Minggu, 17 Januari 2016

Pelangi Tanpa Hujan



PRAYOGA D WIBOWO



PELANGI TANPA HUJAN



“Jika suatu hari nanti kamu kembali bertemu dengannya jangan pernah malu mengatakan "Maaf". Katakan padanya kalau dia lah orang yang tepat dihidupmu”









Prolog :

Saat kamu mengharapkan dia yang selalu kamu perjuangkan. Tanpa sadar, ada orang lain yang selalu ada untukmu, selalu menyelipkan namamu dalam doanya.

Ketika semua orang pergi jauh meninggalkanmu, perlahan kamu mengerti arti dari perjuangan dia yang selalu ada untukmu.

Dia yang sunguh sungguh menjagamu tanpa meminta imbalan apapun. Dia yang selalu menyisahkan waktunya berusaha berada disampingmu tanpa meminta ucapan terima kasih darimu. Atau mungkin , dia yang selalu berusaha mengusap air matamu tanpa kamu memintanya.

Jika suatu hari nanti kamu kembali bertemu dengannya jangan pernah malu mengatakan "Maaf". Katakan padanya kalau dia lah orang yang tepat dihidupmu.













*Hujan & Rindu*

Seperti Hujan & Rindu yang tidak pernah bisa dipisahkan. Bukankah selalu ada Rindu saat Hujan tiada. Bahkan Hujanlah yang membuatnya menjadi Rindu. Mungkin mereka saling melengkapi satu sama lain bukan ?. Seperti Bulan & Bintang, Seperti merpati yang selalu setia dan tidak pernah ingkar. Seperti Aku & Kamu.

Hmmm....

Langit terlihat gelap tidak ada cahaya matahari yang menyinari. Mungkin telah memasuki musimnya  hingga membuat matahari enggan menampakkan dirinya.

Seorang gadis berkacamata tengah berdiri didepan gerbang sekolah dengan tangan melipat diatas dada dan berharap saja bisa mengurangi rasa gigilnya. Gadis yang biasa disapa Rahma itu salah satu siswa terbaik disekolah ini. Bagaimana bisa dikatakan terbaik ? Rahma selalu menjuarai lomba speeking English dan juga salah satu anggota Theater Semu yang selalu membawa pulang banyak piala.

Rahma selalu melakukan hal yang sama menunggu jemputannya. Berbeda dengan Reyhan yang tidak pernah dijemput. Keluarga Reyhan tidak pernah mengajarkannya untuk manja mungkin dari situlah Reyhan selalu bersikap mandiri.

Reyhan telah mengenal Rahma sejak dirinya duduk dibangku SMP. Hingga berlanjut ke SMA bahkan mereka berdua dipertemukan kembali dalam satu kelas.

Reyhan mempercepat langkahnya sambil menutupkan kepalanya dengan tangannya berharap Hujan tidak membasahi rambutnya.

"Kamu sedang apa ?" Tanya Reyhan saat melihat Rahma tengah melirik kearah jalan raya
"Menunggu jemputan , kamu belom pulang"
"Hmmp, engga , mau aku temenin" tawar Reyhan
"Apa engga ngerepotin kamu nemenin aku disini?"
"Engga kok , aku kan cowo masa membiarkan cewe menunggu sendirian disini"jawab Reyhan sambil tersenyum simpul
"Hmmmp,"

Tidak ada perbincangan lebih lanjut antara mereka. Reyhan tengah sibuk mencari sesuatu guna menjaga bukunya agar tidak basah. Sedangkan Rahma masih melakukan hal yang sama melirik kearah kanan jalan semoga jemputannya lebih cepat menjemputnya

Ini bukan kali pertama Reyhan selalu menunggu Rahma selepas pulang Sekolah. Bahkan Reyhan pernah melakukannya saat ia SMP

"Han , aku pulang yah"pamit Rahma sambil berlari kecil dan menutupkan kepalanya dari rintihan hujan
"Ehh.. udah dijemput toh , hati hati"jawab Reyhan sambil melambaikan tangannya.

Reyhan masih mengamati motor yang membawa pergi Rahma. Hingga tidak terlihat dipersimpangan jalan.

"Siapa orang yang menjemput Rahma ? Pacar ? Atau .. Lupakanlah jangan Buat persepsi konyol seperti ini Reyhan"Batinnya

"Adik , kenapa belom pulang ?"tanya Penjaga sekolah yang menyadarkan Reyhan dari lamunannya
"Ehh .. bapak bikin jantungan aja, ini mau pulang pak "jawab Reyhan
"Pintunya bapak kunci yah"
"Silahkan pak"

Reyhan pun langsung bergegas pulang. Untungnya hujan telah reda dan dirinya tidak khawatir dengan kondisi fisiknya dan buku pelajarannya.

"Saat kamu jauh dari orang yang kamu sayang, cukup rentangkan tangan dan kamu pejamkan matamu kemudian kamu bayangkan orang yang kamu sayang, Seakan mampu menghilangkan rasa Rindumu dengannya"

♡♡♡

*With You*

Tidak biasanya Reyhan datang telat , biasanya Reyhan selalu datang lebih awal dari anak anak. Kenapa sekarang dia belom dateng ?

"Ren , ko engga bareng reyhana ?"tanya Rahma yang begitu khawatir
"Engga ma , tadi gue ada tugas kelompok makanya gue sengaja berangkat duluan"jawab Reno
"Okee deh Thanks"

Apakah semuanya gara gara kejadian kemarin ? Apakah dia sakit ?

"Ma , dari tadi loe gue liatin kaya orang bingung gitu ?"tanya Lina yang nampak risih melihat tingkah laku sahabatnya
"Ehhh.. engga kok , "jawab Rahma dengan terbata bata
"Serius ?"tanya Lina kali ini untuk meyakinkannya
"Iyah Lina sayang"ucap Rahma sambil memeluk sahabatnya yang satu ini

Rahma selalu begitu sikapnya dengan sahabatnya begitu peduli terhadap siapapun. Termasuk Lina, Tak jarang kalau diantara mereka banyak yang menyebutnya saudara kembar. Padahal tidak , Hanya saja rumah Rahma dengan Lina tidak berjauhan hanya dibatasi satu blok/gang saja.

Yang benar saja 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Batang hidunya tidak nongol muncul juga.

Tiba tiba saja ada yang mengkagetkan Rahma dari belakang.

"Dor !!" Bentak Reyhan sambil memegang punggung Rahma
"Astagfirullah"jawab Rahma dengan terhentak
"Nungguin yah "ledek Reyhan sambil tertawa renyah
"Dih Geer banget kamu Han"elak Rahma sambil melipat tangannya
"Heeh jujur aja sihh"ledeknya sambil menjulurkan lidah
"Nyebelin tau gak"
"Yee.. dia baper"ucap Reyhan sambil menghampiri Rahma duduk di tempat duduknya

♡♡♡

Demi apapun seluruh siswa siswi SMA Negeri 12 benar benar bergembira. Lantaran guru guru ada rapat dinas.

"Ke gramedia yuk" ajak Reyhan sambil mengencangkan tasnya
"Ngapaiin ?"
"Cari buku lah , mau engga ?"
"Boleh , jangan lama lama yah"seru Rahma
"Okee" jawab Reyhan sambil memberikan tanda setuju

-

-

-

"Kamu suka novelnya" tanya Reyhan membuat Rahma terkejut
"Ehh.. engga ko"
"Ambil aja " suruhnya
"Loh , aku engga bawa uang lebih"
"Biar aku yang bayarin"
"Engga ahh, "
"Yaudah sini, biar aku yang beli"jawab Reyhan
"sejak kapan kamu suka sama novel han ?"tanya Rahma sambil menutup mulutnya menahan tawa
"Dih -, aku engga suka baca novel lebih baik baca komik"
"Terus kenapa dibeli ?"
"Aku beli buat kamu lahh"
"Hmmp, dibilang jangan beliin "
"Uang uang siap"ucap Reyhan sambil menjulurkan lidahnya
"Terserah kamu lah"

♡♡♡

Selepas pulang dari gramedia membelikan novel Rahma. Tidak hanya itu aja, Reyhan mengajak Rahma pergi ketempat Favoritenya dulu. Yah gedung kosong yang sudah tidak berpenghuni menjadi tempat favorite Reyhan dan Rahma. Bahkan meraka selalu menyaksikan keindahan matahari terbenam dan gemerlap bintang berhamburan dilangit.

"ketempat biasa yuk"ajak Reyhan kali ini
"Katanya habis pergi gramedia langsung pulang" jawab Rahma yang begitu kesal
"Please kali ini aja , mau yah yah"ajaknya yang tidak kehabisan akal
"Hmmp,"

"Han , tungguin dong aku kan pake rok"ucapnya yang begitu kesusahaan naik keatas
"Iyah iyah, ini aku tungguin"
"Hmmp"

Disinilah Reyhan dan Rahma selalu menceritakan peristiwa konyolnya. Bahkan mereka selalu menceritakan Rahasia dan Tujuannya setelah lulus nanti.

Lalu, mengapa tidak menjalin hubungan ? Kenapa Reyhan tidak mengungkapkan perasaannya ?

Reyhan tidak pernah berfikiran seperti itu. Percuma saja kalau di mengungkapkannya langsung, pasti Rahma tidak memiliki rasa yang sama kepadanya. Bisa jadi, Rahma mungkin menjauh darinya

Apalah yang Reyhan banggakan ? Otaknya saja tidak sepintar Rahma. Wajah Reyhan tidak ganteng seperti siswa laki yang selalu mendekati Rahma. Reyhan sadar kalau dia memang tidak pantas.. untuknya. Seperti langit dan bumi.

Lebih baik Reyhan mengkunci rapat rapat perasaan. Baginya berada disisinya sebagai sahabat sudah lebih dari kata cukup. Dengan begitu Reyhan bisa selalu tertawa bersama dengannya.

"Bukan dia yang memiliki kelebihan yang harus kamu pertahankan, Melainkan dia yang mampu membuatmu tertawa dengan caranya lah yang patut kamu pertahankan"

*About You*

Reyhan memang tidak menyukai novel lebih baik dirinya membaca komik. Disisi lain Reyhan pun memiliki hobby menulis, saat tidak ada tugas sekolah Reyhan selalu menulis cerpen. Bahkan Rahma pun tidak pernah mengetahui hobby ini. Rahma hanya mengetahui dirinya memiliki hobby bermain bola.

"Ka , boleh kita bicara sebentar"ajak Reyhan
"Boleh,"jawab ka Anggi kakak kelasnya yang juga ketua dari etarakulikuler Theater Semu
"Jadi gini ka , saya selalu nulis cerita , saya ingin menawarkan cerita saya untuk ditampilkan sama anak theater semu" ucapku
"Hmmp.. bagus dong, tapi saya engga janji yah , soalnya kalau ada yang mau menyerahkan cerita orang lain untuk ditampilkan, biasanya kita selalu rapat dan juga membaca dulu jalan ceritanya apakah ceritanya layak ditampilkan apa engga"paparnya
"Gini ka , saya udah ketik ceritanya kaka bisa baca , kalau menurut tim kaka bagus saya bersedia terlibat dalam pembuatan naskahnya, kalau engga bagus juga engga apa"ucap Reyhan sambil memberikan kertas yang kurang lebih ada 20 halaman
"Okee deh , kalau ceritanya bagus saya konfirmasi ke kamu"
"Okee ka ,"
"Oh..iyah nama kamu siapa ?" Tanya sambil membolak balik kertasnya
"Reyhan Aditiya kelas X 1 ka "jawab Reyhan sambil nyengir kuda
"Sekelas dong sama Rahma"
"Iyah ka,"
"Yaudah kalau gitu , saya titipkannya ke Rahma yah" saranya
"Jangan ka, jangan kasih ke Rahma"
"Loh , memangnya kenapa ?"
"E.. Rahma sering lupa ka , ini ka nomer Handphone saya kaka bisa hubungin saya"ucap Reyhan sambil menulis nomer handphonenya
"Oke deh"jawabnya memberikan tanda setuju

♡♡♡

Kurang dari satu minggu setelah pertemuan singkat dengan ketua eskul Theater Semu dan menyerahkan cerita yang baru alu selesaikan minggu lalu.

Respon positif dari eskul Theater semu membuat Reyhan girang tidak karuan. Seperti janjinya kalau seadainya diterima ceritanya dirinya bakal terlibat penuh dalam proses pembuatan narasinya.

Tentu Reyhan menyerahkan ceritanya ke eskul Theater Semu bukan tanpa alasan. Reyhan tahu kalau Rahka merupakan salah satu anggota Theater Semu yang selalu memerankannya dengan sangat baik dan penuh penghayatan. Makanya Reyhan dengan memodalkan semangat dan keyakinan Reyhan menyerahkannya.

Kenapa Reyhan tidak mengitimkannya ke penerbit saja ? Toh, lumayan kalau ceritanya dijadiin novel ?

Reyhan tidak pernah berfikiran sejauh itu. Bukan tidak berfikiran kedepan. Bukan , melainkan Reyhan ingin mencoba apakah dengan ceritanya semua murid SMA Negeri 12 mau menerimanya.

Masalah dikirim ke penerbit itu masalah gampang. Reyhan ingin melihat Rahma memerankan tokoh yang ada didalam ceritanya.

Bahkan ceritanya merupakan salah satu kisahnya dengan Rahma saat mereka duduk dibangku SMP.

"Han , ceritanya benar benar menarik"puji Ka Anggi yang membuat pipinya memerah
"Ahh.. kaka bisa saja ,"jawab Reyhan tersenyum senyum
"Oh..iyah , ini ada tiket penampilannya, tiket ini khusus buat penulisnya"ucap Ka Anggi kali ini sambil memberikan selembar tiket
"Terima kasih ka, saya usahin dateng ka"
"Okee"

"Bukan aku yang menceritakannya, melainkan penaku lah yang menulis semua tentangmu"

♡♡♡
*Show*

"Han "teriak Rahma dari kejauhan, Reyhan menoleh kearah sumber suara

"Udah tau pengumuman dimading"tanya Rahma sambil mengatur nafas
"Udah"jawab Reyhan tersenyum simpul
"Loh ? Emang apa?"
"Hari ini ada show dari Theater Semu kan ?"jawabnya untuk meyakinkan
"Ko kamu tau sih ?"
"Iyah lahh , udah lahh ayo kita masuk udah mau masuk"ajak Reyhan

Rahma masih tidak percaya kenapa Reyhan bisa mengetahuinya padahal, Reyhan belom lihat ke mading.

Lupakanlah masalah ini. Rahma berharap saja Reyhan bisa meluangkan waktunya untuk menonton dirinya tampil dengan rekan rekannya.

♡♡♡

Bel istirahat pun berdering terlihat siswa siswi berhamburan keluar kelas. Sekedar memberi makan cacing yang ada didalam perut yang meronta ronta.

Berbeda dengan Reyhan. Reyhan seperti biasa selalu menyempatkan waktu istirahatnya pergi ke perpustakaan untun mencari refrensi buat ceritanya. Diterima cerita yang Reyhan buat ternyata membuat Reyhan harus berfikir keras menghasilkan cerita cerita selanjutnya. Pasalnya Pelatih Theater Semu menunggu cerita cerita yang Reyhan buat.

"Ehh.. ada Reyhan, Jangan lupa nanti dateng yah " ucap Ka Anggi yang terlihat sedang sibuk membawa setumpuk buku
"Pasti ka" jawab Reyhan seperti biasa selalu memperlihatkan giginya yang tersusun rapi

♡♡♡

Selepas pulang sekolah Reyhan mmepersiapkan diri untuk hadir show Theater Semu.

Reyhan benar benar tersanjung berada dibangku barisan paling depan. Banyak orang bilang kalau barisan depan itu buat tamu tamu penting. Reyhan tidak memikirkan hal seperti ini baginya melihat action Rahma dari dekat membuatnya bahagia.

Drama yang berdurasikan hampir 2 jam telah habis. Teriakan penonton dan juga Applause terdengar seisi ruangan. Termasuk Reyhan yang memberikan semangat maupun tepuk tangan.

Selepas penampilan usai Reyhan hendak memberikan ucapan selamat secara langsung ke Rahma yang sudah memberikan penampilan yang membuat dirinya kagum dengan bakat akting Rahma.

Bukan hal yang sulit masuk keruangan make up. Mungkin karena Reyhan lah yang menulis ceritanya jadi diperkenankan masuk keruangan Make Up. Reyhan menunggu Rahma diluar ruangan. Sesekali melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 8 malam.

"Ehh ada Reyhan" sapa Ayu salah satu pemain dalam drama tadi dari dalam ruangan make up
"Iyah nih yu" balesnya
"Lagi ngapain disini han" tanyanya kali ini yang membuat Reyhan Kikuk
"Ini.. lagi nungguin Rahma yu"jawab Reyhan terbata bata
"Oh.. Btw , ditunggu yah cerita selanjutnya"puji Ayu sambil memperlihatkan dua jempolnya
"Ehh.. terima kasih yu, iyah yu"
"Duluan yah han , Dah"

5 menit..

10 menit..

20 menit..

Reyhan masih menunggunya sekali dirinya membuka handphonenya dan membalas pesan masuk yang belom sempat dibaca.

"Reyhan"
"Ehh.. iyah,"
"Kamu ngapain disini" tanya Rahma dari dalam ruangan
"Nunggu kamu"jawabnya
"Nunggu aku ? Emangnya kenapa?"
"Aku mau ngomong, kalau akting kamu tadi bagus"
"Hmmp, terima kasih, kamu dateng"
"Dateng dong,"
"Hmmmp"
"Pulang bareng yuk"ajak Rahma kali ini

*Valentine Day's*


Tidak ada hari yang spesial semuanya terasa sama. tapi, hari ini kalau dibilang banyak orang menyebutnya hari kasayang. Bahkan banyak sebagian orang dibelahan bumi mananpun merayakannya. Banyak cara yang dilakukan untuk membuat orang yang disayangi tersenyum. Mulai dengan memberikan cokelat,menyisahkan waktu luang berlibur bersama sampai memberikan sebucket bunga.

Begitupun hal nya yang dilakukan Reyhan. Reyhan berencana ingin memberikan sebucket bunga mawar.

Reyhan tidak melakukan ini sebelumnya. Mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta ? Reyhan tidak pernah merasakan hal ini. Tidak pernah merasakan jatuh cinta.
Ah.. baginya jatuh cinta bagian yang dianggap biasa.

♡♡♡

Reyhan memilih bunga berwarna pink. Pikirnya semua wanita menyukai warna itu yang jauh lebih dibilang Sweet Colour.

Entah kenapa Reyhan begitu berniat memberikannya ke Rahma ? Bagaimana jika ia menolaknya ? Bagaimana jika ia tidak menyukainya ? Bagaiaman jika ia membuangnya tepat dimukanya ?. Pemikiran macam apa yang menghantui Reyhan.

Seperti biasa setelah Rahma pulang Eskul Tehater Semu. Reyhan mengajaknya pergi ketempat biasa. Yahh bangunan tua yang sudah tidak berpenghuni menjadi tempat favorit mereka. Disanalah Reyhan dan Rahma bisa melihat keindahan ciptaanya , bahkan saat bintang menghiasi Reyhan dan Rahma ingin bercerita padanya mengenai Rahasianya

"Kamu ngapain ngajak aku kesini?"
"Hmmp- aku mau kasih kamu sesuatu"jawab Reyhan dengan terus terang
"Mau kasih apa ? Aku lagi engga ulang tahun"ucapnya sambil senyum senyum
"Bukan,"
"Lalu ?"

"Aku hanya ingin memberikan ini" ucap Reyhan sambil memberikan sebucket bunga yang terbungkus
"Ini apa ?" Tanya Rahma yang begitu bingung
"Buka aja" suruh Reyhan


"..."
"Kamu suka" tanya Reyhan
"Suka banget , terima kasih yah han" jawabnya sambil mencium bungnya
"Iyah , kupikir kamu engga suka dengan bunganya"
"Siapa bilang"
"Kamu lahh"
"Ihh.. nyebelin "

Akhirnya Reyhan bisa melihat Rahma tersenyum bahagia. Begitupun Rahma begitu sangat.. menyukai pemberian dari Reyhan.

Reyhan dan Rahma tertawa bersama menceritakan pengalamannya selama ini.

"Bahagia bukan saat menjadi bagian dari hidupnya. Melainkan, bahagia itu saat kamu melihat dirinya menarik pipinya"
*Jealous*

Seperti biasa Reyhan selalu berlatih sepak bola setiap sabtu sore. Reyhan berlatih dengan giat baginya Turnamen kali ini merupakan ajang yang bergensi. Reyhan berniat ingin menunjukkan kemampuannya mengolah kulit bundar.

"Han , pertandingan pertama kamu jadi stater"ucap pak Anang pelatih Bola
"Terima kasih pak , "ucap Reyhan sambil melepas sepatu bolanya

Reyhan menarik nafasnya dalam dalam. Berusaha menghilangkan rasa penatnya. Reyhan lupa saat hari valentine lalu Reyhan bukan hanya memberikan sebucket bunga saja. Melainkan Reyhan membeli juga bunga berwarna merah dan kuning yang berada di loker pribadinya.

Handphonenya berdering tanpa menunggu lama Reyhan membuka Handphonenya.

From : Rahma
Kamu ada acara engga ? Kalau engga ada, aku mau kasih tau nih

To : Rahma
Engga ada , aku lagi distadion lagi latihan

From : Rahma
Okee deh aku kesana yah

Reyhan benar benar dilema apa yang dia katakan ke Rahma nantinya ? Beranikah Reyhan memberikannya bunga yang masih tersisa diloker pribadinya ?.

"Han , "suara perempuan itu menyebut namanya
"Iyah , "
"Kamu sedang apa kesini ?"tanya Reyhan
"Engga apa apa bosen aja , ada yang mau aku kasih tau nih"
"Kiraiin ada apa, apa emangnya "tanya Reyhan sudah tidak sabar
"Jangan kaget yah"
"Iyah , aku juga mau kasih kamu sesuatu , "
"Oh..iyah , apa"
"Engga ahh kamu dulu"ledek Reyhan
"Okee yah gitu"

Tiba tiba .. suara motor gede menghampiri kami tengah asyik ngobrol. Reyhan terlihat bingung siapa orang itu sedangkan Rahma hanya tersenyum senyum.

"Hai sayang , "sapa laki laki yang mengendarai motor gede tadi sambil merentangkan tangannya memberi tanda dipeluk oleh Rahma
"Hai , lama banget sih" ucap Rahma memeluk tubuhnya
".."

Sayang ? Benarkah laki laki ini pacar barunya Rahma ? Apa mungkin Rahma ingin memperkenalkan dia pada Reyhan ?

"Ayolah jangan buat persepsi negative dulu" batin Reyhan

"Han , ini Angga pacar aku , "Rahma memperkenalkan
"Reyhan Aditiya" ucap Reyhan sambil mengulurkan tangan
"Angga Saputra" balasnya

Sesaat Angga manjauh dari Reyhan dan Rahma karena ada bunyi Handphonenya. Reyhan masih berdiam diri tidak percaya telah pupuskah harapannya mendapatkan Rahma ? Apakah Rahma hanya menyebut Reyhan tidak lebih dari seorang sahabat ?.

Hening ..

"Hann , katanya kamu mau kasih aku sesuatu" tanya Rahma membuka percakapan yang sempat hening
"Ehh.. iyah , sorry aku lupa"jawab Reyhan sambil mencari sesuatu berada didalam tasnya

"Ma , simpan bunga ini yah"pinta Reyhan
"Ya'Ampun Reyhan , kemarin aja kamu udah kasih aku sebucket , masa sekarang kamu ngasih aku lagi sih"
"Sengaja aku belinya banyak " tawa Reyhan
"Terima kasih ya" ucap Rahma sambil memeluk Reyhan

"Han , aku pergi dulu yah" ucapnya sambil melambaikan tangan
"Dadah"balas Reyhan dengan lambaian tangan.

Sekarang Reyhan mengerti apa arti Persahabatan ini , dan juga apa arti Perasaan Reyhan.

"Jika kamu jatuh cinta padanya, kamu harus mampu menerima laku, Karena jatuh cinta yang sebenernya itu harus satu paket dengan luka"
*Broken*

Tidak ada kegiatan yang Reyhan kerjakan. Selain membuka akun jejaring sosial Facebooknya sudah lama tidak dibuka. Semenjak masuk SMA Reyhan jarang aktif di dunia maya.

Banyak konfirmasi yang menerima pertemanannya. Tak lain dari orang orang yang belum Reyhan kenal. Tak jarang pula, Reyhan menemukan Foto foto dengan gaya yang berlebihan bereda diberandanya.

"Membosankan" gumam Reyhan

Sekilat Reyhan mencari nama yang sudah diotaknya melihat apa saja kegiatannya selama ini. Apakah orang yang Reyhan cari masih aktif atau sudah mengganti akun yang baru

Rahma

Hati Reyhan hancur berkeping keping saat melihat posting foto Rahma dengan Angga bermesraan. Kemudian Reyhan melihat Rahma mengganti statusnya menjadi berpacaran. Rahma tidak melakukan hal ini sebelumnya tidak pernah memposting foto berdua dengan laki laki. Selain dengan Reyhan

♡♡♡

Kebosanannya semakin bertambah saat melihat foto yang beredar di Akun jejaring sosial milik Rahma.

SHIT !!

Kenapa Reyhan begitu cemburu melihat kemesraan mereka berdua ?. Benar bena Bodoh padahal Rahma mengatakan kalau Reyhan tidak lebih dari seorang sahabat. Tidak lebih dari itu

Kenapa Reyhan masih mengharapkan yang tidak pasti ?.

Yahh.. seperti biasa Reyhan ingin menenangkan dirinya pergi kesuatu tempat favoritnya. Reyhan selalu menghabiskan waktunya sendiri dengan merenung ditempat ini.

Saat dijalan menunju tempat favoritnya Reyhan melihat gadis yang tidak asing lagi. Siapa lagi kalau bukan Rahma

Rahma berjalan dengan langkah cepat sambil menyilangkan tangannya dan berharap saja angin malam tidak terlalu lama masuk kedalam tubuhnya.

Reyhan menghampirinya, Reyhan tidak tega melihat.. sahabatnya seperti itu. Terlihat raut wajahnya sedikit kacau begitu pula pakaian yang digunakannya bukan yang biasa Rahma pakai.

"Hei , butuh tumpangan" tanya Reyhan sambil memperlambat laju motornya
"Reyhan , kamu ngapain ?"tanyanya sambil melihat ke araha kanan-kiri jalan
"Cari angin, ayoo naik"ajak Reyhan
"Hmmmp"

♡♡♡

Reyhan dan Rahma masih duduk termenung tanpa ada obrolan apappun.

Hening ...

"Kamh kenapa ?"tanya Reyhan membuka obrolan terlebih dahulu
"Aku engga apa apa"kata Rahma sedikit berbohong
"Bohong , kamu terlihat kacau sekali"
"Beneran aku engga apa apa"elakknya kali ini
"Ayolah , aku udah kenal kamu lama kenapa kamu engga mau cerita juga sih"rayu Reyhan yang tidak hentinya merayu Rahma

Dengan sangat.. terpaksa Rahma menceritakan semuanya.

"Aku janji, tidak bakal membuatmu bersedih lagi"batin Reyhan sambil mengepalkan tangannya menandakan janjinya pada semesta

"Jangan biarkan angin leluasa masuk ketubuhmu" ucap Reyhan sambil memberikan switter yang dipakainya
"Hmmmp, terima kasih"

Sudah pukul 9 malam itu berarti Reyhan  harus menghantarkan Rahma pulang. Reyhan tahu kalau Rahma jarang sekali pergi keluar rumah sampai malam hari.
*Sweet Seventeen*

Tidak akan pernah lupa dengan hari spesialnya. Bahkan Reyhan sudah melingkarkan tanggal ulang tahun Rahma dikalendernya. Dan juga menandakan dikalender Hanpdhonenya.

Reyhan sudah menyiapkan kado spesial untuknya jauh jauh hari. Reyhan pun sudah memberanikan diri mengutarakan isi hatinya. Toh, yang terpenting Reyhan sudah mengungkapakan yang sejujurnya urusan diterima atau ditolak itu urusan gampang.

Seperti biasa Reyhan selalu memberikan sebucket bunga mawar berwarna merah muda dan kado boneka yang berukuran besar menjadi pilihannya. Reyhan tau kalau Rahma menyukai Boneka yang berukuran besar dengan alasan supaya mudah memeluknya.

Reyhan sudah merencanakannya tepat satu minggu sebelum hari ulang tahun dan juga mengkordinasi orang tua untuk membuat kejutan yang sudah Reyhan rancang. Berharap saja Rencana ini ampuh membuat Rahma kagum dan tekejut.

"Mah , pah"panggil Rahma merasa aneh melihat rumah dengan lampu mati

Tidak ada respon, Rahma seakaan benar benar tidak mengerti apakah mamah dan papahnya pergi keluar kota tanpa sepengetahuan dirinya ?.

Tidak itu tidak mungkin, mamah dan papah selalu mengabari jauh jauh hari.

1

2

3

"Suprise !" Teriak Reyhan , mamah dan papah serentak
"Mamah , papah, Reyhan bikin kaget aja"
"Hehe"
"Happy Birthday to you"uca mamah memberikan kode lebih awal

Papah dan Reyhan pun menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Tidak lupa dengan kue ulang tahun yang Reyhan belikan tadi sore.

"Potong kuenya"kode Reyhan sambil nyengir kuda
"Reyhan !!!"
"Potongan pertama untuk siapa nih"ledek Reyhan kali ini
"Untuk mamah lah"jawab Rahma sambil menjulurkan lidahnya

-

-

-

"Tante , boleh saya ngomong berdua dengan Rahma"ucap Reyhan
"Tentu , ayoo pah kita keatas dulu ada anak muda yang dimabuk cinta"kata mamaj sambil menggandeng tangan papah
"Apaan sih mah" elakk Rahma

Reyhan sengaja memilih halaman belakang rumah Rahma. Disana ada bangku yang disediakan sekedar menikmati keindahan malam.

"Kamu mau ngomong apa ?"tanya Rahma kali ini sambil merapihkan duduknya
"Hmmp-, besok kamu ada waktu ?" Tanya Reyhan
"Engga ada han , " ucapnnya
"Besok nonton aku yah , turnamennya udah dimulai, jam 3 sore yah"
"Oh..iyah , pasti han ?"
"Iyah , club aku udah masuk semifinal soalnya "kata Reyhan sambil memperlihatkan susunan giginya
"Wihhh selamat yah, "

SHIT !!

Kenapa Reyhan lebih memilih topik seputar turnamennya ? Kenapa tidak langsung saja ? Dasar pecundang !. Oke kalian boleh mencaciku, kalian boleh memberikan label apapun untukku

"Han , mau ngomong sesuatu nih, kasih pendapat yah" ucapnya sambil mengusap kedua telapak tangannya
"Iyah Rahma " jawab Reyhan begitu Antusias
"Mmmm, menurut kamu Zian gimana ?"tanya Rahma menoleh kearahnya
"Zian ?? Maksud kamu apa?"
"Iyah Zian Saputra teman satu tim kamu, tadi dia nembak aku han "jawab Rahma nyegir kuda

Double Shit !!

Percakapan macam apa ini.

"Ayolah han , kau tidak boleh egois seperti ini"batinnya

"Han , kamu denger pertanyaan aku kan"
"Ehhh.. denger kok, menurut aku dia orangnya baik , cocok deh sama kamu"jawab Reyhan sambil menunjukkan jempolnya
"Hmmmp,"
"Terus kamu terima ?"
"Iyah ,"

Hening..

"Rahma , aku pamit dulu yah , besok kan ada pertandingan soalnnya"
"Iyah , makasih yah "
"Hmmmp,"
"Semangat yah" ucapnya
"Iyah"

Reyhan paham ucapan terakhir yang terlontar begitu saja dari Rahma. Reyhan yakin ucapan itu bukan untuknya. Melainkan untuk Zian teman satu tim Reyhan.
*Pembuktian*

Sepanjang perjalanan pulang pikiran Reyhan masih tidak percaya. Benarkah begitu cepat mencari pengganti yang baru ?. Bagaiamana bisa Rahma mempercayakan hati kecilnya ke Zian yang dikenal Playboy ?.

"Ayolah han , lupakan masalah ini besok loe ada pertandingan fokus"batinnya menggurutu

"Zian dengan siapa ?"batinnya kembali bertanya saat melihat zian sedang jalan bermesraan dengan seorang perempuan yang tidak dikenal Reyhan

Tanpa berfikir lama Reyhan mengikuti mereka berdua.

Tiba disebuah caffe yang tidak cukup jauh, ada obrolan yang terasa ganjil.Reyhan mengambil handphonenya untuk direkam sebagai bukti.

"Sayang , sampai kapan kamu bakal sembunyiin hubungan kita ?"tanya Gadis itu
"Hmmmp,"
"Kapan kamu bakal putusin Rahma ?"
"Kalau sudah ada waktu yang tepat" jawabnya
"Janji yah" ucap gadia itu sambil menunjukkan jari kelingkingnya
"Iyah sayang"

Oh..my god , itu berarti kalau Zian sudah selingkuh ?. Benar saja dugaan Reyhan kalau Zian tidak mungkin setia sama satu orang perempuan.

To : Rahma
Belom tidur kah ?

Tidak ada 5 menit Reyhan mendapatkan pesan singkat dari Rahma

From : Rahma
Belom han

To : Rahma
Aku kerumah kamu yah , ada hal
penting

Setelah sampai didepan rumah Rahma benar saja lampu rumahnya masih menyala itu berarti Rahma masih belom tidur. Sengaja aku menunggunya diluar

To : Rahma
Aku udah diluar , tolong keluar sekarang

-

-

-

Reyhan dan Rahma masih berdiam diri. Entah apa yang bakal Reyhan ceritakan terlebih dahulu.

"Han , kamu mau ngomong apa ?"tanya Rahma memulai percakapan sambil menggosokkan kedua tangannya

"Ayolah .. Reyhan Aditiya ceritakan saja, toh ini peluang untukmu mendapatkan hatinya bukan"batinnya

"Han .. "panggil Rahma kali ini membuyarkan lamunan Reyhan
"Ehh.. , seberapa percayanya kamu mempercayai Zian ?"tanya Reyhan sedikit serius
"Maksud kamu apa han ?" Ucap Rahma tidak mengerti maksudnya
"Maksud aku , kamu yakin dengan pilihan kamu memilih Zian untuk jadi pacar kamu ?"
"Iyah , memangnya kenapa ?"
"Hmm.. Zian selingkuh ma ,"ucap Reyhan
"Maksud kamu apa ngomong kaya gitu ? Apa kamu punya bukti ?"bentaknya
"Tunggu"

Reyhan mengeluarkan handphonenya dari saku celananya sementara Rahma melipat tangannya kemudian membuang wajahnya tanpa memandang Reyhan.

"Kamu bisa lihat sendiri ma , "
"Okee"

Rahma masih melihat video yang Reyhan rekam kejadian itu. Ada raut wajah berbeda dari Rahma.



"Maksud kamu apa ha ?, Zian engga bakal buat seperti itu"bentaknya kali ini sambil membanting Handphonenya Reyhan
"Aku engga bermaksud buat hancurin hubungan kamu ma , Zian engga cocok untuk kamu, Zian itu orang yang brengsek ma," ucap Reyhan

PLAK !!

Satu tamparan melesat mulus tepat dipipi kanan Reyhan. Mungkin ini jawaban yang bakal diterima Reyhan.

"Zian engga bakal buat seperti itu,"bela Rahma kembali masuk
"Asal kamu ma, Aku cinta sama kamu" teriak Reyhan membuat langkah lama terhenti

Rahma memutar badanya kembali menghampiri Reyhan masih berdiam diri.

PLAK !!

Satu tamparan lagi kembali melesatnya.

"Apa karena itu kamu ingin hubungannku berakhir ,"

Reyhan masih tidak menjawab pertanyaan Rahma. Reyhan masih berdiam diri memegangi pipinya terlihat memerah.

"Aku kecewa sama kamu han ,"ucap Rahma terakhir kemudian kembali masuk kerumah

Reyhan mengangkat wajahnya seakan tidak percaya dengan perkataan terakhir dari sahabatnya.

Segitu bencikah Rahma membenci Reyhan ?

Segitu kecewa kah Rahma terhadap perilaku Reyhan ?


"Terima kasih sudah mengenalkan aku dengan yang namanya, Rindu ,Cinta dan Luka"
*Match*

Pertandingan kali ini benar benar dipadati penonton dari kedua kesebelasan. Terlihat Rahma sudah tiba dibangku penonton tidak sabar melihat aksi dari Reyhan dan juga Zian pacar barunya.

Kali ini Reyhan dimainkan lebih awal. Pelatih masih mempercayakannya sebagai starting eleven.

Sorak sorak terdengar ditribun penonton yang sudah tidak sabar. menyaksikan laga kali ini.

Pemenang dari turnamen kali ini akan diajak berlibur sekaligus berlibur di Amsterdam. Kabar bagus jika ada pemain bagus maka akan dikirim ke club Ajax.

Tidak ada goal dibabak pertama. Penonton masih berharap kalau Tim nya lah yang layak melaju ke Final.

Babak kedua sudah bergulir terdengar yel yel dari tribun penonton menambah semangat para pemain untuk mencetak goal memenangkan laga ini.

Tiba tiba..

Reyhan terjatuh akibat tekel keras dari tim lawan. Namun Refree tidak melihat ada tanda Fouls. Sontak penonton menyurakinya.

Reyhan masih meringis kesakitan Refreee memberhentikan pertandingan. Tim medis terlihat dilapangan melihat keadaan Reyhan.

Tim medis memberi kode agar Reyhan digantikan oleh pemain lain. Sialnya cidera Reyhan terbilang cukup parah. Tim medis tidak mengasih tau Reyhan

Reyhan ditanduk keluar lapangan digantikan oleh Zian. Penonton memberikan Applause untuk Reyhan sekedar memberikan semangat

-

-

-

Akhirnya pertandingan dimenangkan oleh Tim Reyhan. Zian adalah penyumbang goal semata wayangnya yang menghantarkan

"Selamat yah sayang.. kamu hebat"puji Rahma sambil memeluk Zian
"Iyah dong , goal ini kan khusus buat kamu" jawabnya sambil membalas pelukkan Rahma

Sementara nasib sial tengah menimpah Reyhan yang cidera patah kaki. Tim medis memastikan Reyhan tidak bisa diturunkan dilafa terakhir.

Dan sialnya lagi. Reyhan sekolah harus menggunakan tongkat hingga kakinya kembali pulih.

"Biarkan aku dalam keadaan seperti ini, Hingga luka gerah dengan sifatku , toh sepertinya aku sudah bersahabat dengan.. Luka "
*Sorry*

Terdengar suara teriakan sepanjang koridor kelas. Tak jarang banyak siswa yang histeris saat melihat club kesayangannya melaju ke babakfinal.

Rahma melangkah kan kaki hendak masuk ke kelas.

Benar saja , Reyhan tidak ada dikelas kemana dia ? Biasanya Reyhan selalu datang lebih awal.

Selalu menyapanya di depan kelas ?.
Selalu membuatnya jantungan setiap pagi ?
Bahkan Reyhan selalu membuatnya tertawa tanpa henti melihat tingkah lakunya seperti anak kecil.

Kemana dia saat ini ?

apakah Reyhan marah terhadap perilaku semalem ?

Membanting handphone kesayangannya ?

Atau Reyhan akan pindah sekolah hanya karena aku menamparnya ?

"Ayolahh.. ini benar benar tidak lucu, kenapa aku yang begitu khawatir ?"batin Rahma

Rahma melangkah kan kakinya hendak pergi ke kantin. Siapa tau aja Reyhan ada disana.

Langkahnya terhenti saat telinganya merasa terganggu mendengar ucapan dari teman temannya.

"Ehhh.. loe tau engga , kasihan tau Reyhan kakinya patah"kata perempuan yang tidak diketahui namanya
"Loe kata siapa?"balas temennya
"Gue liat sendiri kal, nonton pertandingannya"

Rahma melanjutkan langkahnya terhenti.

Bel masuk terdengar begitu keras. Rahma enggan melanjutkan langkahnya hanya tinggal beberapa meter lagi dari kantin. Dan kembali kekelas melanjutkan pelajaran.

♡♡♡

"Teman teman , malam ini mau engga jenguk Reyhan ?"teriak Ketua kelas
"Emang Reyhan kenapa ?" Tanya salah seorang siswa
"Dia sakit , kakinya patah "
"Mau engga ?"
"Okee" jawab seluruh kelas serentak hanya Rahma tidak menjawab
"Jam 8 udah kumpul yah"

Dilema..

Yah kata itulah yang saat ini tengah dirasakan Rahma. Satu sisi hari ini akan ada latihan Theater Semu yang sebentar lagi akan ada performance. Sisi lain Rahma ingin menjenguk sahabatnya.

Rahma bisa saja membolos dari latihan Thetaer demi menjenguk Reyhan.

Tapi..

Apakah Reyhan bakal menerima kedatangannya dan melupakan semua kejadian 2hari yang lalu saat Rahma membanting dan menampar pipinya ?

Apakah Reyhan akan memandang wajahnya ?

Apakah Reyhan mau memaafkan kesalahannya ?

Langkahnya terhenti didepan gerbang rumah Reyhan. Sebagian teman kelasnya sudah masuk kedalam membawa buah buahan. Sementara Rahma masih mematung didepan gerbang.

"Rahma , ayoo masuk "ajak Dina
"Hmmmp, aku disini aja dehh"jawabnya sedikit meragu
"Loh emangnya kenapa ?, kamu kan sahabatnya"
"Hmmp, engga apa apa sihh "
"Yaudah dehh"

"Din ,"panggil Rahma sambil menghampiri Dina
"Iyah, apa kamu berubah pikiran ?"
"Engga , tolong kasih ini yah !"
"Semoga cepat sembuh" ucap Rahma sambil memberikan selembar tiket nonton Theater Semu
"Hmmmp"

Rahma masih menunggu teman temannya diluar rumah. Sesekali tangannya dilipat berharap saja bisa menghilangkan rasa dinginnya.

"Han , ini ada tiket dari rahma"ucap Dina sambil memberikan tiketnya
"Hmmp, Rahma dateng?" Tanya Reyhan
"Dateng tapi dia diluar"
"Kenapa diluar ?"
"Engga tau, oh .iya, semoga cepat sembuh kata dia"sambung Dina
"Iyah terima kasih yah"

♡♡♡
*About You*

Reyhan menyusuri setiap koridor dengan bantuan tongkat. Kakinya tidak mampu menahan tubuhnya. Yah.. butuh waktu 3 bulan untuk memulihkannya seperti semula.

Setibanya diruang Aula sekolah, Reyhan mencari seseorang yang dia carinya. Ternyata orang itu belum tiba dari perjanjian sebelumnya.

Bukan. Bukan Rahma yang akan Reyhan temui melainkan Ka Anggita Ketua Theater Semua lah.

Reyhan melatakkan tongkatnya disamping kanannya. Kakinya dia biarkan dalam keadaan lurus. Supaya tidak keram ataupun kesemutan.

Sesekali Reyhan mengecek Handphonenya siapa tau aja orang itu menghubunginya.

Sementara dipangkuannya terlihat berlembar lembar kertas berisikan naskah cerita pendek yang Reyhan buat.

Reyhan kembali membaca sekilas cerita yang dibuat sesekali Reyhan tersenyum senyum alur ceritanya. Yah.. cerita itu Reyhan buat memang sama dengan kisahnya. Kisah yang tidak mungkin pernah terjadi dalam hidupnya. Bahkan kalau dibilang Reyhan begitu lancangnya menceritakan kisahnya menjadi sebuah cerita pendek.

Hanya saja, nama tokohnya Reyhan ganti. Supaya tidak ada yang mencurigai dan juga tidak seperti kisah yang sebenarnya.

"Han , maaf udah lama menunggu"panggil Ka Anggita dari
"Ehh.. engga apa apa kok ka" jawabnya sambil menutup ceritanya
"Udah mendingan han ,? Maaf engga bisa jenguk"
"Udah kok ka, iyah engga apa apa ko ka"
"Eh..ini ka ada cerita lagi, kaka baca dulu yah , kalau ada bagian yang kurang kembalin lagi biar saya revisi" ucap Reyhan sambil memberikan berpuluh puluh lembar kertas
"Kamu.. yah , masih aja sempet buat cerita , pasti han ,"

♡♡♡

Kenapa pikiran masih mengkhawatirkan kondisi Reyhan ?. Padahal Rahma sudah membuatnya patah.

Rahma tidak konsentrasi saat diadakan galdiresik bersih. Pelatihnya sekali mengingatkannya agar tetap fokus.

Bad day..

"Rahma , fokus dong"teriak pelatihnya dari bangku penonton yang melihat aktingnya kurang begitu memuaskan

Sementara Rahma berusaha agar bisa fokua fokus dan fokus. Ternyata tidak bisa dia lakukan.

Benar saja briefing kali ini Rahma lah yang menjadi sorotan. Rahma hanya diam tertunduk mendengarkan saran dari pelatihnya.

Memang pantaslah Rahma mendapat arahan seperti itu. Yah.. mungkin inilah pelajaran yang dapat diambil.

Tinggal menunggu jam perfomance akan dimulai. Semua pemain berisitirahat dan semoga saja esok hari tenaganya terkumpul

Tidak dengan Rahma, Rahma masih memikirkan mungkin kah Reyhan akan menontonnya walaupun dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk hadir.
*Everything*

"Telfon ? Engga ? Telfon engga ?"batin Rahma bertanya sambil digengamnya handphonenya

Kenapa jadi dilema begini coba. Rahma masih memutar mutarkan handphonenya. Sementara Show nya akan dimulai 2 jam lagi.

Kesibukan dipanggung telah nampak. Semua crew mempersiapkan diri, crew Make up sudah merias beberapa pemain. Sementara Rahma menolak untuk di rias , dengan alasan ingin menghubungi sahabatnya

30 menit sebelum show semuanya sudah stand bye. Sementara Rahma masih sibuk merias diri.

"Rahma gimana , sahabat kamu dateng engga ?"tanya mba Sartih crew bagian Make up
"Engga tau mba," jawab Rahma dengan frutasi
"Loh , emangnya kenapa ?"
"Dia lagi sakit mba"jelas Rahma
"Oh..yaudah yang penting kamu fokus sama aktingnya, briefing kemarin kamu paling banyak dapet kritikan soalnya"
"Iyah mba , aku tau ko"

"Okee , finish semua, yuk semua crew dan pemain kita kumpul dulu" teriak Bang Dul pelatih Theater Semu

"Okee , sebelum penampilan dimulai ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu"ucap Bang Dul

Hening ..

"Berdoa selesai, gue harap semua pemain fokus sama narasinya, Rahma loe bisa lupaiin masalah sebentar kan"tanya Bang Dul seakan akan Rahma disinilah yang bersalah

"Bisa Bang" jawab Rahma

"Gue harap engga malu maluiin, soalnya penulis cerita ini bakalan hadir, walaupun keadaan dia tidak memungkinkan"tambah Bang Dul

Penulis cerita ini ?

Siapa ? Kenapa Rahma tidak pernah tau siapa yang membuat ceritanya yang sangat menyentuh.. dan juga seperti kisahnya.

♡♡♡

Applause !!!

Terdengar teriakan penonton yang sudah tidak sabar melihat penampilan dari Eskul sekolah kami.

Mungkin ini penampilan tersulit yang diperankan Rahma. Yah..sulit karena tidak ada kehadiran Reyhan selalu menontonnya dan memberikan semangat untuknya.

Pandangan Rahma masih mencari sosok yang dia cari didalam otaknya. Satu baris bangku penonton terlihat lengkap.

"Biasanya Reyhan selalu duduk dibangku bariasan paling depan"Batinnya

Setelah show selesai Rahma mencari Reyhan dikerumunan banyak orang.

Ternyata..

"Reyhan"panggil Rahma sambil berlari mengejar laki laki berjalan menggunakan tongkat

"Kamu datang juga han , "ucap Rahma sambil mengatur nafasnya
"Hmmmp, " jawabnya singkat
"Terima kasih yah"
"Iyah , aku pulang dulu yah"pamitnya

Rahma masih mengamatinya dari jauh hingga Reyhan menghilang dibalik pintu.

Ada yang aneh dari sifat Reyhan. Mungkinkah Reyhan berubah ? Atau hanya firasatnya saja ?. Oh.. tidak, kenapa Rahma harus memikirkan perilakunya ? Siapa dirinya dihidup Reyhan.

Masalah Reyhan berubah atau tidak itu urusannya. Seharusnya Rahma sepatutnya meminta maaf,

Sesulit itukah kata itu ? Padahal kata itu tidak ada apa apanya dibandingkan rasa sakitnya.

Yah.. sakit karena sahabatnya sudah memilih orang yang salah.

Sakit saat dirinya harus mencintai orang lain dan berjuang sendiri untuk membuktikan kata itu.

Sakit saat orang lain menganggapnya tidak lebih dari seorang "Sahabat".

Haruskah Reyhan selalu menjadi pelangi dihidupnya memberikan warna warni dan kebahagian yang nampak begitu semu.

Walaupun indah dengan warna warni kehadiran pelangi hanya sesaat.

Apakah Reyhan akan menjadi seperti. Hanya orang sesaat yang jika dibutuhkan orang lain mencarinya. Jika tidak dibutuhkan dirinya disingkirkan seperti debu yang harus dilenyapkan

Entahlah..
*Good Bye*

Selepas Ujian Nasional semua siswa siswi merayakannya. Walaupun hasilnya belum diumumkan hal itu untuk mengurangi rasa penatnya selama 3 bulan lebih bertempur habis habisan layaknya seorang prajurit perang.

Banyak yang mengabadikannya dengan berbagai cara, ada yang mencoret coret bajunya full tanda tangan dari angkatan. Ada yang mengabadikannya berfoto bersama dengan memasang muka yang begitu idiot.

Bahagia itu sangat..sederhana. cukup berada dikeramaian orang yang kita sayang tertawa bersama, sudah lebih dari cukup.

Acara perpisahan sebentar lagi akan dimulai. Terlihat siswa siswi begitu beda dari biasanya, seharusnya mereka masih memakai pakaian seragam lengkapa. Kini, terlihat begitu gagah dan anggun.

Perpisahan kali ini bener bener meriah dari tahun sebelumnya. Banyak yang menampilkan bakatnya yang dipendam. Tak jarang ada yang menampilkan sexy dancer ataupun Band.

Teriakan dari siswa siswi begitu menggema, terutama laki laki melihat penampilan sexy dancer yang benar benar menggoda iman.

Cerita,Canda, dan duka menjadi pelengkap acara kali ini. Tak jarang sebagian siswa siswi menangis. Entah untuk alasan kenapa sampai menangis.

Setelah acara perpisahan selesai, Rahma mencari sosok sahabatnya sedari tadi tidak menampakkann dirinya. Biasanya Reyhan selalu aktif berkumpul dengan teman temannya.

Tapi ..

Reyhan tidak muncul muncul juga merayakan kebahagian bersama sama. sebelum melanjutkan ke pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Atau mungkin tidak pernah bisa ketemu lagi.

Sejak kejadian kala itu, Rahma tidak pernah bisa berkomunikasi lagi dengan Reyhan walaupun mereka berdua satu kelas. Reyhan dan Rahma lebih memilih bungkam.

Reyhan lebih memilih diam dengan alasan dirinya malu. Jika teman temannya tau kalau dia dicap sebagai laki laki pengecut tidak bisa mengungkapkan perasaanya

Sementara , alasan Rahma karena dia sudah membuat Reyhan patah, menghancurkan Handphonenya bahkan dengan entengnya Rahma menamparnya. Tanpa meminta maaf.

"Rahma "teriak salah seorang perempuan dari belakang yang benar benar menggangu telinga

"Iyah"jawab Rahma sambil menoleh kearah sumber suaranya.
"Loe engga tau yang sebenarnya apa"ucap Siska sambil mengatur nafasnya
"Tau apa ? Mendingan loe minum dulu dehh !! Gue risih liat loe engap engapan gitu"kata Rahma sambil memberikan sebotol air mineral dari dalam tasnya

Diteguknya air mineral yang baru dikasih Rahma hingga menyisahkan satu tetes.

"Haus neng"ledek Rahma saat melihat Air mineral yang dia kasihnya habis
"Tadi lu suruh gue minum, sekarang malah dibilang haus"jawabnya dengan memasang muka cemburut
"Gue bercanda kali, ehh.. emangnya loe mau ngomong apa"
"Reyhan sekarang mau berangkat ke Ajax Amsterdam ma"ucap Siska
"Bohong aja loe"
"Ini buktinya"

Rahma memerhatikan selembar kertas yang bertuliskan nama Reyham. Kalau Reyhan bakalan bergabung dengan club junior Ajax Amsterdam

"Anterin gue sekarang"pinta Rahma
"Baru tau kan loe, Tenang aja"

Siska memacu kecepatan motornya diatas rata rata. Mungkin cara mengemudi motor Siska mirip dengan The Doctor siapa lagi kalau bukan Rossi.

Tidak ada 30 menit kami tiba dibandara Internasional Soekarno-Hatta. Rahma masih mencari Reyham dibalik keramaian orang yang berlalu lalang. Sementara Siska mencari tau dari papan pengumuman yang tertera begitu jelas

"Kita terlambat 5 menit ma"ucap Siska
"Terlambat ? "
"Itu buktinya" katanya sambil menunjuk papan pengumumannya

Sejahat itu kah Reyhan pergi tanpa memberi kabar terlebih dahulu ke Rahma ?

Apakah dengan cara seperti ini, perpisahaan yang Reyhan inginkan ?

See You Again Rey..

♡♡♡
*Merried*

"Hai.  Sayang"sapa Zian sambil memeluk Rahma dari belakang
"Sayang kamu apa apaan sihh, kita belom muhrim loh"jawab Rahma berusaha melepaskan diri dari pelukan Zian

Namun tubuhnya tidak mampu mengalahkan badan Zian yang begitu tegap.

"Kamu sedang apa?"tanya Zian kembali
"Sedang cek , siapa aja yang bakal di Undang nanti diacara pernikahan kita"
"Loh bukannya itu udah tugasnya Wedding Organizer yah?"
"Iyah sihh , tapi aku mau mastiim aja"
"Hmmmp,- kalau cape kamu kasih ke WO nya aja yah"

Acara pernikahan Rahma dengan Zian akan dilaksanakan 1 minggu lagi. Semua persiapan udah hampir selesai. Namun hanya ada satu yang belom Rahma temui

Rahma mencantumkan nama Reyhan menjadi tamu undangannya.  Tapi udah 4 tahun Rahma tidak mengetahui kabarnya. Yang Rahma tau kalau Reyhan tengah merintih karir di Negeri Kincir Angin.

Terasa berbeda betul tidak melihat kehadiran sahabatnya yang satu ini.

Tunggu. !! Masih pantaskah Rahma menyebutnya sebagai Sahabat ? Setelah dia menampar pipinya ?

Masih pantaskah Rahma menyebut Reyhan sebagai sahabat ? Setelah dia memabanting handphone miliknya ?

Masih pantaskah Rahma menyebut Reyhan sebagai sahabat ? Setelah dia tidak ikut masuk menjenguk Reyhan sakit ?

Asal kamu tau , sahabat tidak akan pernah menyakiti satu sama lain. selalu ada disetiap tawa dan duka bersama.

Zian dan Rahma bergegas pergi kerumah Reyhan. Berharap saja , Reyhan sedang ada dirumah sekedar berlibur. Tidak ada salahnya mencoba mengunjungi rumahnya.

"Sayang , bener ini rumahnya ?"tanya Zian tengah sibuk memarkirkan motor dihalaman rumah
"Iyah , bener kok alamatnya disini" jawab Rahma sambil memperhatikan sekeliling rumah

Rumah yang tidak begitu besar cukup buat dihuni 4 orang tampak begitu berbeda. Halaman rumahnya tampak dipenuhui rumput rumpatan. Sedangkan jalannya nyaris tak terlihat ditutupi daun daun berguguran.

"Apa Reyhan dan keluarganya pindah juga ke Amsterdam ?"batin Rahma

Tok !! Tok !!

"Assalamualaikum " ucap Rahma sambil mengetuk daun pintu

-

-

-

Tidak ada respon dari penghuni rumah. Rahma nyaris putus asa saat dirinya ingin memberikan kabar baik untuk sahabatnya. Tapi nyatanya sahabatnya tidak ada

Kemana Rahma harus mencari lagi ? Hanya Reyhan lah sahabat terbaiknya sewaktu di SMA

"Sayang , ayo kita pulang aja engga ada orangnya lagi pula"ajak Zian begitu putus asa
"Hmmmp"

Tiba tiba ..

Keluar perempuan paruh baya dengan rambut terlihat memutih.

"Walaikumsallam" jawab perempuan paruh baya tersebut


"Ibu masih ingat saya engga ?"tanya Rahma sambil mencium telapak tangannya yang mengkerut
"Masih , kalau engga salah kamu nak Rahma yah"
"Iyah bu"

Seperti itulah kedekatan antara Rahma dengan keluarga Reyhan ataupun sebaliknya. Bahkan sewaktu SMP Rahma sering menginap dirumah Reyhan menempati kamar kakak perempuannya yang tenga berkuliah diluar kota.

Mamah Reyhan juga tidak segan segan kalau Rahma adalah anaknya. Perilaku dan Hobbynya sama persis dengan Kakaknya.

"Ibu , kedatangan saya kesini ingin menghantarkan undangan pernikahan aku dengan calon suamiku Zian" ucap Rahma sambil memberikan undangan pernikahannya
"Hmmmp, terima kasih yah , nanti kalau Reyhan liburan ibu sampeiin"
"Iyah , terima kasih yah bu, kalau begitu saya pamit dulu yah bu"
"Asslamaualaikum"tambahnya
"Wa'alaikumsallam"

♡♡♡
Come Back*

"Hallo bu" ucap Reyhan dari sambungan telfon
"Hallo han , kamu pulang" tanya Ibu yang begitu rindu dengan anaknya yang satu ini

Terus terang, Reyhan tidak tega melihat ibunya tinggal sendirian di Indonesia. Reyhan juga sudah berkali kali membujuknya untuk ikut tinggal di Belanda namun Ibu tetap memilih tinggal di Indonesia.

"Insya'Allah, pekan ini bu"jawab Reyhan penuh semangat
"hmmp, gitu kalau udah sampai bandara ibu jemput yah han"pinta Ibu
"Engga usah bu , takut repotin ibu"
"Engga apa apa kok han"
"Engga usah bu , "

Bukan bermaksud merepotkan ibu , hanya saja , Reyhan tidak ingin membuat ibu merasa lelah dilihat dari umurnya yang tidak lagi muda dan tenaganya pun juga. Karena itu lah Reyhan mengkahwatirkan kesehatannya.

"Bu , yayasannya bagimana ? Berjalan dengan baik ?"tanya Reyhan kali ini begitu serius
"Alhamdulillah han , banyak yang masuk , Anak anak kurang mampu, Yatim piatu, maupun anak anak yang keterbelakangan mental"
"Alhamdulillah yah bu , oh..iyah bu, masih ingat sama Rahma ?"
"Iyah , masih.."
"Reyhan udah punya rencana buat melamar sekaligus nikah dengannya saat Reyhan liburan nanti" ucap Reyhan dengan penuh semangat.

Bahkan , Reyhan sudah memikirkannya bagaimana pernikahannya nanti. Rencanya pernikahannya akan diselanggarakan di yayasan yang dia dirikan. Teman teman satu club nya sudah tidak sabar melihat Rahma yang selalu Reyhan ceritakan.

"Menurut ibu gimana ?"
".."

"Ibu masih denger Reyhan kan ?"tanya Reyhan sedikit khawatir
"Eh.. bagus kok pilihan kamu"
"Bu , reyhan tutup dulu yah , mau kemas kemas besok Reyhan pulang Kok"
"Asslamualaikum" tutupnya memlalui sambungan telfon
"Wa'alaikumsallam"

Hmm.. mungkinkah Reyhan akan benar benar kecewa melihat orang yang dia cintainya memilih menikah dengan orang lain ?

Ibu tidak ingin melihat anaknya kecewa. Reyhan jauh jauh berlibur dari Belanda ke Indonesia kemudian mendengar berita buruk ini ?

Sungguh hal yang mengerikan bukan ? Karena itulah Ibu lebih baik menyembunyikan acara pernikahan Rahma dengan Zian

"Maafkan ibu han" batin Ibu

♡♡♡

BREAKING NEWS :
Breaking News kali ini akan menginformasikan telah terjadi kecelakaan pesawat terbang yang membawa penumpang 150 orang dari Amsterdam menuju ke Indonesia. Pesawat diduga jatuh di perbatasan anatara Eropa-Asia. Pesawat yang membawa penumpang yang membawa 150 orang salah satu diantaranya adalah WNI atau pesepak bola dari tanah air. Demikan Breaking News kali ini, Sekian dan Terima Kasih

"Ayah , ayah jangan tidur malam malam, jangan banyak nonton tv juga , besok kan acara pernikahan Rahma"pinta Rahma sambil melingkarkan tangannya dileher ayahnya
"Iyah anak kesayangan ayah , ini ada pesawat yang jatuh katanya sihh ada WNI yang ikut jadi korban"jawab ayah sambil mengkecilkan volume suaranya
"Palingan juga TKI/TKW"
"Bukan , tapi .."
"Udah lahh , Rahma tidur dulu yah"

♡♡♡

Acara yang dinanti pun tiba, Rahma terlihat begitu cantik menggunakan gaun penganntinya. Sementara acara seharusnya sudah dimulai sengaja Rahma menundanya lantaran menunggu Sahabatnya datang keacara bahagia dirinya. Walaupun kita tau hal itu tidak akan pernah terjadi

Tidak akan pernah ..

Hening

Tiba Tiba ..

Terdengar langkah sepatu dari pintu masuk. Pria itu terlihat sangat gagah memakai jas hitam dibalut dengan syall yang melingkar dilehernya. Tak lupa sebucket bunga dipegangnya.

Reyhan..

Setelah acara hijab kabul selesai dilaksanakan. Pria itu tiba tiba menghilang begitu saja dan hanya meninggalkan sebucket bunga yang tadi dibawanya.

Kemana dia ?

Kenapa dia secepat itu menghilang ?


♡♡♡
*Miss You*

Tepat 3 bulan setelah acara pernikahan Rahma dan Zian. Kehidupan baru tengah dijalaninya lika liku kehidupan pun harus dilewati.

Hari ini memang benar benar menguras tenaga. Rahma terlebih awal bulan harus ada evaluasi mengenai kinerja kerja karyawan.

Rahma membuka knop pintu yang begitu sepi. Tidak seperti biasanya rumahnya nampak begitu sepi tanpa ada cahaya lampu.

Begitu terkejutnya saat Rahma membuka pintu kamarnya.

Suatu adegan yang tidak patut ditiru saat melihat suaminya Zian tengah melepaskan gairahnya dengan wanita lain

"Ziannn !!!!" Teriak Rahma begitu terkejut melihatnya
"Oh ..kamu , bagus dehh kalau udah tau"jawab Zian tidak berdosanya
"Cukup Ziann !!!" Bentak Rahma sambil menghampirinya
"Marah ? Aku tidak peduli"

Plakk !!

Sebuah tamparan melesat dengan mulus tepat dipipi kanannya.

Zian pun langsung melawannya hingga terjadilah perpecahan hebat.

Rahma memutuskan untuk pergi keluar tidak kuasa melihat suaminya berselingkuh dengan wanita lain

"Hey, perempuan jalang !!"
"Mulai detik ini kita cerai"

BITCH !!

Dasar lelaki tidak berguna dengan mudahnya menceraikan wanita begitu saja.

Tidak ada untungnya mempertahankan rumah tangga bersama lelaki brengsek seperti Zian.

Rahma keluar rumah dengan air mata yang mengalir dipipinya.

Apa yang harus ia ceritakan pada orang tua ?

Rahma menyusuri jalanan ibukota yang terlihat sepi. Hingga memutuskan untuk beristirahat di emperan toko dengan alas seadaanya.

Tidak peduli dengan masalah yang saat ini dihadapinya. Baginya melupakan lelaki brengsek seperti suaminya.. upss lebih tepatnya mantan suaminya begitu mudah untuk dilupakan

♡♡♡

Matahari sudah nampak sinarnya begitu menyengat ditubuh sehingga membuat Rahma bangun dari tidurnya.

Entah, Rahma tidak tau kemana ia harus pergi ?

Kemana ia kan tinggal ?

Rahma tidak ingin melibatkan keluarganya dan membuatnya merasa prihatin dengan keadaanya.

Rahma mampu mengatasinya walaupun dirinya seorang perempuan yang tak berdaya.

Langkahnya terus menyusuri jalanan ibukota. sinar matahari begitu menyengat dan terasa dikulit. Rahma tidak mempedulikan hal itu.

Tiba tiba ..

Langkah Rahma terhenti saat berada disebuah bangunan begitu besar.

Rahma melihat sosok seseorang yang tidak asing lagi dihidupnya. Siapa lagi kalau bukan..

REYHAN !!

Lelaki itu tengah berdiri memandangi bangunan begitu megah disana. Rahma masih mengamatinya dari jauh

Rasa penasarannya tidak dapat dibendung. Hingga akhirnya Rahma memutuskan menghampiri Reyhan

♡♡♡
*Rainbow*

"Sejauh jauh kamu melangkah pergi, disinilah aku selalu menjadi rumah untukmu singgah"


"Hai .. "sapa Rahma dengan senyuman yang Reyhan rindukan
"Kamu ? "Jawab Reyhan terkejut melihat orang yang dia nanti untuk dijadikan pendamping hidupnya datang diwaktu yang tepat
"Iyah , kamu sedang.." tanya Rahma saat melihat tulisan yang bertuliskan

RAHMA FOUNDATION

Sebuah Yayasan yang didirikan Reyhan melalui hasil jerih payahnya menjadi pemain Ajax Amsterdam.

Entah , ini benar benar membuat jantungya terasa tidak berdetak lagi. Serasa ada yang mengganjal direlungnya.

Kenapa Reyhan mendirikan Yayasan ini ?

Kenapa yayasannya diambil dari nama Rahma ?

"Engga etis kalau ngomong diluar , ayo kita kedalam"ajak Reyhan mempersilahkan Rahma masuk kedalam Yayasannya
"Hmmpp.."
"Kamu mau minum apa ?"
"Bebas deh"

Reyhan meninggalkan Rahma diruang tunggu. Sementara Rahma masih mengamati sekeliling ruangan ini.

Tiba tiba..

"Rahma "sapa perempuan dari arah pintu luar
".."
"Kamu-"

Mungkin inilah waktu yang tepat menceritakan yang sebenarnya terjadi.

Hatinya terasa mati,  bumi seakaan berhenti berotasi, tubuhnya terasa kaku mendengar cerita ibu Reyhan. Rahma mengumpulkan sisa tenaganya berusaha kuat dan harus menerima semua kenyataan.

Lagi lagi gagal pertahanannya terasa roboh mendengar semuanya air matanya mulai membasahi pipinya. Dibiarkan air matanya membasahi wajah cantiknya.

"Lalu , tadi siapa yang ?"batinya bertanya tanya

Terasa benar benar tidak adil. Kenapa kebahagian Rahma selalu saja harus dibalas dengan air matanya.

Adilkah Tuhan menyusun skenarionya ?

Pertama , Rahma baru saja melihat perselingkuhan suaminya dengan perempuan lain.

Kedua , Rahma begitu terkejut saat mendengar kalau Reyhan ingin melamarnya 3 bulan yang lalu, Namun naas Pesawat yang Reyhan tumpangi jatuh.

Tidak ada yang bisa menahan lagi tubuhnya. Bahkan untuk bernafas saja terasa sesak.

Kakinya meminta dirinya untuk melangkahkan menyusuri ruangan demi ruangan. Begitu terkejutnya melihat setiap sudut ruangan terpasang gambarnya.

"Kaka kaka"sapa seorang anak kecil berambut gimbal lari menghampiri Rahma digenggamnya selembar kertas entah apa yang ia ingin kasih
"Iyah ,"
"Aku ada sesuatu untuk kaka" katanya begitu polos
"Oh..iyah , kasih tau dong"jawab Rahma mensejajarkan tubuhnya dengannya begitu kecil
"Aku buatin ini khusus buat kaka"
".."

"Siapa yang ngajarin kamu gambar"tanya Rahma kali ini
"Om Reyhan yang ngajarin"
".."

Sebuah sketsa wajah sama betul dengan wajahnya. Begitu membuatnya terharu

"Hmmp, terima kasih yahh.." ucap Rahma sambil mengelus Rambutnya
"Rahma Anindita" ucapnya
"?? Siapa yang ngasih nama kamu"tanya Rahma
"Om reyhan juga ka"

Rahma langsung memeluknya dengan pelukan erat.

Rahma melanjutkan penyusura ruangan demi ruangan.

Tibalah disalah satu halaman belakang. Dengan taman dan air mancur disana.

Ada yang merasa aneh. Rahma menghampiri tempat itu dengan penuh tanda tanya.

Ternyata..

Satu makam yang bertuliskan nama orang yang Rahma cintai begitu terpampang jelas dihadapnnya.

Reyhan Aditiya..

Tubuhnya tidak mampu menahannya lagi.

Rahma ambruk didepan makam Reyhan.

♡♡♡

"Kamu itu seperti Pelangi yang selalu datang tanpa ada hujan, selalu memberikanku arti kehidupan yang sebenarnya"

"Terima kasih Pelangiku,"


TAMAT

Jumat, 25 Desember 2015

Last Love


Aku mencintaimu sejak kamu mengulurkan tanganmu. Sejak kamu membentangkan tangan memelukku dengan pelukkan hangat. Jangan tanyakan kenapa aku begitu sangat .. mencintaimu. Jangan kau tanyakan ! Aku sendiri pun tidak pernah tahu kenapa aku begitu lancangnya mencintaimu dalam diam. Tanyakan lah pada dirimu kenapa kamu begitu sempurna, kenapa kamu begitu percayanya mempercayaiku sebagai sahabatmu. ? Aku tidak tau akan hal itu.

Bahkan bagian yang paling sesak saat kamu menceritakan kamu tengah mendekati salah satu wanita kampus. Aku masih setia mendengarkan ceritamu. Entah kenapa aku begitu bodoh dengan sikapku ?.

Kamu menjalin hubungan dengan wanita itu pun aku (masih) mampu bertahan. 
Kamu jalan berdua bermesraan dengan wanita itu pun aku (masih) mampu tersenyum.

Hei.. hatiku ini bukan baja ! Yang tahan dari segala apapun. Aku punya rasa yang sama dengan wanita yang kamu kencani. Sadarkah kamu mengetahui rasaku ini ?. Kenapa kamu dengan mudahnya mempercayai hatimu pada orang lain yang baru kamu kenal ? Kenapa kamu tidak mempercayaiinya padaku ?

Upss.. aku lupa , aku sadar aku hanyalah sahabatmu tidak lebih dari itu !. Tuhan maafkan aku , aku telah membuatmu murka. Hanya saja aku ingin selalu berada disisinya. Bukan sebagai sahabatnya. Aku ingin mengetahui apa itu arti cinta yang sebenarnya.

Hanya itu Tuhan ..

♡♡♡

Nama aku Oktavia Olivia saat ini aku tengah menyelasaikan semester terakhir kuliahku disalah satu Universitas favorit dikota ini. Arda Andrian itu sahabatku. Aku dengannya bersahabat sejak kami duduk dibangku SMA bareng. Wajahnya begitu tampan dengan bentuk wajah yang nyaris sempurna, ditambah lagi dengan hidungya yang mancung membuatnya lengkap sudah.

Namun sikap Arda tidak pernah hilang. Arda sering gonta ganti pacar lebih tepatnya Playboy.Dan yang terakhir ini Arda tengah menjalin hubungan dengan Maba (Mahasiswa Baru) di Universitas ini. Dengan penampilan yang dibilang tidak kalah moodist dari artis korea yang saat ini tengah dipuja oleh sebagian besar kaum hawa.

Bahkan Arda selalu mengganti gaya rambutnya saat mengambil mata kuliah. Arda terinspirasi dari pesepak bola ternama David Beckham yang suka mengubah gaya rambutnya disetiap Becks tampil dilapangan hijau maupun diluar lapangan.

Tunggu ! Segitu detailnya yah aku menceritakan semua tentang Arda. Hmmp-. Singkatnya aku dengannya bukan hanya sebatas sahabat. Aku menyukainya walaupun aku tahu sifat buruknya. Aku yakin, Arda punya sifat yang lebih baik 

Aku tidak berani mengungkapkannya secara langsung padanya. Lebih baik memendamnya dalam dalam. Biarlah waktu yang bakal menjawab semuanya. Toh , jodoh itu tidak bakal kemana. Menjadi sahabatnya saja udah luar biasa kenapa harus meminta hal yang lebih darinya.

♡♡♡

"Ta , liat Amel engga ?"tanyanya
"Engga deh , coba aja kamu cari di kantin"saranku
"Okee dehh" ucapnya sambil pergi meninggalkanku disini.

Kamu menghampiri aku hanya ingin menanyakan hal itu ? Kenapa kamu engga menelfonnya atau mengirimnya pesan singkat ? Kenapa pula aku menjawab pertanyaannya ? Arghh.. lupakan !

Aku masih fokus mengerjakan skripsi yang sebentar lagi disidang. Banyak waktu terbuang, terutama waktuku dengan Arda. Tunggu ! Aku dengannya bukanlah sepasang kekasih yang setiap minggu selalu pergi ketempat favorit ataupun pergi menonton bioskop. Aku dan Arda memiliki kehidupan yang berlawanan.

Arda memiliki kekasih yang kapanpun bisa pergi. Sedangkan aku ?. Apalah yang bisa aku tunjukkan pada cowok cowok dikampus ini ?. 

Menata dan merias wajah saja aku tak mampu. Apalagi menggunakan high hills dengan tinggi bersentimeter. Jujur aku tidak mampu merubah penampilanku.

"Jika ada orang yang mencintaimu karena kagum terhadap Penampilanmu, Orang itu tidak pernah paham betul. Cinta itu tidak mungkin bisa kagum terhadap satu hal termasuk (penampilan) , Jika ia mencintaimu hanya karena itu, itu berarti hanya Perjanjian, dalam cinta tidak ada Perjanjian"

Arda Andrian POV

"Mampusssss gueeee telat lagi !!! "teriakku

Kupercepat langkah kakiku menyusuri koridor kampus yang terlihat sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang.

Tidak ada waktu untuk mempersiapkan mencari alasan menghindar dari serbuan dosen yang super cerewet. Bahkan untuk mengecek tugas yang tempo hari diberikan dosen pembimbingku
Pun aku tidak bisa mengeceknya

"Permisi !, maaf Bu dosen" ucapku 
"Kamu dari mana saja Arda ? Sudah jam berapa ?" Tanyanya
"Saya ... kesiangan bu"
"Banyak alasan aja , kumpulin tugas kamu"

Double Shitt !!

Tugasnya ketinggalan dimeja belajarnya. Sial bener hari ini, entah mimpi macam apa aku tadi malam sampai harus dua kejadian buruk sekaligus.

"Mana Arda tugas yang minggu kemarin saya berikan "tagihnya
".."
"Engga ngerjainn ? Apa lupa dibawa ?"tanyanya
"Hehe"
"Kenapa kamu ketawa ?"
"Engga apa apa kok bu, tugasnya ketinggalan bu"jawabku sambil memperlihatkan gigiku yang tersusun rapih
"Alasan lagi kamu ini, mau sidang skripsi nya ditunda tahun depan"ancamnya
"Jangan bu, "
"Saya kasih deadline jam 2 siang harus udah ada dimeja saya"
"Baik bu"

♡♡♡

"Hai .. sayang"sapa Amel
"Ha.. aku engga ada waktu"
"Loh ? Kok gitu kan kamu sendiri yang udah janji hari ini khusus buat aku"gerutunya
"Iyah , tapi aku harus ambil tugas yang ketinggalan , dan itu deadlinenya cuman sampai jam 2 siang" paparku
"Nyebelin kamu arda" ucap Amel sambil pergi meninggalkan Arda 
"Mel , tunggu dulu" 
"Udah sana kamu ambil aja dulu tugasnya"usirnya
"Jangan gitu lah mel, "
"Terserah kamu , mau nempatin janji kamu apa engga"
"Kita susun ulang lagi aja jalan barengnya" 
"Besok aku sibuk"
"Hmmmp-, yaudah dehh maafin aku yahh"
"Bodo-, "
"Taksi !!!"Teriak amel
"Amel tunggu dulu "

Bisakah kamu bersikap dewasa sedikit ? Dan menghargai waktuku ?

Amel bukanlah tipe perempuan yang mandiri, tidak seperti Okta, selalu saja membuat waktuku yang menjadi korban.

To : Oktavia
Bise ketemuan ga ?

Tidak ada 5 menit handphoneku berdering

From : Oktavia 
Bisa , dimana ? Jam berapa ?

To : Oktavia
Tempat biasa , sekarang bisa ga ?

From : Oktavia
Oke 


"Adakah tempat untuk merehatkan pikiran sejenak saat langit terlihat sepi tanpa hamparan bintang bintang"

Tempat ini sengaja aku pilih karena dulu aku dan Oktavia sering kesini. Entah itu satu minggu sekali ataupun saat kami tidak ada pekerjaan yang harus menguras tenaga. Bahkan waiters disini telah hafal pesanan aku dan Oktavia.

Caffe ini tidak begitu besar, tata ruangannya begitu bagus. aku suka dengan design interiornya. Aku bisa menebak kalau yang merancang tata ruangan itu pasti tipe Melankolis. Hmmp ,-

"Hai .."sapa gadis yang terlihat melambaikan tangan ke arah bangkuku
"Hai "jawabku dengan membalasnya senyuman
"Udah lama menunggu ?"tanyanya sambil mengangkat kursi kemudian meletakan tas diatas meja
"Engga , aku baru dateng"jawabku padahal aku telah tiba sekitar setengah jam yang lalu dari awal perjanjian sebelumnya.

Aku sengaja datang lebih awal dengan alasan supaya aku bisa memulihkan pikiranku yang sedang kacau.

"Ada masalah kah ?"tanya okta kali ini
"Engga ada kok , everything it's okee" jawabku dan berharap saja okta percaya dengan ucapanku
"Okee , aku pesan dulu yah" 
"Hmmp" jawabku kemudian menghirup caffe flat white yang sedari tadi menggangu indra penciumku

_

"Bagaimana dengan masalahmu yang tadi ?" Tanya okta yang masih ingat
"Hmmp.. udah selesai ?" Jawabku sedikit ragu
'Kamu yakin ? Bahkan aku melihat ada sesuatu yang disembunyikan dari matamu" pikirnya
".."

SHIT !!

Aku lupa kalau Oktavia mampu membaca pikiranku, entahlah akankah aku harus menceritakannya atau tidak. Untuk saat ini kurasa masalahnya telah selesai

"Kamu yakin engga cerita ?"
"Ehh -, aku lagi tidak ingin membahas masalah ini" jawabku
"Okee "

Setengah jam telah berlalu, aku dan okta masih terjebak kepikiran masing masing. Kenapa Amel begitu berbeda dengan Okta ? Kenapa Amel tidak bisa bersikap dewasa sedikit ?

Bukankah aku memilihnya lantaran egoku ? Lantaran dia memiliki hal yang lebih dari wanita lain ?. 

"Jika kamu "jatuh" kepadanya , kamu pun harus jatuh dan paham akan sifat buruknya, bukankah kamu hanya menyukainya lantaran sifat baiknya ? Kenapa kamu tak mampu merangkul sifat buruknya pula ?"

Oktavia POV

Aku tertarik saat kamu menceritakan masalahmu padaku. Aku masih setia mendengarkan keluhanmu padaku. Tanpa ada yang memperdulikan masalahmu terutama orang yang begitu spesial dihidupmu. Aku tertantang untuk masuk jauh kedalam hidupmu apakah kamu memang orang yang tepat untukku kelak ?.

Bukan. Bukan maksud aku menyingkirkan orang yang saat ini kamu sayang dengan cara kotorku. Bahkan aku tidak berbakat melakukannya. Tidak !

Aku punya cara sendiri yang jauh lebih baik dari cara itu. Yah ! Aku lebih baik menunggumu aku lebih suka melakukan hal itu. Walaupun mulutku mampu mengatakannya dengan mudah kalau aku "Mampu" menunggumu. Ternyata tidak dengan raga dan jiwaku. Aku lelah dengan semua ini.

"Hmmp, kurasa kamu harus menenangkan pikiranmu untuk sementara waktu" tuturku
"Bagaimana bisa aku melakukannya?" 
"Simple"
"??"
"Cobalah kamu tidak mengabarinya selama 2 hari," jawabku
"Bukannya itu malah tambah memperparah keadaanku dengannya"pikirnya
"Engga kok, percayalah, perempuan tidak bakalan lama marahnya, dan dia bakalan mencoba menacari tahu kabar lelakinya"
"Oke kalau gitu , aku ikutin saran dari kamu"

-

-

-

Tepat dua hari dari pertemuan aku dengan Arda berlalu. Aku merasa ada yang ganjil dari sikap Arda selama ini. Bukannya aku yang menyuruhnya untuk menenangkan pikirannya ?. Kenapa pula aku yang khawatir keadannya selama dua hari ini ?. 

Ayolah aku ini bukan orang yang spesial dihidupnya. Kenapa aku begitu mengharapkan hal lebih darinya.

"Mir , lihat Arda engga ?"tanyaku 
"Engga lihat ta , kenapa emangnya ?" Jawab Mira
"Engga apa apa , emang dia engga masuk ambil mata kuliah yah ?"
"Engga tuh , gue duluan yah ada urusan lagi"ucapnya sedetik kemudian menghilang dibalik koridor dengan langkah tergesa gesa

Bukannya aku mempunyai nomer handphonenya ? Kali aja aku dapat mengetahui kabarnya secara langsung.

Arda kemana ? Kenapa nomernya tidak aktif ? Pikiran itu tengah bergulat dalam otakku. Aku menyesal telah memberikan saran padanya untuk menenangkan pikirannya. 

Kamu dimana Arda ?

Arda POV

Bukanlah hal mudah tidak memberikan kabar ke amel selama ini. Aku melakukan hal ini bukan tanpa sebab kadang aku merasa kecewa dengan perilaku Amel yang tidak pernah bisa menghargai waktuku sedikitpun. Bahkan aku selalu menggorbankan waktuku dengan keluarga demi jalan dengannya.

Memang yang dikatakan Oktavia benar kalau aku harus menenangkan pikiranku.

"Hallo bi "ucapku 
"Halli den arda , "
"Ada apa bi , nelfo arda "tanyaku 
"Anu den, " jawabnya sambil terbata bata
"Anu apa bi ? "Tanyaku yang tidak paham dengan maksdunya
"Nyonya sakit den,"jawab yang membuatku terkejut
"Mamah sakit , maksud bibi ?"
"Iyah den , den arda bisa kesini engga ?"
"Bisa kok bi, kirimin alamat rumah sakit lewat sms yah bi" perintahku
"Oke den,"

Oh.  Tidak musibah apalagi yang tuhan berikan padaku ?. Sanggupkah aku memikulnya seorang diri ?. 

Aku langsung pergi ke alamat yang bibi kasih. Jujur aku tidak ingin terulang kembali peristiwa 3 tahun lalu. Lantaran aku mementingkan kegiatanku dikampus  yang benar benar menyita waktu. Hingga tidak ada waktu untuk menemani ayah yang tengah berjuang melawan penyakit hingga menutup mata.

Bahkan , aku tidak sempat melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Sungguh aku benar benar menyesal kejadian itu, andai saja waktu bisa terulang. Andai

Setelah sampai dirumah sakit aku langsung keruang kasir mencari tahu diruang mana mamah dirawat.

-

-

-

10 jam aku berada disamping mamah yang tengah beristirahat dengan bantuan infus dan alat pernapasan sedangkan bibi aku menyuruhnya untuk pulang.

Aku bersyukur memiliki bibi yang begitu care dengan keadaan keluargaku. Pantas saja Almarhum papah tidak sungkan sungkan menyekolahkan anak semata wayang bibi sampai tamat wisuda. 
Mungkin dari situ lah bibi ingin membalas budi baik papah yang tidak sempat hingga papah meninggal dunia.

"Arda"ucap mamah dengan suara lirih
"Mamah engga apa apa kan ?"jawabku 
"Mamah engga apa apa kok, cuman kecapean aja kok da" jelasnya
"Kenapa mamah engga bilang arda ? Kan bisa cek dokter, engga kaya gini tau tau mamah masuk rumah sakit"kesel dengan keadaan mamah saat ini yang menyembunyikan rasa sakitnya

Apakah selamanya perempuan selalu menyembunyikan rasa sakitnya ? Dan berpura pura kuat dihadapan orang yang disayanginya?

"Mamah engga mau ganggu kamu, sebentar lagi kan anak mamah mau diwisuda," jawabnya yang aku tahu itu alasannya
"Tapi kan mah-" jawabku yang dipotongnya
"Udah yang penting kan kamu udah dateng, mamah mau ngomong sesuatu ke kamu"ucapnya sambil menegakkan tubuhnya
"Mamah mau ngomong apa emangnya?"
"Mamah tau sekarang umur kamu semakin dewasa , kapan kamu akan menikah ? " tanyanya yang benar benar membuatku kelu
".."
"Kamu udah punya pacar kan da ?" Tanya mamah kali ini
"Mamah ngomong apa sih" jawabku sambil mengalihkan wajahku ke luar sana
"Mamah ngomong serius, tolong kamu jawab jujur"  pintanya 
"Hmmp-, iyah arda udah punya pacar, tapi arda belum ada niatan buat kedepannya tentang masa depan arda dengannya"jawabku yang kurasa cukup jelas
"Kenapa ? Umur kamu sudah cukup bukan ?"
"Arda masih bingung mah , arda mau lanjut S2 "
"Setelah menikahkan kamu bisa melanjutkannya bukan ?"
".."

Aku tidak menjawab pertanyaan mamah. Bahkan pandanganku masih kearah yang sama dan berharap saja mamah tidak membahas masalah ini. Ternyata tidak !.

"Arda , jawab dong kapan kamu mau nikah ?"
"Arda engga mau nikah ma, kenapa mamah maksa arda untuk menikah ?"
"Ini amanat dari papah kamu , apakah kamu engga kasihan melihat almarhum papah tidak bahagia ?" Ucap mamah yang membuat pertahananku yang semula kokoh kini rapuh dengan ucapan mamah yang menghantamnya dengan keras
".."
"Kamu ingin lihat papah bahagia kan ?"
"Yah , tapi engga menikah juga kan mah , pasti ada cara lain kan " elakku
"Engga ada ,"
"Hmmp, kasih arda waktu untuk memutuskannya mah ,"
"Okee kalau gitu "

-

-

-

To : Oktavia
Ada waktu kah ? Bisa ketempat biasa engga ?

Aku menunggu balasan pesan singkat dari Oktavia dan berharap saja dia nantinya bisa bertemu dan memberikanku saran. Aku begitu percaya dengan sahabatku yang satu ini bahkan aku telah Menganggapnya sebagai adik kandung aku sendiri.

From : Oktavia
Ada kok :) okee , jam berapa ?

To : Oktavia 
Jam 5 aku udah stay yah 

Aku melihat jam dinding yang masih menempel di ruang yang saat ini mamah dirawat. Baru jam 2 dan itu artinya masih ada waktuku selama 3 jam menemani mamah sebelum bertemu dengan Oktavia.

-

-

-

Aku masih melakukan hal yang sama saat mengunjungi tempat ini. Selalu mencari tempat yang mengarah ke arah luar sana. Selalu memesan pesanan yang sama yah caffe flat white menjadi satu satunya yang selalu menggangu indra penciumku. Bahkan aku mampu menghabiskanya berapapun saat ada tugas kuliah yang benar benar menyebalkan.

Aku memperhatikan gadis yang tengah memparkirkan motornya. Setelah memparkirkan motornya gadis itu melambaikan tangan kearah bangkuku.

Oktavia Olivia 

"Hei , kamu kemana aja ? Kenapa kamu engga masuk kuliah ?" Tanyanya saat tiba menarik bangku caffe ini kemudian meletakkan tas nya diatas
"Hmmmp-,"
"You hear me ?"
"Bad ta"
"Why ? Give me a reason why you say bad ?"
"Mamah aku sakit, dan kata kata itu masih belom bisa aku putuskan" ucapku
"Sakit ? Sorry da aku engga tau hmmp,- kata apa emangnya ?" Tanyanya kali sambil meletakkan sikunya diatas meja
"Mamah menyuruhku menikah setelah lulus nanti"
'Menikah ? Bagus dong"tawanya yang begitu kaget mendengarnya
"Apanya yang bagus"dengusku
"Bagus aja ,menikahkah bagus heeh"ledeknya kali ini
"Tau lah ta" ucapku sekilas mengarah pandanganku ke arah sana

"Maaf da , bercanda kok"
"Hmmp-"
"Jangan baper lagi heeh" ucapnya kali ini
"Siapa yang baper sih Oktavia Olivia" jawabku sambil mengelus helaian rambutnya

Langit terlihat berubah menggantinya menjadi warna biru kelam. Terlihat bintang dan bulan telah hadir disana. Hampir 1 jam aku dan Oktavia disini menceritakan semua masalah tentang pernikahanku.
Hari ini aku berterima kasih pada dosen pembimbingku yang tidak  memberikanku tugas lebih. Aku telah memutuskan mengenai masalahku.


To : Oktavia 
Malam ini aku jemput yah , ada yang ingin aku tanyakan

From : Oktavia
Ada apa lagi sih ? , dadakan bener

To : Oktavia
Kepo banget :p  jam 7 aku udah tunggu didepan rumah

-

-

-

Aku tiba didepan pintu gerbang rumah Oktavia. Rumah yang terlihat tidak begitu besar namun begitu rapih dengan designnya. Aku suka dengan tipe rumah ini. Bahkan aku telah memikirkan rancangam rumah saat aku berkeluarga nanti

To :Oktavia
Aku udah sampe nih :d cepetan keluar

From : Oktavia
Cepet amat padahal baru setengah 7, sebentar aku izin dulu yah

To : Oktavia
Oke ;) jangan lama lama yah

Aku masih duduk di bangku halaman yang ada dirumah Oktavia. Melepaskan rasa bosanku aku memutarkan lagu yang ada di play list musikku.

Bruno Mars - Marry You

It's a beautiful night

We're looking for something dumb to do.

Hey baby 

I Think I wanna marry you.


Aku masih memperhatikan kata demi kata dari lagu ini. Yang benar benar membuatku bahagia


Hampir 30 menit aku menunggu Oktavia disini. Kemana dia ? Mungkinkan dia tertidur ?  Abaikan saja !

"Heii " sapa seorang gadis yang memakai gaun malam berwarna merah marron tak lupa dengan high hills yang dikenakannya. Rambutnya dibiarkan terurai supaya angin mudah mengajaknya bermain
".."
"Udah lama menunggu" tanyanya kali ini
".."
"Hey , you hear me ?" 
"Ehh" jawabku tersentak 
"Ayo kita pergi"
"Okee , boleh aku bilang sesuatu" pintaku untuk kali ini
"Tentu"

-

-

-

"Kamu cantik pakai gaun ini"jawabku ditelinganya
"Terima kasih"

Setelah sampai ditempat sengaja aku pilih untuk membicarakan masalah pribadiku.

"Kamu kenapa ngajak aku pergi ke pantai ?"tanya Oktavia
"Engga apa , kita udah lama kesini bukan"
"Hmmp-, kamu mau ngomong apa ?"
"Oh... iyah , aku udah memutuskan Ta" jawabaku sambil memperlihatkan gigiku yang tersusun rapih
"Oh.. yah , apa yang kamu putuskan da ?"tanyanya Oktavia yang sudah tidak sabar
"Aku memutuskan untuk menikah setelah aku lulus" 
"Bagus dong , kamu mau nikah sama siapa ?"
"Insya'Allah Amel akan aku halalkan" 

-

-

-

Kami berdiam diri melihat ombak yang saling bekejaran satu sama lain. Dan selalu berusaha mencoba menghancurkan batu karang yang menghalanginya. Bahkan bulan dan bintang telah menemani kami.

"Oh ..iyah , menurut kamu gimana sama benda ini ? Bagus engga ?"tanyaku sambil memperlihatkan kotak yang berisikan sepasang cincin
"Hmmmp,- bagus kok" jawab Oktavia sambil tersenyum simpul
"Coba deh kamu pake dulu takutnya engga muat kalau dipakai sama Amel" 
"Hmmmp-,"
"Pas , pasti Amel suka sama cincin ini"
"Ehh da , kita pulang yuk udah malem nih" pinta Oktavia
"Loh , kan kita baru sampe, ? Yaudah deh"

Oktavia POV

Malam ini Arda mengajakku pergi kesuatu tempat yang belum aku ketahui. Arda memang selalu begitu selalu memberikan kejutan kecil tanpa pernah aku duga sebelumnya. Walaupun dengan caranya sendiri bahkan aku suka caranya yang terbilang unik.

Aku bingung harus memakai pakaian mana ? Aku sendiri tidak tau kemana perginya takutnya aku salah kostum dan banyak orang memperhatikanku. Aku benci !

-

-

-

Setelah memilih pakaian untuk aku kenakan. Aku selalu mengurai rambutku.

"Hei.." sapaku 
".."
"Udah lama menungguku ?"tanyaku kali ini
".."
"Hei.. you hear me ?"
"Ehh, maaf" jawabnya dengan tersentak
"Ayo kita jalan" pintaku
"Okee, boleh aku ngomong sesuatu" tanyanya yang membuatku sudah tidak sabar apa yang bakal dia katakan kepadaku


"Kamu terlihat sangat.. cantik"pujinya yang membuat pipiku memerah 
"Terima kasih" jawabku dengan malu malu

Benar dugaan aku, pasti Arda bakal memilih tempat ini. Dia selalu paham tempat yang aku sukai saat kita masih duduk dibangku SMA.

Kita ?

Tunggu ! , sejak kapan aku memberanikan diri menyelipkan namamu dalam kalimat "Kita" ? Lupakanlah !

"Kamu kenapa ngajak aku pergi ke pantai ?"tanyaku
"Engga apa , kita udah lama kesini bukan" jawabnya sambil melepaskan jaket yang selalu dia pakai
"Hmmp-, kamu mau ngomong apa ?"
"Oh... iyah , aku udah memutuskan Ta" jawabanya sambil memperlihatkan gigi yang tersusun rapih
"Oh.. yah , apa yang kamu putuskan da ?"tanyaku yang sudah tidak sabar
"Aku memutuskan untuk menikah setelah aku lulus" 
"Bagus dong , kamu mau nikah sama siapa ?"
"Insya'Allah Amel akan aku halalkan" ucapnya dengan penuh keyakinan

Sumpah demi apapun aku benci dengan ucapan terakhir Arda. Seakan detak jantungku berhenti Bumi berhenti berotasi. Bukankah Arda dan Amel pasangan yang cocok ? Kenapa aku begitu tidak mendukungnya untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius ?

Egois ? Oh.. aku benci kata itu. Kalian tidak pernah paham dengan perasaan yang aku kunci di kotak besar. Kalian selalu menyalahkanku kenapa aku tidak langsung mengatakannya saja ?. Bahkan kalian tidak pernah paham kenapa aku selalu tersenyum untuknya ? Karena air mataku tidak mampu menggagu senyumku. Jujur , aku menikmati kebersamaan dengan Arda walaupun hanya sebatas sahabat.

"Oh ..iyah , menurut kamu gimana sama benda ini ? Bagus engga ?"tanya Arda sambil memperlihatkan kotak yang berisikan sepasang cincin
"Hmmmp,- bagus kok" jawabku sambil tersenyum simpul
"Coba deh kamu pake dulu takutnya engga muat kalau dipakai sama Amel" 
"Hmmmp-,"
"Pas , pasti Amel suka sama cincin ini"
"Ehh da , kita pulang yuk udah malem nih" pintaku yang tidak mau terlarut dalam obrolan ini
"Loh , kan kita baru sampe, ? Yaudah deh"


“Lepaskan daripada memaksakan
Ikhlaskan daripada menyakitkan
Relakan daripada harus berjuang sendirian”

Tak terasa Aku dan Oktavia sudah lulus. Setelah lulus aku bekerja disalah satu perusahaan swasta ternama di Negeri ini. Sedangkan Oktavia mengambil Beasiswa dan melanjutkan pendidikannya ke Jerman. Aku kagum padanya Oktavia begitu pintar tak jarang banyak mahasiswa yang mendekatinya tapi tidak ada satupun yang dia terima. Entah kenapa alasannya aku tidak pernah tau.

Tinggal beberapa bulan lagi acara pernikahanku dengan Amel akan dilaksanakan. Bahkan aku sendiri belum menyiapakannya seratus persen. Aku selalu meminta pendapat ke Oktavia. Selalu aku melakukan hal itu.

Dan katanya Oktavia bakalan kembali ke tanah air. Untuk berlibur aku menjemputnya di bandara.

-

-

-

"Hei , udah lama yah kita engga kesini ?"ucapnya yang memperhatikan tata ruanganya
"Iyah , ta ikut aku yuk"ajaku
"Kemana ?"
"Udah tenang aja , mau engga?"
"Okee , jangan lama lama yah"

Setibanya di tempat tokoh undangan pernikahan. Aku meminta pendapatnya mengenai undangan yang sudah rancang terlebih dahulu.

"Ta , menurut kamu gimana undangannya?" Tanyaku sambil memberikan selembar undangan
"Hmmmp, kamu jadi menikah sama siapa itu.."
"Amel maksud kamu ?"
"Iyah amel"
"Jadi Oktavia Olivia"
"Maaf aku kan engga tau" tawanya
"Iyah , gimana sama undangannya?"
"Hmmmp,- menurut aku warnanya deh kamu ganti dengan warna pink" sarannya
"benar juga yah , oke deh aku ganti warnanya"
"Iyah"
"Ta , aku engga bisa antar kamu pulang, soalnya ada foto pra wedding terus mencocokan baju pengantin"
"Iyah engga apa kok"
"Oh..iyah , jangan lupa dateng yah" pintaku
"Pasti"
"Dadahh" 
Semua persiapan telah selesai. Undangan telah disebar tepat 2 minggu sebelum acara ini, baju pernikahan sudah aku dan amel pesan. Dan sepenuhnya aku menyerahkan kepada Event Organizer. Jujur aku bukan tipe orang yang mampu menyelsaikan semua pekerjaan. Terpaksa aku harus mencari orang yang berbakat dalam mengelola acara pernikahanku

Semua tamu undangan telah nampak dibangku undangan dan tidak sabar menunggu acara ijab kabul. Seharusnya acaranya dilaksanakan tepat 15 menit yang lalu. Sengaja aku undur karena aku tengah menunggu tamu spesial yang bakal melihatku bahagia.

Sayangnya sampai sekarang tamu yang kutunggu tidak hadir. Event Organizerku selalu menanyakan kenapa acaranya bisa ngaret seperti ini. 

"Saya lagi nunggu tamu spesial. Engga apa apa kan mba wie ?"tanyaku pada perempuan yang selalu orang panggil mba wie
"Loh , memangnya belom dateng apa?"tanya mba wie
"Belom mba ,"
"Yaudah kamu telfonin , kasihan juga tamu undangan"
"Okee deh mba, "jawbaku sambil mengambil handphone disaku jas yang aku kenakan

"Oh ayolahh , kemana kamu Oktavia"gumamku dalam hati

"Hallo"sapa perempuan paruh baya dari seberang sana
"Hallo, Ta kamu dimana ?"tanyaku pada inti pembicaraan
"Oktavia ? , lagi dirumah sakit"
"Apa ? Dia sakit bu ?"
"Iyah , di koma"
"Kalau begitu kasih alamatnya bu"pintaku

Tanpa menunggu lama lagi aku langsung bergegas pergi ke rumah sakit dimana Oktavia dirawat. Bahkan aku tidak mempedulikan acara pernikahanku dengan Amel dan baju yang aku gunakan. Bagiku mengetahui keadaan Oktavia adalah prioritas utama.

Aku langsung keruang Recepsionist yang berada di lantai dasar. Setelah seorang suster memberi tahu. Aku sempat terkejut kenapa Oktavia dirawat dibagian UGD ?. Separah itukah kondisinya ?

Ternyata benar terlihat keluarga Oktavia tengah menunggunya diluar. Menunggu kabar dari dokter yang tengah berusaha sekuat mungkin menyelamatkan hidup Oktavia.

"Dok , bagaimana kondisi anak saya dok ?"tanya ayah Oktavia 
"Hmmp , bapak/ibu saya mintaa maaf , saya udah berusaha sekuat mungkin , kita serahkan saja semuanya sama Tuhan"ucap Dokter dengan nada frustasi
"Dok , tolong selamatin anak saya, berapapun biayanya asalkan anak saya selamat"
"Bukan masalah itu pak , anak bapak  terkena penyakit kanker darah dan kecil kemungkinan untuk hidup"
"Kanker darah"
"Iyah , pasien tidak pernah mengcheck up, tapi .."
"Tapi apa dok"
"Ada cara lain untuk menyelamatkannya "
"Apa itu dok"
"Suntik mati, hanya itu cara terbaiknya"
"Apa engga ada cara lain dok" tanyaku
"Tidak ada , dari pada raganya yang tersiksa akibat alat alat dokter"
"Apa keluarga bersedia" tegas dokter


Semua keluarga saling memandang satu sama lain. Saling tidak percaya apakah dengan cara itu salah satu jalan terbaik buat kita semua melepaskan Oktavia pergi jauh untuk selama lamanya ?

"Baik dok , saya setuju"ucap ayahnya yang semula yakin seakaan timbul harapan frustasi
"Baiklah , kalau begitu bapak ikut saya, buat tanda tangani berkas berkas"
"Dok , boleh saya masuk"tanyaku
"Tentu saja"
Aku memberanikan diri untuk masuk kedalam. Terlihat Oktavia tengah tertidur sangat.. nyenyak dengan bantun peralatan dokter yang membantunya.

"Ta , apakah kamu ingat ? Sewaktu kita pergi ke pantai kala itu ? Kalau tidak salah aku mmebuatkanmu perahu kertas untukmu berlayar mengarungi samudera"

"Ta , apakah kamu ingat ? Saat kita masih SMA dulu selepas oulang sekolah kita selalu pergi ketempat favorite kita kemudian bernyanyi bersama hingga senja tiba" ucapku kembali

Tanpa sadar air mataku jatuh membasahi wajah Oktavia yang sangat.. cantik

"Ta , apakah kamu tahu ? Kamu sangat berarti untukku. Aku tidak setuju kamu disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu pergi jauh dari sini"

"Ta , apakah kamu tahu ? Kenapa aku ingin melakukannya untukmu ? Karena aku mencintaimu. Aku takut kamu menolak cintaku meskipun aku tahu kalau kamu tidak mencintaiku. Aku ingin kamu tetap hidup menemani hari hariku. Tolonglah dengarkan aku ta , Bangunlah dari mimpimu indahmu"ucapku dengan cucuran air mata

Aku menggenggam tangannya sangat erat..

"Kamu tahu tidak ? Disetiap waktuku aku selalu berdoa pada pemilik semesta, dan berharap Tuhan mampu menyembuhkan penyakitmu. Aku tak kuat ta , besok melihat pemakamanmu. Kamu jahat, kamu tidak lagi mencintaiku. Kamu ingin pergi jauh tanpa mengajakku. Andai saja , kamu bilang kamu mencintaiku. Pasti aku akan membatalkan pernikahanku dengan Amel. Aku tidak peduli ta" 

Aku mengecup keningnya pelan pelan dan berbisik ditelinganya sebelum aku tertidur disampingnya.

"Aku sayang kamu, aku sangat.. mencintaimu"ucapku 

Tujuh jam lamanya kami menunggu detik detik saat Oktavia akan pergi jauh untuk selamanya lamanya. Namun saat dokter tengah mengecek kondisinya untuk yang terakhir.

Dokyer terkejut , jari tangan Oktavia bergerak, jantung dan paru parunya , organ tubuhnya bekerja seperti semula. Sungguh sebuah keajaiban yang amat luar biasa. Akupun langsung memeluknya dengan erat dan menangis bahagia.

"Aku senang ta , kamu bisa bangun kembali"ucapku
"Aku bangun karena kekuatan cintamu yang membangunkanku dari tempat perisitirahatanku"jawab Oktavia dengan lirih
"Ta , aku mohon jangan tinggalin aku , aku ingin membangun rumah tangga bersamamu dan memiliki banyak anak"ucapnya yang membuat keluarga maupun tim dokter tersenyum bahagia
"Hmmp"
"Aku sangat mencintaimu"ucapku sambil mengecup keningnya
"Aku juga sangat mencintaimu"

Sungguh rencana Tuhan yang begitu indah. Bahkan kita semua tidak pernah tahu semuanya. Aku senang bisa selalu bersamanya. Aku tidak pernah menyesal membatalkan pernikahanku dengan Amel. Tidak pernah..

Aku bahagia saat aku selalu bersamamu. Menemani hari harimu mengecek kondisimu hingga waktu itu tiba. Yah saat dimana kita telah sah menjadi sepasang suami-istri. Aku tidak pernah bisa memberikan banyak banyak untukmu. Tidak bisa mengajakmu pergi ketempat terindah yang ada didunia.

Aku ingin selalu bersamamu saat suka maupun duka. Aku ingin membuat orang lain iri dengan kebersamaan kita. 

Hanya itu..

Satu hal lagi yang ingin aku ceritakan padamu sejak lama..

"Jangan biarkan  air matamu mengganggu senyummu"

Aku tidak kuasa saat itu terjadi. Aku tidak ingin dicap sebagai kekasih yang hanya bisa membuatmu terluka.


                                                                        TAMAT