Selasa, 14 Juni 2016

Cerpen

                Prayoga D Wibowo

                     Setelah Senja

Senja masih memanjakan sebagian  sinarnya pada Semesta. Ombak-ombak saling bekejaran satu sama lain, ingin memecahkan batu karang. Kapal Nelayan berlayar ketengah laut mencari peruntungan untuk di bawa ke pengepul.

Aku dan Shabrina masih setia duduk dihamparan pasir pantai. Memandang senja yang sebentar lagi akan kembali ke pangkuan-Nya.

Raut wajah Shabrina nampak tidak bersemangat. Aku berkali-kali menyemangatinya untuk tetap menjalani hidup dengan semangat. Tapi, kegagalannya lolos SNMPTN membuat Shabrina terpukul.

"Sa, udah engga usah sedih berkepanjangan gitu" kataku memberikan semangat memberikan senyuman simpul.

"Hmmp.. kamu engga tau gimana jadi aku Ndra," jawab Shabrina menatap Andra lekat

"I see, aku tau kamu gagal SNMPTN. Tapi, engga kaya gini juga kan. Masih ada cara lain buat masuk PTN" Ucapku

"Masih ada SBMPTN juga, masih ada jalur Mandiri juga kan" tambahku

"Hmmp.. iyah, kamu mah enak udah lolos SNMPTN. aku males ikut ujian SBMPTN"

"Kenapa males ?" Tanyaku mengerutkan keningku

"Ujiannya susah dari Ujian Nasional" jawabnya datar

"Hmmp.. adeh adehh. Kamu udah coba belom ?"

Shabrina hanya menggelengkan kepala.

"Shabrina Shabrina. Kamu aja belom coba, malah dibilang susah" Aku tertawa renyah mengusap balutan kain hitam yang menutupi rambutnya

"Lagi juga, aku engga bermi.." ucap Shabrina setengah memberontak

"Coba dulu.. nanti aku ajarin," potongku sebelum Shabrina meneruskan

Setelah berdebat cukup panjang. Akhirnya, aku bisa membujuk Shabrina untuk mengikuti ujian SBMPTN yang dalam waktu satu bulan lagi dilaksanakan.

Kurasa waktu satu bulan lebih dari cukup. Membahas soal soal sulit dikerjakan. Aku selalu membantu Shabrina mengerjakan soal soal.

***

"Gimana susah engga ?" Tanyaku mengangkat kedua alisku setelah menerangkan

"Susah" jawab Shabrina diiringi tawa renyah

Aku menepuk jidatku "aku percuma dong jelasin ke kamu"

"Hehe.. aku bercanda kali, baper amat" ucap Shabrina menutup buku paduan SBMPTN yang baru saja dibeli

"Siapa yang baper coba" gerutuku sebal

"Kamu lah.."

"Eh.. Bye The Way, kamu pilih fakultas apa ? Masih yang sama pilihan kamu waktu SNMPTN" tanyaku kali ini

"Hmmmp.. ada yang sama mungkin" jawab Shabrina meragu

"Jangan jawab mungkin dong, kaya engga yakin aja sama pilihan kamu"

"Iyah iyah"

Shabrina memasukan buku paduan ke tas kesayangannya. Aku sendiri masih menatap gedung gedung yang menjulang ke langit. Aku dan Shabrina selalu menghabiskan waktu bersama didua tempat favorit kita berdua.

Pertama, Pantai yang selalu dipilih Shabrina sekedar melihat senja terlelap nyenyak. Kedua, bangunan kosong yang berada di tengah kota yang tidak digunakan lagi. Menjadikan penilaian lebih untuk dua tempat favorit aku dan Shabrina.

Walaupun berbeda, tempat itu memiliki satu kesamaan. Aku dan Shabrina bisa leluasa menatap Senja dari tempat ini.

***

Aku dan Shabrina tengah duduk di bangku yang tersedia diatas atap bangunan ini. Mungkin, sudah tidak terpakai lagi. Sebentar lagi, Senja akan terlelap manja. Aku dan Shabrina tidak mau melewati kesempatan ini.

"Sa, pulang yuk" ajakku

"Sebentar lagi yah, masih betah disini" jawab Shabrina nyengir kuda

"Okee.. "

"Saa.. ayo pulang nanti mamah cariin loh" ajakku kali ini

"Hmmp..iyah, bangunin dong" jawab Shabrina manja

Aku mengulurkan tangan kananku membangunkan Shabrina dari duduknya. Senja sudah terlelap menggantikan awan hitam yang siap menemani.

Selalu saja sama, tidak ada bulan dan bintang yang bertaburan di angkasa. Apa mungkin, mereka tengah merajuk untuk sementara waktu ?

Entahlah ..

***

Biasanya, perjalanan dari bangunan kosong ke rumah Shabrina memakan waktu hanya 20 menit. Dan ini, hampir satu jam lamanya Aku dan Shabrina terjebak macet.

"Sa, titip salam untuk mamah aja yah, maafin pulang agak telat. Kamu tau sendiri tadi" kataku masih berada di sepeda motorku

Shabrina mengangguk mengerti tak ketinggalan dengan senyumannya " iyah, hati-hati yah dijalan" pesannya

"Assalamu'alaikum" pamitku

"Wa'alaikumsalam"

Shabrina melambaikan tangannya kearah sepeda motorku yang perlahan meninggalkan halaman rumah Shabrina.

***

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Kurang dari 1 minggu lagi akan berlangsungnya ujian SBMPTN. Sementara, masih banyak materi yang harus diselesaikan dalam waktu singkat ini.

"Aku masih kurang yakin sama materi ini" tunjuk Shabrina

"Kurang yakin gimana ? Aku kan udah jelasin ke kamu"

"Iyah sih, masih kurang yakin aja" pikir Shabrina

"Coba dehh, sekarang kamu kerjaiin soal yang ini dulu. Kamu kerjaiin sesuai kemampuan kamu dulu" perintahku menunjuk soal

Shabrina memberikan isyarat mengerti dan langsung mengerjakan soal yang aku perintahkan. Aku hanya melihat cara Shabrina menyelesaikan soalnya. Kadang aku tertawa sendiri melihatnya.

"Jangan ketawaiin aku dong" ucap Shabrina kesal

"Siapa juga yang ketawaiin kamu" jawabku sambil menjulurkan lidah

"Waktunya tinggal 2 menit lagi yah" kataku lagi dengan diiringi tawa jahat

"Nyebelin tau engga, kamu pikir gampang kali ngerjaiin ini" gerutu Shabrina

"Yaudah.. makanya cepetan"

"Selesai.." ucap Shabrina tersenyum puas

"Coba mana aku koreksi" pintaku

"Koreksi aja nih" Shabrina begitu yakin dengan pekerjaannya yang satu ini

"good, gitu dong. Itu baru namanya Shabrina" pujiku

"Haha.. aku gitu"

"Eh.. besok aku mau ke Universitas Semarang" kataku

"Ngapaiin ?" Tanya Shabrina

"Aku mau daftar ulang," jawabku

"Yaudah.. hati hati aja yah"

"Kalau aku kembali, nanti aku anterin kamu tes deh" janjiku

"Emang engga cape apa ?" Tanyanya

"Engga kok, tenang aja"

***

Esok, hari yang sangat menentukan. Apakah perjuangan Shabrina untuk  masuk Perguruan Tinggi Negeri berhasil atau tidak. Tidak ada yang bisa ditebak atau diperkirakan kedepannya.

"Engga usah nervous juga kali" ledekku mencairkan suasana yang begitu kaku

"Siapa yang nervous ? Biasa aja ko"

"Hmmp.. percaya sama diri aja"

"Iyah, eh.. besok kamu jemput aku jam berapa ?" Tanya Shabrina

"Jam.. setengah 6 kali yah" pikirku memperkirakan waktu dan jarak ke tempat ujian.

"Apa engga ke pagian ?"

"Engga, takut kejebak macet" jawabku

"Yaudah deh.. terserah kamu deh, jangan sampe lupa yah" ledek Shabrina

"Siap Boss"

"Eh.. aku pulang dulu yah, udah malem nih"

"Iyah,"

"Mamah ada ? Aku mau pamit dulu" ucapku

"Sebentar yah"

Perempuan paruh baya dengan menggunakan kacamata keluar dari dalam rumah.

"Mah, Andra mau pamit pulang dulu" ucap Shabrina

"Buru buru banget, Ndra" kata mamah

"Hehe.. besok pagi saya anterin Shabrina ke tempat ujiannya kan tante" jawabku

"Iyah juga.. yaudah hati hati yah"

"Assalamu'alaikum" pamitku sambil mencium telapak tangan mamah Shabrina

"Wa'alaikumsalam"

***

Langit masih menghitam, Bulan masih setia menerangi. Walaupun, sebentar lagi sang surya siap menggantikannya. Ayam berkokok begitu merdu, membangunkan sang surya. Tapi, sang surya masih enggan muncul menggantikan Bulan yang terlihat payah menyinari.

Jam wekerku berdering begitu keras diatas nakas. Jam menunjukkan pukul 6. Itu berarti, aku bangun kesiangan dari perjanjian yang aku berikan ke Shabrina mengantarkannya.

"Astagfirullah, telat lagi" ucapku saat mataku masih sayu

Secepat mungkin, aku bergegas membersihkan diri dan langsung pergi kerumah Shabrina. Berharap saja, Shabrina belum berangkat.

Untungnya, jarak rumahku dengan Shabrina tidak terlihat jauh. Hanya berbeda komplek saja. Nyatanya, aku mengendarai sepeda motorku dibatas kecepatan rata-rata.

"Assalamu'alaikum" ucap salamku sambil mengetuk pintu

"Wa'alaikumsalam" jawab seseorang dari dalam rumah

"Eh.. nak Andra,"

"Iyah tante, Shabrina ada tante ?" Tanyaku pada intinya

"Shabrina barusan berangkat sama ayahnya" ucap Mamah Shabrina

"Oh..gitu,"

"Emang shabrina engga nelfon kamu ?"

"Saya belom cek handphone tante, yaudah dehh. Saya nyusul Shabrina dulu tante"

"Assalamu'alaikum" pamitku

"Wa'alaikumsalam"

***

Aku tengah menunggu Shabrina di depan gerbang sekolah tempat dimana Shabrina ujian SBMPTN. Terlihat ada banyak orang tua yang sedang menunggu anaknya.

Jam menunjukkan pukul 14:30 itu berarti aku harus menunggu setengah jam lagi. Aku membolak-balikan handphoneku, sesaat aku melihat pesan singkat terakhir Shabrina, yang terlihat begitu kesal aku tidak meresponnya.

Bunyi bel tanda berakhirnya ujian sudah selesai. Sebagian peserta berhamburan keluar ruangan. Aku tengah mencari Shabrina dibalik kerumunan banyak orang.

"Shabrinaaaa" panggilku sambil melambaikan kedua tanganku dari kejauahan

Shabrina hanya menatapku datar. Seperti tidak mengenal.

"Shabrinaaaa.. kamu marah yah" ucapku membuntutinya dari belakang

Lagi-lagi omonganku tidak dihiraukan.

"Shabrinaaa.." panggilku sambil memegang lengannya

"Ihh.. lepasin engga" Shabrina memberontak

"Aku mintaa maaf"

Langkah kakinya terus menjauh pergi meninggalkanku.

"Shabrinaaa.. aku minta maaf, aku traktir es krim dehh" kataku hampir putus asa

Langkahnya terhenti. Shabrina berbalik menghampiriku, aku semakin tidak mengerti. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Entah itu, aku ditampar atau apa.

"Tadi kamu ngomong apa dehh ?" Tanya Shabrina

"Aku mintaa maaf" kataku mengulang kata terakhirku

"Bukaaaaaann.."

Aku mengerutkan keningku tidak tau apa yang dimaksud.

"Kamu mauu neraktir apa dehh ?" Tanya Shabrina memberikan kode

"Oh.. aku traktir kamu es krim"

"Aku maafiin.. " jawab Shabrina secepat mungkin

GUBRAK !!!

Aku menepuk jidatku dengan keras. Senjata bomerang bagiku mengatakan itu ke Shabrina.

"Andraaa.. ayoo, katanya kamu mau traktir es krim" ucap Shabrina langsung berada di samping sepeda motorku yang terparkir

"Iyah iyahh.."

***

Shabrina sudah menghabiskan 2 es krim untuk hari ini. Sementara, di kantong plastik masih ada 2 es krim yang tersisa. Kalau bukan aku salah ngomong, mungkin Shabrina engga mungkin menghabiskan banyak es krim.

"Terima kasih yahh" ucap Shabrina menghabiskan cream yang tersisa dibungkus es krim

"Hmmm.. makannya nanti lagi, jangan di habisin semua"

"Kenapa emangnya ? "

"Takut kamu sakit perut aja"

"Biarin, wleee" ucap Shabrina membuang plastik es krim sembarangan

Aku hanya menggelengkan kepala melihat perilaku Shabrina yang satu ini.

"Saa.. gimana tadi ?" Tanyaku dengan nada serius

"Engga gimana gimana"

"Aku nanya seriuss"

"Iyahh, ada yang susah soalnya. aku pesimis aja" ucap Shabrina tertawa renyah

"Dih.. gitu banget. Orang mahh optimis ke"

"Terserah aku lahhh.."

"Eh.. iyah, di Univ Semerang ada pendaftaran maba lewat Hafidz Al-Quran"

"Mau diapaiin"

"Adehh.. itu peluang kamu kan, kamu 3 tahun mondok kan ? Sekarang kamu tunjukkin"

"Emang kenapa kalau aku mondok"

"Yahh.. itu peluang kamu, kali aja kamu masuk lewat jalur itu"

"Hmmp.. berapa juz emangnya ?" Tanya Shabrina kali ini

"Kalau engga salah 8 juz dehh.." kataku mengeluarkan selembar kertas pendaftaran hafidz

"Hmmp.. aku bingung"

"Bingun kenapa ? Coba aja kali.. siapa tau aja kamu lolos"

"Aku tanyaiin orang tua aku dulu yah"

"Yah.. itu sih terserah sama kamu aja. Kalau udah dipikirin matang matang kabarin aja yahh"

***

Setiap malam aku selalu menyempatkan bermain kerumah Shabrina. Bahkan, orang tua Shabrina sudah mengenal dekat denganku.

"Sa, gimana udah diputusin belom ?" Tanyaku menyeruput teh hangat buatan mamah Shabrina

"Ummp.. udah"

"Ikut ?"

Shabrina hanya membalasnya dengan anggukan kepala.

"Mamah sama papah udah kamu kasih tau ?" Tanyaku lagi

"Udah, sebenarnya mamah engga izinin. Tapi, papah yang izinim asal ada temennya"

"Oh.. gitu, yaudah aku temenin aja"

"Coba deh, kamu ngomong sama mamah, papah dulu" pintanya

"Boleh.."

Setelah aku jelasin maksud dari seleksi calon mahasiswa lewat hafidz Al-Quran panjang lebar. Mamah dan papah Shabrina mengamanatkanku untuk menjaganya disana. Kebetulan saja, ada saudara aku yang tinggal di dekat kampus.

***

Entah, sudah berapa kota kereta yang aku dan Shabrina tumpangi berhenti di stasiun. Mungkin, sudah 10 atau 15. Shabrina masih menatap keluar melalui jendela melihat pemandangan diluar.

"Sa.., ada apa ?" Tanyaku khawatir

"Hmmp.. engga apa apa kok" jawabnya membohongiku

"Cerita aja kali, jangan ditutupin juga"

"aku khawatir sama kesehatan mamah. Sebelum pergi, mamah pesen. kalau udah selesai cepet cepet pulang"

"Mamah sakit ?"

"Hmmp.." gumamnya

"Yaudah, kalau kamu lolos lewat jalur ini. Kamu kasih kado buat mamah" saranku

"Yang terpenting, kamu fokus dulu yahh"

***

"Kita tidak pernah tau, usaha keberapa yang akan berhasil. Seperti doa yang mana yang akan terkabul"

Setelah melalui proses yang panjang selama 3 hari. Akhirnya, Shabrina dinyatakan lolos melalui seleksi ini.Semula raut wajahnya murung. Sekarang begitu bahagia mendengarkan kabar ini.

"Cieee.. yang lolos" ledekku sambil menyikut lengannya

"Apaan sihh.. biasa aja kali" ucap Shabrina tersipu malu

"bisa kali traktir aku"

"Haha.. kebalik kali" ucap Shabrina membela

"Kan kamu lagi bahagia" kataku dengan sebal

"Iyah, nanti aku traktir. Aku beliin permen karet okee" ledekknya dengan tawa jahat

"Shabrinaaa...."

***

Setelah tiba, di stasiun kota dengan membawa sedikit buah tangan dari Semarang. Sengaja, aku dan Shabrina naik taksi.

Hampir dua jam lamanya perjalanan pulang. Tiba didepan rumah Shabrina. Betapa terkejutnya melihat banyak orang yang datang kerumahnya. Apa yang sebenarnya terjadi ?

"Saa.. ko banyak orang yah ?"tanyaku menaruh kardus berisikan oleh oleh ditanah

Shabrina mengangkat bahunya engga mengtahui.

Datang salah seorang tetangga Shabrina menghampiri aku dan Shabrina yang baru sampai.

"Sa, yang sabar yah ?" Ucap perempuan tersebut memeluk Shabrina erat

"Emangnya kenapa yah bu ?" Tanya Shabrina melepaskan pelukan

"Kamu harus kuat intinya" katanya kembali

Shabrina langsung bergegas masuk kedalam rumah. Betapa terkejutnya, melihat seseorang terbujur kaku dibawah dengan ditutupi sehelai kain.

Shabrina membuka helaian kain tersebut dengan penasaran.

"Mamah.." ucap Shabrina sambil membuka kain tersebut

Shabrina tidak kuasa melihat orang yang di sayangi secepat itu pergi meninggalkannya. Padahal, Shabrina akan memberikan kejutan kecil ia diterima di Perguruan Tinggi Negeri.

Tubuhnya tidak kuat menahan beban. Hingga akhirnya, Shabrina terjatuh disamping mamahnya yang sudah tidak bernyawa.

***

Tepat tiga puluh hari kepergian mamah. Banyak perubahan yang terlihat dari Shabrina. Shabrina tidak seceria dulu, tidak ada senyuman yang mengembang di pipinya. Tidak ada tawa yang keluar begitu saja darinya.

"kemanakah Shabrina yang dulu ?"

Setiap hari, Shabrina selalu menyempatkan hadir ke pantai. sekedar menenangkan pikirannya. kalau boleh tau, sampai detik ini. Shabrina belum bisa merelakan kepergian mamah.

"Hmmp.. boleh aku duduk disini" tanyaku melihat Shabrina tengah duduk sendirian menatap senja

Shabrina hanya menoleh kearahku. Tidak ada respon, kemudian dia alihkan kembali pandangannya menatap senja dengan tatapan kosong.

"Sudahlah.. kamu engga boleh sedih begitu. Mamah udah tenang ko disana. Kalau kamu sedih, mamah pasti sedih lihat kamu" kataku mencoba memberikan semangat

"kenapa harus mamah yang pergi ?"

"SsSst.. kamu engga boleh ngomong kaya gitu, ini semua udah rencana Allah"

"Aku engga suka sama rencana-Nya" ucap Shabrina kesal

"Hei.. jangan ngomong kaya gitu, bukannya Allah sudah menjabah doa kamu ? Buktinya, kamu diterima kan di PTN ?" Kataku

"Tapi, kenapa Allah manggil mamah ?" Tanya Shabrina dengan linangan air mata

"Hmmp.. sekarang aku tanya sama kamu, Apa arti Nama Shabrina Qonitah ?" Tanyaku mengibaratkan.

"Aku engga tau, itu yang kasih nama pemberian papah" jawab Shabrina

"Hmmp.. Shabrina Qonitah itu artinya Perempuan yang Taat, dari nama kamu aja bagus. Kenapa kamu engga taat dan selalu menyalahkan Allah yang udah manggil mamah ?"

"Aku taat jalanin perintahnya ndra, "

"Yah aku tau hal itu, tapi kamu juga harus paham kenapa Allah manggil mamah ?" Jawabku

"Sebab, Allah mau lihat. Apa kamu bisa tersenyum walaupun cobaan yang Allah berikan ke kamu" Jawabku menekuk kakiku

"Sa, kita tidak pernah tau apa yang bakal terjadi esok. Semuanya udah diatur sedemikian rupa Sa" Tambahku

Shabrina menatapku lekat mencerna setiap perkataan yang barusan aku katakan.

Senja sudah terlelap begitu saja, menyisahkan sebagian sinar yang masih menerangi. Perlahan, Bintang-bintang dan Bulan muncul menerangi malam dengan penuh kebahagian dan harapan.

"Sa, lihat deh. Kamu tau itu Bintang apa ?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan menunjuk bintang di angkasa

Shabrina mengangkat kedua bahunya.

"Itu namanya Bintang Altair, kamu tau engga ? selalu ada harapan dan impian pada Bintang Altair, aku suka sama bintang itu."

"Ko kamu tau sihh, itu Bintang Altair ?"

"Aku sering baca buku kali" jawabku

"Kamu mau tau engga ? Kenapa aku suka sama senja ?"

"Yahh.. mana aku tau lah Ndra"

"Makanya kamu harus tau dong, aku suka Senja, karena aku mau lihat Bintang Altair setelah senja"

"Kenapa kamu engga suka sama Hujan aja ?"

"Aku engga suka sedih. Hujan selalu bawa cerita sedih, walaupun aku tau setelah hujan pasti ada pelangi" kataku

"Hmmmp.."

Aku dan Shabrina kembali menatap langit yang terlihat ramai dengan kumparan bintang-bintang.

"Andra, Terima kasih yahh" ucap Shabrina tersenyum

"Hmmp.. iyah, kamu jangan nangis lagi yah. Masih ada aku disini" kataku menyeka air matanya sambil memasang muka lucu

"Hehe.. iyah, kamu jangan masang muka kaya gitu" ucap Shabrina tertawa

"Kenapa ?"

"Gantengnya hilang haha"  ucapnya tertawa ria

Akhirnya, Shabrina bisa tertawa kembali setelah kepergian orang yang disayanginya. Aku pun ikut tersenyun melihat kebahagian yang kemarin hilang didalam diri Shabrina.

"Andra, besok anterin aku ke makam mamah yah"

"Iyah , kamu janji dulu mau engga ?" Kataku

"Janji apa ?"

"janji, kalau kamu mau ke makam mamah jangan nangis yah, Gimana ?" Tanyaku mengulurkan jari kelingkingku

"Gampang itu mah, asal jangan neraktir kamu beliin es krim aja " canda Shabrina lagi lagi membuatku tertawa

"Selalu ada, Harapan dan Impian Setelah Senja terlelap manja pada Semesta - Prayoga D Wibowo"

-Tamat-

Rabu, 06 April 2016

Cerpen

                 Prayoga D Wibowo

                             FROZEN

☆☆☆

"Kamu punya Hak mempatahkan semuanya termasuk harapanku,
Tapi..
Suatu saat nanti, kamu memintaku untuk kembali terbang,
Aku punya alasan kenapa aku enggan terbang bersamamu,
Walaupun aku tahu, Cakrawala lebih indah daripada luka,
Aku Trauma-"

☆☆☆

Lelaki itu masih asyik melipat-lipat kertas origami entah apa yang bakal dia buat seakaan dia memiliki hobby dan dunia tersendiri. Tangannya begitu mahir melipat kertas origami hingga membentuk suatu hasil yang dibilang cukup bagus.

Sebuah origami berbentuk Heart berwarnakan, warna merah muda sudah dia selesaikan.

Lelaki itu mencari sesuatu yang berada di meja belajarnya. Entah apa yang bakal perbuat.

Penanya asyik menari-nari diatas lembaran kertas. Kertas itu dirobeknya kemudian dia menulis lagi. Mungkin karena hasil tulisannya kurang bagus. Alhasil kertas itu disobeknya entah sudah berapa lembar kertas yang disobeknya.

Waktu terasa begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul 21:00 itu berarti lelaki itu sudah menghabiskan waktu menulisnya selama 2 jam.

Lelaki itu memang sudah terbiasa menulis. Kata demi kata diramunya menjadi sebuah kalimat indah. Bukan , dia bukan penulis yang begitu ternama ataupun seorang yang pandai merangkai kata demi mendapatkan hati seorang wanita.

Bukan itu alasannya yang membuat dia merelakan sebagian besar waktunya menulis.

Mungkin jika dia jawab pasti kalian akan menertawakannya, menganggapnya hanya bagian alasan konyolnya.

Jika kamu memaksanya untuk menjawab dan inilah jawabannya.

Kamu..

Yah.. kamu tidak akan pernah tau kalau kamu selalu menjadi perhatiannya. Kalau kamu menjadi alasan kecilnya yang dia tutup rapat rapat.

Kamu juga yang sudah membuat separuh malamnya terganggu. Bukan , maksud aku separuh malamnya begitu spesial dibandingkan malam malam sebelumnya. Bahkan tanpa ada bintang bintangpun malamnya terasa begitu indah.

☆☆☆

Cahaya matahari menembus celah celah kaca rumahnya. Membuatnya terbangun dari mimpinya. Wanita yang selalu disapa Adel bergegas pergi ke kamar mandi.

"Adel , cepetan kakak kamu udah nunggu nih"teriak mamah dari bawah

"Iyah mah , Adel lagi pake sepatu"

Adel begitu semangat menyambut hari ini.

"Kamu kenapa del , seneng banget kayanya hari ini ?"tanya Mamah sambil merapihkan bekalnya

"Engga apa apa" jawab adel nyengir kuda

"mah , Adel pamit dulu yah"pamit Adel sambil mencium telapak tangan mamah

"Iyah hati hati"

"Dadah mamah" ucap adel kemudian menghilang dibalik pintu

Setelah sampai didepan gerbang sekolah Adel. Adel langsung bergegas begitu saja tanpa memperdulikan kakanya.

"Wy .. , loe engga pamit sama gue ?"teriak Ka' Riko

"Engga , siapa loe wleee"jawab adel menjulurkan lidahnya

"Awas sihh loe yah , gue engga anter lagi sih"gerutu ka Riko

Adel menghilang begitu saja dibalik pintu gerbang sekolah.Saat Adel tiba dikelas betapa terkejutnya melihat sebuah origami berbentuk hati dan setangkai bunga mawar dan tak lupa selembar surat entah siapa yang begitu baik memberikan ini semua.

To : Adel
Nanti pulang bareng yuk ! Aku tunggu di depan gerbang sekolah yah

"Dari siapa tuh del"ucap Rara teman sebangku Adel

"Astagfirullah, loe mau buat gue mati muda yah ra"gerutu Adel sambil melipat tangannya

"Heeh , habisnya loe gue lihatin dari luar senyum senyum melulu sih"

"Engga sih"elakk Adel

"Emangnya ada apa sih del"tanya Rara yang tidak bosen bosennya membujuk adel

"Mau tau" ucap Adel mengangkat alisnya

"Mau"

1..

2..

3..

"Loe kepo Ra"ucap Adel menjulurkan lidah dan berlari keluar kelas

"Adell awas sihh loe" teriak Rara mengejar Adel

BRUK !!

"Sorry , "ucap pria itu sambil mendongakan kepalanya

"Iyah engga apa kok,"

Hening..

"Kenapa harus dia sih , emangnya engga ada cowo lain apa"batin Adel

"Sekali lagi gue minta maaf"ucapnya tersenyum simpul

Adel tidak menjawabnya hanya memberi anggukan kepala menandakan itulah jawabanya.

Pria itu pergi meninggalkan Adel. Sementara Adel masih berdiam diri rasanya dia ingin tidak menemukan pria itu lagi.

"Ciyeee yang tadi ada adegan romantis"ledek Rara dari belakang

"Apaan sih ,"jawab Adel kesal

"Kenapa emangnya ? Dia itu pinter melukis tau"ucap Rara kembali
Menaikkan kedua alisnya

"Bodo amat, penting banget gue harus tau siapa dia"

"Yeee.. loe kalau jatuh cinta sama dia baru tau rasa loe"

"Gue jatuh cinta sama dia ? Engga level kali , tipe gue bukan kaya gitu kali"jawab Adel

"Emang tipe loe kaya gimana ?"

"Sumpah dehh , hari ini loe kepo + nyebelin ra"jawab Adel pergi meninggalkan Rara

☆☆☆

Bintang masih nampak terlihat di cakrawala masih setia menemani bulan menerangi malam malam kelabu. Tidak ada yang mengetahui hal banyak kenapa bintang rela menemani bulan.

Biasanya gerbang sekolah dibuka tepat pukul 05:45 itu artinya 10 menit gerbang sekolah bakalan dibuka. Dikayuh sepedanya sangat cepat berharap saja , tidak ada orang yang melihat aksinya.

Benar saja , baru ada penjaga sekolah dan security.

"Pagi pak" sapa Alvin sambil menuntun sepedanya ke tempat parkir

"Tumben pagi pagi udah dateng"jawab pak Gito terlihat dari name tag di uniformnya

"Iyah nih pak , biasa piket"jawab Alvin

☆☆☆

Tepat didepan pintu kelas 11 B. Perasaannya semakin tidak tenang ,

"Kasih engga yah?"batin Alvin

Langkahnya meninggalkan kelas 11 B. Tapi, Alvin berubah pikiran Alvin langsung masuk kedalam kelas tersebut.

Dia cari tempat wanita itu duduk. Matanya masih mengamati tata ruang kelas ini. Sekilas memalingkan kearah luar kelas sekedar memastikan tidak ada yang melihat aksinya.

Oke,  setangkai bunga mawar dan sebuah Origami berbentuk Heart diletakkan dikolong mejanya. Sementara tangannya masih menggenggam selembar kertas.

"Oh.. ayolah kenapa jadi benar benar dilema sih"gerutunya dalam hati

"Loe ini lelaki , kenapa engga langsung aja berkenalan dengannya ? Kenapa loe melakukan cara konyol ini?" Batinnya lagi lagi membuat Alvin frustasi.

Okee .. sebaiknya Alvin harus berani. Toh tidak ada salahnya mecoba berkenalan melalui surat. Yahh.. terbilang cukup kuno sih dan sudah tidak zaman lagi kalau dibilang.

Tidak peduli !!.

☆☆☆

BRUK !!

Alvin baru saja menabrak gadis itu hingga membuatnya terjatuh.

"Sorry " ucap Alvin sambil mengulurkan tangannya

"Iyah engga apa apa kok," jawabnya

Hening..

"sekali lagi gue minta maaf yah"

Wanita itu hanya memberikan anggukan kepala menandakan kalau dirinya tidak ada apa apa.

Waktu terasa begitu cepat, Bel istirahat terdengar. siswa siswi berhamburan keluar kelas dan bergegas pergi kekantin mengisi perutnya terasa lapar.

Sementara Alvin membawa perlengkapan lukisnya. Dan pergi ke tempat rahasianya yang berada dilantai atas.

Setiap hari , Alvin selalu ketempat ini. Alvin menomor duakan tempat ini setelah ada tempat favoritnya untuk meluangkan waktunya melukis.

Tanganya begitu lincah menggambar sebuah sketsa wanita itu tengah tersenyum sangat.. manis.

Setelah selesai Alvin langsung mencari cat warna yang menurutnya cocok dengan sketsanya.

☆☆☆

Adel masih mengamati laki laki yang tengah asyik bermain basket. Bahkan , Adel menyukai kapten basket sekolahnya secara diam diam. Dengan postur tubuh atletis ditambah lagi otot bisepnya besar dan otot perutnya yang terlihat six packe membuat Adel tidak mampu berpaling darinya.

Adel lupa kalau dirinya membiarkan bekalnya terbuka begitu sengaja.

Tiba tiba seekor kucing begitu cepat merampas makanannya dan pergi begitu saja.

"Kucing sialan!!!" Gerutu Adel begitu kesal.

Dipinggir lapangan laki laki yang biasa disapa Dev itu mengamati Adel dipinggir lapangan.

Dev menghampiri Adel yang masih memegang bekal yang selalu di bawa.

"Hai , kamu sedang apa ?"tanya Dev

Adel mengangkat wajahnya menatap laki laki yang berada tepat didepannya.

SKAK MAT !!

☆☆☆

Bel pulang sudah berdering , siswa siswi bergegas merapihkan bukunya. Alvin langsung membawa sepeda kesayangannya kedepan gerbang sekolah.

Satu persatu siswa siswi melewatinya namun tidak ada tanda tanda orang yg dia cari melawatinya.

Alvin masih berharap penuh kalau wanita itu pasti mau pulang bareng dengannya.

10 menit ..

Alvin masih menunggunya, matahari masih nampak menyinari, cahayanya masuk disela sela baju seragamnya. Seragam yang digunakannya sudah basah dibanjiri keringat. Alvin tidak mempedulikan hal itu.

"Mungkin dia lagi piket"pikirnya

20 menit..

Cahaya matahari yang mengganggunya sudah tidak  terlihat sebagian Tenggelam diufuk barat.

"Kemana dia , apa mungkin ..?"batinnya

30 menit..

Langit membentang begitu luas, menggantinya menjadi warna hitam kelam,  menambahkan kemerlap bintang bintang bertaburan disana berlomba lomba memancarkan cahaya paling terang.

Alvin masih menunggu didepan gerbang sekolah. Secuil harapannya hilang begitu saja menggantinya menjadi rasa kecewa.

Entah , Alvin tidak akan pernah menyerah. Tidak akan mengurangi rasanya sedikitpun walaupun orang yang dia cintai tidak menganggapnya ada,

Untuk mengangkat wajahnya menatap Alvin saja terasa berat. selalu begitulah hakikatnya, bahwa perempuan tidak akan pernah mengatahui banyak bagaimana perjuangan seorang laki laki memperjuangkannya.

Selalu begitu ~

☆☆☆

Hening ..

"Nanti loe ada acara engga ?"tanya Dev memulai obrolan

"Hmmp.. engga , emangnya kenapa ?"jawab Adel gugup

"Gue mau ngajak loe pulang bareng , bisa engga ?"

Tanpa loe mintapun gue bakalan mau kok..

"Boleh ,"

"Nanti gue tunggu didepan yah"ucap Dev kemudian melanjutkan bermain Basket

Sementara Adel masih tidak percaya begitu cepat perkenalan dengan orang yang dia kaguminya.

Jam terasa berputar melambat satu menit pun terasa seperti 1 abad. pada saat KBM berlangsung pun Adel tidak fokus. Bahkan , Adel memandangi jam dinding dibandingkan memerhatikan pak Efendi guru Matematika yang terkenal Killer.

"Adell , "ucap Rara sambil menyikut lengannya

".."

"Adel , loe diliatin tuh sama pak efendi"

Lagi lagi omongan Rara tidak didengar Adel.

Tepat sekali , tepat didepan wajah Adel penghapus kelas mendarat mulus.

"Adell , kamu kedepan dari tadi saya lihatin kamu tidak fokus, tolong terangkan kembali apa yang saya jelasin tadi,"

"Saya pak ?"tanya Adel sambil menunjuknya

"Iyah Adelia, Sekarang !"bentaknya

Mampus !!!, Help me Please ~

☆☆☆

Hanya dipisahkan jarak berapa centimeter, jok motor Dev membuatku lebih mendekat dengannya.

Kemerlap lampu jalan menerangi. Sepeda motor Dev membelah jalanan ibu kota ini. Adel tidak tau kemana dia diajak olehnya.

Dalam pikirannya Adel merasa senang bisa lebih.. dekat dengan orang yang dia kagumi. Kapten Basket sekolahnya.

19:00 Adel baru tiba didepan rumahnya.

"Terima kasih yah " ucap Adel malu malu

"Hmm , iyah"

"Jadi ngerepotin nih"

"Engga kok , tenang aja "

Hening ..

"Kalau gitu , gue balik dulu yah"pamit Dev sambil mengenakan Helm nya

"Engga masuk dulu" tawar Adel."

"Engga usah , terima kasih"

☆☆☆

Malam ini Alvin masih melakukan hal yang sama, rutinitas selain belajar dan mengerjakan pr rutinitas yang mungkin tidak mendapatkan hasil apa apa. Baginya ini aktifitas yang terbilang unik dan konyol.

Padahal Alvin baru saja mengenal wanita itu melalui demo eskul lalu. Sayangnya penampilan eskulnya hanya menampilkan beberapa menit saja, sejak dari situlah ada rasa yang menggangunya, ada rindu yang mengoyak relungnya, ada bagian yang tidak bisa disebutkan namun bagian itu selalu memaksanya untuk diperjuangkan.

Cinta..

Sebelumnya Alvin tidak pernah percaya hal seperti itu. Hatinya terkunci rapat rapat baginya mengejar impian adalah hal yang harus diprioritaskan.

Ternyata tidak , nyatanya Alvin sudah "Jatuh" dan mempercayai hal itu.

Tangannya kembali melipat lipat kertas origami itu, kali ini Alvin sengaja membuat origami berbentuk kupu kupu. Mungkin seperti inilah perasaan Alvin untuknya seperti Kupu kupu yang memiliki bagian terindah dipenuhi warna warni dan juga mampu menembus semesta.

☆☆☆

"CINTA ITU SEPERTI .. METAMORFOSIS KUPU KUPU , UNTUK MENEMBUS CAKRAWALA KAMU HARUS RELA MENUNGGU DAN MENJAGANYA"

Sebuah origami kupu kupu sudah diselesaikan tidak membutuhkan waktu banyak untuk menyelesaikannya.

Alvin langsung mengambil perlengkapan lukisnya dan pergi ketempat favoritnya tempat membuat dirinya merasa jauh lebih tenang menuangkan idenya diatas kertas gambar.

Melukis salah satu hobby nya, banyak hasil lukisan Alvin dipajang didalam rumahnya. Alvin tidak berniat membawanya kesalaha satu pameran. Menurutnya hasil lukisan banyak memiliki kekurangan.

☆☆☆

Siall !!!

"Udah jam setengah 7 lagi"teriak Adel

Tidak membutuhkan waktu banyak merapihkan dirinya. Bahkan Adel tidak memiliki banyak waktu merias wajahnya Alhasil penampilannya terlihat kacau hari ini.

"Mamah kok engga banguni Adel sih"gerutunya sambil mengikat tali sepatu

"Mamah udah bangunin kamu , kamunya aja yang tidurnya kaya kerbau"ledek mamah

"Ahh, nyebelin bener "

Adel lupa kalau hubungan dia dengan ka Riko tidak lagi bersahabat.

"Mah , ka Riko mana sih ?"tanya Adel

"Dia udah berangkat dari tadi , kamu disuruh naik ojek sama dia"ucap mamah

"Nyebelin bener sih jadi kakak"gerutunya kali ini

Adel langsung lari sekencang mungkin kedepan kompleks rumahnya mencari pangkalan ojek terdekat. Bisa kacau kalau tidak ada ojek Adel tidak memerhatikan bekal yang sudah siapin sama mamahnya.

"Mana sih tukang Ojek"batinnya

☆☆☆

Terkutuk lah hari ini !!

Pertama , Adel telat bangun pagi Adel tidak mau memaafakan mamah, mamah tidak membangunkannya hingga membuat dirinya bangun telat

Kedua , Adel benar benar kesal kakaknya tidak mau menunggunya dan langsung pergi begitu saja tanpa mengantarkannya pergi kesekolah

Ketiga , Tukang ojek yang dicarinya membuat kekesalan Adel meningkat

Keempat, Dan puncaknya Adel dihukum pula , disuruh hormat ke tiang bendera sampai istirahat

Benar benar membosankan dan menyebalkan bukan ?.

Adel lupa kalau ia lupa membawa bekal dan uang jajanyapun tidak cukup untuk mengisi perutnya yang lapar.

Tiba tiba ..

"Adel , ini buat loe"ucap Perempuan yang tidak dikenalnya

"Buat gue ? , "jawab Adel heran

"Iyah buat Loe"

"Dari siapa ?"

"Engga tau" ucapnya kemudian meninggalkannya setelah memberikan bekel dan air mineral

Adel masih mengamati bekal yang baru dia terimanya.

Siapa orang yang benar benar baik memberinya bekal ?

Tanpa pikir panjang , Adel langsung melahap habis isi bekelnya. Adel tidak tahu kalau dia sedang diperhatikan oleh seseorang dari kejauhan..

☆☆☆

"Kemana dia ? Apa jangan jangan dia engga masuk sekolah?"batinnya saat melintasi kelasnya

Alvin tidak mengatahui wanita yang dia sukai saat ini, menanyakan tentang wanita itu ke temannya saja Alvin merasa malu. Alvin benar benar minim berita tentang wanitanya.

Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang tidak asing lagi baginya siapa lagi kalau bukan..

ADEL

Wanita itu tengah mendapat hukuman dari guru piket dan menyuruhnya hormat ke tiang bendera.

Alvin merasa kasihan melihatnya dihukum. Andai saja Alvin bisa menemaninya ditengah tengah teriknya sinar matahari.

Sementara ditangannya masih digenggamnya bekel makan siangnya dan air mineral.

Alvin berniat memberikan bekal makan siangnya untuk Adel. Tapi , bagaimana bisa dia melakukan hal itu, jangankan memberikan bekal, berbicara dan bertatap muka saja Alvin merasa canggung.

☆☆☆

Langkah Alvin terhenti saat dirinya dipergoki Rara teman Adel dari kelas ini.

"Loe , mau ngapain masuk kekelas gue ?"tanya Rara itu sambil mengecek ruang kelasnya

Seperkian detik , Wanita itu merasa kecolongan. Alvin berhasil melarikan diri darinya untung saja Dewi Fortuna berpihak padanya.

Mau ditaruh dimana harga dirinya kalau satu sekolah pada mengetahui kalau dia begitu pecundang tidak mampu memikat hati seorang wanita. Padahal tidak seperti yang mereka pikirkan, tujuannya melakukan hal itu karena Alvin ingin berkenalan dengan wanita yang selalu menggangu separuh malamanya.

Hanya itu ..

☆☆☆

"Del , kayanya gue tau deh siapa yang kirimin ini semua"ucap Rara sambil menunjuk Origami kupu kupu dan setangkai bunga mawar

"Serius loe tau ?"tanya Adel begitu tidak percaya

"Iyah , "

"Siapa orangnya ?"tanya Adel kali ini sudah tidak sabar mendengar nama orang yang selalu membuat paginya selalu tersenyum

"Gue lupa namanya , pas gue pergoki dia langsung kabur"jawabnya sambil memperlihatkan giginya

"Ah loe , gue kira loe tau"

Adel masih mengamati pemberian yang selalu dia dapatkan setiap hari. Benda benda yang dia dapatkan selalu berbeda setiap hari. Sementara Rara masih mengingat dan mencari cara menjebak pria misterius.

"Del , kayanya gue punya cara deh"pikir Rara sambil memijit keningnya

"Apa ?"

"Tapi , loe harus janji sama gue , ikutin semua yang gue bilang"

"Iyah iyah Rara bawel"

☆☆☆

Esok harinya..

Rara sudah mempersiapkan sebuah rencana menjebak siapa yang selalu mengirimkan sebuah origami dan setangkai bunga mawar.

Seperti rencana yang disusunya , Rara dan Adel mengintai orang tersebut dari kejauhan. Rara memastikan kalau tempat pengintaiannya aman dan tidak terlihat.

15 menit berlalu ..

Adel hampir putus asa menunggu siapa sebenarnya orang yang memberikan ini semua.

Tiba tiba , laki laki yang dibilang Rara kemarin benar. Laki laki itu masuk kedalam kelas Adel membawa sesuatu yang dipegangnya. Sebelum masuk kedalam kelas laki laki itu memastikan tidak ada yang melihat aksinya kali ini.

Rara dan Adel perlahan menghampiri kelasnya layaknya seperti halnya film James Bond ataupun film action lainnya. Langkah Rara dan Adel terhenti didepan pintu kelas

Rara langsung memberikan kode pada Adel untuk menutup pintu kelasnya.

1..

2..

3..

"Jadi loe yang ngasih gue itu semua"ucap Adel dengan sinisnya

Laki laki itu begitu terkejut melihat orang lain yang mengetahui aksinya.

"Benar kata gue kan del , ini kutu kupretnya"tambah Rara membuat laki laki itu semakin terpojok

Sementara laki laki itu masih terdiam menunduk seakaan mengakui kesalahannya yang sudah masuk kelas lain secara tersembunyi.

"Loe ngapain ngasih gue kaya gini ginian ?"ucap Adel sambil melipat tangannya

".."

"Jawab dong !! Loe punya mulut kan "bentak Adel

".."

"Oke kalau loe engga jawab , gue sama Rara bakalan laporin loe ke guru BP"ancam Adel

"Syukur syukur orang kaya loe itu di DO dari sekolah ini" tambah Adel

☆☆☆

Adel benar benar kecewa dengan hasil putusannya yang hanya diberikan hukuman ringan membersihkan toilet sekolah. Kenapa laki laki itu tidal dikeluarkan dari sekolah ?

Jelas jelas laki laki itu sudah masuk kekelas lain tanpa seizin siswa siswi kelas 11 B. Bagaimana kalau perlengkapan yang ada didalamnya hilang ?

"Benar benar tidak adil hukumannya" batin Adel

"Andai saja aku tau , bagaimana cara berkenalan dengan wanita untuk aku jadikan seorang sahabat. Mungkin aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi dan membuatku tersiksa. Sayangnya aku tidak tau bagaimana harus memulainya dan bagaimana cara aku mengulurkan tanganku supaya aku mengetahui namanya"

Ada perasaan tidak enak melihat laki laki itu dihukum guru BK. Rara sendiri benar benar tidak kuasa melihatnya. Seharusnya Rara tidak membuat rencananya. Toh tidak ada salahnya laki laki itu membuat sahabatnya bahagia dengan pemberian sesuatu untuk sahabatnya.

Alvin baru saja menyelesaikan hukumannya membersihkan toilet sekolah. Sementara Adel merasa puas bisa memberikan pelajaran

Adel membuang muka saat berpapasan dengannya. Seakaan tidak ada rasa bersalah sama sekali.

☆☆☆

"Penjahat itu harus dihukum"ejek Adel saat Alvin berpapasan dengannya

Sementara Alvin masih diam tidak menanggapi ucapannya. Memang nyatanya Alvin salah melakukan hal itu. Terlalu bodoh betul , hanya demi berkenalan dengannya sampai harus merlakan harga dirinya diinjak injak dan malu dihadapan guru guru.

☆☆☆

Bel pulang terdenger begitu keras. Siswa siswi bergegas merapihkan bukunya.

"Ra , ko Ka Dev engga anter gue lagi yah"tanya Adel sambil merapihkan buku bukunya

"Dev anak basket ? Sejak kapan dia nganterin loe del ?"ucap Rara seakaan tidak percaya, jarang sekali Seorang Dev kapten basket sekolah mau anterin cewe

"Iyah siapa lagi kalau bukan dia, please yah jangan kepo" ucap Adel

"Yeee, gue kan mau tau Del"

Adel tidak menjawab ucapan Rara, Adel langsung pulang. Saat didepan Gerbang sekolah lagi lagi Adel harus bertemu dengan Alvin. Adel langsung memalingkan wajahnya.

"Penjahat ko malah naik sepeda"sindir Adel

"Usshh , loe engga boleh gitu del , "bela Rara

"Loh , loe ko malah belaiin dia sih Ra , loe ?"tanya Adel

"Bukan gitu , loe tau sendiri kita udah buat dia kena hukuman"jelas Rara

"Stop !! Loe nyebelin tau gak Ra , gue kecewa sama loe"

☆☆☆

Seperti malam malam sebelumnya Alvin selalu melakukan hal yang sama. Tidak ada kat menyerah baginya untuk mengenal wanita itu lebih dekat , walaupun perbuatannya membuatnya kecewa dan terluka.

Alvin menghirup secangkir teh hangat buatan bibi. Tangannya begitu mahir melipat-lipat kertas itu menjadi suatu bentuk. Bahkan kamarnya pun dipenuhi puluhan origami menghiasi langit langit ruangan kamarnya.

Tidak hanya itu aja , Setiap dinding kamarnya terdapat beberapa lukisan dari hasil karyanya.

Alvin selalu meluangkan waktu malamnya melipat lipat kertas origami dan melukis. Dilihatnya kalender berada meja belajarnya ada satu tanggal yang dilingkari oleh Alvin. Itu berarti tinggal 1 minggu lagi.

Digenggamnya sebuah Origami yang baru selesai dibuatnya. Sambil memimkirkan bagaimana caranya Alvin sekilas melihat lukisan yang dipajang di sudut ruangan kamarnya.

Sementara jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Alvin merebahkan tubuhnya diatas bad cover melepaskan rasa lelahnya selama satu hari ini. kemudian menutup matanya hingga mentari membangunkannya kembali.

☆☆☆

Tidak ada kejutan yang selalu membuatnya tersenyum dipagi hari. Tidak ada kata puitis yang menyentuh hatinya. Tidak ada origami melengkapi harinya.

"Kenapa engga ada kejutan lagi?"gumam Adel

Tangan Adel menyentuh kolong meja untuk memastikan apakah ada origami atau engga ?.ternyata benar saja kolongnya benar benar kosong.

Banyak pertanyaan didalam pikirannya Adel berusaha melenyapkan. Toh , karena dia lah orang yang selalu memberinya kejutan mendapatkan hukuman.

Pikirannya tidak bisa konsentrasi saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Apa mungkin Adel meminta maaf padanya ? Tidak ! Adel tidak salah tidak ada kamusnya kalau ia salah. Adel tidak ingin disalahkan walaupun kalau kenyataannya memang Adel yang salah. Tidak ada salahnya lelaki itu memberikan sesuatu untuknya bukan ?.

Mulut Adel terasa kelu mengucapkan kata maaf ataupun mengatakan ucapan terima kasih atas pemberiannya.

"Del , dari tadi masuk sampe istirahat loe kaya kelihatan engga fokus ?"tanya Rara sambil membuka bekel

"Gue engga apa apa kok ra"jawabnya sambil menyeruput minuman yang baru saja Adel beli

"Yakin ?"tanya Rara kali ini untuk memastikan apakah sahabatnya benar benar tidak apa apa

"Iyah ,"

"Kemana dia ,? Biasanya dia selalu melintas tapi sekarang-" batinnya

☆☆☆

Tepat dihari ke lima setelah kejadian itu. Adel tidak mendapatkan sesuatu yang membuatnya selalu tersenyum dipagi hari. Hasilnya selalu sama kolong mejanya selalu kosong, tidak ada Origami ? Tidak ada setangkai Bunga Mawar ? Benar benar tidak ada.

"Del , loe kenapa sih dari tadi lihatin ke kolong meja melulu"tanya Rara

"Engga apa apa sihh , cuman aneh aja"jawab Adel datar

"Aneh kenapa ?"

"Ya... aneh aja , biasanya selalu ada bunga sama origami , ini udah hari ke-5 gue engga dapetin itu"ucap Adel

"Hmmm, udah dipastin belom?"tanya Rara meyakinkan dirinya

"Udah Rara , kalau engga percaya lihat aja sendiri nih"

"Engga lah kolong meja loe banyak sampah bau pula"ledek Rara sambil berlari

"Rara "teriak Adel mengejar sahabatnya

☆☆☆

Adel sudah lama engga pergi keperpustakaan sekolah biasanya hampir setiap minggu Adel selalu datang. Mungkin memang lagi engga ada tugas sekolah yang  membuatnya harus menyelesaikan secepat mungkin.

Sengaja Adel engga mengajak sahabatnya yang satu ini. Sepertinya tujuan pergi ke perpustakaan bukan hanya ingin membaca buku melainkan Adel ingin menenangkan dirinya dengan caranya.

Langkahnya terhenti saat melihat lelaki yang membuatnya kesal. Dipegang knop pintu perpustakaan sementara pandangannya masih mengamati lelaki tengah asyik membaca.

Dengan mengumpulkan keberaniannya Adel membuka knop pintunya. Toh , memang kenyataanya kalau dirinya tidak salah membuatnya merasa malu dihadapan guru bukan ?.

Adel memilih tempat duduk menghadap ke arah jendela. Mungkin karena Adel tidak ingin melihat sosok lelaki menyebalkan itu sementara laki laki itu masih serius membaca tidak memperhatikan sekelilingnya.

☆☆☆

Alvin menuntun sepedanya yang bocor. Tanpa sadar Rara mengkuti Alvin dari belakang, Tiba disuatu tempat yang tidak Rara ketahui Alvin menyenderkan sepedanya.

Tanpa menunggu lama lagi, Alvin mengambil kertas,pensil,dan penghapus dan memulai kerjanya menggambar sketsa. Sementara Rara masih mengamatinya dari kejauhan ada rasa penasaran dibenak hati Rara. Rara menanguhkan rasa itu.

Langit berubah menjadi kelam. Mentari sudah tak terlihat dan tenggelam di ufuk barat. Alvin tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Rara masih mengamatinya dari kejuahan hingga akahirnya Rara menghampirinya.

"Hei.." sapa Rara dari belakang sementara laki laki itu tidak menoleh sedikitpun kehadapan Rara mungkin saja Alvin tau kalau dirinya sedang diikutin.

"Kamu sedang apa ?"tanya Rara kali ini duduk disampingnya sambil meluruskan kakinya terasa pegal setelah mengintai Alvin.

Tidak ada respon dari Alvin. Rara hanya tersenyum melihatnya melukis entah apa yang Alvin lukis.

"Kamu mau apa ?" Tanya Alvin menghentikan menggambarnya dan menoleh kearah Rara

"Engga apa apa , "jawab Rara canggung.

"Kalau engga apa apa, kenapa kamu ada disini ? Masih belom puas apa?"ucap Alvin sambil menatap Rara tajam dan menekankan kalimat terakhir yang membuat Rara paham artinya

"Ummp, kamu marah ? Okee aku minta maaf ?"ucap Rara sambil mengulurkan tangannya

"Maaf ?"jawabnya datar

"Iyah maaf , seharusnya aku engga bilang ke Adel kalau kamu yang selalu mengirim semuanya setiap pagi"jelas Rara

"Hmmp, kamu engga salah" jawab Alvin sambil meletakkan lukisannya

"Kenapa ?" Rara semakin engga mengerti

"Hmmp, seandainya saja aku tau bagaimana cara mengulurkan tanganku dan tau cara berkenalan dangan seorang wanita, mungkin aku tidak melakukan hal itu, tapi sayangnya akau tidak tau bagaimana harus memulai itu semua" jawab Alvin sembil menekuk kakinya

"Maksud kamu ? Kamu melakukan hal itu cuman ingin berkenalan dengan Adel" tanya Rara kali ini untuk meyakinkan

"Iyah , dan untuk selanjutnya aku tidak ingin melakukannya lagi"

"Kenapa memangnya ?"

"Karena aku tidak ingin dihukum sama guru BK,"jawabnya sambil tersenyum simpul

Hening ..

Tidak ada obrolan lagi seakaan terlarut dalam dunianya masing masing.

"Sudah malam , kenapa kamu engga pulang?"tanya Alvin membuka obrolan kembali

"Aku tau , aku masih mau disini"jawab Rara

"Aku mau pulang , maaf aku engga bisa menghantarkanmu pulang ,ban sepeda aku bocor"

"Engga apa apa ko, aku bisa pulang naik ojek"

☆☆☆

" seandainya saja aku tau bagaimana cara mengulurkan tanganku dan tau cara berkenalan dangan seorang wanita, mungkin aku tidak melakukan hal itu, tapi sayangnya akau tidak tau bagaimana harus memulai itu semua"

☆☆☆

"Din , Lihat Adel engga ?"tanya Rara
"Tadi sih , di Kantin"jawab Dina

Rara langsung menuju kantin banyak hal yang ingin dia ceritakan mengenai masalah pertemuan kemarin. Kalau Rara dan Adel salah menduga atas apa yang Alvin perbuat.

Semuanya harus Rara jelaskan pada Adel.

"Del , loe kemana aja sih ?"tanya Rara menepuk punggu Adel

"Ehh.. loe apa apaan sihh makanan gye hampir jatuh nih"gerutu Adel

"Itu engga penting , loe harus tau beruta ini"

"engga penting gimana ? Loe mau bayarin apa ha ? Berita apa lagi sih Rara"

Tanpa menunggu lama lagi lengan Adel ditarik oleh Rara dan menjauh dari kantin.

"Wy , loe mau bawa gue kemana  sakit tau "gerutu Adel melihat lengannya dipegang dengan kuat

"Udah tenang aja"

Rara memastikan tidak ada orang yang lalu lalang. Sementara Adel masih terlihat bingung dengan perilaku Rara akhir akhir ini.

☆☆☆

"kemana dia ?"gerutu Adel.

Ada raut putus asa dari wajah Adel yang mencari laki laki itu. Laki laki yang selalu mengirimkannya bunga dan origami tidak terlihat didalam kelasnya.

"Ra , terus gue harus gimana dong ?"tanya Adel nampak putus asa dan menyesal

"Yah , loe harus minta maaf ke dia"

"Iyah gue tau , tapi kemana dia ?"

"Wait.. gue tau dia kemana ?" Pikir Rara mengingat tempat dimana ia pernah mengikuti Alvin.

"Dimana Ra ?" Tanya Adel begitu antusias saat Rara mencoba mengingat tempat laki laki itu selalu berkunjung.

"Habis pulang sekolah ikut gue , jangan pulang sama ka Dev"ancam Rara

"Heeh" adel hanya tertawa Renyah mendengar nama Ka Dev. Kakak kelas yang sudah menjadi incaran Adel selama ini.

☆☆☆

Rara berdengus kesal tidak menemukan Adel. Padahal rara sudah mengancamnya untuk pergi ketempat Alvin salalu datang. Sementara Langit terlihat berubah menjadi hitam.

Tiba tiba saja ada sebuah lengan kokoh memegang lengan Rara. Rara menoleh siapa yang berani beraninya menggenggam tangannya. Betapa terkejutnya Rara pemilik lengan itu adalah.

ALVIN..

"Loe ngapain masih disekolah ?"tanya Alvin menuntut sepedanya dari tempat parkir sekolah.

"Eh..engga lagi apa apa kok , tunggu jemputan"jawab Rara begitu gugup tidak seperti biasanya.

"Ini sudah jam 18:00 loh , bareng sama gue aja ?" Ajak Alvin kali ini mencoba membujuk agar pulang bareng dengannya.

"Apa engga ngerepotin lu ?"

"Repot repotin amat"

☆☆☆

"Ra , maafin gue kemarin ka dev ngajak gue pulang bareng" rintih Adel menggenggam lengan Rara sementara Rara tidak berbicara sedikitpun. Mungkin Rara sudah terlanjur kesal dengan perilaku Adel.

"Raa.. lo marah yah sama gue ?" Lagi lagi Adel mencoba menanyakan hal itu. Namun Rara tidak menjawab pertanyaannya. Rara masih terpaku pada buku pelajarannya

"Rara.. " teriak Adel sambil menutup buku pelajaran Rara. Akhirnya Rara pun menoleh kearahnya Adel hanya senyum kecil menandakan bahwa dirinya berhasil.

"Udah puas belom ?" Tanya Rara datar sedikit ketus membuat Adel tidak mengerti maksudnya

"Udah puas apa sih ?" Adel begitu tidak mengerti maksud Rara yang sebenarnya

"Pura pura bego lagi !." Timpal Rara membuat Adel memutar otak mencari tau maksud dari ucapan Rara. Maklum saja , otak Adel tidak seperti teman teman lainnya yang cepat menangkap pembicaraan.

"Oh.. I See"

"Tell me banget sihh" sindir Rara

"Kok lo gitu sihh Ra ? Engga nyangka gue sama lo ?"

"Gue ? Seharusnya lo lahh yang engga sadar , gue tungguin lo didepan gerbang sekolah hampir 1 jam , dan lo malah pergi sama orang lain ! Sadar seharusnya ," ucap Rara mengeluarkan unek uneknya

"Untungnya aja ada orang baik yang nganterin gue pulang" timpal Rara kali ini

".."

"Maaf Ra , ka Dev maksa gue buat pulang bareng ?" Bela Adel dengan beberapa alasan

"Terus lo mau jalan sama dia ? Di bandingkan dengan sahabat lo yang udah janjian terlebih dahulu ?"

"Yahh.. gue engga bisa nolak tawaran Ka Dev , lagi juga lo tau sendiri Ka Dev incaran gue dari dulu"
"Terserah !"

"Raaa.. maafin gue , Please" rintih Adel merangkul Rara

"Apaan sihh lo , udah gede engga usah cengeng !" Ketus Rara mencoba melepaskan rangkulan Adel

"Raaa.. ayolahh ," bujuk Adel kali ini

".."

"Okee kalau lo eng.."

"Loe gue maafin" potong Rara sebelum Adel melanjutkan ucapannya

"Yang bener Ra ?" Adel mencoba meyakinkan kalau Rara sudah memaafkan kesalahannya

" loe budeg apa gimana sih ?"

"Heeh .. terima kasih Rara cantik" puji Adel memeluk Rara erat

"Engga usah puji gue dehh !"

"Wait .. ! , kemarin , lo dianterin pulang sama siapa ?" Tanya Adel begitu Kepo

"Kepo banget sihh lo jadi orang "

"Yaelahh .  Ra , kita kan sahabat"

"So ?"

"Yahh cerita aja sihh" lagi lagi Adel mencoba membujuknya

"Gue lagi males cerita , gimana dong"

"Yaudah kalau gitu mah"

Fix , sampai jam pelajaran ke 4 tidak ada obrolan yang keluar dari mulut Rara dan Adel. Biasanya mereka berdua sibuk dengan topik mereka dibandingkan mendengarkan penjelasan dari guru.

Kadang juga Adel dan Rara selfie saat Guru Sejarah sedang menerangkan materi. Begitulah keduanya melepaskan kebahagian.

☆☆☆

Waktu berlalu begitu saja , Bel istirahat begitu nyaring terdengar di telinga. Siswa siswi berhamburan keluar kelas. Mungkin aku bisa menebaknya sebagian dari sekolah ini banyak memilih pergi ke kantin dibandingkan pergi ke perpustakan membaca buku. Engga percaya ? Lihat aja sendiri heeh.

Adel membawa 2 gelas teh dan sandwich yang tadi pagi dibuatkan mamahnya. Adel menghampiri Rara tengah asyik membca novel yang sempat tertunda. Sementara Rara tidak sedikitpun menoleh dan merasakan kedatangan Adel. Rara ikut terlarut alur novel yang dia baca hingga membiarkan Adel memperhatikan Rara.

"Woy !!" Bentak Adel sekaligus menyadarkan Rara dari dunianya

"Apaan sihh lo Del , " gerutu Rara tidak terima dengan perilaku Adel membentaknya

"Lagian dari tadi gue liatin loe, sibuk bener sama nih Novel "

"Iyahlah , lo engga tau sih alur ceritanya, mau baca" tawar Rara menyodorkan Novelnya

"Heeh.. engga terima kasih , lebih baik liat drama korea dehh daripada baca Novel"

"Ya ya ya"

Krek krek krekk

"Suara apan tuh ?"Adel begitu terkejut mendengar suara itu

"Dari perut lo Ra kayanya" timpal Adel

"Heeh ..iyah , emang dari perut gue"

"Kiraiin gue apa , lo laper apa ?" Tanya Adel

"Iyah " jawab Rara nyengir kuda

"Nih mamah gue buatin sandwich" ucap Adel menyodorkan dua buah Sandwich

"Kok lo bisa tau sihh wkwk, terima kasih Adelku" puji Rara langsung mengambil sandwich itu dan langsung melahapnya habis

"Laper bu haji ?" Tanya Adel melihat tingkah laku Rara melahap habis sandwichnya

"Heeh .."

"Pelan pelan makannya, nanti keselek lagi " saran Adel

"Engga lahh , engga ada tulang ini sihh"

"Terserah dehh"

Uhukk Uhukk

"Minum .. minum ..minum" ucap Rara memegang tenggorokannya yang seret

"Nahh kan , gue bilang juga apa sihh. Kepala batu sihh lo Ra"

Rara langsung menengak habis isi air yang dibawa Adel. Sementara Adel engga habis pikir melihat perilaku Rara seperti pengemis yang kelaparan.

"Lo sihh ngajak gue ngobrol. Jadinya gue keselek kan " ucap Rara seenaknya jidat menyalahkan Adel

" loh kok gue sih ? , lo kali yang makannya kaya apaan tau" gerutu Adel tidak terima disalahkan Rara

'Heeh.. iyah maaf , ini salah gue.."

Sebelum melanjutkan ucapan yang terakhirnya. Rara menarik lengan Adel mengikuti langkah laki laki yang dia kenalnya. Sementara Adel mencoba melepaskan genggaman tangan Rara begitu sakit

"Ra , lo apaan sihh " berontak adel mencoba melepaskan genggaman tangan Rara

"Udah tenang dulu , ikutin aja dulu"

"Tapi engga kaya gini juga kali"

"Berisik tau engga ?"

"Yeee.. udah salah juga masih aja ngotot"

".."

"Emangnya itu siapa sih Ra ?"

"Nanti juga lo bakalan tau"

Laki laki itu masuk ke ruangan biasa dia sendiri. Sambil membawa sebuah kertas dan perlengkapan untuk melukis. Laki laki itu menengok mencoba kearah belakang. Berharap saja, engga ada orang yang mengikutinya.

"Bukannya itu cowo yang waktu itu yah" pikir Adel

"Emang , kenapa lo baru sadar sihh ?" Bisik Rara masih mengamati laki laki itu masuk

"Yee.. mana gue tau , terus apa hubungannya sama kita coba ?"

"Haa ? Jangan pura pura bego dehh del , kemarin lo sendiri kan yang cariin dia ? Kenapa sekarang lo malah nanya yang engga jelas sihh ?" jawab Rara menatap Adel membulatkan matanya

"Heeh.. emang kemarin gue cariin dia sihh , tapi kan sekarang udah beda lagi Ra"

"Beda gimana ? Jadi lo engga mau minta maaf sama dia ha ?"

"Bukan begitu Ra" bela Adel

"Bukan gitu gimana ? " Lagi lagi Rara memojokkan Adel membuat Adel engga bisa menjawab

"Kok lo jadi gini sih Ra ?" Tanga Adel membelokkan topik pembicaraan

"Gue engga mau sahabat gue jadi orang yang pengecut engga bisa minta maaf ke orang lain" jawab Rara dengan penekanan kata katanya

".."

"Udah sekarang lo coba minta maaf sama dia !" Suruh Rara mencoba membujuk Adel

"Minta maaf ?, gue engga salah Ra , dia yang salah" Adel membela diri

"Udah sono cepetan minta maaf dih "Rara terus memaksa Adel meminta maaf

Tiba tiba ..

".." mereka berdua terkejut meluhat orang yang tengah dia bahas sudah berdiri didepannya

"Lo ? Ngapaiin lo ikutin gue kesini" tanya Alvin mengerutkan dahinya

"Ehh.. bukan gitu kok vin , ada hal lain yang ingin disampaikan" Rara mencoba menjelaskan sebenarnya pada Alvin

"Bisa to the point kan ?"

"Iyah bisa kok," Rara mengangguk mengerti maksus Alvin

".."

"Cepet Adel !! , orangnya udah ada didepan kita " Rara berbisik sambil menyenggol tubuhnya

Sementara Adel hanya terpaku melihat Alvin. Haruskah perempuan meminta maaf pertama ?.

"Kalau engga ada yg mau diomongin. Sorry gue banyak pekerjaan" Alvin meninggalkan Rara dan Adel

"Alvin.. gue.. minta maaf" Akhirnya Adel mau minta maaf juga

Langkah Alvin terhenti mendengar ucapan itu. Ucapan yang membuatnya tidak seharusnya diucapakan Adel.

".."

"Lo engga mau maafin gue ?" Adel nampak begitu frustasi

".."

"Yaudah deh , kalau lo engga mau maafin gue. Engga apa apa. Ra , ayo ra kita pergi" ajak Adel

"Tunggu ! , gue maafin lo" ucap Alvin membuat Adel bahagia mendengarnya

☆☆☆

Waktu berlalu begitu cepat. Perlahan, Adel , Alvin dan Rara bersahabat. dalam hal persahabatan tidak mungkin tidak ada embel embel perasaan lain yang mengiringi. Pasti ada perasaan itu pada zona itu. Adel dan Rara tidak mengetahui lebih dalam lagi perihal kedatangan Alvin untuk menjadi sahabat mereka.

Selama mereka menjalin hubungan persahabatan. Ternyata Alvin menyimpan perasaan pada Adel. Memang Alvin sudah lama menyimpan rasa itu. Jauh dari sebelum mereka menjadi sahabat.

Secara tidak sadar , rasa itu tumbuh kembali setelah sekian lama tak ditengoknya.

Hampir setiap hari , mereka bertiga selalu bersama. Kemana pun mereka pergi selalu bertiga. Terkecuali jika buang air kecil. Heeh

Selalu saja sama , Alvin selalu meluangkan waktunya pergi ketempat rahasinya mencurahkan isi hatinya dengan melukis. Seperti itu lah Alvin menceritakan apa yang selama ini dia pendam. Bukan. Bukan maksud Alvin tidak percaya pada Rara yang nota bandnya sahabat Adel. Hanya saja , tidak sepantasnya Alvin bercerita tentang Adel.

Mungkin nanti , jika ada waktu yang tepat untuk menceritakannya. Tidak sekarang.

Esok ataupun lusa ..

☆☆☆

Cekrek ..

Pintu ruangan itu terbuka. Betapa terkejutnya Alvin melihat Rara sedang mengamatinya melukis wajah Adel sedang tersenyum. Wajah itu, Alvin ambil tidak sengaja diambil di akun Instagram milik Adel. Pecundang ! Memang nyatanya Alvin hanyalah seorang pecundang tidak mampu mengatakan sejujurnya.

Rara yang masih diam mematung tidak percaya. Rara begitu kecolongan dengan tujuan Alvin yang sekarang menjalin sahabat dengannya.

"Ra , semua bisa gue jelasin " ucap Alvin mencoba menjelaskan semuanya sambil mengejar langkah Rara menjauh dari ruangan persembunyian Alvin.

"Apa lagi sihh yang perlu dijelasin. Ternyata selama ini , lo ada maksud sendiri" sindir Rara mempercepat langkahnya

"Okee , terserah lo mau anggap gue apa , asal lo tau Ra , selama ini gue suka sama Adel. Gue hanya lelaki pecundang cuman bisa memanfaatkan keadaan menjadi sahabat lo sama Adel doang." Ucap Alvin menjelaskan semuanyab

Langkah Rara terhenti mendengar semua penjelasan yang terlontar begitu saja dari mulut Alvin. Rara semakin  tidak mengerti dengan permainan ini. Permainan macam apa yang sedang dimainkan.

Sementara Alvin diam tertunduk begitu malu. Layaknya pecundang hanya bisa mengumpat.

Timbul rasa iba di hati Rara. Memang sudah sewajarnya kalau kaum Adam menyukai kaum Hawa. Seperti itulah hukumnya.

"Alvin .." panggil Rara menghampirinya

"Kenapa ? Lo engga percaya sama omongan gue ? Apa lo kecewa sama gue ? Gue paham kok" Alvin mencoba membuat persepsi berlebihan saat Rara menghampirinya.

"Loh ? Engga kok. Lo jangan gitu, lo engga kalah dulu" Ucap Rara mencoba menyemangati Alvin

Alvin terdiam sejenak mendengar ucapn Rara. Apa mungkin Rara mendukungnya mendapatkan hati Adel ?.

"Mau ditaruh dimana harga diri gue ? Masa pdkt sama cewe aja perlu bantuan orang lain ?" Batin Alvin

Sementara Rara sedari tadi mecoba melambaikan tangannya tepat di wajah Alvin melamun.

"Vin , lo engga apa apa kan ?" Rara mencoba menyadarkan Alvin

"Ehhh.. gue engga apa apa kok, emang gue kenapa ?" Alvin pura pura bego

"Mana gue tau "

Perlahan , Alvin menemukan teman curhat barunya selain tempat dimana dia bisa mencurahkan isi hatinya dengan melukis. Bahkan , Rara tidak segan segan membantu Alvin meluluhkan hati Adel.

Alvin mulai membuka diri tentang perasaannya. Sementara Rara diam mendengarkannya. Tak jarang pula , Rara selalu membuka rahasia Adel saat Adel bercerita padanya.

Mungkin bisa membantunya menggali informasi banyak mengenai Adel lebih dalam lagi.

Lemah ? Payah ?

Memang seperti itulah kenyataanya bahwa mencintai dalam diam itu lebih sakit daripada melihat orang yang kita cintai memilih orang lain.

☆☆☆

Pernah engga sih kalian udah memperjuangin apa yang semestinya patut diperjuangin ? Namun , pada akhirnya orang yang di perjuangin malah engga peka ?. Seperti itulah yang dirasakan alvin saat ini, berulang kali Alvin selalu memperjuangin perasaannya supaya bisa mendapatkan hati Adel.
Apa yang Alvin dapatkan ? Nihil ! Adel sama sekali tidak pernah peka. Kalau sebenarnya ada kaum adam yang sedang jatuh cinta padanya.

Mungkin Adel akan menganggap Alvin tidak lebih dari seorang sahabat. Sementara Adel sendiri begitu mengkagumi sekaligus menyukai Ka Dev captain basket yang super cool satu sekolah.

Alvin tidak pernah kapok untuk jatuh cinta. Walaupun Alvin tahu kalau sebenarnya Adel tidak menyukainya. Alvin akan terus  memperjuangkan perasaanya. Sementara Rara yang sekarang menjadi sahabat kedua Alvin selalu mengingatkan lebih baik mencari selain Adel.

Bukan. Bukan maksud Rara ingin mempatahkan semangatnya. Melainkan , Rara tau sifat dan perilaku Adel selama ini. Kalau Adel masih memiliki pemikiran yang sulit dirubah. Terutama masalah percintaan. Adel akan terus mencintai orang lain yang disukai tanpa memperdulikan ada orang lain yang lebih care sama dia.

"Vin , apa lo engga berubah pikiran ?" Kata Rara mendekatkan duduknya disamping Alvin. Sementara alvin tengah sibuk melipat lipat kertas menjadi Origami.

"Gue bakalan terus memperjuangin perasaan gue" Jawab Alvin menghentikan aktifitas melipat kertas

"Sampai kapan lo bakalan terus begini" Tanya Rara lagi lagi mencoba meyakinkan

"Sampai dia tau kalau gue suka sama dia" Jawab Alvin begitu yakin dengan pilihannya.

"Tapi-"

"Gue egois ? gue tau kok , sayangnya lo engga pernah tau apa yang saat ini gue rasaiin" potong Alvin sebelum Rara melanjutkan

"Bukan itu , lo jangan maksaiin ! Setiap orang punya rasa. Apa lo bakalan terus mengejar dia sementara dia engga ada rasa sama lo" kata Rara begitu dalam kata katanya

".."

Alvin terdiam sejenak mencermati apa yang barusan Rara katakan.

"Setidaknya , gue bakalan terus berjuang sampai gue tau kalau dia beanr benar engga suka sama gue" ucap Alvin mengakhiri obrolan

"Okee.. gue bakalan dukung lo kok, gue salut sama lo vin" kata Rara yang tiada hentinya memberikan semangat

Alvin dan Rara terdiam. Tidak ada obrolan, tidak ada topik yang dapat dibahas. Sementara Alvin melanjutkan aktifitasnya melipat lipat kertas sempat tertunda.

"Sepertinya , gue harus jujur tentang perasaan gue ke Adel" pikir Alvin menyelesaikan lipatanya hingga membentuk suatu origami lucu.

"Secepat itu kah ?" Tanya Rara meyakinkan biar Alvin tidak salah mengambil keputusan.

"Yah , kenapa emangnya ?"

Rara memikirkan cara bagaiamana dia bisa mencomblangbkan Alvin dengan Adel "tahan dulu deh" kata Rara

"Kenapa harus ditahan ?" Pikir Alvin

"Hmmm.. gue tanya dulu sama Adelnya"

"Jangan , nanti malah dia tau dan ngejauh sama gue"

"Hmmmp, terus gimana ?"

"Yahh , seperti yang gue bilang , gue bakalan jujur sama dia"

"Apa lo bakal nerima konsekuensinya ?"

"Yah , apa pun itu"

Rara hanya memberikan senyuman simpul. Menandakan kalau dia mendukung langkah Alvin mengatakan perasaannya ke Adel.

☆☆☆

Adel duduk dihalaman sekolah sambil mengisi waktu istirahatnya melihat kakak kelas yang super kece. Yang membuat dirinya meleleh. Apa lagi kalau ka Dev sedanh berlatih basket menggunakan baju latihannya hingga terlihat otot perutnya. Mungkin Adel akan betah berlama lama memandanginya.

Adel tidak memperhatikan kalau Rara sahabatnya itu sedari tadi. Sudah berada disampingnya.

"Hmm.." dehem Rara memberikan kode

"Astagfirullah ..Rara ! , kamu ko engga bilang bilang kalau ada disini" Adel begitu terkejut melihat kedatangan sahabatnya itu.

"Lo sibuk sama dunia lo sihh ," pikir Rara mendekatkan tempatnya duduk

"Dunia gue ?" Adel begitu tidak mengerti apa yang Rara maksudkan

"Iyah , dari tadi lo gue lihatin serius banget lihatin kakak kelas lagi Olahraga" ucap Rara

"Wah.. ternyata lo secret gue yah" Adel tertawa puas

"Enggalah .." bela Rara sambil mengambil sandwich ditangan Adel yang terlihat lengah

"Woy.. itu sarapan gue" Gerutu Adel tidak terima sarapannya direbut Rara

"Apaan sihh.. gue kan mau cicipin "kata Rara

"Yahh.. engga gini juga sihh kalau lo mau cicipin mah"

"Iyah.. iyah.." Rara mencoba mengalah di potongnya sandwich menjadi dua bagian sama rata

Kedua sahabat itu menikmati sarapan pagi sambil melihat kakak kelas berolahraga.

"Ra.. kalau ka Dev , nembak gue. Menurut lo , gue terima engga ?"tanya Adel disela sela keheningan

UHUKK !!!!

"kebiasaan deh.. lo kalau makan engga pelan pelan" Ucap Adel sambil memberikan sebotol air mineral

Rara menenggak habis isi botol yang diberikan Adel. Hingga menyisahkan sedikit saja

"Coba ulang " pinta Rara

"Iyah , kalau ka Dev nembak gue, menurut lo , gue terima engga ?"

"Jangan mimpi dehh.. ka dev nembak.." Rara menghentikan pembicaraannya melihat seseorang yang Adel dan Rara kenal menghampirinya

"Hai.. "sapa pria itu dengan style baju latihannya

"Juga" Adel langsung menjawab dengan senyuman mengembang diwajahnya

"Boleh ngomong sebentar sama Adel" tanya Ka Dev menarik lengan Adel menjauh dari Rara

Rara hanya mengangguk engga percaya. Apa yang dilihatnya benar benar terjadi. Rara masih mengamatu perbincangan antara ka Dev dengan Adel. Adel hanya tersenyum saat mengakhiri obrolan yang singkat itu

"Ada apa del ?"tanya Rara begitu kepo tingkat dewa

"Engga ada apa apa kok ra" jawabnya nyengir kuda

"Engga ada apa apa , ko lo malah senyum senyum sih ?" Rara engga ada hentinya mencari tau

"Kemarin tetangga gue , kepo eh.. malah meninggal dunia wkwk"ledek Adel menjulurkan lidahnya

"Hei.. sembarangan kalau ngomong !" Decak Rara melipat tangannya

"Okee , kalau lo ada masalah awas aja sihh" ancam Rara

"Oh... ceritanya ngancem nih ?" Adel tertawa renyah

"Engga dihh .."

"Itu buktinya .."goda Adel

"Bodo lahh Del !!"

"Hehe .. ada yang baper , okee .. karena gue engga tega liat sahabat gue baper jadi gue cerita dehh" ucap Adel yang tiada henti hentinya tertawa

"Siapa yang baper dihh ? , gue engga baper ADEL !!"

"Hehe.. ngaku aja sihh , apa gue engga cerita dehh" ancam Adel

Akhirnya Rara kalah dengan ancaman yang Adel berikan "Hmm.. iyah iyah"

"Nahh gitu dong , jadi nanti malam...." ucap Adel membuat Rara bingung

"Nanti malem lo ngapain ?" Tanya Rara begitu engga sabar

"Wkwk.. ada yang engga sabaran yahh" ledek Adel lagi lagi

"Terserah .."

"Nanti malem .. gue diajak dinner bareng ka Dev" ucap Adel

☆☆☆

Malam ini langit terlihat ramai dengan hadirnya gugusan bintang bintang diangkasa. Alvin membawa perlengkapan lukisnya pergi ke tempat biasa. Tempat yang membuat setiap harinya terasa nyaman.

"permisi tante .." sapa Rara pada perempuan paruh baya yang diperkirakan umurnya sudah berkepala empat

"Iyah ada apa ?" Tanya Mamah Alvin begitu lembut ucapannya

"Alvinnya ada tante ?" Tanya Rara to the point

"Barusan tadi keluar "jawab Mamah Alvin kali ini

"Keluar ?"

"Iyah keluar.. dia bawa perlengkapan apa gitu" katanya kembali

"Oh.. gitu , Kalau gitu. Rara pamit dulu yah tante"

Setelah pamit Rara langsung pergi ketempat dimana Alvin selalu datang. Hanya Rara lah orang yang mengetahui tempat rahasi Alvin.

"Hmmmp.."dehem Rara melihat Alvin tengah sibuk dengan kanvasnya

"Ehh... Rara , kenapa engga bilang kalau mau dateng sih"Alvin begitu terkejut melihat Rara tiba tiba datang

"Lo yang kemana ? Gue carin lo juga , kata mamah lo. Lo lagi keluar" ucap Rara menaruh pantatnya mensejajarkan tempat duduk

"Hehe.. maaf , "

"Lo ngapain disini vin ?" Tanya Rara melihat Alvin yang begitu sibuk dengan dunianya

"Lagi tenangin pikiran" balas Alvin mengehentikan aktifitasnya sejenak

"Gambar ini buat siapa ?"

"Loe pasti tau lah buat siapa"

"Adel ?" Tanya Rara meyakinkan

"Yap.. besok , selepas pulang sekolah gue mau nyataiin perasaan gue ke Adel. Gue engga bisa terus-terusan kaya gini" kata Alvin menghembuskan nafasnya

"Loe udah yakinin bener ?"

"Udah"

Rara mengurungkan niatnya memberi kabar buruk yang sebenarnya terjadi. Tapi , sudahlah biar Alvin berjuang terlebih dahulu

Memang sepantasnya laki-laki memperjuangkan untuk memikat hati seorang perempuan.

☆☆☆

"Vin , ada apa yah ?, tumben banget "kata Adel membuka percakapan terlihat resah

"Hmmm.. sebenarnya ada yang mau gue omongin" jawab Alvin mulai meragu

"Yaudah .. ungkapin aja"

"Sebenarnya.." Alvin mulai terbata-bata

"Sebenarnya apa vin?"

"Gu..e.. suka sama lo"

Alvin mulai plong mengatakan yang sejujurnya. Walaupun Adel belom menjawab pertanyaanya.

"Gue hargaiin perasaan loe, tapi gue engga bisa jadi pacar loe. Gue udah anggap loe sebagai sahabat gue"

"Hmmmp"

"Sorry yah vin"

☆☆☆

Sudah 2 bulan lamanya Adel menjalin hubungan dengan Ka Dev. Sementara kekecewaan Alvin tidak bisa memikat hati Adel begitu membuatnya sesak.

Setiap hari. Setiap kali istirahat Alvin selalu meluangkan waktunya pergi ketempat biasa. Melukis adalah aktifitas yang bisa menenangkan semua kegalauannya.

Entah , akhir-akhir ini lukisan Alvin begitu kacau. Perpaduan warna tidak selaras dengan sketsanya. Apa yang sebanarnya terjadi dalam diri Alvin ?.

☆☆☆

3 bulan bukan waktu yang cepat memadu kasih dengan kakak kelas. Terlebih jika kekasihnya itu adalah laki-laki yang sejak dulu di idamakan.

Adel ingin memperlambat waktu supaya bisa berlama-lama berduan dengan Ka Dev.

Adel selalu menunggu Ka Dev latihan basket. Bahkan , Adel pernah mengigau lantaran satu harian tertawa bersama dengan Ka Dev.

Sungguh indah bukan ?.

☆☆☆

Langkah Alvin terhenti melihat sekumpulan kakak kelas tengah berada disana. Termasuk Ka Dev. Tanpa sengaja , Alvin mendengar percakapan yang membuatnya terkejut.

"Dev , ini duitnya. Gila loe Dev , ade kelas masih aja dipacarin" kata Laki-laki bertubuh tambun

"Thanks yah , kalau engga taruhan mah , mana mau sih gue pacaran sama bocah ingusan"

"Kapan loe putusin dia Dev?"

"Ada saatnya , gue mau peloritin duitnya dulu. Gue denger Adel orang kaya"

"Gilo loe Dev"

Alvin memutuskan meninggalkan tempat itu. Takut dirinya ketahuan kakak kelas.

☆☆☆

"Del , Ka Dev engga baik buat loe. Dia cuman manfaatin loe doang" kata Alvin

"Cukup Vin .. licik banget yah loe. Gue baru tau loe kaya gini"

"Gue liat sendiri dengan mata kepala gue sendiri" bela Alvin

"Mana buktinya. Udah yah vin , loe mendingan engga usah ikut campur masalah pribadi gue." Kata Adel pergi meninggalkan Alvin

"Del.. loe dengerin gue dulu" teriak Alvin yang tidak dihiraukan Adel.

☆☆☆

Selepas pulang sekolah. Alvin tidak melihat Adel. Mungkin Adel marah dengan perilaku Alvin. Alvin menuntun sepedanya ke depan gerbang sekolah.

Alvin sudah dicegat segerombolan kakak kelas yang kemarin di lihatnya. Tak ketinggalan dengan Ka Dev.

"Loe ngapaiin Adel ha ?" Tanya Ka Dev sambil menarik kerah baju Alvin

"Engga ngapa-ngapaiin kok"

"Hajar aja Dev."ucap Temen Ka Dev yang memprovokasi

"Sekali lagi loe ngapa-ngapaiin adel. Loe bakalan berhadapan sama gue. Ngerti !"bentak Ka Dev melepas kerah baju Alvin kemudian pergi meninggalkan Alvin.

Alvin masih diberikan kesempatan. Alvin menrik nafas, mencoba menenangkan semuanya. Apa mungkin Adel mengadukan hal ini ?.

☆☆☆

Brumm Brumm

Alvin mempercepat laju sepedahnya takut terjadi apa apa menimpa dirinya. Sayang , kecepatan sepedanya tidak kalah cepat dengan kecepatan sepeda motor yang membuntuti Alvin sedari tadi.

Alvin terjatuh dari sepedanya. Tubuhnya membentur keras batu besar yang berada ditepi jalan.

Bahkan , kecelakaan yang menimpa dirinya harus dibayar mahal. Lantaran , benturan keras itu lah membuat penglihatannya tidak mampu berfungsi dengan normal. Sebagaimana mestinya.

Hanya Rara lah yang Alvin beri tau mengenai kecelakaan ini. Tidak dengan Adel, Alvin tidak ingin melihat Adel lagi. Cukup baginya seperti ini menderita. Bahkan ,Buta membuatnya merasa jauh lebih baik. Dibandingkan melihat orang yang Alvin cintai bermesraan dan menyalahkannya.

Alvin menyerah mengejar cintanya ..

☆☆☆

Adel menghampiri Rara dengan linangan air mata. Rara sempat bingung apa yang sebenarnya terjadi pada diri Adel. Tidak biasanya Adel sedih seperti ini. Rara mengetahui perilaku Adel yang selalu ceria setiap harinya.

"Ra , ternyata gue salah jatuh cinta" kata Adel diiringi isakan tangis yang keluar dari matanya

"Bukannya loe udah bahagia sama Ka Dev ? Kenapa loe merasa salah?" Tanya Rara

"Ka Dev , cuman manfaatin gue doang. Dan loe mau tau apa yang terjadi setelah itu?"

Rara hanya mengangkat bahu tidak mengerti ".."

"Gue cuman jadi bahan taruhannya Ka Dev sama Temen-temennya" ucap Adel dengan tangisan sekerasnya

"Apaa ?" Rara begitu tidak terima dengan perilaku Ka Dev ke Sahabatnya.

"Hmmmp.. udah loe engga usah sedih. Cowo kaya gitu engga usah loe tangisin. Engga ada gunanya" ucap Rara mencoba menenangkan Adel.

"Gue engga nyangka aja Ra"

"Udah loe engga usah cengeng gini." Kata Rara kembali menyeka air mata Adel.

"Gue sayang sama Ka Dev, Ra"

"Sayang ? Apa dia sayang juga sama loe ? Dia engga sayang Del. Loe liat sendiri kan perlakuan dia ke loe." Kata Rara menggebu-gebu.

"Tapi-"

"Sumpah Del , kadang gue engga mengerti sama jalan pemikiran loe. Loe sayang sama Ka Dev. Ka Dev engga sayang. Sedangkan ada orang lain yang begitu tulus menyangu loe"

Adel semakin tidak mengerti apa yang di maksudkan Rara.

"Maksud loe ?"

"Alvin sayang sama loe Del. Dia sendiri yang bilang. Asal loe mau tau aja. Wajah loe selalu di lukis sama dia"

"..."

"Tapi sekarang udah lahh , semua udah terjadi. Lupaiin aja masalah Alvin. Sekarang loe harus lupaiin Ka Dev"

"Gue tau Ra , Alvin udah nembak gue tapi gue engga nerima dia"

"Ternyata yang diomongin Alvin benar. Gue nyesel udah nuduh Alvin yang engga-engga"

"Hmmmp.. " Rara hanya bergumam

"Raa , tolong anterin gue ke temu Alvin. Gue mau minta maaf sama dia. Please" ucap Adel dengan nada memohon.

"..."

"Raa.. loe bisa kan anterin gue "

Rara hanya menganggukan kepala. Memberikan isyarat mengerti.

☆☆☆

Rara mengantarkan Adel ke tempat dimana Alvin selalu menyendiri. Jujur , sebenarnya Rara tidak ingin membongkar rahasia tempat Alvin. Tapi , Apa boleh buat. Ini semua Rara lakukan demi membuat Adel tersenyum kembali.

"Boleh duduk disini ?"Tanya Adel mencoba duduk sejajr dengan pria yang tengah menatap langit.

".."

"Kemana aja ? Engga keliatan?" Adel berusaha mengajak Alvin ngobrol

"Apa perlu gue jawab ? Bukannya loe sendiri yang bilang. Jangan ikut campur ? Urus aja hidup kita masing-masing ?" Jawab Alvin dengan tegasnya

Adel lupa kalau dahulu ia pernah mengatakan hal itu ke Alvin.

"..."

"Tapi itu kan dulu. Apa loe marah sama gue ?"

"Dulu dan sekarang apa bedanya ? Buat apa marah ?"

"Hmmp..  maafin gue vin"

"Loe engga perlu minta maaf, gue yang salah"

"Loe engga salah vin."

"Udah lahh. Gue engga mau bahas masalah ini"

"Kenapa emangnya ?"

"Gue udah menikmati hari hari gue kaya gini"

"Apa ada orang baru lagi vin?" Tanya Adel

"Engga ada orang baru yang datang ke hidup gue. Gue engga mau kehilangan anggota badan gue lagi?"

"Maksdu loe ?" Adel semakin tidak mengerti. Menurutnya Alvin sehat-sehat saja

Alvin memalingkan  wajahnya ke arah Adel. Kemudian Alvin merabah wajah cantik Adel.

"Loe.."

"Gue buta " potong Alvin

Adel mengerutkan dahinya. Seakan ada perasaan bersalah.

"Apa karena gue ? Maafin gue Vin"

"Udah berapa kali sih gue bilang. Loe engga salah"

"Terus ?"

Alvin memberikan bingkisan lukisan yang sengaja dia lukis.

"Ini apa ?" Tanya Adel memegang sebuah bingkisan yang tertutup kain hitam

"Sebab orang ini lah, yang udah membuat Alvin seperti ini." Jawab Alvin beranjak pergi meninggalkan Adel dengan bantuan tongkat

Adel begitu penasaran sebenarnya apa yang ada dalam bingkisan ini. Betapa terkejutnya Adel membuka kain hitan ini yang membungkus sebuah Lukisan sketsa wajah..

DIRINYA ...

*TAMAT*

Kamis, 03 Maret 2016

Menemukanmu

Menemukanmu
Prayoga D Wibowo



"Kamu.. jangan buat janji ataupun komitmen yah, aku takut malam menagihnya hingga membuatku khawatir apa kamu mampu menepatinya"

Malam ini aku sengaja meluangkan waktuku menemanimu. Disini. Ditempat kamu menungguku setiap harinya. Kamu selalu menungguku tanpa lelah. Tanpa letih, kamu selalu melihatku dan menyambutku dengan senyuman yang mengembang dipipimu. Kamu melihatku saat aku turun dari kereta yang membawaku pergi.

Malam ini aku ingin bersamamu..sejenak menepikan seluruh aktifitasku seharian penuh. Dibawah kemerlap bintang bintang aku menatapmu dengan penuh rindu yang begitu menggebu. Kupikir kamu bakal memilih yang lain. Ternyata tidak , kamu disini duduk disampingku. Menemaniku. Membuat semesta iri melihat sepasang insan yang telah lama.. dipisahkan.

Aku mensejajarakan tempatku duduk. Menatapmu semakin dekat , lebih dekat , sangat dekat. Hingga aku mengetahui secara menyeluruh bagaimana bentuk wajahmu.

Aku mengusap rambutmu yang tertutup balutan kerudung berwarna hitam. Sekilas aku membisikan sesuatu tepat ditelingamu "Aku janji tidak bakal pergi jauh lagi"

Kamu tersenyum simpul mendengar ucapanku. Hingga membuatku bingung " Aku tidak ingin kamu membuat janji ataupun komitmen yang nantinya bakalan ada hati yang terluka lagi" katamu

"maksud kamu ?" Aku semakin tidak mengerti.

Kamu menarik nafas dalam dalam kemudian " Intinya kamu jangan buat janji ataupun komitmen, aku takut malam menagihnya membuatku khawatir apakah kamu mampu melewati malam ?."

Aku tertawa mendengar penjelasanmu yang terbilang lucu bagiku. Aku mendekatkannya kembali dan berbisik "kalau begitu , maukah kamu menemaniku ? Menjadi teman hidup sekaligus isteriku ?"

Kamu tidak menjawab pertanyaanku kamu diam. Aku sempat kecewa padamu. Apakah ini jawabanmu ? Apakah dahalu aku salah ? Oke, aku akui aku salah meninggalkanmu tanpa memberi tahumu terlebih dahulu. Tapi, sekarang aku kembali lagi. Kembali lagi menjemputmu

Tiba tiba saja , tanganmu menggenggam tanganku begitu erat. Aku tidak mengerti dengan perilakumu. Kemudian kamu menjawabnya "jadilah imamku, aku ingin mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran saat kita sholat berjamaah, dan mengajariku"

Aku tersenyum bahagia mendengarkan jawaban darimu. Aku membalas genggaman tanganmu dan memelukmu erat erat seakan tidak ingin melepaskanmu pergi jauh. Aku membiarkan air mataku jatuh begitu saja. Kemudian aku mengecup keningmu.


♡♡♡

Seperti ini lah, hidup diperantauan jauh dari sanak keluarga. dengan memodalkan keberanian dan keterampilan yang dulu diajarkan keluarga maupun dari sekolah. Aku menguatkan tekadku menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Tujuanku hanya satu. Kelak , aku ingin melihat orang orang sekelilingku tersenyum mendengar keberhasilan yang aku raih.

Aku menghirup udara malam yang begitu terasa ditubuh. Pandanganku menatap langit malam yang terlihat sepi. Tidak seperti biasanya langit terlihat sepi.

Aku mengerutkan dahiku melihat sosok perempuan tengah duduk di seberang stasiun ini. Sepertinya aku mengenali perempuan itu. Sialnya. Perempuan itu menghilang dibalik datangnya kereta yang tiba di stasiun ini. Aku berusaha mencarinya, sayangnya perempuan itu menghilang begitu saja.

"Siapa dia ?, sepertinya aku mengenalinya ?" Gumamku.

Tempat aku kost dengan stasiun ini tidak terlalu jauh. Cukup naik becak sudah sampai tepat didepan kost kost an  yang terbilang cukup dihuni mahasiswa perantauan seperti aku ini.

Aku melemparkan tas disembarang tempat. Mungkin sudah menjadi kebiasaan saat aku masih duduk dibangku SMA dulu.

Aku mengistirahatkan seluruh tubuhku yang sejak pagi tidak ada hentinya beraktifitas. Pagi hari aku menjadi mahasiswa disalah satu perguruan tinggi swasta yang ada di kota ini. Sore hari aku bekerja paruh waktu menjadi photographer.

Aku bisa saja menelfon orang tuaku untuk membiayai hidupku selama disini. Tapi , aku tidak ingin merepotkannya dan satu satu caranya bekerja paruh waktu yang saat ini aku jalani.

"Ayolah kenapa jadi seperti ini ?, siapa perempuan tadi yang ada di stasiun ?" Batinku. Aku memijit pelipis mataku Hingga akhirnya mataku tidak kuat menahan kantuk dan lelah selama seharian penuh.

♡♡♡

 Seperti biasa, aku selalu menyambutnya kala ia terbit. Seperti inilah aku menyambut sang surya. Sederhana. Cukup merentangkan tangan dan memejamkan mataku merasakan kehangatannya. Begitulah caraku menyambutnya.

Sunrise dikota ini begitu indah. Nyaris terlihat sempurna. Banyak orang yang berkunjung ke kota ini hanya ingin mengabadikan moment ini dengan berfoto. Tak ketinggalan dengan diriku. Aku selalu membawa kamera kesayanganku kemanapun aku pergi. Banyak foto foto yang tersimpan didalamnya. Termasuk foto wanita itu , wanita itu tersenyum bahagia ketika sedang mengikuti kegiatan MOPDB.

Entah , sampai sekarang aku tidak mengetahui banyak kabar tentang dirinya. Aku selalu disibukkan dengan aktifitasku begitu menyita waktu. Bahkan , waktu untuk menikmati sunsite dengan ditemani secangkir kopi pun tidak ada.

Bukan. Bukan maksud diriku menceritakan keluh kesah hidupku. Bukan. Hanya saja , aku begitu menikmati kesibukan yang aku jalani seperti saat ini. Aku menyukainya.

Untuk merasakan indahnya jatuh cinta pun aku tidak bisa. Bukan , karena aku tidak bisa merasakan hal itu. Melainkan, ada hal lain yang tidak bisa kamu mengerti. Kenapa aku tidak bisa jatuh cinta pada wanita lain. Kamu tidak akan mengerti hal itu...

♡♡♡

Aku menaruh kamera kesayanganku ke tas. Beberapa photo sudah kuambil dan tersimpan di kameraku. Kurasa lebih dari cukup untuk diberikan dibagian ke dewan redaksi sebagai pertimbangan apakah hasil photo yang aku ambil merasa pantas untuk dipublikasikan atau tidak. Aku melanjutkan aktifitasku selanjutnya menjadi mahasiswa.

Setiap hari , setiap kali aku pergi ke Universitas aku selalu menggunakan transportasi Kereta dengan alasan lebih cepat dan bisa menikmati keindahan alam lebih dekat. Sialnya. hampir 1 jam aku menunggu kereta tidak seperti biasanya selalu datang tepat dengan keberangkatan. Mungkin saja ada gangguan tekhnis pada bagian gerbong.

Sementara perasaanku semakin tidak karuan dan tidak menentu. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 09:00 itu berarti aku masih memiliki waktu tidak kurang dari 30 menit. Sebelum mata kuliah dimulai. Mengatasi masalah kejenuhanku aku mengambil kamera kesayanganku dari dalam tas. Ku lihat beberapa photo lama saat aku duduk dibangku SMA dahulu.

Sewaktu SMA aku begitu aktif mengikuti kegitan estrakulikuler diantaranya menjadi Anggota Osis dan design mading. Aku tersenyum simpul melihat salah satu photo yang kudapat saat aku ditugaskan mengambil gambar waktu acara MOPDB dulu. Ada 2 orang perempuan sedang tertawa entah apa yang mereka tertawakan begitu bahagia saat aku melihat photo ini.

Delate..

Tidak. Aku tidak ingin photo yang menurutku bagus dihapus begitu saja dari kamera kesayanganku walaupun photo itu bukan aku. Tapi aku ingin photo ini ingin menjadikan kenang-kenangan saat aku lulus nanti.

Aku mematikan kameraku dan menaruhnya kembali. Betapa terkejutnya diriku saat melihat perempuan kemarin malam ada di seberang stasiun ini. Kemudian terlihat kembali dengan aktifatasnya. Entah apa aktifitas yang ia kerjakan.

Aku mengamatinya secara menyeluruh. Perempuan itu tengah asyik menulis di buku diarynya. Aku tersenyum simpul. Sayangnya saat aku tengah mengamatinya denga serius kereta tiba distatisiun ini. Tanpa menunggu lama lagi aku langsung masuk kedalam kereta.

Sengaja mencari tempat duduk menghadap keluar. Aku masih mengamatinya dari dalam kereta sementara kereta masih menunggu penumpang lain. Perempuan itu masih saja menulis entah apa yang ia tulis. Catatan kecilnya kah ? Schedulenya kah ? Atau Arsip kerjanya ? Aku tidak mengetahui hal itu. Yang aku tahu darinya perempuan itu menulis dengan penuh senyuman yang mengembang dari wajahnya. Terasa cukup baginya, perempuan itu pergi meninggalkan tempat dimana ia menulis diseberang stasiun ini. Perlahan kereta yang aku tumpangi melaju perlahan meninggalkan stasiun ini.

♡♡♡

 Kereta yang membawaku kembali sudah tiba di stasiun ini. Stasiun ini terlihat lengah sudah tidak ada penumpang satu pun. Hanya ada petugas kebersihan dan security di luar stasiun yang tengah asyik ngobrol entah apa yang mereka bicarakan.

Langkah kakiku terhenti saat melihat perempuan itu. lagi lagi tengah duduk di seberang stasiun ini. Kesibukannya kali ini bukan lagi menulis apa yang mengganjal otaknya.

Kali ini , perempuan itu sedang melukis sesuatu. Agak sedikit aneh melihat seseorang tengah asyik melukis sementara waktu sudah menunjukkan pukul 23:00.

Tangannya begitu mahir meramu warna warna menjadi satu dan dituangkannya kedalam sketsa yang sudah ada di kertas.

Di biarkan bekas warna cat minyak di wajahnya. Perempuan itu begitu serius dengan kesibukannya kali ini.

Oh ..sekarang aku tahu tujuannya selalu datang ke tempat ini. Mungkin saja , perempuan itu tengah menunggu seseorang yang amat berarti dihidupnya.

Atau mungkin..

Ah.. seharusnya aku tidak membuat persepsi buruk terlebih dahulu. harsukah aku menanyakannya apa alasan dia selalu datang ketempat ini dengan segala aktifitas yang berbeda ?.

Mungkin ada saatnya hal itu akan aku tanyakan kepadanya. Tidak sekarang ! Melainkan lusa, percuma saja menanyakan sementara perempuan itu tengah sibuk melukis.

Setelah dirasa cukup memberi warna pada lukisannya, perempuan itu merapihkan kembali semua peralatan lukisnya. Kemudian , perempuan itu menyapa ke arahku dan memberikan senyuman.

Aku dengan sengaja membuang wajahku. Seolah olah aku tidak melihatnya. Padahal aku selalu memperhatikannya diam diam.

Tiba tiba saja , datang seorang perempuan menghampirinya. Aku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Perempuan yang aku perkirakan umurnya 18 tahun itu. Membantunya pergi meninggalkan tempat itu.

Banyak pertanyaan yang menggantung di pikiranku sekarang ini. Rasa ingin tahu ku semakin tidak bisa terbendung.

Malam semakin larut aku sudah semakin lelah ingin mengistirahatkan seluruh badanku beraktifitas seharian penuh.

♡♡♡

 Sabtu , yah ini hari sabtu. Kesibukanku di hari sabtu benar benar luar biasa menyita waktu. Pertama , Setiap sabtu aku ada sesi pemotretan artis.  Hitung hitung mencari tambahan.Kedua , setiap sabtu juga kantor selalu mengadakan evaluasi per pekan. Biasanya rapat berlangsung dari pagi hingga siang.

Setelah mengadakan meeting evaluasi selesai. Aku langsung pergi ke kantin dekat kantor menikmati caffe kesukaanku dengan taburan granade diatasnya yang begitu menggoda indera penciuman.

Selalu saja sama , setiap kali datang  ketempat ini selalu memesan pesanan yang sama , selalu memilih tempat menghadap kearah jendela.Selalu saja begitu. Bahkan,  weiters disini sudah hafal semua. Dengan takaran caffe dan gulanya

Aku menyeruput caffe yang sedari tadi menggoda indra penciumanku. Setelah itu , kubiarkan kembali menguap hingga benar benar dingin. Aku mengambil laptop kesayanganku sekedar mengedit photo yang sudah lama tidak bisa aku kerjakan lantaran kesibukanku.

Seringkali aku selalu saja tidak bisa membedakan pekerjaan kantor dengan kuliah. Nyaris setiap hari aku selalu membawa pekerjaan kemana pun aku berada. Entah itu, di kantor , di kost maupun di kampus.

Bukan maksud dibilang banyak orang terlihat sibuk. Melainkan , ini bagian dari konsekuensinya yang harus aku terima.

♡♡♡

Alunan biola mendayu dayu begitu menggema di sudut stasiun ini. Mengiringi perjalanan malamku yang begitu sunyi. Aluan biola terdengar dengan jelas disetiap sudut stasiun ini. Aku sepertinya mengenal dengan nada ini. Seperti dulu , aku pernah mengajari seseorang tentang nada ini.

Tapi , siapa yang memainkan biola begitu enak didengar dan begitu menentramkan hati dan pikiran yang sedang stress. Seharian penuh dengan rutinitas bekerja dan kuliah.

Malaikat penyuka musik kah ? Yang memainkannya ? Atau Peri cantik yang memainkannya ?.

Aku terus mencari sumber suara biola itu begitu menentramkan pikiran. Hingga akhirnya , aku berhasil mencari asal sumber suara itu.

Kamu.

Lagi dan lagi, kedatanganmu tidak pernah aku mengerti. Kamu selalu datang ketempat ini, di sudut tempat ini dengan rutinitas yang berbeda.

Menulis ..

Melukis ..

Hingga memainakn biola ..


Aku begitu kagum melihatmu beraktifitas tengah malam. Bahkan , perempuan lain tidak bisa sepertimu. Aku yakin tidak ada bisa.
Ada satu hal yang tidak pernah aku mengerti tentang kedatanganmu disudut seberang stasiun ini. Awalnya aku menduga kamu tidak lain seperti masyarakat disekitar stasiun ini. Ternyata tidak , kamu selalu datang setiap hari.

Aku masih mengamati kamu tengah asyik memainkan biola kesayanmu. Tanpa sadar aku larut mendengar alunan biola yang kamu mainkan.

PRAK PRAK (suara tepukan tangan)

Aku memberikan applause untukmu. Kamu melihatku memberikan senyuman khasmu membuatku merasa jauh.. lebih tenang.

Hening..

Tiba tiba , kereta yang berhenti di stasiun ini memberikan kesempatanmu untuk menghilang.

Lagi lagi ..

Kamu kembali menghilang dibalik datangnya kereta yang berhenti. Selalu saja begitu , padahal aku masih ingin mendengarkanmu memainkan biola ini.

♡♡♡

 Langit terlihat ramai malam ini. Hamparan bintang bintang begitu terlihat disana, tak lupa dengan bulan yang menemaninya seakaan tarasa lengkap sudah menyaksikan kemesraan mereka.

Kadang , saat aku termenung dan menatap langit. Aku begitu iri melihat kemesraan antara Bintang dan Bulan. Bahkan kemesraan itu berakhir dengan begitu indah. Dengan munculnya sunsite yang mengakhiri kemesraan mereka.

Jujur ..

Aku iri melihatnya ..

♡♡♡

Pulang malam sudah terbiasa bagiku. Anehnya , saat aku tiba di stasiun ini tidak ada kehadiran perempuan yang selalu hadir selama 3 hari belakang ini.

Kemana dia ?

Mungkin perempuan itu sibuk dengan aktifitas yang sebenarnya bukan aktifitas dia datang disini. Aku menghirup nafas , angin malam terasa menusuk kulit. Aku mengamati sudut itu. Sudut dimana perempuan itu duduk di seberang stasiun ini.

Aku mengerutkan dahi melihat selembar kertas di bangku sana. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun ini.

Rasa ingin tahu ku semakin menjadi jadi. Apa isi dari surat itu ? Siapa yang menulis surat ?. Yah.. seperti itulah pertanyaan sudah aku siapkan.

From : M.K
Art Galleri  Tomorrow

Hanya tulisan itu yang aku temukan didalam lembar kertas. Aku tidak mengerti dengan maksud dari tulisan itu.

"Mungkin saja , ada orang jahil" pikirku

Aku bergegas pulang ke kosan karena esok akan ada pemotretan diacara paling bergensi. Banyak pelukis ternama akan memajang sebuah lukisan yang benilai estetika.

Aku memastikan perlengkapan untuk besok dibawa sudah selesai. Termasuk kamera kesayanganku. Hampir setiap tahun , Kantorku selalu saja menugaskanku mengambil gambar dalam acara seni tersebut.

Menurutku acaranya biasa biasa aja tidak ada yang istimewa. Istimewa dalan artian mungkin banyak pelukis ternama ikut meramaikan acara tersebut.

♡♡♡

Pengunjung dari berbagai kota sudah hadir melihat lihat lukisan yang dipajang diacara ini.

Entah , sudah berapa gambar sudah aku simpan di kameraku ini. Tak ketinggalan melewati moment yang diadakan pihak panitia penyelenggara setiap satu tahun sekali. Aku mengabadikan moment ini dengan berfoto bersama dengan pelukis ternama dan juga belajar banyak tentang tekhnik melukis.

Jujur , waktu SMA aku selalu melukis tak jarang lukisanku aku abadikan di mading sekolah. Banyak respon positif dari siswa siswi yang melihatnya dan juga Guru. Pernah aku ditawarin mengikuti lomba sand art aku menolaknya lantaran tidak belajar melukis diatas pasir.

Langkah ku terhenti saat melihat lukisan yang menggunakan tekhnik aquarel ini begitu sempurna dengan perpaduan warna. Aku menyukai lukisan ini. Namun aku tidak menemukan nama yang melukis dengan tekhnik seperti ini.

Acara yang ditunggu tunggu pun tiba.lelang lukisan akan dimulai banyak pengusaha yang ingin membeli lukisan dengan harga yang cukup fantastis untuk sebuah lukisan.

Aku hanya bisa tertegun melihat penawaran dari beberapa pengusaha yang mencoba menawarkan harga. Hingga akhirnya diputuskan bahwa penawaran berhenti di kisaran 500 juta. Mr.Smith sekaligus memenangkan lelang kali ini.

Mungkin banyak orang yang bertanya tanya siapa pelukis yang begitu luar biasa membuat lukisan dengan harga jual yang begitu fantastis.

Seorang wanita cantik dengan di pegangnya sebuah hasil kukisan yang tertutup kain hitam. Dan kalian tahu siapa wanita cantik yang sudah membuat hasil karya lukis luar biasa itu ?.

Kamu..

♡♡♡

"Hai.. boleh aku duduk disini" tanyaku mencoba untuk ngobrol lebih dekat dengannya

"Tentu , "jawabnya datar sambil menggeser tempatnya duduk memberikanku tempat

Aku gugup saat berada didekatnya. Mungkin karena aku belum terbiasa duduk berdua dengan orang ternama. Seorang pelukis muda berbakat yang sekarang duduk berada disamping aku.

"Kamu engga mengambil gambar ?"tanyanya memulai obrolan. Mungkin dia tau kalau aku bukan tipe orang yang suka berbasa basi.

"Engga , baterai kameraku low batte" kataku memberikan senyum simpul

"Kamu sendiri kenapa disini ?"tanyaku kali ini.

Perempuan itu tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya diam mematung entah apa yang dia pikirkan. Aku tidak tahu.
 "Hai.."panggilku setengah berteriak sambil melambaikan tanganku ke wajahnya

"Haa."jawabnya begitu terhentak

"Maaf , kalau sudah membuatmu terkejut" maafku

"It's Oke , "

"Boleh aku menanyakan sesuatu padamu" aku mencoba memberanikan diri dengan menanyakan sesuatu yang sudah lama aku simpan di otakku

"Tentu"

"Kenapa kamu selalu datang di stasiun itu dengan aktifitas yang berbeda ? Apa tujuanmu datang sementara kamu selalu berada disana hampir setiap malamnya ?"

"Apa perlu aku jawab ?"

"Tentu ,"pikirku

"Kurasa tidak , mungkin nanti kamu akan mengetahuinya" ucapnya

"Hmmp.. baiklah , kalau kamu engga mau jujur enga apa apa"

Hening

"Hei.. kenapa kamu selalu pakai kacamata ?"tanyaku lagi lagi

"Kurasa profesimu seperti wartawan yang selalu menyanyakan hal yang tidak penting" pikirnya dengan tenang namun penekananya begitu mengena di hatiku

"Maaf kalau membuatmu merasa engga nyaman dengan"

"Engga apa apa, kamu mau tau yang sebenarnya kenapa aku selalu datang ke stasiun dan selalu memakai kacamata" ucapnya

"Iyah , aku ingin tahu yang sebenarnya" aku begitu antusias mendengar ucapan darinya

Perempuan itu kembali terdiam sejenak. Perempuan itu mengambil sebuah lukisan yang tertutup kain hitam. Membuatku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya.

".."sambil membuka kacamata hitamnya melekat dihidungnya

"Kamu..." jawabku memotong ucapannya

"Yah aku buta ,"

"Aku semakin engga mengerti , kenapa hal ini bisa terjadi" tanyaku kali ini

"Kenapa hal ini bisa terjadi.."

"Kenapa hal ini bisa terjadi.. karena.." ucapnya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisan itu.

Sebuah lukisan anak laki laki sedang mengambil gambar saat mengikuti kegiatan MOPDB. Anak laki laki itu begitu serius mengambil gambar dengan kamera kesayangannya. Dan perlu kalian tahu siapa anak laki laki itu. Anak laki laki itu adalah..

AKU..

♡♡♡

"Hei..kamu terlihat cantik dengan gaun ini, kuharap kamu jangan melepaskannya hingga mentari membangunkan kita" pintaku melihat perempuan itu sudah sah menjadi isteriku memakai gaun pengantinya

"Kamu terlalu berlebihan , aku jelek untuk merias wajahku saja aku tidak bisa. Aku buta ," jawabnya

"Sssst.. kamu jangan ngomong seperti itu. Itu menurutmu, menurutku kamu itu cantik."

"Hmmmp.. terima kasih yah" ucapnya

"For what ?" Tanyanku tidak mengerti maksudnya

"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya dan mau menjadi imamku dan untuk anak anakku nantinya" ucapnya diiringi isakan tangis dari matanya

"Heii.. aku tidak pernah memintamu untuk menjadi yang sempurna , cukup jadilah dirimu dengan segala kekuranganmu pun aku suka sayang. Itu sudah menjadi kewajibanku kamu tidak usah khawatir , aku akan selalu menjagamu dalam keadaan apapun"jawabku menyeka air matanya

"Kamu jangan menangis sayang.. aku disini untukmu" ucapku kali ini memeluknya tidak ingin aku lepaskan kemudian aku mengecup keningnya.

END