Minggu, 04 Desember 2016

Cerpen

               Prayoga D Wibowo

                          2Love 
 
    "Lelaki tidak akan pernah bisa adil"

Hallo everybody 😆saya kembali lagi dengan tulisan baru.Ralat.Lebih tepatnya tulisan lama yang belum sempat di upload hehe.

By the way tulisan ini udah di request sama teman-teman supaya di upload di blogg ataupun di Wattpad. Hmmp, kalau untuk di Wattpad mohon maaf, engga berani di publish takut di copy.

Oh..iyah, Readers. Tulisan kali ini terinspirasi dari sebuah lagu... entah kenapa lagunya punya makna tersendiri. Kapan lagi yah kan dapat ide dari lagu. Daripada mubajir hilang begitu aja idenya. Makanya saya jadiin cerpen judulnya "2Love - Lelaki tidak akan pernah bisa adil"

Cerpen ini bukan kaya yang ada disinetron ko. Ada yang unik dari cerpen ini. Mau tau jalan ceritanya ? Yukk baca baik-baik habis itu kasih vote + comments yah. Satu vote + comments sangat berharga untuk tulisan author selanjutnya biar semangat. Ceritanya hehe

Salam

Author

***

Di Restoran

Suatu sore, di salah satu restoran ternama di kota ini. Dengan letak yang tidak jauh dari pantai menjadi tempat destinasi favorit Azhar dan Natalie yang sering mereka kunjungi.

Tak jarang setiap akhir pekan, setelah pulang sekolah Azhar selalu mengajak Natalie pergi mencari kedai ataupun kafe untuk menghilangkan rasa lelahnya.

Namun, saat Azhar melanjutkan pendidikannya di salah satu Universitas Swasta di kota ini. Sementara, Natalie tidak bisa melanjutkan pendidikannya lantaran keterbatasan biaya.hingga akhirnya, Natalie memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta.

Sebab itulah, mereka jarang bertemu ataupun sekedar ngobrol bertatap muka lantaran kesibukan masing-masing.

Tidak dengan hari ini, Natalie sengaja meluangkan waktunya untuk bertemu Azhar di tempat ini.
Restoran yang terkenal akan menu khasnya dan tempat yang menarik dengan berbagai hiasan yang  terpajang di dinding.

Restoran ini juga, memiliki pendopo di luar ruangan. Pemilik restoran ini sengaja meletakkannya di luar, dengan alasan supaya pelanggan bisa menikmati suasana pantai dan berbaur dengan alam. Ataupun sekedar menikmati senja yang terlelap manja dari tempat ini.

Azhar sengaja memilih tempat di pendopo sambil menikmati sunset ditempat ini. Dengan ditemani menu favorit mereka. Azhar hafal diluar kepala dengan menu favorit yang selalu dipesan Natalie. Begitupun dengan Natalie hafal menu kesukaan Azhar.

"Nat, sebelumnya terima kasih udah luangin waktunya meetup" ucap Azhar mengawali obrolan yang begitu kaku sebelumnya.

Natalie memberikan senyuman ciri khasnya. Cantik. Sangat cantik senyuman yang mengembang dari wajah Natalie "Hmmp.. Engga usah terima kasih juga kali. Lagi pula, aku emang mau hilangin bosan seharian penuh bekerja" jawab Natalie memijit dahinya.

"Serius ?"

Natalie mengangguk sambil memberikan senyuman tipis yang tidak pernah terlepas dari wajahnya.

"Oh..iyah, katanya mau ada yang diomongin ?" tanya Natalie kali ini

Raut wajah Azhar seketika berubah menjadi bingung. Ada rasa takut dari lubuk hatinya mengungkapkan perasaannya.

Takut kalau Azhar tidak diterima Natalie.
Takut kalau Azhar menyesal tidak bisa mengungkapkan isi hatinya.
Takut kalau dia mengungkapkan, Natalie akan pergi menjauh darinya.
Azhar takut hal itu terjadi.

Ah, apa setiap hal yang diikutsertakan hati akan selalu begini  ? Apakah jatuh hati selalu membuat orang -orang seperti ini ? Takut melakukan kesalahan.

Tiba tiba, datang weiters membawa menu pesanan yang mereka pesan. Pesan itu tiba di atas mejanya. Kali ini, Dewi Fortuna berpihak pada Azhar. Tidak dengan esok ataupun lusa.

"Permisi kakak, menu pesanannya sudah tersedia" sapa weiters restoran ini yang terlihat ramah sambil menaruh pesanan diatas meja.

"Terima kasih yah" ucap Natalie pada weiters restoran

Setelah itu, weiters itu kembali bekerja. Azhar menatap punggung weiters kemudian menghilang dibalik pintu restoran.

"Zaa..zaa .." ucap Natalie mencoba  membuyarkan lamunan Azhar nampak begitu serius menatap Weiters restoran ini.

"Eh.. Ada apa Nat ?" tanya Azhar sadar dari lamunanya.

"Ada gempa tadi" gerutu Natalie kesal. Tidak diperhatikan Azhar

"Seriusan ada Gempa ?" Azhar kembali bertanya

"Ihh... Nyebelin deh, aku bercanda tau. Kamu serius liatin weiters" Ucap Natalie sambil melipat tangannya diatas dada.

"Hmmm.. Kamu cemburu yah ?" Tanya Azhar sambil memberikan cengiran ngeledek.

"Ih.. Nyebelin tau ga ?" Jawab Natalie memalingkan wajahnya ke arah pantai.

"Cup..cup..cup, jangan ngambek dong. Susah cari tukang balonnya" ucap Azhar tertawa puas.

"BODO AMAT"

"aku bercanda Nat. Jangan Baper dong. Nanti aku jadi laper" ucap Azhar menggoda.

"Kalau kamu laper, yaudah makan sono" ucap Natalie nampak begitu kesal.

"Oke, aku makan dulu yah"

Tanpa ada perasaan bersalahnya. Azhar melahap habis pesanan yang ia pesan tadi. Natalie hanya menatap Azhar heran dengan tingkah lakunya. Seakan-akan Natalie tidak dianggap.Azhar melahap habis pesanannya.

"Kamu mau ?" Tanya Azhar menawarkan kopi kesukaannya.

Natalie menggeleng.

"Oh..iyah, aku lupa. Kamu kan engga suka kopi yah" ucap Azhar menepuk jidatnya.

Dalam hatinya Natalie ingin sekali menjawab "Dasar, pikun"

"Kenapa ?" tanya Azhar begitu bingung dengan tatapan penuh selidik dari Natalie

"Kenapa kamu belom jawab pertanyaan aku ?" ucap Natalie

"Pertanyaan yang mana sih. Nat ?" Azhar mencoba mengingat kembali.

Natalie menghela nafas panjang "katanya, ada yang mau di omongin ?" Natalie mencoba mengulang pertanyaannya belum sempat dijawab

"Oh.. Bilang dong, engga ada apa-apa" jawab Azhar dengan diiringi tawa renyah.

"Bilang ke dari tadi. Jangan bikin orang kesel aja" gerutu Natalie

"Iyah deh, maaf"

Natalie menyeruput minuman yang ia pesan. Sementara, makananya belum Natalie sentuh sama sekali karena ulah Azhar yang membuat hatinya menjadi jengkel.

"Nat, makanannya kenapa belom dimakan ?" tanya Azhar menyeruput kopinya yang terakhir

Natalie menggeleng "engga nafsu" jawabnya sedikit ketus.

"Lho ? Tumben banget. Padahal, itu makanan favorit kamu" pikir Azhar

"Aku udah kenyang"

"Kenyang ? Kapan kamu udah makan deh ?" tanya Azhar mengerutkan dahinya. Matanya membulat.

"Aku kenyang makan ati liat kamu nyebelin"

Azhar tertawa puas. Suaranya menggema di dalam pendopo.

"Kenapa ketawa ? Engga ada yang lucu.Za" ucap Natalie dengan nada meninggi

"Siapa bilang ada lucu. Oke deh, aku minta maaf" ucap Azhar memohon

"Engga mau,"

"Kamu engga mau maafin aku ?" tanya Azhar meyakinkan.

"Engga mau. Sebelum, kamu kasih tau alasan yang sebenarnya" jawab Natalie.

"Itu udah jujur tau"

"Bohong, kita udah bersahabat hampir 4 tahun yah.Za"

"Jadi, aku tau gerak-gerik tingkah laku kamu kalau bohong" ucap Natalie memberikan argumen

"Hahaha, Oke oke aku jujur yah.." Ucap Azhar sedikit serius obrolannya kali ini.

Natalie masih menatap Azhar lekat. Natalie menggeser tempat duduknya sedikit, tangannya ia tumpangkan diatas dagu. Natalie membuat dirinya terlihat lebih rileks.

"Hmmp.. Sebelum aku jujur sama kamu, kita buat perjanjian dulu" ucap Azhar

"Perjanjian ? Harus banget yah buat perjanjian ?" tanya Natalie mengerutkan keningnya.

"Yaudah, kalau kamu engga mau, aku engga kasih tau" jawab Azhar sedikit mengancam.

"Eh.. Iyah deh, aku setu-"

"Nah gitu dong, perjanjian pertama, kamu engga boleh marah. Perjanjian kedua, kalau udah aku kasih tau. Kamu jangan menjauh. Gimana ?" tanya Azhar mengangkat kedua alisnya.

Mata Natalie membulat, ada kerutan di dahinya "perjanjian macam apa ini Za ?" tanya Natalie

"Yah, maunya ? Gimana setuju ga ?" Azhar mencoba meyakinkan.

"Oke deh, aku setuju" jawab Natalie dengan nada sedikit terpaksa.

"Oke,"

Azhar menggeser posisi duduknya mencoba supaya lebih rileks. Kedua tangannya ia rapatkan berusaha agar tidak terlihat gugup.

Jauh sebelum ini, Azhar berusaha mencoba meyakinkan dirinya. Mengajak dirinya berbicara dan menenangkannya. Pantaskah ia menyembunyikan perasaannya yang ia simpan rapih dibalik statusnya.

Apakah perasaan ini salah ? Adakah cinta yang tumbuh atas sebuah kesalahan ? Atau, memang keadaan yang membuat semua ini menjadi salah ? Lalu, kenapa ada cinta seperti ini ?

Bahkan, Azhar tidak pernah meminta perasaan ini tumbuh. Tidak pernah berdoa pada Tuhan agar perasaan ini tumbuh padanya. Dia datang begitu saja, mengalir bersama kesaharian yang mereka lalui.

Pada akhirnya, Azhar paham. Azhar telah jatuh cinta pada Natalie. Dan itu faktanya !.

"Hm..mm..mp.., Natalie," panggil Azhar lirih

"Iyah"

"A..ku..su..ka. Ka..Mu.. " ucap Azhar dengan suara terbata

Natalie diam seketika. Matanya membulat, wajahnya berubah menjadi merah.

"Aku jujur, aku ingin sekali mengungkapkan hal ini saat kita masih duduk dibangku SMA. tapi, aku mengurungkan niatku ini. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Apa aku pantas menjadi bagian yang terpenting dalam hidup kamu"

"Entah, aku tidak tau harus berbuat apa lagi. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk mengungkapkannya. Aku tidak peduli dengan jawaban ataupun anggapanmu seperti apa mengenai perasaan aku. Aku ingin mengatakannya saja. Sudah cu-" ucap Azhar menjelaskan panjang lebar sebelum dipotong oleh Natalie

"Zarr.. Sudah, aku paham maksudmu itu. Kamu tidak salah dalam hal ini. Kamu benar" jawab Natalie

Azhar terdiam.

"Aku juga ingin jujur sama kamu, aku juga suka sama kamu. Tapi, kita tidak bisa bersama. Sebab, keyakinan kita berbeda. Kamu tau hal itu bukan ? Bukan aku tidak menerima kamu. Aku takut, kalau nantinya kita berhubungan diam-diam jauh lebih buruk. Aku takut tidak mendapatkan restu dari orang tuaku dan orang tuamu. Aku tidak ingin hal itu terjadi nantinya" jelas Natalie

Azhar masih terdiam mendengarkan penjelasan Natalie.

"Za, aku tau kamu kecewa dalam hal ini. Aku hanya ingin, kamu mengerti hal ini"

"Apakah kamu masih ingat ? Saat kita membahas sebuah hubungan dalam percintaan ?" tanya Natalie mencoba mengingatkan moment itu kembali.

Azhar menggeleng.

"Kalau kita mencintai seseorang, kita juga harus belajar meluluhkan hati kedua orangtuanya" ucap Natalie

"Kau ingat hal itu ?"

Azhar masih terdiam.

"Maafin aku za, aku engga bisa nerima kamu. Maaf" ucap Natalie menggenggam kedua tangan Azhar

Azhar menatap maksud dari Natalie menggenggam tangannya. Sialnya, tangan lembut itu berhasil membuatnya tenang jauh dari sebelumnya.

"Aku mau kita jadi sahabat, kita bisa berbagai cerita tentang apapun. Aku pasti mendengarkannya. Apa kamu bisa menerimanya. Za ?" tanya Natalie

Azhar menganggup. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Azhar.

Kemudian, Natalie memeluk Azhar dengan begitu erat. Azhar membalasnya dengan pelukan yang erat. Pikirannya masih kosong setelah apa yang tadi ia dengar dari penjelasan Natalie.

Azhar mencoba mengingat perkataan Natalie tadi. Natalie benar.

"Kalau kita mencintai seseorang, kita juga harus belajar meluluhkan hati kedua orangtuanya"

***

Bukan waktu yang mudah untuk Azhar bisa bangkit kembali dari keterpurukannya. Bahkan, setelah kejadian waktu itu. Azhar sudah berjanji pada dirinya.

Cepat atau lambat ia akan melupakan perempuan itu dan kejadian itu. Membunuh perasaan itu dalam hatinya tanpa ada yang tersisa sedikitpun.

Meskipun hal itu jauh lebih sulit ia lakukan. Nyatanya, setiap akhir pekan. Azhar selalu bertemu dengan Natalie. Selalu pergi berdua bersama. Selalu berbagi cerita tentang apapun yang menjadi topik hangat.

Entah sampai kapan Azhar akan melakukan hal ini. Sampai dirinya paham ada orang lain yang patut ia kejar dan ia perjuangkan diluar sana. Dibandingkan melakukan seperti ini. Jika boleh diibaratkan, Sama saja Azhar berjalan diatas duri. Berjalan diatas pesakitan dirinya.

***

Enam Bulan Kemudian ..

Waktu begitu cepat berlalu begitu saja. Banyak hal yang bisa Azhar ambil dari sebelumnya. Bahwa, ia harus mampu menerima kenyataan. Bahwa, ia harus bisa berdamai dengan dirinya dan juga masa lalunya.

Azhar menata kembali harinya, merapihkan puing-puing kehancurannya. Azhar bangun kembali dengan sisa tenaganya. Hingga ia mampu melupakan semuanya.

Hari silih berganti begitu saja, semua terasa sama. Tidak ada yang menarik setiap harinya. Tidak dengan hari ini, Azhar telah menemukan seseorang yang membuatnya mampu bangkit kembali. Mampu membuatnya berdiri dan mengajaknya untuk membangun bersama masa depan.

Bukan. Ini bukan tentang perempuan yang tempo hari yang membuat hatinya patah. Membuat hari harinya tidak bersemangat.

Ini bukan tentang dia..

Ini tentang perempuan yang mampu membuatnya jauh lebih berarti. Perempuan yang mau mengajaknya membangun masa depan bersama. Perempuan yang mampu mengoyakan isi hatinya. Meskipun, Azhar baru pertama kali mengenalnya.

Ini tentang Sarah, perempuan yang membuatnya mampu bangkit kembali. Perkenalan mereka berawal dari sebuah acara di fakultas mereka. Kebetulan Azhar dan Sarah berada pada devisi yang sama. Setelah, acara dari fakultas mereka sudah selesai. Komunikasi diantara mereka berlanjut hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan.

Secepat itukah Azhar mencari pengganti ? Secepat itukah Azhar mampu melupakan (Natalie) ? Atau, Jangan jangan Azhar hanya ingin mencari pelampiasan atas segala kesalahannya tempo dulu ? Entahlah ~

***

Dikantin Kampus.

Azhar dan Sarah duduk saling berhadapan menikmati waktu istirahatnya dengan menyantap roti bakar dan juice. Mata mereka saling bertemu. Mereka saling diam satu sama lain. Entah, topik apa yang akan diangkat menemani waktu istirahatnya.

Padahal, jika Azhar bersama Natalie. Banyak topik yang mereka bahas bersama. Banyak tingkah konyol yang mereka ciptakan berdua hingga mereka tertawa lepas. Tanpa, perlu ada merasakan takut kehilangan. Tapi, tidak dengan sekarang. Dan Azhar merasakan hal itu terjadi saat ia menjalin hubungan dengan Sarah.

"Sarah, boleh aku ngomong sesuatu ?" tanya Azhar dengan malu-malu

Sarah mengangguk sambil memberikan senyuman tipis.

"Hmmp.. Besok kamu ada acara ?"

Dahi sarah mengkerut mengingat agenda pribadinya untuk esok. "Engga ada deh, emangnya ada apa Za ?" tanya Sarah

"Bagus deh, aku mau ngajak kamu meetup bareng sama sahabat aku. Dia orangnya asik deh, kamu bisa ?"

"Sahabat ? Siapa namanya ?"

"Ummp.. Namanya, Natalie" jawab Azhar dengan penuh semangat saat menyebut nama itu.

"Kamu punya sahabat cewe ?" Sarah kembali bertanya

"Iyah, emang salah yah"

Sarah menggeleng "engga ada yang salah sih. Bukankah semua orang berhak berteman/bersahabat dengan siapa saja ?"

"Right.. Kamu belom jawab pertanyaan aku" Ucap Azhar memasang wajah cemburut

"Hehe.. Aku bisa ko. Asal jemput aku aja. Jemputnya pakai mobil fortuner yah" ucap Sarah diiringi tawa renyah.

Wajah Azhar berubah menjadi lebih jelek "terserah kamu lah, apa lah dayaku" ucap Azhar pasrah

"Haha.. Aku bercanda sayang. Jangan gitu dong. Nanti, gantengnya hilang" ucap Sarah sambil mengacak rambut Azhar yang tersisir rapih.

"Ih.. Susah benerin lagi rambutnya" gerutu Azhar merapihkan rambutnya dengan sisir yang selalu Azhar bawa setiap hari.

"Azhar, kamu kan cowo. Tinggal dirapihin pake tangan kan bisa"

"Tangan itu gunanya untuk makan,menulis,bales pesan dll, bukan buat nyisir" Ucap Azhar

"Oh..iyah yah,"

Azhar dan Sarah tertawa lepas berdua hingga terdengar dengan mahasiswa lain yang sedang beristirahat.

Satu hal yang belum Sarah ketahui lebih jauh. Bukan hanya tentang persahabatan antara Azhar dengan Natalie. Ada perasaan lain yang mengiringi dari persahabatan mereka. Perasaan Azhar yang ia simpan rapih dilubuk hatinya. Walaupun, perasaan itu tidak terbalaskan. Azhar tidak bisa membunuh ataupun melenyapkannya dari pikirannya.

Pada akhirnya, Azhar paham akan hal ini. Azhar telah jatuh hati pada dua wanita yang berbeda sekaligus.

***

Di Restoran.

Azhar dan Sarah tengah duduk di pendopo restoran. Mereka tengah menunggu kedatangan Natalie. Sengaja, Azhar memilih tempat duduk di pendopo dibandingkan di dalam ruangan. Azhar suka menikmati suasana alam, ditambah dengan cahaya rembulan yang menerangi malam ini. Cahayanya memantul di laut memberikan kesan tersendiri. Dan Azhar suka akan hal itu.

Sama seperti biasa, tidak ada obrolan ringan yang menemani Azhar dan Sarah saat menunggu Natalie. Mereka terdiam sama-sama  sibuk dengan pikiran masing-masing.

Seperti itukah Azhar menjalin hubungan ?
Seperti itukah, cara Azhar mencintai  Sarah sebagai kekasihnya ?
Atau mungkin, seperti itukah, cara Azhar bisa melupakan semua tentang Natalie ?

Sarah mulai sedikit resah. Azhar melirik jam tangannya yang masih setia melingkar ditangan kirinya. Matanya, masih mencari sosok perempuan yang ia cari.

Sejurus kemudian, Azhar mengambil handphone dari saku celananya. Azhar menatap layar handphone itu lamat-lamat. Ia urungkan niatnya untuk memberikan kabar ke Natalie. Benda mungil itu kembali ia masukan kedalam saku celananya.

"Azhar, masih lama kah kita menunggu seperti ini ?" tanya Sarah yang mulai terlihat resah.

Azhar terdiam.

"Hei.." sapa perempuan datang dari dalam ruangan restoran.

Azhar dan Sarah mencari sumber suara yang menyapanya dari dalam ruangan. Suara itu, sepertinya Azhar  mengenalnya. Suara yang tidak asing ditelinga Azhar. Ternyata, perempuan yang menyapa Azhar dan Sarah.

Natalie.

Perempuan cantik dengan baju pantsuit dengan tas branded dilengan kirinya, high heels berukuran 15 sentimeter membuatnya begitu anggun. Rambutnya ia biarkan terurai begitu saja dengan kacamata menempel diwajahnya. Tidak ketinggalan dengan polesan make up yang terlihat diwajah cantiknya. Sangat cantik.

"Maaf, tadi atasanku tiba tiba saja mengadakan meeting" ucapnya memberikan alasan diatur nafasnya baik baik.

"Engga apa apa ko," jawab Azhar

"Oh..iyah, aku Natalie. Teman SMA Azhar" ucap Natalie memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya

"Sarah. Pacarnya Azhar" jawab Sarah membalas uluran tangan itu.

"Wah, kalian sudah berhubungan yah ? Aku tidak tau soalnya. Sarah hati hati aja sama Azhar, dia orangnya suka nyeselin bin nyebelin" kata Natalie sambil melirik Azhar terdiam tersipu malu

Sarah tersenyum "hehe.. Aku tau, cara mengatasinya ko. Tenang aja Na.."

"Natalie.." sambung Natalie

"Ehh.. Engga baik jelek jelekin orang. Ngobrol nya sambil duduk aja yah, engga asik kalau sambil berdiri" ucap Azhar mengalihkan pembicaran

Hampir setengah jam lamanya Natalie dan Sarah bertukar cerita. Seputar tentang lingkungan perempuan ataupun fashion yang saat ini lagi trend. Azhar menatap dua wanita itu dengan bingung.

Mereka begitu berbeda sifat dan tampilannya. Natalie dengan tampilannya yang begitu modis mengikuti perkembangan zaman. Sementara, Sarah dengan tampilan yang sederhana mencerminkan sifat dia sebagai mahasiswa.

Ada satu pertanyaan yang menggantung dalam pikiran Azhar. Satu pertanyaan yang saat ini Azhar cari jawabannya. Namun, ia tidak menemukan jawaban itu.

Apakah Azhar mencintai dua wanita itu ? Natalie ? Dan Sarah ?

Sejurus kemudian, Sarah membuyarkan lamunan Azhar. Azhar begitu terkejut.

"Sayang, ayo kita pulang. Udah malem nih" pinta Sarah mengguncangkan badan Azhar

"Eh.. Emangnya kamu berdua udah selesai ceritanya ?" tanya Azhar terkejut.

Sarah dan Natalie bersamaan mengangguk.

"Oke deh, aku anter kamu pulang"

"Tunggu, Natalie mau pulang bareng sama kita ?" Sarah mencoba menawarkan tumpangan.

Azhar tersenyum dengan pertanyaan Sarah.

Natalie menggeleng "engga usah, aku naik taksi aja. Takut ganggu kalian berdua hehe" ucap Natalie diiringi tawa renyah

"Ayo udah bareng aja, kamu engga ganggu ko. Lagi pula, taksi jam segini belum tentu ada bukan ?" Sarah berusaha mencoba membujuk Natalie

Natalie terdiam sesaat. Perasaannya tidak enak jika ia harus menumpang dengan Azhar dan Sarah. Disisi lain, jam sudah menunjukkan pukul 10:30 bukan tidak mungkin ada taksi lewat.

"Ayoo.. Nat. Bareng kita aja" ajak Azhar berusaha menawarkan tumpangan

Akhirnya, Natalie mengangguk menerima ajakkan Sarah. Suasana dalam mobil Azhar jauh lebih  mencair dengan kehadiran Natalie ditengah tengah kemesraan Azhar dengan Sarah.

Banyak cerita tingkah konyol yang Azhar lakukan masa SMA. Natalie menceritakan semuanya kepada Sarah. Azhar hanya cemburut sambil mengendarai mobil melihat kebahagian mereka berdua.

Ada satu hal yang belum Natalie ceritakan ke Sarah. Satu hal yang Natalie dan Azhar sembunyikan nya bersamaan. Bahwa mereka berdua saling ada perasaan yang sama. Walaupun, perasaan itu terhalang oleh perbedaan keyakinan.

***

Di Rooftop Rumah.

Selalu ada cerita dan tawa kebahagian disetiap pertemuan Azhar dan Natalie. Selain di restoran yang menjadi tempat favorit mereka berdua. Di tempat ini pula, mereka sering mengunjungi. Terlebih saat mereka bolos sekolah. Di rooftop rumah Azhar lah memberikan pemandangan lebih dari sini.

Azhar dan Natalie duduk berdua. Tidak ada batasan antara duduk mereka. Walaupun, Natalie tau. Azhar sudah dimiliki orang lain. Pandangannya masih menatap bangunan bertingkat menjulang ke langit dari tempat ini.

Pertemuan kali ini, begitu kaku dari biasanya. Azhar dan Natalie masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dan Azhar benci akan hal ini.

"Nat, Maafin aku" ucap Azhar membuka obrolan

Natalie menatap Azhar bingung "maaf ? Untuk apa ?" Jawab Natalie begitu bingung dengan pertanyaan Azhar.

"Aku sudah memiliki kekasih"

Natalie menghela napas panjang "tidak usah minta maaf. Za"

"Aku bahagia mendengar hal itu, Kamu engga usah minta maaf ke aku" pinta Natalie

"Hmmp.. Apa kamu masih mencintaiku ?" tanya Azhar begitu mengejutkan Natalie

Natalie terdiam untuk sementara waktu. Pertanyaan Azhar membuatnya terkejut. Natalie mencoba mencari jawaban dari atas pertanyaan itu.

"Apakah kamu masih mencintaiku ?"

Seharusnya, Natalie dengan mudah bisa menjawab pertanyaan itu. Tanpa harus mencari jawaban yang lain. Seharusnya ~

"Nat, you hear me ?" ucap Azhar dengan suara lirih

"Ummp.. Apakah ada opsi lain untuk menjawab pertanyaan ini ?" pikir Natalie

Azhar menggeleng "No Option, I want hear your answer. Natalie"

Natalie menarik nafas dalam dalam. "Dulu, aku mencintaimu. Tapi tidak dengan saat ini. Aku sudah mengikhlaskan kamu dengan yang lain. Za" jawab Natalie dengan mudahnya.

"What do you mean ?" tanya Azhar kali ini.

"Aku tidak bisa menjelaskan alasanku. Tapi, ada yang ingin aku sampaikan ke kamu. Za"

"Jaga perasaan Sarah baik-baik. Jangan sakitin hatinya. Jika kamu masih mencintaiku, anggap saja Sarah itu aku. Sarah jauh lebih baik dan seimbang dengan kamu za. Dia satu keyakinan sama kamu" pinta Natalie

Azhar masih terdiam, mendengar penjelasan mengejutkan dari bibir Natalie.

"I see, kamu masih mencintaiku bukan ?" tanya Azhar untuk memastikan

"Nope"

"You lie"

"Terserah kamu, aku sudah tidak lagi mencintaimu. Please, jangan ungkit hal ini lagi" pinta Natalie untuk terakhir kalinya.

Tiba-tiba saja, air mata Natalie jatuh membasahi pipinya. Azhar melihat butir butir air membasahi pipinya

"Maafin aku, Natalie." ucap Azhar menyeka air matanya. Sejurus, kemudia ia kecup kening Natalie dan dipeluknya tubuh Natalie.

Dan untuk pertama kalinya, Azhar dan Natalie menikmati sunset di rooftop ini dengan kesedihan. Sunset kali ini tidak sesempurna sunset sebelumnya.

***

Sudah tiga bulan lamanya Azhar dan Sarah menajlin hubungan. Banyak hal yang mereka ukir bersama. Tetapi, selama itu pula Sarah merasakan keanehan yang dia rasakan melihat tingkah laku Azhar. Azhar selalu tidak fokus saat Sarah bercerita. Bahkan, pandangannya kosong entah kemana.

Awalnya, Sarah merasa Azhar kelelahan. Setelah Sarah mencermati ulang, Azhar berubah akan satu hal yang tidak dirinya ketahui lebih dalam. Sarah merasakan seperti halnya, Azhar mencintai wanita lain.

Salahkah jika Sarah khawatir melihat tingkah laku Azhar yang berubah ?. Sepertinya tidak. Sarah berhak mencari tau apa yang saat ini terjadi pada kekasihnya. Hanya ingin memastikan keadaannya. Salahkah hal itu ia lakukan ?.

Walaupun, dirinya mendapatkan raganya Azhar sepenuhnya. Tetapi, tidak dengan hatinya.

Sarah tidak mendapatkan ketulusan Azhar mencintai dirinya. Sama sekali tidak ia rasakan sebelumnya.

"Za, akhir-akhir ini aku sering liat kamu diam. Ada masalah kah ?" tanya Sarah

Azhar menggeleng.

"Kamu ngomong aja"

Azhar akhirnya buka mulut juga "aku engga ada masalah. Cuman butuh istirahat aja" jawabnya

"Oh.. Oke deh, kamu pulang aja deh. Aku anterin yah" tawar Sarah

Azhar menggeleng "engga usah, aku bisa ko"

Dari ucapannya tadi, Sarah bisa menebak ada sesuatu yang disembunyikan oleh Azhar. Sarah tau hal itu.

Sarah memberikan senyuman tipis untuk mengakhiri obrolannya. Mungkin, untuk saat ini Sarah percaya dengan sikapnya Azhar. Mungkin Azhar hanya butuh istirahat.

***

Di Rooftop Rumah.

Azhar menatap bangunan menjulang ke langit. Bangunan bertingkat terlihat dengan jelas dari tempat ini. Sementara, Natalie tengah sibuk dengan membaca novel yang baru ia beli.

"Nat, aku ingin cerita ke kamu" ucap Azhar membuka obrolan

Natalie tengah sibuk membaca novel tanpa menghiraukan perkataan Azhar.

"Natalie. Kamu denger aku engga sih ?" tanya Azhar dengan nada meninggi

Natalie menutup novelnya. Sejurus kemudian Natalie menatap Azhar lekat "Aku denger ko, kamu cerita aja" jawab Natalie

"Ummp.. Aku bingung, sama perasaanku saat ini" ucap Azhar kali ini.

"Mean ?"

"Aku engga bisa terus terusan bohongin perasaanku. Aku engga bisa terus-terusan bohongin Sarah. Aku engga bisa jadi pacar"

"Kenapa ? Apa ada orang ketiga ?"

Azhar menggeleng. Azhar bukan tipe playboy kampungan yang selalu gonta-ganti pacar. Tapi, Azhar bingung dengan perasaannya saat ini. Disatu sisi, Azhar tidak bisa mencintai Sarah. Disisi lain, Azhar tidak mau menyakiti Sarah.

"Menurut kamu, aku harus gimana ?"

Natalie menarik napas dalam-dalam "coba deh, kamu tanya dulu sama diriku kamu. Tanya baik-baik, apa ada sarah dalam hidup kamu ?" pikir Natalie

"Aku sudah coba, Nat"

"Ummp.. Coba kamu bertahan dulu, setiap orang butuh beradaptasi dalam hal mencintai. Mungkin nanti, kamu akan terbiasa. Ini cuman masalah waktu untuk kamu mencintai Sarah. Believe me" jawab Natalie dengan bijaknya memberikan solusi.

Aku mencerna perkataan Natalie baik-baik. Mungkin benar apa yang dikatakan Natalie.

"Setiap orang butuh beradaptasi dalam hal mencintai. Ini hanya masalah waktu saja untuk kamu mencintai dan mau menerimanya dia menjadi bagian yang terpenting dalam hidupmu. Kelak"

***

Di Kampus.

Azhar tengah duduk santai di bangku taman Kampus. Matanya, masih serius berkutit pada layar laptop. Azhar tengah sibuk mengejarkan makalah untuk dipersentasikannya. Tangannya dengan lincahnya menari-nari diatas keyboard laptopnya.

Tiba-tiba

Sarah datang menghampirinya membuat Azhar sedikit terganggu dengan kehadirannya.

"Hey, aku cariin kamu di kantin. Ternyata kamu disini" ucap Sarah meletakkan pantatnya duduk disamping Azhar.

Azhar sama sekali tidak memerhatikan kedatangan Sarah. Azhar masih sibuk dengan deadline yang membuat kepalanya pecah.

"Lagi sibuk yah ?" tanya Sarah menatap Azhar nampak begitu serius sedari tadi.

Azhar bergumam panjang "hmmmp.."singkat,padat dan terdengar sedikit dingin.

"Kamu ngerjaiin apa sih ? Sampe hati engga nengok sedikitpun ke aku" pikir Sarah

Lagi-lagi Azhar tidak menjawab pertanyaan Sarah. Matanya masih menatap lekat ke arah layar laptopnya.

"Azhar" bentak Sarah

Seketika,Azhar berhenti mengerjakan tugasnya. Sekilas, ia palingkan wajahnya ke arah Sarah. Mata mereka saling beradu. Saling Diam.

"Bisa engga sih, kamu engga ganggu aku hari ini aja ?"tanya Azhar

Sarah terdiam mendengar pertanyaan Azhar. Pertanyaan macam apa yang Azhar ajukan kepadanya ? Bukankah ia kekasih hatinya ? Kenapa Azhar mengatakan hal itu ke Sarah ?

"Ko kamu begitu sih ? Aku cuman nanya baik-baik.Azhar" pikir Sarah terisak

"Aku lagi sibuk ! Kamu engga liat aku lagi ngerjaiin makalah untuk bahan UTS nanti" jawab Azhar dengan suara meninggi.

"Tapi kan, kamu bisa ngerjaiinnya nanti dirumah"

Azhar menggelengkan kepalanya tidak mengerti apa yang dipikirkan Sarah. Sejurus kemudian, Azhar rapikan laptopnya dan memasukan ke dalam tasnya.

"Azhar, kamu mau kemana ?"tanya Sarah setengah berteriak

Azhar tidak menghiraukan Sarah.

"Azhar kamu denger aku engga ?" Teriak Sarah kali ini mengejar Azhar.

"Azh..a..r" ucap Sarah lirih hingga akhirnya tubuhnya terjatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri.

Azhar melihat Sarah tergeletak di tanah dengan darah segar yang keluar dari hidungnya. Azhar tidak tau apa yang terjadi pada Sarah. Tanpa berpikir panjang lagi, Azhar membopong tubuh Sarah ke klinik terdekat dari Kampus.

***

Di Rooftop Rumah.

Natalie tau dimana Azhar pergi. Selain, Restoran yang menjadi tempat favoritnya. Azhar selalu menyempatkan untung bisa menatap bangunan dari atas rumahnya.

"Hmmm.." gumam Natalie saat melihat Azhar tengah sibuk dengan menggambar sesuatu.

Azhar menoleh kearah sumber suara. Sejurus kemudian, ia lanjutkan kembali sketch yang ia gambar dengan tangannya sendiri. Jujur saja, dalam hal seni Azhar memang benar jago. Bahkan, ia mampu menggambarkan berbagai jenis aliran seni.

"Kamu sedang apa ? Aku sudah menelponmu lebih dari 3 kali" ucap Natalie sambil menaruh pantatnya duduk disamping Azhar.

Azhar masih terdiam. Tangannya masih menari-nari diatas kertas berukuran A4 itu. Natalie melihat sketch yang sedang Azhar kerjakan. Sketch tentang Laki-laki dan Dua orang Wanita disampingnya.

Natalie menggelengkan kepala, pah apa yang sedang Azhar pikirkan. "Aku tau apa yang kamu pikirkan, kamu lagi ada masalah ?"tanya Natalie

"Nope"

"Come On !. Sudah berapa kali kamu engga mau bercerita jujur ke aku,"

"Aku engga bisa berada di posisi ini," ucap Azhar

"Maksudnya ?"

Azhar menarik napas dalam dalam "engga usah dibahas lagi, lupakan masalah ini"

"Aku sahabat kamu..Azhar !" ucap Natalie dengan nada meninggi.

"Hmmp.. Aku hanya ingin tanya sama kamu. Apa laki-laki bisa mencintai dua orang perempuan sekaligus ?" tanya Azhar menaruh Sketch disampingnya.

Natalie membenarkan duduknya, menggeser lebih dekat ke samping Azhar "Azhar, laki-laki engga akan pernah bisa mencintai dua orang perempuan sekaligus. Laki-laki tidak akan pernah bisa bersikap adil" jawab Natalie

Azhar menatap Natalie. "Lalu, ?" tanya Azhar kembali.

"Azhar, perempuan engga ada yang mau di madu cinta" ucap Natalie.

Azhar memijit pelipis matanya, menenangkan apa yang saat ini ia rasakan.

"Kamu sedang ada masalah ?"

Azhar menggeleng.

"Hmmp.. Aku kira kamu sedang ada masalah"

Azhar dan Natalie kembali terdiam. Menatap langit nampak cerah hari ini. Sejurus kemudian, Azhar menatap sketch yang barusan ia selesaikan. Azhar coba mengingat kembali omongan yang Natalie katakan.

"Laki-laki tidak akan pernah bisa mencintai dua perempuan sekaligus. Laki-laki tidak akan pernah bisa adil"

***

Di Pendopo Kampus.

Azhar dan Sarah tengah duduk berdua. Kebetulan saja, hari ini mereka tidak ada mata kuliah. Jadi, mereka bisa menikmati waktu santai dengan memadu kasih.

Sarah menatap Azhar sedari tadi dengan pikiran kosong. Tidak seperti biasanya Azhar seperti ini. Biasanya, Azhar lah yang selalu membuka obrolan pertama. Mencari topik yang bisa mereka bahas. Tidak untuk ini.

"Sayang, kamu kenapa ? Lagi ada masalah kah ?" tanya Sarah dengan perasaan khawatir.

Azhar masih terdiam.

"Zar" panggil Sarah sambil mengguncangkan tubuh Azhar.

"Eh, aku engga apa apa ko" jawab Azhar tersentak.

"Are you sure ?"

"Yah, bagaiman kalau kita nonton bioskop aja ?" ucap Azhar

"Ide yang bagus tuh" jawab Sarah dengan antusias.

"Tapi, kita nontonya ajak Natalie yah"

Raut wajah Sarah seketika berubah saat mendengar nama. Natalie.

"Bisa engga, untuk saat ini aja kita engga usah ajak Natalie ?"

"Kenapa emangnya ? Natalie sahabat aku, aku udah lama bersahabat sama dia"

"Dia hanya sahabat kamu doang kan. Aku kan kekasih kamu. Aku mau Quality Time sama kamu aja. Engga usah ajak Natalie" pikir Sarah

Azhar terdiam sesaat berusaha mencari jawaban yang tepat.

"Aku engga mau, kalau kita nonton berdua doang. Lagi pula, bertiga kan lebih seru bukan ?" tanya Azhar dengan aegumennya

"Azhar, kamu jangan egois gitu dong"

"Kamu bilang aku egois ? Aku hanya ingin mengajak sahabat aku nonton bareng. Kamu bilang, aku yang egois ?" ucap Azhar dengan suara meninggi.

"Azhar, bukan maksud aku mengatakan kamu egois. Tapi, aku hanya ingin kita nonton berdua aja"

"Tapi, kamu mengatakannya Sarah. Aku mau kita nonton bertiga,"

Raut wajah Sarah seketika berubah merah. Seketika, Air matanya jatuh dari wajahnya.

"Zar, untuk hari ini aja kita nonton berdua. Aku mohon" ucap Sarah menyeka air matanya.

"Aku engga bisa," jawab Azhar sambil berlalu begitu saja

"Azhar.. Aku mohon" teriak Sarah tapi, Azhar sudah pergi begitu saja.

Azhar tidak peduli dengan apa yang ia lakukan pada Sarah. Sementara, Sarah masih berdiri kemudian melihat darah segar keluar begitu saja dari hidungnya. Sejurus kemudian, tubuhnya tidak mampu menahan lagi. Sarah terjatuh tidak sadarkan diri, dan Azhar tidak tau hal itu.

***

Di Pendopo Restoran

Azhar tengah duduk di pendopo restoran tempat favoritnya. Tangannya masih memegang handphonenya. Azhar ingin menghubungi Natalie untuk segera menemuinya di Restoran ini.

Namun, niatnya ia urungkan. Benda mungil itu diletakan diatas meja. Sementara, pandangannya masih menatap gelombang laut yang mendayu-dayu berkejaran satu sama lain.

Sejurus kemudian, Azhar menatap kembali layar handphonenya. Tangannya menari-nari diatas keypad handphonenya. Azhar mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Natalie.

To : Natalie
Kamu lagi dimana ?

Azhar letakkan kembali benda mungil itu diatas meja.

"Hai" sapa perempuan dari arah dalam ruangan.

Azhar mencari sumber suara, matanya ia sipitkan melihat perempuan yang memanggil namanya.

"Hmmp.."

"Sudah lama menungguku ?"tanya Natalie meletakkan tas kerjanya diatas meja. Sejurus kemudian, ia merapihkan rambutnya terurai begitu saja.

Azhar menggeleng. Entah, untuk kesekian kalinya, Azhar berbohong kembali. Padahal Azhar paling benci sama orang yang telat "Engga juga, hehe" jawab Azhar diiringi tawa renyah.

Natalie mengalihkan pandangannya ke arah pantai. Untuk waktu yang lama, mereka terdiam cukup lama.

Azhar sedikit meragu dengan ceritanya kali ini. Azhar genggam tangannya yang sudah begitu dingin. Sejurus kemudian, ia gosok-gosokan keduanya berharap saja bisa menghilangkan rasa gugupnya.

"Aku ingin curhat sama kamu" ucap Azhar

Natalie menatap Azhar lamat-lamat "curhat ? Engga biasanya. Hehe" jawab Natalie sambil tertawa.

"Emang engga boleh yah, laki-laki curhat ?"

Natalie menggeleng "bukan engga boleh, aneh aja. Tiba-tiba kamu minta aku buat dateng kesini hanya buat dengerin curhat doang" ucap Natalie menjelaskan.

"Hmmp.. Boleh engga nih ?" tanya Azhar meyakinkan.

Natalie mengangguk.

"Aku bingung sama hubungan aku dengan Sarah" kataku.

"Bingung kenapa ? Kamu ada masalah sama Sarah ?"

Azhar terdiam. Sementara, Natalie masih menunggu kelanjutan curhatan Azhar. Azhar mengalihkan pandangannya ke arah pantai. Sejurus kemudian, Azhar memijit pelipis matanya.

Azhar memejamkan matanya. Mengingat kembali apa yang ia lakukan dulu. Jauh sebelum ia memutuskan untuk berpacaran dengan Sarah. Azhar selalu membandingkan sifat Sarah dengan Natalie.

Bisakah Sarah bersikap tidak over- possessive bin over-protective kepadanya ? Bisakah Sarah lebih bersikap tidak ke kanak-kanakan saat kita jalan berdua ? Atau mungkin, Bisakah Sarah belajar lebih dewasa dari Natalie.

Bisakah ia melakukan ini semua untuk. Azhar?

"Za, Are you okay ?" tanya Natalie sedikit khawatir melihat sifat Azhar yang berubah menjadi pendiam.

"Yah, i'm Okay"

Natalie memberikan senyuman simpul dari wajahnya. Sejurus kemudian, Natalie menyeruput minumannya. Azhar memerhatikan setiap gerak-gerik Natalie. Ego Azhar mulai kembali terlihat.

Terkadang, Azhar ingin sekali menjadi kekasih Natalie. Menjadi bagian yang terpenting dalam hidupnya. Kadang pula, Azhar selalu ingin tau bagaimana cara Natalie berciuman dengan Laki-laki.

Apakah lembut ? Apakah Basah ? Atau mungkin Liar ? Seandainya, Natalie mau menjadi kekasihnya tanpa peduli dengan perbedaan keyakinan keduanya. Azhar sanggup menerima segala bentuk resikonya.

Shit

Pemikiran macam apa yang terlintas di otak Azhar. Azhar mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Mencoba menghilangkan pikiran kotor yang menyelinap di otakknya.

Sejurus kemudian, mata mereka saling bertemu. Azhar terpaku pada garis bibir Natalie yang memunculkan senyuman. Senyuman yang tidak akan pernah bosan Azhar nikmatin.

Bahkan, Calon suami yang akan mendampingi Natalie akan jauh lebih beruntung. Bisa menikmatin senyuman itu setiap harinya, mengecup manja keningnya.

Wajah mereka semakin dekat hanya berjarak 5 sentimeter. Entah, setan apa yang tengah masuk di tubuh Azhar. Azhar menjatuhkan bibirnya diatas bibir Natalie. Seketika, Natalie memejamkan matanya. Azhar mengecupnya sekali lagi.

Tidak ada respon.

Tidak ada penolakan dari Natalie.

Azhar mengucupnya sekali lagi. Namun, Natalie membuka matanya menatap Azhar lekat. Sejurus kemudian, Kami berciuman seperti bukan sahabat. Tangan Natalie melingkar di leher Azhar. Sementara, Tangan Azhar menggenggam erat pinggangnya.

Natalie memejamkan matanya. Dan Sekarang, Azhar paham Natalie termasuk tipe apa saat berciuman dengan lawan jenis. Entah, untuk alasan apa Azhar memberanikan diri untuk melakukan hal ini. Padahal, Azhar tidak melakukan hal seperti ini dengan...

Sarah.

Mengingat nama itu, Azhar spontan melepaskan diri. Natalie membuka matanya terkejut dengan tingkah Azhar. Azhar menyesal melakukan hal ini.

Well, Azhar tau itu tidak sepantasnya ia melalukannya. Terlebih dia sudah mengikat Sarah dengan sebuah komitmen. Selama enam bulan terakhir.

"Maaf" ucap Azhar membuka suara terlebih dahulu.

Natalie tersenyum simpul. Jujur saja, Azhar bukan ingin berfantasi atau munafik dalam hal cium-mencium. Semua orang pernah bertanya-tanya dan penasaran bagaimana rasanya berciuman dengan perempuan yang setiap hari selalu bersama dengan diikat dengan label "Sahabat".

"Aku mau pulang, aku cape" pintanya untuk terakhir.

Azhar hanya mengangguk. Menyetujui keinginan Natalie. Azhar membiarkan Natalie mendahuluinya. Azhar masih mengingat kejadian itu dengan jelas. Dalan hati ia berdoa,

"Semoga Tuhan tidak menghukumnya. Semoga"

***

Di Cafetaria.

Ulangan Tengah Semester telah usai sejak seminggu yang lalu. Tidak ada agenda khusus Azhar dan Sarah menikmati moment ber(kasih). Bahkan, Sarah tidak pernah menuntut Azhar untuk mengajaknya berlibur ke tempat favorit di kota ini. Yang Sarah ingin sangat..sederhana.

"Tak butuh siapa atau apa aku dimatamu. Ketika (cinta jatuh) telak di hatimu. Aku adalah aku tanpa awalan atau akhiran. Ketika kamu telak (jatuh di hatiku), kamu adalah kamu tanpa notasi berurutan di hatiku- Moammar Emka"

Mata Azhar dan Sarah saling bertemu dititik itu. Titik dimana mereka saling berkomitmen satu sama lain sejak satu tahun yang lalu. Sama seperti biasa, tidak ada obrolan yang menemani mereka berdua. Hanya saja terdengar alunan musik jazz mendayu-dayu dari cafe ini.

Di cafe ini, selain menu khas yang ada. Cafe ini juga selalu mengadakan konser musik. Tak jarang, banyak artis ibukota sering tampil di cafe ini.

"Zarrr.. Akhir-akhir ini aku sering liat kamu ada sedikit berubah ?" ucap Sarah membuka obrolan.

Azhar masih menatap Sarah dengan tatapan kosong. Pandangannya masih mencari satu rasa entah rasa apa yang membuat Azhar menatap Sarah seperti itu. Tidak seperti biasanya Azhar melakukan hal ini.

Sarah masih menunggu jawaban dari Azhar. Tapi Azhar masih terdiam menatapnya seperti itu. Membuat Sarah menjadi bingung bukan kepalang.

"Zarrr, " panggil Sarah melambaikan tangannya ke depan wajah Azhar.

"Ehhh.., ada apa yah ? Tadi kamu ngomong apa deh ?" jawab Azhar tersentak dari lamunannya.

Sarah menggelengkan kepalanya.

"Hmmmp.. Akhir akhir ini, aku sering liat kamu bengong terus. Kamu lagi ada masalah ?" tanya Sarah mengulang kembali pertanyaannya.

Azhar menggeleng. Hanya itu jawaban yang Azhar berikan. Walaupun, dalam lubuk hatinya jawaban itu membohongi dirinya, dan juga membohongi sarah.

"Cerita aja, engga usah ditutupin segala" Kata Sarah mencoba memancing.

Azhar bergumam panjang sebelum menyeruput minumannya. Sarah masih terlihat bingung dengan perilaku Azhar yang akhir-akhir ini terlihat berubah.

Sejurus kemudian, keadaan kembali seperti biasa. Hening. Tidak ada topik yang diangkat. Hanya saja, alunan musik jazz yang menemani Azhar dan Sarah.

"Sarah.." panggil Azhar lirih menatap Sarah dengan perasaan bersalah.

"Iyah"

"Aku boleh nanya sesuatu ke kamu ?"  tanya Azhar sedikit serius kali ini.

Sarah mengangkat kedua alisnya.

"Apa kamu mencintaiku ?" tanya Azhar

Sarah mengerutkan keningnya. Pertanyaan sedikit lucu yang pernah ia dengar. "Azhar, kamu nanya apa sih ? Yah jelas, aku cinta banget sama kamu" jawab Sarah dengan diiringi tawa renyah.

"Oh.., Tapi,-" ucap Azhar menggantungkan kalimatnya.

"Tapi apa Zar ?"

Azhar kembali terdiam untuk sementara waktu. Pandangannya ia alihkan ke sudut cafe ini. Ada rasa bersalah dan menyesal atas apa yang ia lakukan selama ini.

Ternyata benar apa yang dikatakan Natalie.

"Azhar, laki-laki tidak akan pernah bisa bersikap adil dalam hal percintaan. Dan, perempuan mana yang mau di duaiin"

"Aku engga bisa cinta kamu, entah kenapa aku begitu sulit untuk mencintai kamu" ucap Azhar dengan perasaan bersalah.

Sarah terdiam begitu terkejut dengan pengakuan Azhar. Matanya membulat, bola matanya terlihat dengan tetesan air mata yang jatuh membanjiri.

"Maksud kamu zar ?" Tanya Sarah tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku engga bisa lanjutin hubungan ini. Awalnya, aku udah berusaha buat mencintai kamu. Tapi, aku engga menemukan hal itu dalam hubungan kita. Aku rasa hubungan kita sedikit hambar jika seperti ini" jawab Azhar menjelaskan alasannya.

"Lalu, kenapa kamu engga bilang dari dulu zar," jawab Sarah sambil menyeka air matanya.

"Aku minta maaf sebelumnya, kan sudah aku bilang, aku berusaha mencoba buat mencintai kamu. Tapi-"

"Tapi, aku udah terlanjur cinta dan sayang sama kamu Azhar"

Azhar tertunduk diam. Untuk sementara waktu, mereka sama-sama terdiam.

Azhar menghela nafas panjang "Hmmm.. Aku engga bisa lanjutin hubungan ini. Maafin aku Sarah, aku mau kita akhiri saja" pinta Azhar memegang pundak Sarah

Sementara sarah masih menangis sejadi-jadinya. Mendengar keputusan Azhar yang membuat hatinya terluka.

"Zar, aku mohon, Kita jangan putus. Apa aku salah sama kamu ?" tanya Sarah dengan nada memohon

Azhar menarik pipinya "kamu engga salah kok, aku yang salah. Aku engga bisa pertahanin lagi.Sar" jawab Azhar memberikan penjelasan. Berharap Sarah memahami alasannya.

"Apa ada orang ketiga yang membuatmu seperti ini ?" tanya Sarah kembali.

Azhar menggeleng "engga ada orang ketiga dalam hal ini. Kamu engga akan mengerti apa yang aku rasakan.Sar"

Sarah kembali terdiam. Azhar menggenggam lengan Sarah begitu kuat. Mengakhiri perpisahan ini yang begitu memilukan.

"Maafin aku Sarah, Maaf" ucap Azhar terakhir kali. Mengecup kening Sarah untuk yang terakhir kemudian, pergi meninggalkan Sarah dengan hati yang terluka.

***

Di Pendopo Restoran.

Secangkir kopi dan sepotong senja yang terlihat manja begitu terlihat indah dari tempat ini. Ombak-ombak pantai saling bekerjaran satu sama lain. Burung-burung berkicau begitu merdua menandakan bahwa petualangan telah selesai untuk hari ini.

Azhar tengah menikmati moment ini dengan perasaan bersalah. Sejurus kemudian, Azhar menyeruput kopi hangat yang baru di pesannya. Pandangannya masih sama, menatap gugusan pula yang begitu terlihat dari pendopo restoran.

Jerrrt..jerrrrtt..jerrrrt (suara getar handphone)

Azhar menatap layar handphone menyala. Ada satu panggilan dari Sarah. Azhar tidak mengangkat panggilan handphone dari sarah. Entah, untuk saat ini Azhar sedang tidak ingin diganggu.

Tiba-tiba..

Datang seorang wanita cantik dengan menggunakan pakaian kantor yang ia kenakan. Wanita cantik itu, menghampiri tempat dimana Azhar duduk menikmati sepotong senja terlelap.

"Hai..," sapa perempuan itu yang Azhar kenali suara itu.

Azhar tidak menjawab.

"Kamu sedang ada masalah kah ?" tanya Natalie kali ini.

Lagi-lagi Azhat tidak menjawab pertanyaan Natalie.

Natalie menghela napas panjang. Sejurus kemudian, Natalie kembali masuk kedalam memesan menu yang tersedia di Restoran ini.

Sepuluh menit kemudian, Natalie kembali lagi dengan membawa secangkir cokelat hangat. Minuman kesukaan Natalie saat berkejung ke Restoran ini.

Natalie menatap Azhar kembali mencoba mencari tau apa yang sedang Azhar tutupi darinya. Azhar membalasan tatapan penuh selidik dari Natalie.

"Kenapa ?" tanya Azhar mengerutkan keningnya.

"Kenapa kamu diam dari tadi ? Ada masalah kah ?" jawab Natalie berusaha care.

"Segitu pentingkah kamu mencari tau tentang masalah yang sedang aku alami ?" Jawab Azhar sedikit ketus.

"What do You Say.Azhar ?"

"Aku ini sahabat kamu. Jelas, aku ingin tau apa yang sedang kamu alami saat ini" ucap Natalie dengan nada meninggi.

Azhar kembali terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Natalie. Baginya, diam adalah langkah yang tepat untuk menyudahi pembicaraan ini.

Jerrrt..jerrrrtt..jerrrrt (suara getar handphone)

Natalie menatap satu panggilan di layar handphone Azhar. Panggilan yang datangnya dari Sarah. Azhar membiarkan panggilan itu. Entah, untuk kesekian kalinya Azhar tidak mengangkat panggilan Sarah.

Sekarang Natalie mulai paham dengan apa yang saat ini Azhar rasakan.

"Kamu, sedang lagi ada masalah dengan Sarah ?" tanya Natalie memberanikan diri

Azhar menatap Natalie dengan tatapan tidak suka mendengar Nama Sarah. Natalie tidak hanya sampai disitu menanyakan permasalahan yang dihadapi Azhar.

"Azhar, ayolah kamu bukan lagi anak kecil. Yang harus diam saja saat lagi ada masalah. Come on" ucap Natalie sambil memegang lengan Azhar.

Azhar masih terdiam untuk waktu yang lama. Sejurus kemudian, Azhar melirik Natalie.

"Hmmp.. Aku pu-" ucap Azhar

"Oh.. Jadi ini alasan kamu putusin aku Azhar ?" ucap Sarah secara tiba tiba datang menghampiri.

Azhar dan Natalie begitu terkejut melihat Sarah datang kesini. Sementara, kekecewaan terlihat dari raut wajah Sarah yang tidak terima diputuskan Azhar.

"Sarah" ucap Azhar membulatkan matanya.

"Hanya karena dia, kamu memutuskan aku.Za ?" tunjuk Sarah ke arah Natalie

Natalie tidak terima menjadi penghancur hubungan orang "Sarah, tutup mulutmu. Aku sama Azhar hanya Sahabat. Tidak lebih dari itu" Ucap Natalie melakukan pembelaan.

"Sahabat ?" Sarah terkekeh mendengar kata-kata itu.

"Sarah, kamu ngapain kesini ? Kita udah tidak ada hubungan lagi bukan ?" ucap Azhar.

"Terserah aku dong. Aku hanya ingin tau alasan kenapa kamu mutusin aku. Apa itu engga boleh ?" jawab Sarah setengah memprotes.

"Kamu... Childish" ucap Azhar dengan entengnya.

PLAK..!!! (tamparan)

Sebuah tamparan mendarat dengan mulus tepat dipipi kanan Azhar. Azhar memegangi pipi kanannya yang terlihat memerah. Kemudian, Sarah pergi begitu saja. Setelah mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan dari mulut Azhar.

Childish

***

Didepan halaman Rumah.

Sebuah rumah megah di salah satu kawasan elite. Natalie memberanikan diri untuk memberikan klarifikasi atas kejadian semalam. Tidak ada niatan dalam dirinya untuk merebut Azhar dari Sarah.

Tidak ada.

Bahkan, jika pun ada niatan seperti itu. Ia paham bahwa hubungan mereka ada dinding pemisah antara Azhar dan Natalie. Dinding yang sulit untuk dirobohkan oleh suatu ikatan suci sekalipun. Perbedaan keyakinan.

Sudah sepuluh menit lamanya, Natalie berada didepan pintu rumah megah ini.

Tiba-tiba

Pintu rumah terbuka dari dalam. Keluarlah perempuan yang Natalie kenal. Namun, saat melihat kedatangan Natalie di rumahnya. Sarah kembali lagi menutup pintu. Natalie mencoba menahan pintu itu.

"Sarah... Sarah.. Buka pintunya dulu, aku mau klarifikasi masalah kemarin" ucap Natalie sambil menggedor-gedorkan pintu rumah.

Sarah masih menahan pintu dari dalam rumah "sudah puaskah, kamu merebut Azhar dari aku ?" ucap Sarah dari dalam rumah.

"Sarah.. Aku sama sekali tidak ada niatan ingin merebut Azhar dari kamu. Lagi pula, aku sama sekali tidak tau kalau kalian sudah putus" jawab Natalie memberikan penjelasan.

"Aku mohon sarah, tolong bukakan pintunya dulu. Aku ingin menjelaskan satu hal ke kamu." ucap Natalie memohon agar Sarah membukakan pintunya.

Natalie masih menunggu jawaban Sarah. Supaya kesalah pahaman ini dapat diselesaikan. Sejurus kemudian, Sarah keluar dari dalam rumah dan ingin mendengarkan apa yang sebenarnya ingin dikatakan Natalie.

"Terima kasih sudah mau mendengarkan aku," ucap Natalie

Sarah hanya tersenyum simpul "silahkan duduk, apa yang kamu ingin katakan"

Natalie menaruh pantatnya, mencari tempat yang nyaman untuk menjelaskan semuanya dari awal.

"Sebelumnya, aku minta maaf sudah membuat kalian seperti ini. Aku sama sekali tidak tau kalau kalian sudah putus. Aku minta maaf yang pertama" jelas Natalie

"Jujur saja, aku dan Azhar memang bersahabat sejak empat tahun silam. Dan kamu tau hal itu bukan ?"

Sarah masih mendengarkan penjelasan Natalie.

"Sarah, asal kamu tau. Azhar menyukai ak-"

"Sudah kuduga, kamu akan mengatakan hal itu.Nat" potong Sarah

"Sarah, dengarkan aku dulu. Kita memang saling menyukai satu sama lain. Tapi, ada hal yang tidak bisa aku dan Azhar lakukan. Aku sama Azhar berbeda keyakinan. Dan kamu tau hal itu. Sebab itulah, aku dan Azhar engga bisa bersatu. Jikapun kita tetap nekat melakukannya, orang tua kamipun engga akan setuju dengan hubungan ini" ucap Natalie menjelaskan duduk permasalahannya.

Sarah yang mendengar hal itu pun, terperanga saat Natalie menjelaskan semuanya. Ia menyesal telah berpikir yang bukan-bukan ke Natalie.

"Aku hanya ingin mengatakan itu saja. Jika kamu berpikir, aku merusak hubungan kalian. Kamu salah besar Sarah. Aku hanya ingin kamu menemani Azhar, dan aku harap kamu bisa balikan kembali" pinta Natalie dengan nada memohon.

"Untuk apa aku balikan kembali ? Setelah aku tau ini semua. Kalau Azhar memang engga mencintaiku ?"

"Kamu salah besar, Azhar pasti mencintaimu.Sarah"

"Aku engga bisa Natalie" ucap Sarah lirih

"Kenapa engga bisa ?" tanya Natalie

"Aku ingin pergi ke luar negeri. Aku ingin menyembuhkan diriku dulu" jawab Sarah

Dahi Natalie mengkerut "kamu sakit Sarah ?" tanya Natalie kembali.

Sarah terdiam dengan waktu yang cukup lama.

"Aku mengidap penyakit.."

***

Di Rooftop Rumah.

Sudah dua hari terakhir, Natalie tidak bertemu dengan Azhar. Bahkan, sulit baginya menemui dirinya. Nomor handphonenya selalu tidak aktif semenjak kejadian tempo hari lalu. Padahal, Natalie ingin mengatakan satu hal penting ke Azhar.

"Hmmm.. Rupanya kamu disini" ucap Natalie saat melihat Azhar duduk diatas rooftop.

Azhar menengok kearah Natalie. Setelah itu, ia kembali lagi menatap bangunan tinggi di kota ini.

"Kamu kemana saja ? Aku telfonin" ucap Natalie kembali.

Azhar masih terdiam untuk beberapa waktu.

"Hei, kenapa engga ngomong ?" tanya Natalie kembali

Azhar menarik napas dalam-dalam "pentingkah untukmu mencari tau kabarku ?" pikir Azhar dengan nada sinis.

"What do you say ?"

Azhar menggeleng,kemudian terdiam kembali.

"Aku ingin cerita sama kamu.." ucap Natalie dengan nada serius.

"Please, listen to me. Azhar"  ucap Natalie dengan nada memohon.

Azhar membenarkan duduknya, matanya menatap wajah Natalie. Natalie tersenyum setelah Azhar mendengarkan permohonan untuk didengarkan dirinya bercerita.

Natalie mulai menceritakan semuanya mulai dari awal. Tidak ada yang ia rubah sama sekali cerita yang diceritakan Sarah kemarin. Azhar nampak begitu serius mendengarkan ceritanya.

"Ada lagi yang ingin kamu katakan ?"tanya Azhar kali ini.

"Esok, Sarah akan berangkat ke luar negeri untuk menyembuhkan penyakitnya. Aku berharap kamu bisa menemani kepergiannya sebelum berangkat" ucap Natalie.

Azhar menimang ucapan Natalie. Bahkan, Azhar tidak mengetahui sama sekali kalau Sarah mengidap penyakit yang sangat mematikan. Ada rasa bersalah dalam diri Azhar. Rasanya. Azhar ingin mengulang kembali sekaligus menarik kembali ucapan dari mulutnya.

Jujur saja, Azhar menyesal telah mengatakan Sarah dengan sebutan.Childish.

"Aku usahakan besok untuk menemaninya" jawab Azhar menyetujui permohonan Natalie.

Natalie tersenyum mendengar hal itu. Natalie berharap semoga saja Azhar bisa memperbaiki hubungannya dengan Sarah.

Semoga.

***

Cahaya sang surya sudah menembus celah-celah gorden. Jam weker sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Azhar terkejut saat membuka matanya melihat jam weker.

Secapat mungkin, Azhar membersihkan tubuhnya kemudian langsung pergi ke Bandara Soekarno-Hatta. Azhar mempunyai waktu kurang lebih satu jam. Sebelum, Sarah terbang ke negara Singa itu.

Mobil Azhar membelah jalanan ibukota dengan kecepatan diatas rata-rata. Bahkan, Azhar tidak peduli dengan polisi ataupun dengan keselamatannya. Baginya, menemui Sarah tujuannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Sarah.

Setibanya didepan pintu Bandara Soekarno-Hatta. Azhar langsung berlari melihat Flight Information Data System. Disana tertera, jadwal keberangkatan pesawat.

Masih ada waktu 3 menit untuk mengejar Sarah di gate. Semoga saja, Sarah masih berada di sana.

"Permisi" ucap berlari melewati para penumpang.

"Maaf Bapak, bapak harus melewati pemeriksaan meta detector terlebih dahulu" ucap Ssalah seorang petugas Bandara yang mengahalang Azhar

"Tapi pak, saya ingin bertemu dengan teman saya"

"Tidak bisa pak, bapak harus melalui mekanisme pemeriksaan terlebih dahulu"

Azhar melirik jam tangan yang masih setia melingkar di lengan kirinya. Dan jam sudah menunjukkan lewat dari tiga menit. Itu artinya, pesawat tujuan singapore sudah take off.

Azhar mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ada rasa penyesalan atas apa yang ia lakukan ke Sarah. Bahkan, pintu maaf ataupun untuk memperbaiki hubungannya pun sudah tertutup rapat. Entah, Sarah akan menetap lebih lama lagi di Negeri Singa.

Azhar kembali menemui Natalie dan ingin menceritakan semuanya. Secepat mungkin, Azhar harus tiba dirumah Natalie.

Setibanya, di depan rumah Natalie. Azhar melihat pintu rumah Natalie tertutup rapat tidak berpenghuni. Ada tanda tanya besar dalam pikirin Azhar.

Kemana Natalie ? Apa dia pergi juga meninggalkan dirinya ?

Azhar membuang pikiran negatif itu jauh-jauh. Azhar mengetuk pintu rumah Natalie. Sayang, tidak ada jawaban dari penghuni rumah. Saat Azhar ingin pergi dari rumah Natalie. Azhar melihat selembar surat di bawah lantai. Surat entah dari siapa yang menulisnya.

Dear Azhar.

Terima kasih banyak atas semua yang kamu berikan selama ini. Entah, aku engga bisa membalas semua kebaikan yang kamu berikan percuma.

Terima kasih banyak juga, kamu sudah mau menjadi sahabat aku selama empat tahun belakangan ini. Walaupun aku tau, aku engga bisa membalas perasaan kamu. Sebab kamu tau bukan, kita berbeda keyakinan.

Biarlah rasa ini kita simpan dalam hati. Kita kemas dengan rapih berpitakan manis seperti sebuah kado yang lucu untuk kita kenang.

Maafkan aku, aku engga kasih kabar ke kamu tentang kepergianku. Ibuku tengah sakit keras di Makassar. Dan aku, disuruh pulang menemani ibuku.

Kau tau ?
Ada hal yang membuat dadaku terasa sesak di relungku. Sebelum ayahku pergi ke hadapan-Nya. Ayahku meninggalkan banyak hutang. Hingga akhirnya, ibu seperti ini. Uang yang selama ini aku transfer kan setiap bulan. Engga cukup untuk membayar semua hutan Ayahku.

Hingga akhirnya, Ibu terkena penyakit seperti ini. Dan yang membuatku engga bisa menerimanya. Orang yang memberikan pinjaman ke ayahku meminta ibuku, untuk mempersuntingku dengannya. Aku sendiri engga bisa berbuat apa lagi dalam hal ini.

Azhar, maafkan aku dalam hal ini.

Apakah kau ingat dengan perkataanku dahulu ?.
"Jika kita mencintai seseorang, kita juga harus bisa belajar meluluhkan hati kedua orangtuanya"

Mungkin nanti, kita akan dipertemukan kembali oleh Semesta. Semoga kamu bahagia dengan Sarah. Titip salamku untuknya.

Aku mencintaimu..

Natalie

                      **TAMAT**

Senin, 07 November 2016

Cerpen


                      Detik Terakhir
         Oleh : Prayoga Dwi Wibowo

Cerpen 1

Sepasang Kekasih tengah duduk di Angkringan kafe. Tempat pertama kali mereka saling bertemu dan berkenalan. 2 tahun lamanya masa PDKT berjalan, dirasa cukup baginya.

Dengan mengumpulkan keberaniannya, laki-laki itu mengajaknya untuk bertemu ditempat biasa.

Dalam benaknya ada rasa takut yang menyelimutinya.

"Apa nanti Aurel menerimaku ?" Batinnya bertanya.

Sesaat Weiters menghampirinya dengan membawa menu pesanan yang tersedia.

"Permisi kaka, mau pesan apa ?" Tanya Weiters dengan memakai seragam ciri khas kafe ini. Tak ketinggalan dengan celemek yang mengikat ditubuhnya.

"Eh.." sentakku terkejut

"Kaka mau pesan apa ?" Tanyanya kembali menawarkan menu yang tersedia di kafe sini

"Ummp.. Caramel Moccachiato seperti biasa" pintaku pada Weiters sudah berdiri lama didepanku

"Kebetulan di kafe ini, menyediakan menu spesial khusus diberikan bagi pelayan setia kafe ini" tawarnya dengan senyuman sumeringah.

Aku menggelengkan "Terima kasih" kataku membalasnya dengan senyuman simpul.

"Kalau begitu , tunggu beberapa menit lagi. Menu yang kaka pinta saya antarkan" pamitnya sambil berlalu pergi menuju ke barista.

Aku memijit pelipis mataku yang begitu lelah, seharian suntuk bekerja penuh. Mataku masih mencari sosok seseorang yang sudah aku tunggu.

Seseorang yang sudah memenuhui ruang pikirannku selain masa depanku. Seseorang yang nantinya akan menemaniku dalam suka maupun duka.

Sesorang itu ialah...

Kamu..

***

"Hai.."sapa perempuan datang dari arah pintu.

Perempuan itu langsung menghampiri bangku yang aku pesan sedari tadi.

"Hai.."jawabku bediri sambil mempersilahkan duduk

"Sudah lama menungguku ?"tanya Aurel meletakkan tas kerjanya diatas meja.

Aku menggeleng memberikan senyuman simpul "engga kok".

"Kamu mau pesan apa ?" Tawarku

"Engga usah. Biar aku pesan sendiri" jawabnya menolak penawaranku.

"Engga apa-apa, lagi pula aku yang sudah berjanji bertemu denganmu. Bukan ?" Aku mencoba meyakinkannya

"Hmm.. samaiin aja dehh" katanya menyerah. Akhirnya menerima penawaranku.

"Okee.. tunggu yah, aku pesan dulu" pamitku memesankan pesanan untuk Aurel.

***

"Eh.. katanya ada yang mau diomongin ?" Tanya Aurel membuka obrolan yang sedari tadi hening.

"Oiya.. aku lupa" jawabku menepuk jidatku.

"Apa kamu sudah punya kawan dekat ?"

"Maksud kamu ?" Tanyanya kembali, tidak mengerti apa yang aku maksud.

"Hmmp.. maksud aku, apa kamu sudah punya pacar" Tanyaku mengulangnya kembali menekankan kalimat terakhir.

Aurel terdiam. Aku masih mengamatinya, dan menunggu jawaban selanjutnya.

Pandangannya dia alihkan sesaat, kearah bangku pengunjung lain, Aku masih menunggu jawabannya.

"Hei.. " panggilku melambaikan tangannku

"Ehh... iyah" Aurel tersentak

"Kamu belom jawab pertanyaan dariku"

Aurel memijit pelipisnya "Ummp.. aku belom ada kawan dekat ataupun pacar"

"Oh.."

"Memangnya kenapa ?"

"Hmmp.. mungkin ini terlalu cepat, ataupun kamu akan menyebutku egois. Tapi aku ingin jujur ke kamu.." ucapku menggantungkan kalimat terakhir

"To the point aja kali"

"Aku suka kamu.."

Kata itu berhasil aku muntahkan begitu saja, membuat Aurel terdiam sesaat sebelum aku melanjutkannya.

Kata yang sudah lama aku simpan rapi bersamaan mimpiku terselip disana. Kata yang nantinya akan menentukan, apa aku pantas mendapatkan balasannya.

"Mungkin ini terbilang cepat, perlu kamu tau, aku menyukaimu sejak lama. Sejak pertama kali kita masuk di bangku kuliah dulu." Kataku

"Aku suka cara kamu menyapa teman kampus kamu, aku suka cara kamu merapihkan rambutmu tersapu oleh angin, aku suka semua.." tambahku

Aurel terdiam sesaat, matanya masih menatapku mencari kepastian apa, aku benar-benar mencintainya.

Tatapan matanya selalu meneduhkan hatiku. Taatkala aku tengah sibuk mengerjakan skripsi.

"Bukan aku menolak kamu.. aku tengah sibuk dengan pekerjaan maupun dengan skripsi S2 yang nantinya diuji dalam waktu dekat ini" Aurel mencoba menjelaskannya.

"Aku tau hal itu.."

"Hmmp.. apa kamu bakal mengartikan kesibukanku nantinya ?" tanya Aurel dengan nada serius.

"Yah.. aku akan selalu mengerti kesibukan kamu. Akan aku dukung impianmu" jawabku sambil memberikan senyuman simpul.

"Kamu tau kan, aku sedang bekerja diperusahaan milik Negara. Bagaimana jika nantinya aku di mutasi ke luar kota ? Apa kamu bersedia menjalin hubungan jarak jauh ?" Tanyanya kembali

Berbeda. Aurel memang berbeda dari sekian banyak perempuan yang aku kenal dulu.

Aurel adalah tipe perempuan yang dewasa. Pertanyaan itu membuatku harus menguras otakku. Walaupun aku tidak menyukai hubungan jarak jauh.

"Yahh.. aku mau, LDR akan mengajarkan kita untuk saling mengerti, setia, dan menjaga komitmen yang sudah dibangun dari awal. Intinya kita saling percaya sama pasangan kita" jelasku menjawab semua pertanyaannya

"Aku mau.." jawabnya singkat

"Kamu tidak lagi bercanda kan ?"pikirku

"Menurutmu ? Apa raut wajahku tidak meyakinkanmu ?" Jawabnya dengan nada sebal

"Nope, I believe you"

Aku dan Aurel mencicipi pesanan yang sedari tadi mengganggu indera  pincumanku sampai di meja kita. Setelah itu, kita banyak membahas dari berita hangat maupun masa depan yang sudah kita inginkan.

Benar-benar diluar ekspetasiku. Jujur, baru kali ini aku menyatakan perasaan ke perempuan dan berhasil.

Sebelumnya, aku sudah berkali-kali mencoba pada perempuan lain. Tapi apa ? Mereka hanya menginginkan materi bukan menginginkan kebahagian dan kebersamaan. Mereka takut membangunya dari awal.

Satu kata yang ingin aku katakan, dan menyudahi malam yang berkepanjangan ini. Malam yang selalu sepi tanpa kemerlap bintang bintang bertaburan disana. Kau tau apa ?

SEMPURNA ..

***

Awalnya, hubungan itu berjalan mulus tanpa ada konflik yang mengganggu kebersamaannya. Perlahan, sejak Aurel benar-benar di mutasi pekerjaannya pindah keluar kota. Membuatku merasakan kegelisahaan.

Bukan. Bukan berarti aku tidak percaya. Melainkan, aku tidak memikirkan tentang hubunganku. Bagaimana dengan kondisi Aurel ? Siapa yang akan merawatnya jika Aurel sakit ?

***

"Lusa, aku berangkat ke luar kota. Melaksanakan dinasku disana. Apa kamu bersedia mengantarkanku ke Bandara ?"tanyanya melepaskan pelukan kemudian menatapku

"Tentu, akan aku luangkan waktuku menemanimu" kataku mengusap setiap helai rambutnya. Walaupun di dadaku terasa sakit melepasnya pergi.

"Terima Kasih" jawabnya merebahkan kepalanya di atas pahaku.

***

Pintu keberangkatan sudah dipenuhui para penumpang yang akan pergi ataupun berlibur bersama keluarga. Aku masih menunggu Aurel yang sedari tadi mengurus tiket.

"Heii.. pesawatnya take off sebentar lagi, sekitar 10 menit lagi" katanya menghampiriku menarik koper yang begitu besar

"Hmmp.. kamu udah pastiin engga ada yang tertinggal ?" Tanyaku

"Udah, semua sudah aku masukkan kedalam koper"

Aku hanya memberikan isyarat dengan mengangkat kedua jempolku. 10 menit mungkin bagiku terasa cepat untuk melihat Aurel yang sebentar lagi akan di mutasi ke luar kota. Tapi, ini bagian dari konsekuensi yang harus aku terima.

"Aku berangkat dulu yah," pamitnya menarik koper kemudian, memberikanku senyuman simpul

"Hati-hati yah, semoga penerbanganmu menyenangkan" kataku melambaikan tangan

"Jangan lupa kabarin aku, kalau kamu udah sampe" teriakku

Aurel memalingkan tubunya, mengedipkan satu matanya mengerti. Aku masih memberikan senyuman yang tiada henti-hentinya aku tarik dari pipiku.

***

Angin terlalu cepat mengganti musim yang benar benar kelabu. Tepat empat tahun kepergianmu dinas keluar kota. Aku begitu rindu akan hadirmu.

Walaupun setiap kali aku ada waktu, atau kamu sedang tidak sibuk. Kita saling bertatap muka lewat Skype sekedar melepas rindu yang menggebu.

Sudah empat musim aku selalu menunggumu disini, ditempat pertama kali kita bertemu. Taatkala, pelayan kafe ini, selalu menanyakan tentangmu yang tidak datang denganku.

Satu hal yang aku ketahui, kamu akan kembali lagi ke kota asalmu. Setelah sekian lama kamu merantau ke tanah orang jauh dari sanak keluarga,teman, ataupun jauh dari aku.

Aku begitu bersamangat menyambut kedatanganmu kembali lagi. Bahkan, aku meluangkan waktu kerja satu hari.

Kau tau apa yang ingin aku katakan dari dulu ?

Aku ingin melamarmu ..

***

Baru kali ini, aku bisa mengalahkan mentari yang selalu saja muncul lebih awal. Ternyata, aku bisa mengalahkannya. Dengan mengendaraii mobil pribadiku dari hasil jerih payahku bekerja. Aku pergi ke Bandara saat kamu pergi.

Sengaja aku tidak memberikanmu kabar mengenai aku menjemputmu. Aku ingin memberikanmu kejutan kecil.

Mentari sudah tepat diatas kepala. Kamu belum terlihat tiba di Bandara ini. Padahal, kamu kan pulang hari ini. Aku menghilangkan gundahku menyetel musik di Play List.

Tiba tiba..

Aku melihatmu menarik koper yang sama saat kamu pergi. Kamu terlihat semakin dewasa dengan polesan make up diwajahmu. Aku membuka headsheat yang menutupi telingaku. Aku mengangkat tubuhku menghampirimu.

Tapi ..

Kamu menyapa seseorang dari arah yang berlawan dengan memaki jas hitam. Satu hal yang tak aku ketahui. Ternyata, kamu menyapa seorang laki-laki yang sudah menunggumu.

Kamu memeluk tubuh laki-laki itu begitu erat. Layaknya seperti sepasang kekasih yang sudah tidak bertemu setelah sekian lama. Aku semakin tidak mengerti maksud ini semua.

Kamu menggandeng tangannya hingga tiba diluar pintu Bandara. Laki-laki yang bersamamu menarik pintu mobilnya memperkenankan kamu masuk.

Dari kejauhan, aku masih mengamatimu dengan laki-laki itu. Hingga akhirnya, kamu tiba di halaman rumahmu.

Satu hal yang aku katakan untuk hari ini.

Aku kecewa denganmu..

***

Aku mengambil handphoneku yang berada diatas meja kantorku. Aku mencari nomor handphone yang sudah diluar kepalaku.

Aurel

From : Aurel
Denger-denger kamu udah pulang yah ?

Hampir setengah jam aku menunggu balasan dari Aurel. Akhirnya, Aurel membalas pesanku

To :  Aurel
Iyah , baru 2 hari tiba.

Secepat mungkin aku langsung membalasnya.

From : Aurel
Hari ini, kamu ada acara engga ? Aku mau ngajak kamu dinner. Kita udah lama kan, engga dinner bareng

To : Aurel
Aku engga bisa, walaupun aku udah selesai dinas. Aku mendapat panggilan jadi assisten Dosen.

From : Aurel
Okee.. Next Time yahh

Aurel tidak membalas pesan terakhirku. Seharusnya, Aurel menanyakan keadaanku ataupun bercerita banyak tentang pengalaman kerjanya di luar kota.

Ada bagian aneh yang aku ketahui dari Aurel. Hingga, pikiran kotorku untuk mengikuti Aurel terselip di otakku.

Sudah pukul 8 malam. Aku menunggu Aurel. Apakah Aurel akan keluar malam ini ?.

Perempuan cantik dengan menggunakan gaun malam. Membuatnya semakin cantik dan dewasa. Entah, aku tidak tau Aurel pergi kemana. Sesekali Aurel keluarkan Handphonenya mengecheck.

Tiba-tiba ..

Datang mobil hitam mercedes yang aku temui, saat Aurel diantarkan pulang. Laki-laki itu masih sama, saat aku melihatnya di Bandara.

Hampir satu jam aku membuntuti mobil itu. Hingga akhirnya, berhenti disalah satu tempat club malam terkenal di kota ini. Aku menunggu didalam mobilku. Sempat terlintas, apa aku harus masuk menemuiinya ?.

Aku mengambil handphoneku di dashboard. Aku menghubungi Aurel kurang lebih 20 panggilan. Tapi, tidak satu pun yang diangkat.

Aku mengepalkan tanganku ke stir mobil. Satu panggilan masuk terdengar jelas. Dan panggilan masuk itu bukan dari Aurel. Melainkan, dari pengelola tempat yang sudah aku booking untuk melamar Aurel malam ini.

Tanpa menunggu lama lagi. Mobilku melesat kencang ke tempat yang sudah aku siapkan di dekat pantai.
Satu moment yang nantinya akan menjadi sejarah kisah kita, Hingga akhirnya, harus batal begitu saja.

***

Tempat dengan nuansa yang hangat dekat dengan alam. Kemerlap lampu gedung gedung bertingkat menjulang ke langit terlihat jelas dari tempat ini. Alunan musik melankolis mendayu-dayu begitu enak didengar. Hanya saja, moment ini tidak akan pernah terjadi.

Tidak akan pernah terjadi ..

Aku langsung mengambil handphoneku. Membuat video singkat yang nantinya akan aku kirimkan ke Aurel.

Awan yang semula terang. Seketika, berubah mendung, tetesan air langit membasahi bumi begitu derasnya. Tapi, aku masih melanjutkan pembuatan videonya.

Setelah aku rasa cukup dengan durasinya. Aku langsung bergegas pulang kerumah dengan perasaan kecewa.

Hinga akhirnya ..

***

Aurel melihat panggilan masuk yang terpajang dilayar handphonenya sebanyak 20 kali dari Arda

Esok malamnya, Aurel takut mengira Arda akan marah tidak mengangkat telponnya. Aurel memutuskan untuk pergi kerumah Arda.

Setelah sampai di depan Rumah Arda. Aurel begitu terkejut dengan dipasang tenda dan penuh karangan bunga yang terpajang.

"Apa yang sebenarnya terjadi" batin Aurel

Orang orang yang berkumpul dirumah Arda. Menatap Aurel heran, dan menganggap Aurel tidak baik. Aurel mengabaikan akan hal itu.

Terpajang pula, banner yang bertuliskan "will you married me ?" Tepat, diatas atap rumah Arda. Perasaannya semakin tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.

Satu peti yang terbuka begitu saja, membuat Aurel semakin penasaran untuk melihatnya. Orang orang yang semula mendekat mengerumuni peti itu menjauh. Memberikan ruang untuk Aurel melihatnya.

Dan di dalam peti itu ..

Arda

Arda sudah terbujur kaku dengan pakaian terakhirnya. Tak ketinggalan dengan satu buah cincin di pegang Arda. Aurel mengambil cincin itu menanyakan ke semua orang. Air matanya terus mengalir begitu saja.

Perempuan paruh baya, yang datang dari arah kamar. Menghampiri Aurel yang memandangi jenazah Arda.

"Apa kamu nak Aurel ?" Tanya perempuan paruh baya itu

"Iyah" jawab Aurel menyeka air matanya.

"Sebelum Arda pergi, Arda menitipkan ini untuk nak Aurel lihat" ucap Mamah Arda memberikan handphone milik Arda. Mamah Arda begitu tak kuasa melepaskan Arda begitu saja.

Aurel mengambil handphone milik Arda. Satu video tersimpan di kartu memorinya. Aurel memutar video yang berdurasi 10 menit itu dengan tanda tanya. Tak kuasa melihat video itu, sebelum video itu selesai. Tubuh Aurel tidak bisa menahannya.
Hingga akhirnya, Aurel jatuh pingsan tepat disebelah peti mati Arda..

*Ada waktu yang terbuang begitu saja. Ada pengorbanan yang harus di bayar dengan tetesan air mata. Bukan perkara gampang menjaga hati kecil kekasihnya saat menjalin hubungan jarak jauh.

Bahkan, (dia) selalu membunuh rasa gundahnya yang menggangu separuh malamnya. Kamu tak akan pernah tau. (Dia) sudah menyiapkan dan mengorbankan membuat kejutan kecil saat kamu kembali lagi. Ini semuanya demi kebahagianmu dengannya.

(Dia) tau kamu mengkhianatinya. Bahkan, (Dia) masih mempercayaimu walaupun hati dan impian kecilnya kamu lenyapkan.

Sudah.. sudah.. jangan kamu banjiri peristirahatannya dengan tetesan yang tidak berguna. Lagi pula, impian (Dia) sudah berakhir.

Bukankah kamu sudah bahagia dengan orang baru ?

Jangan lupa Bahagia yah *

**TAMAT**

Cerpen 2

Setelah acara akad nikah selesai dilaksanakan. Ray dan Rinjani pergi ketempat berlangsungnya pesta dengan menggunakan mobil nikah.

Jauh dari sebelum ini, Ray sudah menyiapkan ini semua. Bahkan, demi acara resepsi pernikahannya saja. Ray menggelontorkan banyak uang untuk menyiapkan ini semua.

"Silahkan tuan putri" puji Ray membuka pintu mobil mempersilahkan Rinjani masuk.

Rinjani tersenyum, pipinya memerah mendapat pujian dari suaminya "terima kasih pangeranku"

Mobil itu melesat begitu saja ke arah gedung pesta. Sementara, Ray menyetir mobil itu. Lantaran Ray ingin selalu ada disisi Rinjani.

Sepanjang perjalanan, tangan Rinjani memegangi tangan Ray. Sepertinya, mereka sudah tidak sabar untuk Honeymoon.

Ray selalu mengusap pipi Rinjani dengan memanjakannya. Rinjani tidak segan-segan menciumi tangan Ray menyentuh pipinya.

Sungguh, hal yang membuat pasangan lain irit melihat kebersamaannya.

Konsentrasi Ray terpecah tidak memperhatikan jalan. Ray masih asik memanjakan Rinjani. Dan lupa, kalau dirinya sedang mengemudi.

***

Bali dan Yogyakarta adalah salah satu destinasi Honeymoon yang dipilih Ray dan Rinjani. Sebelumnya ada beberapa pilihan tempat yang sudah terdaftar dalam agendanya. Namun, kedua tempat ini lah yang menjadi pilihan favoritnya. Sebelum, Ray dan Rinjani pergi ke tanah suci, menjalankan ibadah umroh.

Pantai kuta memberikan kenangan tersendiri untuk mereka. Disepanjang hamparan pasir yang luas. Ray dan Rinjani bercerita tentang banyak hal. Maupun impian memliki momongan yang sudah di inginkan.

Suasana yang begitu romantis dan begitu hangat dekat dengan alam. Membuat mereka memadukan kasih.

"Ray" panggil Rinjani yang sedari tadi kepalanya direbahkan di bahu Ray sambil memainkan bunga.

"Hmmp" jawab Ray memberikan senyuman

"Ummp.. kamu mau punya anak berapa ?" Tanya Rinjani mengangkat kepalanya

"Kamu udah engga sabar yah sayang.." tawa Ray renyah

"Aku nanya serius tau" gerutu Rinjani sebal

"Baper amat" Raya mengusap helaian rambut Rinjani.

"Bodo lah"

"Hmmp.. aku mau, punya anak berapa yah.. 5 kali yahh" Ray masih meragu

"Banyak amat.." Rinjani begitu terkejut

"Kenapa emangnya ? Tadi, katanya kamu nanya.. yahh aku jawab lahh"

"Iya deh.. aku pengennya punya anak 2, tapi kembar lucu.. bisa engga yah ?"

"Insya'Allah" Ray tersenyum memeluk tubuh mungil Rinjani

"Kalau anaknya perempuan, kamu yang namaiin yah.. kalau anaknya laki-laki aku yang namaiin yah"

"Iyah sayang.." Ray mengecup kening Rinjani dengan manja

***

Destinasi selanjutnya, setelah menghabiskan waktu berdua di pantai Kuta. Sekarang, Ray dan Rinjani mengunjungi kota pelajar. Tidak lengkap rasanya jika kita berkujung ke kota ini. Tidak membawa apa-apa.

Ray dan Rinjani menghabiskan waktu liburnya dengan berkunjung ke salah satu tempat yang selalu ramai dikunjungi pengunjung. Malioboro. Tentu, sebagian besar orang sudah mengenal Malioboro sebagai tempat cinderamata terbaik di Negeri ini.

"Ray.. lihat ini, bagus engga ?"tanya Rinjani mangalungkan aksesoris kalung di lehernya

Ray menghampiri Rinjani dengan senyuman yang terpancar.

"Bagusss.. aku bantu kamu pake ini yah" jawab Ray membantu Rinjani mengalungkan aksesoris ke lehernya

"Tapi.. Ray. Aku engga berniat untuk membelinya"

"Aku yang beliin. Sayang, kalau engga dibeli. Lagi pula, kalungnya cocok dengan kamu" jawab Ray mengeluarkan uang dari dompetnya

Rinjani tersenyum bahagia melihat Ray yang begitu Romantis memanjakannya.

Sudah 3 minggu lamanya Ray dan Rinjani menghabiskam masa Honeymoon nya kedua tempat. Dan saatnya, mereka harus kembali lagi kekota mereka. Memulai lembaran baru sakaligus membangun bahtera rumah tangga.

***

Ruangan 4 x 4 dengan berdinding batu bata berwarnakan dengan dominasi warna putih.

Ray,menatap Rinjani dari balik pintu. Air matanya tumpah begitu saja, sudah sepatutnya Ray dipersalahkan dalam kecelakaan ini.

Sesekali, Ray menyeka air matanya. Rinjani masih belum sadarkan diri dari kejadian tadi. Sialnya, saat kecelakaan itu terjadi. Rinjani tidak menggunakan seatbelt.

Mengerikan !. Sungguh mengerikan, seharusnya Ray dan Rinjani tertawa bersama diacara moment pernikahannya.

Pintu kamar Rinjani terbuka.
Dokter terkejut saat melihat Ray berada di balik . Padahal, Dokter sudah menyuruh suster jangan membiarkan Ray keluar.

"Tuan Ray, kenapa anda berada disini ?" tanya Dokter mengerutkan dahi bingung.

Ray diam sesaat "biarkan saya melihat kondisi isteri saya" jawab Ray menyeka air matanya.

"Tapi,-"

"Dok, apa anda tuli ? Sudah saya bilang, saya ingin melihat kondisi isteri saya" potong Ray secepat mungkin

Dokter menggeleng-gelengkan "baik, jika itu keinginan tuan. Silahkan, tuan tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan" perintah Dokter sebelum pergi meninggalkan Ray.

Ray menatap pundak Laki-laki paruh baya itu. Setelah itu. Ray kembali melakukan hal yang sama sebelumnya.

***

Musim silih berganti-ganti, musim Hujan - musim Kemarau - musim Hujan - musim Kemarau. Kurang lebih seperti itulah, tidak ada henti hentinya Semesta memberikan kenikmatan yang tidak tertandingi. Burung-burung menyambut musik baru ini dengan bernyanyi begitu merdu.

Sudah satu tahun lamanya, Rinjani dirawat dirumah sakit ini. Bahkan, Ray selalu mendampingi Rinjani di samping tempat tidurnya.

Ray tertidur begitu pulasnya, sementara seorang suster sedang mengecek kondisi Rinjani setiap harinya. Tanpa menganggu waktu tidur Ray dan Rinjani. Suster enggan membangunkannya.

"Sungguh Romantis" gumam Suster dalam hati, sebelum pergi meninggalkan ruangan

Rinjani menggerakkan tubuhnya perlahan-lahan. Otot ototnya terasa kaku tidak bisa ia gerakkan selama satu tahun belakangan. Betapa terkejutnya, melihat Ray tertidur pulas disampingnya.

"Ahhhh.." teriak Rinjani dengan sangat histeris

Ray terbangun dengan terkejut mendengar jeritan Rinjani.

"Kau sudah terbangun, sayang" ucap Ray dengan gembira tidak ketinggalan dengan senyuman mengembang.

Rinjani melepas genggaman tangan Ray "kamu siapa ? Aku tidak mengenalmu. Pergi sana !" usir Rinjani

"Aku suamimu sayang, kita baru saja menikah"

"Suami ? Aku tidak pernah menikah dengan siapapun. Pergi sana!"

"Sayang, apa kamu sudah lupa dengan benda ini ?" ucap Ray berusaha meyakinkan Rinjani dengan memperlihatkan benda mungil di jemarinya.

Rinjani terdiam sesaat, "Pergi sana.. Aku tidak mengenalmu"

"Rinjani, aku ini suamimu. Maafin aku sayang, sudah membuat seperti ini" Ray berusaha memohom meyakinkan Rinjani

"Dokter.. Dokter.. Ada orang asing diruangan ini"teriak Rinjani begitu histeris.

"Hei..hei.. Ini aku sayang. Suamimu, apa kamu sudah lupa dengan pernikahan kita kemarin ?" tanya Ray berusaha meyakinkan Rinjani.

Perdebatan panjang terdengar sampai seluruh ruangan. Dokter dan suster yang merawat Rinjani menghampiri. Apa yang sebenarnya terjadi pada Rinjani.

Seorang laki-laki paruh baya, dengan memakai jas putih dan di temani oleh salah seorang, perempuan cantik dengan memakai pakaian serba putih dapat Mencirikan profesi mereka.

"Dokter.. Ada orang asing dikamarku" ucap Rinjani begitu ketakutan melihat Ray berada disampingnya

Dokter dan suster hanya tersenyum simpul.

"Dokter, kenapa engga usir orang asing ini ?"

"Rinjani, saya tidak bisa mengusir orang asing ini. Dia itu suamimu, kenapa harus di usir ?" ucap Dokter dengan suara lembut menjelaskan.

"Saya tidak menikah dokter,"

"Hmmp, mungkin kamu lupa sama hari bahagia kamu Rinjani"

Rinjani diam sesaat, mencoba mengingat seluruh ruang memorinya yang hilang akibat benturan keras yang menghantamnya.

"Dia bukan suami saya, tolong usir dokter !" perintah Rinjani dengan teriakan

Dokter menatap Ray yang berada dibelakangnya. Ray tau apa yang seharusnya, alan ia lakukan demi kesembuhan isterinya ini.

"Baik, saya akan keluar dari ruangan ini" ucap Ray mengalah sambil membuka knop pintu kamar.

"Dokter, udah usir orang jahat"
Rinjani tersenyum lebar.

"Sekarang, Rinjani sama suster yah"
Rinjani mengangguk setuju. Dokter memberikan isyarat ke suster. Apa yang seharusnya ia lakukan sebagai asisten dokter. Memberikan obat penenang mungkin salah satu cara terbaik.

"Rinjani, sini suster ada sesuatu untuk kamu" ucap suster sambil memberikan benda berukuran kecil itu

Dengan perasaan ragu ragu. Rinjani mencoba mengambil benda berukuran kapsul kecil. Sementara, Dokter pergi keluar ruangan menemui Ray.

***

"Dok, apa yang sebenarnya terjadi pada isteri saya ?" tanya Ray dengan nada cemas

Dokter menarik nafas "hmmp.. Isteri anda mengidap penyakit amnesia total. Short term memori dan Long Term Memori tidak berfungsi dengan normal. Mungkin, akibat benturan keras saat kecelakaan waktu itu"

Ray menatap kosong, tidak percaya apa yang barusan dia dengarkan.

"Apa penyakit ini ada obatnya dok ?" tanya Ray kembali.

Dokter menggeleng. Satu pertanda buruk menghantam rumah tangga Ray & Rinjani.

"Dokter, sedang tidak bercanda bukan ?" Ray mencoba menanyakan kembali

"Saya tidak bercanda, dan ini penyakit yang sampai saat ini, belum ada obatnya"

Ray diam sesaat. Menyenderkan tubuhnya di dinding rumah sakit, sambil mengumpulkan sisa tenaga setelah mendengarkan vonis dokter tentang keadaan isterinya saat ini.

"Maaf, saya permisi" kata dokter meninggalkan Ray sendirian

***

Ray menatap Rinjani dengan linangan air mata. Seperti itukah, rencana Tuhan memberikan cobaan yang menimpa keluarga baru Ray dan Rinjani.

Ray mengusap setiap helai rambut Rinjani. Sebelum Ray pergi keluar, Ray mengecup kening Rinjani.

"Aku cinta kamu" bisik Ray di telinga kanan Rinjani setelah itu, Ray membungkus Rinjani dengan selimut.

***

Ruangan 4 x 4 m2 dengan berdinding batu dan bercatkan warna putih.

Tidak ketinggalan dengan aroma bau obat memenuhi seluruh ruangan ini.

"Dok, apakah isteri saya bisa disembuhkan ?" tanya Ray meminta penjelasan dokter.

" penyakit Isteri anda tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa, diberikan obat penahan rasa sakit" jawab dokter sambil memberikan resep obat.

Ray menghela nafas "kalau begitu, terima kasih dok" ucap Ray pamit
Ray mendorong kursi roda Rinjani pergi meninggalkan rumah sakit. Pikirannya masih diselimuti rasa bersalah dan tidak percaya.

***

Di kantor ...

Sudah satu minggu lamanya Ray sengaja mengambil cuti kantor. Dan sekarang, Ray harus melanjutkan aktifitasnya seperti biasanya.

"Hai, ada pengantin baru nih" sapa Bunga

Ray hanya memberikan senyuman tipis.

"Bagaimana,sama honeymoon nya ?" Bunga mencoba mencari tau

Ray hanya diam sesaat.

Setelah itu, Ray mengabaikan perkataan Bunga "Bunga, aku harus ke mejaku menyelesaikan tugas kantor" kata Ray

Bunga tersenyum tipis, ada yang aneh dari tingkah laku Ray hari ini. Bunga berusaha tidak ingin mencari tau.

Mungkin, Ray lelah setelah acara resepsi pernikahan dan honeymoonya.

Konsentrasi nya terpecah menjadi dua, disatu sisi Ray harus bergelut dengan waktu menyelesaikan pekerjaan kantornya yang sudah menumpuk. Disini lain, Ray harus mengkhawatirkan kondisi kesehatan Rinjani dirumah. Walaupun, Ray sudah mengunci semua pintu agar Rinjani tidak keluar rumah.

Jahat ? Jelas. Tidak seharusnya, Ray melakukan hal itu ke Rinjani. Terlebih, Rinjani adalah isterinya. Calon ibu dari anak anaknya nanti. Ray melakukan ini demi kondisinya Rinjani tidak lebih.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, para penghuni kantor bergegas keluar mencari makan di kantin kantor. Ada sebagian orang yang masih setia menatap layar komputer berlama-lama.

"Ray.." panggil suara perempuan dari ruangan direktur

Langkah Ray terhenti. Mencari sumber suara yang memanggil namanya

"Iyah, ada apa bunga ?"

Bunga mengatur nafasnya setelah berlari kecil dari ruangan direktur "habis istirahat nanti. Disuruh keruangan bos"

"Hmm.. Ada apa yah, bung ?"
Bunga mengangkat bahunya "Gua kurang tau kalau masalah itu yah"
Ada kerutan di dahi Ray.

Tidak biasanya, Ray dipanggil Direktur. Kinerja kerjanya selama bekerja di perusahaan ini menjanjikan setiap tahunnya.

"Oke deh, thanks yah bung"

"Sama sama"

Hari ini, Ray benar benar begelut dengan sang waktu. Ray harus menyelesaikan tugas kantornya. kemudian, Ray harus cepat pulang kerumah  memberikan makan dan obat ke Rinjani.

Setelah itu, Ray harus menemui atasannya sehabis makan siang nanti.
Sungguh melelahkan bukan ?
Bahkan, Ray selalu mengabaikan kondisi kesehatannya sendiri. Ray tidak pernah mengeluh dihadapan isterinya yang sedang sakit.

Ray tidak pernah menceritakan kabar buruk yang menimpa isterinya ke pada teman teman maupun rekan kerjanya.

Baginya, jika Ray mengeluh dengan keadaan. Tidak akan pernah terselesaikan.

Kesal ? Marah pada semesta ? Tentu saja, tidak pernah terpikirkan oleh Ray. Bahkan, Ray bersyukur Semesta tidak membawa pergi Rinjani membawanya pergi ketempat terindahnya. Ray tidak ingin kehilangan Rinjani dalam waktu dekat.

***

Di Rumah ...

"Assalamualaikum, aku pulang" ucap Ray memberikan salam sambil membuka knop pintu

Rinjani hanya menatap Ray kosong.

Setelah itu, mengalihkan pandangannya ke acara televisi kesayangannya.

Ray sengaja, membiarkan Rinjani menonton televisi seharian penuh. Sekedar melepas rasa bosan dan sendirinya di rumah.

"Hai, lihat apa yang aku bawa ?" tanya Ray sambil menunjukkan 2 bungkus plastik hitam.

Rinjani tidak merespon pertanyaan Ray. Tatapannya masih kosong.

"Aku bawa sop buntut tempat langgananmu nih" ucap Ray kali ini dengan sumringah

Ray tau makanan kesukaan Rinjani saat mereka berpacaran. Sop buntut racikan Mas Darmo salah satu makanan favorit Rinjani. Bahkan, Mas Darmo sudah hafal saat takaran bumbu racik untuk pesanan Ray dan Rinjani saat berkunjung ke warungnya.

Ray menaruh sop buntut itu di mangkok. Kemudian, Ray mengambil nasi bungkus yang sengaja ia belikan tadi.

Semenjak Rinjani sakit, Ray selalu membeli nasi ke warung padang didepan kompleks rumah. Bukan berarti Ray tidak bisa menanak nasi. Melainkan, karena kesibukan Ray yang harus membagi waktu kerja dan menyuapi Rinjani makan.

"Sayang, ayo makan. Udah aku beliin loh"

Rinjani menggeleng.

"Ayo makan sayang, biar cepet sembuh kamu nya" Ray mencoba membujuk Rinjani makan
Rinjani menatap nasi yang berada disendok.

"Makan yah," Ray berusaha membujuk Rinjani

Satu Suap..

Dua Suap..

Tiga Suap..

Rinjani melahap habis makanan yang Ray kasih. Ray tersenyum simpul melihat isterinya ada peningkatan signifikan untuk makan.

Ray menatap jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 12:30 itu berarti, waktu istirahat Ray tersisa 30 menit lagi.

Ray langsung memberikan obat pribadi Rinjani. Kemudian, mendudukkan Rinjani menonton televisi.

Secepat mungkin, Ray harus tiba di kantor 5 menit sebelum waktu makan siangnya habis.

Satu hal yang Ray lupa ...

***

Mobil Ray begitu cepat membelah jalanan ibu kota. Sementara itu, Ray harus bejibaku melawan waktu, waktu istirahatnya akan habis 5 menit lagi.

Jika Ray tidak sampai kantor pada waktunya, akan ada bencana besar bagi karirnya di perusahaan tempat ia bekerja.

"Masih ada waktu" gumamnya dalam hati. Saat mobilnya tiba di lobby parkiran perusahaan.
Ray langsung menuju lantai paling atas.

Lantai atas sengaja diperuntukkan untuk jajaran petinggi perusahaan.

"Bapak ada didalam ? Tadi, bunga menyampaikan saya harus menemuimya sehabis istirahat" kata Ray pada sekretaris pribadi direkturnya

"Tunggu sebentar" jawab perempuan itu, perempuan itu langsung menghubungi atasannya

Sementara Ray, masih memerhatikan percakapan antara sekretarisnya dengan atasannya.

"Anda dipersilahkan masuk " kata Sekretaris mempersilahkan Ray langsung menemui atasannya.

Ray langsung membuka knop pintu ruangan direktur. Ada rasa gugup tengah menyelimutinya Ray sempat meraba raba apa ia sudah melakukan kesalahan fatal ?

"Permisi pak, apa betul bapak memanggil saya ?"tanya Ray pada pria paruh baya duduk dikursi direktur.

"Iyah, silahkan duduk."

"Terima kasih pak"

Pria paruh baya itu tengah membolak-balikkan berkas yang tengah dibacanya. Kemudian, pria itu melingkarkan tulisan yang menurutnya kurang mendapat perhatiannya.

Ray menelan ludah apa itu berkasnya yang tempo hari ia berikan ke bunga sebelum melangsungkan pernikahan.

"Ray Adiyaksa, apa kamu masih berniat bekerja di perusahaan ini ?" tanya Pria paruh baya itu dengan suara meninggi.

Ray terdiam sesaat. Entah, angin apa yang sudah membuat atasannya marah kepadanya.

"Tentu pak, saya membutuhkan pekerjaan ini" Jawab Ray

"Lihatlah.. Semua laporan yang kamu buat jauh dari apa yang diharapkan" pria paruh baya itu tidak mengurangi nada bicaranya.

Ray membaca laporan pertanggung jawabannya selama 1 bulan terakhir. Sudah Ray duga akan seperti ini. Bahkan, sebelum ia masuk kerja pun Ray memikirkan hal ini pula.

"Saya mengakui kesalahan ini pak, saya minta maaf. Saya sudah membuat rekapnya. Besok akan saya bawa kembali" kata Ray

Pria paruh baya itu masih memijit pelipis matanya "apa konsekuensinya jika rekap itu tidak juga memuaskan saya ?" tantang pria paruh baya

Ray menelan ludah. Ray tidak bisa menjawab tantangan itu. Ray membutuhkan pekerjaan ini untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya dan berobat isterinya.

Ray tidak pernah bisa membayangkan apa jadinya jika ia dipecat dan menjadi pengguran. Sungguh memalukan

"Jika tidak ada jawabannya. Mohon maaf, kontrak kerja anda akan saya putus dan akan saya cari pengganti selai anda. Bagaiamana ?" tawarnya kali ini

"Baik pak, besok pagi jam sebulan akan saya bawa rekap bertanggung jawabannya ke bawa. Jika tidak memuaskan bapak, saya akan mengundurkan diri" kata Ray
mengulang pernyataannya sambil menyetujui konsekuensinya

"Oke, kalau begitu anda boleh kembali bekerja"

Ray berpamitan. Nafasnya terasa sesak saat keluar dari ruangan direktur itu.

***

Hampir 12 jam lamanya Ray berkutit didepan layar komputer. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Penghuni kantor sudah pulang dari pukul 5 sore. Ray masih menyelesaikan pekerjaannya yang tidak sempat dipegang selama 2 minggu.

"Lebih baik, aku selesaikan di rumah" pikir Ray dalam hati

Ray langsung memasukkan seluruh isi berkas ke dalam tasnya. Mobil melaju begitu cepat, jalanan ibu kota terlihat ramai malam in. Tidak ada tanda tanda akan datangnya turun hujan.

Butuh waktu setengah jam saja, Ray tiba di halaman rumahnya.

"Assalamualaikum, aku pulang" ucap Ray membuka pintu yang terlihat begitu sepi.

Ray melemparkan tas kantornya ke sembarang tempat.

Setelah itu, melepaskan sepatu kerjanya dan menaruhnya di rak sepatu.

Langkahnya terhenti saat melihat robekan kertas berada dibawah. Ray mengikuti robekan kertas itu. Hingga di salah satu ruangan yang didalamnya ada isterinya. Rinjani.

"Rinjani.... Apa yang kamu lakukan sama dokumen penting ku" ucap Ray dengan nada meninggi. Melihat robekan kertas itu sudah dirobek Rinjani.

Rinjani menatap Ray dengan tatapan kosong.

Ray terus terusan memarahi Rinjani tidak karuan. Rinjani tidak tau, kertas yang dirobeknya itu ada surat perjanjian kontrak kerjanya dan hasil rekap per tanggung jawabannya.

Ray memandang mata isterinya, mata cokelat yang indah tampak berkaca-kaca. Mata itu selalu membuat Ray jatuh cinta tanpa berkesudahan.

"Ya tuhan, apa yang aku lakukan ? Isteriku sedang sakit, kenapa aku begitu emosi. Kalau dia normal dia tidak akan melakukan hal bodoh ini"

Ray menatap Rinjani lagi, kemudian Ray memeluknya.

"My dear, forgive me" bisik Ray memeluk tubuh Rinjani begitu kuat

Sepanjang malam, Ray menyesali perbuatannya yang membuat isterinya terkejut. Semoga saja, tuhan mengampuni nya. Ray selalu menyelipkan doa doa pada semesta. Semoga saja, isterinya bisa disembuhkan.

Pagi hari, seperti biasa Ray selalu melakukan aktifitas seperti biasanya. Mencuci piring dan menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan isterinya.

"Ray" panggil suara lembut memanggil nama Ray
Ray menoleh kebelakang.

Ray begitu terkejut saat Rinjani memanggil namanya. Ray tersenyum simpul melihat isterinya berdiri di hadapannya.

"Sayang, apa kamu inget aku ?"

"Ray, maafkan aku selama ini. Aku sungguh merepotkanmu" kata Rinjani

Ray langsung berlonjak memeluk isterinya dengan erat, mencium keningnya, mengusap setiap helai rambutnya yang menggangu mata indahnya.

"Tidak sayang, kamu tidak merepotkan sama sekali. Aku mencintaimu sayang, sungguh mencintaimu" ucap Ray

Ray memeluk isterinya kembali, Rinjani membalas pelukan Ray yang begitu kuat.

Kemudian berbisik di telinga Ray "Aku mencintaimu sayang"

Saat Ray memeluk tubuh Rinjani dengan sangat kuat. Namun, Ray merasakan pelukan Rinjani terasa terlepas.

"Sayang"

Tak ada jawaban dari bibir manisnya, Ray menatap Rinjani. Mata Rinjani nampak terpejam. Bibir manisnya tersenyum manis..sangat manis. Wajahnya tenang. Ternyata, Rinjani sudah pergi untuk selama-lamanya. Ray menangis sejati jadinya.

"Sayang, aku tetap cintamu sampai kapanpun. Pergilah dengan tenang. Bawa cintaku, bawa hatiku.." Ray tidak bisa berkata kata lagi. Rinjani terlelap pulas tepat di pelukan Ray.

***

"Setia itu sederhana. Berada didekatmu,di pelukanmu, sudah lebih dari cukup bagiku memberikannya arti "Setia" dan menulisnya dalam catatan kita.

Tak peduli, bagaimana pun, kondisi fisikmu aku akan selalu mencintaimu. Bahkan, saat  Tuhan mengambil memorimu tentang aku. Tentang kita.

Aku masih setia menemanimu, menghidupkan kembali setiap moment moment yang begitu indah yang kita lalui.

Kau tau, Tuhan selalu mempunyai rencana dari semua rencana agar kita belajar dan berjuang bersama.

Tuhan, begitu baik memberikan rencananya, karena Tuhan adalah Maha Perencana. Tugas kita menjalankan Rencana Tuhan mudah.

Nikmati saja prosesnya. Semesta akan tau caranya bekerja dan memberikan apa yang semestinya kamu dapatkan.

Hingga, Semesta menghadirkan pertemuan kedua nanti saat kita tiada. Disinilah, hasil kerja dari semesta menulis.

Bahwa, cerita cinta tentang kita sudah dikemas rapih berpitakan manis untuk dibaca banyak orang.

Hingga seluruh isi jagat raya tau, seperti inilah aku mencintaimu, seperti inilah kamu mencintaiku. Sederhana bukan ?"

~TAMAT~