DAYLIGHT
“Mampukah Impian Kecil Merubah
Perbedaan"
Sinopsis
Sebuah cita-cita
sederhana yang begitu Rendra inginkan menjadi seorang penulis ternama seperti
Tere Liye, Asma Nadia, Andrea Hirata dan masih banyak lagi. Harus sinar begitu
saja. Bukan. Bukan Rendra menyerah sebelum berperang. Hanya saja, ada hal yang
membuatnya tidak bisa di ceritakan. Terlalu klasik bukan, jika ada orang tua
yang selalu membanding-bandingkan ataupun menuntut anaknya mengikuti
keinginananya.
Kesal ?
Tentu saja ada rasa kesal. Tapi,
kita sebagai anak tidak bisa melakukan hal seperti itu. tidak bisa melakukan
hal yang membuat hati orang tua kita patah. Atau mungkin,kita tidak berhak
berdoa pada Tuhan agar kita tidak dilahirkan dari orang tua yang seperti itu.
Sama sekali tidak bisa. Rendra tidak bisa melakukan hal itu.
Saat Orang Tua Rendra
menginginkannya menjadi seorang Guru. Sementara Rendra tidak ada niatan untuk
menjadi guru. Bukan. Bukan bermaksud merendahkan profesi guru yang begitu
mulia. Melainkan,segala sesuatu itu berawal dari niat kita bukan ? jika tetap
saja memaksakan, pasti hasilnya pun sia-sia saja.
Setiap hari, setiap
malam Rendra meluangkan waktunya. Membuat cerpen yang menjadi hobby barunya. Dibandingkan
menuruti kemauan orang tuanya menjadi guru. Bahkan , Rendra secara diam-diam
memilih jurusan Sastra Indonesia dibandingkan memilih jurusan PGSD.
Rendra begitu
bersemangat menuangkan ide menulisnya. Bahkan, Aliya sahabat Rendra memberikan
semangat untuknya. Kalau Rendra bisa menjadi seorang penulis ternama. Aliya
selalu membaca cerpen yang dibuat Rendra begitu menarik dan mungkin mampu
membuat orang lain ikut termotivasi dengan berbagai tulisannya.
Sementara itu,Keinginan
orang tua Rendra mempunyai prinsip seperti orang dahulu. Tidak pernah bisa
dilepaskan. kalau Ayah dan Ibunya menginginkan Rendra menjadi seorang guru.
Seperti saudara ayah dan ibunya yang berhasil menjadi guru.
Keinginan orang tua
Rendra itulah yang membuat ruang gerak Rendra dalam mencapai cita-cita menjadi
seorang penulis terganggu.
Mampukah
Impian kecil Rendra terwujud .. ?
Mampukah
Rendra membuat orang tuanya tersenyum dengan caranya sendiri .. ?
Mampukah
impian kecil , Merubah perbedaan ..
***
Langit masih menghitam, Kemerlap Bintang-bintang masih
terlihat diatas sana. Matahari masih mengumpat dibalik singgahsananya.
Laki-laki itu dengan semangatnya mengayuh pedal sepeda kesayangannya membelah
jalanan komplek perumahan yang terlihat lenggang. Biasanya, laki-laki itu
selalu diantar oleh ayahnya pergi ke Sekolah. Tapi tidak dengan hari
ini,laki-laki itu memilih bersepeda sebagai alternatif kendaraannya untuk tiba
di sekolah. Selain ada angkutan umum dan bus sekolah gratis. Hanya saja,
laki-laki itu tidak ingin merepotkan siapapun termasuk Orang Tuanya.
Bahkan,laki-laki itu tidak pernah malu menggunakan sepeda
untuk sampai di Sekolah. Toh, sepeda juga bermanfaat membuat tubuh menjadi
sehat bukan ?. Dibandingkan dengan menggunakan kendaraan bermotor ataupun naik
bus sekolah gratis yang sudah disediakan Pemerintah. Secara perhitungan ilmiah,
kendaraan bermotor mengeluarkan gas karbon monoksida (CO2) diluar
ambang batas/harinya, senyawa itu juga
yang termasuk salah satu diantaranya dapat mengakibatkan penurunan lapisan Ozon
yang dapat membahayakan masyarakat Bumi.
Jarak antara rumah dengan sekolah hanya berkisar 1,5 km.
Jadi, laki-laki tidak akan kelelahan mengayuh sepeda sejauh itu. Sepedanya
sudah membelah separuh perjalanannya. Sesekali, laki-laki itu menatap bangunan
yang menjulang ke langit. Bangunan yang masih separuh jadi itu dengan bantuan alat
berat, membuatnya merasa khawatir dengan kondisi lingkungan saat ini. Terutama
kondisi lingkungan di Kota ini yang setiap tahunnya turun 30 cm/tahun. Bahkan,
banyak pakar ahli yang sudah memprediksikan Kota ini akan tenggelam di tahun
2030. Jika tidak dilakukan upaya konkrit dari pemerintah dan masyarakat.
Perlahan, Langit merubah warnanya. Matahari perlahan naik
ke permukaan menyapa ke seluruh penjuru Bumi dengan sinarnya. Kemerlap
bintang-bintang masih terlihat disana. Satu-dua saling berkedip mesra
menandakan salam perpisahaan. Ayam berkokok dengan merdunya, Burung-burung
camar berkicau dengan merdunya menandakan petualangan pertama segera dimulai.
***
Rendra Aditiya Dharmawangsa..
Itulah nama laki-laki itu. Singkat,Padat dan memiliki
berbagai banyak arti di dalamnya. Walaupun nama belakangnya berbau keturunan
darah biru. Namun, pada dasarnya tidak ada garis keturunan keluarganya yang
mendapat gelar Bangsawan. Itu hanya diambil dari nama Ayahnya yang juga
terdapat nama “Dharmawangsa”.Kebetulan nama “Dharmawangsa” salah satu nama dari keluarga ayahnya.
Delapan belas tahun yang lalu,lahir seorang anak
laki-laki yang dititipkan Tuhan ke Bumi untuk diberikan kasih sayang dan pengajaran.
Namun, saat Rendra beranjak dewasa.ia paham akan arti kasih sayang dari kedua
orangtuanya yang menginginkan dirinya untuk menjadi seseorang yang berguna. Sementara Rendra sendiri tidak ada
keinginan untuk mewujudkan keinginan kedua Orang tuanya, terutama ibunya tetap
saja menginginkan dirinya menjadi guru. Walaupun notabennya Rendra anak semata
wayang sama sekali tidak ada kaitannya. Sama sekali tidak ada.
***
Di Sekolah…
Sekolah Menangah Atas Negeri 1 begitu megah dengan
bangunanya yang tersusun 4 lantai. Lantai 1 khusus untuk Ruang Kepala
Sekolah,ruang Guru, Ruang Tata Usaha,Laboratorium,Ruang Agama dan Toilet di
sudut lantai. Lantai 2 digunakan khusus untuk ruang belajar kelas 12, Lantai 3
digunakan khusus untuk ruang belajar kelas 11, dan Lantai 4 digunakan untuk
ruang belajar kelas 10. Sementara masjid dan kantin sekolah berada dibelakang.
Dan ruang Aula untuk pertemuan berada di bagian samping.
Sekolah Menengah Atas Negeri 1 salah satu sekolah favorit
di Kota ini. Dengan menampung siwa-siswi sebanyak 900 orang dari berbagai tahap
seleksi yang diadakan. Sementara Rendra sendiri sudah kelas 12. Dan tahun
ini,Rendra akan menghadapi berbagai Ujian Kelulusan.
Sepeda Rendra sudah tiba di halaman parkir sekolah.
Sejurus kemudian,ia meletakkan sepedanya dengan rapih dan mengkuncinya dengan
gembok yang selalu dibawa setiap saat. Setelah itu, Rendra bergegas pergi masuk
ke kelas.
“pagi bang” sapa Rendra hangat kepada salah seorang
petugas keamanan sekolah yang diperkirakan umurnya 20 tahun itu.
Petugas itu menjawab dengan mata yang terlihat sayup,
mengantuk “pagi, rajin banget udah datang jam segini ?” Tanya Petugas Keamanan
itu sambil menutup mulutnya menguap.
Rendra hanya tersenyum simpul. Menandakan itulah jawaban
darinya.
“bang, masuk kelas dulu yah” pamit Rendra pada Petugas
itu yang masih tidak bisa menahan rasa kantuknya.
“Hm…” Petugas Keamanan itu bergumam panjang. Setelah itu
matanya terpejam tidak bisa menahan rasa kantuknya semalaman berjaga.
Rendra menarik tali tasnya dengan tinggi. Menyusuri
lorong demi lorong yang terlihat lenggang tidak berpenghuni. Gerbang tangga
yang mengarah ke ruangan kelas pun masih terkunci rapih. Sementara jam masih
menunjukkan pukul 05:45 pagi itu artinya Rendra harus menunggu kurang lebih 15
menit. Sebelum penjaga Sekolah membukakan gerbang tangga itu, Rendra selalu
menghabiskan waktunya untuk membaca ataupun menulis cerita ringan. Tidak jarang
buku catatan kecilnya nyaris tidak tersisa sedikitpun yang kosong. Kertas itu
selalu penuh dengan catatan pribadinya.
Disitulah Rendra selalu menceritakan apa yang sebenarnya
terjadi pada dirinya. Bukan. Bukan bermaksud Rendra tidak mempercayai
teman-temannya untuk dijadikan sandaran bercerita mengenai masalah pribadinya.
Hanya saja, tidak selamanya masalah pribadi diumbar-umbar sampai semua orang
tahu tentang aib/keburukan kita. Sungguh memalukan dan tidak bisa dibayangkan
jika hal itu terjadi pada diri Rendra.
Tangan Rendra mulai lincah menari-nari diatas
kertas putih, buku catatannya. Menuangkan segala ide yang ada dibenaknya.
Membebaskan segala imajinasinya berkelana bebas, hingga akhirnya Rendra tidak
tersadar akan satu hal…
***
Derap langkah kaki itu terdengar begitu jelas menghampiri
tempat duduk - dimana Rendra sedang asyik menulis.Perlahan,derap langkah kaki
itu terdengar begitu jelas tepat berada diantara belokan tempat dimana Rendra
duduk. Dan ternyata..
Laki-laki paruh baya itu membawa satu bundel kunci saling
mengait satu sama lain. Laki-laki itu biasa disebut dengan Bapak Sapto. Penjaga
sekolah yang sudah bertugas begitu lama sejak gedung sekolah tidak semegah ini.
Jasa Beliau tidak terhitung banyaknya menghabiskan sisa-sisa umurnya menjadi
penjaga sekolah ini. Sungguh begitu mulia.
“udah lama yah nunggu”Tanya Bapak Sapto dengan ramahnya,
sambil mencari kunci yang pas untuk membukakan gerbang tangga
Rendra tersenyum simpul “engga ko pak,saya juga baru
sampai”
Bapak Sapto tidak menjawab, beliau sedang asyik mencari
kunci mana yang pas dengan gemboknya. Setelah itu, gerbang tangga kunci itu
terbuka dengan lebar. Rendra bergegas ke lantai atas ruang kelasnya
meninggalkan laki-laki paruh baya itu masih sibuk merapihkan peralatan
kebersihan sekolah.
***
Ruang
Kelas…
Ruangan yang berukuran 9 x 9 m
itu terlihat sepi. Ruangan yang dipenuhi dengan pas foto-foto pahlawan tersusun
rapih. Di bagian depan ruang kelas, terdapat majalah dinding kelas sementara
dibagian belakang kelas,terdapat loker
yang diperuntukkan siswa-siswi untuk menaruh buku-buku pelajaran. Bangku dan
meja tersusun 4 baris dengan rapihnya. Tempat duduk Rendra tepat berada di
barisan kedua dari meja Guru.
Rendra membuka knop pintu ruang
kelas, sejurus kemudian menaruh tasnya sambil melemparkannya tepat di bangkunya.
Kemudian, Rendra bergegas pergi ke depan ruang kelas, menatap bangunan yang
berada di sekeliling bangunan sekolah ini salah satu hobbinya. Sesekali pula,
Rendra melihat siswa-siswi sudah tiba di Sekolah.
“Rendra…” suara cempreng itu
memanggil nama Rendra.
Rendra mencari sumber suara yang
begitu menggangu waktu paginya. Perempuan dengan rambut pendek dan kacamata
yang menempel di tulang hidungnya itu muncul dari arah tangga. Siapa lagi kalau
bukan sahabat dekat Rendra. Tempat Rendra berbagai cerita setelah catatan
pribadinya. Perempuan itu adalah..
Aliya
Kamila Pratiwi..
“berisik tau” ucap Rendra
menyabut kedatangan Aliya dengan nada sinisnya.
“yee.. masih mending gua panggil,
gua sapa pula” ucap Aliya sambil membenarkan kacamatanya sedikit menurun.
Rendra terdiam masih melakaukan hal
yang sama. Menatap langit pagi ini. Aliya berdiri tepat disamping Rendra sedari
tadi.
“ndra,”panggil Aliya kembali.
Namun Rendra tidak menjawab, ia
masih sibuk dengan pikirannya berkeliaran.
“woy” ucap Aliya meninggikan
intonasinya,sambil menyikut lengannya.
Rendra tersadar “ehh.. ada apa”
jawab Rendra tersentak.
Aliya terdiam sebentar, “hmmm.. gua
mau nanya sesuatu ke lo” ucap Aliya dengan nada serius.
Rendra menatap Aliya sebentar,
sesaat tertawa kecil “lo lucu yah, mau nanya aja bilang-bilang” jawab Rendra
“yee, emang engga boleh apa “
“boleh sih,yaudah apa” jawab Rendra
menunggu pertanyaan Aliya.
Aliya terdiam sejenak, Rendra masih
menunggu pertanyaan Aliya. “ummp.. lo udah ngerjain PR Bahasa Indonesia belom
?” tanya Aliya sambil memperlihatkan susunan giginya yang terlihat rapih.
Rendra menoyor kepala Aliya ”yee..
gue kira ada apaan. Engga jelas lo” ucap Rendra
“aduh, sakit tau” gerutu Aliya
kesakitan sambil merapihkan rambutnya.
“udah belom ?” Tanya Aliya mengulang
kembali.
“udah lah, masa Rendra Aditiya
Dharmawangsa belom ngerjainn tugas” ucap Rendra dengan angkuhnya.
“gaya sekali kamu ini nak.., gue
liat yah” ucap Aliya sambil masuk kelas mencari buku Bahasa Indonesia.
Rendra mengekori Aliya dari belakang
“woy, gue belom ngasih ijin juga” gerutu Rendra kesal melihat tingkah laku
sahabatnya yang satu ini.
***
Bel terdengar begitu nyaring. Bel
itu menandakan jam pelajaran telah berakhir, dan berganti waktu istirahat
pertama. Siswa-siswi berhamburan keluar
kelas, bergegas pergi ke kantin sekolah sekedar memberi makan cacing-cacing
yang sudah tidak sabar diberi asupan nutrisi. Sebagian lagi, bergegas pergi ke
toilet.
Berbeda dengan Rendra. Rendra selalu
menghabiskan waktu istirahatnya pergi ke perpustakaan sekolah yang berada di
lantai 3. Disana, Rendra selalu membaca berbagai macam literatur mulai dari
buku pelajaran hingga novel. Bahkan, penjaga perpustakaan sekolah hafal dengan
kehadiran Rendra ataupun buku yang selalu dibaca Rendra.
Rendra membuka knop pintu ruang
perpustakaan dengan satu tangannya. Tangan yang satu lagi, memegang buku
catatan pribadinya yang selalu dibawa kemana-mana.
“pagi bu” sapa Rendra pada penjaga
pepustakaan sekolah yang diperkirakan umurnya kepala empat.
“pagi rendra, ada buku baru tuh”
jawab Ibu Warni sambil menujuk kearah lemari yang berisikan tumpukan buku itu.
Rendra dengan semangatnya mencari
buku yang baru saja ditunjuk Bu Warni itu.
“eits.. isi buku tamu dulu” ucap Bu
Warni mengingatkan Rendra.
Rendra berhenti sejenak, menggaruk
kepalanya yang tidak gatal itu. Sejurus kemudian, Rendra mengisi buku tamu itu
lengkap dengan tandatangan dan keterangannya. Sementara, Bu Warni masih asyik
menatap layar handphonenya.
Rendra membaca sekilas benda persegi
panjang itu. memahami dari setiap paragraph yang disampaikan oleh penulis buku
ini. Ada bagian yang menarik dari isi buku ini. Kemudian, Rendra memilih tempat
duduk yang sudah tersedia di perpustakaan. Tangannya mulai menari-nari diatas
kertas putih buku catatan pribadinya.
“bu, boleh minjam lagi engga ?”Tanya
Rendra menghentikan nulisnya
Bu Warni menghentikan aktifitasnya
sejenak. “boleh, asal buku yang kemarin kamu pinjam di kembalikan dulu” jawab
Bu Warni mengingatkan kembali.
Rendra tersenyum simpul mendengar
ucapan dari Bu Warni yang selalu mengingatkan peraturan dalam hal meminjam buku
di perpustakaan. Sejurus kemudian, Rendra kembali membaca buku itu lalu
mencatat bagian-bagian yang terpenting dalam buku itu. Hingga akhirnya, bel
masuk berdering kembali menandakan waktu istirahat telah usai. Rendra bergegas
masuk kelas, melanjutkan pelajaran selanjutnya yaitu pelajaran menguras tenaga
dan pikiran. Sebut saja pelajaran, Matimatian. Ralat. Lebih tepatnya pelajaran
Matematika.
Terkadang dalam pikiran Rendra
selalu bertanya-tanya. Siapakah orang yang pertama kali menemukan pelajaran
ini. Tidak adakah pelajaran lain selain pelajaran yang membosankan ini. tidak
adakah penemuan lain tentang ilmu eksata. Entahlah,
***
Bel
kembali terdengar begitu nyaring. Seluruh siswa-sisiwi bersorak gembira
mendengar bel sekolah berdering begitu lama. Tidak seperti biasanya, kegiatan
belajar mengajar sampai tuntas. Terdengar suara laki-laki paruh baya memberikan
pengumuman lewat microfon sekolah.
“Assalamualaikum
Wr.Wb Siswa-siswi yang bapak banggakan. Mengenai kegiatan belajar mengajar
untuk hari ini hanya sampai jam ke lima saja. Dikarenakan Bapak dan Ibu Guru
akan mengahadiri rapat dengan dinas membahas mengenai Ujian Nasional
siswa-siswi kelas 12” ucap Laki-laki itu dari speaker sekolah.
Sontak siswa-siswi bersorak
gembira bersama mendengar kabar baik itu. Tidak peduli dengan guru yang masih
mengajar di dalam kelas. Sejurus kemudian, Rendra merapihkan buku-bukunya
diatas meja. Benda persegi itu ia masukkan kedalam tasnya. Rendra menyusuri
lorong-lorong ruang kelas yang dipenuhui siswa-siswi. Aliya sahabat baiknya
tertinggal jauh dari belakang.
Rendra tidak mempunyai kegiatan lain
selain menghabiskan sisa waktu sekolahnya untuk menulis ataupun mengurungkan
diri di dalam rumah.
“rendra” panggil Aliya dari kejauhan
Rendra menghentikan langkahnya,
menoleh kearah sumber suara “ada apa lagi ?” Tanya Rendra
“galak amat sih, lo mau pulan kan ?”
Tanya Aliya kali ini
Rendra hanya mengangkat kedua
alisnya.
“gue bareng lo yah, soalnya kan ini
pulang cepet. Gue engga mau nunggu lama di sini” ucap Aliya kembali dengan
wajah memohon.
Rendra menatap Aliya sejenak,
menimang-nimang apa yang Aliya katakan.”hmm,, oke deh” jawab Rendra memberikan
kepastian.
Rendra dan Aliya bergegas menuju ke
pelantaran parkir sekolah yang berada di ujung sudut sekolah dekat dengan Ruang
Aula. Sementara Aliya sendiri menunggu Rendra di depan gerbang sekolah.
Kemudian, Rendra menghampiri Aliya yang sedari tadi berdiam diri di depan
gerbang sekolah.
“ayo pulang” ajak Rendra mengerem
sepedanya
Aliya hanya memberikan senyum
simpul. Sejurus kemudian, Aliya merapihkan rok sekolahnya agar tidak membahayakan
dirinya dan Rendra. Dua orang sahabat itu kemudian pergi meninggalkan sekolah
dengan menggunakan sepeda bergoncengan berdua.
Sepeda Rendra sudah membelah separuh perjalanan menuju
rumah. Sementara Aliya masih asyik menatap sekelilingnya. Tak jarang, Rendra
selalu mengingatkan Aliya agar menjaga keseimbangan. Tiba di halaman rumah
berukuran minimalis dengan cat berwarna cream.
“thanks.Rendra” ucap Aliya setelah turun dari sepeda
Rendra sambil memperlihatkan susunan giginya yang tersusun rapih.
Rendra mengangkat kedua alis, setelah itu Rendra bergegas
pulang kerumahnya yang tidak jauh dari rumah Aliya, hanya berbeda satu gang
saja.
Aliya menatap punggung Rendra hingga menghilang dibalik
gang komplek.
***
Ruang
Tamu Rumah Rendra…..
Tidak ada kegiatan lain yang
mengisi waktu libur Rendra selain bermain video game dari ponsel pintarnya.
Sementara ibunya masih mengerjakan pekerjaan rumah membuatkan sarapan pagi
untuk mereka bertiga. Sedangkan, ayahnya sedang membaca Koran mencari topic
hangat yang sedang terjadi di Negeri ini.
“ada berita apa yah, hari ini?”
Tanya Rendra melihat ayahnya yang begitu serius membaca Koran
Ayah Rendra menghentikan aktifitas
membacanya “biasa demo buruh” jawab Ayahnya sambil membalik lembaran
berikutnya.
Rendra hanya diam sesaat. Sejurus
kemudian, ia melanjutkan kembali bermain video game dari ponsel pintarnya.
Ruang
Makan..
Setelah selesai memasak sarapan pagi,
Rendra duduk dibangku makan menikmati sarapan paginya. Nasi goreng dengan
omelet diatasnya menjadi menu favorit Rendra sarapan pagi. Tiba-tiba ada hal
yang membuat suasana paginya tidak bersamangat. Ibunya selalu menuntut Rendra
untuk memilih jurusan PGSD setelah lulus nanti.
“Rendra, kapan Ujian Nasional
dimulai ?” Tanya Ibunya sambil menyiapkan makanan untuk Ayah Rendra.
Rendra yang sedang makan dengan
mulut penuh makanan berhenti sejenak “rendra kurang tau,mungkin diawal april
nanti” jawab Rendra dengan ragu.
“hmm..mau ayah masukin ke bimbel
engga ?” Tanya Ayahnya menyambar sekaligus mengajukan penawaran.
Rendra menggeleng, “Rendra bisa
belajar sendiri, uangnya ayah simpan aja buat Rendra kuliah” jawab Rendra
sambil memasukkan makanannya kembali.
“loh kamu ini gimana toh, kenapa
kamu engga mau bimbel ?” Tanya ibu seakan-akan Rendra seperti tersangka yang
sedang diintrogasi.
“buang-buang uang,Bu. Emang salah
yah kalau Rendra nolak” ucap Rendra dengan berbagai argumennya
“jelas salah lah, kamu ini gimana
udah kelas 12 harus belajar intensif” jelas ibunya
“pokoknya Rendra engga mau. Bimbel
buang-buang tenaga aja bu” ucap Rendra pergi dari ruang makan menuju ke halaman depan rumahnya.
Ayah dan Ibunya hanya saling menatap
tidak mengerti dengan jalan pikiran anak semata wayangnya ini yang tidak ingin
diberikan kemudahan. Rendra duduk di halaman rumahnya, menatap langit yang
terlihat membiru. Sesekali ia menatap sebuah kolam ikan yang ada berada disudut
halaman rumahnya.
Sejurus kemudian, Rendra mengambil
sepeda kesayangannya yang berada di dalam garasi rumahnya. Rendra mengayuh
pedal sepedanya mengelilingi komplek perumahan ini. kemudian, ia menatap anak
kecil yang sedang bermain sepak bola di lapangan komplek dengan riangnya.
Satu-dua orang warga komplek menyapanya, Rendra hanya membalas dengan senyuman
simpul ciri khasnya.
Tiba disalah satu bangunan tua tidak
berpenghuni berada dibelakang komplek, menjadi tempat destinasi Rendra. Bahkan,
jika ada waktu luang Rendra dan Aliya selalu berkunjung ke tempat
ini.menghabiskan waktu sorenya sambil menikmati sunset dari atas bangunan ini.
Kemudian, Rendra menatap perkampungan yang tidak jauh dari tempat ia tinggal.
Rendra terdiam untuk waktu yang lama
dengan pandangan kosong menatap perkampungan warga. Kemudian, ia berteriak
sekuat tenaga menghilangkan rasa kesalnya di tempat ini. teriakan Rendra begitu
menggema terdengar diantara sudut-sudut bangunan ini. seakan, Rendra ingin
melepaskan sesuatu yang mengikat dirinya. Rendra ingin merasakan kebebasan
bukan peraturan yang mengikat dirinya setiap saat. Rendra ingin merasakan
kebersamaan bukan merasakan kebencian yang ada didalam dirinya. Dan Rendra akan
paham satu hal,
“Langit yang luas adalah langit yang tanpa
ada rasa kebencian dalam diri kita – Rendra (Daylight)”
Ada satu pertanyaan yang tidak bisa
Rendra pinta pada sang Narator. ”bisakah sang Narator melahirkan Rendra
kembali, bahwasannya hidup seperti orang dewasa tidak seperti yang ia pikirkan”
***
Di
Sekolah…
Matahari menyapa malu-malu
dibalik kaca jendela kelas, sinarnya menembus begitu saja dengan gagahnya.
Rendra masih mendengarkan penjelesan materi pembelajaran yang diterangkan oleh
gurunya. Sementara, raganya tidak ada di dalam ruangan kelas. Aliya teman
sebangkunya menatapnya dengan aneh, tidak biasanya Rendra tidak berbicara.
“mungkin
Rendra tengah mengidap penyakit sariawan” pikir Aliya dalam hati.
Bel istirahat terdengar begitu
nyaring. Siswa-siswi berhamburan ke ruang kelas pergi ke kantin sekolah untuk
mengisi perutnya yang begitu lapar. Di lapangan futsal terdapat 2 tim dari
kelas 10 dan 11 sedang bertanding. Seakan seperti ada pertandingan menarik yang
sayang untuk dilewatkan. Rendra tengah berdiri didepan ruang kelas menonton
pertandingan futsal tersebut. Aliya menghampiri Rendra setelah pergi dari
kantin dengan membawa minuman dan makanan.
“ndra, lo kenapa sih ? dari tadi gua
liatin diam terus” Tanya Aliya sambil menyikut tangannya.
Rendra menatap Aliya dengan tatapan
yang menakutkan. sejurus kemudian, pandangannya ia alihkan kembali kearah
lapangan futsal. Seakaan Aliya paham kalau itu menandakan Rendra tidak ingin
diganggu.
“yaudah, kalau lo engga mau cerita.
Engga apa-apa” Aliya menyeruput kembali minumannya.
Rendra masih terdiam masih melakukan
hal yang sama menonton pertandingan futsal. Sementara Aliya, tengah sibuk
menghabiskan minumannya yang barusan ia beli dari kantin.
“eh..iyah, gue lupa nawarin lo. Yah,
minumannya udah habis” ucap Aliya setelah melihat minumannya sudah habis tidak
berisi.
Rendra menatap Aliya kembali
kemudian menggelengkan kepala. “nanti pulang sekolah temenin gue ke bangunan
kosong deket komplek” ucap Rendra kali ini sambil bergegas masuk ke dalam
kelas.
Menyisahkan berbagai pertanyaan yang ada di dalam benak Aliya.
“apa
yang sebenarnya terjadi?”
***
Rooftop
Bangunan Kosong…
Langit berubah menghitam.
Matahari telah payah menyinari Bumi. Kemerlap Bintang-bintang satu-dua sudah
terlihat di atas sana tengah menunggu rembulan untuk berkencan. Rendra dan
Aliya tengah duduk diatas kursi yang tersedia sedang menikmati suasana sore
hari sekaligus, menikmati senja yang terlelap manja di kaki cakrawala.
Tidak ada topik obrolan yang
diangkat. Pandangan mereka berdua tengah memandang bangunan-bangunan menjulang
ke langit di kota ini. Sesekali dialihkan kearah perkampungan warga. Sungguh
ironis sekali Negeri ini melihat kesenjangan sosial yang terjadi di kota ini.
Seakan-akan tidak ada habisnya penderitaan masyarakat.
“Aliya, gue mau nanya dua hal ke lo”
Tanya Rendra memulai percakapan sekaligus mencairkan suasana.
Aliya menatap Rendra dengan tatapan
serius sambil membenarkan posisi duduknya “mau nanya apa emangnya ?”
“pertama, gue udah buat cerita baru
lagi. Coba lo liat dulu” ucap Rendra sambil memberikan beberapa lembar kertas
yang penuh dengan tulisan.
Aliya membaca dengan teliti.
Memahami isi dari paragraph yang disampaikan Rendra dalam cerita ini. Sesekali
pula, ia tersenyum simpul membaca ada beberapa scane yang teramat lucu. Bahkan,
Aliya bisa menebak ending cerita yang dibuat Rendra.
“gue udah baca” ucap Aliya
memberikannya kembali ke Rendra
“gimana menurut lo ?” Tanya Rendra
kali ini
Aliya mengangkat kedua jari
jempolnya “bagus kok, tapi ada bagian yang miss” jawab Aliya sambil memberikan
masukkan.
Rendra memberikannya kembali kepada
Aliya, untuk diberikan masukkan bagian mana yang dirasa miss. Aliya membaca
kembali mencoba mencari-cari paragraph yang tersembunyi. Rendra masih
memperhatikan Aliya yang sedang membaca.
“nih di bagian ini” tunjuk Aliya
setelah selesai membaca kembali.
Kemudian Rendra langsung mengambil
spidol berwarna hijau dari dalam tasnya. Aliya memperhatikan Rendra tengah
sibuk menandai bagian yang menurutnya kurang tepat. Sejurus kemudian, Rendra
mengeluarkan catatan pribadinya untuk mencari solusi dari bagian yang kurang
tepat penggunaannya.
“Rendra..” panggil Aliya
Rendra tidak menjawab panggilan
Aliya. Ia masih sibuk menulis untuk menggantikan bagian yang kurang tepat itu.
“Rendra.. satu lagi pertanyaannya
apa ?” Tanya Aliya kembali
Rendra menghentikan aktifitas
menulisnya, ia lupa dengan pertanyaan yang satunya lagi. “ehh, sorry gue lupa”
ucap Rendra menepuk jidatnya
Aliya tersenyum simpul melihat
tingkah laku sahabatnya itu. Rendra meletakkan catatan dan kertas yang
berisikan cerita yang ia tulis di samping tempat duduknya. Posisi duduk Rendra
dan Aliya sekarang saling berhadapan.
Rendra menarik napas dalam-dalam ingin menceritakan semuanya yang selama ini ia
pendam. Aliya sedari tadi, tengah menuggu pertanyaan Rendra selanjutnya.
“Al,dalam agama kita dosa engga sih
kalau kita berbeda pandangan dengan orang tua kita /” Tanya Rendra dengan ada
serius
Aliya terdiam sejenak, mencari
pertanyaan yang tepat. “engga dosa sih, kalau pandangan orang tua kita menurut
kita berlawanan dengan agama. Kita berhak untuk tidak mengikutinya’ jawab Aliya
dengan tenangnya.
“emangnya kenapa deh,lagi ada
masalah sama mamah ?”Tanya Aliya mencoba mencari tahu duduk permasalahannya.
Rendra menggeleng seakan-akan ia
tidak ingin menceritakan permasalahannya dengan orang tuanya. Kemudian,
pandangannya ia alihkan ke bangunan yang ada di kota ini.
“rendra.. cerita aja sih” ucap Aliya
kembali.
Rendra masih terdiam dengan tatapan
yang kosong setelah mendengar jawaban Aliya.
“lagi ada masalah yah ?” Aliya
mencoba mengulang kembali pertanyaanya.
Hingga akhirnya, Rendra menceritakan
semuanya. “ibu pengennya, gue harus jadi guru sedangkan gue sama sekali engga
ada niatan buat jadi guru” ucap Rendra dengan sejujur-jujurnya.
“terus ?”
“yah, masa gue harus ikutin
keinginannya sih. Gue punya pilihan kali” kata Rendra dengan nada kesal
Aliya menghempaskan napasnya ke
udara “Rendra..Rendra.. gue kira permasalahannya kenapa” ucap Aliya sambil
membenarkan posisi duduknya kembali.
Rendra terdiam, menatap kearah Aliya
“kalau menurut gue sih, lo engga salah.karena lo berhak menentukkan pilihan
sendiri. Dan menurut gue juga, pilihan mamah lo juga bagus. Guru kan salah satu
profesi yang mulia juga.bukan ?” ucap Aliya
Rendra menghela napas panjang “gue
kira lo bakalan dukung gue, ternyata sama aja” pikir Rendra setelah mendengar
penjelasan Aliya panjang.
“bukan gitu rendra, intinya lo harus bisa tentuiin pilihan lo. Dan lo
juga harus buktiin ke orang tua lo, kalau cita-cita yang lo tetuiin engga
salah” ucap Aliya kembali
Rendra terdiam sementara, menimang
perkataan Aliya kali ini. “thanks” jawab Rendra singkat.
Aliya hanya tersenyum simpul. Mereka
berdua kembali menikmati sunset dari tempat ini. Senja yang payah itu sudah
terlelap manja di ufuk barat. Langit menghitam, tak kalah dengan sinar matahari
diatas awan. Kemerlap bintang-bintang memancarkan sinarnya. Satu-dua diantara
mereka saling menyapa manja.
Lampu-lampu bangunan menjulang ke langit ikut
meramaikan suasana malam ini. Semilir angin malam mamasuki celah rongga baju.
“udara disini kalau malam, dingin
jangan sampai lo sakit” ucap Rendra memberikan switternya kesayangannya
membungkus tubuh mungil Aliya.
Aliya kembali tersenyum melihat
sahabatnya yang satu ini begitu peduli. “thanks” ucap Aliya.
“rendra, gue lupa. Akhir bulan nanti
ada lomba menulis cerpen yang diadaiin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan”
ucap Aliya mengingat informasi lomba dari internet.
“serius ?” Tanya Rendra begitu
antusias mendengar lomba menulis.
Aliya menganggukan kepalanya “gue
serius”
“oke deh, nanti gue siapin” ucap
Rendra sambil menulis deadline di catatan pribadi. Aliya hanya menatap Rendra
dengan senyuman.
Tidak terasa mereka menghabiskan
waktu bersantainya di tempat ini Selama 2 jam lamanya. Rendra dan Aliya
bergegas pulang ke rumah, menyusuri anak tangga bangunan ini. sesekali, Aliya
mengeluh saat menyusuri anak tangga yang nyaris tidak terlihat oleh mata. Bukan
mata Aliya tidak normal, hanya saja bangunan kosong ini cahaya lampu tidak ada
dan sudah lama tidak digunakan.
***
Ruang
Kelas..
Tidak ada yang dilakukan Rendra saat
jam istirahat dimulai. Selain menghabiskan waktu istirahatnya di dalam
perpustakaan sekolah,membaca berbagai banyak literatur bacaan hingga matanya
lelah melihat ribuan kalimat. Atau menghabiskan waktu istrihatnya bergelut
dengan pembahasan soal Ujian Nasional tahun lalu. Seperti itu, tidak lebih
“rendra, gimana udah ada penguman
belom ?” Tanya Aliya menghampiri Rendra yang masih sibuk dengan berbagai soal
Ujian Nasional.
Rendra menggelengkan kepalanya. Ia
masih sibuk dengan soal matematika yang satu ini. Aliya yang sedari tadi duduk
disamping Rendra tertawa renyah, melihat sahabatnya yang entah kenapa menyukai
soal yang berbau hitung-hitungan.
Rendra menatap Aliya sekilas “Kenapa
?”
“Kenapa apanya ?” Tanya Aliya tidak
mengerti dengan pertanyaan Rendra.
“kenapa lo liatin gue kaya gitu”
ucap Rendra
“yee.. geer banget sih lo, aneh aja
liat lo yang tiba-tiba suka sama pelajaran matematika. Lagi kesambet yah ?”
Tanya Aliya denga tawa renyah.
“garing lo, salah apa gue ngerjain
soal matematika ?”
“engga salah ko, malah progress buat
lo” ucap Aliya kembali denga tawa yang menggelegar.
“seneng yah liat temennya selalu
dikataiin” ucap Rendra dengan kesal sambil menoyor kepala Aliya.
Aliya gerutu kesakitan saat
kepalanya ditoyor Rendra “sakit tau” gerutu Aliya
“itu akibatnya kalau remehin gua
terus”
Bel tanda istirahat berakhir
terdengar dengan keras. Siswa-siswi kembali ke dalam kelas melanjutkan mata
pelajaran selanjutnya. Setidaknya Rendra tidak akan pernah takut jika
berhadapan dengan pelajaran matematika.
Laki-laki paruh baya dengan membawa
tas laptop masuk kedalam kelas. Dengan tubuh yang gempal dan rambut tidak lagi
putih memberikan kesan tersendiri. Ditambah lagi dengan pesonanya. Ralat.
Pesona beliau kalau lagi marah seakaan seantero planet tahu.
Bapak Bertus Siahan.
Mengingat namanya saja sudah membuat kepala pusing. Apa
lagi dengan mata pelajaran yang diberikan oleh beliau. Bisa-bisa rambut
siswa-siswi berubah berwarna putih sebelum masanya.Siswa-siswi terdiam sejenak,
melihat siapa yang datang mengajar mata pelajaran ini. tidak jarang, salah satu
diantara kita memasang wajah serius agar tidak kena amarah beliau. Ditambah
lagi, akhir-akhir ini gaji pegawai Negeri belum turun. Lengkap sudah
penderitaan siswa-siswi.
***
Tidak ada yang bisa dilakukan saat mata pelajaran yang
satu ini. Bahkan, untuk pergi ke toilet saja. Tidak diperkenankan oleh Bapak
Bertus dengan berbagai alasan. Padahal itu salah satu hak siswa-siswi. Spesies
macam apakah ? Megalithikum kah ? Pithecantropus kah ? atau Homo Sapiens ?
entahlah,
Jam begitu lama berganti, bahkan
untuk mengganti satu jam saja seperti menunggu satu tahun lamanya. Seakan ada
magnet tersendiri darinya agar siswa-siswi menyukai pelajaran yang satu ini.
Mata siswa-siswi mengarah ke papan tulis mendengarkan apa yang sedang
diterangkan tidak kecuali dengan Rendra yang setiap saat menatap kearah
belakang, melihat jam yang begitu lama berganti.
“rendra.. kamu ngapain liatin jam
terus ?” Tanya Bapak Bertus melihat Rendra sedari tadi menatap kearah belakang
kelas.
Teman-teman Rendra menatapnya dengan
mengahikimi dirinya. “tidak pak,” jawab Rendra dengan suara kecil dan
terbata-bata.
“coba jelasin apa yang saya jelaskan
barusan” perintah Bapak Bertus menyuruh Rendra untuk maju ke depan kelas.
SKAK MAT.
Resep kue apa yang tadi dia katakan
? atau mantra apa yang tadi di ucapkan. Rendra melangkahkan kakinya perlahan,
menyusuri tempat duduk bangku temannya. Tidak ada yang bisa menolong Rendra.
Tidak ada. Kecuali..
Bel sekolah berbunyi begitu keras,
menandakan pelajaran telah usai. Siswa-siswi bergegas merapihkan bukunya yang
ada di atas meja. Sesekali diantara mereka saling bersorak gembira. Begitupun
dengan Rendra yang selamat dari maut.
“Alhamdulillah
selamat” ucap Rendra dalam hati.
Rendra menyusuri lorong-lorong
ruangan kelas, sesekali ia menarik tali tasnya. Sementara untuk bulan tidak ada
pedalaman materi untuk anak kelas 12. Jadi Rendra bisa pulang cepat. Aliya ?
sahabat Rendra yang satu ini akhir-akhir ini, tengah sibuk dengan pelatihan
menari untuk lomba nanti. Bahkan, bakat Aliya selalu didukung oleh kedua
orangtuanya. Sementara Rendra sendiri ? jangankan di dukung Rendra yang ingin
berbagi cerita untuk menuangkan ide menulis saja, selalu saja diabaikan.
Menyesal ? menyerah ? sama sekali
tidak. karena hal itu Rendra selalu tetap semangat menggapai cita-citanya
menjadi seorang penulis yang terkenal. Rendra selalu percaya akan satu hal.
“kita tidak pernah tau usaha ke berapa yang
akan berhasil. Sama seperti halnya kita tidak akan pernah tau doa keberapa yang
akan dijabah oleh Tuhan. Keduanya sama-sama penting, maka tugas kita tetap
berusaha dan berdoa. Hingga akhirnya, Semesta memberikan apa yang semestisnya
kita dapatkan.”
“Rendra” panggil Aliya dengan suara
cemprengnya.
Rendra menghentikan langkah kakinya,
“ada apa?” Tanya Rendra
Aliya mengatur napasnya tersengal
setelah turun dari anak tangga. “jangan lupa dating yah, besok lombanya” ucap
Aliya memberikan undangan khusus untuk sahabatnya.
Rendra menatap undangan itu dengan
design menarik. “pasti” ucap Rendra sambil memberikan senyuman cirri khas
miliknya.
***
Ruang
Tamu…
Rendra tengah duduk di kursi
tamu. Sementara ibunya tengah asik menonton tv. Rendra mengeluarkan buku yang
kemarin ia pinjam dari perpustakaan sekolah. Tidak lupa dengan buku catatan
pribadinya ia keluarkan secara bersamaan. Mata Rendra tengah sibukmembaca
tulisan mulutnya komat-kamit membaca paragraph demi paragraph. Sesekali
tangannya menulis apa yang ada di kepalanya.
“rendra” panggil ibunya.
Rendra bergegas menghampiri ibunya
yang sedang menonton tv. “iyah bu, ada apa ?”Tanya Rendra
“kamu jadi kan, ambil jurusan PGSD”
Tanya ibunya kembali
Rendra diam mematung. Sejurus
kemudian,ia kembali lagi dengan rutinitas membaca dan menulis
kembali. Rendra
tidak menjawab pertanyaan ibunya kali ini.bukankah pertanyaan itu tidak perlu
dijawab ?.
Rendra kembali asik dengan benda
persegi itu. Hingga akhirnya, mata Rendra lelah. Rendra memutuskan untuk pergi
keluar rumah menghilangkan rasa jenuh dan stressnya. Mungkin dengan berkeliling
komplek atau melihat Aliya berlatih dapat mengurangi rasa jenuh dan lelahnya.
Mungkin.
***
Di
Aula Sekolah…
Aliya tengah berlatih menari,
gerak tubuhnya begitu gemulai mengikuti alunan musik tradisonal.
Sesekali ia
mengulang di bagian gerak yang menurutnya kurang. Rendra sedari tadi menatap
Aliya dengan berdiam diri.
“gerakannya udah bagus ko” ucap
Rendra saat melihat Aliya mengulang kembali gerakan tarinya.
Aliya terdiam, kemudian, menghampiri
Rendra “ko lo ada disini. Rendra ?” Tanya Aliya begitu
terkejut melihat
kehadiran Rendra
Rendra tersenyum simpul “engga boleh
apa ?”
Aliya menggeleng sambil melambaikan
kedua tangannya “bukan engga boleh, tapi kan aneh aja”
“aneh kenapa ?” Tanya Rendra kali
ini
“yaudah lah,lupaiin ada apa emangnya
ndra ?”
“mau liat lo latihan aja” jawab
Rendra sambil memperlihatkan susunan giginya
“sure ?” Tanya Aliya mencoba
meyakinkan kembali.
Rendra mengangguk, sejurus kemudian
kakinya ia luruskan “gue disini lagi kesel aja sama ibu gue” ucap Rendra dengan jujur
Aliya terdiam “kesel kenapa, ada masalah lagi” Tanya Aliya
kembali
“the
same problem” ucap Rendra singkat mengalihkan pandangannya ke setiap sudut
Aula Sekolah.
Aliya menghempaskan napasnya ke
udara “terus gimana ?”
Rendra kembali menggeleng,”udah
engga usah dibahas lagi yah, sekarang gue mau liat tarian lo” ucap Rendra
mengalihkan topik obrolan
Aliya tersenyum simpul, sejurus
kemudian, Aliya menarik selendang tarinya dengan kuat. Alunan music tradisional
mengiringi gerakannya. Rendra yang menonton Aliya menari tersenyum bahagia.
Entah apa yang ia rasakan.
***
Theater
Studio…
Penonton lomba sudah hadir
mengisi kursi-kursi yang telah disediakan panitia acara. Beberapa diantaranya
membawa atribut dukungan untuk mendukung sekolahnya. Begitupun dengan Rendra
yang sudah mempersiapkan diri membawa tulisan untuk memberikan semangat ke
Aliya. Rendra melihat kembali undangann yang bertuliskan namanya dan tempat
duduknya. Tidak ketinggalan dengan kamera yang melingkar di lehernya
mengabadikan moment ini untuk Aliya.
Di dalam ruangan suasana semakin
sorak gembira, tidak ada henti-hentinya memberikan dukungan dan doa untuk
jagoannya bertanding. Hingga tiba pengumuman pemenang lomba pun dimulai.
Suasana berubah menjadi hening, ada beberapa pendukung dari sekolah lain
menutup wajahnya entah apa yang ia lakukan. Sementara, Rendra hanya bersikap
biasa saja. Toh dalam setiap permainan ataupun lomba selalu ada yang menang dan
kalah. Mungkin, wajar saja jika ada pendukung yang bersikap seperti itu ataupun
fanatik.
Pembawa acara lomba Tari Tradisonal
membacakan juara lomba Tari Tradisonal tahun ini jatuh ke tangan..
Aliya
Kamila Pratiwi.
Suara tepukan tangan penonton
begitu riuh. Tidak ketinggalan dengan Rendra yang begitu bersemangat saat nama
sahabatnya itu terpilih menjadi pemenang juara 1 Lomba Tarian Tradisonal. Aliya
naik panggung dengan wajah yang tidak percaya namanya dipangggil. Bapak Wali
Kota memberikan ucapan selamatdan memberikan piala yang berukuran besar ke Aliya.
Air mata Aliya jatuh begitu saja tidak percaya akan menjuarai Lomba terakhir.
Bagaimana bisa dikatakan lomba
terahir ? mungkin besok lusa Aliya tidak akan mengikuti lomba lagi karena Ujian
Nasional semakin dekat. Bukan hanya piala dan cinderamata saja yang diberikan
melainkan,ada hadiah menarik yang mungkin membuat Rendra merasa iri. Juara 1
Lomba Tarian Tradisonal bebas memilih jurusan dan Universitas kesukannya tanpa
tahap seleksi. Benar-benar beruntung sekali menjadi pemenang seperti Aliya.
“ciee yang dapet juara 1”ledek
Rendra samba memberikan ucapan selamat
Pipi Aliya merah mendapat pujian
dari Rendra “apaan sih, biasa aja kali” jawab Aliya mengelak.
“biasa gimana ? hadiahnya yang engga
biasa” ucap Rendra meledek Aliya
“haha.. bilang aja iri kan. Makanya
bisa nari dong” jawab Aliya sambil menjulurkan lidahnya.
“ajarin dong kaka” Rendra tertawa
Aliya pun ikut tertawa riang “eh,,
gimana sama pengumumannya ?” Tanya Aliya mengalihkan topik
Rendra mengangkat bahunya tidak
tahu, “ya mungkin gua kalah” ucap Rendra singkat
“jangan pesimis dulu dong, pemenang
dilarang pesimis haram hukumnya” ucap Aliya memberikan semangat.
Rendra tersenyum simpul, “Lo tau
engga lagu The Script – Superhero” Tanya Aliya kembali.
Rendra menggelengkan kepala “kenapa
emangnya”
“ jadi gini, didalam lirik lagu itu
ada lirik yang bagus, kalau engga salah. all
the kicks and all the
blows, he will never let it show, cause he’s stronger
than you know, that’s how a superhero learns to fly. Turn the pain into Power”
Rendra terdiam memahami kalimat
yang diucapin Aliya. Sejurus
kemudian, Rendra tersenyum simpul. Suasana menjadi hening saat Aliya memberikan
kata-kata motivasi untuk Rendra.
“Turn the pain into power – The Script”
***
Aula
Sekolah…
Hari berganti minggu, minggu
berganti bulan. Tidak terasa waktu berlalu begitu saja. Bahkan, berbagai ujian
sekolah maupun ujian nasional sudah dilalui siswa-siswi kelas 12 yang setengah
tahun lamanya mereka bergelut dengan ribuan soal-soal yang menguras tenaga dan
pikirannya. Setelah selesai melawati fase-fase sulit, ada sebagian siswa-siswi
merayakan masa-masa SMA akan berakhir dengan mencoret-coret bajunya yang sudah
tidak asing di dunia pendidikan di Indonesia. Ada juga, yang merayakan dengan
sujud syukur walaupun hasilnya belum di umumkan secara resmi.
Matahari sudah berdiri gagah
menyapa semesta dengan riangnya. Siswa-siswi sudah terlihat di halaman sekolah
dengan menggunakan pakaian yang tidak seperti biasanya digunakan. Kemeja putih
lengan panjang dengan jas hitam yang menutup kemeja putih itu, celana hitam
panjang dengan dasi hitam melengkapinya dengan sempurna. Tidak ketinggalan
dengan sepatu pantopel membuat siswa laki-laki terlihat beda tidak seperti
biasanya. Balutan kebaya modern dengan berbagai model pashimina melingkar
dikepalanya yang terlihat senada membuat siswi perempuan pun terlihat cantik.
Ditambah dengan polesan make up
membuatnya semakin cantik.
Ruangan berukuran 15 x 15 meter itu
dipenuhui orang tua yang memenuhui undangan sekolah untuk pelepasan siswa-siswi
kelas 12. Guru-guru sudah berada di tempat duduknya di barisan depan. Osis yang
ditunjuk sebagai panitia acara pelepasan siswa-siswi kelas 12 ini, tengah sibuk
dengan jobdesk masin-masing. Satu-dua
siswa-siswi kelas 12 sibuk dengan ponsel pintarnya mengabadikan moment ini
untuk dikenang.
”Assalamualaikum
Wr.Wb, selamat datang di SMA Negeri 1. untuk orang tua/wali murid diharapkan
mengisi buku tamu di Aula Sekolah dan untuk kakak kelas 12 diharapkan masuk ke
dalam ruangan aula karena acara akan segera dimulai. Terima kasih” ucap
perempuan yang tidak diketahui namanya memberikan pengumuman melalui toa
sekolah.
Suasana di dalam ruangan Aula
semakin riuh dengan penampilan adik-adik kelas menampilkan bakatnya
masing-masing. Mulai dari hadroh,band,tarian tradisonal, modern dance hingga
cheerleaders ikut meramaikan acaranya. Semua hadirin yang ada didalam ruangan
bertepuk tangan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada adik adik
kelas yang sudah menampilkan bakatnya.
Tiba saatnya, saat pembawa acara
mulai membacakan acara inti yang membuat suasana berubah menjadi hening
seketika. Begitupun dengan raut wajah siswa-siswi kelas 12 yang terlihat tegang
tidak seperti biasanya. Ada beberapa yang menutup wajahnya tidak ingin melihat
hasil dari berbagai ujian yang dijalaninya. Ada beberapa siswa-siswi yang
terlihat tenang menghadapi hal semacam ini. Dan hasilnya adalah siswa-siswi SMA
Negeri 1 dinyatakan “LULUS” seratus
persen. Suasana berubah menjadi ramai dengan teriakan siswa-siswi. Ada juga
yang menangis bahagia mendengar kabar baik ini. guru-guru memberikan
penghargaan kepada mereka yang telah melewati berbagai ujian.
Tidak ketinggalan dengan Rendra dan
Aliya yang merayakan moment ini dengan berfoto bersama satu angkatan di
lapangan sekolah,Selepas acara pelepasan selesai. Semua sudah tidak sabar
menunggu moment ini yang akan diabadikan di Buku Tahunan Siswa untuk menjadi
kenang-kenangan masa putih abu-abu.
Semua bahagia.. tapi tidak dengan
Rendra yang masih menyimpan rasa tidak bahagia di dalam hatinya.
***
Ruang
Tamu…
Sama seperti biasanya, Rendra
selalu bermain video game lewat ponsel pintarnya sementara ayah dan ibunya
sedang menonton TV bersama. Sangat berbeda jauh, sifat ayah dan ibunya yang
memberikan kebebasan pada Rendra dalam hal bermain video game. Sedangkan, untuk
menentukan pilihan melanjutkan pendidikannya. Rendra tidak bisa berbuat banyak.
Setiap saat, setiap waktu ibunya selalu menginginkan anak semata wayangnya
memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Padahal, Rendra tidak berminat
mengambil jurusan itu.
“rendra” panggil Ibunya sambil
menatap ke arah anaknya yang sedang asyik bermain video game
Rendra bergumam panjang, sementara
tangannya masih memencet keypad ponsel pintarnya.
“kapan pengumuman SNMPTN ?” Tanya
ibunya dengan salah satu jalur untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri.
“rendra engga tau” jawab Rendra
dengan nada entengnya. Padahal ia sendiri tau kapan pengumuman itu.
“terus kamu ikutin pilihan yang ibu
suruh kan ?”Tanya Ibunya kembali membuat Rendra harus memutar otak untuk
memberikan jawaban yang logis.
Rendra terdiam sejenak menghentikan
aktifitasnya bermain video game. “rendra engga milih PGSD, Bu” jawab Rendra
Ibunya menghampiri Rendra saat
mendengar jawaban dari anaknya itu. “jadi, kamu engga pilih jurusan PGSD ?”
Rendra menggeleng. “rendra engga
berminat jadi Guru. Bu”
“kenapa emangnya ? kamu engga lihat
kehidupan pamanmu yang kehidupannya sudah berkecukupan dan di tanggung oleh
Negara “ ucap Ibunya kembali yang tidak kalah memberikan argumen.
Rendra terdiam. Diam bukan berarti
Rendra kalah dalam hal ini. Hanya saja, ia tau kapan ia harus diam dan kapan
harus membela diri. “intinya rendra engga akan milih jurusan PGSD” ucap Rendra
dengan nada meninggi.
PLAKK !!!
Sebuah tamparan mendarat mulus di
pipi kirinya. Baru kali ini, Rendra mendapatkan tamparan dari orang yang ia
sayangi dari dulu. Rendra memegangi pipi kirinya dengan satu tangannya. Ia
paham akan sebuah tamparan ini. Suasana berubah menjadi hening, kemudian Rendra
bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan kecewa mendapatkan perlakuan
seperti ini.
“all the kicks and all the blows, he will
never let it show – The Script”
***
Kamar
Rendra…
Ruangan berukuran 5x5 meter itu
dipenuhui dengan foto-foto Rendra saat masa kecil. Saat dimana ia selalu
diberikan kasih sayang, saat dimana Rendra mendapatkan kebebasan menjelajah
dunianya dulu. Dan saat itulah yang Rendra rindukan, bukan seperti ini.
Rendra menatap dirinya di cermin
kamarnya, tamparan itu terlihat jelas di pipi kirinya. Sementara, tangan
kirinya masih memegangi pipi kirinya. Berharap saja, dapat menghilangkan rasa
sakitnya. Walaupun, ia tau rasa sakit dari sebuah tamparan tidak seberapa
dengan rasa sakit kekecewannya yang melihat sifat orang tuanya selalu menuruti
keinginannya. Bukankah, setiap orang tua selalu mendukung keinginan/bakat
anak-anaknya. Bukan untuk mengekang ataupun membatasi ruang geraknya.
Benci ? menyesal ? sama sekali
Rendra tidak memiliki hak itu semua. Hanya saja, ia perlu membuktikan bahwa
cita-citanya itu tidak salah. sejurus kemudian, Rendra melihat sebuah benda di
atas meja belajarnya. Benda tabung itu, bertuliskan tabungan pribadinya.
Sekilas, Rendra mempunyai niat untuk kabur dari rumah. Bukan karena tidak
sayang lagi. Melainkan ia perlu menenangkan ataupun membuktikan dirinya, kalau
Rendra akan berhasil dengan cita-citanya itu.
Rendra merapihkan baju,celana dll
dimasukkan ke dalam satu koper. Tidak ada yang tau Rendra akan melakukan hal seperti
ini saat orang tuanya tengah terlelap. Rendra menunggu suasana rumah sepi, jam
masih menujukkan pukul 23:00 itu artinya Rendra masih memiliki waktu kurang
lebih 1 jam lagi untuk kabur dari rumah.
Tali pun sudah siap membantu dirinya kabur dari rumah melalui
Langit masih menghitam, gugusan
bintang-bintang dan rembulan masih terlihat disana. Bahkan,bintang dan rembulan
seakan terlihat meragu dengan rencana yang disusun Rendra. Rendra masih menatap
jam dan mengamati situasi dirumah yang terlihat sepi. Sejurus kemudian,Rendra
melancarkan aksinya dengan melemparkan kopernya terlebih dahulu. Kemudian,
Rendra turun melalui tali yang mengikat di tiang rumahnya.
Tidak ada tujuan yang pasti dari
Rendra. Yang Rendra inginkan melangkah lebih jauh dan berharap ia mampu
menenangkan dan mampu membuktikan semuanya. Hingga kekalahan menyerah dengan
semangatnya yang tidak pernah padam. Dan akhirnya,semesta memberikan apa yang
semestinya ia dapatkan.
“Do it for your pride – Prayoga Dwi Wibowo”
***
Hari berganti minggu,minggu berganti
bulan,bulan berganti tahun terus seperti itu. bahkan sudah hampir 2 tahun
lamanya Rendra tidak pernah kembali lagi ke rumah. Tempat dimana Rendra
dibesarkan. Walaupun sejatinya ia tidak pernah merasakan kebahagian di tempat
asalnya. Sementara disini, kota dimana membuat Rendra menjadi tenang dan mampu
melahirkan ide-ide menulisnya hingga menjadi sebuah buku. Dan membuat Rendra
ingin terus berkarya.
Tidak ada yang tahu Rendra tinggal
dikota ini. Hanya Aliya lah yang mengetahui keberadaanya disini. Bahkan, Aliya
juga berada dikota ini lantaran ia diterima disalah satu Perguruan Tinggi
Ternama di Kota ini. sementara Rendra sendiri hanya mampu melanjutkan
pendidikannya di salah satu Perguruan Tinggi Swasta. Untuk melanjutkan hidupnya
yang tidak tergantung dari orang tuanya. Rendra menyisahkan waktunya berkerja
disalah satu restoran menjadi pelayan café ataupun menjadi penulis.
“hallo
rendra..” panggil perempuan dari seberang sana
“iyah, ada apa Al” Tanya Rendra
yang mengathui suara sahabatnya itu.
“ada
waktu engga ? ada yang ingin ditanyaiin” ucap Aliya dengan nada serius.
Rendra menimang tawaran Aliya
untuk bertemu “hmm.. emangnya lo bisa apa ?” ledek Rendra
“gue
lagi serius,lo bisa engga ?” Tanya Aliya mencoba meyakinkan kembali.
“segitu pentingkah ?”
“penting.
Ini tentang keberadaan orang tua lo” ucap Aliya dengan nada meninggi saat
menyebutkan nama orang tuanya.
Rendra terdiam saat mendengar
nama itu. padahal ia sendiri pernah merasa kecewa dengan sifat ibunya yang
selalu melarangnya mengambil jurusan Sastra. Tatapanya masih kosong entah
kemana. Sementara Aliya sedari tadi tengah menunggu jawaban Rendra.
“oke, ketemuan di tempat biasa” ucap
Rendra mengakhiri obrolan melalu sambungan telfon.
***
Di
Café…
Akhir akhir ini langit tidak bersahabat. Kadang, musim
hujan kadang musim kemarau. Walaupun sudah masuk musimnya. Arah angin membuat
daya tahan tubuh semakin diuji. Rendra masih memakai seragam tempatnya bekerja,
sementara ia sudah 30 menit lamanya ia tengah menunggu seseorang yang ingin
menceritakan keberadan orang tuanya.
Perempuan dengan rambut pendek,
ditambah lagi dengan kacamata yang masih setia menempel di tulang hidunya.
Datang menyapa Rendra dari pintu luar. Sejurus kemudian, perempuan itu
menghampiri barista café ini.
“udah jam berapa nyonya ?” Tanya
Rendra menekankan kalimat terakhir.
“maaf, tadi ada kelas pengganti”
ucap Aliya merapihkan rambutnya.
“iyah, emang kenapa sih ?” Tanya
Rendra pada inti obrolan
Aliya merapihkan tempat duduknya,
kakinya ia silangkan terlihat anggun. Pandangan mereka saling menatap satu sama
lain. Sejurus kemudian, Aliya menaruh tas nya diatas meja barista. Sejurus
kemudian, Aliya menatap sekeliling café yang terlihat lenggang.
“kemarin gue pulang, dan setiap kali
gue pulang. Rumah lo selalu kosong. Bahkan gue udah nanya sama satpam komplek.
Kata dia, kalau penghuni rumahnya udah lama pergi entah kemana. Tepat setelah
lo kabur dari rumah” ucap Aliya dengan panjangnya.
Rendra terdiam saat mendengar
penjelasan Aliya menjelaskan maksudnya. Aliya menarik napas dalam-dalam ingin
mengatakan hal lagi.
“rendra, apa lo engga pernah ada
niatan buat pulang kerumah ?” Tanya Aliya dengan memberikan senyuman
Rendra terdiam
“apa lo engga pernah kangen sama
kedua orang tua lo. Rendra ?” Tanya Aliya kembali dengan maksud yang sama.
Rendra masih terdiam .
“apa lo bisa menghilangkan kebencian
yang ada di diri lo. Apa lo bisa memaafkan semuanya ? berdamai dengan apa dulu
pernah menyesakkan ?” Tanya Aliya yang tidak mampu dijawab oleh Rendra.
Rendra masih terdiam. “gue udah bisa
melakukan semuanya. Tapi, apa kedua orang tua gue juga mampu melakukan hal yang
sama” jawab Rendra dengan tenangnya.
Aliya menarik napas dalam-dalam
“orang tua mana sih yang engga bisa maafin anaknya ?, pasti orang tua lo udah
maafin lo”
“terus apa yang sekarang” Tanya
Rendra kembali
“saran gue, mendingan lo cari tau
keberadaan orang tua lo. Itu sih kembali lagi sama diri lo juga” ucap Aliya
memberikan saran.
Rendra terdiam dalam waktu yang
lama. Menimang saran dari Aliya “yaudah, gue mau.lo bantuiin gue kan cari tau
keberadaan orang tua gue ?”
“rendra..rendra.. lo gimana sih,
pertanyaan lo itu engga bermutu.” Jawab Aliya dengan tertawa terbahak
Rendra menoyor kepala Aliya dengan
entengnya. “sialan lo, yaudah besok gue tungguiin disini”
“aduhh.. sakit tau, oke oke”
***
Matahari sudah berdiri gagah di
singgahsananya. Burung-burung camar berkicau dengan merdunya. Cahaya matahari
pagi begitu terasa hangatnya di Bumi. Rendra dan Aliya sudah lelah mencari
keberadaan orang tua Rendra. Aliya yang mendampinginya selalu memberikan
semangat agar Rendra tidak mudah patah mencari tahu keberadaanya.
Mobil Rendra membelah jalanan yang
terlihat lenggang menuju ke rumah lamanya saat Rendra masih bersekolah. Hanya
butuh waktu 2 jam, untuk tiba di komplek. Bahkan, Rendra sndiri sudah terlihat
lelah menyetir mencari tahu. Tidak ada yang tahu petunjuk ataupun alamat untuk
menemukan keberadaan orang tuanya.
Tiba-tiba..
Mobil Rendra menabrak seorang
penyebrang jalan yang hendak menyebrang. Seperkian detik, Rendra menginjak rem
dengan kuatnya. Sementara, tubuh laki-laki penyebrang jalan itu terpental lalu
terjatuh di jalan. Rendra dan Aliya yang berada didalam mobil, langsung keluar
mobil memberikan pertologan pertama pada laki-laki itu.
Betapa terkejutnya Rendra dan Aliya
saat melihat, laki-laki itu berjalan menggunakn tongkat dengan kacamata hitam.
Laki-laki itu ternyata buta. Namun, Rendra mencoba mengingat kembali saat
melihat wajah laki-laki itu dan hasilnyapun nihil. Sejurus kemudian, Rendra
membopong tubuh laki-laki itu yang tidak berdaya membawanya ke rumah sakit
terdekat.
Rumah
Sakit…
Laki-laki dengan jas putih itu
keluar memberikan keterangan setelah memeriksa keadaan laki-laki yang barusan
Rendra tabrak. Rendra da Aliya yang sedari tadi khawatir saat mendapati
ternyata laki-laki itu buta.
“gimana dok ?” Tanya Rendra
menanyakan keadaan langsung.
“kondisinya baik-baik saja, hanya
luka ringan. Butuh waktu 1-2 hari untuk pulih. Kalau begitu, saya tinggal dulu”
ucap dokter pamit meninggalkan Rendra dan Aliya.
Rendra dan Aliya masuk kedalam
ruangan yang hanya dibatasi sekat berawarna putih itu. laki-laki itu tengah
terbaring tidak berdaya diatas ranjang. Sementara, pikiran Rendra masih
menerawang mengingat kembali siapa laki-laki itu. Dan ternyata..
Ayah
Rendra….
“ayah..” ucap Rendra dengan suara
lrih setelah berhasil mengingat kembali laki-laki itu.
Laki-laki itu mendengar suara yang
sudah tidak asing lagi ditelinganya. “Rendra” jawab Laki-laki itu membetulkan
kacamata hitamnya.
Rendra langsung memeluk tubuh
laki-laki itu begitu erat.”maafin Rendra. Yah” ucap Rendra dengan isakan tangis
bahagia.
“ayah, ibu sekarang tinggal dimana
?” Tanya Rendra merenggakan pelukannya.
“ibu kalau tidak salah, tengah
dirawat dirumah sakit gila. Ndra, tapi ayah engga pernah tau dimana rumah
sakitnya.” Ucap Ayahnya.
Otak Rendra berputar begitu cepat
mencari tahu nama Rumah Sakit jiwa berada di kota ini. Aliya yang berada
disampingnya ikut membantu mencari tahu juga. Hingga akhirnya,
“rendra tau, ibu sekarang ada
dimana. Aliya ayo ikut gue sekarang” ucap Rendra pergi meninnggalkan ayahnya
yang masih tidak berdaya.
***
Rumah
Sakit Jiwa…
Rendra dan Aliya sudah tiba di
Rumah Sakit Jiwa di Kota ini. tanpa menunggu lama lagi, Rendra dan Aliya
langsung bertanya pada bagian kasir. Sejurus kemudian, seorang perawat Rumah
Sakit ini mengantarkan ke salah satu ruangan dimana Ibu Rendra di rawat. Perawat
rumah sakit ini menjelaskan peristiwa yang menimpa ibunya Rendra.
Betapa terkejutnya Rendra saat
mendengarkan perawat rumah sakit ini menjelaskan kronologis kecelakaan yang
memilukan hati Rendra dan Aliya yang mendengarnya.
“kronologisnya, ada seorang
suami-isteri tengah mencari anaknya yang pergi dari rumah. Namun naas, saat
mobil yang dikendarai suaminya itu menabrak pohon besar. Suaminya mengalami
kebutaan sementara isterinya mengalami gangguan jiwa akibat benturan keras di
kepalanya membuatnya tidak bisa mengingat apapun”
Hati Rendra menangis sejadi-jadinya
saat mendengarkan perawat itu menceritakan semuanya. Ada perasaan bersalah
dalam dirinya. Bahkan, perawat itu tidak tahu kalau Rendra lah anak yang kabur
yang membuat orang tuanya seperti ini.
“boleh saya masuk, menemui beliau ?
ada yang ingin saya bicarakan empat mata” Tanya Rendra
Perawat itu dengan senang hati
memperbolehkan Rendra untuk berbicara secara langsung.
Langkah rendra terhenti saat melihat
wanita dengan rambut yang tidak terawat duduk membelakanginya. Dengan
keberaniannya Rendra berbicara langsung kepadanya.
“ibu”panggil Rendra dengan suara
lirih
Wanita itu masih diam.
Rendra memanggil kembali “Ibu”
Wanita itu menoleh dengan tatapan
yang menakutkan. “siapa kamu ?”
Rendra dengan tenangnya
memperkenalkan dirinya “ini Rendra bu, anak ibu”
“saya tidak kenal dengan kamu, pergi
sana” usir wanita itu dengan lantangnya.
“ibu.. ini Rendra, maafin Rendra”
“pergi sana” usir Wanita itu dengan
nada teriak histeris
Rendra yang mendapatkan penolakan
itu tidak menyerah begitu saja, Rendra mengambil selembar foto dirinya dan
kedua orang tuanya saat ia lulus dari SMA.
“ibu, apa ibu ingat foto ini ?”
Tanya Rendra memberikan foto dari dompetnya.
Wanita itu mengambil foto yang
diberikan Rendra. Sejurus kemudian, wanita itu memperhatikan 3 orang yang
berada di dalam foto tersebut. Rendra memperhatikan kondisi ibunya yang begitu
mengkhawatirkan itu.
“anakku” panggil wanita itu dengan
lirihnya
Rendra menyeka air matanya yang
jatuh begitu saja. “ibu maafin rendra. Bu” ucap Rendra memeluk tubuh ibunya itu
yang kotor dan bau
Ibunya pun membalas pelukan Rendra
juga “maafin Ibu juga. Nak, andai saja ibu tidak melarangmu.” Ucap ibunya
Rendra memotong ucapan ibunya “ibu
engga salah, Rendra yang salah” rendra kembali memeluk tubuh ibunya dengan
pelukan yang sangat kuat. Sejurus kemudian, Rendra mencium kening ibunya dengan
lembut.
Aliya dan perawat rumah sakit itu
melihat moment itu dengan tangis terharu melihat anak dan ibunya kembali
bertemu. Bukan hanya anak dan ibunya saja, melainkan keluarga kecil yang dulu
hilang kini kembali lagi.
Satu bulan kemudian..
Setelah Rendra bertemu dengan ayah
dan ibunya dan membawa kedua orang tuanya kerumah sakit untuk dicek kondisinya hingga
pulih. Keluarga kecil itu kembali lengkap setelah menyadari kesalahanya
masing-masing. Tidak ada kebencian yang menyelimuti mereka. Yang ada canda dan
kebahagian yang kembali lahir setelah sekian tahun lamanya tidak pernah
dirasakan.
TAMAT
BIODATA PENULIS
Prayoga Dwi
Wibowo, kelahiran Jakarta, 06 November 1997 silam memulai menulis cerita di
awal tahun 2011. Penulis yang biasa disapa akrab dengan sebutan Yoga ini, sudah
banyak menulis cerita pendek. Adapun cerita-cerita pendek yang pernah penulis
bagikan diblogg pribadinya, diantaranya, “Pelangi
Tanpa Hujan (2011)”, “Sahabat Jadi Cinta (2012)”, “One Day (2015)” dan yang
pernah membawa namanya menjuarai lomba menulis cerpen di sekolah “Daylight (2015)”, dan masih banyaklagi
cerpen-cerpen yang ditulis yoga.
Saat ini,
penulis sedang melanjutkan pendidikannya disalah satu Perguruan Tinggi Negeri
di Universitas Negeri Jakarta. Yoga biasa ditemui diberbagai akun media sosial
pribadinya yaitu, FB : Prayoga Dwi Wibowo, IG : prayogadwi97, Line :
prayoga0611 dan WA : 089646589675. Salam kenal dan salam literasi J
#DREAMWRITINGS