Minggu, 07 Januari 2018

Cerpen




 

***

PRAYOGA D WIBOWO

SETELAH LUKA

"Bagaimana Jika aku tidak bisa mencintaimu lagi"
 
PROLOG

Bagaimana jika orang yang paling kau cintai sering menanam luka di hatimu ?
Bagaimana jika orang yang paling kau cintai hanya menganggapmu tidak lebih dari seorang sahabat ?
Apakah kau akan bertahan pada perasaanmu padanya ? atau mungkin, kau akan paham dengan sendirinya. Jika kita cinta seseorang, kita juga memastikan pada dirinya apakah ia bersedia untuk saling mempertahankan atau tidak. 

***

Aku pernah mencintai seseorang dengan sangat amat.. mencintainya. Dan berharap ia akan selalu berada disampingku, menggenggam tanganku dan memelukku dengan sangat erat. Hingga akhirnya ia membisikkan sesuatu di telingaku “bersamamu saja, aku ingin menua hingga senja menutup usia”.

Aku pernah memperjuangkan sesuatu, yang tidak pernah aku dapatkan sepenuhnya. Mungkin aku berhasil memiliki raganya, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya entah memikirkan siapa. Entahlah semua terasa sama saja. Hingga akhirnya, aku dikalahkan oleh sang waktu bahwa yang aku perjuangkan sepenuh hati tidak pernah menganggap perjuanganku.tidak pernah menganggapku ada. Mungkin benar juga, apa yang dikatakan semesta pada hari itu.

Kelak, jika kita dipertemukan kembali oleh sang Narator dalam cerita apapun yang di tulis-Nya. Kenanglah  kisah kita dengan banyak. Bahwa dulu, kita pernah saling mengeratkan satu sama lain. pernah saling berbagi rahasia,cinta atupun luka yang menyesakkan di dada. Tapi tidak mampu untuk menyatukan mimpi. Kita beda.

Dan jika esok, kita dipertemukan kembali, jangan pernah memintaku untuk kembali lagi. Jangan pernah membuat kita sama-sama jatuh cinta kembali, jangan kau tanyakan kenapa aku tidak mau kembali bersamamu. Puan. Dan Inilah alasanku yang sebenarnya.

“Bagaimana jika esok, aku tidak bisa mencintaimu lagi ?”

***

I will leave my heart at the door
I won’t say a word
They’ve all been said before you know
So why don’t we just play pretend
Like we’re not scared of what’s coming next
Or scared of having nothing left

***

            Di Ruangan Pertunjukkan Fashion Show

Seorang perempuan cantik tengah berjalan di atas Catwalk dengan anggun dan cantiknya. Perempuan itu tengah memperagakan busana terbaru yang dirancang oleh designer ternama. Senyuman yang mengembang dari wajahnya membuatnya semakin percaya diri untuk memperagakkan busana. Jangan lupakan dengan polesan make up yang menutupi seluruh wajahnya yang membuat dirinya susah untuk dikenali. Dengan postur tubuh yang tinggi dan rambut panjang yang ia biarkan terurai begitu saja, membuatnya terlihat semakin cantik. Sangat..cantik.
Perempuan itu benar-benar berbakat menjadi seorang Model. Bahkan, bakat modeling-nya sudah terlihat saat masa putih abu-abu dulu. Banyak penghargaan yang sudah ia raih dari berbagai event yang sering ia ikuti. Dan juga, banyak tawaran yang menggiurkan dari majalah perempuan yang menawarkkannya berkerja sama dengannya untuk menjadi salah satu model iklan di majalah tersebut. Hingga akhirnya, perempuan itu menerima tawaran dari majalah tersebut sampai sekarang. Perempuan itu bernama…
IRA WULANDARI…
Aku sudah mengenal Ira semenjak, kami sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Kebetulan. Ralat. Didunia ini tidak ada yang namanya kebetulan bukan ? bukankah semuanya sudah di rancang sedemikian rupa oleh Narator ? dan tugas kita hanyalah memainkan ataupun memperagakan apa yang diminta oleh-Nya. Aku dan Ira sama-sama ikut bergabung di Theater Semu estrakulikuler sekolah. Bahkan, aku dan Ira pernah menjalin hubungan selama 3 tahun lamanya. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar menjalin hubungan saat masa putih abu-abu. Selama itu pula, aku tidak pernah merasakan Ira benar-benar mencintaiku.
Aku pernah menanyakan perihal tentang hubunganku dengannya. Dan Ira hanya menjawabnya “Bukankah cinta, tidak perlu diumbar-umbar dan tidak hanya diucapkan saja. Cinta cukup dibuktikan dengan suatu komitmen dan memupuk rasa percaya satu sama lain. bukan ?”.Aku sependapat dengan pernyataan itu. Hanya saja, aku ingin menggarisbawahi apakah dalam suatu hubungan hanya butuh “pembuktian dan saling percaya” tanpa mengikutsertakan “kepastian”.
Catat. Dalam suatu hubungan perlu adanya kepastian dari masing-masing pasangan. Bagaimana jika salah satu diantara kita, tidak sama-sama saling menguatkan satu sama lain. Bagaimana jika salah satu diantara kita, menginginkan hubungannya berakhir disini saja. Bagaimana jika cintamu tidak pernah terbalaskan olehnya. Bagaimana jika hubunganmu tanpa kepastian ? terombang-ambing diantara jurang perpisahaan. Hatimu patah, dengan mudahnya kamu menyalahkan dia dan memberikan label kepada dia “Pemberi Harapan Palsu”. Bagaimana ?
 Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi pada diriku. Memang, perihal membuktikan rasa sayang itu tanggung jawab kaum adam. Ada satu statements yang menangguhkan pernyataan itu. mungkin kamu sedang lupa, tidak apa-apa. Kasih. Perihal membuktikan rasa sayang bukankah hanya laki-laki saja. Perempuan dan laki-laki punya porsinya yang sama. kamu jangan seenaknya mengatakan “kan itu tugasnya cowo”. Lalu, bagaimana jika nanti pasanganmu membalikkan ucapanmu “dalam suatu hubungan itu kita sama-sama saling berjuang. Berjuang dengan cara mempertahankan hubungan dari orang ketiga ataupun lainnya”. Kamu terdiam. Dan yang lebih mengenaskannya lagi, kamu ditinggalkan olehnya begitu saja. Tanpa kamu mau saling belajar, bagaimana cara memperjuangkan apa yang sedang kita jaga. Ini hubungan bukan sedang melakukan ujian sekolah.

***

Acara Fashion Show telah selesai. Tamu undangan satu per satu meninggalkan ruangan termasuk diriku. Langkah kakiku beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tetapi ada seseorang yang memanggil namaku dari belakang. “Revin……” panggil salah seorang perempuan dari belakang.
Aku mencari sumber suara yang memanggilku. Suara yang sudah tidak asing lagi ditelingku. “ini Revin kah ?” tanya perempuan itu kembali sambil  mengatur napasnya.
Aku hanya memberikan senyuman simpul.
“masih ingat sama aku engga ?” tanyanya kembali dengan antusiasnya dan berharap aku masih mengingat lukanya. Ralat. Lebih tepatnya mengingat namanya kembali.
Aku mengangguk “ masih ko, Ira Wulandari bukan ?” jawabku sambil tersenyum simpul
“aku pikir kamu sudah lupa denganku,”
“lupa sih engga, hanya saja.. kamu semakin cantik aja” pujiku
“ah.. kamu bisa aja, kamu juga…” balasnya
Sejurus kemudian, tidak ada obrolan lagi. Pandangan kita beradu di sudut rindu yang menggebu. Walaupun aku harus mengingat kembali luka yang dahulu Ira tancapkan tepat di relung hati. “eh.. Btw, terima kasih yah, udah sempetin dateng ke acara Fashion Show” ucap Ira kembali dengan senyuman yang mengembang.
Aku membalasnya dengan senyuman simpul. “iyah sama-sama”
“kamu dateng sendirian aja ? emangnya engga bawa pasangan ?” tanya Ira dengan maksud yang sudah bisa kubaca.
“aku datang kesini sendirian aja.. kebetulan aku masih betah sendiri” jawabku dengan memberikan alasan mengapa aku tidak membawa pasangan kali ini.
Ira hanya bergumam panjang sambil diiringi senyum sendiri. “Ira, kamu engga apa-apa kan ?” tanyaku melihat tingkahnya yang tidak seperti biasanya.
Ira menggelengkan kepala “aku engga apa-apa ko, eh, kamu mau kemana ?”
“hmm, mau kemana yah ?” jawabku sambil berpura-pura bingung
“kenapa jadi bingung deh, kalau kamu engga ada agenda lain dan engga keberatan juga, aku mau ajak kamu minum kopi di teras café dekat sini” ajaknya dengan penuh harapan agar aku mau menerima tawarannya sekedar minum kopi.
Aku menatap kedua bola matanya. Disana ada kesungguhan yang tidak pernah terlihat saat aku dengannya menjalin hubungan dulu. Ira membalas tatapan mataku. Ada perubahan yang terlihat darinya saat ini, aku merasakan hal itu. “hmmm.., aku mau menemanimu minum kopi” jawabku singkat.
Ira begitu bahagia saat aku menerima tawarannya. “terima kasih. Revin” tutupnya

***

Dua gelas kopi sudah terhidang diatas meja kami. Bau aroma kopinya begitu mengganggu indera penciumanku. Ira menyesap kopi yang ia pesan tadi hingga menyisahkan separuh. Sementara aku, masih membiarkan kopiku mendingin. Jujur saja, aku lebih suka dengan makanan ataupun minuman yang sudah dingin dan tidak terlalu panas. Bukan tanpa alasan aku menyukai hal itu, apapun makanan dan minuman kalau disantap masih terlalu panas tidak baik untuk kesehatan. Sariawan salah satunya.
Walaupun pesanan sudah dipesan, tidak ada obrolan yang menemani malam kita yang sudah lama tidak bertemu. “hey, kenapa engga diminum kopinya ?” tanya Ira saat melihat kopi digelasku masih penuh dan belum kusentuh sedikitpun. Sekaligus mencairkan suasana yang terlihat semakin mendingin.
Aku tersenyum padanya “nanti saja, masih panas. engga bagus untuk kesehatan juga bukan ?” ucapku.
Ira menggelengkan kepala ”kamu masih saja seperti yang dulu. Revin
“bukannya masih sama saja yah,” piirku
Ira tersenyum simpul “tapi ada yang membedakannya kali ini, kamu terlihat semakin ganteng dan dewasa. Revin” jawab Ira sambil memegang tanganku.
Aku tertawa kecil, saat mendengar perkataan Ira barusan. “emang dulu aku engga ganteng dan dewasa apa ?” tanyaku kembali.
Ira tertawa “bukan gitu.. sudah lupakan saja obrolan ini” ucap Ira kembali sebelum menenggak habis sisa kopinya.
Aku hanya tersenyum.
Wajar  saja, jika Ira mengajukan pertanyaan seperti itu. Tidak ada yang salah dari pertanyaannya. Mungkin, dahulu saat aku dengannya masih menjalin hubungan. Aku tidak pernah bisa merawat diriku dengan baik. Bagaimana caraku menata rambut dengan rapih. Ataupun bagaimana caraku menggunakan pakaian yang seharusnya enak dipandang. Aku mengakuinya. Hingga ahirnya, hubungan kami yang tadinya baik-baik saja hingga berujung perpisahaan hanya karena masalah itu. Dan yang lebih mengenaskannya lagi, saat aku memohon untuk Ira tetap bertahan. Ira menamparku dengan ucapan yang membuatku tersadar saat itu.

            “Revin, aku tidak mau saat kamu bermain ke rumahku nanti. Nanti orang tuaku akan menanyakan hal-hal yang tidak diingankan tentangmu. Aku engga mau.. Revin. Aku engga mau punya pacar yang tidak bisa merawat dirinya dengan baik. Jika kamu mencintai seseorang, cobalah kamu lihat dirimu sendiri. Apakah dirimu sudah kamu cintai dan rawat sepenuh hati”

Ada baiknya apa yang dikatakan Ira pada saat itu benar juga. Hanya saja, aku ingin mengklarifikasi semuanya. “Bukankah kehidupan seseorang ditentukan oleh drinya sendiri ? bagaimana jika kita yang menjalani kehidupan diatur oleh orang lain. bagaimana jika, aturan yang dibuat oleh orang lain tidak membuat kita merasa nyaman dengan hal itu. mungkin benar, jadilah diri kita sendiri tanpa harus mengubah diri kita seperti orang lain adalah satu langkah yang tepat. Bahkan, banyak pasangan diluaran sana yang mempunyai pasangannya tidak seperti yang diinginkan olehnya. Semisal, saat mereka awal mula pacaran, pacarnya bisa merawat dirinya dengan baik. Hingga waktu yang tidak bisa ditentukan, pacarnya tidak bisa merawat dirinya dengan baik, rambut yang sudah seperti perempuan. Jenggot yang sudah tidak pernah di cukur. Bahkan hubungan mereka tetap baik-baik saja. ”
Untuk kesekian kalinya kamu lupa dengan perkataan yang belum sempat aku klarifikasi dulu. Hingga akhirnya, kamu patahkan cintaku, kamu hempaskan harapanku untuk selalu bisa bersamamu. Aku tersingirkan oleh ambisimu untuk menuntutku menjadi seperti yang kamu inginkan. Nampaknya, cintamu kepadaku pada waktu itu hanya menginginkan kelebihan yang kita punya. Bukan belajar untuk saling melengkapi setiap kekurangan yang ada pada diri masing-masing pasangannya. Kamu keliru. Kasih.
“Revin, besok kamu ada acara engga ?” tanyamu kembali sekaligus mencairkan suasana yang terlihat kaku.
“memangnya kenapa ?”
“hmmm.. aku ingin mengajakmu ke salah satu tempat yang dulu pernah kita kunjungi. Apa kamu bisa ?” tanyanya sambil memoho
“aku engga janji, aku bisa datang. Aku usahakan yah” jawabku
“aku tunggu kamu disana, jam 4 sore”
Aku tersenyum kecil. Bukan aku tidak mau menemanimu kembali bercerita tentang kita yang sempat ingkar kepada semesta. Hingga akhirnya, di dekatkan kembali olehnya dengan waktu yang tidak tepat. Mungkin suatu hari nanti kamu akan paham, mengapa aku tidak bisa menemanimu. Hari ini, esok dan seterusnya. Nanti akan aku ceritakan..

***

Aku tahu, kamu akan menungguku walaupun pada akhirnya, aku tidak bisa menepati janjiku. Kasih. Maaf, tapi ada yang tidak aku bisa jelaskan saat ini. waktu kitalah yang tidak tepat untuk bertemu kembali. Suatu hari nanti, kamu akan paham dengan sendirinya. Aku tidak ingin kekalahan yang aku perbuat kembali lagi. Tidak. biarlah kita seperti ini, sampai saatnya tiba kamu akan mengerti. Bagaimana kerasnya dulu aku memperjuangkan dan mencintaimu sepenuh hati.

To : Ira Wulandari

     “maafin aku engga bisa menemanimu melihat senja di tempat yang membuat kita jatuh cinta berkali-kali. Maafin aku. tapi ada hal yang tidak bisa aku jelaskan saat ini. pada akhirnya kamu, akan paham kenapa aku tidak bisa hadir hari ini. tapi, jika kamu tidak keberatan. Temuilah Bapak Yunus, di Jalan Achmad Yani No. 17. mungkin beliau akan menjelaskan yang sebenanrnya. Temuilah bulan November, tepat di tanggal kelahiranku. Tanggal 7 Agustus nanti. Maafin aku.. Ira
     Dariku: Revindra

07 Juli…








***

I don’t need your honesty
It’s already in your eyes
And I’m sure my eyes, they speak for me
No one knows me like you do
And since you’re the only one that matters
Tell me who do I run to?

***

            Di Tokoh Buku…

“itu buku ke tiga yang aku tulis…” ucapku kepada perempuan yang serius membaca buku di salah satu tokoh buku kesukaannya.
Perempuan itu menghentikan membaca buku yang sedang dibacanya. Raut wajahnya terlihat berbeda-beda saat melihatku. “Revin…” jawabnya tidak percaya saat melihatku setengah terkejut.
Aku tersenyum. “bagaimana kamu tau, kalau buku yang aku baca itu.. buku yang kamu tulis..”
“cobalah kamu lihat saja cover bukunya, pasti ada nama penulisnya bukan ?”
Perempuan itu langsung membuka cover buku itu. dalam cover buku itu bertuliskan nama penulisnya “Re”. perempuan itu semakin tidak mengerti siapa yang sebenarnya menulis buku ini. “penulisnya bernama Re, sedangkan nama kamu Revindra” ucap perempuan itu dengan tertawa kecil
Aku menghempaskan napas panjang. “coba buka dihalaman belakang. Lihatlah siapa nama lengkap penulis buku ini” ucapku sambil tersenyum
Perempuan itu langsung mencari halaman terakhir dari buku ini yang bertuliskan identitas/profil dari penulis buku ini. perempuan itu tertewa kecil “sejak kapan kamu suka menulis buku. Revindra” tanya perempuan itu kepadaku
“Sejak kamu mematahkan hatiku dulu..” Jawab batinku
“aku sudah lama menyukai sastra. Sejak masih dikampus dulu” jawabku sambil mengambil salah satu buku di lemari.
Perempuan itu mendekat kepadaku. “benarkah ?” tanyanya mencoba menyakinkanku apakah aku menyukai sastra sejak masih di kampus.
Aku meletakkan kembali buku yang baru kubaca covernya. “lebih tepatnya, aku menyukai dunia kepenulisan sejak kamu tidak mempercayai aku lagi.” Jawabku dengan sejujurnya.
“apa maksudnya ?” tanya perempuan itu tidak mengerti apa yang aku maksud.
Aku kembali tersenyum kecil. “maksud aku, coba kamu baca dulu hingga selesai buku itu. mungkin kamu akan paham kenapa aku suka menulis”
“hmm.. aku semakin tidak mengerti apa maksudmu. Revindra”  ucap perempuan itu langsung  membawa buku itu ke kasir.
Aku mengekorinya dari belakang sambil membawa buku juga – yang tidak aku baca lagi. Hari ini pengunjung tokoh buku ini terlihat ramai sekali, banyak sekali pengunjung yang membeli buku ataupun sekedar membaca buku. Di depan meja kasir sudah ada satu barisan pengunjung yang ingin membayar. Aku dengannya berada dibarisan akhir.
Nurin Amanda. Aku dengannya pernah berada di kampus yang sama ataupun berada dalam satu komunitas – Komunitas Pencinta Anak di Kampus ini. Hingga akhirnya, aku dan Nurin bersepakat untuk menjalin hubungan. Di musim pertama, hubunganku dengannya masih baik-baik saja sampai musim ke empat pun masih sama. Hingga di musim ke lima yang “kata orang” adalah musim yang rawan untuk mempertahankan suatu hubungan. Hingga akhirnya, masalah pun silih berganti, banyak persoalan yang harus diselesaikan dengan kepala dingin dan duduk berdua

***

“Revin, akhir-akhir ini kamu kemana saja ? tidak pernah ada kabar. Chattan aku pun engga pernah kamu balas ?” tanya Nurin dengan sangat khawatir.
Aku masih terlihat tenang. “maafin aku, jika akhir-akhir ini aku sibuk dan engga pernah kasih kabar hingga membuatmu khawatir. Banyak sekali deadline organisasi yang menuntutku untuk diselesaikan di tambah lagi aku harus melatih karate di sekolahku dulu. Maafin aku” ucapku memberikan penjelasan
Raut wajah Nurin berubah seketika “apa karena banyak deadline organisasi kamu engga bisa membagi waktumu. Revin.” Tambah Nurin dengan nada meninggi.
Aku menghempaskan napas ke udara “hmm.. aku udah berusaha. Tapi akhir-akhir ini aku jarang sekali buka handphone. Mungkin kamu bisa melihat kapan terakhir kali aku online di Whatshap” kataku kembali.
“tapi, apa susahnya sih kasih kabar sebentar. Telfon ke, chatt ke. Apa susahnya sih. Revin” ucap Nurin tidak ingin kalah beragumentasi.
Aku terdiam. Aku menunduk. “maafin aku, aku engga bisa lanjutin lagi hubungan kita..” ucap Nurin dengan satu keputusan yang membuat relung hatiku patah kembali.
Aku menatap wajahnya, sayangnya Nurin memalingkan wajahnya. “maksud kamu, kita putus ?” tanyaku mencoba meyakinkan kembali.
Nurin menganggukkan kepalanya, “aku engga bisa lanjutin hubungin kita lagi, revin. Maafin aku..” ucap permintaan maafnya.
Aku menghempaskan napas ke udara.”beri aku kesempatan sekali lagi. Nurin” ucap permohonanku untuk ke sekian kali.
“Revin.. aku udah sabar menunggumu. Jalan kita udah berbeda. Faktanya,kamu masih sibuk dengan duniamu. Masih mencintai organisasimu. Sementara di hidup kamu tidak ada nama aku dalam list prioritasmu. Dan solusinya, lebih baik kita hidup masing-masing. Kita coba koreksi lagi apa yang salah dalam diri kita. Mungkin, untuk sementara waktu kita sama-sama terluka. Terima kasih, sudah menabur kebahagian dan kebersamaan walaupun singkat. Kelak, jika aku memang jodohmu. Semesta tahu bagaimana caranya mempertemukan kita kembali. Dan jika esok, kita tidak dipertemukan kembali. Mungkin kamu bukanlah jodohku sederhana itu pula lah sang Narator dalam membuat ending kisah  setiap tokohnya”

***

Setelah membayar buku yang baru saja aku dan Nurin beli di Tokoh Buku. Tanpa berbicara lagi, Nurin langsung bergegas pulang ke rumah. Sementara aku, aku ingin mengajaknya mengobrol bersama menikmati sisa-sisa waktu di penghujung malam. Langkah kaki Nurin begitu cepat, aku tidak ingin tertinggal olehnya. Kupercepat langkah kakiku juga.
“Revin.. ngapain kamu ikutin aku ?” tanya Nurin begitu heran saat melihatku masih mengikutinya.
“emangnya engga boleh apa ?” jawabku dengan senyuman cirri khas.
“bukan gitu, aku lagi buru-buru soalnya. Ada janji sama seseorang..”
“dan seseorangnya aku bukan ?” jawabku sambil tertawa.
Nurin menghentikan langkah kakinya. “Revin, aku sedang tidak ingin bercanda. Aku ada janji sama tunanganku untuk Fitting baju pernikahanku nanti” ucap Nurin membuatku begitu terkejut.
Aku terdiam begitu lama, memahami kalimat yang membuat dadaku terasa sesak. “maafin aku harus pergi dulu. Bye” ucap perpisahaan Nurin yang meninggalkanku sendirian dengan tatapan yang tidak percaya.
Aku masih terdiam menatapi punggunya yang akan menghilang begitu saja. Aku berusaha ikhlas apa yang seharusnya aku relakan untuk pergi selamanya. Bukannya setiap hati yang patah akan selalu saja ada bibit bahagia yang bersedia untuk diambil bukan?
Tiba-tiba..
Ada suara jeritan minta tolong dari persimpangan jalan yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Dengan rasa penasaran yang menggebu, aku mencoba mencair sumber suara yang meminta tolong tersebut. Dan betapa terkejutnya saat melihat Nurin yang ingin di perkosa oleh sekelompok pemuda.
“Woy… mau ngapain perempuan itu ?” ucapku dengan suara keras.
“bukan urusan lo” jawab salah satu pemuda, yang terlihat sempoyangan efek dari minuman alkohol yang di pegangnya.
“tentu ada urusan sama gua, dia calon isteri gua. Lo jauhin engga dia atau engga hidup lo engga bakal lama lagi” kataku kembali.
“wah, nantangin dia sama kita-kita”
Aku langsung menyiapkan kuda-kuda yang pernah aku pelajari saat mengikuti karate ataupun mengajari karate kepada anak didikku. Tanpa menunggu lama lagi, pukulan demi pukulan mendarat bebas di tubuh pemuda itu. Hingga akhirnya, para pemuda itu kalah telak dengan wajah yang lembab akibat pukulan yang diterima dariku.
Nurin berlari mendekatiku. Hingga akhirnya, Nurin memelukku begitu kuat “Terima kasih sudah mau menyelamatkanku.” Ucapnya dengan suara isakan tangis.
Sebagai laki-laki yang budiman, tidak baik jika kita memeluk seseorang yang sebentar lagi akan menjadi kepunyaan orang lain.”kamu engga perlu mengucapkan terima kasih kepadaku. Seharusnya aku yang bilang maaf kepadamu” ucapku dengan nada menyesal saat mengatakan yang tidak sepatutnya dikeluarkan.
“Maaf ? untuk apa ?’ tanya Nurin begitu bingung.
“maafkan aku tadi mengatakan kamu adalah calon isteriku” ucapku tertunduk dengan perasaan bersalah.
Nurin tersenyum mendengar pengakuanku. “hmm.. aku engga keberatan jika kamu mengatakan hal itu. andai saja, kamu datang lebih dulu darinya. Mungkin yang kamu katakan tadi akan terwujud dalam waktu dekat. Sayangnya, ada rencana dari Sang Narator dalam menuliskan kisahku dan bagaimana ending dari perjalanan hidupku. Maafkan aku.” ucap Nurin yang begitu bijaksana.
“kamu berhak bahagia. Nurin” ucapku sekaligus doaku untuknya.
“kamu pun begitu. Revin”
“maaf, aku harus pergi..”
Nurin masih menatap punggungku yang pergi meninggalkannya setelah kejadian yang membuat kehormatannya hampir hilang begitu saja. “Revin…” teriak Nurin
Langkah kakiku berhenti saat mendengar namaku. “iyah ?”
“Kapan aku bisa menemuimu lagi ?” tanya Nurin dengan nada meninggi.
Aku menghempaskan napas ke udara “Bulan depan, tepat tanggal 7 nanti. di kosanku alamatnya Jalan Achmad Yani No.17. lebih tepatnya temui bapak Yunus jika tidak tahu” ucapku mengakhiri pertemuan ini.
Nurin terdiam setelah mendengar alamat kosanku. Bukan tidak ingin bertemu lagi denganku. Melainkan ada hal yang membuatnya tidak bisa dijelaskan. Bagaimana mungkin, Nurin akan menemuiku bulan depan, disaat Nurin dan Calon Suaminya sedang merayakan hari bahagia. Dimana hubungan antara Nurin dan laki-laki yang saat ini terikat dalam suatu komitmen akan di sahkan dalam waktu dekat. Dan Nurin harus memilih apakah ia akan menumui cinta pertamanya yang sudah menyelamatkan nyawanya tadi atau lebih memilih merayakan hari bahagianya. Hidup selalu punya pilihan dan kejutan yang tidak terduga. Bukan ?

07 Juli…


 



***

If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends

***

07 Agustus…

Ira tengah merapihkan dirinya agar terlihat menarik dan cantik. Polesan Make Up menutupi wajahnya hingga berbeda tidak seperti wajah aslinya. Berbeda dari biasanya, Ira sengaja memilih pakaian dengan model White Sleeveless Classic Shirt yang lagi trend di kalangan anak muda zaman sekarang. Hampir 30 menit lamanya, Ira membutuhkan untu merapihkan dirinya. Tanpa menunggu lama lagi, Ira langsung menunju alamat yang satu bulan diberikan oleh Revindra saat bertemu. Ada raut wajah bahagia yang sempat menghilang begitu saja.
“Semoga aku tidak telat untuk menemui revin nanti” Batin Ira sambil mengendari mobil miliknya. Sesekali ia merapihkan diri di balik kaca dalam mobilnya, sekedar memastikan tidak ada yang kurang.
Mobil yang Ira kemudikan melaju dengan babas membelah jalanan di kota ini. hanya membutuhkan 45 menit saja, Ira mampu menemukan alamat yang diberikan Revin tempo hari. Mobil Ira sudah terparkir di halaman rumah tua yang terbuat dari kayu dan tanpa di beri warna dinding rumahnya. Ira keluar dari dalam mobil, untuk kesekian kalinya Ira merapihkan dirinya di balik kaca mobilnya.
“Permisi…” ucap Ira sambil mengetu rumah tua itu.
Tidak ada balasan dari dalam rumah. Ira mencobanya sekali lagi. “Permisi…” ucap Ira kembali dengan suara yang keras. Dan ternyata ada respon dari dalam rumah
“iyah tunggu sebentar” jawab suara laki-laki paruh baya dari dalam rumah.
Laki-laki yang keluar dari dalam rumah tua itu kira-kira berusia 60 tahun dengan rambut yang sudah memutih. Laki-laki itu menyambut kedatangan Ira dengan ramah.”Maaf Pak, apa benar ini rumahnya Bapak Yunus ?” tanya Ira untuk meyakinkan kalau ia tidak salah datang.
“Yah betul, saya Bapak Yunus. Ada keperluan apa ya menemui bapak ?’ tanya Bapak Yunus dengan bingung melihat perempuan cantik datang kerumahnya.
“Begini pak, saya teman dekatnya Revindra sewaktu SMA dulu.. dan bulan kemarin, Revindra memberikan alamat rumahnya kepada saya. Kalau boleh tau apakah ada Revindranya di rumah ?” tanya Ira pada inti pembicaraan.
Bapak Yunus terdiam beberapa sesaat. Seperti ada yang ingin ia katakan secepatnya mengenai hal ini. “Oh.. nak Revin, lebih enak kita ngobrolnya sambil duduk aja yah. Maklum bapak sudah tua hehe” ucapnya dengan diselingi tawa
Ira ikut tertawa renyah. Bapak yunus diam begitu lama, dibagian mana yang akan ia ceritakan terlebih dahulu mengenai keberadaan Revindra. Sementara Ira masih menunggu jawaban dari Bapak Yunus. Dan tiba-tiba saja…
“Assalamualaikum…” ucap salam perempuan yang datang dengan menggunakan gaun pengantin lengkap.
“Wa’alaikumsallam…” jawab Ira dan Bapak Yunus bareng.
Perempuan muda itu, langsung mencium telapak tangan Bapak Yunus dan Perempuan itu langsung berjabat tangan dengan Ira. “Permisi pak sebelumnya, perkenalkan nama saya Nurin Amanda. Saya teman dekatnya Revindra sewaktu kuliah dulu. Maksud dan kedatangan saya ke sini ialah saya ingin bersilahturahmi dengan Revindra. Kebetulan bulan lalu, Revindra memberikan alamat kosannya dan menyuruh saya untuk berkunjung tepat bulan ini” ucap Nurin menjelaskan dengan nada tenang.
“mengapa bisa samaan ?” tanya Bapak Yunus yang begitu bingung dengan kedatangan dua perempuan cantik sekaligus.
Ira dan Nurin hanya terdiam. “hmm.. kalau begitu, mari ikuti bapak melihat sesuatu” ajak Bapak Yunus dengan jalan yang terlihat payah. Sementara Ira dan Nurin mengekorinya dari belakang.
Tibalah disalah satu rumah yang sudah rata dengan tanah dan tersisa bekas-bekas kebakaran dengan diberikan garis polisi. Hingga membuat Ira dan Nurin berpikir apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Bapak Yunus mengajaknya ke tempat ini.
“maksud bapak mengajak saya dan dia ke sini apa yah ?” tanya Ira tidak begitu paham apa maksud dari Bapak Yunus.
“jadi gini ceritanya, sebulan lalu terjadi peristiwa kebakaran hebat di rumah bapak dulu. Saat peristiwa kebakaran itu Bapak berada di dalam rumah. Bapak tidak bisa menyelamatkan diri dari banyaknya api yang membakar rumah bapak. Hingga akhirnya, ada seorang pemuda yang nekat menolong bapak untuk keluar dari kobaran api. Bapak kenal dekat sama pemuda itu, pemuda itu sering mengunjungi pengajian rutin ataupun ikut kegiatan kemasyarakatan disini. Pemuda itu bernama Revindra. Saat bapak dan nak Revin ingin keluar dari dalam rumah. Sayang, salah satu balok menimpa kepala nak Revin hingga terjatuh dan tidak sadarkan diri. Bapak diselamatkan oleh warga yang lain. Sementara nak Revin masih berada di dalam hingga tubuhnya terpanggang disana. Bapak merasa bersalah atas kejadian itu…” ucap Bapak Yunus sambil menjelaskan kronologis kebakaran hari itu.
“bapak yunus engga lagi bercanda kan ?” tanya Nurin setelah mendengar penjelasn Bapak Yunus yang membuatnya tidak percaya.
“iyah, bapak lagi engga bercanda kan ? satu bulan yang lalu saya bertemu dengan Revin. Bahkan Revin menemani saya untuk minum kopi hari itu’ timpal Ira yang semakin tidak percaya atas penjelasan Bapak Yunus.
Bapak Yunus dengan tenangnya menjawab “mari ikut bapak. Mungkin ini akan menjawab semua keraguan kalian pada bapak” ajak Bapak Yunus ke salah satu tempat yang tidak jauh dari lokasi kebakaran.
 Bapak  Yunus mengajak Ira dan Nurin pergi ke Tempat Pemakaman Umum. Hingga akhirnya, Bapak Yunus menunjukkan salah satu kuburan tempat dimana Revindra beristirahat dengan tenang. Ira dan Nurin semakin tidak percaya, tubuh ke dua perempuan itu tidak bisa menompang lagi untuk berdiri dengan gagah. Dan yang lebih mengejutkannya lagi dari nisannya bertuliskan “Wafat : 07 Juli…” dimana saat Ira dan Nurin bertemu dengan Revindra untuk yang terakhir kalinya. Tepat di hari ini adalah hari ke tiga puluh dimana Revindra pergi untuk selama-lamanya. Hingga akhirnya, Ira dan Nurin pingsan tepat di samping peristirahatan terakhir Revindra.
 

-TAMAT-


EPILOG

Penyesalan memang bukanlah hal yang baik, terlebih jika penyesalan itu hadir karena kita melepas orang yang sangat berarti bagi kita. Kita yang dulu tak menganggapnya ada, Kita yang selalu menepis rindunya, dan kita yang merasa bahwa dia bukanlah orang yang terbaik bagi diri kita.

***

Ketika semua orang pergi, perlahan kita mengerti bahwa sesungguhnya cinta itu ada. Cinta yang pernah kita tinggalkan. Cinta yang pernah kita lepaskan begitu saja. Dia yang sungguh-sungguh menjagamu tanpa pernah memintamu imbalan apapun. dia yang selalu berusaha ada untukmu tanpa pernah meminta ucapan terima kasih darimu. Atau dia yang selalu mencoba mengusap air matamu meski kau tak pernah memintanya.
***

Hidup selalu memberi kita pilihan melewati jalan yang berliku. Jika di suatu waktu nanti kau kembali bertemu dengan orang yang sangat mencintaimu, jangan pernah malu mengucapkan maaf dan katakanlah padanya bahwa dialah sesungguhnya orang yang sanggup menjagamu dari apapun itu. sayangnya, orang yang kamu cintai sepunuh hati tidak mampu melihat senyum khas darimu lagi. Tidak akan pernah bisa membalas lagi cintamu. Dia sudah pergi jauh melihat semesta yang sesungguhnya tanpa mengajak kamu disana.

‘Cause what if I never love again?’
Adele – All I Ask

Jumat, 28 Juli 2017

Cerpen




Secangkir Kopi,Cinta & Penantian
Oleh : Prayoga Dwi Wibowo

"Hey, Cintanya semakin mendingin di meja penantian. mari kita hidupkan kembali sambil menikmati secangkir kopi - Prayoga Dwi Wibowo"
 
Disini, dimeja perjamuan, aku menunggumu. Menunggumu disudut penantian untuk mengkalimatkan rindu yang ingin aku bisikkan tepat ditelingamu. Tiba-tiba kamu memenuhui ruangku dengan rindu yang bernyanyi. Tanpa praduga kamu ikut meramaikan sepiku setelah senja terlelap payah. Sementara masih belum kubaca dengan tuntas isi pikiran dan hatimu. Ah,kamu selalu saja hadir dengan sejuta tanda tanya yang tidak bisa aku jawab.
Aku merindukanmu dengan terluka. Aku merindukanmu sekaligus dengan sekuat tenaga meniadakan hadirmu. Begitulah rindu mengusik kesepian. Aku akan selalu ingat tentang aku dan kamu menjadi “kita” walaupun hanya sekejap saja.
Setiap hari, setiap saat aku berkunjung ketempat sini. Aku selalu memesan pesanan yang sama. Memilih tempat duduk yang sama, aku suka tempat duduk yang berada dilantai dua yang menghadap kearah Danau yang tidak jauh dari kafe ini. Aku suka dekorasi kafe ini sengaja dibuat dengan artistic yang begitu memukau. Tidak lupa dengan alunan musik mendayu-dayu yang berada dilantai dasar yang sengaja diadakan untuk penghujung setia kafe ini saat musim cinta tiba.
Aku selalu membawa laptop ataupun novel-novel favorit menemaniku saat aku berkunjung ke kafe ini. Bukan terlihat ngenes ataupun apa, kenapa saat aku berkunjung ke kafe ini nyaris aku tidak pernah mengajak pasangan untuk diajak ngobrol. Hanya saja, kalian tidak akan pernah tahu. Ada bagian yang terasa sesak untuk dibahas. Aku tidak akan menceritakannya. Tidak akan pernah aku bahas kembali. Tidak akan pernah membaginya.
Disini, di antara gelapnya malam dan penantian, aku menulis lagi tentangmu, tentang kita yang dahulu ingkar pada semesta. Bukan. Bukan maksud, mengusikmu kembali. Bukan maksud, menganggu setia ketentraman hidupmu. Hanya tidak mudah bagiku untuk melupakanmu seutuhnya dan pergi menjauh dari kehidupanmu.
Saat aku tengah  sibuk memenjarakanmu dalam cerita yang aku buat. Aku dikejutkan dengan kehadiran pelayan kafe ini yang menyapaku begitu hangat. Sama halnya pada saat kamu menyapaku setiap paginya.
“permisi kakak, maaf menggangu waktu kakak sebentar. Kakak mau pesan apa yah ?” tanya pelayan itu dengan hangat. Pelayan itu membawa menu kafe ini dengan celemek yang mengikat ditubuhnya. Jangan lupa dengan penutup kepala yang terlihat seperti koki berdiri gagah diatas kepalanya.
Aku menghentikan aktivitasku sejenak, “saya pesan secangkir kopi hangat dengan taburan whipped cream diatasnya, gulanya seperempat sendok, saya engga suka gulanya terlalu banyak, cukup whipped creamnya aja kalau boleh ditambahkan” ucapku sambil menyebutkan pesanan favoritku yang sudah aku hafal di luar kepala.
Pelayan yang sedari tadi berdiri di hadapanku, sibuk mencatat pesanan dibuku menu. “apa ada lagi yang ingin dipesan?” tanya pelayan itu kembali.
Aku menggelengkan kepala. “cukup itu aja..” kataku menutup pesanan.
Pelayan itu pergi ke barista mengantarkan pesananku. Aku kembali dengan rutinitasku - menulis novel yang akan diterbitkan dalam waktu dekat ini. Sejurus kemudian, aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku. Hanya sekedar memastikan saja, apakah ada pesan yang masuk atau tidak. Benda mungil itu, aku masukkan kembali kedalam saku celanaku.
Tidak butuh waktu lama, pelayan itu membawakan pesananku.”ini kak, pesanannya sudah tiba” ucapnya dengan ramah sambil meletakkan secangkir kopi pesananku diatas meja.
Aku tersenyum simpul. “terima kasih” jawabku
Pelayan itu kembali pergi ke barista mengambil pesanan pengunjung lain. Tidak ada tanda-tanda keanehan yang di kerjakan oleh pelayan itu. Bahkan, aku tidak memikirkan hal itu. Malam semakin larut, jam terus berdetak menghitung detik-detik. Satu persatu pengunjung kafe ini pergi meninggalkan kafe ini. Hanya tinggal beberapa orang saja, yang masih betah berlama-lama berada di kafe ini. menikmati wifi gratis ataupun menikmati secangkir kopi khas dari kafe ini dengan aroma kopi yang menggoda.
Secangkir kopi pesananku sudah menyisahkan dua teguk saja. Aku menyesapnya kembali hingga tidak tersisa sedikitpun. Aku merapihkan laptopku – berkemas untuk pergi meninggalkan kafe ini. Saat aku hendak membuka knop pintu kafe, salah seorang pelayan kafe tersenyum ramah melihat kepergianku. Aku membalasnya dengan senyuman ciri khasku. Walaupun agak sedikit, umm.. terpaksa. Mungkin.
***
Langit menghitam. Kemerlap bintang-bintang sudah bertaburan di angkasa. Tidak ada kehadiran bulan menemani bintang diatas sana. Angin malam begitu terasa ditubuh. Bahkan aku ingin secepat mungkin tiba di kafe favoritku menikmati secangkir kopi hangat yang menjadi minuman favoritku. Malam ini aku akan kehadiran tamu special yaitu editor dari penerbit yang menerima novel yang aku buat untuk dipublikasikan.
 Aku masih memilih tempat yang sama. hanya saja aku tidak sibuk seperti biasanya dengan berbagai aktivitas menulis. Sesekali aku menyapu sudut-sudut kafe ini. melihat pengunjung yang sudah semakin ramai datang ke kafe ini. Sesekali pula, aku mengamati parkiran dan orang yang berlalu-lalang dari atas sini. Sekaligus, memastikan Mba Gita – editor sudah tiba.
Pelayan kafe ini datang menghampiriku dengan membawa buku menu. “permisi kakak, mau pesan apa ?” tanyanya memberikan buku menunnya.
“sebentar yah, saya lagi tunggu teman saya. Saya pesannya nanti yah” ucapku memberikan jawaban sekaligus kepastian.
Pelayan kafe itu tersenyum ramah, senyuman yang pernah aku kenali tetapi aku tidak senyuman milik siapa yang sama dengannya. “baik kakak, kakak bisa memanggil saya kembali” ucap pelayan kafe itu pergi meninggalkanku.
Aku menatap punggung pelayan kafe itu hingga menghilang saat pengunjung lain lewat.Mba Gita sudah berdiri tepat dihadapanku tanpa menganggu. Aku masih menatap pelayan kafe ini dengan tatapan yang penuh heran.
“hei.. kamu sedang apa ?”  tanya Mba Gita membuyarkan lamunanku.
Aku tersadar, melihat Mba Gita sudah berdiri dihadapanku. “mba sudah dateng toh, kupikir mba terjebak traffic jam” ucapku dengan segaris senyum.
“yah begitu lah, berkerja dikota metropolitan. Kamu baik-baik saja bukan ?” tanya Mba Gita kembali mencemaskan kondisiku saat ini.
Aku menggelengkan kepala.”yah, saya baik-baik kok mba. Tidak perlu dikhawatirkan dengan kondisi saya hehe” jawabku sambil tertawa renyah.
“syukurlah, soalnya tadi aku melihat kamu sedang memandang pelayan kafe ini. apakah ada yang membuatmu tertarik ?” goda Mba Gita sambil mengangkat kedua alisnya.
“ahh..Mba Gita, kalau boleh tau bagaimana perkembangan dengan naskah saya yah mba ?” tanyaku kali ini berusaha mengalihkan pembicaraan.
“eh..iyah untung diingetin. Naskah kamu udah engga perlu direvisi lagi. Saat ini lagi dibuat design sampulnya. Masalah royalti nanti..” ucap Mba Gita sebelum meneruskannya kembali.
“saya tidak pernah mempermasalahkan royalti mba. Yang terpenting, buku yang saya tulis dibacabanyak orang dan bisa menginspirasi”jawabku memetong ucapan Mba Gita.
Mba Gita menghempaskan ke udara.”andai saja, semua penulis sama seperti kamu yah..” kata Mba Gita sambil mengusap tanganku.
“maksud mba apa yah ?” tanyaku sedikit tidak mengerti apa yang dimaksudkan Mba Gita.
“maksud mba, kamu mau pesan apa ? biar mba yang traktir”ucap Mba Gita mengulang kembali maksudnya.
“engga usah mba, biar saja aja yang pesan sendiri dan saya bayarin mba..”
Semua sudah terlambat. Mba Gita sudah beranjak pergi ke Barista memesan makanan dan minuman. Setelah selesai memesan, Mba Gita kembali lagi.
“saya jadi engga enak sama mba gita” kataku sambil memberikan senyuman sebagai ungkapan terimakasih.
Mba Gita hanya membalas senyuman simpul dari wajahnya. “engga apa apa kok” jawab Mba Gita dengan tulus.
Pelayan kafe ini mengantarkan beberapa pesanan yang dipesan oleh Mba Gita. Saat pelayan kafe ini tengah menaruhnya diatas meja. Tiba-tiba..
BRUUGG..
“maksud mba apa? numpahin numpahin pesanannya ke pakaian teman saya?” tanya Mba Gita terlihat geram melihat pelayan kafe ini menumpahkan secangkir kopi pesanannya.
Pelayan kafe ini sibuk membersihkan cairan kopi yang tumpah ke lantai dan membasahi sebagain pakaianku. Pelayan kafe ini hanya tertunduk diam.
“sayaa.. harus berbicara sama atasan..” ucap Mba Gita yang begitu marah. Sayangnya, Mba Gita tidak langsung menemui karena ada panggilan telepon.
“terimakasih..” ucapku sambil membersihkan pakaian yang tersiram kopi dengan dibantu oleh pelayan kafe itu menggunakan tissue.
“seharusnya saya yang meminta maaf ke anda..” ucap permohonan maafnya dengan suara lirih.
“tidak perlu meminta maaf” kataku.
Mba Gita yang selesai berbicara dengan seseorang dari sambungann telpon kembali lagi. Tidak terlihat raut wajah marah yang diperlihatkan Mba Gita kepada pelayan kafe ini yang dengan cerobohnya menumpahkan pesanannya membasahi pakaianku.
“aku ada urusan dadakan. Kita atur ulang jadwalnya lagi yah. See You” ucap Mba Gita merapihkan tasnya berlalu pergi meninggalkan kafe ini dengan terburu-buru.
Aku hanya memadang punggung Mba Gita dengan penuh tanda tanya. Sementara pelayan kafe itu pun kembali lagi ke Barista. Tidak lama, pelayan kafe ini membawakan kembali pesanan yang sama.
“ini kak, pesanannya saya sudah ganti dengan yang baru” kata Pelayan itu dengan nada lembutnya.
“tidak perlu” kataku sambil tersenyum dan beranjak pergi dari Kafe ini.
***
Senja sudah terlelap di kaki cakrawala. Cahaya bintang-bintang sudah menghias dilangit penantian. Dan benar,kita memang masih terjabak di ruang kemungkinan antara pergi dan bertahan,saling melambaikan perpisahaan. Aku memilih untuk bertahan dan melanjutkan cerita yang tersendat di perjalanan. Aku masih melakukan hal yang sama seperti hari-hari biasanya. Menyesap secangkir kopi dengan ditemani cahaya bintang-bintang yang sesekali berkedip mesra.
Tiba-tiba..
Salah seorang pelayan kafe ini membawakan secangkir kopi. Padahal, aku sama sekali belum memesan. Pelayan kafe ini menaruh secangkir kopi itu tepat diatas meja. Aku yang sedari bingung menatapnya dengan heran.
“maaf mba, saya belum memesan apapun. secangkir kopi ini utuk siapa yah ?” tanyaku sambil menunjuk secangkir kopi dengan aroma yang begitu mengganggu indera penciumanku.
“untuk kamu..” kata pelayan itu sambil mengangkat kepalanya menatapku. Aku pun begitu terkejut saat melihat pelayan kafe itu ternyata. Ratna. Perempuan yang pernah mampir dipelabuhan hati saat itu dan Ratna adalah mantan isteriku. Perpisahaan aku dan Ratna bukan persoalan orang ketiga ataupun factor ekonomi. Perpisahaan aku dan Ratna disebabkan karena aku tidak bisa memberikannya keturunan seperti impian ayah Ratna. Hingga akhirnya, aku dan Ratna memutuskan untuk berpisah. Walaupun aku tahu, Ratna begitu berat berpisah denganku.
Aku masih terdiam dan tidak percaya dengan ini semua. “Enji, maukah kamu kembali tinggal bersamaku ?” tanya Ratna begitu mengejutkan.
Aku menarik napas dalam-dalam mengajak diriku berbicara sebentar. “Ratna, kau tahu aku tidak bisa memberikan kebahagian yang seutuhnya. Aku tidak bisa memberikan keturunan seperti yang ayah kamu inginkan.” Jawabku.
“tapi kita bisa melakukan bayi tabung. Enji” ucap Ratna kembali.
Ratna benar. Apa yang dikatakan Ratna memang benar adanya. Seharusnya aku dan Ratna melakukan program bayi tabung yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Aku menatap kembali wajah Ratna dengan penuh harap. Rambut-rambut kecil mengganggu wajahnya dan rasanya aku ingin merapihkannya. Hingga akhirnya, aku memberanikan diri untuk memeluknya.
“kita seharusnya selalu bersama” bisikku lirih ditelinganya sambil memeluk dengan erat.
Seharum kopi, aroma cintaku masih mengecap di meja penantian. Sekarang, biarkan malam yang bercerita. Tentang rindu kita yang berdiam dalam diam. Dan diam-diam masih menginginkan penyatuan. Setidaknya begitulah kenyataan rinduku.
"Puan, apa pekerjaanmu yang sebenarnya ?"
"menantimu"
"dimana ?"
"di depan pintu rumah saat kamu kembali ke rumah. saat kamu merasa lelah, aku lah yang akan memberikan senyuman dari wajahku"
Prayoga Dwi Wibowo
 
-TAMAT-

Sabtu, 13 Mei 2017

Catatan Pribadi

ONE SOUL
“Tanyakan pada dirimu, apa yang kamu bisa berikan untuk Negerimu”
By :PPKN 2016
Pengarah Produksi : Bapak Tjipto Sumadi, M.Si, M.Pd
Ibu Yasnita Yasin, S.Pd, M.Si
Sutradara : Wana Travel
Production : Universitas Negeri Jakarta Pictures
#TERIMAKASIHSUKUBADUY
#WONDERFULINDONESIA

Scene : Pertemuan

Awal keberangkatan dari kampus tercinta (UNJ) itu pukul setengah tujuh pagi. Karena udah kebudayaanya ngaret engga pernah bisa tepat waktu, Bahkan ada salah satu Dosen (Bapak Cip) kami yang sempat marah dengan satu mahasiswa yang belum datang.jujur, Pak Cip salah satu Dosen yang kalau ngajar selalu On Time *Applause*. Panitia dari acara Study Tour, sibuk dengan tugasnya salah satu dari mereka, ada yang menelfon mahasiswa yang belum datang, ada juga yang sedang berbincang dengan pihak travel (Wana) tentang persiapan selama 3 hari. Suasana di Bus semakin riuh terlebih suasana di Bus 2 yang notabennya itu Bus salah satu mahasiswa yang telat. Untungnya, mahasiswa yang telat itu engga diamuk massa Bus 2 lebay banget wkwk.

Well, pukul tujuh lewat 15 menit kami pun berangkat dari Kampus (UNJ) menuju ke Suku Baduy di Banten. Katanya perjalanan untuk sampai kesana membutuhkan waktu 4-6 jam. Tapi, semangat kami untuk melakukan observasi penelitian disana engga pernah padam. Wedew, engga percaya ? kami bernyanyi tanpa henti terutama di Bus 1 & 2. Udah kaya lagu aja wkwk.. kenapa Bus 3 engga nyanyi karena di Bus 3 engga ada mix nya wkwk.

Hingga akhirnya, kami berhenti bernyanyi menyisahkan tenaga untuk disana hehe. Bus membelah jalanan Ibu Kota melewati jalan tol dalam kota. Sebagian diantara kami beristirahat, sebagian lagi ada yang masih sibuk ngegosip haha..

Scene : Perjuangan Part 1

Saat kami tengah beristirahat, tiba-tiba ada kendala dari Bus 3. Ternyata Bus 3 mengalami gangguan mesin ditengah jalan tol. Beruntungnya engga ada apa-apa sama penumpang di Bus 3. Bus 2 dan Mobil ELF putusin buat berhenti di rest area. Perjalanan kami pun sempat terhenti kurang lebih 1 setengah jam lamanya di Rest Area hingga Bus yang lain jemput.

Pukul Dua belas lewat empat puluh, perjalanan dilanjutkan hingga terjadi lagi kendala. Bukan mesin lagi yang jadi kendala, melainkan Bus 1 kejebak dilumpur. Gue dan cowok PPKN lain pun ikut bantu buat keluarin ban Bus 1 keluar dari kubangan lumpur.

Liat muka temen-temen gue lagi susah payah ngeluarin ban Bus 1.

Well, setelah Bus 1,2,3 udah terbebas dari Lumpur yang menguras tenaga. Perjalanan pun dilanjutkan kembali, asal kalian tau. Jalan menuju Baduy benar-benar buat kami nyebut terus. Dan bener aja, cobaan pun datang kembali. Lagi-lagi Bus 1 kena apes terus. Bannya kembali masuk ke dalam lumpur. Kali ini, butuh waktu berjam-berjam ngeluarin bannya bahkan sampe hujan-hujan pun gue, cowok PPKN, dan supir dibantu juga dengan masyarakat Baduy luar pun ikut ngebantu buat ngeluarin ban Bus 1.

Finally, butuh waktu berjam-jam lamanya buat ngeluarin ban mobil Bus 1. Pukul setengah enam sore Bus pun baru bisa dikeluarin dari lumpur. Ada warga Baduy Luar yang menyarankann buat ngubah rute perjalanan kami. Pihak Travel dan Sopir pun mengikuti saran dari warga Baduy Luar.

Oke, perjalanan diputuskan putar balik. Tapi apa ? lagi-lagi semesta menguji ketangguhan kami. Sekarang Bus 3 yang mengalami kendala lagi. Kalau dibilang sih “The Same Problem” lumpur jadi permasalahan kami. Bahkan saat Bus 3 masuk kedalam lumpur waktu udah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kebayangkan gimana cowo-cowo PPKN ngeluarin ban Bus 3 ditengah hutan belantara. Untungnya, hanya butuh waktu lima belas menit lamanya cowo-cowo PPKN berjibaku. Ban Bus 3 pun berhasil dikeluarkan dari kubangan lumpur. Perjalanan pun dilanjutkan.

Mereka yang mengabaikan rasa sakit dan lelah hanya demi satu tujuan”

Pukul sepuluh malam, kami tiba di Terminal Ciboleger. Perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih 1 km dari Terminal Ciboleger menuju homestay. Dengan baju kotor semangat kami masih ada. Disepanjang perjalanan menuju homestay. Banyak sekali perjalanan yang didapat dari lingkungan Suku Baduy.

Gue juga baru tau sih, ternyata di sepanjang jalan menuju Suku Baduy. Engga ada lampu penerangan jalan dan rumah-rumah warga pun engga ada lampu. Dan lebih uniknya lagi Kawan, ternyata disetiap rumah itu terdapat satu tempat pembuangan sampah dengan bentuk unik yang berbentuk kerucut dengan bahan yang terbuat dari rotan. Sayangnya gue engga ada dokumentasi tempat sampah yang unik itu. mungkin kalau teman-teman pergi ke Baduy nanti juga tau hehe…

Pukul setengah sebelas malam gue dan teman teman PPKN baru tiba di homestay. Hingga akhirnya, kami pun beristirahat. Kumpulin tenaga buat observasi sekaligus petualangan pertama. Yeay

Scene : Perjuangan Part 2

Matahari menyapa di antara langit luas di Baduy, kami pun menyiapkan diri buat melakukan observasi pertama. Tapi sayanganya salah satu Dosen kami (Pak Cip) engga bisa ikut dengan alasan lelah buat masuk ke Baduy Dalam. Hanya Bu Yas yang damping dibantu dengan Wana Travel dan juga Kakak Senior PPKN 2015.

Oke, perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih sejauh 14 km. hmm.. benar-benar menguji ketahanan kami. bahkan kalau dibilang itu tidak ada apa-apanya jika dilalui bersama.ehm
Kaki kami terus melangkah menyusuri turunan-naikan jalan setapak di Baduy.

Tibalah saatnya ketangguhan kami diuji dengan melewati berbagai medan yang dibilang ekstrim. Pertama, harus melewati beberapa jembatan yang terbuat dari kayu dan yg lebih menariknya jembatan itu tidak menggunakan paku untuk menahannya hanya digunakan tali. Kebayangkan gimana rasanya kalau kalian melewati. Kedua, medan selanjutnya lebih menakutkan lagi yaitu tanjakan cinta.

Dimana tanjakan ini memiliki kemiringan kurang lebih 15 derajat ditambah dengan suasana hujan dan jalanan penuh lumpur lengkap syudahhh…

So, disinilah rasa solidaritas kami di uji. Apakah kami benar-benar SATU JIWA atau engga.. disepanjang tanjakan cinta KATANYA kita harus memikirkan seseorang yang kita CINTAI. Kalau gue sendiri sih, gue lebih baik mikirin kapan sampai dan kapan hari ganti wkwk.. karena gue ngerasaiin sendiri perjalanannya itu benar-benar menguras tenaga.

Ditanjakan cinta setiap cowo PPKN termasuk gue, ikut ngebantu cewenya lewati tanjakan cinta. Bukan berarti nantinya terjebak dalam Cinta Lokasi wkwk.. tapi.. sudahlah, disepanjang tanjakan itu, gue denger suara motivasi dari cowo PPKN buat cewe PPKN “Udeh,jangan pikirin seberapa jauh tanjakannya. Pikirin aja orang yang lo sayang” ada  yang lebih konyol lagi motivasi dari cowo PPKN “diatas ada KFC,MCD,dll.ayo semangat.. mau minum kan” konyol kan wkwk..

This is Tanjakan CINTA..sebenarnya masih panjang lagi tanjakannya dan itu belom hujan.

Finally, setelah semuanya dilewati tibalah kami di Baduy Dalam dengan suasana kampung yang hening. Dan penduduknya pun menyambut baik kami. termasuk jaro nya (wakil ketua adat). Bahkan di dalam rumah panggung yang terbuat dari bambu itu. jaro nya memberikan beberapa wejengan dalam bahasa sunda. Sementara cowo nya ada diluar jadinya engga bisa ngedengerin beliau kasih nasihat.

Tapi, gue ngamatin model bangunan rumahnya yang nyaris bahan bangunanya tanpa pondasi batu dan terbuat dari kayu. mantap, bahkan talinya terbuat dari tumbuhan luar biasa bener dah..

Hanya setengah jam lamanya kami bersilahturahmi dengan jaro (Wakil Ketua Adat Suku Baduy) habis itu kami pulang ke homestay. Dengan medan yang berat setelah diguyur hujan dan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 6 jam lamanya. Kami nekat menembus hutan belantara dengan bermodalkan senter dan jas hujan.

Perjalanan pulang pun masih sama dengan dibagi beberapa kelompok. Tapi setelah itu, banyak kelompok yang misah. Gue sendiri awalnya dibagian ekor kebagian badan.

Perjalanan terhenti dimedan yang sama. Tanjakan CINTA kembali menguji ketangguhan kami. dengan ditambah lagi lumpur setelah hujan membuat perjalanan kami semakin CINTA sesuai dengan namanya. Gue sendiri bantu beberapa temen cewe PPKN turun dari Tanjakan Cinta. Disana juga ada temen gue yang lebih nekat lagi bantu cewe PPKN yang engga bisa jalan dengan digemblok. Luar biasa emang dah…, motivasi buat cewe PPKN pun masih terdengar, ada juga yang mengatakan “Lo percaya kan sama gue ? kalau gue bisa selamatin nyawa lo lewat tanjakan ini?” bukan benda lagi yang jadi taruhan. Nyawa temen dan juga diri sendiri jadi taruhannya.

Dan setelah lewati tanjakan CINTA ada satu pelajaran yang berarti yang bisa gue petik dari itu “ternyata benar, bukan seberapa jauh kita melangkah bersama. Melainkan seberapa erat genggaman tangan kita untuk melewati rintangan bersama. Dan benar, CINTA lah yang selalu menguatkan itu semua.CINTA lah yang semestinya berkuasa diatas segalanya.CINTA tidak hanya merujuk ke Laki-laki dan Perempuan. Lebih dari itu.Kawan. lebih dari apapun.”

Perjalanan kami pun dilanjutkan hingga malam hari dengan kelompok yang terpisah. Di kelompok gue,sekitar ada 25 orang 4 diantaranya cowo dan sisanya cewe. Kebayangkan gimana rasanya diposisi cowo di kelompok gue. Tengah malam tersesat di Hutan Belantara bahkan butuh waktu berjam-jam lamanya untuk tiba kembali.

Well, gue juga suka dibagian ini. karena disini lah mengajarkan kita caranya “Bertahan,Berjalan dan Saling Menguatkan” . gue yang tergolong kedalam kelompok badan. Disuruh jalan didepan.. gila engga wkwk. Disinilah keberanian gue juga diuji, gue enjoy dengan mulut komat-kamit baca surah pendek ataupun ayat kursi jalan didepan sambil buka jalan. dan hasilnya pun, gue selalu jadi korban kepeleset karena salah nginjek jalan yang licin. Disini juga gue dapet satu pelajaran.

“bahwa engga selamanya, pukulan,jatuh dan hinaan selalu kita tunjukkan di depan orang yang kita sayangi. Termasuk sahabat kita”

Pukul delapan malam kelompok gue baru tiba di Homestay. Perjalanan kami pun belum selesai. Hingga semua tiba kembali di homestay. Kemudian langsung beristirahat tanpa memperdulikan bau badan.

Scene : Perpisahaan

Hari Senin adalah jadwalnya untuk kami bergegas kembali ke Kota dengan berbagai kesibukan Ulangan Tengah Semester yang sedang menunggu. Setelah sarapan di hari terakhir kami berada di Baduy. Perjalanan pulang pun dimulai dengan berjalanan kaki sejauh 4 km lagi atau setara 45 menit lagi (kalau engga ada rintangan). Kebayangkan udah berapa jauh kaki kami melangkah selama 3 hari di Baduy. Dan dihari terakhir ini ada yang gue kagumi.

Mereka adalah saudara kami. Mereka menyambut kami dengan tangan terbuka. Bahkan, mereka adalah asli dari Suku Baduy Dalam yang rela-rela anterin kami malam-malam pergi ke homestay. Kemudian pulang lagi ke Suku Baduy Dalam tanpa alas kaki. Paginya anterin kami lagi ke Suku Baduy Dalam begitupun seterusnya. Dari mereka ada pelajaran berharga yang dapat kami ambil.

Hidup ini sebenarnya simple, jangan terlalu banyak mengeluh. Itu aja”

Tibalah kami di Terminal Ciboleger. Sebelum kami berangkat pulang ke Jakarta. Kami melakukan foto bersama mengabadikan moment yang engga pernah bisa dibeli dengan apapun bahkan engga bisa dicari di toko mainan manapun.

Teman. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan kami dari Kampus menuju ke Baduy. Kau tau ? ada beberapa pelajaran yang tidak dapat kita cari disekolah ataupun di kampus. Tentang filsofi mereka “Panjang jangan Dipotong,Pendek jangan Disambung” dan benar, setiap perjalanan hidup butuh pengorbanan bukan hanya serba instan saja. Agar kita bisa menghargai setetes keringat yang jatuh. Supaya kita berhasil di masa mendatang.

Tentang Lingkungan mereka yang notabennya beragama SLAM WIWITAN yang artinya agama mereka (Suku Baduy) itu keturunan dari Nabi Adam AS dan mereka (Suku Baduy) tidak mengikuti cara beribadah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Cara mereka (Suku Baduy) beribadah yah menjaga alam adalah ibadahnya.

Sementara Tentang kekeluargaan yang dapat diambil. Disepanjang perjalanan petualangan kami terdapat sebuah rumah yang sengaja digunakan untuk menaruh hasil bumi untuk dibagikan ke seluruh masyarakat Baduy tanpa terkecuali. Bahkan dari hasil bumi yang mereka (Suku Baduy) dapatkan diberikan sebagian kepada Pemerintah Daerah atau lebih dikenal dengan Upacara Seba. Luar biasa kawan…

Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Kawan

Terima kasih teman-teman yang sudah berpetualang bersama menjelajah salah satu Suku yang ada di Indonesia. Jujur aja, saat gue diterima di PPKN UNJ. Awalnya gue sempat berpikiran ”apa nanti gue bisa nemuin keluarga kedua setelah sekolah ?” dan pertanyaan itu butuh 2 semester buktiin. Bukan hanya sebagai teman,sahabat,rekan. Melainkan sebagai keluarga besar yaitu PPKN UNJ.

Terima kasih juga, buat Bapak Tjipto dan Ibu Yasnita udah kasih pengalaman dan pembelajaran tentang arti hidup yang sebenarnya. Bahwa, hidup itu bukan dipecahkan melalui teori-teori melainkan dicari permasalahannya tanpa menyakiti siapapun.

Pesan dari kami (Mahasiswa PPKN UNJ) untuk kalian yang suka Traveling.. ubah rencana libur kalian yang bermanfaat dengan mengunjungi beberapa suku yang ada di Indonesia. “Sobat, Lo keren kalau lo mampu taklukin jaya wijaya,rinjani,pangrango dll. Tapi, Lo jauh lebih keren kalau lo mampu belajar memahami dan mengaplikasikan keanekaragaman suku bangsa yang ada di Negeri ini”

Karena kami pun masih ingin mempelajarinya lagi. Dan penutup catatan ini dengarkan semangat kami bergelora. Sebab… “KITA SATU,SETANAH SEBANGSA,SEBAHASA”

WONDERFUL INDONESIA