Rabu, 06 April 2016

Cerpen

                 Prayoga D Wibowo

                             FROZEN

☆☆☆

"Kamu punya Hak mempatahkan semuanya termasuk harapanku,
Tapi..
Suatu saat nanti, kamu memintaku untuk kembali terbang,
Aku punya alasan kenapa aku enggan terbang bersamamu,
Walaupun aku tahu, Cakrawala lebih indah daripada luka,
Aku Trauma-"

☆☆☆

Lelaki itu masih asyik melipat-lipat kertas origami entah apa yang bakal dia buat seakaan dia memiliki hobby dan dunia tersendiri. Tangannya begitu mahir melipat kertas origami hingga membentuk suatu hasil yang dibilang cukup bagus.

Sebuah origami berbentuk Heart berwarnakan, warna merah muda sudah dia selesaikan.

Lelaki itu mencari sesuatu yang berada di meja belajarnya. Entah apa yang bakal perbuat.

Penanya asyik menari-nari diatas lembaran kertas. Kertas itu dirobeknya kemudian dia menulis lagi. Mungkin karena hasil tulisannya kurang bagus. Alhasil kertas itu disobeknya entah sudah berapa lembar kertas yang disobeknya.

Waktu terasa begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul 21:00 itu berarti lelaki itu sudah menghabiskan waktu menulisnya selama 2 jam.

Lelaki itu memang sudah terbiasa menulis. Kata demi kata diramunya menjadi sebuah kalimat indah. Bukan , dia bukan penulis yang begitu ternama ataupun seorang yang pandai merangkai kata demi mendapatkan hati seorang wanita.

Bukan itu alasannya yang membuat dia merelakan sebagian besar waktunya menulis.

Mungkin jika dia jawab pasti kalian akan menertawakannya, menganggapnya hanya bagian alasan konyolnya.

Jika kamu memaksanya untuk menjawab dan inilah jawabannya.

Kamu..

Yah.. kamu tidak akan pernah tau kalau kamu selalu menjadi perhatiannya. Kalau kamu menjadi alasan kecilnya yang dia tutup rapat rapat.

Kamu juga yang sudah membuat separuh malamnya terganggu. Bukan , maksud aku separuh malamnya begitu spesial dibandingkan malam malam sebelumnya. Bahkan tanpa ada bintang bintangpun malamnya terasa begitu indah.

☆☆☆

Cahaya matahari menembus celah celah kaca rumahnya. Membuatnya terbangun dari mimpinya. Wanita yang selalu disapa Adel bergegas pergi ke kamar mandi.

"Adel , cepetan kakak kamu udah nunggu nih"teriak mamah dari bawah

"Iyah mah , Adel lagi pake sepatu"

Adel begitu semangat menyambut hari ini.

"Kamu kenapa del , seneng banget kayanya hari ini ?"tanya Mamah sambil merapihkan bekalnya

"Engga apa apa" jawab adel nyengir kuda

"mah , Adel pamit dulu yah"pamit Adel sambil mencium telapak tangan mamah

"Iyah hati hati"

"Dadah mamah" ucap adel kemudian menghilang dibalik pintu

Setelah sampai didepan gerbang sekolah Adel. Adel langsung bergegas begitu saja tanpa memperdulikan kakanya.

"Wy .. , loe engga pamit sama gue ?"teriak Ka' Riko

"Engga , siapa loe wleee"jawab adel menjulurkan lidahnya

"Awas sihh loe yah , gue engga anter lagi sih"gerutu ka Riko

Adel menghilang begitu saja dibalik pintu gerbang sekolah.Saat Adel tiba dikelas betapa terkejutnya melihat sebuah origami berbentuk hati dan setangkai bunga mawar dan tak lupa selembar surat entah siapa yang begitu baik memberikan ini semua.

To : Adel
Nanti pulang bareng yuk ! Aku tunggu di depan gerbang sekolah yah

"Dari siapa tuh del"ucap Rara teman sebangku Adel

"Astagfirullah, loe mau buat gue mati muda yah ra"gerutu Adel sambil melipat tangannya

"Heeh , habisnya loe gue lihatin dari luar senyum senyum melulu sih"

"Engga sih"elakk Adel

"Emangnya ada apa sih del"tanya Rara yang tidak bosen bosennya membujuk adel

"Mau tau" ucap Adel mengangkat alisnya

"Mau"

1..

2..

3..

"Loe kepo Ra"ucap Adel menjulurkan lidah dan berlari keluar kelas

"Adell awas sihh loe" teriak Rara mengejar Adel

BRUK !!

"Sorry , "ucap pria itu sambil mendongakan kepalanya

"Iyah engga apa kok,"

Hening..

"Kenapa harus dia sih , emangnya engga ada cowo lain apa"batin Adel

"Sekali lagi gue minta maaf"ucapnya tersenyum simpul

Adel tidak menjawabnya hanya memberi anggukan kepala menandakan itulah jawabanya.

Pria itu pergi meninggalkan Adel. Sementara Adel masih berdiam diri rasanya dia ingin tidak menemukan pria itu lagi.

"Ciyeee yang tadi ada adegan romantis"ledek Rara dari belakang

"Apaan sih ,"jawab Adel kesal

"Kenapa emangnya ? Dia itu pinter melukis tau"ucap Rara kembali
Menaikkan kedua alisnya

"Bodo amat, penting banget gue harus tau siapa dia"

"Yeee.. loe kalau jatuh cinta sama dia baru tau rasa loe"

"Gue jatuh cinta sama dia ? Engga level kali , tipe gue bukan kaya gitu kali"jawab Adel

"Emang tipe loe kaya gimana ?"

"Sumpah dehh , hari ini loe kepo + nyebelin ra"jawab Adel pergi meninggalkan Rara

☆☆☆

Bintang masih nampak terlihat di cakrawala masih setia menemani bulan menerangi malam malam kelabu. Tidak ada yang mengetahui hal banyak kenapa bintang rela menemani bulan.

Biasanya gerbang sekolah dibuka tepat pukul 05:45 itu artinya 10 menit gerbang sekolah bakalan dibuka. Dikayuh sepedanya sangat cepat berharap saja , tidak ada orang yang melihat aksinya.

Benar saja , baru ada penjaga sekolah dan security.

"Pagi pak" sapa Alvin sambil menuntun sepedanya ke tempat parkir

"Tumben pagi pagi udah dateng"jawab pak Gito terlihat dari name tag di uniformnya

"Iyah nih pak , biasa piket"jawab Alvin

☆☆☆

Tepat didepan pintu kelas 11 B. Perasaannya semakin tidak tenang ,

"Kasih engga yah?"batin Alvin

Langkahnya meninggalkan kelas 11 B. Tapi, Alvin berubah pikiran Alvin langsung masuk kedalam kelas tersebut.

Dia cari tempat wanita itu duduk. Matanya masih mengamati tata ruang kelas ini. Sekilas memalingkan kearah luar kelas sekedar memastikan tidak ada yang melihat aksinya.

Oke,  setangkai bunga mawar dan sebuah Origami berbentuk Heart diletakkan dikolong mejanya. Sementara tangannya masih menggenggam selembar kertas.

"Oh.. ayolah kenapa jadi benar benar dilema sih"gerutunya dalam hati

"Loe ini lelaki , kenapa engga langsung aja berkenalan dengannya ? Kenapa loe melakukan cara konyol ini?" Batinnya lagi lagi membuat Alvin frustasi.

Okee .. sebaiknya Alvin harus berani. Toh tidak ada salahnya mecoba berkenalan melalui surat. Yahh.. terbilang cukup kuno sih dan sudah tidak zaman lagi kalau dibilang.

Tidak peduli !!.

☆☆☆

BRUK !!

Alvin baru saja menabrak gadis itu hingga membuatnya terjatuh.

"Sorry " ucap Alvin sambil mengulurkan tangannya

"Iyah engga apa apa kok," jawabnya

Hening..

"sekali lagi gue minta maaf yah"

Wanita itu hanya memberikan anggukan kepala menandakan kalau dirinya tidak ada apa apa.

Waktu terasa begitu cepat, Bel istirahat terdengar. siswa siswi berhamburan keluar kelas dan bergegas pergi kekantin mengisi perutnya terasa lapar.

Sementara Alvin membawa perlengkapan lukisnya. Dan pergi ke tempat rahasianya yang berada dilantai atas.

Setiap hari , Alvin selalu ketempat ini. Alvin menomor duakan tempat ini setelah ada tempat favoritnya untuk meluangkan waktunya melukis.

Tanganya begitu lincah menggambar sebuah sketsa wanita itu tengah tersenyum sangat.. manis.

Setelah selesai Alvin langsung mencari cat warna yang menurutnya cocok dengan sketsanya.

☆☆☆

Adel masih mengamati laki laki yang tengah asyik bermain basket. Bahkan , Adel menyukai kapten basket sekolahnya secara diam diam. Dengan postur tubuh atletis ditambah lagi otot bisepnya besar dan otot perutnya yang terlihat six packe membuat Adel tidak mampu berpaling darinya.

Adel lupa kalau dirinya membiarkan bekalnya terbuka begitu sengaja.

Tiba tiba seekor kucing begitu cepat merampas makanannya dan pergi begitu saja.

"Kucing sialan!!!" Gerutu Adel begitu kesal.

Dipinggir lapangan laki laki yang biasa disapa Dev itu mengamati Adel dipinggir lapangan.

Dev menghampiri Adel yang masih memegang bekal yang selalu di bawa.

"Hai , kamu sedang apa ?"tanya Dev

Adel mengangkat wajahnya menatap laki laki yang berada tepat didepannya.

SKAK MAT !!

☆☆☆

Bel pulang sudah berdering , siswa siswi bergegas merapihkan bukunya. Alvin langsung membawa sepeda kesayangannya kedepan gerbang sekolah.

Satu persatu siswa siswi melewatinya namun tidak ada tanda tanda orang yg dia cari melawatinya.

Alvin masih berharap penuh kalau wanita itu pasti mau pulang bareng dengannya.

10 menit ..

Alvin masih menunggunya, matahari masih nampak menyinari, cahayanya masuk disela sela baju seragamnya. Seragam yang digunakannya sudah basah dibanjiri keringat. Alvin tidak mempedulikan hal itu.

"Mungkin dia lagi piket"pikirnya

20 menit..

Cahaya matahari yang mengganggunya sudah tidak  terlihat sebagian Tenggelam diufuk barat.

"Kemana dia , apa mungkin ..?"batinnya

30 menit..

Langit membentang begitu luas, menggantinya menjadi warna hitam kelam,  menambahkan kemerlap bintang bintang bertaburan disana berlomba lomba memancarkan cahaya paling terang.

Alvin masih menunggu didepan gerbang sekolah. Secuil harapannya hilang begitu saja menggantinya menjadi rasa kecewa.

Entah , Alvin tidak akan pernah menyerah. Tidak akan mengurangi rasanya sedikitpun walaupun orang yang dia cintai tidak menganggapnya ada,

Untuk mengangkat wajahnya menatap Alvin saja terasa berat. selalu begitulah hakikatnya, bahwa perempuan tidak akan pernah mengatahui banyak bagaimana perjuangan seorang laki laki memperjuangkannya.

Selalu begitu ~

☆☆☆

Hening ..

"Nanti loe ada acara engga ?"tanya Dev memulai obrolan

"Hmmp.. engga , emangnya kenapa ?"jawab Adel gugup

"Gue mau ngajak loe pulang bareng , bisa engga ?"

Tanpa loe mintapun gue bakalan mau kok..

"Boleh ,"

"Nanti gue tunggu didepan yah"ucap Dev kemudian melanjutkan bermain Basket

Sementara Adel masih tidak percaya begitu cepat perkenalan dengan orang yang dia kaguminya.

Jam terasa berputar melambat satu menit pun terasa seperti 1 abad. pada saat KBM berlangsung pun Adel tidak fokus. Bahkan , Adel memandangi jam dinding dibandingkan memerhatikan pak Efendi guru Matematika yang terkenal Killer.

"Adell , "ucap Rara sambil menyikut lengannya

".."

"Adel , loe diliatin tuh sama pak efendi"

Lagi lagi omongan Rara tidak didengar Adel.

Tepat sekali , tepat didepan wajah Adel penghapus kelas mendarat mulus.

"Adell , kamu kedepan dari tadi saya lihatin kamu tidak fokus, tolong terangkan kembali apa yang saya jelasin tadi,"

"Saya pak ?"tanya Adel sambil menunjuknya

"Iyah Adelia, Sekarang !"bentaknya

Mampus !!!, Help me Please ~

☆☆☆

Hanya dipisahkan jarak berapa centimeter, jok motor Dev membuatku lebih mendekat dengannya.

Kemerlap lampu jalan menerangi. Sepeda motor Dev membelah jalanan ibu kota ini. Adel tidak tau kemana dia diajak olehnya.

Dalam pikirannya Adel merasa senang bisa lebih.. dekat dengan orang yang dia kagumi. Kapten Basket sekolahnya.

19:00 Adel baru tiba didepan rumahnya.

"Terima kasih yah " ucap Adel malu malu

"Hmm , iyah"

"Jadi ngerepotin nih"

"Engga kok , tenang aja "

Hening ..

"Kalau gitu , gue balik dulu yah"pamit Dev sambil mengenakan Helm nya

"Engga masuk dulu" tawar Adel."

"Engga usah , terima kasih"

☆☆☆

Malam ini Alvin masih melakukan hal yang sama, rutinitas selain belajar dan mengerjakan pr rutinitas yang mungkin tidak mendapatkan hasil apa apa. Baginya ini aktifitas yang terbilang unik dan konyol.

Padahal Alvin baru saja mengenal wanita itu melalui demo eskul lalu. Sayangnya penampilan eskulnya hanya menampilkan beberapa menit saja, sejak dari situlah ada rasa yang menggangunya, ada rindu yang mengoyak relungnya, ada bagian yang tidak bisa disebutkan namun bagian itu selalu memaksanya untuk diperjuangkan.

Cinta..

Sebelumnya Alvin tidak pernah percaya hal seperti itu. Hatinya terkunci rapat rapat baginya mengejar impian adalah hal yang harus diprioritaskan.

Ternyata tidak , nyatanya Alvin sudah "Jatuh" dan mempercayai hal itu.

Tangannya kembali melipat lipat kertas origami itu, kali ini Alvin sengaja membuat origami berbentuk kupu kupu. Mungkin seperti inilah perasaan Alvin untuknya seperti Kupu kupu yang memiliki bagian terindah dipenuhi warna warni dan juga mampu menembus semesta.

☆☆☆

"CINTA ITU SEPERTI .. METAMORFOSIS KUPU KUPU , UNTUK MENEMBUS CAKRAWALA KAMU HARUS RELA MENUNGGU DAN MENJAGANYA"

Sebuah origami kupu kupu sudah diselesaikan tidak membutuhkan waktu banyak untuk menyelesaikannya.

Alvin langsung mengambil perlengkapan lukisnya dan pergi ketempat favoritnya tempat membuat dirinya merasa jauh lebih tenang menuangkan idenya diatas kertas gambar.

Melukis salah satu hobby nya, banyak hasil lukisan Alvin dipajang didalam rumahnya. Alvin tidak berniat membawanya kesalaha satu pameran. Menurutnya hasil lukisan banyak memiliki kekurangan.

☆☆☆

Siall !!!

"Udah jam setengah 7 lagi"teriak Adel

Tidak membutuhkan waktu banyak merapihkan dirinya. Bahkan Adel tidak memiliki banyak waktu merias wajahnya Alhasil penampilannya terlihat kacau hari ini.

"Mamah kok engga banguni Adel sih"gerutunya sambil mengikat tali sepatu

"Mamah udah bangunin kamu , kamunya aja yang tidurnya kaya kerbau"ledek mamah

"Ahh, nyebelin bener "

Adel lupa kalau hubungan dia dengan ka Riko tidak lagi bersahabat.

"Mah , ka Riko mana sih ?"tanya Adel

"Dia udah berangkat dari tadi , kamu disuruh naik ojek sama dia"ucap mamah

"Nyebelin bener sih jadi kakak"gerutunya kali ini

Adel langsung lari sekencang mungkin kedepan kompleks rumahnya mencari pangkalan ojek terdekat. Bisa kacau kalau tidak ada ojek Adel tidak memerhatikan bekal yang sudah siapin sama mamahnya.

"Mana sih tukang Ojek"batinnya

☆☆☆

Terkutuk lah hari ini !!

Pertama , Adel telat bangun pagi Adel tidak mau memaafakan mamah, mamah tidak membangunkannya hingga membuat dirinya bangun telat

Kedua , Adel benar benar kesal kakaknya tidak mau menunggunya dan langsung pergi begitu saja tanpa mengantarkannya pergi kesekolah

Ketiga , Tukang ojek yang dicarinya membuat kekesalan Adel meningkat

Keempat, Dan puncaknya Adel dihukum pula , disuruh hormat ke tiang bendera sampai istirahat

Benar benar membosankan dan menyebalkan bukan ?.

Adel lupa kalau ia lupa membawa bekal dan uang jajanyapun tidak cukup untuk mengisi perutnya yang lapar.

Tiba tiba ..

"Adel , ini buat loe"ucap Perempuan yang tidak dikenalnya

"Buat gue ? , "jawab Adel heran

"Iyah buat Loe"

"Dari siapa ?"

"Engga tau" ucapnya kemudian meninggalkannya setelah memberikan bekel dan air mineral

Adel masih mengamati bekal yang baru dia terimanya.

Siapa orang yang benar benar baik memberinya bekal ?

Tanpa pikir panjang , Adel langsung melahap habis isi bekelnya. Adel tidak tahu kalau dia sedang diperhatikan oleh seseorang dari kejauhan..

☆☆☆

"Kemana dia ? Apa jangan jangan dia engga masuk sekolah?"batinnya saat melintasi kelasnya

Alvin tidak mengatahui wanita yang dia sukai saat ini, menanyakan tentang wanita itu ke temannya saja Alvin merasa malu. Alvin benar benar minim berita tentang wanitanya.

Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang tidak asing lagi baginya siapa lagi kalau bukan..

ADEL

Wanita itu tengah mendapat hukuman dari guru piket dan menyuruhnya hormat ke tiang bendera.

Alvin merasa kasihan melihatnya dihukum. Andai saja Alvin bisa menemaninya ditengah tengah teriknya sinar matahari.

Sementara ditangannya masih digenggamnya bekel makan siangnya dan air mineral.

Alvin berniat memberikan bekal makan siangnya untuk Adel. Tapi , bagaimana bisa dia melakukan hal itu, jangankan memberikan bekal, berbicara dan bertatap muka saja Alvin merasa canggung.

☆☆☆

Langkah Alvin terhenti saat dirinya dipergoki Rara teman Adel dari kelas ini.

"Loe , mau ngapain masuk kekelas gue ?"tanya Rara itu sambil mengecek ruang kelasnya

Seperkian detik , Wanita itu merasa kecolongan. Alvin berhasil melarikan diri darinya untung saja Dewi Fortuna berpihak padanya.

Mau ditaruh dimana harga dirinya kalau satu sekolah pada mengetahui kalau dia begitu pecundang tidak mampu memikat hati seorang wanita. Padahal tidak seperti yang mereka pikirkan, tujuannya melakukan hal itu karena Alvin ingin berkenalan dengan wanita yang selalu menggangu separuh malamanya.

Hanya itu ..

☆☆☆

"Del , kayanya gue tau deh siapa yang kirimin ini semua"ucap Rara sambil menunjuk Origami kupu kupu dan setangkai bunga mawar

"Serius loe tau ?"tanya Adel begitu tidak percaya

"Iyah , "

"Siapa orangnya ?"tanya Adel kali ini sudah tidak sabar mendengar nama orang yang selalu membuat paginya selalu tersenyum

"Gue lupa namanya , pas gue pergoki dia langsung kabur"jawabnya sambil memperlihatkan giginya

"Ah loe , gue kira loe tau"

Adel masih mengamati pemberian yang selalu dia dapatkan setiap hari. Benda benda yang dia dapatkan selalu berbeda setiap hari. Sementara Rara masih mengingat dan mencari cara menjebak pria misterius.

"Del , kayanya gue punya cara deh"pikir Rara sambil memijit keningnya

"Apa ?"

"Tapi , loe harus janji sama gue , ikutin semua yang gue bilang"

"Iyah iyah Rara bawel"

☆☆☆

Esok harinya..

Rara sudah mempersiapkan sebuah rencana menjebak siapa yang selalu mengirimkan sebuah origami dan setangkai bunga mawar.

Seperti rencana yang disusunya , Rara dan Adel mengintai orang tersebut dari kejauhan. Rara memastikan kalau tempat pengintaiannya aman dan tidak terlihat.

15 menit berlalu ..

Adel hampir putus asa menunggu siapa sebenarnya orang yang memberikan ini semua.

Tiba tiba , laki laki yang dibilang Rara kemarin benar. Laki laki itu masuk kedalam kelas Adel membawa sesuatu yang dipegangnya. Sebelum masuk kedalam kelas laki laki itu memastikan tidak ada yang melihat aksinya kali ini.

Rara dan Adel perlahan menghampiri kelasnya layaknya seperti halnya film James Bond ataupun film action lainnya. Langkah Rara dan Adel terhenti didepan pintu kelas

Rara langsung memberikan kode pada Adel untuk menutup pintu kelasnya.

1..

2..

3..

"Jadi loe yang ngasih gue itu semua"ucap Adel dengan sinisnya

Laki laki itu begitu terkejut melihat orang lain yang mengetahui aksinya.

"Benar kata gue kan del , ini kutu kupretnya"tambah Rara membuat laki laki itu semakin terpojok

Sementara laki laki itu masih terdiam menunduk seakaan mengakui kesalahannya yang sudah masuk kelas lain secara tersembunyi.

"Loe ngapain ngasih gue kaya gini ginian ?"ucap Adel sambil melipat tangannya

".."

"Jawab dong !! Loe punya mulut kan "bentak Adel

".."

"Oke kalau loe engga jawab , gue sama Rara bakalan laporin loe ke guru BP"ancam Adel

"Syukur syukur orang kaya loe itu di DO dari sekolah ini" tambah Adel

☆☆☆

Adel benar benar kecewa dengan hasil putusannya yang hanya diberikan hukuman ringan membersihkan toilet sekolah. Kenapa laki laki itu tidal dikeluarkan dari sekolah ?

Jelas jelas laki laki itu sudah masuk kekelas lain tanpa seizin siswa siswi kelas 11 B. Bagaimana kalau perlengkapan yang ada didalamnya hilang ?

"Benar benar tidak adil hukumannya" batin Adel

"Andai saja aku tau , bagaimana cara berkenalan dengan wanita untuk aku jadikan seorang sahabat. Mungkin aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi dan membuatku tersiksa. Sayangnya aku tidak tau bagaimana harus memulainya dan bagaimana cara aku mengulurkan tanganku supaya aku mengetahui namanya"

Ada perasaan tidak enak melihat laki laki itu dihukum guru BK. Rara sendiri benar benar tidak kuasa melihatnya. Seharusnya Rara tidak membuat rencananya. Toh tidak ada salahnya laki laki itu membuat sahabatnya bahagia dengan pemberian sesuatu untuk sahabatnya.

Alvin baru saja menyelesaikan hukumannya membersihkan toilet sekolah. Sementara Adel merasa puas bisa memberikan pelajaran

Adel membuang muka saat berpapasan dengannya. Seakaan tidak ada rasa bersalah sama sekali.

☆☆☆

"Penjahat itu harus dihukum"ejek Adel saat Alvin berpapasan dengannya

Sementara Alvin masih diam tidak menanggapi ucapannya. Memang nyatanya Alvin salah melakukan hal itu. Terlalu bodoh betul , hanya demi berkenalan dengannya sampai harus merlakan harga dirinya diinjak injak dan malu dihadapan guru guru.

☆☆☆

Bel pulang terdenger begitu keras. Siswa siswi bergegas merapihkan bukunya.

"Ra , ko Ka Dev engga anter gue lagi yah"tanya Adel sambil merapihkan buku bukunya

"Dev anak basket ? Sejak kapan dia nganterin loe del ?"ucap Rara seakaan tidak percaya, jarang sekali Seorang Dev kapten basket sekolah mau anterin cewe

"Iyah siapa lagi kalau bukan dia, please yah jangan kepo" ucap Adel

"Yeee, gue kan mau tau Del"

Adel tidak menjawab ucapan Rara, Adel langsung pulang. Saat didepan Gerbang sekolah lagi lagi Adel harus bertemu dengan Alvin. Adel langsung memalingkan wajahnya.

"Penjahat ko malah naik sepeda"sindir Adel

"Usshh , loe engga boleh gitu del , "bela Rara

"Loh , loe ko malah belaiin dia sih Ra , loe ?"tanya Adel

"Bukan gitu , loe tau sendiri kita udah buat dia kena hukuman"jelas Rara

"Stop !! Loe nyebelin tau gak Ra , gue kecewa sama loe"

☆☆☆

Seperti malam malam sebelumnya Alvin selalu melakukan hal yang sama. Tidak ada kat menyerah baginya untuk mengenal wanita itu lebih dekat , walaupun perbuatannya membuatnya kecewa dan terluka.

Alvin menghirup secangkir teh hangat buatan bibi. Tangannya begitu mahir melipat-lipat kertas itu menjadi suatu bentuk. Bahkan kamarnya pun dipenuhi puluhan origami menghiasi langit langit ruangan kamarnya.

Tidak hanya itu aja , Setiap dinding kamarnya terdapat beberapa lukisan dari hasil karyanya.

Alvin selalu meluangkan waktu malamnya melipat lipat kertas origami dan melukis. Dilihatnya kalender berada meja belajarnya ada satu tanggal yang dilingkari oleh Alvin. Itu berarti tinggal 1 minggu lagi.

Digenggamnya sebuah Origami yang baru selesai dibuatnya. Sambil memimkirkan bagaimana caranya Alvin sekilas melihat lukisan yang dipajang di sudut ruangan kamarnya.

Sementara jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Alvin merebahkan tubuhnya diatas bad cover melepaskan rasa lelahnya selama satu hari ini. kemudian menutup matanya hingga mentari membangunkannya kembali.

☆☆☆

Tidak ada kejutan yang selalu membuatnya tersenyum dipagi hari. Tidak ada kata puitis yang menyentuh hatinya. Tidak ada origami melengkapi harinya.

"Kenapa engga ada kejutan lagi?"gumam Adel

Tangan Adel menyentuh kolong meja untuk memastikan apakah ada origami atau engga ?.ternyata benar saja kolongnya benar benar kosong.

Banyak pertanyaan didalam pikirannya Adel berusaha melenyapkan. Toh , karena dia lah orang yang selalu memberinya kejutan mendapatkan hukuman.

Pikirannya tidak bisa konsentrasi saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Apa mungkin Adel meminta maaf padanya ? Tidak ! Adel tidak salah tidak ada kamusnya kalau ia salah. Adel tidak ingin disalahkan walaupun kalau kenyataannya memang Adel yang salah. Tidak ada salahnya lelaki itu memberikan sesuatu untuknya bukan ?.

Mulut Adel terasa kelu mengucapkan kata maaf ataupun mengatakan ucapan terima kasih atas pemberiannya.

"Del , dari tadi masuk sampe istirahat loe kaya kelihatan engga fokus ?"tanya Rara sambil membuka bekel

"Gue engga apa apa kok ra"jawabnya sambil menyeruput minuman yang baru saja Adel beli

"Yakin ?"tanya Rara kali ini untuk memastikan apakah sahabatnya benar benar tidak apa apa

"Iyah ,"

"Kemana dia ,? Biasanya dia selalu melintas tapi sekarang-" batinnya

☆☆☆

Tepat dihari ke lima setelah kejadian itu. Adel tidak mendapatkan sesuatu yang membuatnya selalu tersenyum dipagi hari. Hasilnya selalu sama kolong mejanya selalu kosong, tidak ada Origami ? Tidak ada setangkai Bunga Mawar ? Benar benar tidak ada.

"Del , loe kenapa sih dari tadi lihatin ke kolong meja melulu"tanya Rara

"Engga apa apa sihh , cuman aneh aja"jawab Adel datar

"Aneh kenapa ?"

"Ya... aneh aja , biasanya selalu ada bunga sama origami , ini udah hari ke-5 gue engga dapetin itu"ucap Adel

"Hmmm, udah dipastin belom?"tanya Rara meyakinkan dirinya

"Udah Rara , kalau engga percaya lihat aja sendiri nih"

"Engga lah kolong meja loe banyak sampah bau pula"ledek Rara sambil berlari

"Rara "teriak Adel mengejar sahabatnya

☆☆☆

Adel sudah lama engga pergi keperpustakaan sekolah biasanya hampir setiap minggu Adel selalu datang. Mungkin memang lagi engga ada tugas sekolah yang  membuatnya harus menyelesaikan secepat mungkin.

Sengaja Adel engga mengajak sahabatnya yang satu ini. Sepertinya tujuan pergi ke perpustakaan bukan hanya ingin membaca buku melainkan Adel ingin menenangkan dirinya dengan caranya.

Langkahnya terhenti saat melihat lelaki yang membuatnya kesal. Dipegang knop pintu perpustakaan sementara pandangannya masih mengamati lelaki tengah asyik membaca.

Dengan mengumpulkan keberaniannya Adel membuka knop pintunya. Toh , memang kenyataanya kalau dirinya tidak salah membuatnya merasa malu dihadapan guru bukan ?.

Adel memilih tempat duduk menghadap ke arah jendela. Mungkin karena Adel tidak ingin melihat sosok lelaki menyebalkan itu sementara laki laki itu masih serius membaca tidak memperhatikan sekelilingnya.

☆☆☆

Alvin menuntun sepedanya yang bocor. Tanpa sadar Rara mengkuti Alvin dari belakang, Tiba disuatu tempat yang tidak Rara ketahui Alvin menyenderkan sepedanya.

Tanpa menunggu lama lagi, Alvin mengambil kertas,pensil,dan penghapus dan memulai kerjanya menggambar sketsa. Sementara Rara masih mengamatinya dari kejauhan ada rasa penasaran dibenak hati Rara. Rara menanguhkan rasa itu.

Langit berubah menjadi kelam. Mentari sudah tak terlihat dan tenggelam di ufuk barat. Alvin tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Rara masih mengamatinya dari kejuahan hingga akahirnya Rara menghampirinya.

"Hei.." sapa Rara dari belakang sementara laki laki itu tidak menoleh sedikitpun kehadapan Rara mungkin saja Alvin tau kalau dirinya sedang diikutin.

"Kamu sedang apa ?"tanya Rara kali ini duduk disampingnya sambil meluruskan kakinya terasa pegal setelah mengintai Alvin.

Tidak ada respon dari Alvin. Rara hanya tersenyum melihatnya melukis entah apa yang Alvin lukis.

"Kamu mau apa ?" Tanya Alvin menghentikan menggambarnya dan menoleh kearah Rara

"Engga apa apa , "jawab Rara canggung.

"Kalau engga apa apa, kenapa kamu ada disini ? Masih belom puas apa?"ucap Alvin sambil menatap Rara tajam dan menekankan kalimat terakhir yang membuat Rara paham artinya

"Ummp, kamu marah ? Okee aku minta maaf ?"ucap Rara sambil mengulurkan tangannya

"Maaf ?"jawabnya datar

"Iyah maaf , seharusnya aku engga bilang ke Adel kalau kamu yang selalu mengirim semuanya setiap pagi"jelas Rara

"Hmmp, kamu engga salah" jawab Alvin sambil meletakkan lukisannya

"Kenapa ?" Rara semakin engga mengerti

"Hmmp, seandainya saja aku tau bagaimana cara mengulurkan tanganku dan tau cara berkenalan dangan seorang wanita, mungkin aku tidak melakukan hal itu, tapi sayangnya akau tidak tau bagaimana harus memulai itu semua" jawab Alvin sembil menekuk kakinya

"Maksud kamu ? Kamu melakukan hal itu cuman ingin berkenalan dengan Adel" tanya Rara kali ini untuk meyakinkan

"Iyah , dan untuk selanjutnya aku tidak ingin melakukannya lagi"

"Kenapa memangnya ?"

"Karena aku tidak ingin dihukum sama guru BK,"jawabnya sambil tersenyum simpul

Hening ..

Tidak ada obrolan lagi seakaan terlarut dalam dunianya masing masing.

"Sudah malam , kenapa kamu engga pulang?"tanya Alvin membuka obrolan kembali

"Aku tau , aku masih mau disini"jawab Rara

"Aku mau pulang , maaf aku engga bisa menghantarkanmu pulang ,ban sepeda aku bocor"

"Engga apa apa ko, aku bisa pulang naik ojek"

☆☆☆

" seandainya saja aku tau bagaimana cara mengulurkan tanganku dan tau cara berkenalan dangan seorang wanita, mungkin aku tidak melakukan hal itu, tapi sayangnya akau tidak tau bagaimana harus memulai itu semua"

☆☆☆

"Din , Lihat Adel engga ?"tanya Rara
"Tadi sih , di Kantin"jawab Dina

Rara langsung menuju kantin banyak hal yang ingin dia ceritakan mengenai masalah pertemuan kemarin. Kalau Rara dan Adel salah menduga atas apa yang Alvin perbuat.

Semuanya harus Rara jelaskan pada Adel.

"Del , loe kemana aja sih ?"tanya Rara menepuk punggu Adel

"Ehh.. loe apa apaan sihh makanan gye hampir jatuh nih"gerutu Adel

"Itu engga penting , loe harus tau beruta ini"

"engga penting gimana ? Loe mau bayarin apa ha ? Berita apa lagi sih Rara"

Tanpa menunggu lama lagi lengan Adel ditarik oleh Rara dan menjauh dari kantin.

"Wy , loe mau bawa gue kemana  sakit tau "gerutu Adel melihat lengannya dipegang dengan kuat

"Udah tenang aja"

Rara memastikan tidak ada orang yang lalu lalang. Sementara Adel masih terlihat bingung dengan perilaku Rara akhir akhir ini.

☆☆☆

"kemana dia ?"gerutu Adel.

Ada raut putus asa dari wajah Adel yang mencari laki laki itu. Laki laki yang selalu mengirimkannya bunga dan origami tidak terlihat didalam kelasnya.

"Ra , terus gue harus gimana dong ?"tanya Adel nampak putus asa dan menyesal

"Yah , loe harus minta maaf ke dia"

"Iyah gue tau , tapi kemana dia ?"

"Wait.. gue tau dia kemana ?" Pikir Rara mengingat tempat dimana ia pernah mengikuti Alvin.

"Dimana Ra ?" Tanya Adel begitu antusias saat Rara mencoba mengingat tempat laki laki itu selalu berkunjung.

"Habis pulang sekolah ikut gue , jangan pulang sama ka Dev"ancam Rara

"Heeh" adel hanya tertawa Renyah mendengar nama Ka Dev. Kakak kelas yang sudah menjadi incaran Adel selama ini.

☆☆☆

Rara berdengus kesal tidak menemukan Adel. Padahal rara sudah mengancamnya untuk pergi ketempat Alvin salalu datang. Sementara Langit terlihat berubah menjadi hitam.

Tiba tiba saja ada sebuah lengan kokoh memegang lengan Rara. Rara menoleh siapa yang berani beraninya menggenggam tangannya. Betapa terkejutnya Rara pemilik lengan itu adalah.

ALVIN..

"Loe ngapain masih disekolah ?"tanya Alvin menuntut sepedanya dari tempat parkir sekolah.

"Eh..engga lagi apa apa kok , tunggu jemputan"jawab Rara begitu gugup tidak seperti biasanya.

"Ini sudah jam 18:00 loh , bareng sama gue aja ?" Ajak Alvin kali ini mencoba membujuk agar pulang bareng dengannya.

"Apa engga ngerepotin lu ?"

"Repot repotin amat"

☆☆☆

"Ra , maafin gue kemarin ka dev ngajak gue pulang bareng" rintih Adel menggenggam lengan Rara sementara Rara tidak berbicara sedikitpun. Mungkin Rara sudah terlanjur kesal dengan perilaku Adel.

"Raa.. lo marah yah sama gue ?" Lagi lagi Adel mencoba menanyakan hal itu. Namun Rara tidak menjawab pertanyaannya. Rara masih terpaku pada buku pelajarannya

"Rara.. " teriak Adel sambil menutup buku pelajaran Rara. Akhirnya Rara pun menoleh kearahnya Adel hanya senyum kecil menandakan bahwa dirinya berhasil.

"Udah puas belom ?" Tanya Rara datar sedikit ketus membuat Adel tidak mengerti maksudnya

"Udah puas apa sih ?" Adel begitu tidak mengerti maksud Rara yang sebenarnya

"Pura pura bego lagi !." Timpal Rara membuat Adel memutar otak mencari tau maksud dari ucapan Rara. Maklum saja , otak Adel tidak seperti teman teman lainnya yang cepat menangkap pembicaraan.

"Oh.. I See"

"Tell me banget sihh" sindir Rara

"Kok lo gitu sihh Ra ? Engga nyangka gue sama lo ?"

"Gue ? Seharusnya lo lahh yang engga sadar , gue tungguin lo didepan gerbang sekolah hampir 1 jam , dan lo malah pergi sama orang lain ! Sadar seharusnya ," ucap Rara mengeluarkan unek uneknya

"Untungnya aja ada orang baik yang nganterin gue pulang" timpal Rara kali ini

".."

"Maaf Ra , ka Dev maksa gue buat pulang bareng ?" Bela Adel dengan beberapa alasan

"Terus lo mau jalan sama dia ? Di bandingkan dengan sahabat lo yang udah janjian terlebih dahulu ?"

"Yahh.. gue engga bisa nolak tawaran Ka Dev , lagi juga lo tau sendiri Ka Dev incaran gue dari dulu"
"Terserah !"

"Raaa.. maafin gue , Please" rintih Adel merangkul Rara

"Apaan sihh lo , udah gede engga usah cengeng !" Ketus Rara mencoba melepaskan rangkulan Adel

"Raaa.. ayolahh ," bujuk Adel kali ini

".."

"Okee kalau lo eng.."

"Loe gue maafin" potong Rara sebelum Adel melanjutkan ucapannya

"Yang bener Ra ?" Adel mencoba meyakinkan kalau Rara sudah memaafkan kesalahannya

" loe budeg apa gimana sih ?"

"Heeh .. terima kasih Rara cantik" puji Adel memeluk Rara erat

"Engga usah puji gue dehh !"

"Wait .. ! , kemarin , lo dianterin pulang sama siapa ?" Tanya Adel begitu Kepo

"Kepo banget sihh lo jadi orang "

"Yaelahh .  Ra , kita kan sahabat"

"So ?"

"Yahh cerita aja sihh" lagi lagi Adel mencoba membujuknya

"Gue lagi males cerita , gimana dong"

"Yaudah kalau gitu mah"

Fix , sampai jam pelajaran ke 4 tidak ada obrolan yang keluar dari mulut Rara dan Adel. Biasanya mereka berdua sibuk dengan topik mereka dibandingkan mendengarkan penjelasan dari guru.

Kadang juga Adel dan Rara selfie saat Guru Sejarah sedang menerangkan materi. Begitulah keduanya melepaskan kebahagian.

☆☆☆

Waktu berlalu begitu saja , Bel istirahat begitu nyaring terdengar di telinga. Siswa siswi berhamburan keluar kelas. Mungkin aku bisa menebaknya sebagian dari sekolah ini banyak memilih pergi ke kantin dibandingkan pergi ke perpustakan membaca buku. Engga percaya ? Lihat aja sendiri heeh.

Adel membawa 2 gelas teh dan sandwich yang tadi pagi dibuatkan mamahnya. Adel menghampiri Rara tengah asyik membca novel yang sempat tertunda. Sementara Rara tidak sedikitpun menoleh dan merasakan kedatangan Adel. Rara ikut terlarut alur novel yang dia baca hingga membiarkan Adel memperhatikan Rara.

"Woy !!" Bentak Adel sekaligus menyadarkan Rara dari dunianya

"Apaan sihh lo Del , " gerutu Rara tidak terima dengan perilaku Adel membentaknya

"Lagian dari tadi gue liatin loe, sibuk bener sama nih Novel "

"Iyahlah , lo engga tau sih alur ceritanya, mau baca" tawar Rara menyodorkan Novelnya

"Heeh.. engga terima kasih , lebih baik liat drama korea dehh daripada baca Novel"

"Ya ya ya"

Krek krek krekk

"Suara apan tuh ?"Adel begitu terkejut mendengar suara itu

"Dari perut lo Ra kayanya" timpal Adel

"Heeh ..iyah , emang dari perut gue"

"Kiraiin gue apa , lo laper apa ?" Tanya Adel

"Iyah " jawab Rara nyengir kuda

"Nih mamah gue buatin sandwich" ucap Adel menyodorkan dua buah Sandwich

"Kok lo bisa tau sihh wkwk, terima kasih Adelku" puji Rara langsung mengambil sandwich itu dan langsung melahapnya habis

"Laper bu haji ?" Tanya Adel melihat tingkah laku Rara melahap habis sandwichnya

"Heeh .."

"Pelan pelan makannya, nanti keselek lagi " saran Adel

"Engga lahh , engga ada tulang ini sihh"

"Terserah dehh"

Uhukk Uhukk

"Minum .. minum ..minum" ucap Rara memegang tenggorokannya yang seret

"Nahh kan , gue bilang juga apa sihh. Kepala batu sihh lo Ra"

Rara langsung menengak habis isi air yang dibawa Adel. Sementara Adel engga habis pikir melihat perilaku Rara seperti pengemis yang kelaparan.

"Lo sihh ngajak gue ngobrol. Jadinya gue keselek kan " ucap Rara seenaknya jidat menyalahkan Adel

" loh kok gue sih ? , lo kali yang makannya kaya apaan tau" gerutu Adel tidak terima disalahkan Rara

'Heeh.. iyah maaf , ini salah gue.."

Sebelum melanjutkan ucapan yang terakhirnya. Rara menarik lengan Adel mengikuti langkah laki laki yang dia kenalnya. Sementara Adel mencoba melepaskan genggaman tangan Rara begitu sakit

"Ra , lo apaan sihh " berontak adel mencoba melepaskan genggaman tangan Rara

"Udah tenang dulu , ikutin aja dulu"

"Tapi engga kaya gini juga kali"

"Berisik tau engga ?"

"Yeee.. udah salah juga masih aja ngotot"

".."

"Emangnya itu siapa sih Ra ?"

"Nanti juga lo bakalan tau"

Laki laki itu masuk ke ruangan biasa dia sendiri. Sambil membawa sebuah kertas dan perlengkapan untuk melukis. Laki laki itu menengok mencoba kearah belakang. Berharap saja, engga ada orang yang mengikutinya.

"Bukannya itu cowo yang waktu itu yah" pikir Adel

"Emang , kenapa lo baru sadar sihh ?" Bisik Rara masih mengamati laki laki itu masuk

"Yee.. mana gue tau , terus apa hubungannya sama kita coba ?"

"Haa ? Jangan pura pura bego dehh del , kemarin lo sendiri kan yang cariin dia ? Kenapa sekarang lo malah nanya yang engga jelas sihh ?" jawab Rara menatap Adel membulatkan matanya

"Heeh.. emang kemarin gue cariin dia sihh , tapi kan sekarang udah beda lagi Ra"

"Beda gimana ? Jadi lo engga mau minta maaf sama dia ha ?"

"Bukan begitu Ra" bela Adel

"Bukan gitu gimana ? " Lagi lagi Rara memojokkan Adel membuat Adel engga bisa menjawab

"Kok lo jadi gini sih Ra ?" Tanga Adel membelokkan topik pembicaraan

"Gue engga mau sahabat gue jadi orang yang pengecut engga bisa minta maaf ke orang lain" jawab Rara dengan penekanan kata katanya

".."

"Udah sekarang lo coba minta maaf sama dia !" Suruh Rara mencoba membujuk Adel

"Minta maaf ?, gue engga salah Ra , dia yang salah" Adel membela diri

"Udah sono cepetan minta maaf dih "Rara terus memaksa Adel meminta maaf

Tiba tiba ..

".." mereka berdua terkejut meluhat orang yang tengah dia bahas sudah berdiri didepannya

"Lo ? Ngapaiin lo ikutin gue kesini" tanya Alvin mengerutkan dahinya

"Ehh.. bukan gitu kok vin , ada hal lain yang ingin disampaikan" Rara mencoba menjelaskan sebenarnya pada Alvin

"Bisa to the point kan ?"

"Iyah bisa kok," Rara mengangguk mengerti maksus Alvin

".."

"Cepet Adel !! , orangnya udah ada didepan kita " Rara berbisik sambil menyenggol tubuhnya

Sementara Adel hanya terpaku melihat Alvin. Haruskah perempuan meminta maaf pertama ?.

"Kalau engga ada yg mau diomongin. Sorry gue banyak pekerjaan" Alvin meninggalkan Rara dan Adel

"Alvin.. gue.. minta maaf" Akhirnya Adel mau minta maaf juga

Langkah Alvin terhenti mendengar ucapan itu. Ucapan yang membuatnya tidak seharusnya diucapakan Adel.

".."

"Lo engga mau maafin gue ?" Adel nampak begitu frustasi

".."

"Yaudah deh , kalau lo engga mau maafin gue. Engga apa apa. Ra , ayo ra kita pergi" ajak Adel

"Tunggu ! , gue maafin lo" ucap Alvin membuat Adel bahagia mendengarnya

☆☆☆

Waktu berlalu begitu cepat. Perlahan, Adel , Alvin dan Rara bersahabat. dalam hal persahabatan tidak mungkin tidak ada embel embel perasaan lain yang mengiringi. Pasti ada perasaan itu pada zona itu. Adel dan Rara tidak mengetahui lebih dalam lagi perihal kedatangan Alvin untuk menjadi sahabat mereka.

Selama mereka menjalin hubungan persahabatan. Ternyata Alvin menyimpan perasaan pada Adel. Memang Alvin sudah lama menyimpan rasa itu. Jauh dari sebelum mereka menjadi sahabat.

Secara tidak sadar , rasa itu tumbuh kembali setelah sekian lama tak ditengoknya.

Hampir setiap hari , mereka bertiga selalu bersama. Kemana pun mereka pergi selalu bertiga. Terkecuali jika buang air kecil. Heeh

Selalu saja sama , Alvin selalu meluangkan waktunya pergi ketempat rahasinya mencurahkan isi hatinya dengan melukis. Seperti itu lah Alvin menceritakan apa yang selama ini dia pendam. Bukan. Bukan maksud Alvin tidak percaya pada Rara yang nota bandnya sahabat Adel. Hanya saja , tidak sepantasnya Alvin bercerita tentang Adel.

Mungkin nanti , jika ada waktu yang tepat untuk menceritakannya. Tidak sekarang.

Esok ataupun lusa ..

☆☆☆

Cekrek ..

Pintu ruangan itu terbuka. Betapa terkejutnya Alvin melihat Rara sedang mengamatinya melukis wajah Adel sedang tersenyum. Wajah itu, Alvin ambil tidak sengaja diambil di akun Instagram milik Adel. Pecundang ! Memang nyatanya Alvin hanyalah seorang pecundang tidak mampu mengatakan sejujurnya.

Rara yang masih diam mematung tidak percaya. Rara begitu kecolongan dengan tujuan Alvin yang sekarang menjalin sahabat dengannya.

"Ra , semua bisa gue jelasin " ucap Alvin mencoba menjelaskan semuanya sambil mengejar langkah Rara menjauh dari ruangan persembunyian Alvin.

"Apa lagi sihh yang perlu dijelasin. Ternyata selama ini , lo ada maksud sendiri" sindir Rara mempercepat langkahnya

"Okee , terserah lo mau anggap gue apa , asal lo tau Ra , selama ini gue suka sama Adel. Gue hanya lelaki pecundang cuman bisa memanfaatkan keadaan menjadi sahabat lo sama Adel doang." Ucap Alvin menjelaskan semuanyab

Langkah Rara terhenti mendengar semua penjelasan yang terlontar begitu saja dari mulut Alvin. Rara semakin  tidak mengerti dengan permainan ini. Permainan macam apa yang sedang dimainkan.

Sementara Alvin diam tertunduk begitu malu. Layaknya pecundang hanya bisa mengumpat.

Timbul rasa iba di hati Rara. Memang sudah sewajarnya kalau kaum Adam menyukai kaum Hawa. Seperti itulah hukumnya.

"Alvin .." panggil Rara menghampirinya

"Kenapa ? Lo engga percaya sama omongan gue ? Apa lo kecewa sama gue ? Gue paham kok" Alvin mencoba membuat persepsi berlebihan saat Rara menghampirinya.

"Loh ? Engga kok. Lo jangan gitu, lo engga kalah dulu" Ucap Rara mencoba menyemangati Alvin

Alvin terdiam sejenak mendengar ucapn Rara. Apa mungkin Rara mendukungnya mendapatkan hati Adel ?.

"Mau ditaruh dimana harga diri gue ? Masa pdkt sama cewe aja perlu bantuan orang lain ?" Batin Alvin

Sementara Rara sedari tadi mecoba melambaikan tangannya tepat di wajah Alvin melamun.

"Vin , lo engga apa apa kan ?" Rara mencoba menyadarkan Alvin

"Ehhh.. gue engga apa apa kok, emang gue kenapa ?" Alvin pura pura bego

"Mana gue tau "

Perlahan , Alvin menemukan teman curhat barunya selain tempat dimana dia bisa mencurahkan isi hatinya dengan melukis. Bahkan , Rara tidak segan segan membantu Alvin meluluhkan hati Adel.

Alvin mulai membuka diri tentang perasaannya. Sementara Rara diam mendengarkannya. Tak jarang pula , Rara selalu membuka rahasia Adel saat Adel bercerita padanya.

Mungkin bisa membantunya menggali informasi banyak mengenai Adel lebih dalam lagi.

Lemah ? Payah ?

Memang seperti itulah kenyataanya bahwa mencintai dalam diam itu lebih sakit daripada melihat orang yang kita cintai memilih orang lain.

☆☆☆

Pernah engga sih kalian udah memperjuangin apa yang semestinya patut diperjuangin ? Namun , pada akhirnya orang yang di perjuangin malah engga peka ?. Seperti itulah yang dirasakan alvin saat ini, berulang kali Alvin selalu memperjuangin perasaannya supaya bisa mendapatkan hati Adel.
Apa yang Alvin dapatkan ? Nihil ! Adel sama sekali tidak pernah peka. Kalau sebenarnya ada kaum adam yang sedang jatuh cinta padanya.

Mungkin Adel akan menganggap Alvin tidak lebih dari seorang sahabat. Sementara Adel sendiri begitu mengkagumi sekaligus menyukai Ka Dev captain basket yang super cool satu sekolah.

Alvin tidak pernah kapok untuk jatuh cinta. Walaupun Alvin tahu kalau sebenarnya Adel tidak menyukainya. Alvin akan terus  memperjuangkan perasaanya. Sementara Rara yang sekarang menjadi sahabat kedua Alvin selalu mengingatkan lebih baik mencari selain Adel.

Bukan. Bukan maksud Rara ingin mempatahkan semangatnya. Melainkan , Rara tau sifat dan perilaku Adel selama ini. Kalau Adel masih memiliki pemikiran yang sulit dirubah. Terutama masalah percintaan. Adel akan terus mencintai orang lain yang disukai tanpa memperdulikan ada orang lain yang lebih care sama dia.

"Vin , apa lo engga berubah pikiran ?" Kata Rara mendekatkan duduknya disamping Alvin. Sementara alvin tengah sibuk melipat lipat kertas menjadi Origami.

"Gue bakalan terus memperjuangin perasaan gue" Jawab Alvin menghentikan aktifitas melipat kertas

"Sampai kapan lo bakalan terus begini" Tanya Rara lagi lagi mencoba meyakinkan

"Sampai dia tau kalau gue suka sama dia" Jawab Alvin begitu yakin dengan pilihannya.

"Tapi-"

"Gue egois ? gue tau kok , sayangnya lo engga pernah tau apa yang saat ini gue rasaiin" potong Alvin sebelum Rara melanjutkan

"Bukan itu , lo jangan maksaiin ! Setiap orang punya rasa. Apa lo bakalan terus mengejar dia sementara dia engga ada rasa sama lo" kata Rara begitu dalam kata katanya

".."

Alvin terdiam sejenak mencermati apa yang barusan Rara katakan.

"Setidaknya , gue bakalan terus berjuang sampai gue tau kalau dia beanr benar engga suka sama gue" ucap Alvin mengakhiri obrolan

"Okee.. gue bakalan dukung lo kok, gue salut sama lo vin" kata Rara yang tiada hentinya memberikan semangat

Alvin dan Rara terdiam. Tidak ada obrolan, tidak ada topik yang dapat dibahas. Sementara Alvin melanjutkan aktifitasnya melipat lipat kertas sempat tertunda.

"Sepertinya , gue harus jujur tentang perasaan gue ke Adel" pikir Alvin menyelesaikan lipatanya hingga membentuk suatu origami lucu.

"Secepat itu kah ?" Tanya Rara meyakinkan biar Alvin tidak salah mengambil keputusan.

"Yah , kenapa emangnya ?"

Rara memikirkan cara bagaiamana dia bisa mencomblangbkan Alvin dengan Adel "tahan dulu deh" kata Rara

"Kenapa harus ditahan ?" Pikir Alvin

"Hmmm.. gue tanya dulu sama Adelnya"

"Jangan , nanti malah dia tau dan ngejauh sama gue"

"Hmmmp, terus gimana ?"

"Yahh , seperti yang gue bilang , gue bakalan jujur sama dia"

"Apa lo bakal nerima konsekuensinya ?"

"Yah , apa pun itu"

Rara hanya memberikan senyuman simpul. Menandakan kalau dia mendukung langkah Alvin mengatakan perasaannya ke Adel.

☆☆☆

Adel duduk dihalaman sekolah sambil mengisi waktu istirahatnya melihat kakak kelas yang super kece. Yang membuat dirinya meleleh. Apa lagi kalau ka Dev sedanh berlatih basket menggunakan baju latihannya hingga terlihat otot perutnya. Mungkin Adel akan betah berlama lama memandanginya.

Adel tidak memperhatikan kalau Rara sahabatnya itu sedari tadi. Sudah berada disampingnya.

"Hmm.." dehem Rara memberikan kode

"Astagfirullah ..Rara ! , kamu ko engga bilang bilang kalau ada disini" Adel begitu terkejut melihat kedatangan sahabatnya itu.

"Lo sibuk sama dunia lo sihh ," pikir Rara mendekatkan tempatnya duduk

"Dunia gue ?" Adel begitu tidak mengerti apa yang Rara maksudkan

"Iyah , dari tadi lo gue lihatin serius banget lihatin kakak kelas lagi Olahraga" ucap Rara

"Wah.. ternyata lo secret gue yah" Adel tertawa puas

"Enggalah .." bela Rara sambil mengambil sandwich ditangan Adel yang terlihat lengah

"Woy.. itu sarapan gue" Gerutu Adel tidak terima sarapannya direbut Rara

"Apaan sihh.. gue kan mau cicipin "kata Rara

"Yahh.. engga gini juga sihh kalau lo mau cicipin mah"

"Iyah.. iyah.." Rara mencoba mengalah di potongnya sandwich menjadi dua bagian sama rata

Kedua sahabat itu menikmati sarapan pagi sambil melihat kakak kelas berolahraga.

"Ra.. kalau ka Dev , nembak gue. Menurut lo , gue terima engga ?"tanya Adel disela sela keheningan

UHUKK !!!!

"kebiasaan deh.. lo kalau makan engga pelan pelan" Ucap Adel sambil memberikan sebotol air mineral

Rara menenggak habis isi botol yang diberikan Adel. Hingga menyisahkan sedikit saja

"Coba ulang " pinta Rara

"Iyah , kalau ka Dev nembak gue, menurut lo , gue terima engga ?"

"Jangan mimpi dehh.. ka dev nembak.." Rara menghentikan pembicaraannya melihat seseorang yang Adel dan Rara kenal menghampirinya

"Hai.. "sapa pria itu dengan style baju latihannya

"Juga" Adel langsung menjawab dengan senyuman mengembang diwajahnya

"Boleh ngomong sebentar sama Adel" tanya Ka Dev menarik lengan Adel menjauh dari Rara

Rara hanya mengangguk engga percaya. Apa yang dilihatnya benar benar terjadi. Rara masih mengamatu perbincangan antara ka Dev dengan Adel. Adel hanya tersenyum saat mengakhiri obrolan yang singkat itu

"Ada apa del ?"tanya Rara begitu kepo tingkat dewa

"Engga ada apa apa kok ra" jawabnya nyengir kuda

"Engga ada apa apa , ko lo malah senyum senyum sih ?" Rara engga ada hentinya mencari tau

"Kemarin tetangga gue , kepo eh.. malah meninggal dunia wkwk"ledek Adel menjulurkan lidahnya

"Hei.. sembarangan kalau ngomong !" Decak Rara melipat tangannya

"Okee , kalau lo ada masalah awas aja sihh" ancam Rara

"Oh... ceritanya ngancem nih ?" Adel tertawa renyah

"Engga dihh .."

"Itu buktinya .."goda Adel

"Bodo lahh Del !!"

"Hehe .. ada yang baper , okee .. karena gue engga tega liat sahabat gue baper jadi gue cerita dehh" ucap Adel yang tiada henti hentinya tertawa

"Siapa yang baper dihh ? , gue engga baper ADEL !!"

"Hehe.. ngaku aja sihh , apa gue engga cerita dehh" ancam Adel

Akhirnya Rara kalah dengan ancaman yang Adel berikan "Hmm.. iyah iyah"

"Nahh gitu dong , jadi nanti malam...." ucap Adel membuat Rara bingung

"Nanti malem lo ngapain ?" Tanya Rara begitu engga sabar

"Wkwk.. ada yang engga sabaran yahh" ledek Adel lagi lagi

"Terserah .."

"Nanti malem .. gue diajak dinner bareng ka Dev" ucap Adel

☆☆☆

Malam ini langit terlihat ramai dengan hadirnya gugusan bintang bintang diangkasa. Alvin membawa perlengkapan lukisnya pergi ke tempat biasa. Tempat yang membuat setiap harinya terasa nyaman.

"permisi tante .." sapa Rara pada perempuan paruh baya yang diperkirakan umurnya sudah berkepala empat

"Iyah ada apa ?" Tanya Mamah Alvin begitu lembut ucapannya

"Alvinnya ada tante ?" Tanya Rara to the point

"Barusan tadi keluar "jawab Mamah Alvin kali ini

"Keluar ?"

"Iyah keluar.. dia bawa perlengkapan apa gitu" katanya kembali

"Oh.. gitu , Kalau gitu. Rara pamit dulu yah tante"

Setelah pamit Rara langsung pergi ketempat dimana Alvin selalu datang. Hanya Rara lah orang yang mengetahui tempat rahasi Alvin.

"Hmmmp.."dehem Rara melihat Alvin tengah sibuk dengan kanvasnya

"Ehh... Rara , kenapa engga bilang kalau mau dateng sih"Alvin begitu terkejut melihat Rara tiba tiba datang

"Lo yang kemana ? Gue carin lo juga , kata mamah lo. Lo lagi keluar" ucap Rara menaruh pantatnya mensejajarkan tempat duduk

"Hehe.. maaf , "

"Lo ngapain disini vin ?" Tanya Rara melihat Alvin yang begitu sibuk dengan dunianya

"Lagi tenangin pikiran" balas Alvin mengehentikan aktifitasnya sejenak

"Gambar ini buat siapa ?"

"Loe pasti tau lah buat siapa"

"Adel ?" Tanya Rara meyakinkan

"Yap.. besok , selepas pulang sekolah gue mau nyataiin perasaan gue ke Adel. Gue engga bisa terus-terusan kaya gini" kata Alvin menghembuskan nafasnya

"Loe udah yakinin bener ?"

"Udah"

Rara mengurungkan niatnya memberi kabar buruk yang sebenarnya terjadi. Tapi , sudahlah biar Alvin berjuang terlebih dahulu

Memang sepantasnya laki-laki memperjuangkan untuk memikat hati seorang perempuan.

☆☆☆

"Vin , ada apa yah ?, tumben banget "kata Adel membuka percakapan terlihat resah

"Hmmm.. sebenarnya ada yang mau gue omongin" jawab Alvin mulai meragu

"Yaudah .. ungkapin aja"

"Sebenarnya.." Alvin mulai terbata-bata

"Sebenarnya apa vin?"

"Gu..e.. suka sama lo"

Alvin mulai plong mengatakan yang sejujurnya. Walaupun Adel belom menjawab pertanyaanya.

"Gue hargaiin perasaan loe, tapi gue engga bisa jadi pacar loe. Gue udah anggap loe sebagai sahabat gue"

"Hmmmp"

"Sorry yah vin"

☆☆☆

Sudah 2 bulan lamanya Adel menjalin hubungan dengan Ka Dev. Sementara kekecewaan Alvin tidak bisa memikat hati Adel begitu membuatnya sesak.

Setiap hari. Setiap kali istirahat Alvin selalu meluangkan waktunya pergi ketempat biasa. Melukis adalah aktifitas yang bisa menenangkan semua kegalauannya.

Entah , akhir-akhir ini lukisan Alvin begitu kacau. Perpaduan warna tidak selaras dengan sketsanya. Apa yang sebanarnya terjadi dalam diri Alvin ?.

☆☆☆

3 bulan bukan waktu yang cepat memadu kasih dengan kakak kelas. Terlebih jika kekasihnya itu adalah laki-laki yang sejak dulu di idamakan.

Adel ingin memperlambat waktu supaya bisa berlama-lama berduan dengan Ka Dev.

Adel selalu menunggu Ka Dev latihan basket. Bahkan , Adel pernah mengigau lantaran satu harian tertawa bersama dengan Ka Dev.

Sungguh indah bukan ?.

☆☆☆

Langkah Alvin terhenti melihat sekumpulan kakak kelas tengah berada disana. Termasuk Ka Dev. Tanpa sengaja , Alvin mendengar percakapan yang membuatnya terkejut.

"Dev , ini duitnya. Gila loe Dev , ade kelas masih aja dipacarin" kata Laki-laki bertubuh tambun

"Thanks yah , kalau engga taruhan mah , mana mau sih gue pacaran sama bocah ingusan"

"Kapan loe putusin dia Dev?"

"Ada saatnya , gue mau peloritin duitnya dulu. Gue denger Adel orang kaya"

"Gilo loe Dev"

Alvin memutuskan meninggalkan tempat itu. Takut dirinya ketahuan kakak kelas.

☆☆☆

"Del , Ka Dev engga baik buat loe. Dia cuman manfaatin loe doang" kata Alvin

"Cukup Vin .. licik banget yah loe. Gue baru tau loe kaya gini"

"Gue liat sendiri dengan mata kepala gue sendiri" bela Alvin

"Mana buktinya. Udah yah vin , loe mendingan engga usah ikut campur masalah pribadi gue." Kata Adel pergi meninggalkan Alvin

"Del.. loe dengerin gue dulu" teriak Alvin yang tidak dihiraukan Adel.

☆☆☆

Selepas pulang sekolah. Alvin tidak melihat Adel. Mungkin Adel marah dengan perilaku Alvin. Alvin menuntun sepedanya ke depan gerbang sekolah.

Alvin sudah dicegat segerombolan kakak kelas yang kemarin di lihatnya. Tak ketinggalan dengan Ka Dev.

"Loe ngapaiin Adel ha ?" Tanya Ka Dev sambil menarik kerah baju Alvin

"Engga ngapa-ngapaiin kok"

"Hajar aja Dev."ucap Temen Ka Dev yang memprovokasi

"Sekali lagi loe ngapa-ngapaiin adel. Loe bakalan berhadapan sama gue. Ngerti !"bentak Ka Dev melepas kerah baju Alvin kemudian pergi meninggalkan Alvin.

Alvin masih diberikan kesempatan. Alvin menrik nafas, mencoba menenangkan semuanya. Apa mungkin Adel mengadukan hal ini ?.

☆☆☆

Brumm Brumm

Alvin mempercepat laju sepedahnya takut terjadi apa apa menimpa dirinya. Sayang , kecepatan sepedanya tidak kalah cepat dengan kecepatan sepeda motor yang membuntuti Alvin sedari tadi.

Alvin terjatuh dari sepedanya. Tubuhnya membentur keras batu besar yang berada ditepi jalan.

Bahkan , kecelakaan yang menimpa dirinya harus dibayar mahal. Lantaran , benturan keras itu lah membuat penglihatannya tidak mampu berfungsi dengan normal. Sebagaimana mestinya.

Hanya Rara lah yang Alvin beri tau mengenai kecelakaan ini. Tidak dengan Adel, Alvin tidak ingin melihat Adel lagi. Cukup baginya seperti ini menderita. Bahkan ,Buta membuatnya merasa jauh lebih baik. Dibandingkan melihat orang yang Alvin cintai bermesraan dan menyalahkannya.

Alvin menyerah mengejar cintanya ..

☆☆☆

Adel menghampiri Rara dengan linangan air mata. Rara sempat bingung apa yang sebenarnya terjadi pada diri Adel. Tidak biasanya Adel sedih seperti ini. Rara mengetahui perilaku Adel yang selalu ceria setiap harinya.

"Ra , ternyata gue salah jatuh cinta" kata Adel diiringi isakan tangis yang keluar dari matanya

"Bukannya loe udah bahagia sama Ka Dev ? Kenapa loe merasa salah?" Tanya Rara

"Ka Dev , cuman manfaatin gue doang. Dan loe mau tau apa yang terjadi setelah itu?"

Rara hanya mengangkat bahu tidak mengerti ".."

"Gue cuman jadi bahan taruhannya Ka Dev sama Temen-temennya" ucap Adel dengan tangisan sekerasnya

"Apaa ?" Rara begitu tidak terima dengan perilaku Ka Dev ke Sahabatnya.

"Hmmmp.. udah loe engga usah sedih. Cowo kaya gitu engga usah loe tangisin. Engga ada gunanya" ucap Rara mencoba menenangkan Adel.

"Gue engga nyangka aja Ra"

"Udah loe engga usah cengeng gini." Kata Rara kembali menyeka air mata Adel.

"Gue sayang sama Ka Dev, Ra"

"Sayang ? Apa dia sayang juga sama loe ? Dia engga sayang Del. Loe liat sendiri kan perlakuan dia ke loe." Kata Rara menggebu-gebu.

"Tapi-"

"Sumpah Del , kadang gue engga mengerti sama jalan pemikiran loe. Loe sayang sama Ka Dev. Ka Dev engga sayang. Sedangkan ada orang lain yang begitu tulus menyangu loe"

Adel semakin tidak mengerti apa yang di maksudkan Rara.

"Maksud loe ?"

"Alvin sayang sama loe Del. Dia sendiri yang bilang. Asal loe mau tau aja. Wajah loe selalu di lukis sama dia"

"..."

"Tapi sekarang udah lahh , semua udah terjadi. Lupaiin aja masalah Alvin. Sekarang loe harus lupaiin Ka Dev"

"Gue tau Ra , Alvin udah nembak gue tapi gue engga nerima dia"

"Ternyata yang diomongin Alvin benar. Gue nyesel udah nuduh Alvin yang engga-engga"

"Hmmmp.. " Rara hanya bergumam

"Raa , tolong anterin gue ke temu Alvin. Gue mau minta maaf sama dia. Please" ucap Adel dengan nada memohon.

"..."

"Raa.. loe bisa kan anterin gue "

Rara hanya menganggukan kepala. Memberikan isyarat mengerti.

☆☆☆

Rara mengantarkan Adel ke tempat dimana Alvin selalu menyendiri. Jujur , sebenarnya Rara tidak ingin membongkar rahasia tempat Alvin. Tapi , Apa boleh buat. Ini semua Rara lakukan demi membuat Adel tersenyum kembali.

"Boleh duduk disini ?"Tanya Adel mencoba duduk sejajr dengan pria yang tengah menatap langit.

".."

"Kemana aja ? Engga keliatan?" Adel berusaha mengajak Alvin ngobrol

"Apa perlu gue jawab ? Bukannya loe sendiri yang bilang. Jangan ikut campur ? Urus aja hidup kita masing-masing ?" Jawab Alvin dengan tegasnya

Adel lupa kalau dahulu ia pernah mengatakan hal itu ke Alvin.

"..."

"Tapi itu kan dulu. Apa loe marah sama gue ?"

"Dulu dan sekarang apa bedanya ? Buat apa marah ?"

"Hmmp..  maafin gue vin"

"Loe engga perlu minta maaf, gue yang salah"

"Loe engga salah vin."

"Udah lahh. Gue engga mau bahas masalah ini"

"Kenapa emangnya ?"

"Gue udah menikmati hari hari gue kaya gini"

"Apa ada orang baru lagi vin?" Tanya Adel

"Engga ada orang baru yang datang ke hidup gue. Gue engga mau kehilangan anggota badan gue lagi?"

"Maksdu loe ?" Adel semakin tidak mengerti. Menurutnya Alvin sehat-sehat saja

Alvin memalingkan  wajahnya ke arah Adel. Kemudian Alvin merabah wajah cantik Adel.

"Loe.."

"Gue buta " potong Alvin

Adel mengerutkan dahinya. Seakan ada perasaan bersalah.

"Apa karena gue ? Maafin gue Vin"

"Udah berapa kali sih gue bilang. Loe engga salah"

"Terus ?"

Alvin memberikan bingkisan lukisan yang sengaja dia lukis.

"Ini apa ?" Tanya Adel memegang sebuah bingkisan yang tertutup kain hitam

"Sebab orang ini lah, yang udah membuat Alvin seperti ini." Jawab Alvin beranjak pergi meninggalkan Adel dengan bantuan tongkat

Adel begitu penasaran sebenarnya apa yang ada dalam bingkisan ini. Betapa terkejutnya Adel membuka kain hitan ini yang membungkus sebuah Lukisan sketsa wajah..

DIRINYA ...

*TAMAT*

Kamis, 03 Maret 2016

Menemukanmu

Menemukanmu
Prayoga D Wibowo



"Kamu.. jangan buat janji ataupun komitmen yah, aku takut malam menagihnya hingga membuatku khawatir apa kamu mampu menepatinya"

Malam ini aku sengaja meluangkan waktuku menemanimu. Disini. Ditempat kamu menungguku setiap harinya. Kamu selalu menungguku tanpa lelah. Tanpa letih, kamu selalu melihatku dan menyambutku dengan senyuman yang mengembang dipipimu. Kamu melihatku saat aku turun dari kereta yang membawaku pergi.

Malam ini aku ingin bersamamu..sejenak menepikan seluruh aktifitasku seharian penuh. Dibawah kemerlap bintang bintang aku menatapmu dengan penuh rindu yang begitu menggebu. Kupikir kamu bakal memilih yang lain. Ternyata tidak , kamu disini duduk disampingku. Menemaniku. Membuat semesta iri melihat sepasang insan yang telah lama.. dipisahkan.

Aku mensejajarakan tempatku duduk. Menatapmu semakin dekat , lebih dekat , sangat dekat. Hingga aku mengetahui secara menyeluruh bagaimana bentuk wajahmu.

Aku mengusap rambutmu yang tertutup balutan kerudung berwarna hitam. Sekilas aku membisikan sesuatu tepat ditelingamu "Aku janji tidak bakal pergi jauh lagi"

Kamu tersenyum simpul mendengar ucapanku. Hingga membuatku bingung " Aku tidak ingin kamu membuat janji ataupun komitmen yang nantinya bakalan ada hati yang terluka lagi" katamu

"maksud kamu ?" Aku semakin tidak mengerti.

Kamu menarik nafas dalam dalam kemudian " Intinya kamu jangan buat janji ataupun komitmen, aku takut malam menagihnya membuatku khawatir apakah kamu mampu melewati malam ?."

Aku tertawa mendengar penjelasanmu yang terbilang lucu bagiku. Aku mendekatkannya kembali dan berbisik "kalau begitu , maukah kamu menemaniku ? Menjadi teman hidup sekaligus isteriku ?"

Kamu tidak menjawab pertanyaanku kamu diam. Aku sempat kecewa padamu. Apakah ini jawabanmu ? Apakah dahalu aku salah ? Oke, aku akui aku salah meninggalkanmu tanpa memberi tahumu terlebih dahulu. Tapi, sekarang aku kembali lagi. Kembali lagi menjemputmu

Tiba tiba saja , tanganmu menggenggam tanganku begitu erat. Aku tidak mengerti dengan perilakumu. Kemudian kamu menjawabnya "jadilah imamku, aku ingin mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran saat kita sholat berjamaah, dan mengajariku"

Aku tersenyum bahagia mendengarkan jawaban darimu. Aku membalas genggaman tanganmu dan memelukmu erat erat seakan tidak ingin melepaskanmu pergi jauh. Aku membiarkan air mataku jatuh begitu saja. Kemudian aku mengecup keningmu.


♡♡♡

Seperti ini lah, hidup diperantauan jauh dari sanak keluarga. dengan memodalkan keberanian dan keterampilan yang dulu diajarkan keluarga maupun dari sekolah. Aku menguatkan tekadku menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Tujuanku hanya satu. Kelak , aku ingin melihat orang orang sekelilingku tersenyum mendengar keberhasilan yang aku raih.

Aku menghirup udara malam yang begitu terasa ditubuh. Pandanganku menatap langit malam yang terlihat sepi. Tidak seperti biasanya langit terlihat sepi.

Aku mengerutkan dahiku melihat sosok perempuan tengah duduk di seberang stasiun ini. Sepertinya aku mengenali perempuan itu. Sialnya. Perempuan itu menghilang dibalik datangnya kereta yang tiba di stasiun ini. Aku berusaha mencarinya, sayangnya perempuan itu menghilang begitu saja.

"Siapa dia ?, sepertinya aku mengenalinya ?" Gumamku.

Tempat aku kost dengan stasiun ini tidak terlalu jauh. Cukup naik becak sudah sampai tepat didepan kost kost an  yang terbilang cukup dihuni mahasiswa perantauan seperti aku ini.

Aku melemparkan tas disembarang tempat. Mungkin sudah menjadi kebiasaan saat aku masih duduk dibangku SMA dulu.

Aku mengistirahatkan seluruh tubuhku yang sejak pagi tidak ada hentinya beraktifitas. Pagi hari aku menjadi mahasiswa disalah satu perguruan tinggi swasta yang ada di kota ini. Sore hari aku bekerja paruh waktu menjadi photographer.

Aku bisa saja menelfon orang tuaku untuk membiayai hidupku selama disini. Tapi , aku tidak ingin merepotkannya dan satu satu caranya bekerja paruh waktu yang saat ini aku jalani.

"Ayolah kenapa jadi seperti ini ?, siapa perempuan tadi yang ada di stasiun ?" Batinku. Aku memijit pelipis mataku Hingga akhirnya mataku tidak kuat menahan kantuk dan lelah selama seharian penuh.

♡♡♡

 Seperti biasa, aku selalu menyambutnya kala ia terbit. Seperti inilah aku menyambut sang surya. Sederhana. Cukup merentangkan tangan dan memejamkan mataku merasakan kehangatannya. Begitulah caraku menyambutnya.

Sunrise dikota ini begitu indah. Nyaris terlihat sempurna. Banyak orang yang berkunjung ke kota ini hanya ingin mengabadikan moment ini dengan berfoto. Tak ketinggalan dengan diriku. Aku selalu membawa kamera kesayanganku kemanapun aku pergi. Banyak foto foto yang tersimpan didalamnya. Termasuk foto wanita itu , wanita itu tersenyum bahagia ketika sedang mengikuti kegiatan MOPDB.

Entah , sampai sekarang aku tidak mengetahui banyak kabar tentang dirinya. Aku selalu disibukkan dengan aktifitasku begitu menyita waktu. Bahkan , waktu untuk menikmati sunsite dengan ditemani secangkir kopi pun tidak ada.

Bukan. Bukan maksud diriku menceritakan keluh kesah hidupku. Bukan. Hanya saja , aku begitu menikmati kesibukan yang aku jalani seperti saat ini. Aku menyukainya.

Untuk merasakan indahnya jatuh cinta pun aku tidak bisa. Bukan , karena aku tidak bisa merasakan hal itu. Melainkan, ada hal lain yang tidak bisa kamu mengerti. Kenapa aku tidak bisa jatuh cinta pada wanita lain. Kamu tidak akan mengerti hal itu...

♡♡♡

Aku menaruh kamera kesayanganku ke tas. Beberapa photo sudah kuambil dan tersimpan di kameraku. Kurasa lebih dari cukup untuk diberikan dibagian ke dewan redaksi sebagai pertimbangan apakah hasil photo yang aku ambil merasa pantas untuk dipublikasikan atau tidak. Aku melanjutkan aktifitasku selanjutnya menjadi mahasiswa.

Setiap hari , setiap kali aku pergi ke Universitas aku selalu menggunakan transportasi Kereta dengan alasan lebih cepat dan bisa menikmati keindahan alam lebih dekat. Sialnya. hampir 1 jam aku menunggu kereta tidak seperti biasanya selalu datang tepat dengan keberangkatan. Mungkin saja ada gangguan tekhnis pada bagian gerbong.

Sementara perasaanku semakin tidak karuan dan tidak menentu. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 09:00 itu berarti aku masih memiliki waktu tidak kurang dari 30 menit. Sebelum mata kuliah dimulai. Mengatasi masalah kejenuhanku aku mengambil kamera kesayanganku dari dalam tas. Ku lihat beberapa photo lama saat aku duduk dibangku SMA dahulu.

Sewaktu SMA aku begitu aktif mengikuti kegitan estrakulikuler diantaranya menjadi Anggota Osis dan design mading. Aku tersenyum simpul melihat salah satu photo yang kudapat saat aku ditugaskan mengambil gambar waktu acara MOPDB dulu. Ada 2 orang perempuan sedang tertawa entah apa yang mereka tertawakan begitu bahagia saat aku melihat photo ini.

Delate..

Tidak. Aku tidak ingin photo yang menurutku bagus dihapus begitu saja dari kamera kesayanganku walaupun photo itu bukan aku. Tapi aku ingin photo ini ingin menjadikan kenang-kenangan saat aku lulus nanti.

Aku mematikan kameraku dan menaruhnya kembali. Betapa terkejutnya diriku saat melihat perempuan kemarin malam ada di seberang stasiun ini. Kemudian terlihat kembali dengan aktifatasnya. Entah apa aktifitas yang ia kerjakan.

Aku mengamatinya secara menyeluruh. Perempuan itu tengah asyik menulis di buku diarynya. Aku tersenyum simpul. Sayangnya saat aku tengah mengamatinya denga serius kereta tiba distatisiun ini. Tanpa menunggu lama lagi aku langsung masuk kedalam kereta.

Sengaja mencari tempat duduk menghadap keluar. Aku masih mengamatinya dari dalam kereta sementara kereta masih menunggu penumpang lain. Perempuan itu masih saja menulis entah apa yang ia tulis. Catatan kecilnya kah ? Schedulenya kah ? Atau Arsip kerjanya ? Aku tidak mengetahui hal itu. Yang aku tahu darinya perempuan itu menulis dengan penuh senyuman yang mengembang dari wajahnya. Terasa cukup baginya, perempuan itu pergi meninggalkan tempat dimana ia menulis diseberang stasiun ini. Perlahan kereta yang aku tumpangi melaju perlahan meninggalkan stasiun ini.

♡♡♡

 Kereta yang membawaku kembali sudah tiba di stasiun ini. Stasiun ini terlihat lengah sudah tidak ada penumpang satu pun. Hanya ada petugas kebersihan dan security di luar stasiun yang tengah asyik ngobrol entah apa yang mereka bicarakan.

Langkah kakiku terhenti saat melihat perempuan itu. lagi lagi tengah duduk di seberang stasiun ini. Kesibukannya kali ini bukan lagi menulis apa yang mengganjal otaknya.

Kali ini , perempuan itu sedang melukis sesuatu. Agak sedikit aneh melihat seseorang tengah asyik melukis sementara waktu sudah menunjukkan pukul 23:00.

Tangannya begitu mahir meramu warna warna menjadi satu dan dituangkannya kedalam sketsa yang sudah ada di kertas.

Di biarkan bekas warna cat minyak di wajahnya. Perempuan itu begitu serius dengan kesibukannya kali ini.

Oh ..sekarang aku tahu tujuannya selalu datang ke tempat ini. Mungkin saja , perempuan itu tengah menunggu seseorang yang amat berarti dihidupnya.

Atau mungkin..

Ah.. seharusnya aku tidak membuat persepsi buruk terlebih dahulu. harsukah aku menanyakannya apa alasan dia selalu datang ketempat ini dengan segala aktifitas yang berbeda ?.

Mungkin ada saatnya hal itu akan aku tanyakan kepadanya. Tidak sekarang ! Melainkan lusa, percuma saja menanyakan sementara perempuan itu tengah sibuk melukis.

Setelah dirasa cukup memberi warna pada lukisannya, perempuan itu merapihkan kembali semua peralatan lukisnya. Kemudian , perempuan itu menyapa ke arahku dan memberikan senyuman.

Aku dengan sengaja membuang wajahku. Seolah olah aku tidak melihatnya. Padahal aku selalu memperhatikannya diam diam.

Tiba tiba saja , datang seorang perempuan menghampirinya. Aku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Perempuan yang aku perkirakan umurnya 18 tahun itu. Membantunya pergi meninggalkan tempat itu.

Banyak pertanyaan yang menggantung di pikiranku sekarang ini. Rasa ingin tahu ku semakin tidak bisa terbendung.

Malam semakin larut aku sudah semakin lelah ingin mengistirahatkan seluruh badanku beraktifitas seharian penuh.

♡♡♡

 Sabtu , yah ini hari sabtu. Kesibukanku di hari sabtu benar benar luar biasa menyita waktu. Pertama , Setiap sabtu aku ada sesi pemotretan artis.  Hitung hitung mencari tambahan.Kedua , setiap sabtu juga kantor selalu mengadakan evaluasi per pekan. Biasanya rapat berlangsung dari pagi hingga siang.

Setelah mengadakan meeting evaluasi selesai. Aku langsung pergi ke kantin dekat kantor menikmati caffe kesukaanku dengan taburan granade diatasnya yang begitu menggoda indera penciuman.

Selalu saja sama , setiap kali datang  ketempat ini selalu memesan pesanan yang sama , selalu memilih tempat menghadap kearah jendela.Selalu saja begitu. Bahkan,  weiters disini sudah hafal semua. Dengan takaran caffe dan gulanya

Aku menyeruput caffe yang sedari tadi menggoda indra penciumanku. Setelah itu , kubiarkan kembali menguap hingga benar benar dingin. Aku mengambil laptop kesayanganku sekedar mengedit photo yang sudah lama tidak bisa aku kerjakan lantaran kesibukanku.

Seringkali aku selalu saja tidak bisa membedakan pekerjaan kantor dengan kuliah. Nyaris setiap hari aku selalu membawa pekerjaan kemana pun aku berada. Entah itu, di kantor , di kost maupun di kampus.

Bukan maksud dibilang banyak orang terlihat sibuk. Melainkan , ini bagian dari konsekuensinya yang harus aku terima.

♡♡♡

Alunan biola mendayu dayu begitu menggema di sudut stasiun ini. Mengiringi perjalanan malamku yang begitu sunyi. Aluan biola terdengar dengan jelas disetiap sudut stasiun ini. Aku sepertinya mengenal dengan nada ini. Seperti dulu , aku pernah mengajari seseorang tentang nada ini.

Tapi , siapa yang memainkan biola begitu enak didengar dan begitu menentramkan hati dan pikiran yang sedang stress. Seharian penuh dengan rutinitas bekerja dan kuliah.

Malaikat penyuka musik kah ? Yang memainkannya ? Atau Peri cantik yang memainkannya ?.

Aku terus mencari sumber suara biola itu begitu menentramkan pikiran. Hingga akhirnya , aku berhasil mencari asal sumber suara itu.

Kamu.

Lagi dan lagi, kedatanganmu tidak pernah aku mengerti. Kamu selalu datang ketempat ini, di sudut tempat ini dengan rutinitas yang berbeda.

Menulis ..

Melukis ..

Hingga memainakn biola ..


Aku begitu kagum melihatmu beraktifitas tengah malam. Bahkan , perempuan lain tidak bisa sepertimu. Aku yakin tidak ada bisa.
Ada satu hal yang tidak pernah aku mengerti tentang kedatanganmu disudut seberang stasiun ini. Awalnya aku menduga kamu tidak lain seperti masyarakat disekitar stasiun ini. Ternyata tidak , kamu selalu datang setiap hari.

Aku masih mengamati kamu tengah asyik memainkan biola kesayanmu. Tanpa sadar aku larut mendengar alunan biola yang kamu mainkan.

PRAK PRAK (suara tepukan tangan)

Aku memberikan applause untukmu. Kamu melihatku memberikan senyuman khasmu membuatku merasa jauh.. lebih tenang.

Hening..

Tiba tiba , kereta yang berhenti di stasiun ini memberikan kesempatanmu untuk menghilang.

Lagi lagi ..

Kamu kembali menghilang dibalik datangnya kereta yang berhenti. Selalu saja begitu , padahal aku masih ingin mendengarkanmu memainkan biola ini.

♡♡♡

 Langit terlihat ramai malam ini. Hamparan bintang bintang begitu terlihat disana, tak lupa dengan bulan yang menemaninya seakaan tarasa lengkap sudah menyaksikan kemesraan mereka.

Kadang , saat aku termenung dan menatap langit. Aku begitu iri melihat kemesraan antara Bintang dan Bulan. Bahkan kemesraan itu berakhir dengan begitu indah. Dengan munculnya sunsite yang mengakhiri kemesraan mereka.

Jujur ..

Aku iri melihatnya ..

♡♡♡

Pulang malam sudah terbiasa bagiku. Anehnya , saat aku tiba di stasiun ini tidak ada kehadiran perempuan yang selalu hadir selama 3 hari belakang ini.

Kemana dia ?

Mungkin perempuan itu sibuk dengan aktifitas yang sebenarnya bukan aktifitas dia datang disini. Aku menghirup nafas , angin malam terasa menusuk kulit. Aku mengamati sudut itu. Sudut dimana perempuan itu duduk di seberang stasiun ini.

Aku mengerutkan dahi melihat selembar kertas di bangku sana. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun ini.

Rasa ingin tahu ku semakin menjadi jadi. Apa isi dari surat itu ? Siapa yang menulis surat ?. Yah.. seperti itulah pertanyaan sudah aku siapkan.

From : M.K
Art Galleri  Tomorrow

Hanya tulisan itu yang aku temukan didalam lembar kertas. Aku tidak mengerti dengan maksud dari tulisan itu.

"Mungkin saja , ada orang jahil" pikirku

Aku bergegas pulang ke kosan karena esok akan ada pemotretan diacara paling bergensi. Banyak pelukis ternama akan memajang sebuah lukisan yang benilai estetika.

Aku memastikan perlengkapan untuk besok dibawa sudah selesai. Termasuk kamera kesayanganku. Hampir setiap tahun , Kantorku selalu saja menugaskanku mengambil gambar dalam acara seni tersebut.

Menurutku acaranya biasa biasa aja tidak ada yang istimewa. Istimewa dalan artian mungkin banyak pelukis ternama ikut meramaikan acara tersebut.

♡♡♡

Pengunjung dari berbagai kota sudah hadir melihat lihat lukisan yang dipajang diacara ini.

Entah , sudah berapa gambar sudah aku simpan di kameraku ini. Tak ketinggalan melewati moment yang diadakan pihak panitia penyelenggara setiap satu tahun sekali. Aku mengabadikan moment ini dengan berfoto bersama dengan pelukis ternama dan juga belajar banyak tentang tekhnik melukis.

Jujur , waktu SMA aku selalu melukis tak jarang lukisanku aku abadikan di mading sekolah. Banyak respon positif dari siswa siswi yang melihatnya dan juga Guru. Pernah aku ditawarin mengikuti lomba sand art aku menolaknya lantaran tidak belajar melukis diatas pasir.

Langkah ku terhenti saat melihat lukisan yang menggunakan tekhnik aquarel ini begitu sempurna dengan perpaduan warna. Aku menyukai lukisan ini. Namun aku tidak menemukan nama yang melukis dengan tekhnik seperti ini.

Acara yang ditunggu tunggu pun tiba.lelang lukisan akan dimulai banyak pengusaha yang ingin membeli lukisan dengan harga yang cukup fantastis untuk sebuah lukisan.

Aku hanya bisa tertegun melihat penawaran dari beberapa pengusaha yang mencoba menawarkan harga. Hingga akhirnya diputuskan bahwa penawaran berhenti di kisaran 500 juta. Mr.Smith sekaligus memenangkan lelang kali ini.

Mungkin banyak orang yang bertanya tanya siapa pelukis yang begitu luar biasa membuat lukisan dengan harga jual yang begitu fantastis.

Seorang wanita cantik dengan di pegangnya sebuah hasil kukisan yang tertutup kain hitam. Dan kalian tahu siapa wanita cantik yang sudah membuat hasil karya lukis luar biasa itu ?.

Kamu..

♡♡♡

"Hai.. boleh aku duduk disini" tanyaku mencoba untuk ngobrol lebih dekat dengannya

"Tentu , "jawabnya datar sambil menggeser tempatnya duduk memberikanku tempat

Aku gugup saat berada didekatnya. Mungkin karena aku belum terbiasa duduk berdua dengan orang ternama. Seorang pelukis muda berbakat yang sekarang duduk berada disamping aku.

"Kamu engga mengambil gambar ?"tanyanya memulai obrolan. Mungkin dia tau kalau aku bukan tipe orang yang suka berbasa basi.

"Engga , baterai kameraku low batte" kataku memberikan senyum simpul

"Kamu sendiri kenapa disini ?"tanyaku kali ini.

Perempuan itu tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya diam mematung entah apa yang dia pikirkan. Aku tidak tahu.
 "Hai.."panggilku setengah berteriak sambil melambaikan tanganku ke wajahnya

"Haa."jawabnya begitu terhentak

"Maaf , kalau sudah membuatmu terkejut" maafku

"It's Oke , "

"Boleh aku menanyakan sesuatu padamu" aku mencoba memberanikan diri dengan menanyakan sesuatu yang sudah lama aku simpan di otakku

"Tentu"

"Kenapa kamu selalu datang di stasiun itu dengan aktifitas yang berbeda ? Apa tujuanmu datang sementara kamu selalu berada disana hampir setiap malamnya ?"

"Apa perlu aku jawab ?"

"Tentu ,"pikirku

"Kurasa tidak , mungkin nanti kamu akan mengetahuinya" ucapnya

"Hmmp.. baiklah , kalau kamu engga mau jujur enga apa apa"

Hening

"Hei.. kenapa kamu selalu pakai kacamata ?"tanyaku lagi lagi

"Kurasa profesimu seperti wartawan yang selalu menyanyakan hal yang tidak penting" pikirnya dengan tenang namun penekananya begitu mengena di hatiku

"Maaf kalau membuatmu merasa engga nyaman dengan"

"Engga apa apa, kamu mau tau yang sebenarnya kenapa aku selalu datang ke stasiun dan selalu memakai kacamata" ucapnya

"Iyah , aku ingin tahu yang sebenarnya" aku begitu antusias mendengar ucapan darinya

Perempuan itu kembali terdiam sejenak. Perempuan itu mengambil sebuah lukisan yang tertutup kain hitam. Membuatku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya.

".."sambil membuka kacamata hitamnya melekat dihidungnya

"Kamu..." jawabku memotong ucapannya

"Yah aku buta ,"

"Aku semakin engga mengerti , kenapa hal ini bisa terjadi" tanyaku kali ini

"Kenapa hal ini bisa terjadi.."

"Kenapa hal ini bisa terjadi.. karena.." ucapnya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisan itu.

Sebuah lukisan anak laki laki sedang mengambil gambar saat mengikuti kegiatan MOPDB. Anak laki laki itu begitu serius mengambil gambar dengan kamera kesayangannya. Dan perlu kalian tahu siapa anak laki laki itu. Anak laki laki itu adalah..

AKU..

♡♡♡

"Hei..kamu terlihat cantik dengan gaun ini, kuharap kamu jangan melepaskannya hingga mentari membangunkan kita" pintaku melihat perempuan itu sudah sah menjadi isteriku memakai gaun pengantinya

"Kamu terlalu berlebihan , aku jelek untuk merias wajahku saja aku tidak bisa. Aku buta ," jawabnya

"Sssst.. kamu jangan ngomong seperti itu. Itu menurutmu, menurutku kamu itu cantik."

"Hmmmp.. terima kasih yah" ucapnya

"For what ?" Tanyanku tidak mengerti maksudnya

"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya dan mau menjadi imamku dan untuk anak anakku nantinya" ucapnya diiringi isakan tangis dari matanya

"Heii.. aku tidak pernah memintamu untuk menjadi yang sempurna , cukup jadilah dirimu dengan segala kekuranganmu pun aku suka sayang. Itu sudah menjadi kewajibanku kamu tidak usah khawatir , aku akan selalu menjagamu dalam keadaan apapun"jawabku menyeka air matanya

"Kamu jangan menangis sayang.. aku disini untukmu" ucapku kali ini memeluknya tidak ingin aku lepaskan kemudian aku mengecup keningnya.

END


Minggu, 17 Januari 2016

Pelangi Tanpa Hujan



PRAYOGA D WIBOWO



PELANGI TANPA HUJAN



“Jika suatu hari nanti kamu kembali bertemu dengannya jangan pernah malu mengatakan "Maaf". Katakan padanya kalau dia lah orang yang tepat dihidupmu”









Prolog :

Saat kamu mengharapkan dia yang selalu kamu perjuangkan. Tanpa sadar, ada orang lain yang selalu ada untukmu, selalu menyelipkan namamu dalam doanya.

Ketika semua orang pergi jauh meninggalkanmu, perlahan kamu mengerti arti dari perjuangan dia yang selalu ada untukmu.

Dia yang sunguh sungguh menjagamu tanpa meminta imbalan apapun. Dia yang selalu menyisahkan waktunya berusaha berada disampingmu tanpa meminta ucapan terima kasih darimu. Atau mungkin , dia yang selalu berusaha mengusap air matamu tanpa kamu memintanya.

Jika suatu hari nanti kamu kembali bertemu dengannya jangan pernah malu mengatakan "Maaf". Katakan padanya kalau dia lah orang yang tepat dihidupmu.













*Hujan & Rindu*

Seperti Hujan & Rindu yang tidak pernah bisa dipisahkan. Bukankah selalu ada Rindu saat Hujan tiada. Bahkan Hujanlah yang membuatnya menjadi Rindu. Mungkin mereka saling melengkapi satu sama lain bukan ?. Seperti Bulan & Bintang, Seperti merpati yang selalu setia dan tidak pernah ingkar. Seperti Aku & Kamu.

Hmmm....

Langit terlihat gelap tidak ada cahaya matahari yang menyinari. Mungkin telah memasuki musimnya  hingga membuat matahari enggan menampakkan dirinya.

Seorang gadis berkacamata tengah berdiri didepan gerbang sekolah dengan tangan melipat diatas dada dan berharap saja bisa mengurangi rasa gigilnya. Gadis yang biasa disapa Rahma itu salah satu siswa terbaik disekolah ini. Bagaimana bisa dikatakan terbaik ? Rahma selalu menjuarai lomba speeking English dan juga salah satu anggota Theater Semu yang selalu membawa pulang banyak piala.

Rahma selalu melakukan hal yang sama menunggu jemputannya. Berbeda dengan Reyhan yang tidak pernah dijemput. Keluarga Reyhan tidak pernah mengajarkannya untuk manja mungkin dari situlah Reyhan selalu bersikap mandiri.

Reyhan telah mengenal Rahma sejak dirinya duduk dibangku SMP. Hingga berlanjut ke SMA bahkan mereka berdua dipertemukan kembali dalam satu kelas.

Reyhan mempercepat langkahnya sambil menutupkan kepalanya dengan tangannya berharap Hujan tidak membasahi rambutnya.

"Kamu sedang apa ?" Tanya Reyhan saat melihat Rahma tengah melirik kearah jalan raya
"Menunggu jemputan , kamu belom pulang"
"Hmmp, engga , mau aku temenin" tawar Reyhan
"Apa engga ngerepotin kamu nemenin aku disini?"
"Engga kok , aku kan cowo masa membiarkan cewe menunggu sendirian disini"jawab Reyhan sambil tersenyum simpul
"Hmmmp,"

Tidak ada perbincangan lebih lanjut antara mereka. Reyhan tengah sibuk mencari sesuatu guna menjaga bukunya agar tidak basah. Sedangkan Rahma masih melakukan hal yang sama melirik kearah kanan jalan semoga jemputannya lebih cepat menjemputnya

Ini bukan kali pertama Reyhan selalu menunggu Rahma selepas pulang Sekolah. Bahkan Reyhan pernah melakukannya saat ia SMP

"Han , aku pulang yah"pamit Rahma sambil berlari kecil dan menutupkan kepalanya dari rintihan hujan
"Ehh.. udah dijemput toh , hati hati"jawab Reyhan sambil melambaikan tangannya.

Reyhan masih mengamati motor yang membawa pergi Rahma. Hingga tidak terlihat dipersimpangan jalan.

"Siapa orang yang menjemput Rahma ? Pacar ? Atau .. Lupakanlah jangan Buat persepsi konyol seperti ini Reyhan"Batinnya

"Adik , kenapa belom pulang ?"tanya Penjaga sekolah yang menyadarkan Reyhan dari lamunannya
"Ehh .. bapak bikin jantungan aja, ini mau pulang pak "jawab Reyhan
"Pintunya bapak kunci yah"
"Silahkan pak"

Reyhan pun langsung bergegas pulang. Untungnya hujan telah reda dan dirinya tidak khawatir dengan kondisi fisiknya dan buku pelajarannya.

"Saat kamu jauh dari orang yang kamu sayang, cukup rentangkan tangan dan kamu pejamkan matamu kemudian kamu bayangkan orang yang kamu sayang, Seakan mampu menghilangkan rasa Rindumu dengannya"

♡♡♡

*With You*

Tidak biasanya Reyhan datang telat , biasanya Reyhan selalu datang lebih awal dari anak anak. Kenapa sekarang dia belom dateng ?

"Ren , ko engga bareng reyhana ?"tanya Rahma yang begitu khawatir
"Engga ma , tadi gue ada tugas kelompok makanya gue sengaja berangkat duluan"jawab Reno
"Okee deh Thanks"

Apakah semuanya gara gara kejadian kemarin ? Apakah dia sakit ?

"Ma , dari tadi loe gue liatin kaya orang bingung gitu ?"tanya Lina yang nampak risih melihat tingkah laku sahabatnya
"Ehhh.. engga kok , "jawab Rahma dengan terbata bata
"Serius ?"tanya Lina kali ini untuk meyakinkannya
"Iyah Lina sayang"ucap Rahma sambil memeluk sahabatnya yang satu ini

Rahma selalu begitu sikapnya dengan sahabatnya begitu peduli terhadap siapapun. Termasuk Lina, Tak jarang kalau diantara mereka banyak yang menyebutnya saudara kembar. Padahal tidak , Hanya saja rumah Rahma dengan Lina tidak berjauhan hanya dibatasi satu blok/gang saja.

Yang benar saja 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Batang hidunya tidak nongol muncul juga.

Tiba tiba saja ada yang mengkagetkan Rahma dari belakang.

"Dor !!" Bentak Reyhan sambil memegang punggung Rahma
"Astagfirullah"jawab Rahma dengan terhentak
"Nungguin yah "ledek Reyhan sambil tertawa renyah
"Dih Geer banget kamu Han"elak Rahma sambil melipat tangannya
"Heeh jujur aja sihh"ledeknya sambil menjulurkan lidah
"Nyebelin tau gak"
"Yee.. dia baper"ucap Reyhan sambil menghampiri Rahma duduk di tempat duduknya

♡♡♡

Demi apapun seluruh siswa siswi SMA Negeri 12 benar benar bergembira. Lantaran guru guru ada rapat dinas.

"Ke gramedia yuk" ajak Reyhan sambil mengencangkan tasnya
"Ngapaiin ?"
"Cari buku lah , mau engga ?"
"Boleh , jangan lama lama yah"seru Rahma
"Okee" jawab Reyhan sambil memberikan tanda setuju

-

-

-

"Kamu suka novelnya" tanya Reyhan membuat Rahma terkejut
"Ehh.. engga ko"
"Ambil aja " suruhnya
"Loh , aku engga bawa uang lebih"
"Biar aku yang bayarin"
"Engga ahh, "
"Yaudah sini, biar aku yang beli"jawab Reyhan
"sejak kapan kamu suka sama novel han ?"tanya Rahma sambil menutup mulutnya menahan tawa
"Dih -, aku engga suka baca novel lebih baik baca komik"
"Terus kenapa dibeli ?"
"Aku beli buat kamu lahh"
"Hmmp, dibilang jangan beliin "
"Uang uang siap"ucap Reyhan sambil menjulurkan lidahnya
"Terserah kamu lah"

♡♡♡

Selepas pulang dari gramedia membelikan novel Rahma. Tidak hanya itu aja, Reyhan mengajak Rahma pergi ketempat Favoritenya dulu. Yah gedung kosong yang sudah tidak berpenghuni menjadi tempat favorite Reyhan dan Rahma. Bahkan meraka selalu menyaksikan keindahan matahari terbenam dan gemerlap bintang berhamburan dilangit.

"ketempat biasa yuk"ajak Reyhan kali ini
"Katanya habis pergi gramedia langsung pulang" jawab Rahma yang begitu kesal
"Please kali ini aja , mau yah yah"ajaknya yang tidak kehabisan akal
"Hmmp,"

"Han , tungguin dong aku kan pake rok"ucapnya yang begitu kesusahaan naik keatas
"Iyah iyah, ini aku tungguin"
"Hmmp"

Disinilah Reyhan dan Rahma selalu menceritakan peristiwa konyolnya. Bahkan mereka selalu menceritakan Rahasia dan Tujuannya setelah lulus nanti.

Lalu, mengapa tidak menjalin hubungan ? Kenapa Reyhan tidak mengungkapkan perasaannya ?

Reyhan tidak pernah berfikiran seperti itu. Percuma saja kalau di mengungkapkannya langsung, pasti Rahma tidak memiliki rasa yang sama kepadanya. Bisa jadi, Rahma mungkin menjauh darinya

Apalah yang Reyhan banggakan ? Otaknya saja tidak sepintar Rahma. Wajah Reyhan tidak ganteng seperti siswa laki yang selalu mendekati Rahma. Reyhan sadar kalau dia memang tidak pantas.. untuknya. Seperti langit dan bumi.

Lebih baik Reyhan mengkunci rapat rapat perasaan. Baginya berada disisinya sebagai sahabat sudah lebih dari kata cukup. Dengan begitu Reyhan bisa selalu tertawa bersama dengannya.

"Bukan dia yang memiliki kelebihan yang harus kamu pertahankan, Melainkan dia yang mampu membuatmu tertawa dengan caranya lah yang patut kamu pertahankan"

*About You*

Reyhan memang tidak menyukai novel lebih baik dirinya membaca komik. Disisi lain Reyhan pun memiliki hobby menulis, saat tidak ada tugas sekolah Reyhan selalu menulis cerpen. Bahkan Rahma pun tidak pernah mengetahui hobby ini. Rahma hanya mengetahui dirinya memiliki hobby bermain bola.

"Ka , boleh kita bicara sebentar"ajak Reyhan
"Boleh,"jawab ka Anggi kakak kelasnya yang juga ketua dari etarakulikuler Theater Semu
"Jadi gini ka , saya selalu nulis cerita , saya ingin menawarkan cerita saya untuk ditampilkan sama anak theater semu" ucapku
"Hmmp.. bagus dong, tapi saya engga janji yah , soalnya kalau ada yang mau menyerahkan cerita orang lain untuk ditampilkan, biasanya kita selalu rapat dan juga membaca dulu jalan ceritanya apakah ceritanya layak ditampilkan apa engga"paparnya
"Gini ka , saya udah ketik ceritanya kaka bisa baca , kalau menurut tim kaka bagus saya bersedia terlibat dalam pembuatan naskahnya, kalau engga bagus juga engga apa"ucap Reyhan sambil memberikan kertas yang kurang lebih ada 20 halaman
"Okee deh , kalau ceritanya bagus saya konfirmasi ke kamu"
"Okee ka ,"
"Oh..iyah nama kamu siapa ?" Tanya sambil membolak balik kertasnya
"Reyhan Aditiya kelas X 1 ka "jawab Reyhan sambil nyengir kuda
"Sekelas dong sama Rahma"
"Iyah ka,"
"Yaudah kalau gitu , saya titipkannya ke Rahma yah" saranya
"Jangan ka, jangan kasih ke Rahma"
"Loh , memangnya kenapa ?"
"E.. Rahma sering lupa ka , ini ka nomer Handphone saya kaka bisa hubungin saya"ucap Reyhan sambil menulis nomer handphonenya
"Oke deh"jawabnya memberikan tanda setuju

♡♡♡

Kurang dari satu minggu setelah pertemuan singkat dengan ketua eskul Theater Semu dan menyerahkan cerita yang baru alu selesaikan minggu lalu.

Respon positif dari eskul Theater semu membuat Reyhan girang tidak karuan. Seperti janjinya kalau seadainya diterima ceritanya dirinya bakal terlibat penuh dalam proses pembuatan narasinya.

Tentu Reyhan menyerahkan ceritanya ke eskul Theater Semu bukan tanpa alasan. Reyhan tahu kalau Rahka merupakan salah satu anggota Theater Semu yang selalu memerankannya dengan sangat baik dan penuh penghayatan. Makanya Reyhan dengan memodalkan semangat dan keyakinan Reyhan menyerahkannya.

Kenapa Reyhan tidak mengitimkannya ke penerbit saja ? Toh, lumayan kalau ceritanya dijadiin novel ?

Reyhan tidak pernah berfikiran sejauh itu. Bukan tidak berfikiran kedepan. Bukan , melainkan Reyhan ingin mencoba apakah dengan ceritanya semua murid SMA Negeri 12 mau menerimanya.

Masalah dikirim ke penerbit itu masalah gampang. Reyhan ingin melihat Rahma memerankan tokoh yang ada didalam ceritanya.

Bahkan ceritanya merupakan salah satu kisahnya dengan Rahma saat mereka duduk dibangku SMP.

"Han , ceritanya benar benar menarik"puji Ka Anggi yang membuat pipinya memerah
"Ahh.. kaka bisa saja ,"jawab Reyhan tersenyum senyum
"Oh..iyah , ini ada tiket penampilannya, tiket ini khusus buat penulisnya"ucap Ka Anggi kali ini sambil memberikan selembar tiket
"Terima kasih ka, saya usahin dateng ka"
"Okee"

"Bukan aku yang menceritakannya, melainkan penaku lah yang menulis semua tentangmu"

♡♡♡
*Show*

"Han "teriak Rahma dari kejauhan, Reyhan menoleh kearah sumber suara

"Udah tau pengumuman dimading"tanya Rahma sambil mengatur nafas
"Udah"jawab Reyhan tersenyum simpul
"Loh ? Emang apa?"
"Hari ini ada show dari Theater Semu kan ?"jawabnya untuk meyakinkan
"Ko kamu tau sih ?"
"Iyah lahh , udah lahh ayo kita masuk udah mau masuk"ajak Reyhan

Rahma masih tidak percaya kenapa Reyhan bisa mengetahuinya padahal, Reyhan belom lihat ke mading.

Lupakanlah masalah ini. Rahma berharap saja Reyhan bisa meluangkan waktunya untuk menonton dirinya tampil dengan rekan rekannya.

♡♡♡

Bel istirahat pun berdering terlihat siswa siswi berhamburan keluar kelas. Sekedar memberi makan cacing yang ada didalam perut yang meronta ronta.

Berbeda dengan Reyhan. Reyhan seperti biasa selalu menyempatkan waktu istirahatnya pergi ke perpustakaan untun mencari refrensi buat ceritanya. Diterima cerita yang Reyhan buat ternyata membuat Reyhan harus berfikir keras menghasilkan cerita cerita selanjutnya. Pasalnya Pelatih Theater Semu menunggu cerita cerita yang Reyhan buat.

"Ehh.. ada Reyhan, Jangan lupa nanti dateng yah " ucap Ka Anggi yang terlihat sedang sibuk membawa setumpuk buku
"Pasti ka" jawab Reyhan seperti biasa selalu memperlihatkan giginya yang tersusun rapi

♡♡♡

Selepas pulang sekolah Reyhan mmepersiapkan diri untuk hadir show Theater Semu.

Reyhan benar benar tersanjung berada dibangku barisan paling depan. Banyak orang bilang kalau barisan depan itu buat tamu tamu penting. Reyhan tidak memikirkan hal seperti ini baginya melihat action Rahma dari dekat membuatnya bahagia.

Drama yang berdurasikan hampir 2 jam telah habis. Teriakan penonton dan juga Applause terdengar seisi ruangan. Termasuk Reyhan yang memberikan semangat maupun tepuk tangan.

Selepas penampilan usai Reyhan hendak memberikan ucapan selamat secara langsung ke Rahma yang sudah memberikan penampilan yang membuat dirinya kagum dengan bakat akting Rahma.

Bukan hal yang sulit masuk keruangan make up. Mungkin karena Reyhan lah yang menulis ceritanya jadi diperkenankan masuk keruangan Make Up. Reyhan menunggu Rahma diluar ruangan. Sesekali melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 8 malam.

"Ehh ada Reyhan" sapa Ayu salah satu pemain dalam drama tadi dari dalam ruangan make up
"Iyah nih yu" balesnya
"Lagi ngapain disini han" tanyanya kali ini yang membuat Reyhan Kikuk
"Ini.. lagi nungguin Rahma yu"jawab Reyhan terbata bata
"Oh.. Btw , ditunggu yah cerita selanjutnya"puji Ayu sambil memperlihatkan dua jempolnya
"Ehh.. terima kasih yu, iyah yu"
"Duluan yah han , Dah"

5 menit..

10 menit..

20 menit..

Reyhan masih menunggunya sekali dirinya membuka handphonenya dan membalas pesan masuk yang belom sempat dibaca.

"Reyhan"
"Ehh.. iyah,"
"Kamu ngapain disini" tanya Rahma dari dalam ruangan
"Nunggu kamu"jawabnya
"Nunggu aku ? Emangnya kenapa?"
"Aku mau ngomong, kalau akting kamu tadi bagus"
"Hmmp, terima kasih, kamu dateng"
"Dateng dong,"
"Hmmmp"
"Pulang bareng yuk"ajak Rahma kali ini

*Valentine Day's*


Tidak ada hari yang spesial semuanya terasa sama. tapi, hari ini kalau dibilang banyak orang menyebutnya hari kasayang. Bahkan banyak sebagian orang dibelahan bumi mananpun merayakannya. Banyak cara yang dilakukan untuk membuat orang yang disayangi tersenyum. Mulai dengan memberikan cokelat,menyisahkan waktu luang berlibur bersama sampai memberikan sebucket bunga.

Begitupun hal nya yang dilakukan Reyhan. Reyhan berencana ingin memberikan sebucket bunga mawar.

Reyhan tidak melakukan ini sebelumnya. Mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta ? Reyhan tidak pernah merasakan hal ini. Tidak pernah merasakan jatuh cinta.
Ah.. baginya jatuh cinta bagian yang dianggap biasa.

♡♡♡

Reyhan memilih bunga berwarna pink. Pikirnya semua wanita menyukai warna itu yang jauh lebih dibilang Sweet Colour.

Entah kenapa Reyhan begitu berniat memberikannya ke Rahma ? Bagaimana jika ia menolaknya ? Bagaimana jika ia tidak menyukainya ? Bagaiaman jika ia membuangnya tepat dimukanya ?. Pemikiran macam apa yang menghantui Reyhan.

Seperti biasa setelah Rahma pulang Eskul Tehater Semu. Reyhan mengajaknya pergi ketempat biasa. Yahh bangunan tua yang sudah tidak berpenghuni menjadi tempat favorit mereka. Disanalah Reyhan dan Rahma bisa melihat keindahan ciptaanya , bahkan saat bintang menghiasi Reyhan dan Rahma ingin bercerita padanya mengenai Rahasianya

"Kamu ngapain ngajak aku kesini?"
"Hmmp- aku mau kasih kamu sesuatu"jawab Reyhan dengan terus terang
"Mau kasih apa ? Aku lagi engga ulang tahun"ucapnya sambil senyum senyum
"Bukan,"
"Lalu ?"

"Aku hanya ingin memberikan ini" ucap Reyhan sambil memberikan sebucket bunga yang terbungkus
"Ini apa ?" Tanya Rahma yang begitu bingung
"Buka aja" suruh Reyhan


"..."
"Kamu suka" tanya Reyhan
"Suka banget , terima kasih yah han" jawabnya sambil mencium bungnya
"Iyah , kupikir kamu engga suka dengan bunganya"
"Siapa bilang"
"Kamu lahh"
"Ihh.. nyebelin "

Akhirnya Reyhan bisa melihat Rahma tersenyum bahagia. Begitupun Rahma begitu sangat.. menyukai pemberian dari Reyhan.

Reyhan dan Rahma tertawa bersama menceritakan pengalamannya selama ini.

"Bahagia bukan saat menjadi bagian dari hidupnya. Melainkan, bahagia itu saat kamu melihat dirinya menarik pipinya"
*Jealous*

Seperti biasa Reyhan selalu berlatih sepak bola setiap sabtu sore. Reyhan berlatih dengan giat baginya Turnamen kali ini merupakan ajang yang bergensi. Reyhan berniat ingin menunjukkan kemampuannya mengolah kulit bundar.

"Han , pertandingan pertama kamu jadi stater"ucap pak Anang pelatih Bola
"Terima kasih pak , "ucap Reyhan sambil melepas sepatu bolanya

Reyhan menarik nafasnya dalam dalam. Berusaha menghilangkan rasa penatnya. Reyhan lupa saat hari valentine lalu Reyhan bukan hanya memberikan sebucket bunga saja. Melainkan Reyhan membeli juga bunga berwarna merah dan kuning yang berada di loker pribadinya.

Handphonenya berdering tanpa menunggu lama Reyhan membuka Handphonenya.

From : Rahma
Kamu ada acara engga ? Kalau engga ada, aku mau kasih tau nih

To : Rahma
Engga ada , aku lagi distadion lagi latihan

From : Rahma
Okee deh aku kesana yah

Reyhan benar benar dilema apa yang dia katakan ke Rahma nantinya ? Beranikah Reyhan memberikannya bunga yang masih tersisa diloker pribadinya ?.

"Han , "suara perempuan itu menyebut namanya
"Iyah , "
"Kamu sedang apa kesini ?"tanya Reyhan
"Engga apa apa bosen aja , ada yang mau aku kasih tau nih"
"Kiraiin ada apa, apa emangnya "tanya Reyhan sudah tidak sabar
"Jangan kaget yah"
"Iyah , aku juga mau kasih kamu sesuatu , "
"Oh..iyah , apa"
"Engga ahh kamu dulu"ledek Reyhan
"Okee yah gitu"

Tiba tiba .. suara motor gede menghampiri kami tengah asyik ngobrol. Reyhan terlihat bingung siapa orang itu sedangkan Rahma hanya tersenyum senyum.

"Hai sayang , "sapa laki laki yang mengendarai motor gede tadi sambil merentangkan tangannya memberi tanda dipeluk oleh Rahma
"Hai , lama banget sih" ucap Rahma memeluk tubuhnya
".."

Sayang ? Benarkah laki laki ini pacar barunya Rahma ? Apa mungkin Rahma ingin memperkenalkan dia pada Reyhan ?

"Ayolah jangan buat persepsi negative dulu" batin Reyhan

"Han , ini Angga pacar aku , "Rahma memperkenalkan
"Reyhan Aditiya" ucap Reyhan sambil mengulurkan tangan
"Angga Saputra" balasnya

Sesaat Angga manjauh dari Reyhan dan Rahma karena ada bunyi Handphonenya. Reyhan masih berdiam diri tidak percaya telah pupuskah harapannya mendapatkan Rahma ? Apakah Rahma hanya menyebut Reyhan tidak lebih dari seorang sahabat ?.

Hening ..

"Hann , katanya kamu mau kasih aku sesuatu" tanya Rahma membuka percakapan yang sempat hening
"Ehh.. iyah , sorry aku lupa"jawab Reyhan sambil mencari sesuatu berada didalam tasnya

"Ma , simpan bunga ini yah"pinta Reyhan
"Ya'Ampun Reyhan , kemarin aja kamu udah kasih aku sebucket , masa sekarang kamu ngasih aku lagi sih"
"Sengaja aku belinya banyak " tawa Reyhan
"Terima kasih ya" ucap Rahma sambil memeluk Reyhan

"Han , aku pergi dulu yah" ucapnya sambil melambaikan tangan
"Dadah"balas Reyhan dengan lambaian tangan.

Sekarang Reyhan mengerti apa arti Persahabatan ini , dan juga apa arti Perasaan Reyhan.

"Jika kamu jatuh cinta padanya, kamu harus mampu menerima laku, Karena jatuh cinta yang sebenernya itu harus satu paket dengan luka"
*Broken*

Tidak ada kegiatan yang Reyhan kerjakan. Selain membuka akun jejaring sosial Facebooknya sudah lama tidak dibuka. Semenjak masuk SMA Reyhan jarang aktif di dunia maya.

Banyak konfirmasi yang menerima pertemanannya. Tak lain dari orang orang yang belum Reyhan kenal. Tak jarang pula, Reyhan menemukan Foto foto dengan gaya yang berlebihan bereda diberandanya.

"Membosankan" gumam Reyhan

Sekilat Reyhan mencari nama yang sudah diotaknya melihat apa saja kegiatannya selama ini. Apakah orang yang Reyhan cari masih aktif atau sudah mengganti akun yang baru

Rahma

Hati Reyhan hancur berkeping keping saat melihat posting foto Rahma dengan Angga bermesraan. Kemudian Reyhan melihat Rahma mengganti statusnya menjadi berpacaran. Rahma tidak melakukan hal ini sebelumnya tidak pernah memposting foto berdua dengan laki laki. Selain dengan Reyhan

♡♡♡

Kebosanannya semakin bertambah saat melihat foto yang beredar di Akun jejaring sosial milik Rahma.

SHIT !!

Kenapa Reyhan begitu cemburu melihat kemesraan mereka berdua ?. Benar bena Bodoh padahal Rahma mengatakan kalau Reyhan tidak lebih dari seorang sahabat. Tidak lebih dari itu

Kenapa Reyhan masih mengharapkan yang tidak pasti ?.

Yahh.. seperti biasa Reyhan ingin menenangkan dirinya pergi kesuatu tempat favoritnya. Reyhan selalu menghabiskan waktunya sendiri dengan merenung ditempat ini.

Saat dijalan menunju tempat favoritnya Reyhan melihat gadis yang tidak asing lagi. Siapa lagi kalau bukan Rahma

Rahma berjalan dengan langkah cepat sambil menyilangkan tangannya dan berharap saja angin malam tidak terlalu lama masuk kedalam tubuhnya.

Reyhan menghampirinya, Reyhan tidak tega melihat.. sahabatnya seperti itu. Terlihat raut wajahnya sedikit kacau begitu pula pakaian yang digunakannya bukan yang biasa Rahma pakai.

"Hei , butuh tumpangan" tanya Reyhan sambil memperlambat laju motornya
"Reyhan , kamu ngapain ?"tanyanya sambil melihat ke araha kanan-kiri jalan
"Cari angin, ayoo naik"ajak Reyhan
"Hmmmp"

♡♡♡

Reyhan dan Rahma masih duduk termenung tanpa ada obrolan apappun.

Hening ...

"Kamh kenapa ?"tanya Reyhan membuka obrolan terlebih dahulu
"Aku engga apa apa"kata Rahma sedikit berbohong
"Bohong , kamu terlihat kacau sekali"
"Beneran aku engga apa apa"elakknya kali ini
"Ayolah , aku udah kenal kamu lama kenapa kamu engga mau cerita juga sih"rayu Reyhan yang tidak hentinya merayu Rahma

Dengan sangat.. terpaksa Rahma menceritakan semuanya.

"Aku janji, tidak bakal membuatmu bersedih lagi"batin Reyhan sambil mengepalkan tangannya menandakan janjinya pada semesta

"Jangan biarkan angin leluasa masuk ketubuhmu" ucap Reyhan sambil memberikan switter yang dipakainya
"Hmmmp, terima kasih"

Sudah pukul 9 malam itu berarti Reyhan  harus menghantarkan Rahma pulang. Reyhan tahu kalau Rahma jarang sekali pergi keluar rumah sampai malam hari.
*Sweet Seventeen*

Tidak akan pernah lupa dengan hari spesialnya. Bahkan Reyhan sudah melingkarkan tanggal ulang tahun Rahma dikalendernya. Dan juga menandakan dikalender Hanpdhonenya.

Reyhan sudah menyiapkan kado spesial untuknya jauh jauh hari. Reyhan pun sudah memberanikan diri mengutarakan isi hatinya. Toh, yang terpenting Reyhan sudah mengungkapakan yang sejujurnya urusan diterima atau ditolak itu urusan gampang.

Seperti biasa Reyhan selalu memberikan sebucket bunga mawar berwarna merah muda dan kado boneka yang berukuran besar menjadi pilihannya. Reyhan tau kalau Rahma menyukai Boneka yang berukuran besar dengan alasan supaya mudah memeluknya.

Reyhan sudah merencanakannya tepat satu minggu sebelum hari ulang tahun dan juga mengkordinasi orang tua untuk membuat kejutan yang sudah Reyhan rancang. Berharap saja Rencana ini ampuh membuat Rahma kagum dan tekejut.

"Mah , pah"panggil Rahma merasa aneh melihat rumah dengan lampu mati

Tidak ada respon, Rahma seakaan benar benar tidak mengerti apakah mamah dan papahnya pergi keluar kota tanpa sepengetahuan dirinya ?.

Tidak itu tidak mungkin, mamah dan papah selalu mengabari jauh jauh hari.

1

2

3

"Suprise !" Teriak Reyhan , mamah dan papah serentak
"Mamah , papah, Reyhan bikin kaget aja"
"Hehe"
"Happy Birthday to you"uca mamah memberikan kode lebih awal

Papah dan Reyhan pun menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Tidak lupa dengan kue ulang tahun yang Reyhan belikan tadi sore.

"Potong kuenya"kode Reyhan sambil nyengir kuda
"Reyhan !!!"
"Potongan pertama untuk siapa nih"ledek Reyhan kali ini
"Untuk mamah lah"jawab Rahma sambil menjulurkan lidahnya

-

-

-

"Tante , boleh saya ngomong berdua dengan Rahma"ucap Reyhan
"Tentu , ayoo pah kita keatas dulu ada anak muda yang dimabuk cinta"kata mamaj sambil menggandeng tangan papah
"Apaan sih mah" elakk Rahma

Reyhan sengaja memilih halaman belakang rumah Rahma. Disana ada bangku yang disediakan sekedar menikmati keindahan malam.

"Kamu mau ngomong apa ?"tanya Rahma kali ini sambil merapihkan duduknya
"Hmmp-, besok kamu ada waktu ?" Tanya Reyhan
"Engga ada han , " ucapnnya
"Besok nonton aku yah , turnamennya udah dimulai, jam 3 sore yah"
"Oh..iyah , pasti han ?"
"Iyah , club aku udah masuk semifinal soalnya "kata Reyhan sambil memperlihatkan susunan giginya
"Wihhh selamat yah, "

SHIT !!

Kenapa Reyhan lebih memilih topik seputar turnamennya ? Kenapa tidak langsung saja ? Dasar pecundang !. Oke kalian boleh mencaciku, kalian boleh memberikan label apapun untukku

"Han , mau ngomong sesuatu nih, kasih pendapat yah" ucapnya sambil mengusap kedua telapak tangannya
"Iyah Rahma " jawab Reyhan begitu Antusias
"Mmmm, menurut kamu Zian gimana ?"tanya Rahma menoleh kearahnya
"Zian ?? Maksud kamu apa?"
"Iyah Zian Saputra teman satu tim kamu, tadi dia nembak aku han "jawab Rahma nyegir kuda

Double Shit !!

Percakapan macam apa ini.

"Ayolah han , kau tidak boleh egois seperti ini"batinnya

"Han , kamu denger pertanyaan aku kan"
"Ehhh.. denger kok, menurut aku dia orangnya baik , cocok deh sama kamu"jawab Reyhan sambil menunjukkan jempolnya
"Hmmmp,"
"Terus kamu terima ?"
"Iyah ,"

Hening..

"Rahma , aku pamit dulu yah , besok kan ada pertandingan soalnnya"
"Iyah , makasih yah "
"Hmmmp,"
"Semangat yah" ucapnya
"Iyah"

Reyhan paham ucapan terakhir yang terlontar begitu saja dari Rahma. Reyhan yakin ucapan itu bukan untuknya. Melainkan untuk Zian teman satu tim Reyhan.
*Pembuktian*

Sepanjang perjalanan pulang pikiran Reyhan masih tidak percaya. Benarkah begitu cepat mencari pengganti yang baru ?. Bagaiamana bisa Rahma mempercayakan hati kecilnya ke Zian yang dikenal Playboy ?.

"Ayolah han , lupakan masalah ini besok loe ada pertandingan fokus"batinnya menggurutu

"Zian dengan siapa ?"batinnya kembali bertanya saat melihat zian sedang jalan bermesraan dengan seorang perempuan yang tidak dikenal Reyhan

Tanpa berfikir lama Reyhan mengikuti mereka berdua.

Tiba disebuah caffe yang tidak cukup jauh, ada obrolan yang terasa ganjil.Reyhan mengambil handphonenya untuk direkam sebagai bukti.

"Sayang , sampai kapan kamu bakal sembunyiin hubungan kita ?"tanya Gadis itu
"Hmmmp,"
"Kapan kamu bakal putusin Rahma ?"
"Kalau sudah ada waktu yang tepat" jawabnya
"Janji yah" ucap gadia itu sambil menunjukkan jari kelingkingnya
"Iyah sayang"

Oh..my god , itu berarti kalau Zian sudah selingkuh ?. Benar saja dugaan Reyhan kalau Zian tidak mungkin setia sama satu orang perempuan.

To : Rahma
Belom tidur kah ?

Tidak ada 5 menit Reyhan mendapatkan pesan singkat dari Rahma

From : Rahma
Belom han

To : Rahma
Aku kerumah kamu yah , ada hal
penting

Setelah sampai didepan rumah Rahma benar saja lampu rumahnya masih menyala itu berarti Rahma masih belom tidur. Sengaja aku menunggunya diluar

To : Rahma
Aku udah diluar , tolong keluar sekarang

-

-

-

Reyhan dan Rahma masih berdiam diri. Entah apa yang bakal Reyhan ceritakan terlebih dahulu.

"Han , kamu mau ngomong apa ?"tanya Rahma memulai percakapan sambil menggosokkan kedua tangannya

"Ayolah .. Reyhan Aditiya ceritakan saja, toh ini peluang untukmu mendapatkan hatinya bukan"batinnya

"Han .. "panggil Rahma kali ini membuyarkan lamunan Reyhan
"Ehh.. , seberapa percayanya kamu mempercayai Zian ?"tanya Reyhan sedikit serius
"Maksud kamu apa han ?" Ucap Rahma tidak mengerti maksudnya
"Maksud aku , kamu yakin dengan pilihan kamu memilih Zian untuk jadi pacar kamu ?"
"Iyah , memangnya kenapa ?"
"Hmm.. Zian selingkuh ma ,"ucap Reyhan
"Maksud kamu apa ngomong kaya gitu ? Apa kamu punya bukti ?"bentaknya
"Tunggu"

Reyhan mengeluarkan handphonenya dari saku celananya sementara Rahma melipat tangannya kemudian membuang wajahnya tanpa memandang Reyhan.

"Kamu bisa lihat sendiri ma , "
"Okee"

Rahma masih melihat video yang Reyhan rekam kejadian itu. Ada raut wajah berbeda dari Rahma.



"Maksud kamu apa ha ?, Zian engga bakal buat seperti itu"bentaknya kali ini sambil membanting Handphonenya Reyhan
"Aku engga bermaksud buat hancurin hubungan kamu ma , Zian engga cocok untuk kamu, Zian itu orang yang brengsek ma," ucap Reyhan

PLAK !!

Satu tamparan melesat mulus tepat dipipi kanan Reyhan. Mungkin ini jawaban yang bakal diterima Reyhan.

"Zian engga bakal buat seperti itu,"bela Rahma kembali masuk
"Asal kamu ma, Aku cinta sama kamu" teriak Reyhan membuat langkah lama terhenti

Rahma memutar badanya kembali menghampiri Reyhan masih berdiam diri.

PLAK !!

Satu tamparan lagi kembali melesatnya.

"Apa karena itu kamu ingin hubungannku berakhir ,"

Reyhan masih tidak menjawab pertanyaan Rahma. Reyhan masih berdiam diri memegangi pipinya terlihat memerah.

"Aku kecewa sama kamu han ,"ucap Rahma terakhir kemudian kembali masuk kerumah

Reyhan mengangkat wajahnya seakan tidak percaya dengan perkataan terakhir dari sahabatnya.

Segitu bencikah Rahma membenci Reyhan ?

Segitu kecewa kah Rahma terhadap perilaku Reyhan ?


"Terima kasih sudah mengenalkan aku dengan yang namanya, Rindu ,Cinta dan Luka"
*Match*

Pertandingan kali ini benar benar dipadati penonton dari kedua kesebelasan. Terlihat Rahma sudah tiba dibangku penonton tidak sabar melihat aksi dari Reyhan dan juga Zian pacar barunya.

Kali ini Reyhan dimainkan lebih awal. Pelatih masih mempercayakannya sebagai starting eleven.

Sorak sorak terdengar ditribun penonton yang sudah tidak sabar. menyaksikan laga kali ini.

Pemenang dari turnamen kali ini akan diajak berlibur sekaligus berlibur di Amsterdam. Kabar bagus jika ada pemain bagus maka akan dikirim ke club Ajax.

Tidak ada goal dibabak pertama. Penonton masih berharap kalau Tim nya lah yang layak melaju ke Final.

Babak kedua sudah bergulir terdengar yel yel dari tribun penonton menambah semangat para pemain untuk mencetak goal memenangkan laga ini.

Tiba tiba..

Reyhan terjatuh akibat tekel keras dari tim lawan. Namun Refree tidak melihat ada tanda Fouls. Sontak penonton menyurakinya.

Reyhan masih meringis kesakitan Refreee memberhentikan pertandingan. Tim medis terlihat dilapangan melihat keadaan Reyhan.

Tim medis memberi kode agar Reyhan digantikan oleh pemain lain. Sialnya cidera Reyhan terbilang cukup parah. Tim medis tidak mengasih tau Reyhan

Reyhan ditanduk keluar lapangan digantikan oleh Zian. Penonton memberikan Applause untuk Reyhan sekedar memberikan semangat

-

-

-

Akhirnya pertandingan dimenangkan oleh Tim Reyhan. Zian adalah penyumbang goal semata wayangnya yang menghantarkan

"Selamat yah sayang.. kamu hebat"puji Rahma sambil memeluk Zian
"Iyah dong , goal ini kan khusus buat kamu" jawabnya sambil membalas pelukkan Rahma

Sementara nasib sial tengah menimpah Reyhan yang cidera patah kaki. Tim medis memastikan Reyhan tidak bisa diturunkan dilafa terakhir.

Dan sialnya lagi. Reyhan sekolah harus menggunakan tongkat hingga kakinya kembali pulih.

"Biarkan aku dalam keadaan seperti ini, Hingga luka gerah dengan sifatku , toh sepertinya aku sudah bersahabat dengan.. Luka "
*Sorry*

Terdengar suara teriakan sepanjang koridor kelas. Tak jarang banyak siswa yang histeris saat melihat club kesayangannya melaju ke babakfinal.

Rahma melangkah kan kaki hendak masuk ke kelas.

Benar saja , Reyhan tidak ada dikelas kemana dia ? Biasanya Reyhan selalu datang lebih awal.

Selalu menyapanya di depan kelas ?.
Selalu membuatnya jantungan setiap pagi ?
Bahkan Reyhan selalu membuatnya tertawa tanpa henti melihat tingkah lakunya seperti anak kecil.

Kemana dia saat ini ?

apakah Reyhan marah terhadap perilaku semalem ?

Membanting handphone kesayangannya ?

Atau Reyhan akan pindah sekolah hanya karena aku menamparnya ?

"Ayolahh.. ini benar benar tidak lucu, kenapa aku yang begitu khawatir ?"batin Rahma

Rahma melangkah kan kakinya hendak pergi ke kantin. Siapa tau aja Reyhan ada disana.

Langkahnya terhenti saat telinganya merasa terganggu mendengar ucapan dari teman temannya.

"Ehhh.. loe tau engga , kasihan tau Reyhan kakinya patah"kata perempuan yang tidak diketahui namanya
"Loe kata siapa?"balas temennya
"Gue liat sendiri kal, nonton pertandingannya"

Rahma melanjutkan langkahnya terhenti.

Bel masuk terdengar begitu keras. Rahma enggan melanjutkan langkahnya hanya tinggal beberapa meter lagi dari kantin. Dan kembali kekelas melanjutkan pelajaran.

♡♡♡

"Teman teman , malam ini mau engga jenguk Reyhan ?"teriak Ketua kelas
"Emang Reyhan kenapa ?" Tanya salah seorang siswa
"Dia sakit , kakinya patah "
"Mau engga ?"
"Okee" jawab seluruh kelas serentak hanya Rahma tidak menjawab
"Jam 8 udah kumpul yah"

Dilema..

Yah kata itulah yang saat ini tengah dirasakan Rahma. Satu sisi hari ini akan ada latihan Theater Semu yang sebentar lagi akan ada performance. Sisi lain Rahma ingin menjenguk sahabatnya.

Rahma bisa saja membolos dari latihan Thetaer demi menjenguk Reyhan.

Tapi..

Apakah Reyhan bakal menerima kedatangannya dan melupakan semua kejadian 2hari yang lalu saat Rahma membanting dan menampar pipinya ?

Apakah Reyhan akan memandang wajahnya ?

Apakah Reyhan mau memaafkan kesalahannya ?

Langkahnya terhenti didepan gerbang rumah Reyhan. Sebagian teman kelasnya sudah masuk kedalam membawa buah buahan. Sementara Rahma masih mematung didepan gerbang.

"Rahma , ayoo masuk "ajak Dina
"Hmmmp, aku disini aja dehh"jawabnya sedikit meragu
"Loh emangnya kenapa ?, kamu kan sahabatnya"
"Hmmp, engga apa apa sihh "
"Yaudah dehh"

"Din ,"panggil Rahma sambil menghampiri Dina
"Iyah, apa kamu berubah pikiran ?"
"Engga , tolong kasih ini yah !"
"Semoga cepat sembuh" ucap Rahma sambil memberikan selembar tiket nonton Theater Semu
"Hmmmp"

Rahma masih menunggu teman temannya diluar rumah. Sesekali tangannya dilipat berharap saja bisa menghilangkan rasa dinginnya.

"Han , ini ada tiket dari rahma"ucap Dina sambil memberikan tiketnya
"Hmmp, Rahma dateng?" Tanya Reyhan
"Dateng tapi dia diluar"
"Kenapa diluar ?"
"Engga tau, oh .iya, semoga cepat sembuh kata dia"sambung Dina
"Iyah terima kasih yah"

♡♡♡
*About You*

Reyhan menyusuri setiap koridor dengan bantuan tongkat. Kakinya tidak mampu menahan tubuhnya. Yah.. butuh waktu 3 bulan untuk memulihkannya seperti semula.

Setibanya diruang Aula sekolah, Reyhan mencari seseorang yang dia carinya. Ternyata orang itu belum tiba dari perjanjian sebelumnya.

Bukan. Bukan Rahma yang akan Reyhan temui melainkan Ka Anggita Ketua Theater Semua lah.

Reyhan melatakkan tongkatnya disamping kanannya. Kakinya dia biarkan dalam keadaan lurus. Supaya tidak keram ataupun kesemutan.

Sesekali Reyhan mengecek Handphonenya siapa tau aja orang itu menghubunginya.

Sementara dipangkuannya terlihat berlembar lembar kertas berisikan naskah cerita pendek yang Reyhan buat.

Reyhan kembali membaca sekilas cerita yang dibuat sesekali Reyhan tersenyum senyum alur ceritanya. Yah.. cerita itu Reyhan buat memang sama dengan kisahnya. Kisah yang tidak mungkin pernah terjadi dalam hidupnya. Bahkan kalau dibilang Reyhan begitu lancangnya menceritakan kisahnya menjadi sebuah cerita pendek.

Hanya saja, nama tokohnya Reyhan ganti. Supaya tidak ada yang mencurigai dan juga tidak seperti kisah yang sebenarnya.

"Han , maaf udah lama menunggu"panggil Ka Anggita dari
"Ehh.. engga apa apa kok ka" jawabnya sambil menutup ceritanya
"Udah mendingan han ,? Maaf engga bisa jenguk"
"Udah kok ka, iyah engga apa apa ko ka"
"Eh..ini ka ada cerita lagi, kaka baca dulu yah , kalau ada bagian yang kurang kembalin lagi biar saya revisi" ucap Reyhan sambil memberikan berpuluh puluh lembar kertas
"Kamu.. yah , masih aja sempet buat cerita , pasti han ,"

♡♡♡

Kenapa pikiran masih mengkhawatirkan kondisi Reyhan ?. Padahal Rahma sudah membuatnya patah.

Rahma tidak konsentrasi saat diadakan galdiresik bersih. Pelatihnya sekali mengingatkannya agar tetap fokus.

Bad day..

"Rahma , fokus dong"teriak pelatihnya dari bangku penonton yang melihat aktingnya kurang begitu memuaskan

Sementara Rahma berusaha agar bisa fokua fokus dan fokus. Ternyata tidak bisa dia lakukan.

Benar saja briefing kali ini Rahma lah yang menjadi sorotan. Rahma hanya diam tertunduk mendengarkan saran dari pelatihnya.

Memang pantaslah Rahma mendapat arahan seperti itu. Yah.. mungkin inilah pelajaran yang dapat diambil.

Tinggal menunggu jam perfomance akan dimulai. Semua pemain berisitirahat dan semoga saja esok hari tenaganya terkumpul

Tidak dengan Rahma, Rahma masih memikirkan mungkin kah Reyhan akan menontonnya walaupun dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk hadir.
*Everything*

"Telfon ? Engga ? Telfon engga ?"batin Rahma bertanya sambil digengamnya handphonenya

Kenapa jadi dilema begini coba. Rahma masih memutar mutarkan handphonenya. Sementara Show nya akan dimulai 2 jam lagi.

Kesibukan dipanggung telah nampak. Semua crew mempersiapkan diri, crew Make up sudah merias beberapa pemain. Sementara Rahma menolak untuk di rias , dengan alasan ingin menghubungi sahabatnya

30 menit sebelum show semuanya sudah stand bye. Sementara Rahma masih sibuk merias diri.

"Rahma gimana , sahabat kamu dateng engga ?"tanya mba Sartih crew bagian Make up
"Engga tau mba," jawab Rahma dengan frutasi
"Loh , emangnya kenapa ?"
"Dia lagi sakit mba"jelas Rahma
"Oh..yaudah yang penting kamu fokus sama aktingnya, briefing kemarin kamu paling banyak dapet kritikan soalnya"
"Iyah mba , aku tau ko"

"Okee , finish semua, yuk semua crew dan pemain kita kumpul dulu" teriak Bang Dul pelatih Theater Semu

"Okee , sebelum penampilan dimulai ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu"ucap Bang Dul

Hening ..

"Berdoa selesai, gue harap semua pemain fokus sama narasinya, Rahma loe bisa lupaiin masalah sebentar kan"tanya Bang Dul seakan akan Rahma disinilah yang bersalah

"Bisa Bang" jawab Rahma

"Gue harap engga malu maluiin, soalnya penulis cerita ini bakalan hadir, walaupun keadaan dia tidak memungkinkan"tambah Bang Dul

Penulis cerita ini ?

Siapa ? Kenapa Rahma tidak pernah tau siapa yang membuat ceritanya yang sangat menyentuh.. dan juga seperti kisahnya.

♡♡♡

Applause !!!

Terdengar teriakan penonton yang sudah tidak sabar melihat penampilan dari Eskul sekolah kami.

Mungkin ini penampilan tersulit yang diperankan Rahma. Yah..sulit karena tidak ada kehadiran Reyhan selalu menontonnya dan memberikan semangat untuknya.

Pandangan Rahma masih mencari sosok yang dia cari didalam otaknya. Satu baris bangku penonton terlihat lengkap.

"Biasanya Reyhan selalu duduk dibangku bariasan paling depan"Batinnya

Setelah show selesai Rahma mencari Reyhan dikerumunan banyak orang.

Ternyata..

"Reyhan"panggil Rahma sambil berlari mengejar laki laki berjalan menggunakan tongkat

"Kamu datang juga han , "ucap Rahma sambil mengatur nafasnya
"Hmmmp, " jawabnya singkat
"Terima kasih yah"
"Iyah , aku pulang dulu yah"pamitnya

Rahma masih mengamatinya dari jauh hingga Reyhan menghilang dibalik pintu.

Ada yang aneh dari sifat Reyhan. Mungkinkah Reyhan berubah ? Atau hanya firasatnya saja ?. Oh.. tidak, kenapa Rahma harus memikirkan perilakunya ? Siapa dirinya dihidup Reyhan.

Masalah Reyhan berubah atau tidak itu urusannya. Seharusnya Rahma sepatutnya meminta maaf,

Sesulit itukah kata itu ? Padahal kata itu tidak ada apa apanya dibandingkan rasa sakitnya.

Yah.. sakit karena sahabatnya sudah memilih orang yang salah.

Sakit saat dirinya harus mencintai orang lain dan berjuang sendiri untuk membuktikan kata itu.

Sakit saat orang lain menganggapnya tidak lebih dari seorang "Sahabat".

Haruskah Reyhan selalu menjadi pelangi dihidupnya memberikan warna warni dan kebahagian yang nampak begitu semu.

Walaupun indah dengan warna warni kehadiran pelangi hanya sesaat.

Apakah Reyhan akan menjadi seperti. Hanya orang sesaat yang jika dibutuhkan orang lain mencarinya. Jika tidak dibutuhkan dirinya disingkirkan seperti debu yang harus dilenyapkan

Entahlah..
*Good Bye*

Selepas Ujian Nasional semua siswa siswi merayakannya. Walaupun hasilnya belum diumumkan hal itu untuk mengurangi rasa penatnya selama 3 bulan lebih bertempur habis habisan layaknya seorang prajurit perang.

Banyak yang mengabadikannya dengan berbagai cara, ada yang mencoret coret bajunya full tanda tangan dari angkatan. Ada yang mengabadikannya berfoto bersama dengan memasang muka yang begitu idiot.

Bahagia itu sangat..sederhana. cukup berada dikeramaian orang yang kita sayang tertawa bersama, sudah lebih dari cukup.

Acara perpisahan sebentar lagi akan dimulai. Terlihat siswa siswi begitu beda dari biasanya, seharusnya mereka masih memakai pakaian seragam lengkapa. Kini, terlihat begitu gagah dan anggun.

Perpisahan kali ini bener bener meriah dari tahun sebelumnya. Banyak yang menampilkan bakatnya yang dipendam. Tak jarang ada yang menampilkan sexy dancer ataupun Band.

Teriakan dari siswa siswi begitu menggema, terutama laki laki melihat penampilan sexy dancer yang benar benar menggoda iman.

Cerita,Canda, dan duka menjadi pelengkap acara kali ini. Tak jarang sebagian siswa siswi menangis. Entah untuk alasan kenapa sampai menangis.

Setelah acara perpisahan selesai, Rahma mencari sosok sahabatnya sedari tadi tidak menampakkann dirinya. Biasanya Reyhan selalu aktif berkumpul dengan teman temannya.

Tapi ..

Reyhan tidak muncul muncul juga merayakan kebahagian bersama sama. sebelum melanjutkan ke pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Atau mungkin tidak pernah bisa ketemu lagi.

Sejak kejadian kala itu, Rahma tidak pernah bisa berkomunikasi lagi dengan Reyhan walaupun mereka berdua satu kelas. Reyhan dan Rahma lebih memilih bungkam.

Reyhan lebih memilih diam dengan alasan dirinya malu. Jika teman temannya tau kalau dia dicap sebagai laki laki pengecut tidak bisa mengungkapkan perasaanya

Sementara , alasan Rahma karena dia sudah membuat Reyhan patah, menghancurkan Handphonenya bahkan dengan entengnya Rahma menamparnya. Tanpa meminta maaf.

"Rahma "teriak salah seorang perempuan dari belakang yang benar benar menggangu telinga

"Iyah"jawab Rahma sambil menoleh kearah sumber suaranya.
"Loe engga tau yang sebenarnya apa"ucap Siska sambil mengatur nafasnya
"Tau apa ? Mendingan loe minum dulu dehh !! Gue risih liat loe engap engapan gitu"kata Rahma sambil memberikan sebotol air mineral dari dalam tasnya

Diteguknya air mineral yang baru dikasih Rahma hingga menyisahkan satu tetes.

"Haus neng"ledek Rahma saat melihat Air mineral yang dia kasihnya habis
"Tadi lu suruh gue minum, sekarang malah dibilang haus"jawabnya dengan memasang muka cemburut
"Gue bercanda kali, ehh.. emangnya loe mau ngomong apa"
"Reyhan sekarang mau berangkat ke Ajax Amsterdam ma"ucap Siska
"Bohong aja loe"
"Ini buktinya"

Rahma memerhatikan selembar kertas yang bertuliskan nama Reyham. Kalau Reyhan bakalan bergabung dengan club junior Ajax Amsterdam

"Anterin gue sekarang"pinta Rahma
"Baru tau kan loe, Tenang aja"

Siska memacu kecepatan motornya diatas rata rata. Mungkin cara mengemudi motor Siska mirip dengan The Doctor siapa lagi kalau bukan Rossi.

Tidak ada 30 menit kami tiba dibandara Internasional Soekarno-Hatta. Rahma masih mencari Reyham dibalik keramaian orang yang berlalu lalang. Sementara Siska mencari tau dari papan pengumuman yang tertera begitu jelas

"Kita terlambat 5 menit ma"ucap Siska
"Terlambat ? "
"Itu buktinya" katanya sambil menunjuk papan pengumumannya

Sejahat itu kah Reyhan pergi tanpa memberi kabar terlebih dahulu ke Rahma ?

Apakah dengan cara seperti ini, perpisahaan yang Reyhan inginkan ?

See You Again Rey..

♡♡♡
*Merried*

"Hai.  Sayang"sapa Zian sambil memeluk Rahma dari belakang
"Sayang kamu apa apaan sihh, kita belom muhrim loh"jawab Rahma berusaha melepaskan diri dari pelukan Zian

Namun tubuhnya tidak mampu mengalahkan badan Zian yang begitu tegap.

"Kamu sedang apa?"tanya Zian kembali
"Sedang cek , siapa aja yang bakal di Undang nanti diacara pernikahan kita"
"Loh bukannya itu udah tugasnya Wedding Organizer yah?"
"Iyah sihh , tapi aku mau mastiim aja"
"Hmmmp,- kalau cape kamu kasih ke WO nya aja yah"

Acara pernikahan Rahma dengan Zian akan dilaksanakan 1 minggu lagi. Semua persiapan udah hampir selesai. Namun hanya ada satu yang belom Rahma temui

Rahma mencantumkan nama Reyhan menjadi tamu undangannya.  Tapi udah 4 tahun Rahma tidak mengetahui kabarnya. Yang Rahma tau kalau Reyhan tengah merintih karir di Negeri Kincir Angin.

Terasa berbeda betul tidak melihat kehadiran sahabatnya yang satu ini.

Tunggu. !! Masih pantaskah Rahma menyebutnya sebagai Sahabat ? Setelah dia menampar pipinya ?

Masih pantaskah Rahma menyebut Reyhan sebagai sahabat ? Setelah dia memabanting handphone miliknya ?

Masih pantaskah Rahma menyebut Reyhan sebagai sahabat ? Setelah dia tidak ikut masuk menjenguk Reyhan sakit ?

Asal kamu tau , sahabat tidak akan pernah menyakiti satu sama lain. selalu ada disetiap tawa dan duka bersama.

Zian dan Rahma bergegas pergi kerumah Reyhan. Berharap saja , Reyhan sedang ada dirumah sekedar berlibur. Tidak ada salahnya mencoba mengunjungi rumahnya.

"Sayang , bener ini rumahnya ?"tanya Zian tengah sibuk memarkirkan motor dihalaman rumah
"Iyah , bener kok alamatnya disini" jawab Rahma sambil memperhatikan sekeliling rumah

Rumah yang tidak begitu besar cukup buat dihuni 4 orang tampak begitu berbeda. Halaman rumahnya tampak dipenuhui rumput rumpatan. Sedangkan jalannya nyaris tak terlihat ditutupi daun daun berguguran.

"Apa Reyhan dan keluarganya pindah juga ke Amsterdam ?"batin Rahma

Tok !! Tok !!

"Assalamualaikum " ucap Rahma sambil mengetuk daun pintu

-

-

-

Tidak ada respon dari penghuni rumah. Rahma nyaris putus asa saat dirinya ingin memberikan kabar baik untuk sahabatnya. Tapi nyatanya sahabatnya tidak ada

Kemana Rahma harus mencari lagi ? Hanya Reyhan lah sahabat terbaiknya sewaktu di SMA

"Sayang , ayo kita pulang aja engga ada orangnya lagi pula"ajak Zian begitu putus asa
"Hmmmp"

Tiba tiba ..

Keluar perempuan paruh baya dengan rambut terlihat memutih.

"Walaikumsallam" jawab perempuan paruh baya tersebut


"Ibu masih ingat saya engga ?"tanya Rahma sambil mencium telapak tangannya yang mengkerut
"Masih , kalau engga salah kamu nak Rahma yah"
"Iyah bu"

Seperti itulah kedekatan antara Rahma dengan keluarga Reyhan ataupun sebaliknya. Bahkan sewaktu SMP Rahma sering menginap dirumah Reyhan menempati kamar kakak perempuannya yang tenga berkuliah diluar kota.

Mamah Reyhan juga tidak segan segan kalau Rahma adalah anaknya. Perilaku dan Hobbynya sama persis dengan Kakaknya.

"Ibu , kedatangan saya kesini ingin menghantarkan undangan pernikahan aku dengan calon suamiku Zian" ucap Rahma sambil memberikan undangan pernikahannya
"Hmmmp, terima kasih yah , nanti kalau Reyhan liburan ibu sampeiin"
"Iyah , terima kasih yah bu, kalau begitu saya pamit dulu yah bu"
"Asslamaualaikum"tambahnya
"Wa'alaikumsallam"

♡♡♡
Come Back*

"Hallo bu" ucap Reyhan dari sambungan telfon
"Hallo han , kamu pulang" tanya Ibu yang begitu rindu dengan anaknya yang satu ini

Terus terang, Reyhan tidak tega melihat ibunya tinggal sendirian di Indonesia. Reyhan juga sudah berkali kali membujuknya untuk ikut tinggal di Belanda namun Ibu tetap memilih tinggal di Indonesia.

"Insya'Allah, pekan ini bu"jawab Reyhan penuh semangat
"hmmp, gitu kalau udah sampai bandara ibu jemput yah han"pinta Ibu
"Engga usah bu , takut repotin ibu"
"Engga apa apa kok han"
"Engga usah bu , "

Bukan bermaksud merepotkan ibu , hanya saja , Reyhan tidak ingin membuat ibu merasa lelah dilihat dari umurnya yang tidak lagi muda dan tenaganya pun juga. Karena itu lah Reyhan mengkahwatirkan kesehatannya.

"Bu , yayasannya bagimana ? Berjalan dengan baik ?"tanya Reyhan kali ini begitu serius
"Alhamdulillah han , banyak yang masuk , Anak anak kurang mampu, Yatim piatu, maupun anak anak yang keterbelakangan mental"
"Alhamdulillah yah bu , oh..iyah bu, masih ingat sama Rahma ?"
"Iyah , masih.."
"Reyhan udah punya rencana buat melamar sekaligus nikah dengannya saat Reyhan liburan nanti" ucap Reyhan dengan penuh semangat.

Bahkan , Reyhan sudah memikirkannya bagaimana pernikahannya nanti. Rencanya pernikahannya akan diselanggarakan di yayasan yang dia dirikan. Teman teman satu club nya sudah tidak sabar melihat Rahma yang selalu Reyhan ceritakan.

"Menurut ibu gimana ?"
".."

"Ibu masih denger Reyhan kan ?"tanya Reyhan sedikit khawatir
"Eh.. bagus kok pilihan kamu"
"Bu , reyhan tutup dulu yah , mau kemas kemas besok Reyhan pulang Kok"
"Asslamualaikum" tutupnya memlalui sambungan telfon
"Wa'alaikumsallam"

Hmm.. mungkinkah Reyhan akan benar benar kecewa melihat orang yang dia cintainya memilih menikah dengan orang lain ?

Ibu tidak ingin melihat anaknya kecewa. Reyhan jauh jauh berlibur dari Belanda ke Indonesia kemudian mendengar berita buruk ini ?

Sungguh hal yang mengerikan bukan ? Karena itulah Ibu lebih baik menyembunyikan acara pernikahan Rahma dengan Zian

"Maafkan ibu han" batin Ibu

♡♡♡

BREAKING NEWS :
Breaking News kali ini akan menginformasikan telah terjadi kecelakaan pesawat terbang yang membawa penumpang 150 orang dari Amsterdam menuju ke Indonesia. Pesawat diduga jatuh di perbatasan anatara Eropa-Asia. Pesawat yang membawa penumpang yang membawa 150 orang salah satu diantaranya adalah WNI atau pesepak bola dari tanah air. Demikan Breaking News kali ini, Sekian dan Terima Kasih

"Ayah , ayah jangan tidur malam malam, jangan banyak nonton tv juga , besok kan acara pernikahan Rahma"pinta Rahma sambil melingkarkan tangannya dileher ayahnya
"Iyah anak kesayangan ayah , ini ada pesawat yang jatuh katanya sihh ada WNI yang ikut jadi korban"jawab ayah sambil mengkecilkan volume suaranya
"Palingan juga TKI/TKW"
"Bukan , tapi .."
"Udah lahh , Rahma tidur dulu yah"

♡♡♡

Acara yang dinanti pun tiba, Rahma terlihat begitu cantik menggunakan gaun penganntinya. Sementara acara seharusnya sudah dimulai sengaja Rahma menundanya lantaran menunggu Sahabatnya datang keacara bahagia dirinya. Walaupun kita tau hal itu tidak akan pernah terjadi

Tidak akan pernah ..

Hening

Tiba Tiba ..

Terdengar langkah sepatu dari pintu masuk. Pria itu terlihat sangat gagah memakai jas hitam dibalut dengan syall yang melingkar dilehernya. Tak lupa sebucket bunga dipegangnya.

Reyhan..

Setelah acara hijab kabul selesai dilaksanakan. Pria itu tiba tiba menghilang begitu saja dan hanya meninggalkan sebucket bunga yang tadi dibawanya.

Kemana dia ?

Kenapa dia secepat itu menghilang ?


♡♡♡
*Miss You*

Tepat 3 bulan setelah acara pernikahan Rahma dan Zian. Kehidupan baru tengah dijalaninya lika liku kehidupan pun harus dilewati.

Hari ini memang benar benar menguras tenaga. Rahma terlebih awal bulan harus ada evaluasi mengenai kinerja kerja karyawan.

Rahma membuka knop pintu yang begitu sepi. Tidak seperti biasanya rumahnya nampak begitu sepi tanpa ada cahaya lampu.

Begitu terkejutnya saat Rahma membuka pintu kamarnya.

Suatu adegan yang tidak patut ditiru saat melihat suaminya Zian tengah melepaskan gairahnya dengan wanita lain

"Ziannn !!!!" Teriak Rahma begitu terkejut melihatnya
"Oh ..kamu , bagus dehh kalau udah tau"jawab Zian tidak berdosanya
"Cukup Ziann !!!" Bentak Rahma sambil menghampirinya
"Marah ? Aku tidak peduli"

Plakk !!

Sebuah tamparan melesat dengan mulus tepat dipipi kanannya.

Zian pun langsung melawannya hingga terjadilah perpecahan hebat.

Rahma memutuskan untuk pergi keluar tidak kuasa melihat suaminya berselingkuh dengan wanita lain

"Hey, perempuan jalang !!"
"Mulai detik ini kita cerai"

BITCH !!

Dasar lelaki tidak berguna dengan mudahnya menceraikan wanita begitu saja.

Tidak ada untungnya mempertahankan rumah tangga bersama lelaki brengsek seperti Zian.

Rahma keluar rumah dengan air mata yang mengalir dipipinya.

Apa yang harus ia ceritakan pada orang tua ?

Rahma menyusuri jalanan ibukota yang terlihat sepi. Hingga memutuskan untuk beristirahat di emperan toko dengan alas seadaanya.

Tidak peduli dengan masalah yang saat ini dihadapinya. Baginya melupakan lelaki brengsek seperti suaminya.. upss lebih tepatnya mantan suaminya begitu mudah untuk dilupakan

♡♡♡

Matahari sudah nampak sinarnya begitu menyengat ditubuh sehingga membuat Rahma bangun dari tidurnya.

Entah, Rahma tidak tau kemana ia harus pergi ?

Kemana ia kan tinggal ?

Rahma tidak ingin melibatkan keluarganya dan membuatnya merasa prihatin dengan keadaanya.

Rahma mampu mengatasinya walaupun dirinya seorang perempuan yang tak berdaya.

Langkahnya terus menyusuri jalanan ibukota. sinar matahari begitu menyengat dan terasa dikulit. Rahma tidak mempedulikan hal itu.

Tiba tiba ..

Langkah Rahma terhenti saat berada disebuah bangunan begitu besar.

Rahma melihat sosok seseorang yang tidak asing lagi dihidupnya. Siapa lagi kalau bukan..

REYHAN !!

Lelaki itu tengah berdiri memandangi bangunan begitu megah disana. Rahma masih mengamatinya dari jauh

Rasa penasarannya tidak dapat dibendung. Hingga akhirnya Rahma memutuskan menghampiri Reyhan

♡♡♡
*Rainbow*

"Sejauh jauh kamu melangkah pergi, disinilah aku selalu menjadi rumah untukmu singgah"


"Hai .. "sapa Rahma dengan senyuman yang Reyhan rindukan
"Kamu ? "Jawab Reyhan terkejut melihat orang yang dia nanti untuk dijadikan pendamping hidupnya datang diwaktu yang tepat
"Iyah , kamu sedang.." tanya Rahma saat melihat tulisan yang bertuliskan

RAHMA FOUNDATION

Sebuah Yayasan yang didirikan Reyhan melalui hasil jerih payahnya menjadi pemain Ajax Amsterdam.

Entah , ini benar benar membuat jantungya terasa tidak berdetak lagi. Serasa ada yang mengganjal direlungnya.

Kenapa Reyhan mendirikan Yayasan ini ?

Kenapa yayasannya diambil dari nama Rahma ?

"Engga etis kalau ngomong diluar , ayo kita kedalam"ajak Reyhan mempersilahkan Rahma masuk kedalam Yayasannya
"Hmmpp.."
"Kamu mau minum apa ?"
"Bebas deh"

Reyhan meninggalkan Rahma diruang tunggu. Sementara Rahma masih mengamati sekeliling ruangan ini.

Tiba tiba..

"Rahma "sapa perempuan dari arah pintu luar
".."
"Kamu-"

Mungkin inilah waktu yang tepat menceritakan yang sebenarnya terjadi.

Hatinya terasa mati,  bumi seakaan berhenti berotasi, tubuhnya terasa kaku mendengar cerita ibu Reyhan. Rahma mengumpulkan sisa tenaganya berusaha kuat dan harus menerima semua kenyataan.

Lagi lagi gagal pertahanannya terasa roboh mendengar semuanya air matanya mulai membasahi pipinya. Dibiarkan air matanya membasahi wajah cantiknya.

"Lalu , tadi siapa yang ?"batinya bertanya tanya

Terasa benar benar tidak adil. Kenapa kebahagian Rahma selalu saja harus dibalas dengan air matanya.

Adilkah Tuhan menyusun skenarionya ?

Pertama , Rahma baru saja melihat perselingkuhan suaminya dengan perempuan lain.

Kedua , Rahma begitu terkejut saat mendengar kalau Reyhan ingin melamarnya 3 bulan yang lalu, Namun naas Pesawat yang Reyhan tumpangi jatuh.

Tidak ada yang bisa menahan lagi tubuhnya. Bahkan untuk bernafas saja terasa sesak.

Kakinya meminta dirinya untuk melangkahkan menyusuri ruangan demi ruangan. Begitu terkejutnya melihat setiap sudut ruangan terpasang gambarnya.

"Kaka kaka"sapa seorang anak kecil berambut gimbal lari menghampiri Rahma digenggamnya selembar kertas entah apa yang ia ingin kasih
"Iyah ,"
"Aku ada sesuatu untuk kaka" katanya begitu polos
"Oh..iyah , kasih tau dong"jawab Rahma mensejajarkan tubuhnya dengannya begitu kecil
"Aku buatin ini khusus buat kaka"
".."

"Siapa yang ngajarin kamu gambar"tanya Rahma kali ini
"Om Reyhan yang ngajarin"
".."

Sebuah sketsa wajah sama betul dengan wajahnya. Begitu membuatnya terharu

"Hmmp, terima kasih yahh.." ucap Rahma sambil mengelus Rambutnya
"Rahma Anindita" ucapnya
"?? Siapa yang ngasih nama kamu"tanya Rahma
"Om reyhan juga ka"

Rahma langsung memeluknya dengan pelukan erat.

Rahma melanjutkan penyusura ruangan demi ruangan.

Tibalah disalah satu halaman belakang. Dengan taman dan air mancur disana.

Ada yang merasa aneh. Rahma menghampiri tempat itu dengan penuh tanda tanya.

Ternyata..

Satu makam yang bertuliskan nama orang yang Rahma cintai begitu terpampang jelas dihadapnnya.

Reyhan Aditiya..

Tubuhnya tidak mampu menahannya lagi.

Rahma ambruk didepan makam Reyhan.

♡♡♡

"Kamu itu seperti Pelangi yang selalu datang tanpa ada hujan, selalu memberikanku arti kehidupan yang sebenarnya"

"Terima kasih Pelangiku,"


TAMAT