PROLOG
Kelak , kita akan mempunyai dunia masing-masing
Kamu dengan duniamu..
Tengah asyik mencari sekaligus menutup lukamu
Sedangkan aku ?, aku dengan duniaku..
Terus berusaha melupakanmu..
Waktua-sama dituntut untuk saling melepaskan satu sama lain.
Kamu dengan mudahnya melepaskan dan memuntahkanya..
Sementara aku ?
Tunggu !!!
bergulir begitu cepat,
Kita sam Aku lupa Puan ..
Aku punya cara sendiri untuk melupakanmu
Jangan kamu tanyakan mengenai caraku.
Biarkan semua seperti ini..
Suatu hari nanti, kita hanya akan
Menjadi orang asing..
Yang akan berpapasan di jalan
Tanpa menyapa atau tersenyum
Hanya lewat begitu saja..
Seperti..
Angin hendak menggugurkan daun-daun
Seperti..
Rindu membungkus malam
Semua akan baik-baik saja, Puan !
Percayalah...
Kamu akan bahagia dengan orang yang mampu menggantikan posisiku..
Kembalikan senyumanmu yang telah lama hilang..
Kamu jangan menangisiku.. Puan !!
Aku akan baik-baik saja,
Biarkan aku dalam keadaan seperti ini..
Aku sudah biasa bersahabat dengan luka..
Puan ..!! Percayalah denganku
Karena ..
Selalu ada kejutan disetiap malam..
☆☆☆
(Jessie J - Flaslight)
When tomorrow comes
I'll be on my own
Feeling frightened up
Then things i don't know
Selamanya akan seperti ini
Aku akan selalu disini.
Ditempat ini , tanpa ada cahaya sedikitpun
Sementara luka, mendekapku begitu kuat
Tanpa memberikanku celah sedikit untukku bernafas..
And though the roand is long
I look to the sky i found , i stop and i won't fly
And i sing along, i sing along , then i sing along
Meski jalannya panjang..
Aku berusaha keluar dari tempat ini
Dari bayang bayangmu..
Berusaha terbang..
Menatap indahnya angkasa
Walaupun terasa begitu mustahil
I got all , i need when i got you and i
I look around me , and so sweet life
I'm stuck in the dark , you're my flashlight
You're gettin me , gettin me , through the night
Kupikir semuanya akan pergi meninggalkanku
Membiarkanku jatuh tersungkur ditempat ini
Ternyata tidak..
Kamu datang menghampiriku
Mensejajarakan tempatmu duduk
Yah, kamu memberikanku pencahayaan supaya aku bisa keluar
Dan bodohnya aku kembali "jatuh"
Lagi lagi aku "jatuh..
Sementara , luka lama belum sempat mengering
Kamu memberikanku semangat supaya bisa melewati malam
Kamu mengajarkan indahnya hidup
Karena kamu..
Cahayaku .. ( My flashlight)
☆☆☆
Langkahnya terhenti saat suara yang memanggil namanya dari kejauhan. Sementara laki-laki itu melanjutkan langkahnya terhenti tidak mengetahui orang yang memanggilnya.
"Arsya !!" Panggil Dibah dari kejauhan dan berlari mengejar langkah Arsya yang akan menghilang dibalik koridor
"Woy , gue manggil lo, lo kenapa engga nengok-nengok"gerutu Dibah mengatur nafasnya terengah sambil menepuk pundak Arsya
"Emang lo manggil gue ? Kiraiin gue yang manggil gue setan"jawab Arsya tertawa renyah
"Sial lo sya, gue manusia kali" balas Dibah sambil melipat tangannya diatas dada
"Hehe , emangnya ada apa sih ?"tanya Arsya kali ini
"Ada yang mau gue omongin penting, tapi.. ngominginnya jangan disini" jawab Dibah terlihat (serius). Sambil melihat sekelilingnya masih terlihat sepi
"Kenapa engga disini aja ?" Tanya Arsya mengerutkan dahinya.
"Yah , pokoknya jangan disinilah ! Lo banyak nanya sya , " jawab Dibah sedikit kesal
"Emang lo mau kemana sih ?"timpal Dibah kali ini
"Gue mau ke toilet , lo mah ikut gue ha ?" Jawab Arsya mengangkat kedua alisnya
"Dasar otak mesum lu syaaa-,"
"Yah lo lagian , gue mau ke kantin mau ikut ?"tawar Arsya
"Mau dong , tapi.."ucap Dibah menggantungkan kalimat terakhir dan berharap saja Arsya peka
"Iyah-iyah" Arsya menganggukan kepalanya mengerti maksud Dibah
☆☆☆
Kelak , kita akan mempunyai dunia masing-masing
Kamu dengan duniamu..
Tengah asyik mencari sekaligus menutup lukamu
Sedangkan aku ?, aku dengan duniaku..
Terus berusaha melupakanmu..
Waktua-sama dituntut untuk saling melepaskan satu sama lain.
Kamu dengan mudahnya melepaskan dan memuntahkanya..
Sementara aku ?
Tunggu !!!
bergulir begitu cepat,
Kita sam Aku lupa Puan ..
Aku punya cara sendiri untuk melupakanmu
Jangan kamu tanyakan mengenai caraku.
Biarkan semua seperti ini..
Suatu hari nanti, kita hanya akan
Menjadi orang asing..
Yang akan berpapasan di jalan
Tanpa menyapa atau tersenyum
Hanya lewat begitu saja..
Seperti..
Angin hendak menggugurkan daun-daun
Seperti..
Rindu membungkus malam
Semua akan baik-baik saja, Puan !
Percayalah...
Kamu akan bahagia dengan orang yang mampu menggantikan posisiku..
Kembalikan senyumanmu yang telah lama hilang..
Kamu jangan menangisiku.. Puan !!
Aku akan baik-baik saja,
Biarkan aku dalam keadaan seperti ini..
Aku sudah biasa bersahabat dengan luka..
Puan ..!! Percayalah denganku
Karena ..
Selalu ada kejutan disetiap malam..
☆☆☆
(Jessie J - Flaslight)
When tomorrow comes
I'll be on my own
Feeling frightened up
Then things i don't know
Selamanya akan seperti ini
Aku akan selalu disini.
Ditempat ini , tanpa ada cahaya sedikitpun
Sementara luka, mendekapku begitu kuat
Tanpa memberikanku celah sedikit untukku bernafas..
And though the roand is long
I look to the sky i found , i stop and i won't fly
And i sing along, i sing along , then i sing along
Meski jalannya panjang..
Aku berusaha keluar dari tempat ini
Dari bayang bayangmu..
Berusaha terbang..
Menatap indahnya angkasa
Walaupun terasa begitu mustahil
I got all , i need when i got you and i
I look around me , and so sweet life
I'm stuck in the dark , you're my flashlight
You're gettin me , gettin me , through the night
Kupikir semuanya akan pergi meninggalkanku
Membiarkanku jatuh tersungkur ditempat ini
Ternyata tidak..
Kamu datang menghampiriku
Mensejajarakan tempatmu duduk
Yah, kamu memberikanku pencahayaan supaya aku bisa keluar
Dan bodohnya aku kembali "jatuh"
Lagi lagi aku "jatuh..
Sementara , luka lama belum sempat mengering
Kamu memberikanku semangat supaya bisa melewati malam
Kamu mengajarkan indahnya hidup
Karena kamu..
Cahayaku .. ( My flashlight)
☆☆☆
Langkahnya terhenti saat suara yang memanggil namanya dari kejauhan. Sementara laki-laki itu melanjutkan langkahnya terhenti tidak mengetahui orang yang memanggilnya.
"Arsya !!" Panggil Dibah dari kejauhan dan berlari mengejar langkah Arsya yang akan menghilang dibalik koridor
"Woy , gue manggil lo, lo kenapa engga nengok-nengok"gerutu Dibah mengatur nafasnya terengah sambil menepuk pundak Arsya
"Emang lo manggil gue ? Kiraiin gue yang manggil gue setan"jawab Arsya tertawa renyah
"Sial lo sya, gue manusia kali" balas Dibah sambil melipat tangannya diatas dada
"Hehe , emangnya ada apa sih ?"tanya Arsya kali ini
"Ada yang mau gue omongin penting, tapi.. ngominginnya jangan disini" jawab Dibah terlihat (serius). Sambil melihat sekelilingnya masih terlihat sepi
"Kenapa engga disini aja ?" Tanya Arsya mengerutkan dahinya.
"Yah , pokoknya jangan disinilah ! Lo banyak nanya sya , " jawab Dibah sedikit kesal
"Emang lo mau kemana sih ?"timpal Dibah kali ini
"Gue mau ke toilet , lo mah ikut gue ha ?" Jawab Arsya mengangkat kedua alisnya
"Dasar otak mesum lu syaaa-,"
"Yah lo lagian , gue mau ke kantin mau ikut ?"tawar Arsya
"Mau dong , tapi.."ucap Dibah menggantungkan kalimat terakhir dan berharap saja Arsya peka
"Iyah-iyah" Arsya menganggukan kepalanya mengerti maksud Dibah
☆☆☆
Feelingnya selalu tepat, ada yang
mengamatinya dari belakang. Entah itu hanya
feelingnya atau benar. Siapa yang memperhatikan tempat duduknya hingga
membuatnya jadi salah tingkah seperti ini ?. Padahal dirinya sudah bersikap
seperti biasa mungkin karena orang inilah yang membuatnya seperti ini..
"Yuanita , ngerasa ada yang liatin kearah bangku kita engga ?"tanya Djuwita sambil memegang lengan Yuanita
"Emang iyah ta ? Kayanya engga deh" pikir Yuanita melihat ke arah bangku paling belakang untuk memastikan
'Masa iyah engga ngerasaiin ? Djuwita ngerasaiin tau bener Yuanita" ucap Djuwita menyakinkan Yuanita kalau perasaannya benar ada yang memperhatikannya
"Cuman perasaan Tata aja kali, "jawab Yuanita meyakinkan sahabatnya yang akrab disapa Tata
Waktu bergulir begitu cepat tidak terasa sudah memasuki Semester 2. Entah kenapa ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya. Mungkinkah ini yang namanya cinta ? Padahal , dulu sewaktu di pondok pesantren dirinya tidak merasakan seperti ini.
Apakah jatuh cinta itu benar benar indah ? Seperti orang bilang. Bahkan untuk mencicipi rasanya perasaan itu saja dirinya tidak pernah.
"Dibah " panggil Djuwita sambil menepuk pundak Dibah yang tengah berkutit memainkan laptopnya.
"Ada apa ta ? "Tanya Dibah menghentikan aktivitas berseluncur didunia maya
"Ada waktu engga ?, mau cerita nih" tanya Djuwita kali ini semakin resah
"Ada waktu ko ta "ucap Dibah memutar tempat duduknya menatap Djuwita
Dibah memerhatikan dengan seksama apa yang Djuwita ceritakan. Sesekali Dibah ingin ketawa saat Djuwita menceritakan itu semua Dibah menahan rasa tawa yang menggelitik isi perutnya.
☆☆☆
Arsya sudah berdiri dihadapan Dibah membawa 2 gelas moccachino dingin. Sementara Dibah masih tidak fokus terasa begitu gugup menceritakan semuanya. Pantaskah orang yang menyebarkan aib orang lain, disebut (sahabat) ?. Ralat. Bukan Aib, lebih tepatnya perasaan sahabtanya yang sedang dimabuk cinta. Perlukah seorang sahabat mengumbar cerita yang orang lain begitu memalukan yang hanya bisa mencintai seseorang diam-diam ?
"Yuanita , ngerasa ada yang liatin kearah bangku kita engga ?"tanya Djuwita sambil memegang lengan Yuanita
"Emang iyah ta ? Kayanya engga deh" pikir Yuanita melihat ke arah bangku paling belakang untuk memastikan
'Masa iyah engga ngerasaiin ? Djuwita ngerasaiin tau bener Yuanita" ucap Djuwita menyakinkan Yuanita kalau perasaannya benar ada yang memperhatikannya
"Cuman perasaan Tata aja kali, "jawab Yuanita meyakinkan sahabatnya yang akrab disapa Tata
Waktu bergulir begitu cepat tidak terasa sudah memasuki Semester 2. Entah kenapa ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya. Mungkinkah ini yang namanya cinta ? Padahal , dulu sewaktu di pondok pesantren dirinya tidak merasakan seperti ini.
Apakah jatuh cinta itu benar benar indah ? Seperti orang bilang. Bahkan untuk mencicipi rasanya perasaan itu saja dirinya tidak pernah.
"Dibah " panggil Djuwita sambil menepuk pundak Dibah yang tengah berkutit memainkan laptopnya.
"Ada apa ta ? "Tanya Dibah menghentikan aktivitas berseluncur didunia maya
"Ada waktu engga ?, mau cerita nih" tanya Djuwita kali ini semakin resah
"Ada waktu ko ta "ucap Dibah memutar tempat duduknya menatap Djuwita
Dibah memerhatikan dengan seksama apa yang Djuwita ceritakan. Sesekali Dibah ingin ketawa saat Djuwita menceritakan itu semua Dibah menahan rasa tawa yang menggelitik isi perutnya.
☆☆☆
Arsya sudah berdiri dihadapan Dibah membawa 2 gelas moccachino dingin. Sementara Dibah masih tidak fokus terasa begitu gugup menceritakan semuanya. Pantaskah orang yang menyebarkan aib orang lain, disebut (sahabat) ?. Ralat. Bukan Aib, lebih tepatnya perasaan sahabtanya yang sedang dimabuk cinta. Perlukah seorang sahabat mengumbar cerita yang orang lain begitu memalukan yang hanya bisa mencintai seseorang diam-diam ?
"Uy, ini es nya"ucap Arsya sambil memberikan es yang baru dipesannya
Sementara Dibah hanya memberikan anggukan mengerti. Setelah itu Arsya kembali lagi pergi entah kemana dia pergi tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
"Dibah janji yah jangan kasih tau ke orangnya,"ucap Djuwita mengakhiri ucapannya
"Iyah Djuwita Farhani, Dibah janji engga bakal kasih tau ke siapa siapa"
Dibah masih mengingat ucapan yang terakhir kali diucapkan Djuwita. Dibah masih mengamati 2 gelas moccachino yang dipesan Arsya sudah menggoda indera penciumannya.
Arsya datang kembali membawa 2 piring berisi siomay. Aromanya begitu menggodanya tanpa disuruh Dibah langsung melahap isi piring tersebut. Arsya hanya menatap Dibah dengan heran.melahap isi piring tanpa permisi terlebih dahulu.
"Uy , emang gue udah nyuruh lo makan apa ?"tanya Arsya begitu terkejut melihat Dibah langsung melahap semuanya.
"Loh , bukannya lo neraktir gue yah ?'pikir Dibah mengusap sisa bumbu siomay dengan bajunya.
"Iyah , tapi lo belom cerita ke gue"
"Cerita apa sih syaa -, udahlah gue mau makan dulu"jawab Dibah tanpa ada perasaan bersalah.
"Okee kalau gitu , lo yang bayar yah gue mau ke kelas"ucap Arsya mengangkat tubuhnya hendak meninggalkan Dibah tengah asyik melahap sepiring siomay
"Yaelah .. lo baper amat sihh" sindir Dibah
"Siapa yang baper sih ?"jawab Arsya datar
"Oke deh , gue cerita sama lo , tapi lo janji jangan bilang siapa siapa dan jangan menjauh sama dia"ancamnya
☆☆☆
Laki laki itu tengah mencari namanya
didaftar kelas baru. Padahal Arsya sudah bisa beradaptasi dengan teman teman
lamanya. Dengan teman sebangkunya kenapa ada rolling kelas. Bagaimana jika
Arsya tidak menemukan teman yang bisa mengerti pemikirannya nanti ?
"Dimana coba kelasnya ?"gumam Arsya sedikit kesal tengah mencari daftar puluhan siswa.
Tiba-tiba..
Saat Arsya mencari namanya di papan pengumuman. Tanpa disenganja tangannya menyentuh lengan halus entah itu milik siapa lengan halus tersebut.
"Ehh.. maaf engga sengaja" ucap Arsya meminta maaf lebih dahulu
"Engga apa apa kok" balasnya sambil tersenyum simpul
Tidak membutuhkan waktu lama lagi. Perempuan tersebut langsung menemukan namanya di mading dan langsung menuju ke kelas barunya. Sementara Arsya masih mencari namanya yang tidak ada. Mulai muncul rasa frustasi, Akhirnya Arsya menemukan namanya di Kelas XI Ips 2
Arsya langsung menuju ke kelas XI IPS 2 . Langkahnya terhenti saat melihat ruang kelas XI IPS 2 ada perempuan yang tadi lengannya tanpa sengaja tersentuh olehnya. Perempuan tersebut masih sibuk dengan gadgetnya, Arsya masih mengamati isi kelas. Benar saja, tidak ada yang Arsya kenal didalam kelas ini. Hanya ada beberapa temannya saat masih dikelas IPS 4 dulu.
Barisan bangku depan sudah terisi. itu berarti Arsya telat memilih bangku paling depan. Hanya ada satu bangku barisan paling belakang. Arsya langsung melempar tasnya ke bangku paling belakang.
"Sepertinya kenal sama tas ini" Batin Arsya
Arsya masih mengamati tas hitam dengan nama brand ternama jeansport. Arsya masih mengingat siapa pemilik tas ini.
Fachri Albar
Iyah tas ini milik temannya saat masih duduk di ips4. Untung saja Arsya dengannya masih satu kelas kalau tidak mungkin arsya disini hanya menjai orangasing yang tidak mengenal siapapun.
"Dimana coba kelasnya ?"gumam Arsya sedikit kesal tengah mencari daftar puluhan siswa.
Tiba-tiba..
Saat Arsya mencari namanya di papan pengumuman. Tanpa disenganja tangannya menyentuh lengan halus entah itu milik siapa lengan halus tersebut.
"Ehh.. maaf engga sengaja" ucap Arsya meminta maaf lebih dahulu
"Engga apa apa kok" balasnya sambil tersenyum simpul
Tidak membutuhkan waktu lama lagi. Perempuan tersebut langsung menemukan namanya di mading dan langsung menuju ke kelas barunya. Sementara Arsya masih mencari namanya yang tidak ada. Mulai muncul rasa frustasi, Akhirnya Arsya menemukan namanya di Kelas XI Ips 2
Arsya langsung menuju ke kelas XI IPS 2 . Langkahnya terhenti saat melihat ruang kelas XI IPS 2 ada perempuan yang tadi lengannya tanpa sengaja tersentuh olehnya. Perempuan tersebut masih sibuk dengan gadgetnya, Arsya masih mengamati isi kelas. Benar saja, tidak ada yang Arsya kenal didalam kelas ini. Hanya ada beberapa temannya saat masih dikelas IPS 4 dulu.
Barisan bangku depan sudah terisi. itu berarti Arsya telat memilih bangku paling depan. Hanya ada satu bangku barisan paling belakang. Arsya langsung melempar tasnya ke bangku paling belakang.
"Sepertinya kenal sama tas ini" Batin Arsya
Arsya masih mengamati tas hitam dengan nama brand ternama jeansport. Arsya masih mengingat siapa pemilik tas ini.
Fachri Albar
Iyah tas ini milik temannya saat masih duduk di ips4. Untung saja Arsya dengannya masih satu kelas kalau tidak mungkin arsya disini hanya menjai orangasing yang tidak mengenal siapapun.
“welcome back nyet”suara itu terdengar
memecah gendang telinga Arsya. Laki
laki bertubuh tegap itu datang sambil
membawa sebotol air mineral.
“apaan sih lo, gue bukan
monyet”balas Arsya sedikit
ketus tidak terima dipanggil nama hewan oleh Fachri
“yaelah.. just kidding, mau engga
?”tawar Fachri sambil memberikan sebotol air mineral baru dibelinya
Arsya hanya membalasnya dengan
gelengan kepala. Sementara padangannya masih mengamti teman barunya yang sama
sekali tidak ia kenal satu pun kecuali fachri
“lo kenal semuanya ?”bisik arsya
kali ini
“kenal banyak yang dulunya satu SMP
sama gue"jawab Fachri sebelum menenggak air mineral hingga tersisa
setangah botol.
Arsya masih mengamati isi ruangan ini dan berusaha beradaptasi lebih cepat dengan suasana kelas barunya. Bel sekolah terdengar berharap saja hari pertama masuk sekolah tidak ada kegiatan belajar mengajar membuat Arsya merasa jenuh.
☆☆☆
Arsya masih mengamati isi ruangan ini dan berusaha beradaptasi lebih cepat dengan suasana kelas barunya. Bel sekolah terdengar berharap saja hari pertama masuk sekolah tidak ada kegiatan belajar mengajar membuat Arsya merasa jenuh.
☆☆☆
Setiap waktu , setiap hari , setiap
minggu Arsya mengamati perempuan yang tempo hari bertemu di mading sekolah.
Perempuan itu duduk dibarisan bangku kedua dekat dengan meja guru.
Arsya mengamatinya secara menyeluruh mulai dari bentuk wajahnya, cara dia tersenyum , bahkan dia terlihat cantik dengan menggunakan kacamata. Hal yang tidak Arsya ketahui lebih jauh kalau perempuan itu menyukai tim sepak bola yang sama dengannya yaitu club sepak bola dari Negeri Ratu Elizabeth yah Manchester United. Arsya mengetahui kalau perempuan itu menyukai Manchester United.
☆☆☆
"Boleh aku menitipkan Rindu untuk kali ini saja ? Setelah aku kembali lagi, aku akan gantikan dengan Cinta. Bolehkah. Puan ?”
Bagian terasa sesak saat kita harus menghilangkan rasa yang baru saja disemai. Benih yang tidak seberapa kini, harus dilenyapkan begitu saja ? Apakah benih itu susah untuk menjadi kembang ? Apakah kembang itu tidak menarik ?.
"Sam , lo ngincer yang mana deh" sindir Sedny
"Yang itu tuh , yang duduk dibangku barisan nomer dua"timpal Adi yang dulu teman dekat Samuel sewaktu kelas 10
Sementara Samuel hanya tersenyum malu dan tidak menanggapi ucapannya. Mengunci mulutnya rapat rapat, memang benar kalau Samuel menyukai Djuwita sejak Djuwita pertama kali pindah. Sampai sekarang pun perasaan Samuel masih ada.
Arsya mengetahuinya secara diam diam dan mendengarkan ledekan yang menyinggung Samuel. Sementara hatinya terasa sakit saat mendengarkan ledekan tersebut. Seharusnya Arsya sadar kalau dirinya tidak seberapa dengan Samuel. Samuel sudah pertama kali memperjuangkan Djuwita lebih awal. Sementara dirinya ?
Ayolah.. ini hanya perasaan konyol yang tidak masuk akal betul. Bagaimana bisa perasaan itu tumbuh dalam waktu yang singkat. ? Bahkan kamu sendiri tidak mengenal lebih jauh sisi buruknya. Lantas apa harus dibiarkan lenyap begitu saja seperti angin hendak menggugurkan daun daun ?
☆☆☆
Arsya mengamatinya secara menyeluruh mulai dari bentuk wajahnya, cara dia tersenyum , bahkan dia terlihat cantik dengan menggunakan kacamata. Hal yang tidak Arsya ketahui lebih jauh kalau perempuan itu menyukai tim sepak bola yang sama dengannya yaitu club sepak bola dari Negeri Ratu Elizabeth yah Manchester United. Arsya mengetahui kalau perempuan itu menyukai Manchester United.
☆☆☆
"Boleh aku menitipkan Rindu untuk kali ini saja ? Setelah aku kembali lagi, aku akan gantikan dengan Cinta. Bolehkah. Puan ?”
Bagian terasa sesak saat kita harus menghilangkan rasa yang baru saja disemai. Benih yang tidak seberapa kini, harus dilenyapkan begitu saja ? Apakah benih itu susah untuk menjadi kembang ? Apakah kembang itu tidak menarik ?.
"Sam , lo ngincer yang mana deh" sindir Sedny
"Yang itu tuh , yang duduk dibangku barisan nomer dua"timpal Adi yang dulu teman dekat Samuel sewaktu kelas 10
Sementara Samuel hanya tersenyum malu dan tidak menanggapi ucapannya. Mengunci mulutnya rapat rapat, memang benar kalau Samuel menyukai Djuwita sejak Djuwita pertama kali pindah. Sampai sekarang pun perasaan Samuel masih ada.
Arsya mengetahuinya secara diam diam dan mendengarkan ledekan yang menyinggung Samuel. Sementara hatinya terasa sakit saat mendengarkan ledekan tersebut. Seharusnya Arsya sadar kalau dirinya tidak seberapa dengan Samuel. Samuel sudah pertama kali memperjuangkan Djuwita lebih awal. Sementara dirinya ?
Ayolah.. ini hanya perasaan konyol yang tidak masuk akal betul. Bagaimana bisa perasaan itu tumbuh dalam waktu yang singkat. ? Bahkan kamu sendiri tidak mengenal lebih jauh sisi buruknya. Lantas apa harus dibiarkan lenyap begitu saja seperti angin hendak menggugurkan daun daun ?
☆☆☆
Waktu begitu cepat berlalu tanpa
terasa sudah memasuki akhir semester 2. Arsya mungkin sudah bisa menghilangkan
perasaannya seiring berjalannya waktu. Ternyata tidak , tanpa Arsya sadar Djuwita
memperhatikan Arsya begitu serius saat Arsya tampil persentasi.
Djuwita selalu memperhatikannya dengan seksama. Tidak lupa dengan cara dia memepersentasikan dengan gaya khasnya.. Hingga membuat Djuwita merasa gagal kalau dirinya sudah mampu melupakan Arsya begitu saja.
Setiap hari , setiap kali Arsya tampil mempersentasikan hasil kerjanya bersama kelompoknya Djuwita selalu saja memperhatikan.. lebih tepatnya memperhatikan Arsya.
Apakah ini yang dinamakan cinta lama yang tumbuh kembali ?.
Atau..
Hanya sebatas rasa yang tidak tau apa tujuannya.. ?
☆☆☆
Begitu bodohnya Djuwita menyimpan rasa dan selalu memperhatikan dirinya. Jelas jelas Arsya sudah memiliki perempuan lain selain dirinya. Bahkan, Djuwita tau kalau perempuan yang Arsya cintai tidak mencintai sebaliknya.
Djuwita selalu memperhatikannya dengan seksama. Tidak lupa dengan cara dia memepersentasikan dengan gaya khasnya.. Hingga membuat Djuwita merasa gagal kalau dirinya sudah mampu melupakan Arsya begitu saja.
Setiap hari , setiap kali Arsya tampil mempersentasikan hasil kerjanya bersama kelompoknya Djuwita selalu saja memperhatikan.. lebih tepatnya memperhatikan Arsya.
Apakah ini yang dinamakan cinta lama yang tumbuh kembali ?.
Atau..
Hanya sebatas rasa yang tidak tau apa tujuannya.. ?
☆☆☆
Begitu bodohnya Djuwita menyimpan rasa dan selalu memperhatikan dirinya. Jelas jelas Arsya sudah memiliki perempuan lain selain dirinya. Bahkan, Djuwita tau kalau perempuan yang Arsya cintai tidak mencintai sebaliknya.
Djuwita menggigit bibir dalamnya
berusaha menenangkan apa yang terjadi padanya. Dan berharap saja, semua akan
baik baik saja.
"Ta , kenapa sih setiap kali Arsya tampil persentasi di depan , Dibah lihatin Djuwita selalu fokus" tanya Dibah sambil membuka bekal nasinya
"Uhuk !!! , emang iyah ? Dibah jangan setau gitu deh" elak Djuwita begitu tersentak mendengar ucapan Dibah
"Ta, kenapa ? Engga apa apa kan ? Pelan pelan dong kalau makan" ucap Dibah sambil menyodorkan sebotol air mineral dari dalam tasnya
"Djuwita engga apa apa kok Dib, Tata sendiri engga tau kenapa bisa kaya gini" jawab Djuwita membersihkan sisa makanan yang tersisa di mulutnya dengan tissue.
"Apa Djuwita suka sama Arsya ?"tanya Dibah kali ini yang membuat Djuwita terdiam sejenak mencerna pertanyaam Dibah
Hening..
"Tata engga mau tergesa gesa Dib , lagi pula Tata belum mengenal gitu gituan , waktu di pondok aja engga pernah ngerasaiin kaya gitu gituan" ucap Djuwita berharap saja jawabnya dapat diterima Dibah
"Hmmp-, yahh itu sih terserah Djuwita aja sih?"
Djuwita tidak menjawab pertanyaan Dibah yang terakhir hanya menatap tatapan kosong.
Tepat di kegiatan Classmeet, Tim futsal kelasnya akan tanding dibabak perempat final. Djuwita dan dibah menyisahkan waktu luangnya melihat tim kelasnya tanding. Toh tidak ada salahnya bukan , memberikan dukungan ?.
Tanpa disengaja , Djuwita mengambil gambar Arsya sedang bertanding secara diam diam tanpa sepengetahuan Dibah. Arsya begitu tampil luar biasa menurutnya, Namun sayang tim kelasnya kalah dalam adu penalti.
Tapi tetap saja , Djuwita selalu memberikan semangat pada Tim kelasnya termasuk..memberikan semangat pada Arsya.
☆☆☆
Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Kini , Arsya dan Djuwita sudah naik kelas 12 itu berarti bagaimanapun caranya perasaan konyol itu harus dilenyapkan bagaimanapun caranya.
Sial bagi Arsya , Arsya sekarang sekelas dengan mantannya yang sudah melukai hatinya sewaktu kelas 11. Sementara Djuwita sekarang kelas 12 IIS 3. Mungkin saja bisa lebih mudah untuk dilupakan semuanya.
-
-
-
☆☆☆
"Sya , lo janji yah engga bakalan jauhin dia "ucap Dibah menghentikan makannya dan langsung berterus terang
"Ta , kenapa sih setiap kali Arsya tampil persentasi di depan , Dibah lihatin Djuwita selalu fokus" tanya Dibah sambil membuka bekal nasinya
"Uhuk !!! , emang iyah ? Dibah jangan setau gitu deh" elak Djuwita begitu tersentak mendengar ucapan Dibah
"Ta, kenapa ? Engga apa apa kan ? Pelan pelan dong kalau makan" ucap Dibah sambil menyodorkan sebotol air mineral dari dalam tasnya
"Djuwita engga apa apa kok Dib, Tata sendiri engga tau kenapa bisa kaya gini" jawab Djuwita membersihkan sisa makanan yang tersisa di mulutnya dengan tissue.
"Apa Djuwita suka sama Arsya ?"tanya Dibah kali ini yang membuat Djuwita terdiam sejenak mencerna pertanyaam Dibah
Hening..
"Tata engga mau tergesa gesa Dib , lagi pula Tata belum mengenal gitu gituan , waktu di pondok aja engga pernah ngerasaiin kaya gitu gituan" ucap Djuwita berharap saja jawabnya dapat diterima Dibah
"Hmmp-, yahh itu sih terserah Djuwita aja sih?"
Djuwita tidak menjawab pertanyaan Dibah yang terakhir hanya menatap tatapan kosong.
Tepat di kegiatan Classmeet, Tim futsal kelasnya akan tanding dibabak perempat final. Djuwita dan dibah menyisahkan waktu luangnya melihat tim kelasnya tanding. Toh tidak ada salahnya bukan , memberikan dukungan ?.
Tanpa disengaja , Djuwita mengambil gambar Arsya sedang bertanding secara diam diam tanpa sepengetahuan Dibah. Arsya begitu tampil luar biasa menurutnya, Namun sayang tim kelasnya kalah dalam adu penalti.
Tapi tetap saja , Djuwita selalu memberikan semangat pada Tim kelasnya termasuk..memberikan semangat pada Arsya.
☆☆☆
Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Kini , Arsya dan Djuwita sudah naik kelas 12 itu berarti bagaimanapun caranya perasaan konyol itu harus dilenyapkan bagaimanapun caranya.
Sial bagi Arsya , Arsya sekarang sekelas dengan mantannya yang sudah melukai hatinya sewaktu kelas 11. Sementara Djuwita sekarang kelas 12 IIS 3. Mungkin saja bisa lebih mudah untuk dilupakan semuanya.
-
-
-
☆☆☆
"Sya , lo janji yah engga bakalan jauhin dia "ucap Dibah menghentikan makannya dan langsung berterus terang
"Iyah ,gue janji Dibah emangnya kenapa sih ?"tanya Arsya yang tidak tahu duduk permasalahannya
"Djuwita suka sama lo Sya"Ucap Dibah yang membuat Arsya mangap
SKAK MAT !!
"kenapa bisa begitu ? , lo engga bohong kan ? Atau lo engga lagi bercanda kan ?"tanya Arsya membrodol banyak pertanyaan
"Djuwita sendiri yang bilang ke gue , gue juga liat kalau setiap kali lo persentasi kedepan Djuwita selalu liatin lo"ucap dibah untuk meyakinkan Arsya
Bagaimana hal ini bisa terjadi ? Bagaimana dengan luka lama ? Sementara ada orang baru yang datang memberi satu titik pencahayaan.
☆☆☆
Ternyata diluar dugaan yang Djuwita pikirkan Arsya mendekati dirinya entah untuk tujuan apa Arsya kembali mendekati dirinya berusaha masuk lebih dalam kedalam hidupnya.
Ini sudah masuk bulan ke-3 Arsya mendekatinya. Arsya selalu berusaha memberikan kabar ke Djuwita setiap hari. Bahkan Arsya selalu menunggunya ditempat parkiran dan selalu menunggunya setelah pulang sekolah hanya karena ingin pulang bareng dengannya.
Tanpa sadar
Djuwita merasakan kembali apa yang dulu ia rasakan.padahal Djuwita ingin
melupakannya ternyata tidak semudah yang ia pikirkan. Karena ada bagian yang
tidak ia ketahui lebih dalam lagi.
Nyaman
Yah , Arsya memberikan rasa itu pada Djuwita. Selalu menceritakan kejadian unik yang pernah Arsya alami. Djuwita dengan antusiasnya mendengarkan ceritanya. Bahkan , Djuwita pun ikut tertawa bersama dan melupakan semua masalahnya.
Bersama Arsya lah Djuwita merasakan kebahagian lebih. Apakah Arsya orang yang tepat menjaganya dalam waktu yang lama ? Apakah Arsya orang yang tepat menjadi rumah untuknya selalu memberikan rasa nyaman lebih ?
Benarkah ini yang dinamakan cinta .. ?
Apakah Djuwita (jatuh) cinta kepada Arsya ?
☆☆☆
Bagian mana yang tidak kalian suka dari Djuwita ? Tidak ada !. Kalau Arsya pikir Djuwita paket lengkap. Bagaimana bisa disebut paket lengkap, Dia cantik ? Pintar ? Pandai mengaji ? Luar biasa bukan ?
Seperti biasa Arsya selalu menunggu Djuwita didepan kelasnya. Djuwita tengah merapihkan bukunya dan keluar kelas dengan memberikan senyuman. Yah senyuman itu untuknya.. untuk Arsya lebih tepatnya.
"Ayo syaa-," ajak Djuwita sambil mengencangkan tali sepatunya
Sementara Arsya hanya menganggukan kepala memperhatikannya.
“Ta , "ucap Arsya membuka obrolan
"Iyah , ada apa Sya" tanya Djuwita menghentikan langkahnya
"Ummp , selamat yah" ucap Arsya dan terlihat senyum yang mengembang dari wajahnya
"Selamat ? "Jawab Djuwita sedikit bingung dengan ucapan Arsya yang tidak ia mengerti maksudnya
"Iyah , tata juara 1 kan lomba hafiz Al-Quran" sambung Arsya kali ini
"Oh. Yang itu , iyah sama sama." Balasnya tak ketinggalan senyuman yang selalu Arsya tak mampu melupakannya
"Kapan kapan boleh kali ajarin" ledek Arsya berharap saja mau diajarin menghafal kitab suci Al-Quran
"Boleh , kalau Arsya udah hafal udah enak kok" ucap Djuwita memberikan
"Janji yah bakalan ajarin" tanya Arsya untuk meyakinkan Djuwita
Djuwita hanya memberikan senyuman simpul. Mungkin itulah jawaban yang diberikan Djuwita. Ada raut wajah bahagia yang terlihat dari wajah Arsya dan Djuwita. Bukan karena mereka selalu pulang bareng ? Melainkan rasa nyaman itulah yang merekatkannya.
"Andai saja , jika dahulu kamu mengatakannya. Mungkin aku tidak akan pernah mengenal luka yang menyiksa relung ~ Arsya"
☆☆☆
Hari ini Arsya akan menemani Djuwita dan teman temannya menonton bioskop. Rencana ini sudah di rencanakan mereka jauh-jauh hari. Bahkan, Arsya lebih memilih jalan bersama Djuwita dibandingkan mengerjakan tugas Kelompok. Yah walaupun terbilang egois. Arsya tidak mengambil pusing ataupun menyesal dengan keputusannya.
Film Spectre yang dibintangi Actor ternama siapa lagi kalau bukan Daniel Craig Agen rahasia 007 ingin menumpas kejahatan disalah satu Negara Amerika Latin. Spectre bukanlah list film yang mereka pilih sebelumnya. Seharusnya, kita memilih untuk menonton film “The Conjuring”
Arsya memandangi Djuwita dengan kacamata yang menempel diwajahnya. Kadang Arsya dan Djuwita saling menatap satu sama lain dalam waktu singkat dan memalingkannya menonton film tersebut.
Setelah pulang dari Mall Arsya berniat mengantarkan Djuwita pulang kerumahanya. Namun tiba-tiba saja ada peristiwa diluar dugaan.
Nyaman
Yah , Arsya memberikan rasa itu pada Djuwita. Selalu menceritakan kejadian unik yang pernah Arsya alami. Djuwita dengan antusiasnya mendengarkan ceritanya. Bahkan , Djuwita pun ikut tertawa bersama dan melupakan semua masalahnya.
Bersama Arsya lah Djuwita merasakan kebahagian lebih. Apakah Arsya orang yang tepat menjaganya dalam waktu yang lama ? Apakah Arsya orang yang tepat menjadi rumah untuknya selalu memberikan rasa nyaman lebih ?
Benarkah ini yang dinamakan cinta .. ?
Apakah Djuwita (jatuh) cinta kepada Arsya ?
☆☆☆
Bagian mana yang tidak kalian suka dari Djuwita ? Tidak ada !. Kalau Arsya pikir Djuwita paket lengkap. Bagaimana bisa disebut paket lengkap, Dia cantik ? Pintar ? Pandai mengaji ? Luar biasa bukan ?
Seperti biasa Arsya selalu menunggu Djuwita didepan kelasnya. Djuwita tengah merapihkan bukunya dan keluar kelas dengan memberikan senyuman. Yah senyuman itu untuknya.. untuk Arsya lebih tepatnya.
"Ayo syaa-," ajak Djuwita sambil mengencangkan tali sepatunya
Sementara Arsya hanya menganggukan kepala memperhatikannya.
“Ta , "ucap Arsya membuka obrolan
"Iyah , ada apa Sya" tanya Djuwita menghentikan langkahnya
"Ummp , selamat yah" ucap Arsya dan terlihat senyum yang mengembang dari wajahnya
"Selamat ? "Jawab Djuwita sedikit bingung dengan ucapan Arsya yang tidak ia mengerti maksudnya
"Iyah , tata juara 1 kan lomba hafiz Al-Quran" sambung Arsya kali ini
"Oh. Yang itu , iyah sama sama." Balasnya tak ketinggalan senyuman yang selalu Arsya tak mampu melupakannya
"Kapan kapan boleh kali ajarin" ledek Arsya berharap saja mau diajarin menghafal kitab suci Al-Quran
"Boleh , kalau Arsya udah hafal udah enak kok" ucap Djuwita memberikan
"Janji yah bakalan ajarin" tanya Arsya untuk meyakinkan Djuwita
Djuwita hanya memberikan senyuman simpul. Mungkin itulah jawaban yang diberikan Djuwita. Ada raut wajah bahagia yang terlihat dari wajah Arsya dan Djuwita. Bukan karena mereka selalu pulang bareng ? Melainkan rasa nyaman itulah yang merekatkannya.
"Andai saja , jika dahulu kamu mengatakannya. Mungkin aku tidak akan pernah mengenal luka yang menyiksa relung ~ Arsya"
☆☆☆
Hari ini Arsya akan menemani Djuwita dan teman temannya menonton bioskop. Rencana ini sudah di rencanakan mereka jauh-jauh hari. Bahkan, Arsya lebih memilih jalan bersama Djuwita dibandingkan mengerjakan tugas Kelompok. Yah walaupun terbilang egois. Arsya tidak mengambil pusing ataupun menyesal dengan keputusannya.
Film Spectre yang dibintangi Actor ternama siapa lagi kalau bukan Daniel Craig Agen rahasia 007 ingin menumpas kejahatan disalah satu Negara Amerika Latin. Spectre bukanlah list film yang mereka pilih sebelumnya. Seharusnya, kita memilih untuk menonton film “The Conjuring”
Arsya memandangi Djuwita dengan kacamata yang menempel diwajahnya. Kadang Arsya dan Djuwita saling menatap satu sama lain dalam waktu singkat dan memalingkannya menonton film tersebut.
Setelah pulang dari Mall Arsya berniat mengantarkan Djuwita pulang kerumahanya. Namun tiba-tiba saja ada peristiwa diluar dugaan.
Motor yang
ditumpangi Djuwita terjatuh dijalan yang
berlubang. Arsya dan Cici langsung membantunya berharap saja tidak ada luka
serius.
"Djuwita , Yuanita , engga apa apa?" Tanya Arsya mulai khawatir dengan keadaan mereka berdua
"Engga apa apa kok sya , Tata tuh sya , tadi hampir kena motor lain"Jawab Yuanita membersihkan pakaiannya
"Tata engga apa apa kan?"tanya Arsya terlihat mulai panik dengan keadaannya
Sementara Djuwita masih dengan tatapan kosong. Terlihat shock dari raut wajahnya. Cici dan Yuanita menepikan sepeda motornya di bahu jalan.
"Ta , minum dulu nih"sambung Arsya sambil memberikan sebotol air mineral
"Djuwita , Yuanita , engga apa apa?" Tanya Arsya mulai khawatir dengan keadaan mereka berdua
"Engga apa apa kok sya , Tata tuh sya , tadi hampir kena motor lain"Jawab Yuanita membersihkan pakaiannya
"Tata engga apa apa kan?"tanya Arsya terlihat mulai panik dengan keadaannya
Sementara Djuwita masih dengan tatapan kosong. Terlihat shock dari raut wajahnya. Cici dan Yuanita menepikan sepeda motornya di bahu jalan.
"Ta , minum dulu nih"sambung Arsya sambil memberikan sebotol air mineral
“ engga apa apa kok, Djuwita sama Arsya yah"tanya Djuwita kali ini masih terlihat Shock
"Hmmp"
Setelah memulihkan keadaanya semakin membaik. Arsya dan Djuwita bergoncengan berdua. Mungkin Arsya mengharapkan moment ini. Moment yang sudah lama ia impikan sebelumnya. Sepeda motor Arsya membelah jalanan ibukota. Jalanan kali ini terlihat licin setelah hujan mengguyur.
"Syaa, emang mau anterin sampe rumah ?"tanya Djuwita
"Iyah Ta , lihat sendiri kan tadi" jawab Arsya
☆☆☆
Benar saja ,
Apa yang Arsya pikirkan benar. Apakah seorang laki laki akan membiarkan orang
yang disayangi pulang sendirian begitu saja ? Tentu Arsya tidak ingin melakukan
hal itu. mungkin saja akan ada kejadian diluar dugaan kita semua saat kita
tidak mengetahuinya.
Arsya membuntuti Djuwita dari belakang menjadi pengawalnya. Sementara malam sudah semakin larut, setiba dirumah Djuwita, Arsya langsung pamit pulang. Hanya itu tujuan Arsya yang sebenarnya memastikan Djuwita baik baik saja sampai kerumah. Tidak lebih.
"Ta , udah malem nih pulang dulu yah"Pamit Arsya menyalakan mesin motornya
Arsya membuntuti Djuwita dari belakang menjadi pengawalnya. Sementara malam sudah semakin larut, setiba dirumah Djuwita, Arsya langsung pamit pulang. Hanya itu tujuan Arsya yang sebenarnya memastikan Djuwita baik baik saja sampai kerumah. Tidak lebih.
"Ta , udah malem nih pulang dulu yah"Pamit Arsya menyalakan mesin motornya
"Iyah Sya , terima kasih yah udah dianterin sampe rumah jadi engga enak gini"ucapnya tak ketinggalan senyuman mengembang diwajahnya
"Engga apa apa kok Ta ,"
"Hmmp, Hati hati yah "ucap Djuwita sambil melambaikan tangannya
Biarkan seperti ini , Seperti malam ini yang selalu memberikan kejutan disetiap malamnya. Tanpa ada cahaya rembulan pun.. selamanya akan tetap indah. Cukup kamu menemaniku , tertawa bersamaku melepaskan semua beban yang begitu melelahkan mungkin akan terasa berbeda bukan ?.
☆☆☆
Mega lebih dulu menyapa semesta memberikan kehangatannya. Kelabu malam berubah menjadi rona biru. Burung burung bernyanyi dengan merdunya menyambut pagi ini dengan penuh semangat.
Sebuah bingkisan sudah disiapkannya dari kemarin. Bahkan , Arsya tidak mengetahui kalau Djuwita ingin memberikan kado Ulang Tahun untuknya.
"Sya , tutup mata deh"pinta Djuwita sambil nyengir kuda sementara kadonya di peganya dibalik tubuhnya
"Ada apa sih ta ?"Tanya Arsya tidak mengerti maksud dan tujuan Djuwita menyuruhnya menutu matanya
"Udah tutup aja , engga usah banyak nanya"pinta Djuwita
Arsya memberi isyarat mengerti. Sementara Djuwita masih menantap wajah Arsya yang terlihat lucu jika ia menutup matanya
"Udah belom Ta ?"tanya Arsya sudah tidak sabar sementara matanya masih tertutup rapat
"Belom ,"jawab Djuwita tertawa renyah dalam hati
1
2
3
Taraaaaa !!
Sebuah bingkisan terbungkus rapih. Bingkisannya terlihat lucu dan menarik ada kesan tersendiri dari bungkusnya mungkin Djuwita menyukai Gambar dari bingkis ini.
"Ini apa Ta?"tanya Arsya kali ini saat melihat sebuah bingkisan terpajang tepat didepan wajahnya
2
3
Taraaaaa !!
Sebuah bingkisan terbungkus rapih. Bingkisannya terlihat lucu dan menarik ada kesan tersendiri dari bungkusnya mungkin Djuwita menyukai Gambar dari bingkis ini.
"Ini apa Ta?"tanya Arsya kali ini saat melihat sebuah bingkisan terpajang tepat didepan wajahnya
"Buka aja"suruh Djuwita tertawa renyah membuat rasa penasaran Arsya tidak terbendung lagi.
Arsya terkejut saat melihat sebuah kitab suci Al-Quran berukuran kecil dengan warna orange berada didalamnya. Arsya masih tidak mengerti maksud dari Djuwita yang sebenarnya.
"Katanya Arsya pengen banget kan , belajar Al-Quran. Ini ada Al-Quran dari Tata," ucap Djuwita
".."
"Oh..iyah , Anggap aja ini kado dari Djuwita , maaf engga bisa kasih apa apa soalnya Djuwita bingung" tambahnya kembali
"Kado ? Siapa yang ulang tahun ?"tanya Arsya kali masih belom paham
"Ihhh.. jangan pura pura bego deh , Hari ini Arsya ulang tahun kan?"
"Engga tuh"elakk Arsya sambil menjulurkan lidahnya
"Nyebelin tau gak ?" gerutu Djuwita dengan kesalnya
"Iyah iyah , Terima kasih yah Djuwitaku" ucap Arsya sambil memujinya
Sementara Djuwita hanya tersenyum malu mendapat pujian dari Arsya. Tidak biasanya Ia mendapatkan pujian dari lawan jenis.
"ajarin dong" ucap Arsya memberikan kode berharap saja Djuwita mau mengajarkannya membaca kitab suci Al-Quran
"Ajarin apa?" Tanya Djuwita memnyipitkan kedua bola matanya.
"Ajarin Arsya baca Al-Quran," jawab Arsya dengan senyuman sumringah
"Engga boleh , harus ambil Air Wudhu dulu" tandasnya
"Tapi.. kan Arsya engga kotor Ta"
"Tetep aja, mau Dita ajarin engga nih?"
Secepat mungkin Arsya mengambil Air wudhu. Sementara Djuwita masih menunggunya sesekilas menatap Arsya mengambil air wudhu.
"Udah nih" ucap Arsya yang terlihat wajahnya basah terkena Air wudhu
"Hmmmp, janji yah" seru Djuwita kali ini "janji apa lagi sih" jawab Arsya mengerutkan dahinya
"Iyah , kalau baca Al-Quran niatnya karena Allah SWT bukan karena pengen dilihat atau dipuji orang lain"ujarnya
"Iyah Djuwita"
Arsya mengikuti ucapan Djuwita melantunkan ayat suci Al-Quran. Sesekali Djuwita memberikan penjelasan tanda bacanya dengan teliti. Arsya mendengarkannya dengam saksama hanya bisa memberikan anggukan kepala kalau dirinya paham apa yang Djuwita jelaskan
☆☆☆
Djuwita
memijit pelipis matanya berharap bisa mengurangi rasa lelahnya selama sehari
ini. Ada yang ingin ditanyakan Djuwita perihal mengenai maksud
kedatangan Arsya menyapa hatinya. Selalu berusaha ada dihari harinya,
memberikan banyak warna dilangitnya. Arsya selalu membuat Djuwita tersenyum.
Selalu memberikan solusi terbaik saat Djuwita lagi ada masalah.
Sejak saat itu , Djuwita ingin menanyakaan perihal tentang itu. Mungkin akan ada waktunya menanyakan hal ini.
☆☆☆
Pelajaran yang membosankan itu saat harus mendengarkan guru sejarah bercerita.. upss lebih tepatnya menerangkan. Bercerita atau menerangkan menurut Arsya tidak jauh berbeda bukan ?.
Dan menyebalkan itu saat jam terlihat berputar begitu lambat. Serasa tidak bergerak sedikitpun satu menit berasa seperti satu tahun.
Untuk kesekian kalinya, Arsya kembali menguap mendengarkan apa yang sedang diterangkan guru sejarah. Tidak ada yang masuk ke otak materi yang dijelaskan. Entah gurunya yang jelasinnya kurang jelas apa Arsya tengah tidak konsentrasi.
Arsya meluruskan lengan kananya sedetik kemudian , Kepalanya diletakkan ditumpuan tangannya. Matanya tidak kuat menahan rasa kantuknya
Hingga akhirnya ..
Pak Drajat guru sejarah sudah berada tepat didepan bangku Arsya yang tengah asyik tertidur. Fachri berusaha membangunkannya tapi lagi lagi gagal.
"Nyet .. nyet.. bangun ada pak Drajat kesini nih" Bisik Fachri tepat ditelinga Arsya
"Zzzz "
Dorrr !! ( suara meja)
"Berisik tau gak ?" Bentak Arsya setengah bangun terlihat Pak Drajat sudah ada didepannya begitu malu
Akhirnya Arsya kena hukuman juga. Sialnya setelah pelajaran selesai Arsya harus temuinya dikantor. Sementara Fachri hanya tertawa puas melihat sahabatnya dihukum
"Hahaa" ucap Fachri tertawa bahagia melihat Arsya dihukum. Jarang sekali Arsya kena hukuman dari guru
"Tawa aja terus lo " erang Arsya sambil melipat tangannya
"Lagi lo tidurnya kaya kebo" ejekknya lagi lagi
"Udah puas belom ketawaiin gue?"
"Belom nyet" ucapnya sambil nyengir kuda
☆☆☆
Bel pulang sudah berdering begitu keras. Siswa siswi berhamburan keluar kelas. Mungkin karena ada rapat makanya pulang cepat tidak seperti biasanya.
Seperti biasa, Arsya selalu menunggu Djuwita didepan ruang kelasnya. Djuwita bergegas keluar kelas.
"Engga les hari ini ?"tanya Arsya kali ini membuka obrolan
"Engga , lagi males ayo Sya pulang"Ajak Djuwita
"Beneran engga mau main nih ?"tawar Arsya berharap saja Djuwita bisa meluangkan waktunya bermain bersama
"Engga deh , " jawabnya sedikit ragu ragu
"Yaudah dehh "
"Dadah"
☆☆☆
From : Djuwita Farhani
Sya , Ada waktu engga ? Kita main yuk , Tata tunggu dirumah Yuanita yah
Sebuah pesan BBM masuk. Sebenarnya Arsya malas membuka pesan BBM namun rasa penasarannya begitu tak terbendung. Arsya melihat pesan itu dan langsung pergi ke Rumah Yuanita.
Setelah sampai didepan rumahnya Yuanita terlihat sepeda motor Djuwita ada didalam. Arsya enggan memanggilnya mungkin saja Djuwita dan Yuanita lagi didalam. Percuma saja kalau Arsya panggil
Arsya langsung mengambil Handphonenya dari saku celananya. Mencari kontak Djuwita. Tangannya begitu mahir menari nari diatas keypad handphonennya.
To : DjuwitaFarhani
Udah didepan nih , cepet keluar yah
Arsya ingin sekali mengajak Djuwita pergi kesuatu tempat dimana tempat itu indah, alami dan bisa membuat pikiran menjadi tenang. Melepaskan semua yang mengikat dipikirannya.
Mungkin hanya tempat ini menjadi tempat untuk berbagi cerita tertawa lepas berdua. Tanpa ada seorangpun yang mengganggunya. Pantai.. dengan hamparan pasir terbentang luas. Ombak ombak berkejaran satu sama lain.
"Maaf , hanya bisa mengajak Tata kesini" ucap Arsya setelah sampai dan langsung memakirkan sepeda motornya
"Engga apa apa kok Sya, lagi pula jarang kesini" jawab Djuwita sambil membentangkan tangannya membiarkan angin memasuki ruang kecil baju sekolahnya
"Oh..iyah , masa engga pernah ke pantai sih ?" Tanya Arsya meyakinkannya
"Hmmp , Sya kita kesana yah" tunjuk Djuwita kesalah satu tempat dimana terlihat banyak orang sedang memancing ikan ditengah laut.
"Boleh.."
☆☆☆
Sejak saat itu , Djuwita ingin menanyakaan perihal tentang itu. Mungkin akan ada waktunya menanyakan hal ini.
☆☆☆
Pelajaran yang membosankan itu saat harus mendengarkan guru sejarah bercerita.. upss lebih tepatnya menerangkan. Bercerita atau menerangkan menurut Arsya tidak jauh berbeda bukan ?.
Dan menyebalkan itu saat jam terlihat berputar begitu lambat. Serasa tidak bergerak sedikitpun satu menit berasa seperti satu tahun.
Untuk kesekian kalinya, Arsya kembali menguap mendengarkan apa yang sedang diterangkan guru sejarah. Tidak ada yang masuk ke otak materi yang dijelaskan. Entah gurunya yang jelasinnya kurang jelas apa Arsya tengah tidak konsentrasi.
Arsya meluruskan lengan kananya sedetik kemudian , Kepalanya diletakkan ditumpuan tangannya. Matanya tidak kuat menahan rasa kantuknya
Hingga akhirnya ..
Pak Drajat guru sejarah sudah berada tepat didepan bangku Arsya yang tengah asyik tertidur. Fachri berusaha membangunkannya tapi lagi lagi gagal.
"Nyet .. nyet.. bangun ada pak Drajat kesini nih" Bisik Fachri tepat ditelinga Arsya
"Zzzz "
Dorrr !! ( suara meja)
"Berisik tau gak ?" Bentak Arsya setengah bangun terlihat Pak Drajat sudah ada didepannya begitu malu
Akhirnya Arsya kena hukuman juga. Sialnya setelah pelajaran selesai Arsya harus temuinya dikantor. Sementara Fachri hanya tertawa puas melihat sahabatnya dihukum
"Hahaa" ucap Fachri tertawa bahagia melihat Arsya dihukum. Jarang sekali Arsya kena hukuman dari guru
"Tawa aja terus lo " erang Arsya sambil melipat tangannya
"Lagi lo tidurnya kaya kebo" ejekknya lagi lagi
"Udah puas belom ketawaiin gue?"
"Belom nyet" ucapnya sambil nyengir kuda
☆☆☆
Bel pulang sudah berdering begitu keras. Siswa siswi berhamburan keluar kelas. Mungkin karena ada rapat makanya pulang cepat tidak seperti biasanya.
Seperti biasa, Arsya selalu menunggu Djuwita didepan ruang kelasnya. Djuwita bergegas keluar kelas.
"Engga les hari ini ?"tanya Arsya kali ini membuka obrolan
"Engga , lagi males ayo Sya pulang"Ajak Djuwita
"Beneran engga mau main nih ?"tawar Arsya berharap saja Djuwita bisa meluangkan waktunya bermain bersama
"Engga deh , " jawabnya sedikit ragu ragu
"Yaudah dehh "
"Dadah"
☆☆☆
From : Djuwita Farhani
Sya , Ada waktu engga ? Kita main yuk , Tata tunggu dirumah Yuanita yah
Sebuah pesan BBM masuk. Sebenarnya Arsya malas membuka pesan BBM namun rasa penasarannya begitu tak terbendung. Arsya melihat pesan itu dan langsung pergi ke Rumah Yuanita.
Setelah sampai didepan rumahnya Yuanita terlihat sepeda motor Djuwita ada didalam. Arsya enggan memanggilnya mungkin saja Djuwita dan Yuanita lagi didalam. Percuma saja kalau Arsya panggil
Arsya langsung mengambil Handphonenya dari saku celananya. Mencari kontak Djuwita. Tangannya begitu mahir menari nari diatas keypad handphonennya.
To : DjuwitaFarhani
Udah didepan nih , cepet keluar yah
Arsya ingin sekali mengajak Djuwita pergi kesuatu tempat dimana tempat itu indah, alami dan bisa membuat pikiran menjadi tenang. Melepaskan semua yang mengikat dipikirannya.
Mungkin hanya tempat ini menjadi tempat untuk berbagi cerita tertawa lepas berdua. Tanpa ada seorangpun yang mengganggunya. Pantai.. dengan hamparan pasir terbentang luas. Ombak ombak berkejaran satu sama lain.
"Maaf , hanya bisa mengajak Tata kesini" ucap Arsya setelah sampai dan langsung memakirkan sepeda motornya
"Engga apa apa kok Sya, lagi pula jarang kesini" jawab Djuwita sambil membentangkan tangannya membiarkan angin memasuki ruang kecil baju sekolahnya
"Oh..iyah , masa engga pernah ke pantai sih ?" Tanya Arsya meyakinkannya
"Hmmp , Sya kita kesana yah" tunjuk Djuwita kesalah satu tempat dimana terlihat banyak orang sedang memancing ikan ditengah laut.
"Boleh.."
☆☆☆
Jembatan
yang terbuat dari kayu ini tidak terlalu kuat untuk dipijak. Butuh kehati
hatian.Sementara Angin begitu terasa ditubuh. Djuwita ingin sekali melihat
orang orang memancing dan menikmati keindahan laut.
"Sya , Tungguin dong " rengek Djuwita dengan susah payah berjalan
"Sya , Tungguin dong " rengek Djuwita dengan susah payah berjalan
"Iyah ,
iyah " jawab Arsya tersenyum melihat Djuwita berusaha berjalan ditengah
tengah kayu yang hampir keropos
Djuwita melepaskan rasa penatnya dengan merentangkan tangannya menghirup udara segar. Sambil menikmati keindahan laut tak lupa dengan satu peristiwa yang tidak bakal dilupakannya. Sunset.. cita cita Djuwita yang selama ini dipendam untuk melihat Sunset lebih dekat terbayar sudah.
Arsya hanya menatap tingkah laku Djuwita seperti anak kecil, Lucu ,lincah, penuh tawa. Seperti itu lah Djuwita. Sesekali pandangannya menatap satu objek sama. Perahu nelayan berlayar ketengah laut.
Hening..
Entah , Apa yang ingin Djuwita dan Arsya bahas menjadi topik pembicaraannya. Mereka terlarut dalam keheningan satu sama lain.
Mungkinkah ini waktu yang tepat untuk ditanyakan ?. Apakah Arsya bersedia menjawab semua pertanyaannya dan memberikan kepastiannya ?. Sanggupkah hati ini tersadar dengan jawabnnya ?.
"Sya-" panggil Djuwita sambil menekuk kakinya
"Yah" jawab Arsya mendekatkan duduknya sejajar
"Boleh nanya engga ?" Tanya Djuwita sambil menarik nafas menghilangkan rasa gugupnya
"Boleh , tata mau nanya apa emangnya ?" Arsya begitu antusias mendengarkan pertanyaan Djuwita
"Kenapa Arsya begitu dekat sama Tata ?" Tanya Djuwita kali ini langsung ke permasalahaannya
"Maksudnya ?"
"Hmmmp , Maaf yah Sya kalau buat Arsya risih mendengarnya , Tata rasa kalau Arsya datang kehidup Tata cuman buat melepaskan pelampiasan masa lalu Arsya" Ucap Djuwita membuat Arsya begitu terkejut dengan pertanyaannya
"Bukan kok Ta , bukan itu alasannya , ada hal yang engga tau " jawab Arsya begitu tenang
"maaf udah buat persepsi buruk ke Arsya. Emangnya apa alasan yang sebenarnya ?"tanya Djuwita membulatkan matanya
"Ada pokoknya deh , kenapa tata engga bilang dari dulu ?" Tanya Arsya kali ini membuat Djuwita semakin bingung
"Bilang apa ?"
"Tata suka kan sama Arsya ?"
"..."
"kenapa tata engga bilang,? Tata tau apa alasannya ?, Arsya orang yang selalu memperhatiin Tata dari belakang. Kedatangan Arsya kesini bukan untuk mempelampiaskan masa lalu Arsya. Kalau Tata membuat persepsi kaya gitu Tata salah." Ucap Arsya menjelaskan panjang lebar
"Bener kan dugaan Tata , emang siapa yang sih yang kasih tau ke Arsya. Tata malu tau"
"Itu engga perlu tau , sekarang Tata masih ada rasa sama Arsya ?" tanya Arsya bukan maksud mempojokkan Djuwita
"Hmmmp.. Arsya sendiri gimana ?"
"Kok malah nanya balik sih ?"
"Yahh gimana, percuma aja kalau Tata yang masih nyimpen kalau Arsya sendiri udah engga ada rasa yang sama" ucap Djuwita memalingkan wajahnya
"Oke , Arsya masih simpan. Arsya suka sama Tata," jawab Arsya dengan mudahnya mengatakan yang sebenarnya.
"Hmmmp.. Tata juga,"
"Yang bener ?" Tanya Arsya meyakinkan kalau ini bukan mimpi. Kalau ini benar benar nyata
"Iyah Arsya Ardilah"
"Kalau gitu , kitaa..." Ucap Arsya
"Hmmmp.. jalanin aja yah Sya, soalnya Tata baru pertama kali"
"Oke.." jawab Arsya mengedipkan matanya.
☆☆☆
Djuwita melepaskan rasa penatnya dengan merentangkan tangannya menghirup udara segar. Sambil menikmati keindahan laut tak lupa dengan satu peristiwa yang tidak bakal dilupakannya. Sunset.. cita cita Djuwita yang selama ini dipendam untuk melihat Sunset lebih dekat terbayar sudah.
Arsya hanya menatap tingkah laku Djuwita seperti anak kecil, Lucu ,lincah, penuh tawa. Seperti itu lah Djuwita. Sesekali pandangannya menatap satu objek sama. Perahu nelayan berlayar ketengah laut.
Hening..
Entah , Apa yang ingin Djuwita dan Arsya bahas menjadi topik pembicaraannya. Mereka terlarut dalam keheningan satu sama lain.
Mungkinkah ini waktu yang tepat untuk ditanyakan ?. Apakah Arsya bersedia menjawab semua pertanyaannya dan memberikan kepastiannya ?. Sanggupkah hati ini tersadar dengan jawabnnya ?.
"Sya-" panggil Djuwita sambil menekuk kakinya
"Yah" jawab Arsya mendekatkan duduknya sejajar
"Boleh nanya engga ?" Tanya Djuwita sambil menarik nafas menghilangkan rasa gugupnya
"Boleh , tata mau nanya apa emangnya ?" Arsya begitu antusias mendengarkan pertanyaan Djuwita
"Kenapa Arsya begitu dekat sama Tata ?" Tanya Djuwita kali ini langsung ke permasalahaannya
"Maksudnya ?"
"Hmmmp , Maaf yah Sya kalau buat Arsya risih mendengarnya , Tata rasa kalau Arsya datang kehidup Tata cuman buat melepaskan pelampiasan masa lalu Arsya" Ucap Djuwita membuat Arsya begitu terkejut dengan pertanyaannya
"Bukan kok Ta , bukan itu alasannya , ada hal yang engga tau " jawab Arsya begitu tenang
"maaf udah buat persepsi buruk ke Arsya. Emangnya apa alasan yang sebenarnya ?"tanya Djuwita membulatkan matanya
"Ada pokoknya deh , kenapa tata engga bilang dari dulu ?" Tanya Arsya kali ini membuat Djuwita semakin bingung
"Bilang apa ?"
"Tata suka kan sama Arsya ?"
"..."
"kenapa tata engga bilang,? Tata tau apa alasannya ?, Arsya orang yang selalu memperhatiin Tata dari belakang. Kedatangan Arsya kesini bukan untuk mempelampiaskan masa lalu Arsya. Kalau Tata membuat persepsi kaya gitu Tata salah." Ucap Arsya menjelaskan panjang lebar
"Bener kan dugaan Tata , emang siapa yang sih yang kasih tau ke Arsya. Tata malu tau"
"Itu engga perlu tau , sekarang Tata masih ada rasa sama Arsya ?" tanya Arsya bukan maksud mempojokkan Djuwita
"Hmmmp.. Arsya sendiri gimana ?"
"Kok malah nanya balik sih ?"
"Yahh gimana, percuma aja kalau Tata yang masih nyimpen kalau Arsya sendiri udah engga ada rasa yang sama" ucap Djuwita memalingkan wajahnya
"Oke , Arsya masih simpan. Arsya suka sama Tata," jawab Arsya dengan mudahnya mengatakan yang sebenarnya.
"Hmmmp.. Tata juga,"
"Yang bener ?" Tanya Arsya meyakinkan kalau ini bukan mimpi. Kalau ini benar benar nyata
"Iyah Arsya Ardilah"
"Kalau gitu , kitaa..." Ucap Arsya
"Hmmmp.. jalanin aja yah Sya, soalnya Tata baru pertama kali"
"Oke.." jawab Arsya mengedipkan matanya.
☆☆☆
Arsya dan
Djuwita memandangi perahu buatannya mengatasi ombak yang ingin
menenggelamkannya. Sunset sebentar lagi akan kembali ke pangkuannya.
Jam menunjukkan pukul 16:30 Itu berarti cita-cita Arsya dan Djuwita melihat Sunset ditahan. Arsya tidak ingin membuat orang tua Djuwita khawatir.
"Ta , kita pulang yuk" ajak Arsya merapihkan bukunya bergeletakan
"Yuk , tapi kifa selfie dulu hehe"tawa Djuwita sambil mengambil handphonenya
☆☆☆
"Sya , kalau ada mushola kita berhenti dulu takut Ashar lewat" bisik Djuwita sementara Arsya sibuk mengendarai sepeda motornya
"Hmmp.."
Arsya memakirkan sepeda motornya didepan mushola milik warga. Djuwita masih sibuk merapihkan jilbabnya yang tersapu angin.
"Ayo sya-"
"Iyah ,"
"Ta , sholat sendiri sendiri aja yah , bukan muhrim" ucap Arsya
"Sholat berjamaah itu pahalanya banyak, siapa bilang engga boleh"
"Iyah deh-"
"Kamu.. bukan hanya memberikan cahayaku yang kian redup. Melainkan kamu.. juga berada di belakang posisiku kemudian mengatakan "Amin", aku berfikir kalau ini hanya mimpi dari alam bawah sadarku.. ternyata tidak, Ini benar terjadi kamu benar berada dibelakangku.. , kuharap ini bukan mimpiku ataupun imajinasi nakalku. aku menginginkan hal ini terjadi.. seterusnya..itu saja"
Jam menunjukkan pukul 16:30 Itu berarti cita-cita Arsya dan Djuwita melihat Sunset ditahan. Arsya tidak ingin membuat orang tua Djuwita khawatir.
"Ta , kita pulang yuk" ajak Arsya merapihkan bukunya bergeletakan
"Yuk , tapi kifa selfie dulu hehe"tawa Djuwita sambil mengambil handphonenya
☆☆☆
"Sya , kalau ada mushola kita berhenti dulu takut Ashar lewat" bisik Djuwita sementara Arsya sibuk mengendarai sepeda motornya
"Hmmp.."
Arsya memakirkan sepeda motornya didepan mushola milik warga. Djuwita masih sibuk merapihkan jilbabnya yang tersapu angin.
"Ayo sya-"
"Iyah ,"
"Ta , sholat sendiri sendiri aja yah , bukan muhrim" ucap Arsya
"Sholat berjamaah itu pahalanya banyak, siapa bilang engga boleh"
"Iyah deh-"
"Kamu.. bukan hanya memberikan cahayaku yang kian redup. Melainkan kamu.. juga berada di belakang posisiku kemudian mengatakan "Amin", aku berfikir kalau ini hanya mimpi dari alam bawah sadarku.. ternyata tidak, Ini benar terjadi kamu benar berada dibelakangku.. , kuharap ini bukan mimpiku ataupun imajinasi nakalku. aku menginginkan hal ini terjadi.. seterusnya..itu saja"
☆☆☆
Waktu begitu cepat, hubungan Arsya dan Djuwita tidak ada yang tau selain meraka berdua. Sengaja Arsya dan Djuwita menutupi hubungannya lantaran Djuwita yang bilang jangan sampai ada yang mengetahui mengenai hubungan mereka.
Waktu begitu cepat, hubungan Arsya dan Djuwita tidak ada yang tau selain meraka berdua. Sengaja Arsya dan Djuwita menutupi hubungannya lantaran Djuwita yang bilang jangan sampai ada yang mengetahui mengenai hubungan mereka.
Apa pandangan teman lain, jika Djuwita yang notabandnya lulusandari
pondokpesantren ternama berpacaran ? dimana wajah Djuwita ditaruh.bahkan,
membayangkannya saja sudah menyeramkan jika hubungannya diketahui oleh banyak
orang.
1 Month..
Yah.. sudah satu bulan lamanya mereka menjalin hubungan breakstreat. Walaupun terasa aneh mengenai statusnya. Arsya merasakan ada keanehan pada Djuwita.
1 Month..
Yah.. sudah satu bulan lamanya mereka menjalin hubungan breakstreat. Walaupun terasa aneh mengenai statusnya. Arsya merasakan ada keanehan pada Djuwita.
Mungkinkah..
Bukankah, cinta menuntut untuk kita merubah sikap buruk kita terhadap orang yang saat ini berada dalam sebuah ikatan ?.walaupun teorinya bukan seperti itu. Pada kenyataan, waktu akan memaksa kita untuk merubah sikap itu tanpa kita sadari. Believe me !
Bukankah, cinta menuntut untuk kita merubah sikap buruk kita terhadap orang yang saat ini berada dalam sebuah ikatan ?.walaupun teorinya bukan seperti itu. Pada kenyataan, waktu akan memaksa kita untuk merubah sikap itu tanpa kita sadari. Believe me !
Arsya ingin
menanyakan mengenai hal ini. Yah.. Arsya, tidak ingin seperti masa lalunya. Tidak
ingin mencicipi rasa pahit dalam hal percintaan walaupun Arsya tau. Mencintai
dan Dicintai itu seperti halnya kita mencicipi secangkir kopi.
Ada rasa manis dan tersembunyinya rasa pahit didalamnya. Seperti itulah.
☆☆☆
Sebucket Bunga berwarna pink dan bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto Arsya dan Djuwita sudah disiapkannya. Arsya ingin memberikan kejutan kecil ini. Makanya Arsya menyiapkan ini semua jauh jauh hari. Bahkan, Arsya selalu meminta pendapat dari teman kelas perempuannya mengenai kesukaan kaum hawa.
To : Djuwita
Ada dirumah ? Arsya kerumah yah, ada yang ingin diberikan.
Arsya memarkirkan sepeda motornya tepat didepan rumah Djuwita. Langkahnya terlihat meragu saat mengatakan salam. Tidak seperti biasanya Arsya merasakan ini. Rasa gugupnya melebihi pada saaat ia duduk berdua ataupun bergandengan tangan. Tapi kali ini, rasa gugupnya begitu luar biasa. Arsya memang tidak pernah bermain bertemu dengan keluarga Djuwita untuk diperkenalkan. Jangankan untuk hal itu, untuk sekedar bermain saja ataupun mengerjakan tugas kelompok saja. Arsya harus berpikir berkali-kali sebelum mengambil keputusan.
Mentari sudah berada diatas kepala. Sinarnya begitu menyengat membakar kulit. Arsya masih terdiam memegang dua bingkisian.Sekaligus tidak bisa berlindung dari sinar mentari. Keringatnya mengalir begitu saja membasahi bajunya.
Lagi-lagi Arsya terlihat bingung apa yang ingin dilakukannya. Menelfonnya ? Ahh.. Djuwita memang bukan tipe perempuan yang selalu hadir di dunia maya. Djuwita selalu saja menonaktifkan handphonennya. Dan selalu saja sibuk dengan dunianya. Menonton film adalah bagian kecil dari dunianya.
Ayolah ini sudah siang kenapa Arsya nampak begitu kaku. Kakinya terasa berat masuk kedalam rumah Djuwita. Tiba-tiba keluar anak kecil perempuan dari dalam rumah Djuwita. Mungkin Adiknya Djuwita.
"Hei.. ade kecil, bisa panggilin Ka Tata ?"sapa Arsya mensejajarkan tingginya dengangnnya.
".."
Gadis kecil tadi masuk kembali. Menuruti perintah yang Arsya berikan. Arsya melirik jam tangannya yang masih setia melingkar di lengan kirinya.
Gadis kecil tadi kembali keluar bersama dengan seorang perempuan menggunakan jilbab berwarna pink. Cukup cantik.. Ralat. SANGAT…cantik untuk penilaian dalam ajang pencarian putri Indonesia ataupun lain sebagainya.
Djuwita Farhani
"Sya , ada apa ? "Tanya Djuwita begitu terkejut melihat kedatangan Arsya secara tiba tiba
"Hehe.. cuman mau ngasih ini doang kok , jangan sampe layu yah sama tolong simpen baik baik yah Ta" ucap Arsya
"Ini apa Sya ?" Tanya Djuwita membulatkan matanya melihat bingkisan berwarna hitam itu.
"Bukannya nanti aja yah , Arsya balik dulu yah, dadah"
"Hati hati Sya-"
☆☆☆
Ada rasa manis dan tersembunyinya rasa pahit didalamnya. Seperti itulah.
☆☆☆
Sebucket Bunga berwarna pink dan bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto Arsya dan Djuwita sudah disiapkannya. Arsya ingin memberikan kejutan kecil ini. Makanya Arsya menyiapkan ini semua jauh jauh hari. Bahkan, Arsya selalu meminta pendapat dari teman kelas perempuannya mengenai kesukaan kaum hawa.
To : Djuwita
Ada dirumah ? Arsya kerumah yah, ada yang ingin diberikan.
Arsya memarkirkan sepeda motornya tepat didepan rumah Djuwita. Langkahnya terlihat meragu saat mengatakan salam. Tidak seperti biasanya Arsya merasakan ini. Rasa gugupnya melebihi pada saaat ia duduk berdua ataupun bergandengan tangan. Tapi kali ini, rasa gugupnya begitu luar biasa. Arsya memang tidak pernah bermain bertemu dengan keluarga Djuwita untuk diperkenalkan. Jangankan untuk hal itu, untuk sekedar bermain saja ataupun mengerjakan tugas kelompok saja. Arsya harus berpikir berkali-kali sebelum mengambil keputusan.
Mentari sudah berada diatas kepala. Sinarnya begitu menyengat membakar kulit. Arsya masih terdiam memegang dua bingkisian.Sekaligus tidak bisa berlindung dari sinar mentari. Keringatnya mengalir begitu saja membasahi bajunya.
Lagi-lagi Arsya terlihat bingung apa yang ingin dilakukannya. Menelfonnya ? Ahh.. Djuwita memang bukan tipe perempuan yang selalu hadir di dunia maya. Djuwita selalu saja menonaktifkan handphonennya. Dan selalu saja sibuk dengan dunianya. Menonton film adalah bagian kecil dari dunianya.
Ayolah ini sudah siang kenapa Arsya nampak begitu kaku. Kakinya terasa berat masuk kedalam rumah Djuwita. Tiba-tiba keluar anak kecil perempuan dari dalam rumah Djuwita. Mungkin Adiknya Djuwita.
"Hei.. ade kecil, bisa panggilin Ka Tata ?"sapa Arsya mensejajarkan tingginya dengangnnya.
".."
Gadis kecil tadi masuk kembali. Menuruti perintah yang Arsya berikan. Arsya melirik jam tangannya yang masih setia melingkar di lengan kirinya.
Gadis kecil tadi kembali keluar bersama dengan seorang perempuan menggunakan jilbab berwarna pink. Cukup cantik.. Ralat. SANGAT…cantik untuk penilaian dalam ajang pencarian putri Indonesia ataupun lain sebagainya.
Djuwita Farhani
"Sya , ada apa ? "Tanya Djuwita begitu terkejut melihat kedatangan Arsya secara tiba tiba
"Hehe.. cuman mau ngasih ini doang kok , jangan sampe layu yah sama tolong simpen baik baik yah Ta" ucap Arsya
"Ini apa Sya ?" Tanya Djuwita membulatkan matanya melihat bingkisan berwarna hitam itu.
"Bukannya nanti aja yah , Arsya balik dulu yah, dadah"
"Hati hati Sya-"
☆☆☆
"Selamat
Datang Luka.., Sudah puas bermain lama lama ?. Hei..Luka , Sudah aku siapkan
ruang khusus untukmu kembali pulang"
Djuwita menatap Arsya. Arsya membalas tatapannya. Posisi duduk mereka berdampingan membuatnya terasa sangat..nyaman. nyaman merasakan sandaran kepala Djuwita ke bahunya Arsya.
Arsya dan Djuwita menatap objek yang sama langit malam penih kemerlap bintang bintang menghiasi. Mata Djuwita kembali menatap Arsya benar-benar menenangkan. Menembus batas yang ada di kedua mata Arsya.
Mata teduh itu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan kata-kata tapi bisa dirasakan oleh hati. Lidahnya keluh mengatakan hal seperti ini. Apakah jatuh cinta selalu seperti ini ? selalu membuat orang lain melakukan kesalahan sekecil apapun pada saat didekat orang yang disayang.
"Sya-"panggil Djuwita membuka percakapan terlebih dahulu
Djuwita menatap Arsya. Arsya membalas tatapannya. Posisi duduk mereka berdampingan membuatnya terasa sangat..nyaman. nyaman merasakan sandaran kepala Djuwita ke bahunya Arsya.
Arsya dan Djuwita menatap objek yang sama langit malam penih kemerlap bintang bintang menghiasi. Mata Djuwita kembali menatap Arsya benar-benar menenangkan. Menembus batas yang ada di kedua mata Arsya.
Mata teduh itu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan kata-kata tapi bisa dirasakan oleh hati. Lidahnya keluh mengatakan hal seperti ini. Apakah jatuh cinta selalu seperti ini ? selalu membuat orang lain melakukan kesalahan sekecil apapun pada saat didekat orang yang disayang.
"Sya-"panggil Djuwita membuka percakapan terlebih dahulu
Sementara Arsya masih menatap langit malam yang begitu indah dan jarang terjadi saat musim berganti.
"Iyah" panggilnya lirih
"Ada yang ingin Tata tanyakan" ucap Djuwita kembali sambil bangun
"Tanya apa emangnya Ta ?" Jawab Arsya membulatkan matanya
"Arsya benar benar cinta Tata " Tanya Tata dengan wajah serius
"Tata ngomong apa sih ? Pertanyaan retorik dehh" jawab Arsya menggelengkan kepalanya sambil tertawa renyah
"Serius Sya"
"Tata pikir Arsya engga serius apa ? Emangnya ada apa Ta ? Nanya begitu ?"
"Ummp.. kok Tata jadi merasa asing yah ?"
"Asing ? Kenapa emangnya ?"
"Yahh asing. Menjalin hubungan sama Arsya. Apa mungkin Tata baru pertama kali yah?" Pikirnya
"Maybe," Arsya kembali tersenyum
"Hmmmp.. tapi tata engga enak sama Arsya, kaya gimana gitu"
".."
"Kayanya kita harus break deh" tukasnya membuat Arsya tidak percaya
"Break ,?"
"Iyah break, Tata engga enak sama Arsya. Hmmmp.. tapi tata takut bilang ke Arsya" ucapnya lirih
"Kenapa engga terus terang aja ?"
"Tata , takut nyakitin perasaan Arsya,"
"Ummp.. yaudah kita break sementara aja, kali aja Tata bisa tenangin pikiran" Ucap Arsya
"Break selamanya kali, Bukan break sementara , tapi kita tetep jadi temen kok"
".."
"Sya, maafin tata yah" ucapnya terlihat air mata ingin jatuh dari matanya.
"Engga apa apa kok ta , "
"Ta , terima kasih yah "ucap Arsya mengakhiri obrolan yang seharusnya diakhiri
"Iyah,"
☆☆☆
Biarkan semua seperti ini ...
Suatu hari nanti, kita hanya akan menjadi orang asing.
Yang akan berpapasan dijalan..
Tanpa menyapa atau senyum..
Hanya lewat begitu saja,
Biarkan semua seperti ini.. Puan !!
Setiap hari, setiap kali waktu istirahat tiba Arsya selalu bertemu dengan Djuwita tapi ada rasa yang begitu berbeda bukan lagi mengenai masalah statusnya melainkan. Kenapa Arsya begitu bersikap dingin terhadapnya ?.
Seharusnya Arsya tidak mengatakan secepat ini. Seharusnya Arsya mengeringkan luka lama yang belum tertutup rapat. Seharusnya Arsya tidak perlu jatuh cinta (lagi).
Seharusnya..
Semua terasa berbeda saat bayang bayangnya menghilang perlahan pergi menjauh. Malam begitu terasa begitu lama berlalu.
Arsya selalu menatap langit yang terlihat berbeda setiap harinya. Sementara kemerlap bintang bintang tidak terlihat di cakrawala.
"Apakah tata menatap objek yang sama ?" Gumam Arsya dalam hati.
Kita selalu mentap objek yang sama. Kita selalu menatap indahnya malam. Namun sedikit perbedaan , Aku yakin , malammu akan selalu terang seperti bintang Altair. Sementara malamku masih terlihat sama. Malamku masih kelabu tidak ada yang menghias disana.
Terima kasih sudah memperkenalkanku dengan luka kembali. Terima kasih kembali sudah mengajarkanku arti cahaya yang sebenarnya.
Terima kasih sudah singgah sejenak kemudian pergi dan menyadarkanku kalau kamu harus bisa melepaskan.
"Kejar apa yang harus dikejar..
Pertahankan apa yang harus dipertahankan..
Tinggal apa yang harus ditinggalkan.."
☆☆☆
Pertahankan apa yang harus dipertahankan..
Tinggal apa yang harus ditinggalkan.."
☆☆☆
14 Maret..
Tepat di hari ini, seorang ibu melahirkan seorang perempuan cantik yang dititipkan oleh Tuhan untuk menjaga dan merawatnya. Seiring berjalnnya waktu perempuan cantik ini tumbuh menjadi perempuan yang dewasa. Perempuan cantik yang selalu membuat pandangan Arsya tidak bisa berpaling ke orang lain. Perempuan cantik ini juga, yang membuat hatinya kembali patah untuk kesekian kalinya.
Tepat di hari ini, seorang ibu melahirkan seorang perempuan cantik yang dititipkan oleh Tuhan untuk menjaga dan merawatnya. Seiring berjalnnya waktu perempuan cantik ini tumbuh menjadi perempuan yang dewasa. Perempuan cantik yang selalu membuat pandangan Arsya tidak bisa berpaling ke orang lain. Perempuan cantik ini juga, yang membuat hatinya kembali patah untuk kesekian kalinya.
Jika semesta
mengijinkan dan tidak menghukum aku lagi. Bolehkah aku mengtakan satu hal ?
"SELAMAT ULANG TAHUN DJUWITA FARHANI "
Tangannya dengan lincah-lincahnya merangkai kata demi kata yang tepat untuk ditulisnya. Bahkan, Arsya selalu mencoret rangkaian kata yang menurutnya tidak tepat. Sejurus kemudian, pandangannya kosong menatap langit biru.
Tangannya dengan lincah-lincahnya merangkai kata demi kata yang tepat untuk ditulisnya. Bahkan, Arsya selalu mencoret rangkaian kata yang menurutnya tidak tepat. Sejurus kemudian, pandangannya kosong menatap langit biru.
Hingga akhirnya…
Arsya tidak akan pernah lupa dengan masa lalunya. Dengan orang orang yang membuatnya selalu kuat tersenyum sementara luka mendekapnya begitu kuat.
Arsya menunggu Djuwita didepan gerbang sekolah. Arsya memantaunya dari halte depan sekolah.
"Hei anak kecil , tolong kasihin sama kaka itu yah" suruh Arsya memberikan kado dan selembar uang untuk dibelikan permen
-
"Kaka , ini ada kado dari kaka yang disana" ucapnya sambil menunjuk orang yang berada diseberang sana
"Hmmmp.., kamu ini bisa aja yah" jawab Djuwita sambil mengusap rambutnya
☆☆☆
Arsya tersadar dari lamunannya. Sejurus kemudian,Arsya memandangi daun kering yang bertuliskan namanya. Arsya sudah memiliki rencana spesial untuk Djuwita. Tentang bagaimana ia bisa membuat perayaan sederhana untuk kekasihnya. Ralat ! lebih tepatnya mantan kekasihnya.
Semua sudah stand bye dimasing-masing tempat. Setiap tempat selalu memiliki klue yang berbeda. Arsya juga sudah bekerja sama dengan temannya.
"Ta , tolong terima ini yah , engga tau siapa nih yang kasih buat kamu" ucap salah seorang adik kelasnya yang tidak Djuwita kenal namanya
"Terima kasih yah"
Arsya melihat target satu sudah berhasil menjalankan tugasnya dengan benar. Selang beberapa jam dari kejutan pertama lagi lagi Arsya kembali mendapatkan kejutan lagi.
Sebuah jersey united kali ini yang menjadi kadonya. Sengaja Arsya memberikan ini , karena Arsya tau kalau Djuwita menyukai jersey ini
Lagi lagi Djuwita tidak tau siapa yang memberikan ini semua. Siapa orang nya ?
Dan yang terakhir sepucuk surat dengan klue suatu tempat yang didapatkannya. Tapi anehnya tidak ada nama penulisnya.
Djuwita menunggu orang yang begitu misterius memberikan ini semua. Sesekali dilihatnya jam tangannya. Sudah 30 menit lamanya Djuwita menunggu.
Tiba tiba saja , ada seorang laki laki bertubuh tegap dengan setelan cardigan yang digunakan tak lupa sebuket bunga berwarna pink ditangannya. Nampaknya Djuwita mengenal laki laki itu.
Arsya Ardilah..
☆☆☆
Tepat 1 tahun berselang. Djuwita merasakan ada perubahan entah itu apa yang ia rasakan. Begitu samar dirasakan.
Ada hal yang membuat relung Djuwita merasa sesak. Ada hal yang yang membuat Djuwita tidak mengetahui apa yang membuatnya merasa jadi seperti ini. Yah.. Djuwita merindukan Arsya .. lebih tepatnya merindukan canda dan rasa perhatian yang Arsya berikan.
Djuwita merindukan hal itu..
Karena hal kecil itu lah membuat Djuwita tersadar akan arti penting kehadiran seseorang yang datang didalam hidupnya.
Arsya tidak akan pernah lupa dengan masa lalunya. Dengan orang orang yang membuatnya selalu kuat tersenyum sementara luka mendekapnya begitu kuat.
Arsya menunggu Djuwita didepan gerbang sekolah. Arsya memantaunya dari halte depan sekolah.
"Hei anak kecil , tolong kasihin sama kaka itu yah" suruh Arsya memberikan kado dan selembar uang untuk dibelikan permen
-
"Kaka , ini ada kado dari kaka yang disana" ucapnya sambil menunjuk orang yang berada diseberang sana
"Hmmmp.., kamu ini bisa aja yah" jawab Djuwita sambil mengusap rambutnya
☆☆☆
Arsya tersadar dari lamunannya. Sejurus kemudian,Arsya memandangi daun kering yang bertuliskan namanya. Arsya sudah memiliki rencana spesial untuk Djuwita. Tentang bagaimana ia bisa membuat perayaan sederhana untuk kekasihnya. Ralat ! lebih tepatnya mantan kekasihnya.
Semua sudah stand bye dimasing-masing tempat. Setiap tempat selalu memiliki klue yang berbeda. Arsya juga sudah bekerja sama dengan temannya.
"Ta , tolong terima ini yah , engga tau siapa nih yang kasih buat kamu" ucap salah seorang adik kelasnya yang tidak Djuwita kenal namanya
"Terima kasih yah"
Arsya melihat target satu sudah berhasil menjalankan tugasnya dengan benar. Selang beberapa jam dari kejutan pertama lagi lagi Arsya kembali mendapatkan kejutan lagi.
Sebuah jersey united kali ini yang menjadi kadonya. Sengaja Arsya memberikan ini , karena Arsya tau kalau Djuwita menyukai jersey ini
Lagi lagi Djuwita tidak tau siapa yang memberikan ini semua. Siapa orang nya ?
Dan yang terakhir sepucuk surat dengan klue suatu tempat yang didapatkannya. Tapi anehnya tidak ada nama penulisnya.
Djuwita menunggu orang yang begitu misterius memberikan ini semua. Sesekali dilihatnya jam tangannya. Sudah 30 menit lamanya Djuwita menunggu.
Tiba tiba saja , ada seorang laki laki bertubuh tegap dengan setelan cardigan yang digunakan tak lupa sebuket bunga berwarna pink ditangannya. Nampaknya Djuwita mengenal laki laki itu.
Arsya Ardilah..
☆☆☆
Tepat 1 tahun berselang. Djuwita merasakan ada perubahan entah itu apa yang ia rasakan. Begitu samar dirasakan.
Ada hal yang membuat relung Djuwita merasa sesak. Ada hal yang yang membuat Djuwita tidak mengetahui apa yang membuatnya merasa jadi seperti ini. Yah.. Djuwita merindukan Arsya .. lebih tepatnya merindukan canda dan rasa perhatian yang Arsya berikan.
Djuwita merindukan hal itu..
Karena hal kecil itu lah membuat Djuwita tersadar akan arti penting kehadiran seseorang yang datang didalam hidupnya.
(One
Direction - Night Changed)
Just how fast the night changes
Everything that you've ever dreamed of..
Disappering when you wake up..
But there's nothing to be afraid of..
Even when the night changes..
It will never change me and you ..
☆☆☆
Just how fast the night changes
Everything that you've ever dreamed of..
Disappering when you wake up..
But there's nothing to be afraid of..
Even when the night changes..
It will never change me and you ..
☆☆☆
Biodata Penulis :
Prayoga Dwi Wibowo, kelahiran Jakarta, 06 November 1997 silam memulai
menulis cerita di awal tahun 2011. Penulis yang biasa disapa akrab dengan
sebutan Yoga ini, sudah banyak menulis cerita pendek. Adapun cerita-cerita
pendek yang pernah penulis bagikan diblogg pribadinya, diantaranya, “Pelangi Tanpa Hujan (2011)”, “Sahabat Jadi
Cinta (2012)”, “One Day (2015)” dan yang pernah membawa namanya menjuarai
lomba menulis cerpen di sekolah “Daylight
(2015)”
Saat ini, penulis sedang melanjutkan pendidikannya disalah satu Perguruan
Tinggi Negeri. Yoga biasa ditemui diberbagai akun media sosial pribadinya
yaitu, FB : Prayoga Dwi Wibowo, IG : prayogadwi97, Line : prayoga0611 dan WA :
089646589675. Salam kenal dan salam literasi J #DREAMWRITINGS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar