkan bukan ?
Bahkan, Ray selalu mengabaikan kondisi kesehatannya sendiri. Ray tidak pernah mengeluh dihadapan isterinya yang sedang sakit.
Ray tidak pernah menceritakan kabar buruk yang menimpa isterinya ke pada teman teman maupun rekan kerjanya.
Baginya, jika Ray mengeluh dengan keadaan. Tidak akan pernah terselesaikan.
Kesal ? Marah pada semesta ? Tentu saja, tidak pernah terpikirkan oleh Ray. Bahkan, Ray bersyukur Semesta tidak membawa pergi Rinjani membawanya pergi ketempat terindahnya. Ray tidak ingin kehilangan Rinjani dalam waktu dekat.
***
Di Rumah ...
"Assalamualaikum, aku pulang" ucap Ray memberikan salam sambil membuka knop pintu
Rinjani hanya menatap Ray kosong.
Setelah itu, mengalihkan pandangannya ke acara televisi kesayangannya.
Ray sengaja, membiarkan Rinjani menonton televisi seharian penuh. Sekedar melepas rasa bosan dan sendirinya di rumah.
"Hai, lihat apa yang aku bawa ?" tanya Ray sambil menunjukkan 2 bungkus plastik hitam.
Rinjani tidak merespon pertanyaan Ray. Tatapannya masih kosong.
"Aku bawa sop buntut tempat langgananmu nih" ucap Ray kali ini dengan sumringah
Ray tau makanan kesukaan Rinjani saat mereka berpacaran. Sop buntut racikan Mas Darmo salah satu makanan favorit Rinjani. Bahkan, Mas Darmo sudah hafal saat takaran bumbu racik untuk pesanan Ray dan Rinjani saat berkunjung ke warungnya.
Ray menaruh sop buntut itu di mangkok. Kemudian, Ray mengambil nasi bungkus yang sengaja ia belikan tadi.
Semenjak Rinjani sakit, Ray selalu membeli nasi ke warung padang didepan kompleks rumah. Bukan berarti Ray tidak bisa menanak nasi. Melainkan, karena kesibukan Ray yang harus membagi waktu kerja dan menyuapi Rinjani makan.
"Sayang, ayo makan. Udah aku beliin loh"
Rinjani menggeleng.
"Ayo makan sayang, biar cepet sembuh kamu nya" Ray mencoba membujuk Rinjani makan
Rinjani menatap nasi yang berada disendok.
"Makan yah," Ray berusaha membujuk Rinjani
Satu Suap..
Dua Suap..
Tiga Suap..
Rinjani melahap habis makanan yang Ray kasih. Ray tersenyum simpul melihat isterinya ada peningkatan signifikan untuk makan.
Ray menatap jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 12:30 itu berarti, waktu istirahat Ray tersisa 30 menit lagi.
Ray langsung memberikan obat pribadi Rinjani. Kemudian, mendudukkan Rinjani menonton televisi.
Secepat mungkin, Ray harus tiba di kantor 5 menit sebelum waktu makan siangnya habis.
Satu hal yang Ray lupa ...
***
Mobil Ray begitu cepat membelah jalanan ibu kota. Sementara itu, Ray harus bejibaku melawan waktu, waktu istirahatnya akan habis 5 menit lagi.
Jika Ray tidak sampai kantor pada waktunya, akan ada bencana besar bagi karirnya di perusahaan tempat ia bekerja.
"Masih ada waktu" gumamnya dalam hati. Saat mobilnya tiba di lobby parkiran perusahaan.
Ray langsung menuju lantai paling atas.
Lantai atas sengaja diperuntukkan untuk jajaran petinggi perusahaan.
"Bapak ada didalam ? Tadi, bunga menyampaikan saya harus menemuimya sehabis istirahat" kata Ray pada sekretaris pribadi direkturnya
"Tunggu sebentar" jawab perempuan itu, perempuan itu langsung menghubungi atasannya
Sementara Ray, masih memerhatikan percakapan antara sekretarisnya dengan atasannya.
"Anda dipersilahkan masuk " kata Sekretaris mempersilahkan Ray langsung menemui atasannya.
Ray langsung membuka knop pintu ruangan direktur. Ada rasa gugup tengah menyelimutinya Ray sempat meraba raba apa ia sudah melakukan kesalahan fatal ?
"Permisi pak, apa betul bapak memanggil saya ?"tanya Ray pada pria paruh baya duduk dikursi direktur.
"Iyah, silahkan duduk."
"Terima kasih pak"
Pria paruh baya itu tengah membolak-balikkan berkas yang tengah dibacanya. Kemudian, pria itu melingkarkan tulisan yang menurutnya kurang mendapat perhatiannya.
Ray menelan ludah apa itu berkasnya yang tempo hari ia berikan ke bunga sebelum melangsungkan pernikahan.
"Ray Adiyaksa, apa kamu masih berniat bekerja di perusahaan ini ?" tanya Pria paruh baya itu dengan suara meninggi.
Ray terdiam sesaat. Entah, angin apa yang sudah membuat atasannya marah kepadanya.
"Tentu pak, saya membutuhkan pekerjaan ini" Jawab Ray
"Lihatlah.. Semua laporan yang kamu buat jauh dari apa yang diharapkan" pria paruh baya itu tidak mengurangi nada bicaranya.
Ray membaca laporan pertanggung jawabannya selama 1 bulan terakhir. Sudah Ray duga akan seperti ini. Bahkan, sebelum ia masuk kerja pun Ray memikirkan hal ini pula.
"Saya mengakui kesalahan ini pak, saya minta maaf. Saya sudah membuat rekapnya. Besok akan saya bawa kembali" kata Ray
Pria paruh baya itu masih memijit pelipis matanya "apa konsekuensinya jika rekap itu tidak juga memuaskan saya ?" tantang pria paruh baya
Ray menelan ludah. Ray tidak bisa menjawab tantangan itu. Ray membutuhkan pekerjaan ini untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya dan berobat isterinya.
Ray tidak pernah bisa membayangkan apa jadinya jika ia dipecat dan menjadi pengguran. Sungguh memalukan
"Jika tidak ada jawabannya. Mohon maaf, kontrak kerja anda akan saya putus dan akan saya cari pengganti selai anda. Bagaiamana ?" tawarnya kali ini
"Baik pak, besok pagi jam sebulan akan saya bawa rekap bertanggung jawabannya ke bawa. Jika tidak memuaskan bapak, saya akan mengundurkan diri" kata Ray
mengulang pernyataannya sambil menyetujui konsekuensinya
"Oke, kalau begitu anda boleh kembali bekerja"
Ray berpamitan. Nafasnya terasa sesak saat keluar dari ruangan direktur itu.
***
Hampir 12 jam lamanya Ray berkutit didepan layar komputer. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Penghuni kantor sudah pulang dari pukul 5 sore. Ray masih menyelesaikan pekerjaannya yang tidak sempat dipegang selama 2 minggu.
"Lebih baik, aku selesaikan di rumah" pikir Ray dalam hati
Ray langsung memasukkan seluruh isi berkas ke dalam tasnya. Mobil melaju begitu cepat, jalanan ibu kota terlihat ramai malam in. Tidak ada tanda tanda akan datangnya turun hujan.
Butuh waktu setengah jam saja, Ray tiba di halaman rumahnya.
"Assalamualaikum, aku pulang" ucap Ray membuka pintu yang terlihat begitu sepi.
Ray melemparkan tas kantornya ke sembarang tempat.
Setelah itu, melepaskan sepatu kerjanya dan menaruhnya di rak sepatu.
Langkahnya terhenti saat melihat robekan kertas berada dibawah. Ray mengikuti robekan kertas itu. Hingga di salah satu ruangan yang didalamnya ada isterinya. Rinjani.
"Rinjani.... Apa yang kamu lakukan sama dokumen penting ku" ucap Ray dengan nada meninggi. Melihat robekan kertas itu sudah dirobek Rinjani.
Rinjani menatap Ray dengan tatapan kosong.
Ray terus terusan memarahi Rinjani tidak karuan. Rinjani tidak tau, kertas yang dirobeknya itu ada surat perjanjian kontrak kerjanya dan hasil rekap per tanggung jawabannya.
Ray memandang mata isterinya, mata cokelat yang indah tampak berkaca-kaca. Mata itu selalu membuat Ray jatuh cinta tanpa berkesudahan.
"Ya tuhan, apa yang aku lakukan ? Isteriku sedang sakit, kenapa aku begitu emosi. Kalau dia normal dia tidak akan melakukan hal bodoh ini"
Ray menatap Rinjani lagi, kemudian Ray memeluknya.
"My dear, forgive me" bisik Ray memeluk tubuh Rinjani begitu kuat
Sepanjang malam, Ray menyesali perbuatannya yang membuat isterinya terkejut. Semoga saja, tuhan mengampuni nya. Ray selalu menyelipkan doa doa pada semesta. Semoga saja, isterinya bisa disembuhkan.
Pagi hari, seperti biasa Ray selalu melakukan aktifitas seperti biasanya. Mencuci piring dan menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan isterinya.
"Ray" panggil suara lembut memanggil nama Ray
Ray menoleh kebelakang.
Ray begitu terkejut saat Rinjani memanggil namanya. Ray tersenyum simpul melihat isterinya berdiri di hadapannya.
"Sayang, apa kamu inget aku ?"
"Ray, maafkan aku selama ini. Aku sungguh merepotkanmu" kata Rinjani
Ray langsung berlonjak memeluk isterinya dengan erat, mencium keningnya, mengusap setiap helai rambutnya yang menggangu mata indahnya.
"Tidak sayang, kamu tidak merepotkan sama sekali. Aku mencintaimu sayang, sungguh mencintaimu" ucap Ray
Ray memeluk isterinya kembali, Rinjani membalas pelukan Ray yang begitu kuat.
Kemudian berbisik di telinga Ray "Aku mencintaimu sayang"
Saat Ray memeluk tubuh Rinjani dengan sangat kuat. Namun, Ray merasakan pelukan Rinjani terasa terlepas.
"Sayang"
Tak ada jawaban dari bibir manisnya, Ray menatap Rinjani. Mata Rinjani nampak terpejam. Bibir manisnya tersenyum manis..sangat manis. Wajahnya tenang. Ternyata, Rinjani sudah pergi untuk selama-lamanya. Ray menangis sejati jadinya.
"Sayang, aku tetap cintamu sampai kapanpun. Pergilah dengan tenang. Bawa cintaku, bawa hatiku.." Ray tidak bisa berkata kata lagi. Rinjani terlelap pulas tepat di pelukan Ray.
***
"Setia itu sederhana. Berada didekatmu,di pelukanmu, sudah lebih dari cukup bagiku memberikannya arti "Setia" dan menulisnya dalam catatan kita.
Tak peduli, bagaimana pun, kondisi fisikmu aku akan selalu mencintaimu. Bahkan, saat Tuhan mengambil memorimu tentang aku. Tentang kita.
Aku masih setia menemanimu, menghidupkan kembali setiap moment moment yang begitu indah yang kita lalui.
Kau tau, Tuhan selalu mempunyai rencana dari semua rencana agar kita belajar dan berjuang bersama.
Tuhan, begitu baik memberikan rencananya, karena Tuhan adalah Maha Perencana. Tugas kita menjalankan Rencana Tuhan mudah.
Nikmati saja prosesnya. Semesta akan tau caranya bekerja dan memberikan apa yang semestinya kamu dapatkan.
Hingga, Semesta menghadirkan pertemuan kedua nanti saat kita tiada. Disinilah, hasil kerja dari semesta menulis.
Bahwa, cerita cinta tentang kita sudah dikemas rapih berpitakan manis untuk dibaca banyak orang.
Hingga seluruh isi jagat raya tau, seperti inilah aku mencintaimu, seperti inilah kamu mencintaiku. Sederhana bukan ?"
~TAMAT~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar