Selasa, 14 Juni 2016

Cerpen

                Prayoga D Wibowo

                     Setelah Senja

Senja masih memanjakan sebagian  sinarnya pada Semesta. Ombak-ombak saling bekejaran satu sama lain, ingin memecahkan batu karang. Kapal Nelayan berlayar ketengah laut mencari peruntungan untuk di bawa ke pengepul.

Aku dan Shabrina masih setia duduk dihamparan pasir pantai. Memandang senja yang sebentar lagi akan kembali ke pangkuan-Nya.

Raut wajah Shabrina nampak tidak bersemangat. Aku berkali-kali menyemangatinya untuk tetap menjalani hidup dengan semangat. Tapi, kegagalannya lolos SNMPTN membuat Shabrina terpukul.

"Sa, udah engga usah sedih berkepanjangan gitu" kataku memberikan semangat memberikan senyuman simpul.

"Hmmp.. kamu engga tau gimana jadi aku Ndra," jawab Shabrina menatap Andra lekat

"I see, aku tau kamu gagal SNMPTN. Tapi, engga kaya gini juga kan. Masih ada cara lain buat masuk PTN" Ucapku

"Masih ada SBMPTN juga, masih ada jalur Mandiri juga kan" tambahku

"Hmmp.. iyah, kamu mah enak udah lolos SNMPTN. aku males ikut ujian SBMPTN"

"Kenapa males ?" Tanyaku mengerutkan keningku

"Ujiannya susah dari Ujian Nasional" jawabnya datar

"Hmmp.. adeh adehh. Kamu udah coba belom ?"

Shabrina hanya menggelengkan kepala.

"Shabrina Shabrina. Kamu aja belom coba, malah dibilang susah" Aku tertawa renyah mengusap balutan kain hitam yang menutupi rambutnya

"Lagi juga, aku engga bermi.." ucap Shabrina setengah memberontak

"Coba dulu.. nanti aku ajarin," potongku sebelum Shabrina meneruskan

Setelah berdebat cukup panjang. Akhirnya, aku bisa membujuk Shabrina untuk mengikuti ujian SBMPTN yang dalam waktu satu bulan lagi dilaksanakan.

Kurasa waktu satu bulan lebih dari cukup. Membahas soal soal sulit dikerjakan. Aku selalu membantu Shabrina mengerjakan soal soal.

***

"Gimana susah engga ?" Tanyaku mengangkat kedua alisku setelah menerangkan

"Susah" jawab Shabrina diiringi tawa renyah

Aku menepuk jidatku "aku percuma dong jelasin ke kamu"

"Hehe.. aku bercanda kali, baper amat" ucap Shabrina menutup buku paduan SBMPTN yang baru saja dibeli

"Siapa yang baper coba" gerutuku sebal

"Kamu lah.."

"Eh.. Bye The Way, kamu pilih fakultas apa ? Masih yang sama pilihan kamu waktu SNMPTN" tanyaku kali ini

"Hmmmp.. ada yang sama mungkin" jawab Shabrina meragu

"Jangan jawab mungkin dong, kaya engga yakin aja sama pilihan kamu"

"Iyah iyah"

Shabrina memasukan buku paduan ke tas kesayangannya. Aku sendiri masih menatap gedung gedung yang menjulang ke langit. Aku dan Shabrina selalu menghabiskan waktu bersama didua tempat favorit kita berdua.

Pertama, Pantai yang selalu dipilih Shabrina sekedar melihat senja terlelap nyenyak. Kedua, bangunan kosong yang berada di tengah kota yang tidak digunakan lagi. Menjadikan penilaian lebih untuk dua tempat favorit aku dan Shabrina.

Walaupun berbeda, tempat itu memiliki satu kesamaan. Aku dan Shabrina bisa leluasa menatap Senja dari tempat ini.

***

Aku dan Shabrina tengah duduk di bangku yang tersedia diatas atap bangunan ini. Mungkin, sudah tidak terpakai lagi. Sebentar lagi, Senja akan terlelap manja. Aku dan Shabrina tidak mau melewati kesempatan ini.

"Sa, pulang yuk" ajakku

"Sebentar lagi yah, masih betah disini" jawab Shabrina nyengir kuda

"Okee.. "

"Saa.. ayo pulang nanti mamah cariin loh" ajakku kali ini

"Hmmp..iyah, bangunin dong" jawab Shabrina manja

Aku mengulurkan tangan kananku membangunkan Shabrina dari duduknya. Senja sudah terlelap menggantikan awan hitam yang siap menemani.

Selalu saja sama, tidak ada bulan dan bintang yang bertaburan di angkasa. Apa mungkin, mereka tengah merajuk untuk sementara waktu ?

Entahlah ..

***

Biasanya, perjalanan dari bangunan kosong ke rumah Shabrina memakan waktu hanya 20 menit. Dan ini, hampir satu jam lamanya Aku dan Shabrina terjebak macet.

"Sa, titip salam untuk mamah aja yah, maafin pulang agak telat. Kamu tau sendiri tadi" kataku masih berada di sepeda motorku

Shabrina mengangguk mengerti tak ketinggalan dengan senyumannya " iyah, hati-hati yah dijalan" pesannya

"Assalamu'alaikum" pamitku

"Wa'alaikumsalam"

Shabrina melambaikan tangannya kearah sepeda motorku yang perlahan meninggalkan halaman rumah Shabrina.

***

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Kurang dari 1 minggu lagi akan berlangsungnya ujian SBMPTN. Sementara, masih banyak materi yang harus diselesaikan dalam waktu singkat ini.

"Aku masih kurang yakin sama materi ini" tunjuk Shabrina

"Kurang yakin gimana ? Aku kan udah jelasin ke kamu"

"Iyah sih, masih kurang yakin aja" pikir Shabrina

"Coba dehh, sekarang kamu kerjaiin soal yang ini dulu. Kamu kerjaiin sesuai kemampuan kamu dulu" perintahku menunjuk soal

Shabrina memberikan isyarat mengerti dan langsung mengerjakan soal yang aku perintahkan. Aku hanya melihat cara Shabrina menyelesaikan soalnya. Kadang aku tertawa sendiri melihatnya.

"Jangan ketawaiin aku dong" ucap Shabrina kesal

"Siapa juga yang ketawaiin kamu" jawabku sambil menjulurkan lidah

"Waktunya tinggal 2 menit lagi yah" kataku lagi dengan diiringi tawa jahat

"Nyebelin tau engga, kamu pikir gampang kali ngerjaiin ini" gerutu Shabrina

"Yaudah.. makanya cepetan"

"Selesai.." ucap Shabrina tersenyum puas

"Coba mana aku koreksi" pintaku

"Koreksi aja nih" Shabrina begitu yakin dengan pekerjaannya yang satu ini

"good, gitu dong. Itu baru namanya Shabrina" pujiku

"Haha.. aku gitu"

"Eh.. besok aku mau ke Universitas Semarang" kataku

"Ngapaiin ?" Tanya Shabrina

"Aku mau daftar ulang," jawabku

"Yaudah.. hati hati aja yah"

"Kalau aku kembali, nanti aku anterin kamu tes deh" janjiku

"Emang engga cape apa ?" Tanyanya

"Engga kok, tenang aja"

***

Esok, hari yang sangat menentukan. Apakah perjuangan Shabrina untuk  masuk Perguruan Tinggi Negeri berhasil atau tidak. Tidak ada yang bisa ditebak atau diperkirakan kedepannya.

"Engga usah nervous juga kali" ledekku mencairkan suasana yang begitu kaku

"Siapa yang nervous ? Biasa aja ko"

"Hmmp.. percaya sama diri aja"

"Iyah, eh.. besok kamu jemput aku jam berapa ?" Tanya Shabrina

"Jam.. setengah 6 kali yah" pikirku memperkirakan waktu dan jarak ke tempat ujian.

"Apa engga ke pagian ?"

"Engga, takut kejebak macet" jawabku

"Yaudah deh.. terserah kamu deh, jangan sampe lupa yah" ledek Shabrina

"Siap Boss"

"Eh.. aku pulang dulu yah, udah malem nih"

"Iyah,"

"Mamah ada ? Aku mau pamit dulu" ucapku

"Sebentar yah"

Perempuan paruh baya dengan menggunakan kacamata keluar dari dalam rumah.

"Mah, Andra mau pamit pulang dulu" ucap Shabrina

"Buru buru banget, Ndra" kata mamah

"Hehe.. besok pagi saya anterin Shabrina ke tempat ujiannya kan tante" jawabku

"Iyah juga.. yaudah hati hati yah"

"Assalamu'alaikum" pamitku sambil mencium telapak tangan mamah Shabrina

"Wa'alaikumsalam"

***

Langit masih menghitam, Bulan masih setia menerangi. Walaupun, sebentar lagi sang surya siap menggantikannya. Ayam berkokok begitu merdu, membangunkan sang surya. Tapi, sang surya masih enggan muncul menggantikan Bulan yang terlihat payah menyinari.

Jam wekerku berdering begitu keras diatas nakas. Jam menunjukkan pukul 6. Itu berarti, aku bangun kesiangan dari perjanjian yang aku berikan ke Shabrina mengantarkannya.

"Astagfirullah, telat lagi" ucapku saat mataku masih sayu

Secepat mungkin, aku bergegas membersihkan diri dan langsung pergi kerumah Shabrina. Berharap saja, Shabrina belum berangkat.

Untungnya, jarak rumahku dengan Shabrina tidak terlihat jauh. Hanya berbeda komplek saja. Nyatanya, aku mengendarai sepeda motorku dibatas kecepatan rata-rata.

"Assalamu'alaikum" ucap salamku sambil mengetuk pintu

"Wa'alaikumsalam" jawab seseorang dari dalam rumah

"Eh.. nak Andra,"

"Iyah tante, Shabrina ada tante ?" Tanyaku pada intinya

"Shabrina barusan berangkat sama ayahnya" ucap Mamah Shabrina

"Oh..gitu,"

"Emang shabrina engga nelfon kamu ?"

"Saya belom cek handphone tante, yaudah dehh. Saya nyusul Shabrina dulu tante"

"Assalamu'alaikum" pamitku

"Wa'alaikumsalam"

***

Aku tengah menunggu Shabrina di depan gerbang sekolah tempat dimana Shabrina ujian SBMPTN. Terlihat ada banyak orang tua yang sedang menunggu anaknya.

Jam menunjukkan pukul 14:30 itu berarti aku harus menunggu setengah jam lagi. Aku membolak-balikan handphoneku, sesaat aku melihat pesan singkat terakhir Shabrina, yang terlihat begitu kesal aku tidak meresponnya.

Bunyi bel tanda berakhirnya ujian sudah selesai. Sebagian peserta berhamburan keluar ruangan. Aku tengah mencari Shabrina dibalik kerumunan banyak orang.

"Shabrinaaaa" panggilku sambil melambaikan kedua tanganku dari kejauahan

Shabrina hanya menatapku datar. Seperti tidak mengenal.

"Shabrinaaaa.. kamu marah yah" ucapku membuntutinya dari belakang

Lagi-lagi omonganku tidak dihiraukan.

"Shabrinaaa.." panggilku sambil memegang lengannya

"Ihh.. lepasin engga" Shabrina memberontak

"Aku mintaa maaf"

Langkah kakinya terus menjauh pergi meninggalkanku.

"Shabrinaaa.. aku minta maaf, aku traktir es krim dehh" kataku hampir putus asa

Langkahnya terhenti. Shabrina berbalik menghampiriku, aku semakin tidak mengerti. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Entah itu, aku ditampar atau apa.

"Tadi kamu ngomong apa dehh ?" Tanya Shabrina

"Aku mintaa maaf" kataku mengulang kata terakhirku

"Bukaaaaaann.."

Aku mengerutkan keningku tidak tau apa yang dimaksud.

"Kamu mauu neraktir apa dehh ?" Tanya Shabrina memberikan kode

"Oh.. aku traktir kamu es krim"

"Aku maafiin.. " jawab Shabrina secepat mungkin

GUBRAK !!!

Aku menepuk jidatku dengan keras. Senjata bomerang bagiku mengatakan itu ke Shabrina.

"Andraaa.. ayoo, katanya kamu mau traktir es krim" ucap Shabrina langsung berada di samping sepeda motorku yang terparkir

"Iyah iyahh.."

***

Shabrina sudah menghabiskan 2 es krim untuk hari ini. Sementara, di kantong plastik masih ada 2 es krim yang tersisa. Kalau bukan aku salah ngomong, mungkin Shabrina engga mungkin menghabiskan banyak es krim.

"Terima kasih yahh" ucap Shabrina menghabiskan cream yang tersisa dibungkus es krim

"Hmmm.. makannya nanti lagi, jangan di habisin semua"

"Kenapa emangnya ? "

"Takut kamu sakit perut aja"

"Biarin, wleee" ucap Shabrina membuang plastik es krim sembarangan

Aku hanya menggelengkan kepala melihat perilaku Shabrina yang satu ini.

"Saa.. gimana tadi ?" Tanyaku dengan nada serius

"Engga gimana gimana"

"Aku nanya seriuss"

"Iyahh, ada yang susah soalnya. aku pesimis aja" ucap Shabrina tertawa renyah

"Dih.. gitu banget. Orang mahh optimis ke"

"Terserah aku lahhh.."

"Eh.. iyah, di Univ Semerang ada pendaftaran maba lewat Hafidz Al-Quran"

"Mau diapaiin"

"Adehh.. itu peluang kamu kan, kamu 3 tahun mondok kan ? Sekarang kamu tunjukkin"

"Emang kenapa kalau aku mondok"

"Yahh.. itu peluang kamu, kali aja kamu masuk lewat jalur itu"

"Hmmp.. berapa juz emangnya ?" Tanya Shabrina kali ini

"Kalau engga salah 8 juz dehh.." kataku mengeluarkan selembar kertas pendaftaran hafidz

"Hmmp.. aku bingung"

"Bingun kenapa ? Coba aja kali.. siapa tau aja kamu lolos"

"Aku tanyaiin orang tua aku dulu yah"

"Yah.. itu sih terserah sama kamu aja. Kalau udah dipikirin matang matang kabarin aja yahh"

***

Setiap malam aku selalu menyempatkan bermain kerumah Shabrina. Bahkan, orang tua Shabrina sudah mengenal dekat denganku.

"Sa, gimana udah diputusin belom ?" Tanyaku menyeruput teh hangat buatan mamah Shabrina

"Ummp.. udah"

"Ikut ?"

Shabrina hanya membalasnya dengan anggukan kepala.

"Mamah sama papah udah kamu kasih tau ?" Tanyaku lagi

"Udah, sebenarnya mamah engga izinin. Tapi, papah yang izinim asal ada temennya"

"Oh.. gitu, yaudah aku temenin aja"

"Coba deh, kamu ngomong sama mamah, papah dulu" pintanya

"Boleh.."

Setelah aku jelasin maksud dari seleksi calon mahasiswa lewat hafidz Al-Quran panjang lebar. Mamah dan papah Shabrina mengamanatkanku untuk menjaganya disana. Kebetulan saja, ada saudara aku yang tinggal di dekat kampus.

***

Entah, sudah berapa kota kereta yang aku dan Shabrina tumpangi berhenti di stasiun. Mungkin, sudah 10 atau 15. Shabrina masih menatap keluar melalui jendela melihat pemandangan diluar.

"Sa.., ada apa ?" Tanyaku khawatir

"Hmmp.. engga apa apa kok" jawabnya membohongiku

"Cerita aja kali, jangan ditutupin juga"

"aku khawatir sama kesehatan mamah. Sebelum pergi, mamah pesen. kalau udah selesai cepet cepet pulang"

"Mamah sakit ?"

"Hmmp.." gumamnya

"Yaudah, kalau kamu lolos lewat jalur ini. Kamu kasih kado buat mamah" saranku

"Yang terpenting, kamu fokus dulu yahh"

***

"Kita tidak pernah tau, usaha keberapa yang akan berhasil. Seperti doa yang mana yang akan terkabul"

Setelah melalui proses yang panjang selama 3 hari. Akhirnya, Shabrina dinyatakan lolos melalui seleksi ini.Semula raut wajahnya murung. Sekarang begitu bahagia mendengarkan kabar ini.

"Cieee.. yang lolos" ledekku sambil menyikut lengannya

"Apaan sihh.. biasa aja kali" ucap Shabrina tersipu malu

"bisa kali traktir aku"

"Haha.. kebalik kali" ucap Shabrina membela

"Kan kamu lagi bahagia" kataku dengan sebal

"Iyah, nanti aku traktir. Aku beliin permen karet okee" ledekknya dengan tawa jahat

"Shabrinaaa...."

***

Setelah tiba, di stasiun kota dengan membawa sedikit buah tangan dari Semarang. Sengaja, aku dan Shabrina naik taksi.

Hampir dua jam lamanya perjalanan pulang. Tiba didepan rumah Shabrina. Betapa terkejutnya melihat banyak orang yang datang kerumahnya. Apa yang sebenarnya terjadi ?

"Saa.. ko banyak orang yah ?"tanyaku menaruh kardus berisikan oleh oleh ditanah

Shabrina mengangkat bahunya engga mengtahui.

Datang salah seorang tetangga Shabrina menghampiri aku dan Shabrina yang baru sampai.

"Sa, yang sabar yah ?" Ucap perempuan tersebut memeluk Shabrina erat

"Emangnya kenapa yah bu ?" Tanya Shabrina melepaskan pelukan

"Kamu harus kuat intinya" katanya kembali

Shabrina langsung bergegas masuk kedalam rumah. Betapa terkejutnya, melihat seseorang terbujur kaku dibawah dengan ditutupi sehelai kain.

Shabrina membuka helaian kain tersebut dengan penasaran.

"Mamah.." ucap Shabrina sambil membuka kain tersebut

Shabrina tidak kuasa melihat orang yang di sayangi secepat itu pergi meninggalkannya. Padahal, Shabrina akan memberikan kejutan kecil ia diterima di Perguruan Tinggi Negeri.

Tubuhnya tidak kuat menahan beban. Hingga akhirnya, Shabrina terjatuh disamping mamahnya yang sudah tidak bernyawa.

***

Tepat tiga puluh hari kepergian mamah. Banyak perubahan yang terlihat dari Shabrina. Shabrina tidak seceria dulu, tidak ada senyuman yang mengembang di pipinya. Tidak ada tawa yang keluar begitu saja darinya.

"kemanakah Shabrina yang dulu ?"

Setiap hari, Shabrina selalu menyempatkan hadir ke pantai. sekedar menenangkan pikirannya. kalau boleh tau, sampai detik ini. Shabrina belum bisa merelakan kepergian mamah.

"Hmmp.. boleh aku duduk disini" tanyaku melihat Shabrina tengah duduk sendirian menatap senja

Shabrina hanya menoleh kearahku. Tidak ada respon, kemudian dia alihkan kembali pandangannya menatap senja dengan tatapan kosong.

"Sudahlah.. kamu engga boleh sedih begitu. Mamah udah tenang ko disana. Kalau kamu sedih, mamah pasti sedih lihat kamu" kataku mencoba memberikan semangat

"kenapa harus mamah yang pergi ?"

"SsSst.. kamu engga boleh ngomong kaya gitu, ini semua udah rencana Allah"

"Aku engga suka sama rencana-Nya" ucap Shabrina kesal

"Hei.. jangan ngomong kaya gitu, bukannya Allah sudah menjabah doa kamu ? Buktinya, kamu diterima kan di PTN ?" Kataku

"Tapi, kenapa Allah manggil mamah ?" Tanya Shabrina dengan linangan air mata

"Hmmp.. sekarang aku tanya sama kamu, Apa arti Nama Shabrina Qonitah ?" Tanyaku mengibaratkan.

"Aku engga tau, itu yang kasih nama pemberian papah" jawab Shabrina

"Hmmp.. Shabrina Qonitah itu artinya Perempuan yang Taat, dari nama kamu aja bagus. Kenapa kamu engga taat dan selalu menyalahkan Allah yang udah manggil mamah ?"

"Aku taat jalanin perintahnya ndra, "

"Yah aku tau hal itu, tapi kamu juga harus paham kenapa Allah manggil mamah ?" Jawabku

"Sebab, Allah mau lihat. Apa kamu bisa tersenyum walaupun cobaan yang Allah berikan ke kamu" Jawabku menekuk kakiku

"Sa, kita tidak pernah tau apa yang bakal terjadi esok. Semuanya udah diatur sedemikian rupa Sa" Tambahku

Shabrina menatapku lekat mencerna setiap perkataan yang barusan aku katakan.

Senja sudah terlelap begitu saja, menyisahkan sebagian sinar yang masih menerangi. Perlahan, Bintang-bintang dan Bulan muncul menerangi malam dengan penuh kebahagian dan harapan.

"Sa, lihat deh. Kamu tau itu Bintang apa ?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan menunjuk bintang di angkasa

Shabrina mengangkat kedua bahunya.

"Itu namanya Bintang Altair, kamu tau engga ? selalu ada harapan dan impian pada Bintang Altair, aku suka sama bintang itu."

"Ko kamu tau sihh, itu Bintang Altair ?"

"Aku sering baca buku kali" jawabku

"Kamu mau tau engga ? Kenapa aku suka sama senja ?"

"Yahh.. mana aku tau lah Ndra"

"Makanya kamu harus tau dong, aku suka Senja, karena aku mau lihat Bintang Altair setelah senja"

"Kenapa kamu engga suka sama Hujan aja ?"

"Aku engga suka sedih. Hujan selalu bawa cerita sedih, walaupun aku tau setelah hujan pasti ada pelangi" kataku

"Hmmmp.."

Aku dan Shabrina kembali menatap langit yang terlihat ramai dengan kumparan bintang-bintang.

"Andra, Terima kasih yahh" ucap Shabrina tersenyum

"Hmmp.. iyah, kamu jangan nangis lagi yah. Masih ada aku disini" kataku menyeka air matanya sambil memasang muka lucu

"Hehe.. iyah, kamu jangan masang muka kaya gitu" ucap Shabrina tertawa

"Kenapa ?"

"Gantengnya hilang haha"  ucapnya tertawa ria

Akhirnya, Shabrina bisa tertawa kembali setelah kepergian orang yang disayanginya. Aku pun ikut tersenyun melihat kebahagian yang kemarin hilang didalam diri Shabrina.

"Andra, besok anterin aku ke makam mamah yah"

"Iyah , kamu janji dulu mau engga ?" Kataku

"Janji apa ?"

"janji, kalau kamu mau ke makam mamah jangan nangis yah, Gimana ?" Tanyaku mengulurkan jari kelingkingku

"Gampang itu mah, asal jangan neraktir kamu beliin es krim aja " canda Shabrina lagi lagi membuatku tertawa

"Selalu ada, Harapan dan Impian Setelah Senja terlelap manja pada Semesta - Prayoga D Wibowo"

-Tamat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar