Minggu, 07 Januari 2018

Cerpen




 

***

PRAYOGA D WIBOWO

SETELAH LUKA

"Bagaimana Jika aku tidak bisa mencintaimu lagi"
 
PROLOG

Bagaimana jika orang yang paling kau cintai sering menanam luka di hatimu ?
Bagaimana jika orang yang paling kau cintai hanya menganggapmu tidak lebih dari seorang sahabat ?
Apakah kau akan bertahan pada perasaanmu padanya ? atau mungkin, kau akan paham dengan sendirinya. Jika kita cinta seseorang, kita juga memastikan pada dirinya apakah ia bersedia untuk saling mempertahankan atau tidak. 

***

Aku pernah mencintai seseorang dengan sangat amat.. mencintainya. Dan berharap ia akan selalu berada disampingku, menggenggam tanganku dan memelukku dengan sangat erat. Hingga akhirnya ia membisikkan sesuatu di telingaku “bersamamu saja, aku ingin menua hingga senja menutup usia”.

Aku pernah memperjuangkan sesuatu, yang tidak pernah aku dapatkan sepenuhnya. Mungkin aku berhasil memiliki raganya, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya entah memikirkan siapa. Entahlah semua terasa sama saja. Hingga akhirnya, aku dikalahkan oleh sang waktu bahwa yang aku perjuangkan sepenuh hati tidak pernah menganggap perjuanganku.tidak pernah menganggapku ada. Mungkin benar juga, apa yang dikatakan semesta pada hari itu.

Kelak, jika kita dipertemukan kembali oleh sang Narator dalam cerita apapun yang di tulis-Nya. Kenanglah  kisah kita dengan banyak. Bahwa dulu, kita pernah saling mengeratkan satu sama lain. pernah saling berbagi rahasia,cinta atupun luka yang menyesakkan di dada. Tapi tidak mampu untuk menyatukan mimpi. Kita beda.

Dan jika esok, kita dipertemukan kembali, jangan pernah memintaku untuk kembali lagi. Jangan pernah membuat kita sama-sama jatuh cinta kembali, jangan kau tanyakan kenapa aku tidak mau kembali bersamamu. Puan. Dan Inilah alasanku yang sebenarnya.

“Bagaimana jika esok, aku tidak bisa mencintaimu lagi ?”

***

I will leave my heart at the door
I won’t say a word
They’ve all been said before you know
So why don’t we just play pretend
Like we’re not scared of what’s coming next
Or scared of having nothing left

***

            Di Ruangan Pertunjukkan Fashion Show

Seorang perempuan cantik tengah berjalan di atas Catwalk dengan anggun dan cantiknya. Perempuan itu tengah memperagakan busana terbaru yang dirancang oleh designer ternama. Senyuman yang mengembang dari wajahnya membuatnya semakin percaya diri untuk memperagakkan busana. Jangan lupakan dengan polesan make up yang menutupi seluruh wajahnya yang membuat dirinya susah untuk dikenali. Dengan postur tubuh yang tinggi dan rambut panjang yang ia biarkan terurai begitu saja, membuatnya terlihat semakin cantik. Sangat..cantik.
Perempuan itu benar-benar berbakat menjadi seorang Model. Bahkan, bakat modeling-nya sudah terlihat saat masa putih abu-abu dulu. Banyak penghargaan yang sudah ia raih dari berbagai event yang sering ia ikuti. Dan juga, banyak tawaran yang menggiurkan dari majalah perempuan yang menawarkkannya berkerja sama dengannya untuk menjadi salah satu model iklan di majalah tersebut. Hingga akhirnya, perempuan itu menerima tawaran dari majalah tersebut sampai sekarang. Perempuan itu bernama…
IRA WULANDARI…
Aku sudah mengenal Ira semenjak, kami sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Kebetulan. Ralat. Didunia ini tidak ada yang namanya kebetulan bukan ? bukankah semuanya sudah di rancang sedemikian rupa oleh Narator ? dan tugas kita hanyalah memainkan ataupun memperagakan apa yang diminta oleh-Nya. Aku dan Ira sama-sama ikut bergabung di Theater Semu estrakulikuler sekolah. Bahkan, aku dan Ira pernah menjalin hubungan selama 3 tahun lamanya. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar menjalin hubungan saat masa putih abu-abu. Selama itu pula, aku tidak pernah merasakan Ira benar-benar mencintaiku.
Aku pernah menanyakan perihal tentang hubunganku dengannya. Dan Ira hanya menjawabnya “Bukankah cinta, tidak perlu diumbar-umbar dan tidak hanya diucapkan saja. Cinta cukup dibuktikan dengan suatu komitmen dan memupuk rasa percaya satu sama lain. bukan ?”.Aku sependapat dengan pernyataan itu. Hanya saja, aku ingin menggarisbawahi apakah dalam suatu hubungan hanya butuh “pembuktian dan saling percaya” tanpa mengikutsertakan “kepastian”.
Catat. Dalam suatu hubungan perlu adanya kepastian dari masing-masing pasangan. Bagaimana jika salah satu diantara kita, tidak sama-sama saling menguatkan satu sama lain. Bagaimana jika salah satu diantara kita, menginginkan hubungannya berakhir disini saja. Bagaimana jika cintamu tidak pernah terbalaskan olehnya. Bagaimana jika hubunganmu tanpa kepastian ? terombang-ambing diantara jurang perpisahaan. Hatimu patah, dengan mudahnya kamu menyalahkan dia dan memberikan label kepada dia “Pemberi Harapan Palsu”. Bagaimana ?
 Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi pada diriku. Memang, perihal membuktikan rasa sayang itu tanggung jawab kaum adam. Ada satu statements yang menangguhkan pernyataan itu. mungkin kamu sedang lupa, tidak apa-apa. Kasih. Perihal membuktikan rasa sayang bukankah hanya laki-laki saja. Perempuan dan laki-laki punya porsinya yang sama. kamu jangan seenaknya mengatakan “kan itu tugasnya cowo”. Lalu, bagaimana jika nanti pasanganmu membalikkan ucapanmu “dalam suatu hubungan itu kita sama-sama saling berjuang. Berjuang dengan cara mempertahankan hubungan dari orang ketiga ataupun lainnya”. Kamu terdiam. Dan yang lebih mengenaskannya lagi, kamu ditinggalkan olehnya begitu saja. Tanpa kamu mau saling belajar, bagaimana cara memperjuangkan apa yang sedang kita jaga. Ini hubungan bukan sedang melakukan ujian sekolah.

***

Acara Fashion Show telah selesai. Tamu undangan satu per satu meninggalkan ruangan termasuk diriku. Langkah kakiku beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tetapi ada seseorang yang memanggil namaku dari belakang. “Revin……” panggil salah seorang perempuan dari belakang.
Aku mencari sumber suara yang memanggilku. Suara yang sudah tidak asing lagi ditelingku. “ini Revin kah ?” tanya perempuan itu kembali sambil  mengatur napasnya.
Aku hanya memberikan senyuman simpul.
“masih ingat sama aku engga ?” tanyanya kembali dengan antusiasnya dan berharap aku masih mengingat lukanya. Ralat. Lebih tepatnya mengingat namanya kembali.
Aku mengangguk “ masih ko, Ira Wulandari bukan ?” jawabku sambil tersenyum simpul
“aku pikir kamu sudah lupa denganku,”
“lupa sih engga, hanya saja.. kamu semakin cantik aja” pujiku
“ah.. kamu bisa aja, kamu juga…” balasnya
Sejurus kemudian, tidak ada obrolan lagi. Pandangan kita beradu di sudut rindu yang menggebu. Walaupun aku harus mengingat kembali luka yang dahulu Ira tancapkan tepat di relung hati. “eh.. Btw, terima kasih yah, udah sempetin dateng ke acara Fashion Show” ucap Ira kembali dengan senyuman yang mengembang.
Aku membalasnya dengan senyuman simpul. “iyah sama-sama”
“kamu dateng sendirian aja ? emangnya engga bawa pasangan ?” tanya Ira dengan maksud yang sudah bisa kubaca.
“aku datang kesini sendirian aja.. kebetulan aku masih betah sendiri” jawabku dengan memberikan alasan mengapa aku tidak membawa pasangan kali ini.
Ira hanya bergumam panjang sambil diiringi senyum sendiri. “Ira, kamu engga apa-apa kan ?” tanyaku melihat tingkahnya yang tidak seperti biasanya.
Ira menggelengkan kepala “aku engga apa-apa ko, eh, kamu mau kemana ?”
“hmm, mau kemana yah ?” jawabku sambil berpura-pura bingung
“kenapa jadi bingung deh, kalau kamu engga ada agenda lain dan engga keberatan juga, aku mau ajak kamu minum kopi di teras café dekat sini” ajaknya dengan penuh harapan agar aku mau menerima tawarannya sekedar minum kopi.
Aku menatap kedua bola matanya. Disana ada kesungguhan yang tidak pernah terlihat saat aku dengannya menjalin hubungan dulu. Ira membalas tatapan mataku. Ada perubahan yang terlihat darinya saat ini, aku merasakan hal itu. “hmmm.., aku mau menemanimu minum kopi” jawabku singkat.
Ira begitu bahagia saat aku menerima tawarannya. “terima kasih. Revin” tutupnya

***

Dua gelas kopi sudah terhidang diatas meja kami. Bau aroma kopinya begitu mengganggu indera penciumanku. Ira menyesap kopi yang ia pesan tadi hingga menyisahkan separuh. Sementara aku, masih membiarkan kopiku mendingin. Jujur saja, aku lebih suka dengan makanan ataupun minuman yang sudah dingin dan tidak terlalu panas. Bukan tanpa alasan aku menyukai hal itu, apapun makanan dan minuman kalau disantap masih terlalu panas tidak baik untuk kesehatan. Sariawan salah satunya.
Walaupun pesanan sudah dipesan, tidak ada obrolan yang menemani malam kita yang sudah lama tidak bertemu. “hey, kenapa engga diminum kopinya ?” tanya Ira saat melihat kopi digelasku masih penuh dan belum kusentuh sedikitpun. Sekaligus mencairkan suasana yang terlihat semakin mendingin.
Aku tersenyum padanya “nanti saja, masih panas. engga bagus untuk kesehatan juga bukan ?” ucapku.
Ira menggelengkan kepala ”kamu masih saja seperti yang dulu. Revin
“bukannya masih sama saja yah,” piirku
Ira tersenyum simpul “tapi ada yang membedakannya kali ini, kamu terlihat semakin ganteng dan dewasa. Revin” jawab Ira sambil memegang tanganku.
Aku tertawa kecil, saat mendengar perkataan Ira barusan. “emang dulu aku engga ganteng dan dewasa apa ?” tanyaku kembali.
Ira tertawa “bukan gitu.. sudah lupakan saja obrolan ini” ucap Ira kembali sebelum menenggak habis sisa kopinya.
Aku hanya tersenyum.
Wajar  saja, jika Ira mengajukan pertanyaan seperti itu. Tidak ada yang salah dari pertanyaannya. Mungkin, dahulu saat aku dengannya masih menjalin hubungan. Aku tidak pernah bisa merawat diriku dengan baik. Bagaimana caraku menata rambut dengan rapih. Ataupun bagaimana caraku menggunakan pakaian yang seharusnya enak dipandang. Aku mengakuinya. Hingga ahirnya, hubungan kami yang tadinya baik-baik saja hingga berujung perpisahaan hanya karena masalah itu. Dan yang lebih mengenaskannya lagi, saat aku memohon untuk Ira tetap bertahan. Ira menamparku dengan ucapan yang membuatku tersadar saat itu.

            “Revin, aku tidak mau saat kamu bermain ke rumahku nanti. Nanti orang tuaku akan menanyakan hal-hal yang tidak diingankan tentangmu. Aku engga mau.. Revin. Aku engga mau punya pacar yang tidak bisa merawat dirinya dengan baik. Jika kamu mencintai seseorang, cobalah kamu lihat dirimu sendiri. Apakah dirimu sudah kamu cintai dan rawat sepenuh hati”

Ada baiknya apa yang dikatakan Ira pada saat itu benar juga. Hanya saja, aku ingin mengklarifikasi semuanya. “Bukankah kehidupan seseorang ditentukan oleh drinya sendiri ? bagaimana jika kita yang menjalani kehidupan diatur oleh orang lain. bagaimana jika, aturan yang dibuat oleh orang lain tidak membuat kita merasa nyaman dengan hal itu. mungkin benar, jadilah diri kita sendiri tanpa harus mengubah diri kita seperti orang lain adalah satu langkah yang tepat. Bahkan, banyak pasangan diluaran sana yang mempunyai pasangannya tidak seperti yang diinginkan olehnya. Semisal, saat mereka awal mula pacaran, pacarnya bisa merawat dirinya dengan baik. Hingga waktu yang tidak bisa ditentukan, pacarnya tidak bisa merawat dirinya dengan baik, rambut yang sudah seperti perempuan. Jenggot yang sudah tidak pernah di cukur. Bahkan hubungan mereka tetap baik-baik saja. ”
Untuk kesekian kalinya kamu lupa dengan perkataan yang belum sempat aku klarifikasi dulu. Hingga akhirnya, kamu patahkan cintaku, kamu hempaskan harapanku untuk selalu bisa bersamamu. Aku tersingirkan oleh ambisimu untuk menuntutku menjadi seperti yang kamu inginkan. Nampaknya, cintamu kepadaku pada waktu itu hanya menginginkan kelebihan yang kita punya. Bukan belajar untuk saling melengkapi setiap kekurangan yang ada pada diri masing-masing pasangannya. Kamu keliru. Kasih.
“Revin, besok kamu ada acara engga ?” tanyamu kembali sekaligus mencairkan suasana yang terlihat kaku.
“memangnya kenapa ?”
“hmmm.. aku ingin mengajakmu ke salah satu tempat yang dulu pernah kita kunjungi. Apa kamu bisa ?” tanyanya sambil memoho
“aku engga janji, aku bisa datang. Aku usahakan yah” jawabku
“aku tunggu kamu disana, jam 4 sore”
Aku tersenyum kecil. Bukan aku tidak mau menemanimu kembali bercerita tentang kita yang sempat ingkar kepada semesta. Hingga akhirnya, di dekatkan kembali olehnya dengan waktu yang tidak tepat. Mungkin suatu hari nanti kamu akan paham, mengapa aku tidak bisa menemanimu. Hari ini, esok dan seterusnya. Nanti akan aku ceritakan..

***

Aku tahu, kamu akan menungguku walaupun pada akhirnya, aku tidak bisa menepati janjiku. Kasih. Maaf, tapi ada yang tidak aku bisa jelaskan saat ini. waktu kitalah yang tidak tepat untuk bertemu kembali. Suatu hari nanti, kamu akan paham dengan sendirinya. Aku tidak ingin kekalahan yang aku perbuat kembali lagi. Tidak. biarlah kita seperti ini, sampai saatnya tiba kamu akan mengerti. Bagaimana kerasnya dulu aku memperjuangkan dan mencintaimu sepenuh hati.

To : Ira Wulandari

     “maafin aku engga bisa menemanimu melihat senja di tempat yang membuat kita jatuh cinta berkali-kali. Maafin aku. tapi ada hal yang tidak bisa aku jelaskan saat ini. pada akhirnya kamu, akan paham kenapa aku tidak bisa hadir hari ini. tapi, jika kamu tidak keberatan. Temuilah Bapak Yunus, di Jalan Achmad Yani No. 17. mungkin beliau akan menjelaskan yang sebenanrnya. Temuilah bulan November, tepat di tanggal kelahiranku. Tanggal 7 Agustus nanti. Maafin aku.. Ira
     Dariku: Revindra

07 Juli…








***

I don’t need your honesty
It’s already in your eyes
And I’m sure my eyes, they speak for me
No one knows me like you do
And since you’re the only one that matters
Tell me who do I run to?

***

            Di Tokoh Buku…

“itu buku ke tiga yang aku tulis…” ucapku kepada perempuan yang serius membaca buku di salah satu tokoh buku kesukaannya.
Perempuan itu menghentikan membaca buku yang sedang dibacanya. Raut wajahnya terlihat berbeda-beda saat melihatku. “Revin…” jawabnya tidak percaya saat melihatku setengah terkejut.
Aku tersenyum. “bagaimana kamu tau, kalau buku yang aku baca itu.. buku yang kamu tulis..”
“cobalah kamu lihat saja cover bukunya, pasti ada nama penulisnya bukan ?”
Perempuan itu langsung membuka cover buku itu. dalam cover buku itu bertuliskan nama penulisnya “Re”. perempuan itu semakin tidak mengerti siapa yang sebenarnya menulis buku ini. “penulisnya bernama Re, sedangkan nama kamu Revindra” ucap perempuan itu dengan tertawa kecil
Aku menghempaskan napas panjang. “coba buka dihalaman belakang. Lihatlah siapa nama lengkap penulis buku ini” ucapku sambil tersenyum
Perempuan itu langsung mencari halaman terakhir dari buku ini yang bertuliskan identitas/profil dari penulis buku ini. perempuan itu tertewa kecil “sejak kapan kamu suka menulis buku. Revindra” tanya perempuan itu kepadaku
“Sejak kamu mematahkan hatiku dulu..” Jawab batinku
“aku sudah lama menyukai sastra. Sejak masih dikampus dulu” jawabku sambil mengambil salah satu buku di lemari.
Perempuan itu mendekat kepadaku. “benarkah ?” tanyanya mencoba menyakinkanku apakah aku menyukai sastra sejak masih di kampus.
Aku meletakkan kembali buku yang baru kubaca covernya. “lebih tepatnya, aku menyukai dunia kepenulisan sejak kamu tidak mempercayai aku lagi.” Jawabku dengan sejujurnya.
“apa maksudnya ?” tanya perempuan itu tidak mengerti apa yang aku maksud.
Aku kembali tersenyum kecil. “maksud aku, coba kamu baca dulu hingga selesai buku itu. mungkin kamu akan paham kenapa aku suka menulis”
“hmm.. aku semakin tidak mengerti apa maksudmu. Revindra”  ucap perempuan itu langsung  membawa buku itu ke kasir.
Aku mengekorinya dari belakang sambil membawa buku juga – yang tidak aku baca lagi. Hari ini pengunjung tokoh buku ini terlihat ramai sekali, banyak sekali pengunjung yang membeli buku ataupun sekedar membaca buku. Di depan meja kasir sudah ada satu barisan pengunjung yang ingin membayar. Aku dengannya berada dibarisan akhir.
Nurin Amanda. Aku dengannya pernah berada di kampus yang sama ataupun berada dalam satu komunitas – Komunitas Pencinta Anak di Kampus ini. Hingga akhirnya, aku dan Nurin bersepakat untuk menjalin hubungan. Di musim pertama, hubunganku dengannya masih baik-baik saja sampai musim ke empat pun masih sama. Hingga di musim ke lima yang “kata orang” adalah musim yang rawan untuk mempertahankan suatu hubungan. Hingga akhirnya, masalah pun silih berganti, banyak persoalan yang harus diselesaikan dengan kepala dingin dan duduk berdua

***

“Revin, akhir-akhir ini kamu kemana saja ? tidak pernah ada kabar. Chattan aku pun engga pernah kamu balas ?” tanya Nurin dengan sangat khawatir.
Aku masih terlihat tenang. “maafin aku, jika akhir-akhir ini aku sibuk dan engga pernah kasih kabar hingga membuatmu khawatir. Banyak sekali deadline organisasi yang menuntutku untuk diselesaikan di tambah lagi aku harus melatih karate di sekolahku dulu. Maafin aku” ucapku memberikan penjelasan
Raut wajah Nurin berubah seketika “apa karena banyak deadline organisasi kamu engga bisa membagi waktumu. Revin.” Tambah Nurin dengan nada meninggi.
Aku menghempaskan napas ke udara “hmm.. aku udah berusaha. Tapi akhir-akhir ini aku jarang sekali buka handphone. Mungkin kamu bisa melihat kapan terakhir kali aku online di Whatshap” kataku kembali.
“tapi, apa susahnya sih kasih kabar sebentar. Telfon ke, chatt ke. Apa susahnya sih. Revin” ucap Nurin tidak ingin kalah beragumentasi.
Aku terdiam. Aku menunduk. “maafin aku, aku engga bisa lanjutin lagi hubungan kita..” ucap Nurin dengan satu keputusan yang membuat relung hatiku patah kembali.
Aku menatap wajahnya, sayangnya Nurin memalingkan wajahnya. “maksud kamu, kita putus ?” tanyaku mencoba meyakinkan kembali.
Nurin menganggukkan kepalanya, “aku engga bisa lanjutin hubungin kita lagi, revin. Maafin aku..” ucap permintaan maafnya.
Aku menghempaskan napas ke udara.”beri aku kesempatan sekali lagi. Nurin” ucap permohonanku untuk ke sekian kali.
“Revin.. aku udah sabar menunggumu. Jalan kita udah berbeda. Faktanya,kamu masih sibuk dengan duniamu. Masih mencintai organisasimu. Sementara di hidup kamu tidak ada nama aku dalam list prioritasmu. Dan solusinya, lebih baik kita hidup masing-masing. Kita coba koreksi lagi apa yang salah dalam diri kita. Mungkin, untuk sementara waktu kita sama-sama terluka. Terima kasih, sudah menabur kebahagian dan kebersamaan walaupun singkat. Kelak, jika aku memang jodohmu. Semesta tahu bagaimana caranya mempertemukan kita kembali. Dan jika esok, kita tidak dipertemukan kembali. Mungkin kamu bukanlah jodohku sederhana itu pula lah sang Narator dalam membuat ending kisah  setiap tokohnya”

***

Setelah membayar buku yang baru saja aku dan Nurin beli di Tokoh Buku. Tanpa berbicara lagi, Nurin langsung bergegas pulang ke rumah. Sementara aku, aku ingin mengajaknya mengobrol bersama menikmati sisa-sisa waktu di penghujung malam. Langkah kaki Nurin begitu cepat, aku tidak ingin tertinggal olehnya. Kupercepat langkah kakiku juga.
“Revin.. ngapain kamu ikutin aku ?” tanya Nurin begitu heran saat melihatku masih mengikutinya.
“emangnya engga boleh apa ?” jawabku dengan senyuman cirri khas.
“bukan gitu, aku lagi buru-buru soalnya. Ada janji sama seseorang..”
“dan seseorangnya aku bukan ?” jawabku sambil tertawa.
Nurin menghentikan langkah kakinya. “Revin, aku sedang tidak ingin bercanda. Aku ada janji sama tunanganku untuk Fitting baju pernikahanku nanti” ucap Nurin membuatku begitu terkejut.
Aku terdiam begitu lama, memahami kalimat yang membuat dadaku terasa sesak. “maafin aku harus pergi dulu. Bye” ucap perpisahaan Nurin yang meninggalkanku sendirian dengan tatapan yang tidak percaya.
Aku masih terdiam menatapi punggunya yang akan menghilang begitu saja. Aku berusaha ikhlas apa yang seharusnya aku relakan untuk pergi selamanya. Bukannya setiap hati yang patah akan selalu saja ada bibit bahagia yang bersedia untuk diambil bukan?
Tiba-tiba..
Ada suara jeritan minta tolong dari persimpangan jalan yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Dengan rasa penasaran yang menggebu, aku mencoba mencair sumber suara yang meminta tolong tersebut. Dan betapa terkejutnya saat melihat Nurin yang ingin di perkosa oleh sekelompok pemuda.
“Woy… mau ngapain perempuan itu ?” ucapku dengan suara keras.
“bukan urusan lo” jawab salah satu pemuda, yang terlihat sempoyangan efek dari minuman alkohol yang di pegangnya.
“tentu ada urusan sama gua, dia calon isteri gua. Lo jauhin engga dia atau engga hidup lo engga bakal lama lagi” kataku kembali.
“wah, nantangin dia sama kita-kita”
Aku langsung menyiapkan kuda-kuda yang pernah aku pelajari saat mengikuti karate ataupun mengajari karate kepada anak didikku. Tanpa menunggu lama lagi, pukulan demi pukulan mendarat bebas di tubuh pemuda itu. Hingga akhirnya, para pemuda itu kalah telak dengan wajah yang lembab akibat pukulan yang diterima dariku.
Nurin berlari mendekatiku. Hingga akhirnya, Nurin memelukku begitu kuat “Terima kasih sudah mau menyelamatkanku.” Ucapnya dengan suara isakan tangis.
Sebagai laki-laki yang budiman, tidak baik jika kita memeluk seseorang yang sebentar lagi akan menjadi kepunyaan orang lain.”kamu engga perlu mengucapkan terima kasih kepadaku. Seharusnya aku yang bilang maaf kepadamu” ucapku dengan nada menyesal saat mengatakan yang tidak sepatutnya dikeluarkan.
“Maaf ? untuk apa ?’ tanya Nurin begitu bingung.
“maafkan aku tadi mengatakan kamu adalah calon isteriku” ucapku tertunduk dengan perasaan bersalah.
Nurin tersenyum mendengar pengakuanku. “hmm.. aku engga keberatan jika kamu mengatakan hal itu. andai saja, kamu datang lebih dulu darinya. Mungkin yang kamu katakan tadi akan terwujud dalam waktu dekat. Sayangnya, ada rencana dari Sang Narator dalam menuliskan kisahku dan bagaimana ending dari perjalanan hidupku. Maafkan aku.” ucap Nurin yang begitu bijaksana.
“kamu berhak bahagia. Nurin” ucapku sekaligus doaku untuknya.
“kamu pun begitu. Revin”
“maaf, aku harus pergi..”
Nurin masih menatap punggungku yang pergi meninggalkannya setelah kejadian yang membuat kehormatannya hampir hilang begitu saja. “Revin…” teriak Nurin
Langkah kakiku berhenti saat mendengar namaku. “iyah ?”
“Kapan aku bisa menemuimu lagi ?” tanya Nurin dengan nada meninggi.
Aku menghempaskan napas ke udara “Bulan depan, tepat tanggal 7 nanti. di kosanku alamatnya Jalan Achmad Yani No.17. lebih tepatnya temui bapak Yunus jika tidak tahu” ucapku mengakhiri pertemuan ini.
Nurin terdiam setelah mendengar alamat kosanku. Bukan tidak ingin bertemu lagi denganku. Melainkan ada hal yang membuatnya tidak bisa dijelaskan. Bagaimana mungkin, Nurin akan menemuiku bulan depan, disaat Nurin dan Calon Suaminya sedang merayakan hari bahagia. Dimana hubungan antara Nurin dan laki-laki yang saat ini terikat dalam suatu komitmen akan di sahkan dalam waktu dekat. Dan Nurin harus memilih apakah ia akan menumui cinta pertamanya yang sudah menyelamatkan nyawanya tadi atau lebih memilih merayakan hari bahagianya. Hidup selalu punya pilihan dan kejutan yang tidak terduga. Bukan ?

07 Juli…


 



***

If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends

***

07 Agustus…

Ira tengah merapihkan dirinya agar terlihat menarik dan cantik. Polesan Make Up menutupi wajahnya hingga berbeda tidak seperti wajah aslinya. Berbeda dari biasanya, Ira sengaja memilih pakaian dengan model White Sleeveless Classic Shirt yang lagi trend di kalangan anak muda zaman sekarang. Hampir 30 menit lamanya, Ira membutuhkan untu merapihkan dirinya. Tanpa menunggu lama lagi, Ira langsung menunju alamat yang satu bulan diberikan oleh Revindra saat bertemu. Ada raut wajah bahagia yang sempat menghilang begitu saja.
“Semoga aku tidak telat untuk menemui revin nanti” Batin Ira sambil mengendari mobil miliknya. Sesekali ia merapihkan diri di balik kaca dalam mobilnya, sekedar memastikan tidak ada yang kurang.
Mobil yang Ira kemudikan melaju dengan babas membelah jalanan di kota ini. hanya membutuhkan 45 menit saja, Ira mampu menemukan alamat yang diberikan Revin tempo hari. Mobil Ira sudah terparkir di halaman rumah tua yang terbuat dari kayu dan tanpa di beri warna dinding rumahnya. Ira keluar dari dalam mobil, untuk kesekian kalinya Ira merapihkan dirinya di balik kaca mobilnya.
“Permisi…” ucap Ira sambil mengetu rumah tua itu.
Tidak ada balasan dari dalam rumah. Ira mencobanya sekali lagi. “Permisi…” ucap Ira kembali dengan suara yang keras. Dan ternyata ada respon dari dalam rumah
“iyah tunggu sebentar” jawab suara laki-laki paruh baya dari dalam rumah.
Laki-laki yang keluar dari dalam rumah tua itu kira-kira berusia 60 tahun dengan rambut yang sudah memutih. Laki-laki itu menyambut kedatangan Ira dengan ramah.”Maaf Pak, apa benar ini rumahnya Bapak Yunus ?” tanya Ira untuk meyakinkan kalau ia tidak salah datang.
“Yah betul, saya Bapak Yunus. Ada keperluan apa ya menemui bapak ?’ tanya Bapak Yunus dengan bingung melihat perempuan cantik datang kerumahnya.
“Begini pak, saya teman dekatnya Revindra sewaktu SMA dulu.. dan bulan kemarin, Revindra memberikan alamat rumahnya kepada saya. Kalau boleh tau apakah ada Revindranya di rumah ?” tanya Ira pada inti pembicaraan.
Bapak Yunus terdiam beberapa sesaat. Seperti ada yang ingin ia katakan secepatnya mengenai hal ini. “Oh.. nak Revin, lebih enak kita ngobrolnya sambil duduk aja yah. Maklum bapak sudah tua hehe” ucapnya dengan diselingi tawa
Ira ikut tertawa renyah. Bapak yunus diam begitu lama, dibagian mana yang akan ia ceritakan terlebih dahulu mengenai keberadaan Revindra. Sementara Ira masih menunggu jawaban dari Bapak Yunus. Dan tiba-tiba saja…
“Assalamualaikum…” ucap salam perempuan yang datang dengan menggunakan gaun pengantin lengkap.
“Wa’alaikumsallam…” jawab Ira dan Bapak Yunus bareng.
Perempuan muda itu, langsung mencium telapak tangan Bapak Yunus dan Perempuan itu langsung berjabat tangan dengan Ira. “Permisi pak sebelumnya, perkenalkan nama saya Nurin Amanda. Saya teman dekatnya Revindra sewaktu kuliah dulu. Maksud dan kedatangan saya ke sini ialah saya ingin bersilahturahmi dengan Revindra. Kebetulan bulan lalu, Revindra memberikan alamat kosannya dan menyuruh saya untuk berkunjung tepat bulan ini” ucap Nurin menjelaskan dengan nada tenang.
“mengapa bisa samaan ?” tanya Bapak Yunus yang begitu bingung dengan kedatangan dua perempuan cantik sekaligus.
Ira dan Nurin hanya terdiam. “hmm.. kalau begitu, mari ikuti bapak melihat sesuatu” ajak Bapak Yunus dengan jalan yang terlihat payah. Sementara Ira dan Nurin mengekorinya dari belakang.
Tibalah disalah satu rumah yang sudah rata dengan tanah dan tersisa bekas-bekas kebakaran dengan diberikan garis polisi. Hingga membuat Ira dan Nurin berpikir apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Bapak Yunus mengajaknya ke tempat ini.
“maksud bapak mengajak saya dan dia ke sini apa yah ?” tanya Ira tidak begitu paham apa maksud dari Bapak Yunus.
“jadi gini ceritanya, sebulan lalu terjadi peristiwa kebakaran hebat di rumah bapak dulu. Saat peristiwa kebakaran itu Bapak berada di dalam rumah. Bapak tidak bisa menyelamatkan diri dari banyaknya api yang membakar rumah bapak. Hingga akhirnya, ada seorang pemuda yang nekat menolong bapak untuk keluar dari kobaran api. Bapak kenal dekat sama pemuda itu, pemuda itu sering mengunjungi pengajian rutin ataupun ikut kegiatan kemasyarakatan disini. Pemuda itu bernama Revindra. Saat bapak dan nak Revin ingin keluar dari dalam rumah. Sayang, salah satu balok menimpa kepala nak Revin hingga terjatuh dan tidak sadarkan diri. Bapak diselamatkan oleh warga yang lain. Sementara nak Revin masih berada di dalam hingga tubuhnya terpanggang disana. Bapak merasa bersalah atas kejadian itu…” ucap Bapak Yunus sambil menjelaskan kronologis kebakaran hari itu.
“bapak yunus engga lagi bercanda kan ?” tanya Nurin setelah mendengar penjelasn Bapak Yunus yang membuatnya tidak percaya.
“iyah, bapak lagi engga bercanda kan ? satu bulan yang lalu saya bertemu dengan Revin. Bahkan Revin menemani saya untuk minum kopi hari itu’ timpal Ira yang semakin tidak percaya atas penjelasan Bapak Yunus.
Bapak Yunus dengan tenangnya menjawab “mari ikut bapak. Mungkin ini akan menjawab semua keraguan kalian pada bapak” ajak Bapak Yunus ke salah satu tempat yang tidak jauh dari lokasi kebakaran.
 Bapak  Yunus mengajak Ira dan Nurin pergi ke Tempat Pemakaman Umum. Hingga akhirnya, Bapak Yunus menunjukkan salah satu kuburan tempat dimana Revindra beristirahat dengan tenang. Ira dan Nurin semakin tidak percaya, tubuh ke dua perempuan itu tidak bisa menompang lagi untuk berdiri dengan gagah. Dan yang lebih mengejutkannya lagi dari nisannya bertuliskan “Wafat : 07 Juli…” dimana saat Ira dan Nurin bertemu dengan Revindra untuk yang terakhir kalinya. Tepat di hari ini adalah hari ke tiga puluh dimana Revindra pergi untuk selama-lamanya. Hingga akhirnya, Ira dan Nurin pingsan tepat di samping peristirahatan terakhir Revindra.
 

-TAMAT-


EPILOG

Penyesalan memang bukanlah hal yang baik, terlebih jika penyesalan itu hadir karena kita melepas orang yang sangat berarti bagi kita. Kita yang dulu tak menganggapnya ada, Kita yang selalu menepis rindunya, dan kita yang merasa bahwa dia bukanlah orang yang terbaik bagi diri kita.

***

Ketika semua orang pergi, perlahan kita mengerti bahwa sesungguhnya cinta itu ada. Cinta yang pernah kita tinggalkan. Cinta yang pernah kita lepaskan begitu saja. Dia yang sungguh-sungguh menjagamu tanpa pernah memintamu imbalan apapun. dia yang selalu berusaha ada untukmu tanpa pernah meminta ucapan terima kasih darimu. Atau dia yang selalu mencoba mengusap air matamu meski kau tak pernah memintanya.
***

Hidup selalu memberi kita pilihan melewati jalan yang berliku. Jika di suatu waktu nanti kau kembali bertemu dengan orang yang sangat mencintaimu, jangan pernah malu mengucapkan maaf dan katakanlah padanya bahwa dialah sesungguhnya orang yang sanggup menjagamu dari apapun itu. sayangnya, orang yang kamu cintai sepunuh hati tidak mampu melihat senyum khas darimu lagi. Tidak akan pernah bisa membalas lagi cintamu. Dia sudah pergi jauh melihat semesta yang sesungguhnya tanpa mengajak kamu disana.

‘Cause what if I never love again?’
Adele – All I Ask