Prayoga D Wibowo
ONE DAY
"Jika esok aku (berhasil) ,
Kamu , akan aku jemput kembali"
❤❤❤
Dia masa lalumu kini kembali lagi.
Menawarkan cinta yang tulus untukmu.
Menawarkan pundak untuk kamu jadikan sandaran melepas rasa lelahmu.
Tapi ,
Dirimu sama sekali tak menoleh kehadapannya sedikitpun.
Bahkan , kamu memilih sahabat dekatnya untuk kamu jadikan sandaran sekaligus melepas rasa lelahmu.
❤❤❤
Mencari pengganti selain dirimu ?
Terasa dia tak mampu mencoret namamu dalam kisahnya.
Seakan hal terbodoh yang dia lakukan.
Seberapa hebat kamu berpaling padanya ..
Seberapa kuat kamu menepikan cintanya ..
❤❤❤
Kemana pun kamu pergi ..
Kemana pun kamu melangkah ..
Percayalah , dia selalu ada disitu
Selalu mencari ruang kosong untukmu kembali ke pelukannya
❤❤❤
Dia paham akan hal itu..
Tentang cinta yang benar benar di perjuangkan
Tak peduli dada yang rapuh karena cemburu..
Tak peduli hati yang remuk karena rindu ..
Meski , kamu tak lagi mencintainya seperti dulu ..
Saat jemari mu mengikat jadi satu dengan jemarinya ..
❤❤❤
Dia tak bisa lama lagi menahan rasa itu.
Dia benar-benar mencintaimu ..
Dia ingin memiliki mu dengan utuh, termasuk luka mu ..
Bahkan , kamu tidak akan pernah tau.
Namamu selalu disebut dalam bait doa
❤❤❤
Melainkan , kamu datang dalam dunia nyata.
Menjadi teman hidupnya ..
Dia tidak pernah main-main dengan janji yang ia ucapkan.
Dia ingin membuktikannya ..
Dia mengharapkanmu sejak lama..
Menunggumu dengan sabar ..
Tapi ...
(Kamu tak pernah datang untuknya)
❤❤❤
*Klise Masa Lalu ..*
( Author POV )
Laki-laki itu tengah duduk di emperan halaman sekolah. Tangannya di masukkan kedalam switternya. Laki-laki itu tengah memperhatikan sekelilingnya. Ternyata Dia begitu asing datang pada hari ini. Sementara, Laki-laki itu harus menemui teman SMP nya yang sedang mengikuti kegiatan Estrakulikuler.
Sesekali pandangannya dia alihkan melihat orang yang berlalu-lalang. Benar-benar asing berada di tempat ini. Tidak seharusnya dia datang pada hari ini. Seharusnya, dia tengah menikmati aktivitas weekendnya di rumah.
Tiba-tiba datang seorang perempuan dengan memakai baju kemeja merah, celana levis tidak ketinggalan dengan topi merah menghampirinya. Entah , dengan tujuan apa perempuan itu menghampirinya.
"Hai.. ade" sapa perempuan itu yang bernama Ka' Damayanti terlihat dari name tag di atas kantung bajunya
".." Laki-Laki itu membalas sapaan itu dengan tersenyum simpul.
"Boleh duduk disini ?"tanya Ka' Damayanti
"Boleh " jawabnya ketus sambil menggeser tempat duduknya.
"Namanya siapa ?, Nama aku Damayanti biasa dipanggil Ka' Damay" Tanya Ka Damayanti sambil mengulurkan tangan berkenalan.
"Aby Gaill Wicaksono" balasnya kembali ketus sambil membalas uluran tangan Ka' Damayanti.
"Baru pertama kali yah , ? Biasanya kalau kita berkenalan atau ketemu kaya gini. Namanya PPM" ucapnya sambil menjelaskan dari jabatan tangannya
Gaill hanya diam mematung, memperhatikan Ka' Damay menjelaskan maksud dari berjabat tangan tadi.
"Kamu berminat masuk paskibra ?" Tawar Ka Damayanti sekaligus promosi Eskulnya
"Saya disini lagi nunggu teman saya. Sean" jawab Gaill mencari sosok yang dicari.
"Kebetulan Sean lagi ada di dalam barisan. Coba aja kamu gabung dulu sama eskul kita" ajaknya mencoba meyakinkan Gaill
".."
"Ayo udah gabung dulu" ajak Ka Damayanti sambil menarik lengan Gaill.
❤❤❤
Perlahan Gaill mencoba mengenal lebih dekat dan mencoba beradaptasi dengan mengikuti kegiataan Estrakulikuler ini.
Sebenarnya, Gaill tidak berminat mengikuti eskul ini. Menurutnya, estrakulikuler Paskibra tidak cocok dengan laki-laki. Toh , tidak ada salahnya mencoba sekaligus menambah wawasan dan pengalaman.
Kurang dari 1 bulan dari kedatangannya ikut menjadi anggota kegiatan ini. Gaill terpilih menjadi salah satu pleton. Yang akan nantinya mengikuti lomba 2 bulan lagi.
Awalnya , Gaill sempat menolak dengan memberikan beberapa alasan yang menjadi pendukungnya, agar tidak terpilih menjadi bagian pleton lomba. Tapi, percuma saja Gaill memberikan alasan itu tidak di hiraukan pelatih eskul ini.
Apa boleh buat.
Benar-benar menyita waktunya. Seharusnya,Gaill bisa beristirahat di akhir pekan. Tapi, Gaill harus mengejar materi untuk lomba nanti.
Sempat Gaill merasa, ada kebencian dari anggota lain yang melihat Gaill terpilih menjadi bagian pleton lomba.
Oke, postur tubuh Gaill tinggi dibandingkan anggota lain dan terlihat gagah membuatnya terpilih menjadi bagian dari pleton lomba.
Selama Gaill mengikuti estrakulikuler ini. Gaill mencoba mengenal satu persatu teman-temannya. Baik yang sejenis maupun yang lawan jenis.
Awalnya Gaill, sempat frustasi ikut estrakulikuler ini dengan lantaran tidak memiliki teman yang bisa diajak bercanda dengannya.
Gaill mencoba bertahan, dan alasan bertahannya yaitu Gaill ingin mengenal perempuan itu yang di ketahui namanya
Dealova Rosalina N
❤❤❤
Sudah 2 bulan lamanya Gaill mengikuti eskul ini. Bahkan, lomba pun telah usai. Jadi, Gaill tidak perlu menyiapkan tenaga lebih untuk berlatih.
Ketertarikannya mengenal lebih dekat lagi untuk berkenalan. Membuat Gaill menyimpan perasaan untuknya. Entah , perasaan itu tidak tau datangnya.
Gaill mencoba mengirimkan surat untuk Dealova. Karena saat itu , anak sekolah tidak diperbolehkan membawa Alat komunikasi. Jadi , alternatif lain yaitu Gaill mengirimkan surat untuknya.
Aula
Tempat yang jauh dilalui banyak orang. Menjadi tempat untuk pertama kalinya Gaill memberanikan diri duduk berduan dengan lawan jenis. Sempat timbul perasaan gugup Gaill mencoba menenangkan semuanya.
"Ada yang mau diomongin ?" Tanya Dealova membuka obrolan
"Ada , " jawab Gaill gugup
"Yaudah langsung aja " ucapnya datar
Gaill menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan pikirannya dan perasaan gugupnya.
"Boleh gue nanya, satu hal ke lo ?"tanya Gaill kali ini
"Hmmp"
"Apa lo udah punya pacar ?" Gaill mencoba menanyakan langsung pada inti pembicaraannya
Dealova terdiam , tidak tau apa yang harus dia katakan ke Gaill. Gaill masih menunggu jawaban Dealova.
"Hmmmp.. mungkin bagi lo terlalu cepat , kita udah saling kenal kurang lebih 3 bulan. Gue rasa itu lebih dari cukup"
Dealova masih terdiam mendengar Gaill
"Gue pengen jujur ke lo, sebenarnya gue suka sama lo , yah terserah lo mau terima gue apa engga" ucap Gaill
".."
"Lo mau jadi pacar gue ?" Tanya Gaill membutuhkan kepastian Dealova.
Dealova menatap Gaill lekat melihat kesungguhan dari perkataan Gaill menjalin hubungan dengannya. Awalnya, Dealova sempat ragu dalam hal ini. Sebelumnya Dealova belum pernah menjalin hubungan.
Jangankan menjalin hubungan. Sekedar,bercengkrama dengan lawan jenis pun tidak pernah ia lakukan. Mungkin, sudah menjadi prinsipnya. Atau mungkin, ada hal lain yang membuat Dealova enggan untuk berteman dengan teman laki-lakinya.
"Hmmmp.. iyah gue mau" jawab Dealova menganggukan kepala
"Hmmp.. gue engga bisa kasih lo apa apa, gue janji sama lo , gue bakalan jadi yang terbaik buat lo" ucap Gaill sambil mengulurkan jari kelingkingnya
Dealova tidak tau apa yang harus dia lakuinya sekarang. Sementara jari kelingking Gaill mengudara menunggu balasan dari Dealova.
"Jangan sakitin gue yah " kata Dealova membalas uluran jari Gaill mengikat jadi satu
Gaill tersenyum bahagia mendengar hal itu. Sejak saat itu lah Gaill berusaha mencoba menjadi yang terbaik.
Bahkan, Gaill begitu hafal saat Dealova melintas dan menatap ke arah bangkunya sambil memberikan senyuman simpul. Membuat Gaill dimabuk kepayang.
Gaill selalu menemani Dealova setelah pulang sekolah maupun setelah pulang mengikuti latihan eskul. Bahkan, Saat hujan pun Gaill menemani Dealova. Walaupun Dealova mencoba bilang kepadanya tapi itu semua percuma. Gaill bakalan setia menemani Dealova.
"Hai.. " sapa Gaill dari arah gerbang sekolah dengan menutupi kepalanya dari hujan.
Dealova hanya membalasnya dengan senyuman khas dari wajahnya.
Manis.
Sangat..manis, senyuman yang selalu diinginkan dan dirindukan Gaill.
"Mau gue temenin ?" tanya Gaill menawarkan.
"Engga usahlo, lo pulang aja"pinta Dealova sambil memperhatikan ke arah kanan jalan.
"Terus, kalau gue pulang. Gue bakalan biarin lo sendirian disini gitu ?"
"Hmmp.. Bukan gitu, tapi " ucap Dealova
"Tapi gue maunya nemenin lo. Titik" potong Gaill secepat mungkin.
"Hmmp.. Terserah dehh" menghempaskan nafasnya ke udara, menyerah beragumen dengan Gaill
Sore itu, hujan begitu deras. Hingga membuat seragam sekolah Gaill dan Dealova basah. Terkena percikan hujan.
Gaill dan Dealova terdiam untuk sementara waktu. Tidak ada bahan obrolan yang ingin dibahas. Gaill dan Dealova begitu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, menunggu hujan reda.
Dealova yang melipat kedua tangannya menghilangkan rasa gigilnya. Sementara, Gaill tengah sibuk merapihkan buku-bukunya supaya tidak basah.
"Gaill, gue pulang dulu yah" pamit Dealova pergi meninggalkan Gaill yang masih berdiri didepan gerbang sekolah
"Iyah, hati hati yah" ucap Gaill melihat Dealova yang memakai jas hujan.
Motor yang membawa Dealova hilang dipersimpangan jalan. Sementara, hujan sudah terlihat reda. Gaill pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.
Sangat.. Bahagia.
Kemana pun dan Dimana pun Dealova berada. Gaill selalu menyempatkan hadir menemani Dealova. Gaill benar benar ingin membuktikan janjinya menjadi yang terbaik untuk Dealova.
Promise ..
"Yang kamu butuhkan, bukan genggaman yang saling mengeratkan. Bukan pula, pelukan hangat yang diinginkan. Pada akhirnya, yang kamu butuhkan, senyuman manis yang dirindukan tanpa berkesudahan"
❤❤❤
*Spesial Day*
( Gaill POV )
Jam weker kamar berdering begitu keras di atas nakas. Aku membuka mata yang masih mengantuk semalaman bergelut dengan ribuan aksara.
Akhir-akhir ini, aku selalu tidur tengah malam. Mungkin aku terkena penyakit insomnia yang membuatku selalu mengerjakan aktivitas tambahan di tengah malam.
Actually
Aku begitu menyukai Sastra sejak 1 tahun silam. Semenjak, Aku mengakhiri hubungan dengan Dealova.
Tidak ada salahnya bukan ? berbagi cerita ataupun menceritakan kisah kita. Toh, dengan begitu banyak orang yang tidak menyia-nyiakan orang yang begitu peduli dengan kehidupan kita.
❤❤❤
Sinar matahari begitu menyengat memasuki celah-celah gorden kamarku. Membuatku bangun dari mimpi mimpiku.
Rasanya aku begitu nyaman berada didalam mimpiku. Setidaknya, aku bisa merasakan orang yang dulu pernah singgah kembali hadir dihidupku. Ups. Lebih tepatnya di mimpiku.
Aku bergegas membersihkan tubuhku. Dan bersiap mengikuti kegiatan acara perpisahaan nanti. Sebenarnya aku begitu malas memakai pakaian yang tidak biasanya aku gunakan setiap hari.
Kemeja putih panjang , celana hitam bahan, dan ditambah dengan jas hitam membuatku tidak nyaman. Kalau bukan peraturan dari Pemerintah. Mungkin , aku tidak bakal memakai pakaian seperti ini.
Jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Acara perpisahaan kali ini benar-benar begitu formal. Untuk siswa perempuan, diwajibkan menggunakan pakaian kebaya. Sementara,untuk siswa laki-laki, diwajibkan menggunakan jas hitam lengkap dengan dasi.
❤❤❤
Siswa-siswi sudah menempati tempat duduk yang sudah disediakan dengan didampingi Orang tuanya. Sementara, ada sebagian yang sedang berfoto bersama, sekaligus mengabadikan moment yang tidak akan pernah bisa terjadi lagi.
Bahkan, Aku tidak bisa membedakannya. Semua nampak begitu berbeda, polesan make up ditambah dengan penampilan yang mereka kenakan. Aku yakin,Artis Hollywood kalah.
"Gaill ... gila lo keren broo" sapa Sean dari kejauhan menghampiriku
"Apaan sihh , biasa aja" balasku ketus
"Gue seriu-"
"Gue terpaksa kali" potongku secepat kilat sebelum Sean melanjutkan kata katanya
"Lo engga pernah pede Ga !" Ucap Sean menaruh tangannya di saku celananya.
"Yeee.. gue pede kali , cuman pede gue engga kaya lo terlalu gimana" balasku
"Haha.." Sean tertawa renyah
"Sean, acaranya kapan sih ?"tanyaku kali ini melihat jam tangan yang masih setia melingkar dilengan kiriku.
"Engga tau, tapi di Undangan acaranya dimulai jam setengah 8" jawab Sean memperhatikan sekelilingnya
Aku hanya bergumam panjang tanpa memberikan komentar.
"Eh.. By The Way , lo mau lanjut kemana ?"tanya Sean
"Engga tau gue masih bingung , lo sendiri ?"
"Gue mah mau lanjut ke Sekolah Pelayaran deket kampung gue, lo harus cepet cepet putusin tuh " kata Sean sambil menepuk pundakku
"Gue bingung , yahh mau gimana lagi"
"Terserah lo sihh , ayolah masuk udah mau dimulai acaranya"ajak Sean
❤❤❤
Sebenarnya tidak ada yang menarik dari acara perpisahaan tahun ini. Hanya saja , yang memeriahkan mungkin karena kehadiran adik-adik kelas yang mengisi acara ini dengan menunjukkan bakat dan keterampilannya. Sehingga , acara ini memiliki kesan tersendiri.
Aku suka dengan gaya dekorasi yang direncanakan. Begitu perfect, tidak ada kekurangan sedikitpun. Bangku-bangku penoton disusun rapih sesuai dengan bangku penonton di acara Grammay Award.
"Gaill, kira-kira siapa yah yang masuk 3 besar ?" tanya Sean sambil merapihkan dasinya yang begitu cool.
"Yang pasti bukan lo yah" candaku diiringi tawa renyah
"Kampret lo Gaill.Awas aja sihh, kalau gue yang masuk nominasi 3 besar. Baru tau rasa" ucap Sean dengan nada kesal
Aku hanya menertawakan ucapan Sean. Bukan berarti aku tidak yakin, Sean bakal menerima penghargaan. Aku tau, kemampuan Sean sampai sejauh mana.
Sean hanya mampu menguasai pelajaran menghafal saja. Sedangkan, untuk pelajaran eksat Sean tidak ada apa-apanya. Jadi, aku begitu yakin. Bukan Sean lah yang bakal menerima penghargaan itu.
Acara yang ditunggu-tunggu tiba. Saat pembawa acara membacakan pemenang sekaligus yang menjadi siswa-siswi teladan dengan berbagai prestasi. Juara 1 dengan nilai terbaik itu jatuh ke tangan ..
❤❤❤
Flashback ..
Setiap akhir pekan, Aku selalu mengajak Dealova pergi ke tempat favorit kita berdua. Tempat yang mungkin menurut orang biasa saja. Tapi , bagi kita memiliki suatu kenangan tersendiri.
Taman
Taman yang begitu indah dan menarik dengan tata letaknya yang menghadap ke Laut. Memberikan kesan lebih untuk pengunjung yang datang. Tak ketinggal dengan berbagai jenis makanan yang di janjakan pedagang kaki lima. Ikut meramaikan taman ini.
Aku dan Dealova hafal dengan citra rasanya yang begitu pas di lidah kita. Dan juga menjadikan makanan itu menjadi makanan favorit kita.
"Gaill , pesen biasa yah , jangan pedes. Okee" pinta Dealova sambil mencari tempat duduk yang kosong
"Okee" jawabku menghampiri pedagang bakso.memesan 2 porsi Bakso lengkap
❤❤❤
"Gaill kita kesana yuk " tunjuk Dealova ke salah satu tempat di pesisir pantai tak jauh dari Taman ini.
"Boleh "
Angin terasa ditubuh memasuki celah rongga baju. Senja sebentar lagi terlelap manja di pangkuannya. Kapal-kapal nelayan berlayar ke tengah laut. Berharap saja bisa mendapatkan ikan hasil tangkapannya untuk dijual mencukupi kebutuhan rumah tangganya.
"Gaill.."panggil Dealova menekuk kakinya
"Iyah" jawabku mengangkat kedua alis
"Udah berapa lama sih kita pacaran ?"tanya Dealova menatap Gaill serius
"Hmmp.. hampir 2 tahun deh" jawabku sedikit tidak yakin dengan ingatanku
"Lama juga yah"
Aku tidak mengerti maksud dari pertanyaan Dealova " Emangnya kenapa De ?"tanyaku
"Engga apa apa sih" jawabnya di iringi tawa renyah
"Kiraiin ada apa " kataku kembali menatap dua pulau yang terpaut oleh batas laut
Sesaat kita terdiam menikmati Sunset yang begitu indah jika dilihat dari tempat ini.
"Gaill, ada yang ingin gue tanyaiin" Tanya Dealova menggigit bibir bawahnya
"Tanya apa emangnya ?" Jawabku menggeser tempat dudukku semakin dekat dengannya.aku begiti antusias mendengar pertanyaan dari Dealova
"Hmmmp.. tapi gue engga bisa lakuiin ini ke lo" katanya kembali membuat kepalaku semakin pecah engga mengerti maksudnya
"lakuiin apa sih De ?, to the point aja"
"Guee mau kita berakhir aja , gue mau fokus dulu sama pendidikan gue. Lo bisa kan ngertiin ini ?"
Seakan darah yang mengalir dalam tubuhku berhenti mengalir. Bumi berhenti berotasi. Bahkan , aku merasa mentari tak lagi menyinari bumi. Terasa gelap gulita tidak ada cahaya sedikit pun.
Ada yang menghancurkan pertahananku. Bahkan, semesta paham apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Aku berusaha kuat ketika mendengar apa yang barusan aku dengar. Lagi lagi aku gagal, ucapan itu berhasil merobohkan pertahananku hingga membuat diriku tumbang.
"Gaill , you hear ?"
" Hmmp. Kalau itu jalan terbaik untuk kita , apa boleh buat" jawabku spontan
"Lo engga marah kan ?" Tanyanya berharap saja keputusannya engga salah
"Kenapa harus marah ?. Gue hormati keputusan lo" balasku
"Terima kasih yah Gaill. Udah dateng ke hidup gue, kalau gue udah selesai lanjutin pendidikan gue. Gue bakalan-,"
"SsSsSt .. perempuan engga bagus buat janji" jawabku memotong perkataannya
"Kenapa emangnya ?"
"Engga bagus aja , intinya Don't Forget. Okee"
Dealova hanya terdiam mematung. Engga bisa menatap wajah Gaill
"esok , lo pantes ko dapetin yang lebih dari gue" kataku memberikan senyuman simpul.
"Gaill .."
"Lo pantes dapetin itu semua"
"Cukup Gaill, "
"Maafin gue yah , gue engga bisa jadi apa yg lo harapin. Jujur gue engga bisa buat lo ketawa kaya lo nonton aksi Roman Atkinson dengan tingkah konyolnya. Gue engga bisa kaya Leonardo D'Caprio begitu perfect tampilin adegan Romantis di Film "Titanic" kataku
"Gaiill..."
"So , inilah gue dengan segala kekurangan gue. Sekali lagi maafin gue De" ucapku menggenggam tangannya
"Gaill.. lo udah lakuiin hal yang lebih ko, udah engga usah dibahas lagi yah"
❤❤❤
Perempuan itu menempati janjinya yang dia ucapkan dahulu. Perlu kalian tau perempuan itu memenangkan juara 1 kandidat siswi teladan dengan perolehan Nilai Ujian Nasional terbaik satu sekolah.
Dealova Rosalina N
Tepukan tangan penonton begitu riuh. Mencari sosok Dealova Paramita naik ke atas panggung.
I'm proud You ..
❤❤❤
"Selamat yah udah berhasil dapet juara 1"kataku mengulurkan tangan memberikan ucapan selamat.
"Hmmmp.. sama sama" balesnya tak ketinggalan dengan senyuman yang mengembang.
Pecundang !!!
Kenapa kamu tidak menagih janjinya ? Takut ? Lupa ?. Bodoh !. Sekali kamu ini. Dia sudah berjanji untukmu.
Kalian boleh menyalahkanku kenapa aku tidak menanyakan perihal janji itu.
Kalian boleh memberikan label apapun kepadaku.
Tapi, kalian tidak akan pernah mengerti. Ada hal lain yang tidak bisa kalian mengerti kenapa aku begitu Pecundang ! Bodoh !
Selamanya kalian tidak akan mengerti alasanku yang sebenarnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan satu Hal ke Tuhan. Satu saja , Kenapa Tuhan tidak menciptakan Cinta & Luka berada dalam satu paket ?. Kenapa Tuhan lebih memilih memasukan Rindu & Cinta dalam paket tersebut ?. Tidak dengan Luka !"
❤❤❤
*The Chance*
( Dealova POV )
Aku ingin mengulang waktu yang telah berlalu. Aku ingin memperlambat waktu supaya aku bisa berlama-lama bersamamu. Aku mencintaimu sejak lama, tapi orang lain sudah lebih dahulu mendapatkannya.
Andai saja , Orang lain itu kamu mungkin aku tidak ingin melepasmu begitu saja ke pelukan wanita lain. Ataupun merelakanmu dengan perempuan lain.
Tapi, sekarang aku tidak perlu menunggu lama lagi mencari pengganti. Kamu datang menghampiriku. Mengajakku menjelajah indahnya cinta. Walaupun luka lamaku dengan orang lain belum sempat mengering.
Aku yakin, Giovani pasti bakal menggantinya dengan kebahagian. Membuatku kembali tersenyum. Bersamamu aku pasti melupakan dia.
Hanya Bersamamu Sayang ..
❤❤❤
Seperti biasa, selepas pulang kerja.Giovani menjemputku di depan kantorku.Setiap detik,Setiap hari, Giovani selalu membuatku tersenyum. Tak jarang Giovani selalu mengingatkanku supaya jangan lupa makan.
Giovani benar-benar berbeda. Ternyata, omongan orang lain yang menjelekkannya. Kalau Giovani playboy ternyata tidak benar. Bahkan, aku begitu percaya padamu menjaga hati kecilku.
"Hai .." sapaku menghampirinya
"Hai sayang" balas Giovani melepaskan maskernya yang menutupi separuh wajahnya
"Udah lama yah ?" Tanyaku
"Engga kok , baru juga sampe" katanya sambil mengusap rambutku.
"Bener ?" Tanyaku meyakinkan dirinya
"Iyah sayang .." ucap Giovani menekankan kalimat terakhir.
"Hmmp.. oke deh"
"Kita pergi ke tempat biasa yah, ada yang mau aku omongin" ajaknya nyengir kuda.
"Omongin apa emangnya ?" Jawabku mengerutkan dahiku
"Kepo , ayoo" ledekknya diiringi tawa renyah
"Dihh gitu okee ," balesku sambil melipat tanganku
"Yahh.. ngambek, nanti cantiknya hilang lho"
Bagaimana tidak bisa berpaling. Giovani selalu membuatku dimabuk kepayang dengan gombal-gombalnya
"Gombal dehh" jawabku membuat pipiku merah
"Hehe .. engga gombal kok, ayo sayang" ajaknya
❤❤❤
Setibanya di tempat favorit kita. Aku sengaja langsung mencari tempat dengan view yang menarik. Sementara Giovani, tengah memakirkan sepeda motornya.
"Hmmm.. enak bener yah engga nungguin " gerutu Giovani duduk disampingku
"Hehe .. maaf , eh.. emangnya mau ngomong apa ?" Tanyaku
"Tutup mata dehh ," perintah Giovani
Aku langsung menuruti perintah Giovani menutup mataku. Aku tidak tau sama sekali sebenarnya apa yang sedang direncanakan
"Udah ?" Tanyaku
"Belom" balasnya mengambil sesuatu dari jasnya
Rasanya kaya anak kecil yang sedang asyik bermain petak umpet.
"Udah , buka dehh matanya" suruh Giovani
".."
Aku begitu terkejut melihat cincin tepat di depanku.
"Will you married me ?" Tanyanya membuka kotak merah yang berisakan cincin
Rasanya aku ingin jatuh. Giovani membuat nafasku terasa sesak. Jujur , aku tidak menyangka.Giovani bakal ngelakuiin hal ini.
Aku tau betul sifatnya. Giovani bukanlah tipe laki-laki yang romantis. Tidak seperti Gaill. Hanya saja, Giovani selali bisa membuatku tersenyum dan tertawa melihat tingkah konyolnya.
Aku memandangi cincin yang berada didalam kotak merah itu.
"hmmp.. aku mau Gi" kataku sambil menganggukan kepalaku
"Hmmp.. mana tangan kamu " ucapnya sambil memasukan cinci ke jari manisku
Sungguh , ini benar-benar luar biasa. Entah , aku tidak bisa mendiskripsikan banyak hal tentang moment ini.
"Cantik" pujinya melihat cincin itu melingkar di jari manisku
"Hmmp.. terima kasih Gi" ucapku memeluk Giovani
Untuk pertama kalinya , air mataku jatuh membasahi kelopak mataku. Bukan. Bukan air mata kesedihanku melainkan air mata inilah air mata kebahagianku.
❤❤❤
Aku dan Giovani sama sama menikmati suasana ini. Udara malam membuat tubuhku dingin. Giovani melingkarkan tangannya ke tubuhku supaya aku tidak kedinginan.
"Gio, kamu tau engga ?" kataku membuka obrolan.
"Hmmp" gumamnya mengangkat kedua alisnya.
"Dulu, aku sempet kesel sama kamu" kataku memasang wajah cemberut.
"Kesel kenapa emangnya" tanya Giovani mengerutkam keningnya.
"Iyah, kamu ingat engga waktu kita satu eskul ? Kamu selalu gonta ganti pacar, dan yang aku kesel lagi. Pacar kamu itu sahabat aku sendiri" kataku menjelaskan
Giovani tertawa puas seakan tidak ada rasa bersalahnya mendengar cerita dariku.
"Kok kamu ketawa sihh" gerutuku semakin kesal
"Hehe.. Aku engga ketawa kok, jadi.. Kamu cemburu yahh ?"tanya Giovani mengedipkan satu matanya
"Hmmp.. Padahal, dari pertama kali kita masuk eskul. Aku udah suka sama kamu. Eh.., malah orang lain yang dateng"
"Hehe.. Tapi kan, sekarang aku udah jadi 'calon' "jawab Giovani memberikan kode
"Apaan sihh.. Belom sahh wlee" tepisku menjulurkan lidahku
"Sabar lahh.. Engga sabaran amat yahh kamu ini"
Aku dan Giovani tertawa puas. Hingga, perutku sakit melihat ataupun mendengarkan cerita konyol Giovani.
"So ,Honey Now.
Take me into your loving arms..
Kiss me under the light of thousand star ~ Ed Sheeran"
❤❤❤
*Aku cuman (Rindu)*
( Gaill POV )
Aku ingat betul, terakhir kamu tersenyum kepadaku. Tepat diacara perpisahaan sekolah kala itu kamu menyunggingkan pipi mu. Untuk yang pertama & terakhir.
Bahkan, aku ingat betul dengan gaun yang kamu gunakan. Begitupun dengan balutan pashmina merah jambu yang melingkar dikapalamu. Tak ketinggalan dengan tas orange bertuliskan namamu masih setia menempel di bahumu.
Bagaimana cara kamu tersenyum.
Aku tau ...
Bagaimana cara kamu merapihkan jilbab, ketika angin mencoba mengajak bermain bersamamu.
Aku tau ...
Bagaimana cara kamu melirikku saat kamu melintasi kelasku.
Aku tau ...
Semua tentangmu aku hafal diluar kepala.
❤❤❤
"Hallo Gaill.. lo dimana ? Yang lain pada nungguiin lo nih" kata perempuan dari seberang sana
"Hallo ka, sumpah gue lupa ka. Iyah tunggu 20 menit lagi gue sampe" jawabku sambil menepuk jidat
"Yaudah , jangan lama-lama yah." Perintah Eka
"Iyah-iyah"
Aku langsung bergegas mencari kunci mobilku. Untung saja, hari ini hari sabtu. Pekerjaan kantor tidak terlalu banyak. Jadi, aku bisa meluangkan waktu berkumpul dengan teman SMA.
"Gaill.." sapa Thalita dari luar pintu lift
"Iyah" balasku
"Launch bareng yuk "ajak Thalita baru keluar dari pintu lift
"Engga bisa Ta , soalnya gue lagi buru-buru ada reuni. Lusa aja yah" jawab permohanan maafku menolak ajakan Thalita
"Hmmmp.. gitu , okee deh. Lusa yah" ucap Thalita
"Iyah" jawabku langsung menuju ke tempat parkir mobil.
Mobilku melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Untungnya , jalanan ibukota. Hari ini tidak macet. Jadi , aku bisa leluasa mengendarai mobilku dengan kencang.
❤❤❤
"Kita lagi nunggu siapa sih emangnya ? Bukannya udah lengkap yah ?" Tanya Dealova mengerutkan dahinya begitu kesal menunggu seseorang.
"Nanti juga lo bakalan tau kok" Balas Eka menyeruput milkshake
"Oke "
❤❤❤
"Sorry , gue terlambat" ucap Gaill dari bawah sambil membuka jas hitamnya
"Iyah engga apa apa kok Gaill"
Betapa terkejutnya saat aku melihat Dealova & Giovani berpegangan tangan. Apa ini jawaban dari Dealova selama ini ?.
Mungkinkah mereka ?. Atau hanya sebatas persahabatan. Arghhh.. aku tidak percaya ada sebuah persahabatan tanpa ada embel-embel perasaan lain yang mengikuti. Laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa bersahabat. Mereka diciptakan untuk saling menyukai dan menyayangi satu sama lain. Bukankah begitu ?.
Aku kecewa denganmu ..
Entah , siapa yang harus aku salahkan disini.
Bukan Dealova yang akan aku benci.
Bukan Giovani yang akan aku musuhi.
Bukan.
Melainkan, diriku lah yang sepantasnya aku salahkan..
Saat aku tidak bisa meluangkan waktu banyak bersamamu.
Pada akhirnya , aku tidak bisa mengetahui perkembanganmu selama ini.
Aku menyesal ...
Jujur, andai Dealova tidak datang dengan Giovani. Aku ingin jujur kepadabya. Bahwa, aku rindu akan hadirnya. Aku rindu saat Dealova melirikku kearah bangkuku.
Aku Rindu ..
Bahkan semua penantianku sudah terjawab.Dealova datang dengannya. Mengenalkan orang lain yang menggantikan posisiku. Bahkan, Dealova dengan Giovani akan melangsungkan resepsi pernikahan.
Secepat itukah Dealova melupakan masa lalu yang dulu kita ukir bersama. Seperti itukah Janji yang ucapkan nya. Bahwa, ia akan kembali lagi, setelah berhasil menempuh pendidikan.
Aku ingat janji itu, saaat aku tengah berada pada titik puncak rasa sayangku. Dealoava mengatakan hal itu.
"Dimanakah janjimu dulu ?. Apakah ini balasan untuk semua penantianku selama aku menunggumu ?, apakah (dia) orang yang sudah menggantikan posisiku dulu"
"Gaill , jangan lupa bulan depan dateng yah" ucap Giovani memberikan undangan pernikahan dirinya dengan Dealova tanpa ada rasa bersalahnya.
Aku mengepal tanganku. Rasanya aku ingin menonjok ke arah wajah Giovani. Tapi , Eka menahan tanganku.Mungkin Eka paham dengan rasa kekecewaanku selama ini.
"Pasti , tenang aja gue engga bakalan lupa ko" balasku sambil menarik pipiku memberikan senyuman yang sedikit aku paksakan.
"Jangan percaya sama Gaill, buktinya sekarang aja dia lupa kalau ada acara reuni hari ini" sindir Eka berusaha mencairkan suasana
Aku berhasil dibuat malu oleh Eka. Hanya Eka lah yang mampu mencairkan suasana. Bahkan,Eka mampu menciptakan kekonyolan yang dibuatnya.
"Sebentar yah , ada panggilan masuk" kataku berusaha menjauh dari keramaian
Siapa yang menelfon Gaill ?. Tunangannya kah ? Atau Isterinya kah ?. Arghh.. kenapa aku seperti ini ? Kenapa aku begitu cemburu saat melihat Gaill menerima panggilan masuk. Bukan kah aku disini sudah (bahagia) dengan orang lain.
Maaf aku udah begitu egois terhadapmu ..
Maafkan aku Gaill ..
Maaf ...
"Sorry nih, gue engga bisa lama lama disini. Soalnya gue mau berangkat lagi ke Bandung. Ada launching buku disana" kataku mengambil jas
"Iyah engga apa apa kok, asal traktir kita kita ini" ledek Eka yang tiada henti hentinya.
"Iyah iyah " aku mengeluarkan uang 5 lembar ratusan ribu.
"Cukup engga ?, kalau engga telfon gue aja yah"
"Cukup kok , lebih dari cukup"
"Sekali lagi gue minta maaf yah" ucap permohonan maafku
"Iyah Aby Gaill Wicaksono. Ehh.. Congratulations yah atas novel perdananya" kata Eka
"Hmmp iyah sama sama"
"Ciyee yang sukses jadi penulis" sindir Salsa
"Apaan sih , udah yah gue tinggal dulu"
*Terima kasih sudah membuatku paham atas penantianku selama ini. Terima kasih sudah membuat diriku tersadar. Kalau Rindu dengan seseorang begitu menyakitkan. Terima kasih atas semuanya. Tugasku sudah selesai.. Puan ! Maaf , Aku mundur*
❤❤❤
*Sederhana*
( Author POV )
Flashback ...
Apa aku masih pantas mendapatkan ucapan "Selamat Pagi" ?.
Apa aku pantas di sugguhi secangkir kopi hangat di Pagi hari ?.
Jangan. Si Pecundang ini tidak pantas mendapatkan hal lebih.
Biarkan yang lalu berlalu. Si Pecundang Ini sudah terbiasa bersahabat dengan luka.
Jangan kamu melakukannya.
❤❤❤
13 Juni ...
Gaill lupa tepat hari ini Dealova sedang berulang tahun. Sungguh, Gaill benar benar lupa.
To : Dealova
Nanti gue jemput yah , gue tunggu didepan sekolah
Gaill membolak-balikan Handphone. Berharap Dealova membalas pesan singkat Gaill.
Hampir 5 menit lamanya Gaill menunggu balasan dari Dealova. Ternyata benar dugaan Gaill. Dealova membalasnya
From : Dealova
Oke deh
Singkat , padat , tapi Gaill benar-benar bahagia. Gaill ingin mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung.
Gaill sudah tidak sabar menunggu petang nanti. Menjemputmu, mengajakmu ke tempat dahulu kita kunjungi.
❤❤❤
"Sudah lama nunggu ?" Tanya Dealova menyapa ke arah sepeda motor Gaill
"Eh.. udah selesai toh, engga kok" jawab Gaill sambil membuka kaca helmnya.
"Yang benar , " Dealova mencoba meyakinkan Gaill.
"Iyah"
Tiba di tempat biasa. Tempat dimana memberikan kenangan yang pernah kita lalui berdua. Dealova begitu bingung kenapa dia diajak ketempat ini.
"Gaill. Masih ingat tempat ini ?" Tanya Dealova sambil menekuk kakinya.
"Masih ?" Jawab Gaill menatapnya sambil memberikan senyuman simpul.
"Kiraiin udah lupa "
"Kenapa harus lupa ?, lo sendiri kan yang bilang kalau tempat ini indah" jelas Gaill
Dealova kembali menatap pulau diseberang sana. Sementara kapal-kapal nelayan, bergegas pergi ke tengah laut. Mencari ikan disana untuk dijual ke pengepul
"De , ada yang gue mau kasih" kataku tertawa renyah
"Kasih apa ?" Tanyanya mengerutkan keningnya
"Tunggu disini yah , jangan bergerak sama sekali" perintah Gaill menjauh dari tempat duduk Dealova
"Emangnya ada apa sih ?"
Gaill memulai pekerjaannya melukis. Jujur saja, Gaill tidak memliki keterampilan dalam hal seni. Bahkan, Nilai mata pelajaran Seni Budaya tidak pernah mendapatkan nilai sempurna.
Hampir setengah jam Gaill baru menyelesaikan bentuk wajahnya. Butuh waktu 10 menit lagi untuk menyelesaikan hasil pekerjaannya.
Sementara, Dealova masih duduk diatas batu karang. Tempat kesukaannya saat kita berkunjung ke tempat ini.
"De.. tutup mata dehh"perinta Gaill tersenyum-senyum
"Ada apa sih emangnya Ga" jawabnya heran.
"Udah tutup aja"
Dealova menuruti perintah Gaill menutup matanya. Ada keinginan Gaill menyentuh wajahnya. Membelai helaian rambutnya. Tapi, Gaill langsung mengurungkannya. Sebab , Gaill tidak lagi menjadi orang "spesial"dihidupnya.
"Udah belom ?" Tanyanya masih menutup mata.
"Udah"kata Gaill sambil menutup wajah Gaill dengan sketsa wajahnya.
".."
"Selamat Ulang Tahun Dealova..." ucap Gaill
"Eh.. kata siapa ?" Tanya Dealova terlihat salah tingkah
"Adehh.. mana mungkin sih gue lupa. Lo lahir tanggal 13-Juni. Tepat 17 tahun yang lalu" jelas Gaill
"Bukan , maksud gue. Emang ini tanggal berapa ?"candanya
Gaill langsung menunjukkan kalender yang ada di Handphone. Akhirnya Dealova diam seribu bahasa.
"Terima kasih Gaill" ucapnya mengambil sketsa baru saja diselesaikan
"Hmmp.. bagus tak ?"
"Bagus kok" menyentuh bagian sketsanya
"De.. ada yang mau gue omongin"
"Omongin apa Ga"
"Lo mau engga balikan lagi sama gue ?" Tanya Gaill dengan nada serius
".."
"Gue tau, mungkin bakalan sulit lagi untuk diperbaiki. Asal lo tau De, gue masih sayang sama lo" jelas Gaill
"Hmmmp.. Gue engga bisa kasih jawabannya sekarang Ga" jawab Dealova memberikan kepastian
"Hmmp... Oke, gue bakalan tunggu lo"
"Apa lo yakin bakal lakuiin hal itu Gaill ?"
"Iyahh.. Pegang janji gue. Oh..iyah, kalau udah ketemu jawabannya, bawaa sketsa ini yahh" pinta Gaill
"Hmmmp.." gumamnya memberikan jawaban
"De.. lo simpen sketsa ini yah,
Jika esok , gue yang egois memilih wanita lain selain lo. Tolong, sketsanya lo buang aja !. Jika esok , lo yang egois memilih pria lain selain gue. Tolong simpen sketsanya yah , anggap aja kenang kenangan dari gue !. Dan yang terakhir.."
"..."
"Jika esok , gue engga (berhasil) dateng lagi jemput lo. Tolong ! Taruh sketsanya di makam gue yah. Supaya bisa inget wajah lo menemani tidur gue nanti" kata Gaill menggenggam tangannya.
Dan untuk yang pertama kalinya. Gaill melihat air mata Dealova jatuh.
"Hei .. engga usah nangis " kata Gaill menyeka air matanya.
"Lo engga usah takut , gue pasti kembali ko. Gue janji engga bakalan lupa sama janji gue" kata Gaill kembali
Dealova memelukku. Gaill membalas pelukannya. Entah , kenapa malam ini benar-benar malam yang kelabu.
Apa tidak ada hadirnya bintang-bintang disana. Atau langit sedang bersedih. Aku tidak tau.
"Berjanjilah, Jika esok, aku tidak (berhasil) datang lagi jemput kamu. Tolong ! Taruh sketsanya di makam aku yah. Supaya bisa inget wajah kamu menemani tidur aku nanti"
❤❤❤
*Aku (masih) mencintaimu*
( Dealova POV )
Aku berbohong tentang aku yang sudah berhenti mencintaimu.
Aku berbohong tentang aku yang sudah mampu melupakanmu.
Pada akhirnya aku paham tentang arti kebohongan ini.
Aku iri pada mega (matahari) yang setiap pagi bisa menyapamu di pagi hari.
Aku iri pada angin yang selalu bisa bermain bersama kapan pun yang kamu mau, tak peduli ketika hatimu patah.
Aku iri pada mereka yang berada didekatmu, kamu dengannya bisa berfoto bersama, tertawa lepas berdua.
Sejujurnya aku mengingankan hal itu terjadi padaku bukan pada orang lain.
Bodoh sekali diriku.aku telah memintamu melupakan semua tentangku.
Kenapa aku pula yang memintamu untuk kembali lagi kepadaku.
Mengharapkanmu sama hal-nya
Mengharapkan bintang jatuh untuk kusimpan menemani malam malamku yang kelam.
Aku ingin mendekapmu dalam pelukan dan mimpiku.
Bagaimana bisa aku mampu melakukan hal itu.
Saat bayangmu kian menjauh dari diriku.
Aku salah telah melapasmu begitu saja, aku jahat telah mempatahkan semangatmu dalam mencintaiku. Jujur, aku ingin sekali kamu kembali lagi disini.
Bernyanyi bersama,berbagi cerita dan rahasia yang dahulu pernah kita lalui.apa kamu akan kembali lagi kesini ?
Apa kamu tega melihatku jatuh,sekarat karenanya.
Saat aku mencintainya dengan tulus.
Namun,dia membalasku dengan balasan yang amat kejam.
Kamu berbeda dengannya.
Aku yakin kamu tidak mampu melakukan hal itu kepadaku.
Hai.. apa kamu tau ? akhir akhir ini aku menjadi stalkermu.
Mencari tau seluruh aktifitasmu didunia maya.
Tapi pada akhirnya aku hanya menjumpai tulisan tulisanmu yang telah usang.
kamu kemana ?
Aku mencarimu..
aku rindu dengan sebutan sederhana yang begitu saja terlontar darimu.
Peri Kecil ..
Aku rindu dengan peristiwa hujan kala itu, saat kamu
masih setia menemaniku berjam- jam.
Menunggu jemputanku.aku rindu dirimu..
Apa kamu masih ingat dengan boneka maupun gantungan doraemon yang dahulu kamu berikan kepadaku ?
Aku meletakanya ditempat terindahku. menemani malam malamku saat kamu jauh dariku.
Apa kamu ingat dengan ucapan yang dahulu kamu katakan kepadaku.
"kamu jangan takut, aku selalu disini. Toh jika suatu saat aku tak menemanimu setidaknya ada boneka kesukaanmu yang menemanimu saat aku tak kembali padamu."
Apa kamu masih ingat ?kuharap kamu masih mengingatnya.
Aku takut mereka marah padaku.
aku takut pada pemilik malam. yang mungkin tak mengizinkanku melihat Mega.
Aku takut tak menemui titik terang dalam mencarimu
Aku takut tak menemukanmu kembali.
Aku ingin tertawa bersamamu. Bukan menertawaimu saat kamu tak mampu melupakan semua tentangku. Berpura-pura tak bisa melupakanmu.
Aku akan menyebut namamu kembali. menyelipkan namamu dalam bait doaku. Memenjarakanmu dalam mimpiku.
Aku tidak ingin rindu meninabobokanku lagi.
Aku lelah, terlelap dalam ketidaktahuan arti cinta yang sesungguhnya.
Aku ingin, kamu menjadi rumah untukku.
Aku ingin, kamu mengajarkan aku membaca kita suci Al-Quran nantinya.
Aku menginginkan hal itu sayang.
kelak , jika suatu saat nanti doa doaku dijabah oleh-Nya.
Aku ingin berada tepat dibelakang posisimu.
Mengamini semua doa doa yang kamu pinta pada-Nya.
Pada akhirnya ...
Aku (Masih) Mencintaimu
❤❤❤
Aku ingin mengisi liburanku pergi ke Gramedia. Aku begitu penasaran dengan novel perdana Gaill. Apakah yang diucapkan Eka benar. Kalau sekarang Gaill sudah sukses menjadi penulis.
"Hallo .. ada De ?" Tanya Clara dengan suara cemprengnya di seberang sana
"Temenini gue yuk, ke Gramedia. Gue bosen nih" ajakku berharap Clara mau menemaniku
"Tumben banget sih lo ke Gramedia , lagi kesambet yah?" Sindir Clara tertawa puas
Clara mungkin tau, kalau aku bukan tipe orang yang suka membaca buku.
"Mau engga ?, kalau engga yaudah engga apa apa" tanyaku meyakinkan Clara
"Iyah Dealova Rosalina, tunggu gue" perintahnya
"Iyah , setengah jam lagi gue jemput yah"
❤❤❤
Aku terus mencari buku yang di tulis Gaill. Sempat timbul perasaan frustasi mencari bukunya. Untungnya masih ada tersisa satu buku.
"De .. buku yang lo cari, emangnya buku apaan sihh ?"tanya Clara menggaruk rambutnya yang engga dateng
"Yang pasti bukan buku pelajaran sihh" candaku
"Bodo lahh De"
"Hehe.. Gue lagi cari Novel" kataku menyusuri seluruh isi Gramedia
"Sejak kapan lo suka sama Novel ha ?"tawa Clara puas
"Bisa diem gak Ra !!"
"Yeee .. marah amat bu" jawab Clara
"Nahh .. ini dia Novelnya" ucapku bahagia mendapatkan novel yang di bilang Eka waktu itu.
"Ra.. Ra.. ayu kita-"
Betapa terkejutnya melihat Clara engga ada dibelakangku.
"Hmmmp.. jadi lo disini" kataku melihat Clara sedang asyik membaca buku
"SsSsSt.. berisik tau engga ?"
"Oh.. i see, pantesan aja lo anteng disini. Rupanya ada brondong toh" sindiriku
"Hehe .. ko lo tau sih"jawab Clara begitu malu mengetahui Aibnya dibuka
"Tuhh " tunjukku kearah laki-laki yang aku perkirakan umurnya masih 18 tahun.
"Eh.. lo udah ketemu sama novel yang lo cari ?"tanya Clara mengalihkan obrolan
"Udah lah"
"Coba gue liat"
"Tunggu ... , bukannya ini Gaill Yah ? Siapa dehh gue lupa " kata Clara saat melihat novel yang dicariku
"Hmmmp.. iyah ini Gaill, tunggu sebentar gue ke kasir dulu" pintaku
❤❤❤
Setiap pulang kerja ataupun saat istirahat kantor. Aku selalu menyempatkan waktu membaca novel yang ditulis Gaill.
Air mataku meleleh. aku biarkan jatuh begitu saja. Melihat kata demi kata yang ada di novel ini. Bahkan, aku paham untuk siapa cerita ini dibuat.
"Woyy.. Serius amat bacanya.. Waktu istirahat kali.." ucap Clara dengan suara cemprengnya sambil membawa 2 jus orange.
"Hmmmp.. Berisik tau engga" gerutuku sebal.
"Waitt.. Lo nangis yah ?" tanya Clara melihat butiran air mata dikelopak mataku
"Engga kok.. Sotoy banget sihh. Gua engga nangis kok" tepisku menyeka air mataku
"Kalau lo engga nangis kenapa lo usap ?" Clara berusaha memojokkanku
"Hehe.. Mungkin gue baper baca novelnya" kataku menyerah juga
"Cobaa sini, gue mau baca.. Jadi penasaran" Ucap Clara mengambil novel dari tanganku
❤❤❤
"De , ko tokoh Dahlia sama yahh kaya lo.. Apa jangan jangan Penulisnya nyindir lo yahh" vonis Clara setelah selesai membaca Novelnya
"Emang sama.. Lo engga usah nuduh dulu.." belaku
"Tapi, lo suka kann.. Kalau jadi tokoh utamanya" ledek Clara menyeruput minumannya
Aku hanya menggelengkan kepala. Aku masih memerhatikan ucapan Clara yang terakhir. Apa yang diomongin Clara benar ?
Entahlah ..
❤❤❤
*(Still)*
( Author POV )
Flashback ..
Tamu undangan sudah mengisi bangku-bangku pesta. Menyaksikan akad nikah antara Giovani & Dealova. Hadir pula , beberapa teman Smp maupun rekan kerja Giovani & Dealova.
Entah , Hanya perasaan kah atau apa. Kehadiran Gaill tidak terlihat diantara para tamu undangan.
Kemana Gaill ?
Bukankah itu hal yang bagus tidak ada hadirnya Gaill diacara pernikahaanya ?. Bukankah itu impian Dealova tidak ingin melihat Gaill terluka ?. Walaupun Dealova tau kalau ini mungkin membuatnya akan terasa sakit.
❤❤❤
Datang rombongan orang dari arah luar. Membawa banyak seserahaan yang akan diberikan kepada pihak pemelai perempuan. Dibarisan depan rombongan terlihat Giovani dengan pakaian pengantinya yang akan menghalalkan Dealova. Giovani begitu terlihat dewasa dengan pakaian pengantinya. Tak ketinggalan peci yang mungkin akan membuat sebagian kaum hawa bertekuk lutut kepadanya.
Apakah Dealova akan bahagia membangun bahtera rumah tangga dengan Giovani ?.
Bagaimana dengan janji Dealova ke Gaill tempo dulu ?.
Kemanakah Dealova yang sebenarnya ?.
Dealova tidak mungkin akan mengingkari janjinya. Tidak mungkin membuat Gaill patah hati.
"Seperangkat alat sholatnya udah dicukupkan ?" Tanya pria paruh baya yang biasa disebut penghulu.
"Sudah siap semua" jawab Giovani dengan tegasnya.
"Apa nak Giovani Azhary sudah siap ? Dan sudah hafal dengan ijab kabulnya ?" Tanya penghulu lagi mencoba meyakinkan Giovani
"Sudah siap pak"
"Baik kalau begitu tolong panggilkan pemelai perempuannya" perintah Penghulu
Tiba-tiba ..
Datang seorang gadis cantik dengan memakai pakaian pengantinya. Jangan ditinggalkan dengan polesan make up yang membuat pengantin perempuan itu semakin cantik.
Tamu undangan begitu terkejut melihat Dealova memakai baju pengantinya. Acara akad nikah sebentara lagi akan berlangsung.
Hening ..
Tentu , para tamu undangan sudah tidak sabar menunggu sepasang kekasih akan melangkah ke jenjang pernikahan.
"Bismillahirohmanirohim.."ucap Penghulu dengan dibantu pengeras suara
"..."
"Tunggu dulu" ucap perempuan yang terlihat dari kondisi fisiknya tengah mengandung.
Semua orang nampak bingung dengan kehadiran perempuan tersebut. Perempuan itu menghampiri panggung tempat berlangsungnya akad nikah.
PLAAKKK !!
Sebuah tamparan mendarat mulus tepat di pipi kanan Giovani.
"Tolong pak penghulu. Batalkan akad nikah ini," kata perempuan itu dengan nada memohon.
"Apa-apaan ini" elak Giovani dengan lantang.
"Saya tengah mengandung anak Gio pak, Gio sudah berjanji akan menikahkan saya"
Semua tamu undangan begitu terkejut mendengar perkataan perempuan itu. dengan linangan air mata yang membanjiri kelopak matanya.
"Dia bukan siapa siapa saya "
"Gio.. kau benar benar laki-laki tidak tau diri" ucap perempuan itu
"Cukuup.." teriak Dealova begitu histeri mendengar semuanya
"De.. semua bisa aku jelasin" bela Giovani menyentuh tubuh Dealova
"Jangan pegang-pegang, pernikahan ini batal. Aku tidak ingin melihatmu lagi Gio"
"Pergi dari.." usir Dealova sebelum akhirnya tubuh Dealova tidak mampu menahannya
❤❤❤
Seharusnya Dealova tengah menikmati masa-masa bulan madunya...
Seharusnya Dealova tengah menikmati indahnya panorama jagat raya..
Dan ..
Seharusnya Dealova tidak ada sini.. meninggalkan bekas yang tidak akan pernah bisa Dealova dilupakan.
"Gaill..Gaill..Gaill" panggil Dealova dalam alam bawah sadarnya
"Dea.. bangun nak" rintih mamah Dealova menggenggam tangannya.
"Maafkan aku Gaill.. aku ingin bersamamu.. datanglah Gaill"
"Istighfar nak"
Sementara dua orang laki laki paruh baya tengah ngobrol membahas perkembangan kesehatan Dealova.
"Bagaimana dok ? Kondisi anak saya ?"tanya Ayah Dealova
"Perkembangan Delova benar-benar memprihatinkan.. self injured yang ada dalam dirinya benar-benar membuat kesehatannya menurun"
"Tolong lakukan yang terbaik untuk putri saya dok" kata Ayah Dealova memohon
"Berapapun biayanya akan saya bayar" tambahnya
"Bukan itu pak.. ada obatnya" kata Dokter yang menangani Dealova
'Apa dok obatnya"
"Tolong turuti kemauanya. Memanggil orang yang selalu disebutnya" kata Dokter
"Gaill..?" tanya ayahnya kembali mencoba mengingat nama yang selalu disebut anaknya.
"Iyah , tolong suruh nak Gaill datang menjenguknya walaupun sebentar"
".."
Dokter itu pergi meninggalkan Ayah Dealova. Sementara Ayah Dealova masih terdiam bagaiamana caranya bisa menuruti kemauan anaknya.
"Kemana ia akan mencari sosok Gaill?"
"Datanglah.. aku (masih) disini. Temani aku sebentar saja. Apa kamu tega melihatku terluka ?"
*Rapalkan tanganmu, pejamkan matamu sejanak. Puan, mintalah keinginanmu pada semesta. Hingga akhirnya, Semesta memberikan apa yang seharusnya kamu inginkan*
❤❤❤
*Meet You.. (Again)*
( Gaill POV )
Aku malu ketika aku harus menyapamu kembali.
Aku koyak saat rindu meramu mengganggu diseparuh malam-malamku.
Entah , apa yang harus aku lakukan.
Aku tidak tau sayang ..
Aku hanya lah laki-laki bodoh yang hanya bisa mengharapkanmu.
Namun tidak pernah berjuang sedikitpun mencari tau kabarmu.
Aku lelah sayang ..
Saat penaku menulis semua tentangmu.
Semuanya.. sayang.
Dengan cara itulah,aku bisa menghidupkanmu kembali.
Menghidupkan moment kemesraan kita dahulu.
Aku ingin berjuang lagi..
Aku ingin selalu ada disisimu..
Memelukmu.. Mengecup keningmu saat aku kembali lagi pulang kerumah.
Aku ingin , kamu merayakan keberhasilanku. Disini !.
❤❤❤
Hari yang benar-benar melelahkan saat. Satu hari ini ada 3 agenda yang harus aku temui.
Pertama, Aku harus menemui Editor yang sedang mencari cover buku kedua yang saat ini aku siapkan.
Kedua, aku harus hadir diacara launching yang diusung penerbit yang menerbitkan buku perdanaku. Sekaligus berbagi kisah dengan para pembaca.
Ketiga , aku harus meluangkan waktuku nonton bareng dengan para fans The Reds Devils. Yang akan mempertemukan Manchester United vs Liverpool FC.
❤❤❤
Diacara launching buku yang berlangsung di salah satu Mall ternama di Kota ini. Pembaca begitu antusias memadati tempat yang sudah disediakan. Tak jarang berbagai pertanyaan membuat para penulis harus memberikan jawaban yang memuaskan.
Aku begitu bersyukur bisa berkumpul dengan para penulis ternama. Mungkin aku bisa mengambil pelajaran dari mereka.
"Permisi , ada urusan sebentar yah mba" kataku saat melihat perempuan yang tidak asing lagi memenuhi ruang di otakku.
"Jangan lama-lama Gaill. Acaranya belom selesai loh" bisik Mba Dwi EO acara ini.
Aku hanya memberikan isyarat tangan mengerti. Apa yang dimaksud Mba Dwi. Aku mengejar perempuan itu yang kian menjauh.
"Hei .. tunggu dulu" sapaku tidak mengurangi kecepatanku melangkah mengejarnya
"Hai.. kenapa lari ? "Tanyaku berhasil memegang lengannya
".."
"Lo.." kataku begitu terkejut melihat perempuan yang barusan aku kejar itu ternyata.
Dealova Rosalina N
"Maaf ,gue harus buru-buru" katanya berusaha melepaskan cekelan. Aku menggenggam begitu erat hingga membuat Dealova menyerah.
"Heii.. apa yang lo sembunyiin ?"tanyaku saat melihat bingkisan yang menurutku berisikan sebuah buku
".."
"Boleh gue lihat " Kataku berusaha mengambil bingkisan itu
"Janga-"
Aku begitu terkejut saat melihat isi dalam bingkisan itu. Ternyata, Dealova menyukai buku yang baru saja aku terbitkan.
❤❤❤
"Mau pesen apa ?" Tanyaku menarik kursi kafe yang berada di dalam Mall ini.
"Samaiin aja deh" balasnya melirik sekeliling kafe.
"Okee.. tunggu yah"
Aku memesan Soft Drink dan Stick.Katanya Stick ditempat ini begitu enak.
"Kenapa lo engga bilang , kalau lo suka sama bukunya ?"tanyaku meletakkan Soft Drink dan Stick.
"Terima kasih yah " ucapnya
"Lo belom jawab pertanyaan gue tadi"
"Gue.. guee penasaran sama omongan Eka dulu. Kalau lo udah berhasil terbitin satu buku. Makanya gue cari buku lo" jawabnya
"Hmmp.. kenapa engga bilang ke gue aja ?. Kalau lo bilang suka bukunya kebetulan dirumah masih ada 2 lagi" kataku menyeruput Soft Drink
"Engga usah kok , lagi juga gue udah beli kok"
Semua berlalu begitu saja. Aku sudah mulai memperbaiki hubungananku. Kalau aku bukan laki-laki pecundang.
Aku benci kata itu. Yah.. memang dulu , aku pecundang begitu kaku ngobrol dengan lawan jenis. Sekarang sudah beda. Aku memperbaikinya
Dan sekarang aku bukan lagi.
Laki-laki Pecundang !.
❤❤❤
"Malam ini ada acara engga ?"tanyaku menenggak Soft Drink yang terakhir.
"Ummp.. engga , kenapa emangnya ?"
"Gue mau ngajak lo nonton bareng"
"Nonton ?" Tanyanya engga paham dengan maksudku
"Iyah nonton bareng, kebetulan hari ini ada pertandingan bola" kataku menjelaskannya
"Oh.. pasti Manchester United yah" katanya menebak club yang aku sukai.
"Ko lo tau sih"
"Nebak aja sihh " jawabnya tertawa renyah
"Cape dehh, ayo deh nanti keburu malem lagi" ajakku mengelap bibirku dengan tissue.
"Oke deh"
❤❤❤
Aku kembali menatapmu. Menatapmu secara menyeluruh apakah kamu benar-benar Dealova.perempuan yang sempat singgah di hatiku. Perempuan yang selalu mengganggu separuh malamku. Ternyata benar , kamu disini. Menemaniku. Aku begitu bahagia sayang.
Kemerlap bintang-bintang menyaksikan sepasang insan telah lama berpisah. Mereka tertawa melihat kita kembali bersatu. Mereka bilang kepadaku kalau.
"Mereka (Bintang Altair) iri melihat kemesraan kita berdua"
Aku ingin selalu berada disampingmu. Jangan kamu tanyakan alasanya. Sebab, Cinta tidak butuh alasan bukan ?.
Biarkan kita menikmati malam malam ini. Jangan. Jangan kamu pikirkan esok sayang. Anggap saja , hari esok hari terakhir pertemuan kita. Kita nikmati saja moment ini berdua.
Antara Kamu & Aku ..
❤❤❤
"Hei .. kamu kenapa ?"tanyaku melirik kearahnya yang tampak sedih.
"Takut " jawab Dealova begitu gelisah
"Kenapa ?"
"Ceritanya panjang ," kata Dealova.
"Oke deh , untuk sementara waktu , tinggal di rumah gue De, kebetulan ada kamar kosong" ucapku kembali fokus menyetir
"Apa kata orang nanti ?" Tanya Dealova nampak takut kalau ada orang yang menyebarkan fitnah.
"Engga usah takut , kamarnya terpisah kok, lagi pula tetangga udah pada tidur bukan ?" Jelasku meyakinkan Dealova
"Iyah"
Sepanjang perjalanan aku kembali menatapnya. Hingga akhirnya, Dealova tertidur nampak begitu kelelahan. Aku tersenyum melihat dia tertidur pulas.
Sesampainya didepan rumahku. Aku membukakan Seatbelt, aku tidak berani membangunkannya. Dealova sudah begitu lelah seharian menemaniku. Aku mengangkatnya pergi ke kamar.
Dealova terlihat cantik saat ia tertidur. bentuk wajahnya yang terlihat oval, bentuk matanya terlihat biru, bentuk hidungnya terlihat mancung.
Sungguh, jika ada pilihan aku sanggup menggambarkannya kembali. Apalagi,dengan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajahnya rasanya aku ingin sekali, meletakkan dan menyelipkan nya di kerudungnya yang membungkus rambutnya.
Aku mengurungkan niat itu, sama sekali aku tidak ingin menghancurkan kebahagian Dealova dengan Giovani. Dealova yang saat ini tengah tertidur pulas dirumahku. Tidak lebih dari seorang isteri dari sahabatku. Bukan Dealova yang duku aku puja dan aku sayangi.
"Good Night.. Sleep tight and have nice dream" ucapku sambil membelai rambutnya kemudian menyelimutinya.
*Jangan. Jangan kamu tanyakan alasannya. Sebab , Cinta tidak butuh alasan Bukan ?*
❤❤❤
*Here ..*
( Gaill POV )
Aku memijit pelipis mataku. Berharap saja , dapat menghilangkan rasa lelahku menyelesaikan revisi novel yang aku buat.
Aku selalu datang ke tempat ini. Selalu memilih tempat yang sama. Selalu memilih pesanan yang sama. Saat aku datang ke tempat ini.
Aku suka melihat dekorasi dari kafe ini. Memilih dekorasi ala klasik. Terkadang , setiap Sabtu malam. Ada penampilan musik jazz menghibur pengunjung kafe ini.
Aku betah berlama-lama disini. Hanya di temani dengan secangkir kopi hangat. Aku suka !.
Aku mengambil Headshet dari tas-ku. Aku memutar lagu dari playlist musik ipod-ku. Aku memutar lagu Marron 5 -Daylight. Aku sengaja memutar lagu ini. Dengan alasan, aku bisa saja mendapat ide menyelesaikan revisi Novel aku.
"Sepertinya kenal dengan perempuan itu" gumamku melepas headshet yang menutupi telingaku
Aku berlari keluar kafe. Mengejar perempuan yang barusan melintas kafe ini.
"Cepat sekali dia" ucapku mengatur nafas terengah.
Aku membalikan tubuhku untuk masuk kembali.
Tiba-tiba ...
Suara lembut itu membuat langkah kakiku terhenti. Sepertinya aku mengenali suara itu.
"Hmmmp.. sepertinya ada yang sedang mencari nih" kata perempuan itu keluar dari persembunyiannya
Aku begitu terkejut melihat perempuan itu ternyata.
Dealova Rosalina N
"Lo.. kiraiin gue yang tadi siapa" ucapku menggaruk-garuk kepala tidak gatal
"Kiraiin lo,gue setan apa ha?" Jawabnya melipat tangannya
"Bukan gue yang ngomong yah" Dealova tertawa renyah
❤❤❤
Dealova menyeruput pesannya. Aku kembali mentapanya. Tanpa sadar, aku terlalu dalam mengamatinya
"Gaill.. liatinnya biasa aja kali" ucap Dealova melambaikan tangannya.
"Eh.. siapa juga yang lagi liatin lo" Elakku menjulurkan lidah
"Terserah dehh. Eh.. lo lagi ngapain ? Keliaatannya sibuk banget"
"Iyah nih , lagi revisi Novel nih" kataku begitu frustasi
"Coba dong gue liat, kali aja gue bisa bantu" jawab Dealova mengambil Notebook-ku
Entah apa yang di ketik Dealova. Aku tidak mengerti, aku masih mengamatinya. Tak jarang, aku memalingkan pandanganku ke luar sana.
"Udah selesai nih" ucapnya memberikan Notebook. Kemudian Dealova kembali menghabiskan minumannya hingga tak tersisa
"..."
"De... terima kasih yah , gila ko lo cepet banget sihh nemuiin peleraiannya" pujiku melihat hasil yang di ketik Dealova.
"Konfliknya engga terlalu susah kok, yang terpenting itu dalam sebuah novel harus ada kejutannya" katanya.
"I see.."
❤❤❤
Aku dan Dealova kembali terdiam. Kita masih sibuk dengan dunia masing-masing. Aku tengah sibuk menyelesaikan revis novelku. Sementara, Dealova masih menatap nanar layar Handphonenya.
"Gaill.. gue boleh nginep satu hari di rumah lo engga ?"tanya Dealova menonaktifkan handphonenya
"Nginep ?" aku terkujut saat mendengar pertanyaan itu.
"Iyah nginep satu hari aja" Dealova mencoba mengulangi pertanyaannya.
"Emangnya kenapa ?, lo lagi ada masalah ?"tanyaku menghentikan aktivitasku
"Engga boleh yah ? Yaudah deh.."
"Eh.. gue belom jawab, kenapa lo jadi gini sih"
"Yahh.. lagian sihh"
"Iyah boleh kok ,"kata memberikan senyuman simpul
"Terima kasih Gaill" ucapnya manja
".."
❤❤❤
"De.. boleh gue nanya satu hal ke lo ?" Tanyaku merapihkan Notebook.
"Boleh , nanya apa ?"jawab Dealova begitu antusias
"Waktu kita reuni , apa lo beneran jalin hubungan sama Giovani ?" tanya Gaiil mencoba memberanikan diri.
".."
Dealova mematung ada rasa kecewa saat Aku menanyakan masalah tentang hubungannya.
"De.." panggilku mencoba menyadarkannya.
"Eh.. apa perlu gue jelasin yah?"tanyanya datar memalingkan wajahnya
"Perlu sih"
"Menurut gue engga deh , engga penting juga bahas masa lalu" katanya
".."
"Gaill... kita pulang yuk "ajakknya mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya memberikan isyarat mengerti. Sementara, dalam pikiranku masih tersimpan berjuta-juta pertanyaan.
Apa kah ini saatnya aku kembali memperjuangkan Dealova kembali ?. Apakah hubungan Dealova dengan Giovani telah berakhir ?.
"Arghh.. teman macam apa aku ini?"
❤❤❤
"De, loe tidur dikamar biasa yah" ucapku mencoba mengingatkannya kembali.
Dealova hanya memberikan senyuman manis.
"Emang lo mau kemana Gaill ?"tanya Dealova sebelum
"Gue mau,ke perpustakaan kecil gue. Ada berkas yang harus gue selesain" jawabku.
"Lo kalau mau tidur, tidur duluan aja yah" suruhku sebelum akhirnya aku pergi ke perpustakaan kecilku.
Sunyi..
Derap langkah begitu terdengar semakin mendekat. Sudah pukul 2 pagi. Mata Dealova masih belum bisa terpejam.
Dealova membuka knop pintu yang bertuliskan perpustakaan. Betapa terkejutnya Dealova melihatku tengah tertidur pulas diatas tumpukkan buku.
"Gaill.. Bangun.. Bangun"ucap Dealova membangunkanku
"Hmmp.." kataku setengah mengigau
Dealova mencoba membangunkanku sekali lagi dengan jurus jitunya.
"Gaill.. Kebakaran.."ucap Dealovaa setengah berteriak.
Aku tersentak keget.
Dealova yang berada disampingku hanya tertawa puas. Melihat wajahku yang begitu berantakan.
Aku menoyor kepalanya. Sebagai tanda bersalahnya membuatku terkejut. Dealova merintis kesakitan. Aku tidak peduli.
"Aduhh.." rintihnya
"Itu balasannya bangunin orang tanpa ada rasa berdosa" kataku sambil merapihkan buku-buku.
"Salah lo sendiri lahh, gue bangunin lo tidurnya kaya kebo" bela Dealova
"Woy, mau kemana ?" tanya Dealova saat aku tidak menghiraukan ucapanya.
"Mau ke restauran.. Mau ikut ?" tanyaku sebal.
"Mau dong"
"Yah, mau tidur lahh, lo kadang ngaco yahh pertanyaan lo"
"Lo engga jelasin lebih detail"
Aku menatap Dealova lekat sebelum masuk ke kamarku. Delaova mengangkat kedua alisnya. Sejurus kemudian, aku masuk tanpa menghiraukan keberadaannya di depan kamarku.
"Mendekatlah.. disini masih ada aku , jangan takut, ceritakanlah tentang orang baru. Yang membuatmu (Bahagia)"
❤❤❤
*Always Remember*
( Dealova POV )
Demi Lovatto - Give You Heart A Break
Don't wanna break your heart
Wanna give your heart break
I know you're scared is wrong
I think i might make a mistake
Theres just one night to live
And theres no time to wait..
So let me give your heart a break, you heart a break
Let me give your heart a break ,
(You Heart A Break..)
❤❤❤
Sudah pukul 8 pagi Gaill belum bangun. Aku sengaja tidak membangunkannya. Kupikir, ini hari weekend jadi aku tidak ingin membangunkan Gaill. Aku tahu Gaill pasti lelah semaleman menemaniku.
Aku bingung apa yang harus aku lakukan disini. Memasak ? Apa aku harus membuatkan Gaill sarapan pagi. Tidak ada salahnya bukan. Aku menyuguhkan sarapan pagi untuk tuan rumah. Toh , aku sendiri sudah diberikan izin menginap dirumahnya. Jadi , pantas aku membalas jasa Gaill dengan cara membuatkan sarapan pagi.
❤❤❤
Tiba-tiba ..
Gaill memelukku dari belakang. Memelukku begitu erat, aku merasakan nyaman di pelukannya. Kadang, aku merindukan hal ini.
"Gaill.. apa apaiin sihh" gerutuku sambil membalikkan spatula
"Lo lagi ngapain pagi-pagi buta di dapur ?" Jawabnya
"Engga liat gue lagi masak ? Gaill kayanya lo gosok gigi dulu deh" candaku mencoba melepaskan pelukan Gaill
"Emang bau yah ?" tanya Gaill mengeluarkan nafasnya ke tangan sambil mencium aromanya
"Kalau engga percaya coba aja.." kataku
"Engga sihh.. Wlee" ucap Gaill menjulurkan lidahnya
"Dihh.. "
"Emang lo bisa masak apa ?" tanya Gaill melipat tangannya seakan merendahkan harga diriku
"Bisa lahh.. Underestimated banget dehh" gerutuku kesal
"Haha.. Masak apaan emangnya ? Palingan juga mie" kata Gaiil kembali
"jangan sok tau dehh.. Gue lagi masak , Nasi Goreng spesial + telur mata sapi" kataku menatapnya lekat
"Calon isteri idaman.. Yaudah sana lanjutin lagi masaknya, buat gue jangan pedes yahh" pesan Gaiill sebelum pergi ke kamar mandi
Aku hanya terdiam mendengar ucapan Gaill yang terakhir.
"calon isteri idaman"
Apa itu tandanya Gaill sudah melupakan masa lalu ?. Apa itu tandanya Gaill sudah memaafkan kesalahanku dahulu ?.
❤❤❤
Aku melihat Gaill melahap habis isi piringnya. Aku tertawa dalam hati melihat tingkah laku Gaill menghabiskan Nasi Goreng buatanku.
"Kenapa ketawa ? Ada yang lucu" tanya Gaill sambil mengunyah makanannya
"Ada " ledekku
"Apa coba jelasin"
"Kepo.."
"Gitu kan"
"Heeh.. kalau makanan tuh pelan-pelan" kataku mengambil sisa nasi berada di bawah mulut Gaill
"Udah pelan kok, Nasi gorengnya aja yang enak" puji Gaill kemudian memasukan nasi gorengnya kembali
"Bisa aja lo.. Palingan juga lo ada niat jahat kan, suruh gue buatin setiap hari" kataku
"Haha.. Itu lo tau"Gaill tertawa renyah
Aku masih menatap Gaill dalam dalam. Tanpa sadar Gaill menyadarkan aku.
"Woy.. Kenapa liatin gue kaya gitu ?" tanya Gaill melambaikan tangannya
"Dihh.. Siapa juga yang liatin lo. Kepedeaan banget sihh jadi orang"
"Ngaku aja sihh.. Ehh.. Gue udah selesai makan nih" kata Gaiil memberikan kode
"Terus kalau udah selesai ? Mau di apain ?"yang aku
"Yahh.. Lo harus cuciin piringnya lahh" tawa Gaill puas kabur dari ruang makan.
"Gailllll... Awas aja sihh lo" ancamku mengejar Gaill
❤❤❤
Setelah sarapan pagi , Gaill mengajakku menonton acara televisi kesayangannya. Aku duduk disamping Gaill. Sementara tanganku menggonta-ganti channel Tv.
Tanpa aku sadar, tangan Gaill merangkulku. Aku tidak mengerti kenapa Gaill melakukan hal seperti ini.
"Biarin seperti ini yah , jangan dilepas" perintah Gaill melingkarkan tangannya ke tubuhku
"Masih pagi Ga" balasku sambil menoyor kepalanya
"Aduhh "gerutu Gaill
"Makanya jangan mesum " tawaku
"Okee.."
"Gaill.."
"Hmmp.."gumam Gaill menatapku membuatku menjadi salah tingkah
"Bete nih"
"Sama , gimana kalau kita nonton bioskop aja"
"Boleh, nonton apa tapinya" kataku
"Horor ?"
"Engga lah , " jawabku
"Kan ada gue , engga usah takut" ucap Gaill sambil memperlihatkan susunan giginya
"Itu mah maunya lo" jawabku sebal
"Habis apa dong ? Romance ?"
"Engga , nanti ada yang baper lagi" sindirku
"Siapa yang baper coba ? Lo kali"
"Sembarangan kalau ngomong" gerutuku sebal
"Haha.. yaudah sono rapih rapih"
"Tunggu yah , jangan ngintep yah" ancamku
"Engga apa apalah , kan rumah gue. Engga ada orang yang liat ko"
"Dasar otak mesum" kataku melempar bantal.
❤❤❤
Perfect Moment.
Sepertinya aku tidak ingin melewati moment ini. Sungguh moment yang aku inginkan dulu. Selama menonton Gaill menggandeng tanganku. Aku bahagia menikmatinya.
Hingga kita kembali lagi pulang. Aku dan Gaill kembali menonton Tv. Tidak ada yang berubah dari perilaku Gaill kepadaku. Semua masih sama, Gaill melingkarkan tanngannya. Hingga akhirnya Gaill tertidur pulas..
*Rebahlah di pangkuanku. Peluklah aku dalam mimpimu. Ijinkan aku mengucapakan "Selamat Malam" untukmu. Sebab , Itu sudah lebih dari cukup Bagiku"
❤❤❤
*I Falling.. Again*
( Gaill POV )
Aku sengaja meluangkan waktu istirahatku dengan Dealova. Aku sudah menyiapkan restauran dahulu menjadi tempat favorit kita.
Aku dan Dealova begitu menyukai dekorasi restaurannya. Jangan ditinggalkan dengan citra rasa masakannya yang begitu pas dilidah. Bahkan , aku masih hafal dengan makanan favorit Dealova.
To : Dealova
Gue udah di depan kantor lo nih
Dealova menghampiri mobilku dengan kerutan dikeningnya. Dealova mungkin sedikit heran kenapa Gaill menjemputnya. Padahal , jarak antara kantor Gaill dan kantornya cukup jauh.
Apa mungkin Gaill bolos pergi ke kantor ?.
Aku menyambut kehadirannya dengan senyuman yang sumringah.
"Udah siap ?" Tanyaku membukakan pintu mobil mempersilahkan Dealova masuk. Layaknya seperti di film-film
".."
"Gaill ,"
"Hmmmp" gumamku fokus menyetir
"Bolos yah ?"
"Sembarangan kalau ngomong , engga lah " kataku
"Terus ?"
"Susah dijelasin dehh " kataku kembali menatapnya sekilas kemudian fokus ke jalan
❤❤❤
Tiba disalah satu restauran ternama dibilangan Jakarta Selatan. Restauran yang setiap harinya ramai dikunjungi para pengunjung sekedar mencicipi atau menikmati waktu istirahat kantornya.
Didepan pintu Restauran sudah ada pelayan yang selalu menyapa para pengunjung setianya. Aku suka dengan pelayanan yang ditawarkan restauran ini.
"Bagaimana dengan citra rasanya ?"tanyaku mengehentikan memotong daging
"Masih sama. Pas takaran bumbunya dilidah" Jawab Dealova setelah menghabiskan makanan yang ada dimulutnya
"Masih sama yah.." kataku memberikan penekanan
"Sama apanya ?,"tanya Dealova bingung
"Engga apa-apa"
Dealova menyeruput pesanan minumannya hingga tersisa setengah. Sementara aku memesan desert.
"Desertnya ini yah" kataku membawakan dua ice cream
"Gailll.. kenapa dipesen lagi sih ? Siapa yang mau makan lagi" gerutu Dealova nampak begitu kesal saat Gaill membawakan ice cream
"Hehe .. sayang udah dipesan tau. Masa iyah dibuang" kataku kembali
Dealova hanya menghela nafas dalam dalam. Mungkin besok akan ada penyakit baru yang mengganggu di pagi harinya.
"Dea.. ada yang mau di omongin nih" tanyaku
"Ngomong aja"
".."
Apa ini waktu yang tepat untuk aku menyatakan semua perasaanku sebenarnya ?.
"Gaill... katanya mau ngomong sesuatu ? Ko malah bengong ?" Tanya Dealova mengelap mulutnya bekas creamdengan tissue
"Ehh.. iyah nih , bukannya lo ambil kuliah yah ? Gimana sama perkembangannya ?"tanyaku mengalihkan pertanyaan.
Seharusnya aku bukan menanyakan hal ini. Perihal tentang luka yang dulu kamu torehkan.
"Oh..iyah , gue lupa nih. Bulan depan gue udah di wisuda nih, jangan lupa dateng yah Ga" jawab Dealova menepuk jidatnya
"Hmmp.. serius ?"
"Iyah , setelah sekian lamanya gue bergelut sama skripsi gue. Akhirnya diterima juga sama tuh Dosen" ucap Dealova diiringi tawa bahagia
"Lebay banget.."
"Biarin wkwk.. ehh.. waktu istirahat gue udah mau habis nihh. Kita balik yuk" ajak Dealova melihat jam yang melingkar di tangannya
"Okee.."
❤❤❤
"De.. lo masuk dulu yah , kayanya ada yang ketinggalan didalam" perintahku
"Kebiasaan.. jangan lama-lama" pintanya
Aku hanya memberikan isyarat dengan mengacungkan jempolku mengerti.
Saat aku keluar dari Restauran..
BRUG..
"Apaan .. apann ini" kataku mencoba melawan
BRUG ..
"Jauhin Dealova kalau mau hidup lo selamat !"ancamnya kemudian pergi meninggalkanku dengan luka diwajah.
"Gaill... lo siapa tadi ?" Tanya Dealova mencoba mengangkatku berdiri
Aku hanya memberikan gelengan kepala tidak tau siapa orang yang menghajarku.
❤❤❤
"Aww... sakit" lirihku saat Dealova mengobati luka diwajahku akibat pukulan tadi
"Sakitnya sebentar ko. Tahan aja" kata Dealova mengeringkan handuk kecil yang dijadikan pomperesan
"Pelan.. pelan" rengekku seperti anak kecil
"Ini udah pelan-pelan. Tunggu gue ambil P3K" katanya
Seperkian detik..
"De.. jangan lama-lama. Gue pengen lo temenin gue disini" kataku yang berhasil menggenggam tangannya
Dealova hanya memberikan senyuman simpul. Cantik. Sangat..Cantik, setelah itu Dealova kembali mengambil P3K.
❤❤❤
*Planing*
( Giovani POV )
Sebentar lagi kamu akan kembali lagi ke pelukanku. Dealova. Bagaiamanapun juga. Aku punya cara agar kamu mau melirikku kembali. Termasuk mengahancurkan Gail.
Sebentar lagi ...
Aku masih menunggu Sekretaris pribadiku mencarikan orang suruhan untuk menghancurkan Gaill.
Aku masih menimang-nimang telfon genggam untuk menanyakan apakah Sekretarisku berhasil mencarikan orang suruhan.
Tiba-tiba ..
"Permisi pak ," ucap Wanita dengan balutan jas hitam dan rok span. Tak ketinggalan syall yang melingkar di lehernya
"Lama sekali" ucapku mempersilahkan duduk
"Maaf pak ,"
"Bagaimana ? Apa kamu sudah berhasil mencarikan orang suruhan?"tanyaku pada inti pembicaraan
"Udah pak , Bahkan , orangnya sudah ada didepan"
"Suruh mereka masuk. Saya ingin bicara langsung"
Aku masih melipat tangannku diatas dada. Sementara diatas meja sudah ada 2 foto yang ingin aku berikan kepada orang suruhan untuk menghancurkan Gaill
"Silahkan duduk" ucapku mempersilahkan duduk 2 orang yang berperawakan besar
"Ada yang bisa kami kerjakan bos ?"tanya salah seorang darinya
"Ada , tolong hancurin orang ini" kataku memberikan dua foto
"Bagaiamanapun caranya" tambahku
"Baik bos. Bos mau kami membunuhnya ?"tanyanya kembali
"Jangan. Buat laki-laki itu menderita seumur hidupnya" kataku tertawa puas
"Beres bos"
"Saya mau kalian bermain bersih, jangan sampai ada orang yang tau aksi kalian"
"Tenang aja bos"
"Ini untuk DP pertamanya. Setelah kalian membereskannya ada bonus lagi"
❤❤❤
Surya sudah terlalu lelah menyinari. Sebagian sinarnya masih terlihat nampak dari ruanganku.Seluruh karyawan yang bekerja diperusahaanku satu persatu pulang.
"Pak , Bapak engga pulang ?"tanya Sekretaris pribadiku
"Belom , saya masih nunggu seseorang" jawabku
"Kalau begitu saya pulang dulu pak"
Aku hanya memberikan anggukan kepala. Perempuan itu pergi, sementara orang suruhan untuk menghancurkan Gaill. Belum juga kembali menjalankan pekerjaannya
"Sore Bos" sapa dua orang suruhan yang aku tugaskan
"Bagaimana ? Apa semuanya sudah beres ?" Tanyaku memastikan kelanjutan dari kinerja kerja mereka berdua
"Semuanya sudah selesai bos. Kami udah lakuiin sesuai keinginan bos. Kami buat mobilnya hilang kendali" jelas salah satu diantara mereka
"Bagus.. apa engga ada yang lihat aksi kalian ?"
"Engga ada bos. Saya yakin"
"Good.. ini sesuai janji. Ada bonus untuk kalian" ucapku memberikan 2 amplop sekaligus
"Kalau bos butuh apa-apa hubungi kami"
"Oke"
Akhirnya aku bisa bernafas lebih lega. Setelah mendengar penjelasan orang suruhanku menyelesaikan pekerjaannya membuat Gaill menderita.
Licik ?
Pasti..
Seharusnya sebagai seorang laki-laki sejati, tidak seharusnya melakukan hal kotor seperti ini. Tidak seharusnya, melakukan hal yang membuat orang lain menderita.
Tidak seharusnya..
Biarkan saja, aku tidak peduli.
❤❤❤
*Ruang Gelap*
( Gaill POV )
Aku tidak menyukai hal ini. Hanya ada dua warna yang selalu memancarkan sinar paling terang. Hitam dan putih.
Kemana warna yang lain ?. Kenapa Tuhan hanya menciptakan dua warna saja dalam hidup ini. Lancang sekali aku ini. Maaf. Seharusnya aku tidak menyalahkan-Nya. Seharusnya aku tidak berada disini.
Seharusnya aku menemani Dealova wisuda dan berfoto berdua dengannya.
"Selamat Pagi pak Gaill" sapa perempuan yang menggunkan baju putih dengan membawakan makanan dan obat.
"Saya lagi dimana ?"tanyaku memegang pelipis mata yang terasa sakit akibat benturan keras.
"Bapak lagi dirumah sakit. Bapak mengalami kecelakaan" katanya mengecek infusan
"Kecelakaan ?"
"Hmmp.. jangan lupa dimakan sama di minum obatnya yah pak" suruh Suster
"Satu jam lagi saya dan dokter akan mengecek kembali" katanya sebelum meninggalkan ruangan dimana tempat aku dirawat.
❤❤❤
Aku mencoba mengingat semuanya. Mengingat kejadian malam itu. Sayang, aku tidak berhasil mengingatnya. Padahal ,aku selalu ingat dengan semuanya. Untuk mengingat hal ini ? Rasanya aku tidak mampu.
Aku menarik selimut yang membungkus tubuhku. Betapa terkejutnya saat melihat kakiku dibalut dengan gips. Aku memegang kepalaku yang terasa nyeri. Ternyata kepalaku juga dibalut perban.
Aku berusaha bangkit, Lagi-lagi aku gagal mengangkat tubuhku. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Gaill..apa yang sebanarnya terjadi ?" Tanya Thalita membawa buah-buahan
"Hmmp..Gue juga engga tau Ta, tiba-tiba aja gue udah ada disini"
"Katanya lo kecelakaan , makannya gue cepet-cepet kesini"
"Kecelakaan ?"
"Iyah , masa iyah lo engga inget sama sekali sih"
Aku hanya menggeleng.
Setelah itu , aku mencoba mengingat kembali semuanya. Mulai dari awal hingga aku berada disini.
"Ta , tolong cariin handphone gue" pintaku
"Sebentar yah"
".."
"Ini , apa perlu gue bantu juga ?"
"Engga usah , gue bisa kok" jawabku mengaktifkan handphoneku dengan satu tangan.
Thalita hanya menatapku. Ada rasa diwajahnya untuk menolongku. Tapi , aku berusaha untuk melakukannya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.
"Kenapa Gail ?" Tanya Thalita
"Engga jadi deh " kataku menaruh handphoneku disamping nakas
"Engga jadi kenapa ?" tanya Thalita mengerutkan dahinya.
"Hmmp.. seharusnya gue temenin Dealova wisuda" ujarku
"Kenapa lo engga telfon dia aja , kalau lo kena musibah ?"
"Gue engga mau bebanin orang lain, takutnya dia shock" kataku
"Shock kenapa ?, lo engga boleh kaya gitu. Malah kaya gini bakalan buat dia cariin lo"
"Biarin aja lah Ta"
Aku kembali diam. Sementara Thalita sibuk memainkan handphonenya entah apa yang dia buka.
"Ta, tolong jangan bilang ke siapapun. Termasuk Dealova yah" pintaku
Thalita hanya memberikan senyuman simpul.
Thalita bukab hanya sebagai rekan kerjaku saja. Thalita bahkan, sudah aku anggap seperti kakak kandungku. Usia aku dan Thalita hanya terpaut satu tahun.
Hubungan aku dan Thalita hanya sebatas rekan kerja, kakak-adik ataupun sebagai sahabat. Tidak lebih menaikkan level status kami sebagai sepasang kekasih.
❤❤❤
*Where Are You .. Gaill ?*
( Dealova POV )
Mataku masih mencari-cari sosok seorang yang memenuhi ruang memorinya. Kanan. Kiri. Lagi dan lagi orang yang dicarinya tidak berada diantara kerumunan banyak orang.
Padahal , Gaill sudah berjanji akan datang ke acara wisudanya. Kenapa Gaill tidak terlihat batang hidungnya dari awal acara.
"Mungkin Gaill tengah sibuk "pikirku dalam hati
Sementara banyak sebagaian dari kami. Sudah mengabadikan moment yang sangat berharga menjadi sarjana muda dengan berfoto bersama dengan sanak keluarga maupun teman dekat.
"De.. masih nunggu siapa lagi ?"tanya Clara menutupi wajahnya dari sinar matahari
"Gaill.." jawabku singkat masih melakukan hal yang sama. Mencari sosok Gaill.
"Kenapa engga ditelfon ?" Saran Clara
"Udah ditelfon"
"Terus ?"
"Nomernya engga aktif,"kataku pasrah
"Yaudah kita tungguin aja, kali aja Gail lagi On the Way"
Aku melepas topi wisudaku mengipaskan ke badanku. Karena hari ini, sinar matahari begitu terasa ditubuh. Aku pikir Gaill bakal menempati janjinya. Datang ke acara wisudaku.
Hampir 1 jam aku dan Clara menunggu disini. Bahkan, gedung serba guna yang dipakai untuk acara wisuda sudah nampak lengah. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang membersihkan sisa-sisa sampah berserakan.
"Clara.. ayo kita pulang" pintaku mulai pasrah menunggu Gaill tidak datang juga.
"Loh. Tunggu aja dulu"
"Mungkin Gaill sedang sibuk, ayo Ra" ajakku masuk ke dalam mobil Clara
"Yakin nih" Clara mencoba meyakinkanku supaya aku mau menunggu Gaill lagi.
"Hmmp" gumamku
❤❤❤
"Siapa sih yang nelfon"gerutuku di tengah perjalanan pulang
"Angkat aja sih De. Kali aja penting" suruh Clara kembali fokus menyetir.
"Hallo.." ucap perempuan dari seberang sana.
"Hallo.. ini siapa yah ?"tanyaku sedikit ketus
"Ini Dealova bukan ?. Gue cuman mau bilang, sekarang Gaill lagi dirawat di RSCM" katanya pada inti pembicaraan.
"Apa ? Dirawat ?"
"Iyah , kemarin Gaill kecelakaan. Makanya Dia engga bisa dateng ke acara Wisuda lo"
"Oke.. sekarang gue minta alamat RSCM." tanyaku mengambil kertas dan pulpen mencatat alamat Rumah Sakit
"..."
"Siapa De ? Kayanya penting banget" tanya Clara
"Itu engga penting. Yang penting tolong Ra, anterin gue ke alamat ini" pintaku ke Clara
"Loh ? Emangnya ada apa sih ?"
"Gaill.. dirawat. Kata cewe yang tadi nelfon gue, Gaill kecalakaan" ucapku setengah khawatir mendengar kabar mengerikan itu.
"Apa kecelakaan.." ucap Clara menadak ngerem
"Duh.. kalau ngerem bilang-bilang" gerutuku
"Maaf.. yaudah mana alamatnya ?" tanya Clara
Clara benar-benar gila mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Entah, apa yang ada dibenak dia. Sampai mengendarai kecepatan diatas rata rata.
Aku sendiri, masih menatap jalanan ibukota yang terlihat lenggang. Clara begitu serius mengendarainya.
Setelah setengah jam lamanya, aku dan Clara tiba disalah satu rumah sakit bertaraf internasional. Rumah sakit yang mana Gaill dirawat saat ini
❤❤❤
*Bad Day*
( Dealova POV )
"Sus , pasien yang bernama Aby Gaill Wicaksono dirawat diruang apa yah ?"tanyaku pada suster penjaga
"Sebentar yah mba , saya cek dulu" jawabnya membolak-balik kertas demi kertas
Tanganku masih aku gesekan mencoba menenangkan semuanya. Saat ini , aku hanya menginginkan mengetahui kabar Gaill. Tidak lebih dari itu.
"Pasien yang bernama pak Gaill. Dirawat di ruang UGD. Lantai 2" katanya setelah mencari nama didaftar pasien
"Terima kasih sus"
Koridor demi koridor aku dan Clara lalui. Akal seakaan tidak bisa diajak untuk berkompromi. Aku mencemaskan keadaan Gaill saat ini.
Separah itukah ?
Apa karena aku ? Supaya Gaill datang ke acara Wisudaku ?
Persetan !
Tidak ada henti-hentinya firasatku meracuni otakku. Rasanya aku ingin membunuhnya secepat mungkin.
❤❤❤
Di dalam ruangan sudah terlihat ada seorang perempuan yang menjaga Gaill. Sementara Gaill masih berbaring diatas kasur. Tangan dan Kakinya di balut dengan Gips. Dikepalanya dipenuhui dengan perban yang mengelilingi.
"Gaill.. maafin gue" kataku membuka knop pintu ruangan
".."
"Maaf gue baru tau , kalau lo di rawat disini" kataku kembali menggenggam tangannya
"Hei.. lo engga salah kok, gue begini. Murni karena kecelakaan" jawab Gaill
"Engga. Ini pasti ada hubungannya kan sama gue" katakh menyalahkan diriku sendiri atas kejadian ini.
"Hmmp.. Gaill. Gue keluar dulu yah" pamit Thalita
".."
"Nope , lo engga salah Dealova" Gaill mencoba menyeka air matanya dengan tangannya
"Maaf Gaill"
"De.. gimana sama wisuda lo " tanya Gaill mencoba mengalihkan pembicaraan
"Baru juga selesai"
"Bagus deh"
"Hmm-" guman Clara
"Eh..iyah , ini temen gue namanya Clara" ucapku memperkenalkan Clara
"Clara" ucapnya datar.
"Gaill.. eh..terima kasih yah udah jenguk"
"Iyah. Ini semua karena sifat paniknya Dealova." Sindir Clara
"Apaan sih Ra" pipiku memerah
"Masa sih ?"tanya Gaill tersenyum simpul
"Iyah , pas sampe dirumah sakit aja udah kaya apaan tau"
"Claraaaaaa" teriakku sambil menoyor kepalanya
"Ssst.. , ini rumah sakit bukan diskotik oke"
❤❤❤
*Menjagamu salah satu impianku*
( Author POV )
Membosankan !
Apalagi yang bisa dilakukan Gaill saat seperti ini. Tidak ada. Bahkan , untuk pergi ke toilet terasa sulit. Seperti anak kecil baru belajar jalan dengan dibantu orang tuanya.
Setiap saat , suster selalu mengecek keadaan Gaill. Entah , membawakan makanan ataupun benda kecil yang sudah tidak asing lagi dan begitu menyengat di hidung. Obat.
Setiap hari , Gaill harus menelan kapsul ataupun pil sebanyak 3. Gaill tidak pernah melakukan hal seperti saat ini. Dan paling menyebalkannya lagi. Obat-obat itu membuat mata Gaill selalu terpejam setiap saat.
Gaill membuka matanya, mencoba melihat jam yang menempel di dinding ruangan. Langkah kaki itu semakin menjauh dari ruangannya. Suster itu, hanya memastikan kondisinnya saat ini.
Selama Gaill berada disini , Gaill sudah hafal dengan aktifitas yang dilakukan suster bekerja di Rumah Sakit ini. Gaill tau kapan Suster itu datang membawakan makanan ataupun benda kecil yang mengerikan. Gaill tau kapan orang yang memakai jas putih dengan stetoskop di telinganya untuk memeriksanya. Gaill hafal semuanya.
Samar, Gail melihat perempuan membuka knop pintu berjalan menghampiri Gaiil. Itu bukan suster. Suster tidak mungkin memakai pakaian biasa. Bukan. Melainkan itu .
Dealova
Yah, Sudah 3 minggu lamanya Dealova selalu menyempatkan waktunya datang ke sini. Bahkan , Gaill sudah melarangnya. tetap saja , Dealova selalu datang. Bukan Gaill merasa risih selalu dijengkuk
Gaill kasihan melihatnya pulang-pergi demi menjaga Gaill. Argh.. apakah seorang laki-laki akan membiarkan perempuan tidur disampingnya tanpa ada bantal ataupun selimut yang menemaninya sementara Gaill , tidur diatas ranjang ? Apakah itu yang mungkin bakal terjadi ?.
Dealova menghampiri Gaill tengah terbaring. Kedua tangannya memegang dua bingkis plastik. Tercium aroma yang sudah tidak asing lagi di hidung Gaill.
"Gaill , makan dulu nih. Udah gue bawaiin kebab kesukaan lo" kata Dealova membuka bungkus plastik putih
"Gue engga mau makan, gue mau keluar dari sini" berontak Gaill
"Tapi lo harus makan. Biar badan lo sehat dan kuat"
"Lo engga liat gue udah sehat ? Ha ? Apa yang harus gue sembuhin lagi ?"
"Tangan lo di gips. Lo jangan konyol Gaill"
"Gue engga mau makan. Lo nyebelin tau engga" ucap Gaill memberikan penekanan pada akhir katanya
Dealova membungkus kembali kebab yang barusan dibelinya. Sementara Gaill masih kekeh kalau Gaill ingin pulang.
❤❤❤
"Dea..." ucap Gaill memegang lengannya
Dealova menatap Gaill. hanya memberikan senyuman tipis
"Lo marah De ?" Tanya Gaill lirih
"Nope"
"Terus ?"
"Gue ingin lo makan udah itu doang"
"Kenapa lo ingin gue lakuin hal itu"
"Sebab.."
"Sebab apa Dea.."
"Sebab gue mau selalu berada didekat lo Ga. Apa lo pernah tau ? Setelah kita putus gue pengen banget ngulang semua. Tapi , gue sadar waktu engga bakal bisa kembali"
".."
Gail mencoba mengangkat wajah Dealova. Sambil menyeka air matanya
"Suapin gue yah"
Terlihat raut wajah gembira saat Dealova mendengar hal itu. Dealova membantu Gaill bangun. Satu suap.. dua suap. Dealova menyuapi Gaill penuh kasih sayang. Layaknya sepasang kekasih.
Jauh sebelum ini, Gaill selalu berharap pada semesta. Seperti inilah moment yang ia inginkan.
Apa perlu Gaill terluka setiap saat, supaya Dealova lebih leluasa menjaganya.
Mungkin..
❤❤❤
*Maaf*
( Gaill POV )
Aku membuka mataku terlihat sayu. Mungkin efek dari obat sialan membuatku selalu memejamkan mata setiap saat.
Sudah 5 hari Dealova menemaniku. Selama itu pula , Dealova selalu tertidur berada disampingku. Rasanya aku ingin mengusap setiap helaian rambutnya yang terurai begitu saja.
".."
"Maaf.. bukan maksud aku mengganggu tidurmu" kataku saat melihat Dealova terbangun dari tidurnya
"Jam berapa ?" Tanya Dealova mengusap matanya
"Jam 7, lo engga kerja ?"tanyaku kali ini
".."
"Kenapa engga jawab pertanyaan gue ?"
".." Dealova menatapku tajam. Aku mengerti kalau pertanyaan itu mungkin meyakiti hatinya
"Sorry.. kalau lo risih gue nanya kaya gitu"
"Hmmmp.. gue resign dari pekerjaan gue"
"Apa ?" aku setengah tersentak mendengar kabar buruk seperti itu.
"Iyah , gue ngundurin diri"
"Kenapa emangnya ?"
"Ada saatnya lo bakalan tau. Ada saatnya Gaill."
".."
"Kenapa sihh lo engga pernah cerita apapun ke gue ?"tanyaku mencoba mengorek rahasia yang disembunyikan Dealova
"Rumit Gaill.."
"Serumit itu kah ? Gue rasa engga deh. Daripada lo mendam dalam-dalam" kataku
"Karena lo engga ada diposisi gue saat ini" jawab Dealova meninggi
"Gimana gue engga bisa ada diposisi lo. Lo aja engga pernah cerita sama gue"
"Ada saatnya gue bakalan cerita sama lo. Bukan sekarang , melainkan lusa" ucap Dealova mengakhiri obrolan saat menerima panggilan masuk
❤❤❤
"Gaill , sorry gue harus pergi dulu sebentar ada urusan" ucap Dealova mengusap rambutku
Aku hanya memberikan anggukan kepala. Setelah itu , Dealova menghilang dibalik pintu. Rasanya aku ingin mengikutinya dari belakang. Sementara kondisi seperti ini tidak memungkinkan untuk mengikutinya.
Aku kembali pada rutinitas menyebalkan ini. Menonton televisi yang berada didalam ruangan. Atau memejamkan mataku.
Entah , aku tidak mengetahui. Sudah berapa lama aku dirawat di Rumah Sakit ini. Sementara tugas kantor mungkin sudah menumpuk seperti pakaian kotor yang belum sempat dicuci.
❤❤❤
*Jealous*
( Dealova POV )
Aku membuka knop pintu ruangan yang bertuliskan Ruang Manager. Setelah kubuka, Ruangan yang tidak begitu besar untuk seorang Manager perusahaan ternama. Di samping kanan meja Manager terdapat Rak buku yang tersusun rapih.
Di sisi kiri , terdapat akuarium besar membuat ruangan itu semakin menarik. Disisi kanan, terdapat sofa yang sengaja disediakan untuk menjamu tamu ataupun klien.
Ada seseorang berdiri di dekat jendela sedang melihat kondisi diluar sana. Sementara sebuah map berisikan CV sudah dipersiapkan.
"Permisi pak , maaf mengganggu bapak. Saya ditelfon bagian Recepsionist perusahaan ini untuk memenuhui panggilan interview" kataku membuka percakapan
"Iyah , saya yang menyuruh bawahan saya untuk memanggil anda segera. Jadi kapan anda mulai bekerja di peruasahaan ini?"tanya Pria yang dipresiksi umurnya sudah masuk kepala empat.
Aku mengerutkan keningku tidak mengerti "maksud bapak apa yah?"
"Saya sudah membaca semua CV anda. Setelah saya mempertimbangkan lagi. Saya memutuskan anda diterima di perusahaan ini" kata beliau.
"Diterima ?"
"Iyah , ini contrac employers. Tolong dibaca dulu" tambahnya memberikan berkas yang berisikan kontrak kerja
".."
"Bagaimana sudah paham ? , kapan anda memulai kerja ?"
"Hmmp.. sebelumnya saya berterima kasih pada bapak. Tapi , saya tidak bisa memutuskannya sekarang. Saya harus kompromi dahulu" kataku menyerahkan kembali
"Okee .. secepat mungkin anda cepat-cepat memutuskan. Masalahnya perusahaan ini tengah membutuhkan karyawan"
"Secepatnya pak, paling lambat saya hubungi bawahan anda 3 hari lagi" ucapku memberikan kepastian
"No problem"
"Terima kasih pak sudah memberikan saya kepercayaan bergabung dengan perusahaan ini"
"Sama-sama"
❤❤❤
Rasanya aku ingin cepat-cepat kembali ke Rumah Sakit. Aku ingin selalu menemaninya. Aku tidak ingin meninggalkannya sedetikpun.
Aku membawa kebab kesukaan Gaill. Jam seperti ini , biasanya Gaill akan makan siang dan juga minum obat. Sengaja akau membawakan kebab kesukaannya.
Aku melihat perempuan yang tempo hari berada diruangan Gaill. Perempuan itu tengah menyuapi Gaill begitu tulusnya. Apakah itu pacarnya Gaill ? Atau itu calon isterinya Gaill ?
Aku memutuskan pulang dan tidak jadi menemaninya. Kurasa Gaill sudah begitu nyaman dengan perempuan itu dibandingkan denganku. Sementara , Kebab yang barusan aku belikan. Aku titipkan ke suster yang selalu mengecek keadaan Gaill.
Apa yang terjadi pada diriku saat ini ?
Apa mungkin aku "Jealous" ?
Lupakan masalah itu ..
❤❤❤
*This Moment*
( Gaill POV )
Dokter sudah memperbolehkanku pulang. Dengan catatan, setiap dua minggu sekali. Dokter menyarankanku untuk cek up. Thalita masih sibuk mengurusi administrasi yang harus diselesaikan. Aku masih duduk di kursi roda sambil melihat orang yang berlalu-lalang.
Ada yang mengganjal dalam pikiranku. Iyah , Dealova tidak terlihat menemaniku pulang kerumah. Sudah 3 hari belakangan Dealova tidak menjengukku. Tidak seperti biasanya, atau mungkin ia sedang sibuk mencari kerja ?.
Kurasa aku tidak boleh menjudgenya yang tidak-tidak.
"Semuanya udah selesai" kata Thalita memperlihtkan berkas administrasi
"Sip deh ,"
"Ayo kita pulang" ajaknya sambil mendorong kursi rodaku ke area parkir.
Jujur ,aku begitu bersyukur memiliki rekan kerja seperti Thalita. Yah.., walaupun terkadang nyebelin juga.
❤❤❤
"Ta , terima kasih yah. Lo engga ke kantor ?"tanyaku merebahkan tubuhku di sofa
"Iyah sama-sama. Ini mau berangkat lagi" jawabnya
"Kalau ada apa-apa hubungin gue yah, lo bisa kan mencetnya hehe"candanya
"Bisa lah.. tangan gue kan engga dua-duanya yang patah" gerutuku begitu kesal mendengar ejekkan Thalita
"Marah amat, yaudah yah gue berangkat dulu" Thalita pamit keluar rumahku
Aku tidak bisa mengantarkannya sampai kedepan gerbang. Aku memandangi tubuhnya sesaat menghilang dibalik pintu.
❤❤❤
Ting Ton .. Ting Tong
Siapa tamu yang databg lagi kerumahku ?. Thalita ? Dia sudah berangkat ke kantornya. Dealova ?. Argh.. 3 hari belakangan ini aku tidak melihat batang hidungnya. Aku mendorong kursi rodaku dengan sekuat tenaga.
"Sebentar" kataku dari dalam rumah
Cekrek ..
Dealova ..
Dealova diam mematung melihatku begitu kasihan dengan dibantu kursi roda. Mata teduh dengan senyuman manis itu membuatku jatuh telak saat aku menatapnya. Tatapan itu tidak seperti biasa yanh aku temui. Ada raut kekecewaan yang sengaja disembunyikan Dealova.
"Maaf Gaill. Gue engga bisa bantuiin lo beres-beres untuk pulang" ucap permintaan maafnya
"Iyah engga apa-apa kok, ayo masuk" ajakku
"Iyah. Sini biar gue bantu" tawarnya mendorongkan kursi rodaku
Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
❤❤❤
Kita sama-sama terdiam sejenak. Tidak ada topik menarik yang bakal dibahas. Argh.. rasanya aku mulai begitu pecundang.
"Gaill.." panggilnya memainkan jari-jarinya
"Hmmp.."
"Boleh gue nanya satu hal ?"
"Tentu,"
"Cewe yang waktu itu ada didalam ruangan lo. Itu pacar lo ?"
"Nope"
"Calon isteri lo"
"Nope"
"Terus.."
Aku tertawa renyah mendengarnya " itu Thalita rekan kerja gue , kenapa emangnya ? Lo cemburu?"
"Oh... siapa yang cemburu" Dealova tersenyum senyum
"Lo lahh masa gue sihh"
"Engga dih, pergi ketaman yuk" ajaknya.
"Boleh"
❤❤❤
Setelah sampai ditempat favorit Aku dan Dealova.Tempat yang mana membuat aku harus mengingat masa lalu dan juga janji yang mana aku katakan. Tempat yang juga dibilang sederhana dan selalu ramai dikunjungi anak muda sekedar bermain ataupun berkencan.
"Sebentar yah Ga"kata Dealova pergi meninggalkanku sendirian
".."
"Gaill..."panggil Dealova membawakan dua bungkus biang gula ditangannya.
"Ya ampun.. kaya anak kecil aja" kataku tertawa renyah melihat apa yang sudah dibelikan Dealova
"Ini enak tau, coba aja" Dealova memberikannya kepadaku
Aku mencicipi sedikit biang gula yang barusan dibelikan Dealova. Kurang dari 2 menit Dealova mampu menghabiskan biang gulanya.
"lo engga suka yah ?"tanya Dealova menjilati sisa gula dilengannya
"suka kok, cuman terlalu manis aja"
"Bagus dong , kalau manis"
"Engga bagus buat kesehatan. Lagi pula , gue mandangi lo aja udah cukup ko. Lo udah manis kok"pujiku sambil nyengir kuda
Dealova menyenggol tubuhku. Dealova tidak tau kalau aku sedang sakit.
"Aduh.." lirihku sakit
"Eh.. sorry engga sengaja"
"Makanya liat dulu dong" ucapku sebal
"Marah amat. Gue kan udah minta maaf"
"Iyah iyah. Kita kesana yuk" tunjukku ke suatu objek yang tidak jauh dari tempat ini
"Oke.."
❤❤❤
Dealova mendorong kursi rodaku pelan-pelan. Aku masih mengamati sekeliling isi taman ini.
Ada sebagian anak kecil sedang bermain ayunan dan perosotan. Sementara, ada sebagian anak muda yang duduk dibangku taman yang tersedia disini.
"Ga.. boleh tanya ?" Dealova memberhentikan kursi rodanya
"Mau nanya apa lagi De.."
"Hmm.. liat sepasang kekasih itu deh" tunjuk Dealova ke pemuda-pemudi yang sedang berjalan bergandengan tangan
"Iyah kenapa emangnya ?"
"Hmmp.. kenapa sihh kalau pacaran. Cowo selalu jalan dibelakang cewe ?"
"Kamu mau tau ?"
Dealova mengangguk sudah tidak sabar.
"Kenapa cowo ketika jalan berdua dengan pasangannya dan memilih berada dibelakangnya. Sebab cowo ingin pastiin cewenya baik baik aja. Itulah cara cowo" jelasku panjang lebar
"Kenapa harus pake cara kaya gitu ?"
"Kalau cowo jalan didepan. Takutnya cowo engga bisa jadi pembimbing yang baik. Dan kalau cowo jalan berada disamping cewe. Itu bukan sepasang kekasih" kataku dengan tegas
"Harus yah , cowo jalan dibelakang ?"
"Itu semua tergantung dari cowo nya juga."
Dealova terdiam mendengar penjelasanku yang satu ini. Aku dan Dealova menikmati suasana sore ini dengan ngobrol bareng bercerita tentang kejadian masa lalu.
"Tuhan , aku menyukai bagian rencanamu yang satu ini. Jadi ,aku mohon supaya aku bisa berlama-lama dengan pilihan terbaik yang sudah kau siapkan untukku. Kelak"
❤❤❤
*Rahasia*
( Giovani POV )
Aku memijit pelipis mataku barangkali bisa meringankan pikiranku sejenak. Sementara ,kabar buruk membuatku terasa tertampar. Gaill dan Dealova kembali lagi. Bahkan , Dealova selali menemaninya.
Apa aku harus membuat rencanan B untuk menghancurkan Gaill kembali.?
Aku menscroll kontak yang ada di handphoneku. Ini bukan masalah client yang harus di ajak kerja sama ataupun rapat.
Ini tentang masalah yang belum sempat terpecahkan. Aku masih mencintai Dealova dan ingin membuktikan kalau aku bukan cowo brengsek. Sedangkan Dealova semakin mesra bersama dengan Gaill.
Serumit itukah .. ?
❤❤❤
"Hallo Gaill" sapaku
"Iyah , Ada apa yah Gi "jawab Gaill dari sambungan telfon
"Lagi sibuk engga ?"
"Engga , emangnya kenapa Gi"
"Bisa ketemuan engga ?"tanyaku pada intinya
"Bisa"
"Di tempat biasa yah , sekitar jam 7" katanya mengakhiri sambungan telfon
❤❤❤
"Gaill.. "panggilku saat melihat Gaill membuka pintu kafe dengan susah payah.
"Sini biar gue bantu"kataku membantu Gaill
"Thanks"
"Gimana udah mendingan"tanyaku kali ini
"Yahh.. gitu , kata dokter butuh waktu 6 bulan lagi" jawabnya datar
"Gi.. ada apa yah" tanya Gaill
"Hmmmp.. lo masih deket sama Dealova ?"
"Iyah , kenapa emangnya ?"
"Hmmp.. gue minta lo jauhin dia"
"Kenapa emangnya ?"
"Soalnya gue mau memperbaiki hubungan gue lagi. Ini cincin pernikahannya" kataku mengasih tunjuk cincin
".."
"Dulu gue sempet mau menikah sama dia. Tapi , karena ada insiden kecil pernikahan itu gagal"
"Kenapa gagal ?"
"Dealova salah paham" kata Giovani mencoba menjelaskan
".."
"Lo bisa kan jauhin Dealova" pinta Giovani
Gaill terdiam sesaat. Entah , mungkin Gaill juga masih menyimpan perasaan yang sama ke Dealova.
Apa yang bakal Gail lakukan. Bahkan, Gaill sudah mencoba menghilangkan luka yang membekas di relung Dealova. Tapi, kenapa Gaill harus membunuh rasa itu, saat Gaill masih memilikinya.
Selucu itukah semesta mempermainkan perasaan Gaill ?
"Okee.. , selamat berjuang Gi" ucap Gaill memberikan semangat
"Hmm.. terima kasih Ga" ucap Giovani mengulurkan tangannya
❤❤❤
*Bukan Diriku*
( Gaill POV )
Jika kalian berada di posisiku. Apa yang bakal kalian lakukan. Saat kalian memperjuangkan kembali cinta lamamu. Namun , orang lain mencoba memperbaiki hubungannya dengan orang yang kalian peejuangkan. Terlebih orang lain itu ialah sahabatmu.
Kupikir wajar pantas jika seseorang mendapatkan kesempatan kedua. Bukankah itu hal bagus, untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungannya kembali.
Kurasa pantas jika Giovani mendapatkan kesempatan itu. Dan mencoba kembali memperbaiki semuanya.
Kenapa pula aku terlibat dalam lingkaran ini. Bukankah aku ingin memiliki Deaolava , dan membuktikan janjiku dahulu.
Aku telat satu langkah didepan Giovani. Sementara Giovani sudah mempersiapkan semuanya sedangkan aku ?. Kurasa mundur satu langkah jauh lebih baik.
❤❤❤
"Hai.. Gaill" sapa Thalita dengan senyuman yang mngembang.
"Hai ta" jawabku datar mendorong kursi rodaku
"Lagi sakit yah Gaill"
"Engga kok , gue sehat sehat aja"
"Serius ?"tanya Thalita mengerutkan keningnya
"Yahh"
Thalita membantuku mendorongkan kursi rodaku kearah meja kerjaku. Tas kantorku aku pegangi dengan erat-erat.
"Thanks Ta" kataku menatapnya
"Sama-sama Gail. Engga mau gue bantu lagi nih" tawar Thalita saat greget melihatku berdiri tegak
"Nope, gue bisa kok"
BRUK !!
Aku terjatuh dari kursi rodaku. Kepalaku membentur lantai begitu keras. Saat itu aku tidak mengingat apa-apa.
❤❤❤
Aku membuka mataku, aku melihat sekeliling ruangan ini. Mungkin aku hafal dengan dinding dan aroma yang begitu menyengat di hidung. aku mencoba mengingat kejadian itu. Kurasa ini bukan kecelakaan. Apa yang sebenarnya terjadi ?.
Aku melirik ke luar ruangan ini. Ada seorang perempuan sedang mengobrol dengan pria paruh baya dengan memakai jas putih tak ketinggalan dengan stetoskop yang melingkar.
"Kalau boleh tau Dok, teman saya kenapa dok ?" Tanya Thalita itu begitu khawatir
"Sebelumnya saya mau tanya , apa kamu sudah membawa teman kamh periksa ke Dokter?" Tanya Dokter
Thalita hanya menggelengkan kepala.
"Emangnya kenapa dok ?"
"Hmm.. teman kamu terkena penyakit Leukemia stadium 4" ucap Dokter
"Leukemia" Thalita mencoba mengingat jenis penyakit ini
"Iyah , leukemia atau biasa disebut kanker darah.kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang"
"Apa bisa disembuhkan dok ?" Tanya Thalita kali ini
Dokter hanya menggelengkan kepala "penyakit ini salah satu penyakit yang berbahaya setelah penyakit serangan jantung. Apa lagi teman kamu sudah mengidap stadium 4. Bisa jadi , hidup teman kamu bisa dihitung jari" kata Dokter memvonis hidup Gaill
".."
"Maaf saya permisi"
Thalita memandangi Dokter yang hilang begitu saja dibalik koridor. Thalita menatap Gaill terbaring tak berdaya dan harus berjuang melawan penyakitnya.
Thalita membuka knop pintu menghampiri Gaill duduk disampingnya. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Untuk sementara waktu Thalita akan mencoba menutupi penyakit yang diidap Gaill.
"Ta.. "panggilku lirih
"Iyah , ada apa Ga" jawab Thalita memberikan senyuman
"Kenapa gue ada disini ?"
"Kata dokter lo kecapean aja kok" jawab Thalita mencoba menutupi penyakit Gaill yang sebanarnya.
"Lo harus banyak istirahat" tambah Thalita
"Hmmmp.. jangan kasih tau Dealova yah" ucap permintaanku
"Lho emangnya kenapa ?" Tanya Thalita lagi
Gaill hanya terdiam sesaat. Setelah itu melirik ke arah jendela.
Thalita apa yang seharusnya dia lakukan untuk menjaga Gaill "oke gue engga bakal bilang ke dia"
Gaill kembali tersenyum mendengar permintaanya dituruti Thalita. Gaill menatap langit-langit ruangan.
"Ta , tolongin gue"
"Tolongin apa Gai" jawab Thalita begitu antusias membantunya
"Lo mau kan kasih mawar ke rumah Dealova ?"
Thalita terdiam sesaat mencoba mencerna maksud dari ucapan Gaill.
"Nanti uangnya gue kasih , tolongin yah Ta"
Thalita masih terdiam. Sementara itu , Thalita mengingat kembali ucapan terakhir Dokter. Kalau umur Gaill tidak akan lama lagi.
"Iyah gue mau ko, tapi lo janji yah"
"..."
"Lo harus cepet cepet sembuh" ucap Thalita memberikan semangat walaupun Thalita tau kalau itu tidak akan terjadi.
"Iyah gue janji. Besok juga gue udah kembali pulang"
Thalita tersenyum mendengar ucapan Gaill yang begitu bersemagat melawan penyakitnya.
❤❤❤
*Apa Aku Berhasil ?*
( Gaill POV )
Sudah 3 hari belakangan Dealova selalu mendapatkan sebucket bunga mawar. Entah siapa yang mengirimnya Dealova tidak tau.
Giovani ?
Dealova rasa bukan pria brengsek itu. Yang mengirimkannya bukankah pria brengsek itu sudah bahagia dengan yang lain dan sudah puas membuatnya terluka
Gaill ?
Dealova masih kurang yakin kalau Gaill yang mengirimnya. Bahkan , Dealova sudah tidak pernah bertemu dengannya.
❤❤❤
Esok harinya ...
"Hai... tunggu dulu" teriak Dealova mencoba mengejar perempuan yang barusan melemparkan sebucket bunga mawar.
Dealova tidak mengurangi kecepatan mengejar perempuan itu. Hingga akhirnya Dealova berhasil mencekal lengan kanannya.
"Siapa kamu "tanya Dealova memegang erat tangannya
Perempuan itu berbalik menghadap ke arah Dealova . Betapa terkejutnya melihat siapa yang selalu mengirimkannya Bunga di pagi hari.
Thalita ..
❤❤❤
Thalita mengantarkan Dealova ke salah satu tempat dimana Gaill berada. Thalita terpaksa memberitahu Dealova.
Dealova menatap laki-laki yang tergeletak tak berdaya dengan dibantu peralatan medis. Air mata Dealoca tumpah membasahi wajahnya.
"Gaill" panggil Dealova diiringi isak tangis
Aku mencoba membuka mataku saat mendengar namaku disebut.
".."
"Kenapa lo engga bilang"
Aku hanya memberikan senyuman tipis menandakan kalau itu lah jawabannya.
"Ada yang mau gue omongin" ucapku mengambil handphoneku
"Apa ?"
"Tunggu yah, biar orang ini yang jelasin semuanya" kata Gaill
❤❤❤
Sudah 30 lamanya aku,Dealova dan Thalita menunggu seorang yang bakal menjelaskan ini semua.
Suara langkah kaki begitu jelas terdengar. Seorang laki-laki membuka knop pintu ruangan dengan membawakan sebucket bunga mawar.
Giovani Azhary ...
"De.. ini orang yang gue maksud" kataku
"Kenapa ada Gio disini." Bentak Dealova begitu jijik melihat Giovani datang kembali
"Lo diam dulu De. Biar Giovani yang jelasin"
".."
"Gi , tolong jelasin semuanya"
"Hmmmp.. sebelumnya gue mau minta maaf semua. Kalau gue udah membuat Gaill kecelakaan. Alasan gue lakuiin hal itu. Karena gue masih sayang sama Dealova. Gue mau memperbaiki semuanya"
"Semua sudah jelas dan tidak bisa memperbaiki lagi Gio" potong Dealova
"Ssst.. dengerin dulu penjelasan Giovani" kataku menjadi penengah
".."
"Lanjutin Gio" pintaku
"Gue mau lo balikan lagi sama gue. Dan menikah sama gue" ucap Giovani dengan nada serius
"Cihh... apa kamu engga malu Gio"
"Dealova..." kataku menenangkan Dealova
"..."
"De , dengerin yah. Giovani udah jujue semuanya ke lo. Apa lo engga ngasih Giovani kesempatan untuk memperbaiki semuanya ?"
"Gue engga mau kasih kesempatan ke pria brengsek macem dia"
"De.. jangan ngomong kaya gitu. Giovani sudah bilang ke gue ,kalau dia udah merelakan memutuskan tunangannya waktu dulu. Tolong kasih Giovani kesempatan"
Dealova menatapku dengan linangan air mata. Aku membalasnya dengan senyuman mencoba meyakinkan kalau Giovani berhak diberikan kesempatan.
"Kalau gue kasih kesempatan ke dia. Apa lo bakalan bahagia"
"Hmmp.. gue bahagia Dealova. Tolong kasih kesempatan lagi"
"..."
"Tolong De" kataku dengan nada memohon
Dealova menatap Giovani sekilas "gue engga bisa ngasih jawabanya sekarang, gue butuh waktu"
"Gio.. dengerkan"
"Iyah gue bakalan tunggu kepastian dari lo"
"Oke kalau gitu"
Aku mencoba mengangkat badanku dan menyederkannya dibantal.
"Gio. Kalau Dealova kasih lo kesempatan lagi. Jangan lo sia-siaiin" kataku memberikan nasihat
"Iyah Gaill. Gue janji"
"Jangan janji ke gue. Janji sama diri lo sendiri"
Giovani menganggukan kepal mengerti apa yang Gaill katakan.
"De.."
".."
"Gue mau nanya sama lo"
"..."
"menurut lo, apa gue udah (berhasil)"tanyaku tersenyum
Dealova mengangkat kepalanya menatapku.
"Apa gue, berhasil De?" Tanyaku mengulang pertanyaan
"I..y..a lo udah berhasil Gail"
Aku tersenyum mendengar jawabn dari Dealova. Ternyata , Dealova masih mengingat janjiku dulu.
"Gio.. jaga Dealova baik-baik yah" pintaku
"Iyah Gail"
"Ta , Gio , De , gue tidur dulu yah" kataku memejamkan mataku untuk selama-lamanya
"..."
Dealova melihat alat yang ada disamping Gaill berbunyi.
"Gaill.. Bangun Gaill" Dealova berusaha membangunkanku
"Giooo.. panggil dokter sekarang " perintah Dealova masih mencoba membangunkan Gaill.
Air mata Dealova membasahi badan Gaill yang terbujur kaku diatas ranjang.
❤❤❤
*Melipat Kenangan*
( Dealova POV )
Bukankah, akan ada yang datang dan pergi.akan ada pertemuan dan perpisahaan. Entah, kenapa bagian yang kedua begitu sulit untuk kuterima. Terasa pilu dan sesak saat melepasmu pergi jauh.
Sementara waktu, terus memaksaku untuk melupakan bagian yang tidak sepatutnya aku lupakan. Semesta ? Bahkan, semesta enggan membantuku supaya aku cepat-cepat melupakanmu.
Tidak ada lagi cerita unik mengiringi senja terlelap. Tidak ada tawa renyah yang keluar dari mulutmu. Tidak ada lagi moment indah saat hujan jatuh membasahi. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu.
Kini, langkahmu semakin jauh tidak terlihat.kepergianmu menyisahkan butiran air mata membanjiri kelopak mataku. Kakiku terasa berat meninggalkan tempat dimana kamu terlelap jauh tanpa mengkhawatirkan aku disini.
Kamu sudah menemukan dunia baru tanpa ada yang harus dipikirkan dan dikhawatirkan lagi. Rasa sakitmu, kini mengiringi tidur pulasmu. Bahkan, kamu tertidur pun aku tidak diajak pergi kedunia barumu. Aku tidak diperkenankan menemanimu menetap disana.
Katamu "suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali". Aku tidak percaya padamu untuk yang satu ini. Selama itu kah aku harus menunggumu ?
Bukankah kamu sudah berjanji untuk menjemputku kelak ?
Kamu berbohong.. Aku benci kamu
❤❤❤
"Dealova, udah engga usah nangis lagi yahh, masih ada aku disini" ucap Clara menenangkanku
Aku menatap Clara lekat, air mataku aku biarkan jatuh begitu saja membasahi kelopak mataku.
"Aku tau, kamu pasti sedih. Tapi, coba ikhlasin kepergian Gaill. Aku yakin, Gaill sudah bahagia di alam barunya ?" kata Clara kali ini
"Bahagia ? Kenapa Gaill engga ngajak aku ?" tanyaku kali ini
"Ummp.. Kamu jangan ngomong kaya gitu dong, semua sudah punya jalan masing-masing De.." jawab Clara dengan bijaknya
"Tapi, kenapa harus berpisah seperti ini Ra ?" tanyaku yang tidak kuat membendung air mata
"Mungkin, Tuhan ingin melihat usaha kamu menunggu Gaill. Percayalah, Tuhan sudah menyiapkan tempat indah disana De" Clara mencoba menyakinkan kalau esok akan indah pada waktunya
Aku menatap makam Gaill yang masih harum disiram air kembang. Clara masih menungguku untuk mengantarkan aku pulang.
Aku mengusap batu nisan yang bertuliskan Aby Gaill Wicaksono "Tidur yang tenang yah, Gaill" kataku terakhir sebelum pergi meninggalkan makam
"Ra, aku percaya rencana Tuhan akan indah. Ayo kita pulang Ra" pintaku sambil menyeka air mataku
Clara mengangguk mengerti. Clara merangkul tubuhku supaya aku bisa tetap berjalan tegak. Walaupun, terasa sulit merelakan orang yang aku sayang.
❤❤❤
Tepat empat puluh hari kepergianmu. Aku masih melakukan hal yang sama seperti hari sebelumnya.
Aku masih menyempatkan hadir ketempat peristirahatan mu. Aku selalu menggantikan bunga yang masih segar di pusaramu. Aku akan melakukan hal itu. Sekarang dan Seterusnya, Hingga kamu mendengar kerinduanku akan hadirmu.
Langkahku terasa berat pergi meninggalkan tempat ini. Tempat dimana kamu menuliskan kisah "kita" dulu. Tepat, ditempat ini pula jari jarimu menari-nari diatas kertas membuat sebuah lukisan dan lukisan itu yang aku tau, wajah aku sendiri.
Aku menatap langit yang semakin sepi tanpa hadirnya kemerlap bintang-bintang. Sesekali, aku mengalihkan pandanganku kesisi pantai tepat dimana kamu memulai melukis sketsa wajahku.
Satu hal yang aku lupakan dari apa yang seharusnya semesta paham. Aku lupa, aku tengah berusaha melupakan semua tentangmu. Moment itu mengingatkanku kembali pada apa yang dulu sempat kamu ukir bersamaku.
Air mataku tumpah membasahi, sengaja aku biarkan jatuh ke tanah agar kamu tau. Aku sedang merindukanmu.
❤❤❤
Aku melihat jam tangan yang masih setia melingkar di lengan kananku.Jalanan ibu kota hari ini padat merayap. Sementara, hari ini aku harus menemani atasanku rapat dengan klienya.
"Hmmp.. Kapan sampai kantornya ?" gumamku dalam hati sambil melihat ke sisi jalan
Aku sengaja naik taksi dan berharap saja bisa datang tepat waktu. Tapi, dugaanku salah. Aku sudah menghabiskan banyak waktu pagiku dijalan raya. Bapak supir taksi melihat kegelisaanku dari kaca sudah sampai klimaks.
"Bu, sepertinya hari ini jalanan ibu kota benar benar macet parah, sebaiknya ibu mencari alternatif lain sampai di kantor" ucap Bapak supir taksi memberikan beberapa opsi pilihan
Aku memijit pelipis mataku mencoba menghilangkan rasa lelah. Sekaligus, mempertimbangkan tawaran Bapak supir taksi.
"Hmmp.. Oke deh pak, sampai sini aka yah pak" kataku memberikan kepastian sambil mengeluarkan uang dari dalam tasku sesuai tarif argonya.
"Saya mohon maaf Bu, engga bisa nganterin ibu sampai ketempat tujuan" katanya dengan nada bersalah
"Engga apa apa ko, pak. Terima kasih yah pak" kataku membuka pintu taksi
Langkahku terhenti mencari alternatif kendaraan lain untuk sampai dikantor. Saat ada seseorang yang memanggilku dari belakang
"Dealova .." panggil perempuan dari arah belakang
Aku menoleh mencari sumber suara yang memanggil namaku. Mataku membolat saat melihat sosok yang sebelumnya aku kenal. Pikiranku mencari tahu siapa perempuan yang barusan memanggil namaku.
Thalita
Thalita salah satu sahabat sekaligus rekan kerja Gaill. Aku mengenalnya saat ia tengah merawat Gaill sebelum Gaiil pergi untuk selamanya.
"Masih ingat aku ?" tanyanya sambil menepuk pundakku
"Masih lahh.." jawabku dengan wajah gembira
"Gimana kabar kamu ?" tanyanya kembali
"Alhamdulillah.. Kamu sendiri ?"
"Baik, kamu lagi sibuk banget yah ?"
"Iyah, hari ini aku harus temenin atasan aku rapat. Emangnya kenapa ta ?"
"Ummp.. Ada yang mau aku omongin. Tapi, kalau kamu engga bisa hari ini engga apa-apa kok. Next time yah" jawabnya sambil tersenyum
"Iyah, ini kartu aku disitu ada nomor handphone sama alamat rumah aku. Kamu bisa hubunginatau temui aku. Maaf ya, aku tinggal. Aku lagi buru-buru" kataku sambil memberhentikan tukang ojek.
Thalita menatap kartu pribadi aku. Sejurus kemudian, melambaikan tangan kearahku.
❤❤❤
Aku sengaja datang terlebih dahulu. Dari sebelum perjanjianku dengan Thalita. Sesekali, aku menatap sekeliling kafe ini. Pelanggan kafe ini nampak begitu menikmati hidangan yang tersedia di kafe ini.
Sosok perempuan muda dengan baju kantornya masih melekat. Rambutnya di biarkan terurai begitu saja. Jangan dilupakan dengan kacamata yang menempel diwajahnya membuatnya semakin terlihat dewasa.
"Hai.. Maaf yah aku datang terlambat, soalnya pekerjaan kantor lagi sibuk-sibuknya" katanya memberikan penjelasan
Aku hanya memberikan senyuman simpul.
"Kamu sudah lama ?" tanyanya kembali
"Engga juga, baru 10 menit yang lalu" jawabku dengan sumringah
"Syukurlah, kukira aku sudah terlambat satu jam" Thalita tertawa renyah
"Engga kok, biasa aja kali" kataku
"Kamu, mau pesan apa ? Biar aku yang pesanin" tawarnya kembali
"Ummp.. Engga usah ko, lagi pula aku udah pesan" jawabku menolak tawaran Thalita
"Oke dehh, tunggu sebentar yah"
Aku menatap punggung Thalita pergi ketempat kasir. Sesekali aku menghirup minuman yang barusan aku pesan.
Thalita datang membawa beberapa makanan yang barusan di pesannya. Aku menatap makanan sebanyak itu dengan herannya.
"Hehe.. Banyak yahh, ini untuk kamu" katanya memberikan stick dan es krim yang baru saja di pesan
"Kan aku udah bilang, engga usah dibeliin" gerutuku
"Biar ngobrolnya semakin lama hehe" candanya
❤❤❤
Aku dan Thalita menikmati obrolan hangat ini dengan ditemani makanan yang barusan dipesan. Mulai dari seputar masalah kerjaan sampai masalah pribadi.
"Eh.. Iyah, aku lupa De"
"Lupa kenapa emangnya ?" tanyaku
"Ump.. Gini, bukan aku buat kamu sedih lagi. Sebelum Gaill pergi, ada rahasia Gaill yang engga boleh aku kasih tau ke siapa pun. Termasuk ke kamu" kataku memberikan penjelasan
".."
"Kamu tahu bangunan diseberang sana ?" tanya Thalita menunjuk salah sati bangunan yang tidak jauh dari kafe ini
"Iyah, kenapa emangnya ?"
"Nanti kita kesana yahh" ajak Thalita menghabiskan makanananya
"Emangnya ada apa sih ? Aku semakin engga ngerti" pikirku mencari tahu apa sebenarnya yang diucapkan Thalita
"Ayoo.. Kita kesana" anaknya sambil menaruh handphonenya ke dalam tas
Aku mengerutkan dahiku semakin tidak mengerti apa yang bakal ditunjukkan Thalita. Aku hanya mengikutinya sambil menyimpan beberapa pertanyaan di kepala.
❤❤❤
Aku membulatkan mataku melihat tulisan dari bangunan ini.
"Rumah Singgah Dealova"
"Ayo.. Kita masuk" ajak Thalita menyuruhku masuk kedalam rumah singgah yang bertuliskan namaku
".."
"Thalita, apa maksud semua ini ?" tanyaku semakin tidak mengerti . saat diajak Thalita masuk kedalam ruangan
"Hmmmp.. Aku salut sama Gaill. Gaill benar benar laki-laki yang luar biasa. Dia sudah berusaha melawan penyakitnya, Gaill juga sudah berhasil mewujudkan sebagian impiannya" kata Thalita
"Ta, cukup ta, jangan bahas masa lalu lagi" potongku sebelum Thalita menceritakan tentang Gaill
Bukan aku tidak ingin mendengar cerita tentang Gaill. Aku tidak ingin membuat hatiku semakin sakit. Saat melihat orang yang aku sayang pergi jauh.
"Ayo.. De, kita kelilingin Rumah singgah ini" ajaknya beranjak dari tempat duduk
".."
Satu persatu isi ruangan ini sudah aku lihat. Ada beberapa kamar tidur dan tempat bermain. Selain itu juga ada rumah makan dan tempat beribadah diruangan terpisah. Dekorasi ruangan ini, sengaja di buat semenarik mungkin. Supaya, anak-anak betah tinggal dirumah singgah ini.
Mataku membulat saat melihat satu gaun pengantin yang terpajang dilantai dua. Dengan rasa penasaran aku menghampirinya.
"Thalita, ini gaun pengantin untuk siapa?" tanyaku menunjuk guan berwarna putih terpajang
"Ini gaun pengantin untuk kamu gunakan" jawab Thalita singkat memberikan penekanan
"Apa ?"
"Yah, sebelum Gaill pergi. Dia mengajakku mencarikan Gaun pengantin dan perhiasan untuk melamar kamu. Bahkan, dia sudah menyiapkanya jauh-jauh hari. Sayang, keinginan untuk menikah dengan kamu pupus. Saat, Giovani mantan kamu dulu menyuruhnya untuk menjauhi kamu." Thalita mencoba menjelaskan dan mengingat kejadian itu
Aku terkesima mendengarnya yang sama sekali tidak tau, maksud dari rencana Gaill yang satu ini.
Air mataku membasahi kelopak mataku. Seharusnya, rencana itu terwujud.
Aku terlihat payah saat mengitari isi ruangan ini dengan air mata yang tiada hentinya. Tiba tiba, datang seorang anak kecil dengan lucunya membawa boneka doraemon.
Gadis kecil itu datang memelukku dengan erat. Aku membalas pelukan itu dengan erat juga. Dengan lucunya gadis kecil itu membuatku harus kuat menjalani hidup.
"Kakak cantik jangan nangis dong" katanya mencoba melepaskan pelukan dan memeluk erat bonekanya
"Kakak engga nangis ko ade manis" kataku sambil memberikan senyuman manis
"Itu buktinya, air mata kakak" tunjuknya
"Hmmp.. Kakak engga nangis ko," aku mencoba menyeka air mataku. Supaya terlihat kuat didepan anak kecil itu
"Nah gitu dong, wajah kakak cantik ko mirip yah, sama gambari itu" tunjukknya sejurus kemudian jarinya di tempelkan di dagunya
".."
Aku menoleh kearah yang anak kecil itu maksud. Ternyata benar, apa yang dimaksud anak kecil itu. Aku mencoba menghampiri lukisan yang terpajang di dinding.
"Rosalina, main yah kakak cantiknya mau lihat lihat dulu" pinta Thalita menyuruh ade kecil itu pergi
"Iyah kakak"
Aku mengambil lukisan itu yang bergambarkan wajahku. Ada satu tulisan yang terpajang di bawah lukisan itu
Happy Birthday Dealova Rosalina N
Lukisan ini mengingatkanku pada peristiwa itu. Pada waktu itu, aku berulang tahun yang ke 17. Tepat dihari itu, Gaill memberikan kado lukisan itu.
Aku membuka lukisan itu dari albumnya, aku meraba lukisan itu, kombinasi warnanya membuat lukisan wajahku terlihat lebih indah. Di belakang lukisan itu bertuliskan.
I Love You
"Gaill.. Gaill masih mencintaiku" ucapku lirih diiringi isakan tangis
"Iyah selamanya Gaill akan selalu mencintaimu, Dealova"
Satu hal yang aku ingat kembali saat Gaill memberikan lukisan ini.
"Jika esok, aku berhasil. Kamu akan aku jemput kembali"
Aku berusaha mengumpulkan sisa sisa tenagaku untuk menahan tubuhku. Sayangnya, aku tidak mampu. Aku terjatuh kelantai sambil memegang erat lukisan yang bergambarkan wajahku.
❤❤❤
*ONE DAY*
( Author POV )
Cerita tak kunjung lengkap ...
Laki -laki itu tengah menyender di samping mobilnya. Ia tengah menunggu isterinya dan bidadarinya. Dari arah seberang jalan,seorang ibu dan anak akan menyeberang. Laki-laki itu melambaikan tangannya sekedar menyapanya.
"Ayah..."panggil seorang anak kecil dengan kunciran dirambutnya memanggil Gaill dengan sebutan ayah
"Apa sayang. Gimana sama sekolahnya ?"tanya Gaill tersenyum sambil mensejajarkan tingginya
"Yah begitu.."
'Assalamialaikum.. "ucap Dealova memberikan salam sambil mencium telapak tangan Gaill
"Walaikumsallam.. semua beres kan" tanya Gaill
Dealova hanya terseyum.
Di perjalanan pulang Gaill menatap buah hatinya yang cemberut.
"Bidadari ayah kenapa cemberut terus" tanya Gaill dari kaca dalam mobil
Nathasa masih melipat tangannya dan memasang wajah cemburut. Gaill menatap Dealova ,Dealova hanya mengangkat bahunya.
"Nanti cantiknya hilang lho"puji Gaill tidak ada henti hentinya
"Hmm.. ayah bohong"
"Bohong ? Bohong kenapa sayang ?"
"Ayah janji sama ata. Ayah bakal temenin ata pergi ke SeaWorld" kata Nathasa yang akrab disapa Ata
Gaill menepuk jidatnya sementara Dealova tertawa renyah.
"Kenapa engga kamu engga ingetin ?" Bisik Gaill ke Dealova
"Kamu terlalu sibuk sama tugas kantormu. Kita ini yang jadi korban kesibukanmu"
"Ata jangan cemburut lagi yah"
"Ata mau nya ayah tepatin janji ayah"
"Iyah iyah, sekarang kita pergi ke SeaWorld yah" kata Gaill mencoba meyakinkan
"Ayah nanti bohong"
"Ayah bener sayang"
"Janji yah" ucap Nathasa mendekat ke arah bangku orang tuanya.
❤❤❤
Esok harinya..
"Ata , ata udah kerjaiin PR belom ?"tanya Gaill sambil memotong roti
"Udah kok yah,"
"Pinter anak ayah" puji Gaill sambil mengusap helaian rambut Nathasa
Setelah selesai sarapan pagi. Seperti biasa , Gaill mengantarkan Nathasa dan Dealova pergi ke sekolah Nathasa.
"Jangan pulang malam-malam yah" kata Dealova mencium telapak tangan Gaill
"Iyah aku janji" balas Gaill mencium kening Dealova
"Ata.. ata jangan nakal yah"
Nathasa hanya nyengir kuda.
"Ayah , ayah jangan lama-lama yah kerjanya. Kasihan bunda sendirian" ucap Nathasa dengan polosnya
Gaill jongkok mensejajarkan dengan tubuh mungil buah hatinya
"Ayah janji , kamu jagaiin bunda yah" kata Gaill mencium kening anaknya setelah itu memeluk Nathasa begitu erat.
Gaill masih mengamati Dealova dan Nathasa. setelah sampai didepan gerbang sekolahnya. Nathasa melambaikan tangannya. Gaill membalasnya
❤❤❤
~TAMAT~
Terlalu banyak jeda broo... perlu di revisi ulang... kurangi sedikit jeda atau kata sambung yg ga penting
BalasHapus