Bahkan bagian yang paling sesak saat kamu menceritakan kamu tengah mendekati salah satu wanita kampus. Aku masih setia mendengarkan ceritamu. Entah kenapa aku begitu bodoh dengan sikapku ?.
Kamu menjalin hubungan dengan wanita itu pun aku (masih) mampu bertahan.
Kamu jalan berdua bermesraan dengan wanita itu pun aku (masih) mampu tersenyum.
Hei.. hatiku ini bukan baja ! Yang tahan dari segala apapun. Aku punya rasa yang sama dengan wanita yang kamu kencani. Sadarkah kamu mengetahui rasaku ini ?. Kenapa kamu dengan mudahnya mempercayai hatimu pada orang lain yang baru kamu kenal ? Kenapa kamu tidak mempercayaiinya padaku ?
Upss.. aku lupa , aku sadar aku hanyalah sahabatmu tidak lebih dari itu !. Tuhan maafkan aku , aku telah membuatmu murka. Hanya saja aku ingin selalu berada disisinya. Bukan sebagai sahabatnya. Aku ingin mengetahui apa itu arti cinta yang sebenarnya.
Hanya itu Tuhan ..
♡♡♡
Nama aku Oktavia Olivia saat ini aku tengah menyelasaikan semester terakhir kuliahku disalah satu Universitas favorit dikota ini. Arda Andrian itu sahabatku. Aku dengannya bersahabat sejak kami duduk dibangku SMA bareng. Wajahnya begitu tampan dengan bentuk wajah yang nyaris sempurna, ditambah lagi dengan hidungya yang mancung membuatnya lengkap sudah.
Namun sikap Arda tidak pernah hilang. Arda sering gonta ganti pacar lebih tepatnya Playboy.Dan yang terakhir ini Arda tengah menjalin hubungan dengan Maba (Mahasiswa Baru) di Universitas ini. Dengan penampilan yang dibilang tidak kalah moodist dari artis korea yang saat ini tengah dipuja oleh sebagian besar kaum hawa.
Bahkan Arda selalu mengganti gaya rambutnya saat mengambil mata kuliah. Arda terinspirasi dari pesepak bola ternama David Beckham yang suka mengubah gaya rambutnya disetiap Becks tampil dilapangan hijau maupun diluar lapangan.
Tunggu ! Segitu detailnya yah aku menceritakan semua tentang Arda. Hmmp-. Singkatnya aku dengannya bukan hanya sebatas sahabat. Aku menyukainya walaupun aku tahu sifat buruknya. Aku yakin, Arda punya sifat yang lebih baik
Aku tidak berani mengungkapkannya secara langsung padanya. Lebih baik memendamnya dalam dalam. Biarlah waktu yang bakal menjawab semuanya. Toh , jodoh itu tidak bakal kemana. Menjadi sahabatnya saja udah luar biasa kenapa harus meminta hal yang lebih darinya.
♡♡♡
"Ta , liat Amel engga ?"tanyanya
"Engga deh , coba aja kamu cari di kantin"saranku
"Okee dehh" ucapnya sambil pergi meninggalkanku disini.
Kamu menghampiri aku hanya ingin menanyakan hal itu ? Kenapa kamu engga menelfonnya atau mengirimnya pesan singkat ? Kenapa pula aku menjawab pertanyaannya ? Arghh.. lupakan !
Aku masih fokus mengerjakan skripsi yang sebentar lagi disidang. Banyak waktu terbuang, terutama waktuku dengan Arda. Tunggu ! Aku dengannya bukanlah sepasang kekasih yang setiap minggu selalu pergi ketempat favorit ataupun pergi menonton bioskop. Aku dan Arda memiliki kehidupan yang berlawanan.
Arda memiliki kekasih yang kapanpun bisa pergi. Sedangkan aku ?. Apalah yang bisa aku tunjukkan pada cowok cowok dikampus ini ?.
Menata dan merias wajah saja aku tak mampu. Apalagi menggunakan high hills dengan tinggi bersentimeter. Jujur aku tidak mampu merubah penampilanku.
"Jika ada orang yang mencintaimu karena kagum terhadap Penampilanmu, Orang itu tidak pernah paham betul. Cinta itu tidak mungkin bisa kagum terhadap satu hal termasuk (penampilan) , Jika ia mencintaimu hanya karena itu, itu berarti hanya Perjanjian, dalam cinta tidak ada Perjanjian"
"Mampusssss gueeee telat lagi !!! "teriakku
Kupercepat langkah kakiku menyusuri koridor kampus yang terlihat sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang.
Tidak ada waktu untuk mempersiapkan mencari alasan menghindar dari serbuan dosen yang super cerewet. Bahkan untuk mengecek tugas yang tempo hari diberikan dosen pembimbingku
Pun aku tidak bisa mengeceknya
"Permisi !, maaf Bu dosen" ucapku
"Kamu dari mana saja Arda ? Sudah jam berapa ?" Tanyanya
"Saya ... kesiangan bu"
"Banyak alasan aja , kumpulin tugas kamu"
Double Shitt !!
Tugasnya ketinggalan dimeja belajarnya. Sial bener hari ini, entah mimpi macam apa aku tadi malam sampai harus dua kejadian buruk sekaligus.
"Mana Arda tugas yang minggu kemarin saya berikan "tagihnya
".."
"Engga ngerjainn ? Apa lupa dibawa ?"tanyanya
"Hehe"
"Kenapa kamu ketawa ?"
"Engga apa apa kok bu, tugasnya ketinggalan bu"jawabku sambil memperlihatkan gigiku yang tersusun rapih
"Alasan lagi kamu ini, mau sidang skripsi nya ditunda tahun depan"ancamnya
"Jangan bu, "
"Saya kasih deadline jam 2 siang harus udah ada dimeja saya"
"Baik bu"
♡♡♡
"Hai .. sayang"sapa Amel
"Ha.. aku engga ada waktu"
"Loh ? Kok gitu kan kamu sendiri yang udah janji hari ini khusus buat aku"gerutunya
"Iyah , tapi aku harus ambil tugas yang ketinggalan , dan itu deadlinenya cuman sampai jam 2 siang" paparku
"Nyebelin kamu arda" ucap Amel sambil pergi meninggalkan Arda
"Mel , tunggu dulu"
"Udah sana kamu ambil aja dulu tugasnya"usirnya
"Jangan gitu lah mel, "
"Terserah kamu , mau nempatin janji kamu apa engga"
"Kita susun ulang lagi aja jalan barengnya"
"Besok aku sibuk"
"Hmmmp-, yaudah dehh maafin aku yahh"
"Bodo-, "
"Taksi !!!"Teriak amel
"Amel tunggu dulu "
Bisakah kamu bersikap dewasa sedikit ? Dan menghargai waktuku ?
Amel bukanlah tipe perempuan yang mandiri, tidak seperti Okta, selalu saja membuat waktuku yang menjadi korban.
To : Oktavia
Bise ketemuan ga ?
Tidak ada 5 menit handphoneku berdering
From : Oktavia
Bisa , dimana ? Jam berapa ?
To : Oktavia
Tempat biasa , sekarang bisa ga ?
From : Oktavia
Oke
"Adakah tempat untuk merehatkan pikiran sejenak saat langit terlihat sepi tanpa hamparan bintang bintang"
Caffe ini tidak begitu besar, tata ruangannya begitu bagus. aku suka dengan design interiornya. Aku bisa menebak kalau yang merancang tata ruangan itu pasti tipe Melankolis. Hmmp ,-
"Hai .."sapa gadis yang terlihat melambaikan tangan ke arah bangkuku
"Hai "jawabku dengan membalasnya senyuman
"Udah lama menunggu ?"tanyanya sambil mengangkat kursi kemudian meletakan tas diatas meja
"Engga , aku baru dateng"jawabku padahal aku telah tiba sekitar setengah jam yang lalu dari awal perjanjian sebelumnya.
Aku sengaja datang lebih awal dengan alasan supaya aku bisa memulihkan pikiranku yang sedang kacau.
"Ada masalah kah ?"tanya okta kali ini
"Engga ada kok , everything it's okee" jawabku dan berharap saja okta percaya dengan ucapanku
"Okee , aku pesan dulu yah"
"Hmmp" jawabku kemudian menghirup caffe flat white yang sedari tadi menggangu indra penciumku
_
"Bagaimana dengan masalahmu yang tadi ?" Tanya okta yang masih ingat
"Hmmp.. udah selesai ?" Jawabku sedikit ragu
'Kamu yakin ? Bahkan aku melihat ada sesuatu yang disembunyikan dari matamu" pikirnya
".."
SHIT !!
Aku lupa kalau Oktavia mampu membaca pikiranku, entahlah akankah aku harus menceritakannya atau tidak. Untuk saat ini kurasa masalahnya telah selesai
"Kamu yakin engga cerita ?"
"Ehh -, aku lagi tidak ingin membahas masalah ini" jawabku
"Okee "
Setengah jam telah berlalu, aku dan okta masih terjebak kepikiran masing masing. Kenapa Amel begitu berbeda dengan Okta ? Kenapa Amel tidak bisa bersikap dewasa sedikit ?
Bukankah aku memilihnya lantaran egoku ? Lantaran dia memiliki hal yang lebih dari wanita lain ?.
"Jika kamu "jatuh" kepadanya , kamu pun harus jatuh dan paham akan sifat buruknya, bukankah kamu hanya menyukainya lantaran sifat baiknya ? Kenapa kamu tak mampu merangkul sifat buruknya pula ?"
Aku tertarik saat kamu menceritakan masalahmu padaku. Aku masih setia mendengarkan keluhanmu padaku. Tanpa ada yang memperdulikan masalahmu terutama orang yang begitu spesial dihidupmu. Aku tertantang untuk masuk jauh kedalam hidupmu apakah kamu memang orang yang tepat untukku kelak ?.
Bukan. Bukan maksud aku menyingkirkan orang yang saat ini kamu sayang dengan cara kotorku. Bahkan aku tidak berbakat melakukannya. Tidak !
Aku punya cara sendiri yang jauh lebih baik dari cara itu. Yah ! Aku lebih baik menunggumu aku lebih suka melakukan hal itu. Walaupun mulutku mampu mengatakannya dengan mudah kalau aku "Mampu" menunggumu. Ternyata tidak dengan raga dan jiwaku. Aku lelah dengan semua ini.
"Hmmp, kurasa kamu harus menenangkan pikiranmu untuk sementara waktu" tuturku
"Bagaimana bisa aku melakukannya?"
"Simple"
"??"
"Cobalah kamu tidak mengabarinya selama 2 hari," jawabku
"Bukannya itu malah tambah memperparah keadaanku dengannya"pikirnya
"Engga kok, percayalah, perempuan tidak bakalan lama marahnya, dan dia bakalan mencoba menacari tahu kabar lelakinya"
"Oke kalau gitu , aku ikutin saran dari kamu"
-
-
-
Tepat dua hari dari pertemuan aku dengan Arda berlalu. Aku merasa ada yang ganjil dari sikap Arda selama ini. Bukannya aku yang menyuruhnya untuk menenangkan pikirannya ?. Kenapa pula aku yang khawatir keadannya selama dua hari ini ?.
Ayolah aku ini bukan orang yang spesial dihidupnya. Kenapa aku begitu mengharapkan hal lebih darinya.
"Mir , lihat Arda engga ?"tanyaku
"Engga lihat ta , kenapa emangnya ?" Jawab Mira
"Engga apa apa , emang dia engga masuk ambil mata kuliah yah ?"
"Engga tuh , gue duluan yah ada urusan lagi"ucapnya sedetik kemudian menghilang dibalik koridor dengan langkah tergesa gesa
Bukannya aku mempunyai nomer handphonenya ? Kali aja aku dapat mengetahui kabarnya secara langsung.
Arda kemana ? Kenapa nomernya tidak aktif ? Pikiran itu tengah bergulat dalam otakku. Aku menyesal telah memberikan saran padanya untuk menenangkan pikirannya.
Kamu dimana Arda ?
Bukanlah hal mudah tidak memberikan kabar ke amel selama ini. Aku melakukan hal ini bukan tanpa sebab kadang aku merasa kecewa dengan perilaku Amel yang tidak pernah bisa menghargai waktuku sedikitpun. Bahkan aku selalu menggorbankan waktuku dengan keluarga demi jalan dengannya.
Memang yang dikatakan Oktavia benar kalau aku harus menenangkan pikiranku.
"Hallo bi "ucapku
"Halli den arda , "
"Ada apa bi , nelfo arda "tanyaku
"Anu den, " jawabnya sambil terbata bata
"Anu apa bi ? "Tanyaku yang tidak paham dengan maksdunya
"Nyonya sakit den,"jawab yang membuatku terkejut
"Mamah sakit , maksud bibi ?"
"Iyah den , den arda bisa kesini engga ?"
"Bisa kok bi, kirimin alamat rumah sakit lewat sms yah bi" perintahku
"Oke den,"
Oh. Tidak musibah apalagi yang tuhan berikan padaku ?. Sanggupkah aku memikulnya seorang diri ?.
Aku langsung pergi ke alamat yang bibi kasih. Jujur aku tidak ingin terulang kembali peristiwa 3 tahun lalu. Lantaran aku mementingkan kegiatanku dikampus yang benar benar menyita waktu. Hingga tidak ada waktu untuk menemani ayah yang tengah berjuang melawan penyakit hingga menutup mata.
Bahkan , aku tidak sempat melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Sungguh aku benar benar menyesal kejadian itu, andai saja waktu bisa terulang. Andai
Setelah sampai dirumah sakit aku langsung keruang kasir mencari tahu diruang mana mamah dirawat.
-
-
-
10 jam aku berada disamping mamah yang tengah beristirahat dengan bantuan infus dan alat pernapasan sedangkan bibi aku menyuruhnya untuk pulang.
Aku bersyukur memiliki bibi yang begitu care dengan keadaan keluargaku. Pantas saja Almarhum papah tidak sungkan sungkan menyekolahkan anak semata wayang bibi sampai tamat wisuda.
Mungkin dari situ lah bibi ingin membalas budi baik papah yang tidak sempat hingga papah meninggal dunia.
"Arda"ucap mamah dengan suara lirih
"Mamah engga apa apa kan ?"jawabku
"Mamah engga apa apa kok, cuman kecapean aja kok da" jelasnya
"Kenapa mamah engga bilang arda ? Kan bisa cek dokter, engga kaya gini tau tau mamah masuk rumah sakit"kesel dengan keadaan mamah saat ini yang menyembunyikan rasa sakitnya
Apakah selamanya perempuan selalu menyembunyikan rasa sakitnya ? Dan berpura pura kuat dihadapan orang yang disayanginya?
"Mamah engga mau ganggu kamu, sebentar lagi kan anak mamah mau diwisuda," jawabnya yang aku tahu itu alasannya
"Tapi kan mah-" jawabku yang dipotongnya
"Udah yang penting kan kamu udah dateng, mamah mau ngomong sesuatu ke kamu"ucapnya sambil menegakkan tubuhnya
"Mamah mau ngomong apa emangnya?"
"Mamah tau sekarang umur kamu semakin dewasa , kapan kamu akan menikah ? " tanyanya yang benar benar membuatku kelu
".."
"Kamu udah punya pacar kan da ?" Tanya mamah kali ini
"Mamah ngomong apa sih" jawabku sambil mengalihkan wajahku ke luar sana
"Mamah ngomong serius, tolong kamu jawab jujur" pintanya
"Hmmp-, iyah arda udah punya pacar, tapi arda belum ada niatan buat kedepannya tentang masa depan arda dengannya"jawabku yang kurasa cukup jelas
"Kenapa ? Umur kamu sudah cukup bukan ?"
"Arda masih bingung mah , arda mau lanjut S2 "
"Setelah menikahkan kamu bisa melanjutkannya bukan ?"
".."
Aku tidak menjawab pertanyaan mamah. Bahkan pandanganku masih kearah yang sama dan berharap saja mamah tidak membahas masalah ini. Ternyata tidak !.
"Arda , jawab dong kapan kamu mau nikah ?"
"Arda engga mau nikah ma, kenapa mamah maksa arda untuk menikah ?"
"Ini amanat dari papah kamu , apakah kamu engga kasihan melihat almarhum papah tidak bahagia ?" Ucap mamah yang membuat pertahananku yang semula kokoh kini rapuh dengan ucapan mamah yang menghantamnya dengan keras
".."
"Kamu ingin lihat papah bahagia kan ?"
"Yah , tapi engga menikah juga kan mah , pasti ada cara lain kan " elakku
"Engga ada ,"
"Hmmp, kasih arda waktu untuk memutuskannya mah ,"
"Okee kalau gitu "
-
-
-
To : Oktavia
Ada waktu kah ? Bisa ketempat biasa engga ?
Aku menunggu balasan pesan singkat dari Oktavia dan berharap saja dia nantinya bisa bertemu dan memberikanku saran. Aku begitu percaya dengan sahabatku yang satu ini bahkan aku telah Menganggapnya sebagai adik kandung aku sendiri.
From : Oktavia
Ada kok :) okee , jam berapa ?
To : Oktavia
Jam 5 aku udah stay yah
Aku melihat jam dinding yang masih menempel di ruang yang saat ini mamah dirawat. Baru jam 2 dan itu artinya masih ada waktuku selama 3 jam menemani mamah sebelum bertemu dengan Oktavia.
-
-
-
Aku masih melakukan hal yang sama saat mengunjungi tempat ini. Selalu mencari tempat yang mengarah ke arah luar sana. Selalu memesan pesanan yang sama yah caffe flat white menjadi satu satunya yang selalu menggangu indra penciumku. Bahkan aku mampu menghabiskanya berapapun saat ada tugas kuliah yang benar benar menyebalkan.
Aku memperhatikan gadis yang tengah memparkirkan motornya. Setelah memparkirkan motornya gadis itu melambaikan tangan kearah bangkuku.
Oktavia Olivia
"Hei , kamu kemana aja ? Kenapa kamu engga masuk kuliah ?" Tanyanya saat tiba menarik bangku caffe ini kemudian meletakkan tas nya diatas
"Hmmmp-,"
"You hear me ?"
"Bad ta"
"Why ? Give me a reason why you say bad ?"
"Mamah aku sakit, dan kata kata itu masih belom bisa aku putuskan" ucapku
"Sakit ? Sorry da aku engga tau hmmp,- kata apa emangnya ?" Tanyanya kali sambil meletakkan sikunya diatas meja
"Mamah menyuruhku menikah setelah lulus nanti"
'Menikah ? Bagus dong"tawanya yang begitu kaget mendengarnya
"Apanya yang bagus"dengusku
"Bagus aja ,menikahkah bagus heeh"ledeknya kali ini
"Tau lah ta" ucapku sekilas mengarah pandanganku ke arah sana
"Maaf da , bercanda kok"
"Hmmp-"
"Jangan baper lagi heeh" ucapnya kali ini
"Siapa yang baper sih Oktavia Olivia" jawabku sambil mengelus helaian rambutnya
Langit terlihat berubah menggantinya menjadi warna biru kelam. Terlihat bintang dan bulan telah hadir disana. Hampir 1 jam aku dan Oktavia disini menceritakan semua masalah tentang pernikahanku.
To : Oktavia
Malam ini aku jemput yah , ada yang ingin aku tanyakan
From : Oktavia
Ada apa lagi sih ? , dadakan bener
To : Oktavia
Kepo banget :p jam 7 aku udah tunggu didepan rumah
-
-
-
Aku tiba didepan pintu gerbang rumah Oktavia. Rumah yang terlihat tidak begitu besar namun begitu rapih dengan designnya. Aku suka dengan tipe rumah ini. Bahkan aku telah memikirkan rancangam rumah saat aku berkeluarga nanti
To :Oktavia
Aku udah sampe nih :d cepetan keluar
From : Oktavia
Cepet amat padahal baru setengah 7, sebentar aku izin dulu yah
To : Oktavia
Oke ;) jangan lama lama yah
Aku masih duduk di bangku halaman yang ada dirumah Oktavia. Melepaskan rasa bosanku aku memutarkan lagu yang ada di play list musikku.
Bruno Mars - Marry You
It's a beautiful night
We're looking for something dumb to do.
Hey baby
I Think I wanna marry you.
Aku masih memperhatikan kata demi kata dari lagu ini. Yang benar benar membuatku bahagia
Hampir 30 menit aku menunggu Oktavia disini. Kemana dia ? Mungkinkan dia tertidur ? Abaikan saja !
"Heii " sapa seorang gadis yang memakai gaun malam berwarna merah marron tak lupa dengan high hills yang dikenakannya. Rambutnya dibiarkan terurai supaya angin mudah mengajaknya bermain
".."
"Udah lama menunggu" tanyanya kali ini
".."
"Hey , you hear me ?"
"Ehh" jawabku tersentak
"Ayo kita pergi"
"Okee , boleh aku bilang sesuatu" pintaku untuk kali ini
"Tentu"
-
-
-
"Kamu cantik pakai gaun ini"jawabku ditelinganya
"Terima kasih"
Setelah sampai ditempat sengaja aku pilih untuk membicarakan masalah pribadiku.
"Kamu kenapa ngajak aku pergi ke pantai ?"tanya Oktavia
"Engga apa , kita udah lama kesini bukan"
"Hmmp-, kamu mau ngomong apa ?"
"Oh... iyah , aku udah memutuskan Ta" jawabaku sambil memperlihatkan gigiku yang tersusun rapih
"Oh.. yah , apa yang kamu putuskan da ?"tanyanya Oktavia yang sudah tidak sabar
"Aku memutuskan untuk menikah setelah aku lulus"
"Bagus dong , kamu mau nikah sama siapa ?"
"Insya'Allah Amel akan aku halalkan"
-
-
-
Kami berdiam diri melihat ombak yang saling bekejaran satu sama lain. Dan selalu berusaha mencoba menghancurkan batu karang yang menghalanginya. Bahkan bulan dan bintang telah menemani kami.
"Oh ..iyah , menurut kamu gimana sama benda ini ? Bagus engga ?"tanyaku sambil memperlihatkan kotak yang berisikan sepasang cincin
"Hmmmp,- bagus kok" jawab Oktavia sambil tersenyum simpul
"Coba deh kamu pake dulu takutnya engga muat kalau dipakai sama Amel"
"Hmmmp-,"
"Pas , pasti Amel suka sama cincin ini"
"Ehh da , kita pulang yuk udah malem nih" pinta Oktavia
"Loh , kan kita baru sampe, ? Yaudah deh"
Malam ini Arda mengajakku pergi kesuatu tempat yang belum aku ketahui. Arda memang selalu begitu selalu memberikan kejutan kecil tanpa pernah aku duga sebelumnya. Walaupun dengan caranya sendiri bahkan aku suka caranya yang terbilang unik.
Aku bingung harus memakai pakaian mana ? Aku sendiri tidak tau kemana perginya takutnya aku salah kostum dan banyak orang memperhatikanku. Aku benci !
-
-
-
Setelah memilih pakaian untuk aku kenakan. Aku selalu mengurai rambutku.
"Hei.." sapaku
".."
"Udah lama menungguku ?"tanyaku kali ini
".."
"Hei.. you hear me ?"
"Ehh, maaf" jawabnya dengan tersentak
"Ayo kita jalan" pintaku
"Okee, boleh aku ngomong sesuatu" tanyanya yang membuatku sudah tidak sabar apa yang bakal dia katakan kepadaku
"Kamu terlihat sangat.. cantik"pujinya yang membuat pipiku memerah
"Terima kasih" jawabku dengan malu malu
Benar dugaan aku, pasti Arda bakal memilih tempat ini. Dia selalu paham tempat yang aku sukai saat kita masih duduk dibangku SMA.
Kita ?
Tunggu ! , sejak kapan aku memberanikan diri menyelipkan namamu dalam kalimat "Kita" ? Lupakanlah !
"Kamu kenapa ngajak aku pergi ke pantai ?"tanyaku
"Engga apa , kita udah lama kesini bukan" jawabnya sambil melepaskan jaket yang selalu dia pakai
"Hmmp-, kamu mau ngomong apa ?"
"Oh... iyah , aku udah memutuskan Ta" jawabanya sambil memperlihatkan gigi yang tersusun rapih
"Oh.. yah , apa yang kamu putuskan da ?"tanyaku yang sudah tidak sabar
"Aku memutuskan untuk menikah setelah aku lulus"
"Bagus dong , kamu mau nikah sama siapa ?"
"Insya'Allah Amel akan aku halalkan" ucapnya dengan penuh keyakinan
Sumpah demi apapun aku benci dengan ucapan terakhir Arda. Seakan detak jantungku berhenti Bumi berhenti berotasi. Bukankah Arda dan Amel pasangan yang cocok ? Kenapa aku begitu tidak mendukungnya untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius ?
Egois ? Oh.. aku benci kata itu. Kalian tidak pernah paham dengan perasaan yang aku kunci di kotak besar. Kalian selalu menyalahkanku kenapa aku tidak langsung mengatakannya saja ?. Bahkan kalian tidak pernah paham kenapa aku selalu tersenyum untuknya ? Karena air mataku tidak mampu menggagu senyumku. Jujur , aku menikmati kebersamaan dengan Arda walaupun hanya sebatas sahabat.
"Oh ..iyah , menurut kamu gimana sama benda ini ? Bagus engga ?"tanya Arda sambil memperlihatkan kotak yang berisikan sepasang cincin
"Hmmmp,- bagus kok" jawabku sambil tersenyum simpul
"Coba deh kamu pake dulu takutnya engga muat kalau dipakai sama Amel"
"Hmmmp-,"
"Pas , pasti Amel suka sama cincin ini"
"Ehh da , kita pulang yuk udah malem nih" pintaku yang tidak mau terlarut dalam obrolan ini
"Loh , kan kita baru sampe, ? Yaudah deh"
“Lepaskan daripada memaksakan
Ikhlaskan daripada menyakitkan
Relakan daripada harus berjuang sendirian”
Tinggal beberapa bulan lagi acara pernikahanku dengan Amel akan dilaksanakan. Bahkan aku sendiri belum menyiapakannya seratus persen. Aku selalu meminta pendapat ke Oktavia. Selalu aku melakukan hal itu.
Dan katanya Oktavia bakalan kembali ke tanah air. Untuk berlibur aku menjemputnya di bandara.
-
-
-
"Hei , udah lama yah kita engga kesini ?"ucapnya yang memperhatikan tata ruanganya
"Iyah , ta ikut aku yuk"ajaku
"Kemana ?"
"Udah tenang aja , mau engga?"
"Okee , jangan lama lama yah"
Setibanya di tempat tokoh undangan pernikahan. Aku meminta pendapatnya mengenai undangan yang sudah rancang terlebih dahulu.
"Ta , menurut kamu gimana undangannya?" Tanyaku sambil memberikan selembar undangan
"Hmmmp, kamu jadi menikah sama siapa itu.."
"Amel maksud kamu ?"
"Iyah amel"
"Jadi Oktavia Olivia"
"Maaf aku kan engga tau" tawanya
"Iyah , gimana sama undangannya?"
"Hmmmp,- menurut aku warnanya deh kamu ganti dengan warna pink" sarannya
"benar juga yah , oke deh aku ganti warnanya"
"Iyah"
"Ta , aku engga bisa antar kamu pulang, soalnya ada foto pra wedding terus mencocokan baju pengantin"
"Iyah engga apa kok"
"Oh..iyah , jangan lupa dateng yah" pintaku
"Pasti"
"Dadahh"
Semua tamu undangan telah nampak dibangku undangan dan tidak sabar menunggu acara ijab kabul. Seharusnya acaranya dilaksanakan tepat 15 menit yang lalu. Sengaja aku undur karena aku tengah menunggu tamu spesial yang bakal melihatku bahagia.
Sayangnya sampai sekarang tamu yang kutunggu tidak hadir. Event Organizerku selalu menanyakan kenapa acaranya bisa ngaret seperti ini.
"Saya lagi nunggu tamu spesial. Engga apa apa kan mba wie ?"tanyaku pada perempuan yang selalu orang panggil mba wie
"Loh , memangnya belom dateng apa?"tanya mba wie
"Belom mba ,"
"Yaudah kamu telfonin , kasihan juga tamu undangan"
"Okee deh mba, "jawbaku sambil mengambil handphone disaku jas yang aku kenakan
"Oh ayolahh , kemana kamu Oktavia"gumamku dalam hati
"Hallo"sapa perempuan paruh baya dari seberang sana
"Hallo, Ta kamu dimana ?"tanyaku pada inti pembicaraan
"Oktavia ? , lagi dirumah sakit"
"Apa ? Dia sakit bu ?"
"Iyah , di koma"
"Kalau begitu kasih alamatnya bu"pintaku
Tanpa menunggu lama lagi aku langsung bergegas pergi ke rumah sakit dimana Oktavia dirawat. Bahkan aku tidak mempedulikan acara pernikahanku dengan Amel dan baju yang aku gunakan. Bagiku mengetahui keadaan Oktavia adalah prioritas utama.
Aku langsung keruang Recepsionist yang berada di lantai dasar. Setelah seorang suster memberi tahu. Aku sempat terkejut kenapa Oktavia dirawat dibagian UGD ?. Separah itukah kondisinya ?
Ternyata benar terlihat keluarga Oktavia tengah menunggunya diluar. Menunggu kabar dari dokter yang tengah berusaha sekuat mungkin menyelamatkan hidup Oktavia.
"Dok , bagaimana kondisi anak saya dok ?"tanya ayah Oktavia
"Hmmp , bapak/ibu saya mintaa maaf , saya udah berusaha sekuat mungkin , kita serahkan saja semuanya sama Tuhan"ucap Dokter dengan nada frustasi
"Dok , tolong selamatin anak saya, berapapun biayanya asalkan anak saya selamat"
"Bukan masalah itu pak , anak bapak terkena penyakit kanker darah dan kecil kemungkinan untuk hidup"
"Kanker darah"
"Iyah , pasien tidak pernah mengcheck up, tapi .."
"Tapi apa dok"
"Ada cara lain untuk menyelamatkannya "
"Apa itu dok"
"Suntik mati, hanya itu cara terbaiknya"
"Apa engga ada cara lain dok" tanyaku
"Tidak ada , dari pada raganya yang tersiksa akibat alat alat dokter"
"Apa keluarga bersedia" tegas dokter
Semua keluarga saling memandang satu sama lain. Saling tidak percaya apakah dengan cara itu salah satu jalan terbaik buat kita semua melepaskan Oktavia pergi jauh untuk selama lamanya ?
"Baik dok , saya setuju"ucap ayahnya yang semula yakin seakaan timbul harapan frustasi
"Baiklah , kalau begitu bapak ikut saya, buat tanda tangani berkas berkas"
"Dok , boleh saya masuk"tanyaku
"Tentu saja"
"Ta , apakah kamu ingat ? Sewaktu kita pergi ke pantai kala itu ? Kalau tidak salah aku mmebuatkanmu perahu kertas untukmu berlayar mengarungi samudera"
"Ta , apakah kamu ingat ? Saat kita masih SMA dulu selepas oulang sekolah kita selalu pergi ketempat favorite kita kemudian bernyanyi bersama hingga senja tiba" ucapku kembali
Tanpa sadar air mataku jatuh membasahi wajah Oktavia yang sangat.. cantik
"Ta , apakah kamu tahu ? Kamu sangat berarti untukku. Aku tidak setuju kamu disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu pergi jauh dari sini"
"Ta , apakah kamu tahu ? Kenapa aku ingin melakukannya untukmu ? Karena aku mencintaimu. Aku takut kamu menolak cintaku meskipun aku tahu kalau kamu tidak mencintaiku. Aku ingin kamu tetap hidup menemani hari hariku. Tolonglah dengarkan aku ta , Bangunlah dari mimpimu indahmu"ucapku dengan cucuran air mata
Aku menggenggam tangannya sangat erat..
"Kamu tahu tidak ? Disetiap waktuku aku selalu berdoa pada pemilik semesta, dan berharap Tuhan mampu menyembuhkan penyakitmu. Aku tak kuat ta , besok melihat pemakamanmu. Kamu jahat, kamu tidak lagi mencintaiku. Kamu ingin pergi jauh tanpa mengajakku. Andai saja , kamu bilang kamu mencintaiku. Pasti aku akan membatalkan pernikahanku dengan Amel. Aku tidak peduli ta"
Aku mengecup keningnya pelan pelan dan berbisik ditelinganya sebelum aku tertidur disampingnya.
"Aku sayang kamu, aku sangat.. mencintaimu"ucapku
Tujuh jam lamanya kami menunggu detik detik saat Oktavia akan pergi jauh untuk selamanya lamanya. Namun saat dokter tengah mengecek kondisinya untuk yang terakhir.
Dokyer terkejut , jari tangan Oktavia bergerak, jantung dan paru parunya , organ tubuhnya bekerja seperti semula. Sungguh sebuah keajaiban yang amat luar biasa. Akupun langsung memeluknya dengan erat dan menangis bahagia.
"Aku senang ta , kamu bisa bangun kembali"ucapku
"Aku bangun karena kekuatan cintamu yang membangunkanku dari tempat perisitirahatanku"jawab Oktavia dengan lirih
"Ta , aku mohon jangan tinggalin aku , aku ingin membangun rumah tangga bersamamu dan memiliki banyak anak"ucapnya yang membuat keluarga maupun tim dokter tersenyum bahagia
"Hmmp"
"Aku sangat mencintaimu"ucapku sambil mengecup keningnya
"Aku juga sangat mencintaimu"
Sungguh rencana Tuhan yang begitu indah. Bahkan kita semua tidak pernah tahu semuanya. Aku senang bisa selalu bersamanya. Aku tidak pernah menyesal membatalkan pernikahanku dengan Amel. Tidak pernah..
Aku bahagia saat aku selalu bersamamu. Menemani hari harimu mengecek kondisimu hingga waktu itu tiba. Yah saat dimana kita telah sah menjadi sepasang suami-istri. Aku tidak pernah bisa memberikan banyak banyak untukmu. Tidak bisa mengajakmu pergi ketempat terindah yang ada didunia.
Aku ingin selalu bersamamu saat suka maupun duka. Aku ingin membuat orang lain iri dengan kebersamaan kita.
Hanya itu..
Satu hal lagi yang ingin aku ceritakan padamu sejak lama..
"Jangan biarkan air matamu mengganggu senyummu"
Aku tidak kuasa saat itu terjadi. Aku tidak ingin dicap sebagai kekasih yang hanya bisa membuatmu terluka.